cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
LOCUS OF CONTROL SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU KONSUMTIF PADA WANITA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL KHOIRUNNISA, SYAFFA AULIA; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3826

Abstract

Human daily life is influenced by Locus of Control (LoC) which plays a significant role in aspects of behavior including consumption-related decision making. LoC is the belief that one can control their own life or their life is controlled by something else. One relevant example is the purchase of cosmetic products. Consumptive behavior is a person's tendency to buy excessive goods without any need. This study aims to explore the relationship between LoC and the consumptive behavior of purchasing cosmetic products influenced by TikTok social media content. There were 400 early adult female participants aged 19-30 years. The measuring instrument used is the Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, and the measuring instrument for consumptive behavior is an adaptation of Aini's (2016) measuring instrument. The results show a negative relationship between the internal dimension LoC variable (internality) with consumptive behavior, namely r (400) = -0.325, p < 0.05, that is, if individuals have a high internality LoC then consumptive behavior is low. There is a positive relationship between the overall external dimension LoC and consumptive behavior obtained r (400) = 0.643, p < 0.05; and the external dimension LoC which includes powerful others and chance with consumptive behavior gets a positive relationship, powerful others obtained r (400) = 0.676, p < 0.05; and LoC chance obtained r (400) = 0.503, p < 0.05, namely individuals with LoC powerful others or high chance of high consumptive behavior or can more easily behave consumptively. ABSTRAKKehidupan sehari-hari manusia dipengaruhi oleh Locus of Control (LoC) yang memainkan peran penring dalam aspek perilaku termasuk dalam pengambilan keputusan terkait konsumsi.. LoC yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat mengkontrol hidup mereka sendiri atau hidup mereka dikontrol oleh hal lain. Salah satu contoh relevan adalah pembelian produk kosmetik. Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan seseorang saat membeli barang berlebihan tanpa adanya kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan LoC dengan perilaku konsumtif pembelian produk kosmetik pengaruh konten media sosial TikTok. Terdapat 400 partisipan wanita dewasa awal usia 19-30 tahun. Alat ukur yang digunakan yaitu Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, serta alat ukur perilaku konsumtif yaitu adaptasi dari instrumen alat ukur Aini (2016). Data diolah dengan software SPSS 24. Hasil menunjukkan hubungan negatif antara variabel LoC dimensi internal (internality) dengan perilaku konsumtif yaitu r (400) = -0.325, p < 0.05, yaitu jika individu memiliki LoC interality tinggi maka perilaku konsumtif rendah. Terdapat hubungan positif antara LoC dimensi eksternal keseluruhan dengan perilaku konsumtif diperoleh r (400) = 0.643, p < 0.05; dan LoC dimensi eksternal yang mencakup powerful others dan chance dengan perilaku konsumtif mendapatkan hubungan positif, powerful other diperoleh r (400) = 0.676, p < 0.05; dan LoC chance diperoleh r (400) = 0.503, p < 0.05, yaitu individu dengan LoC powerful other atau chance tinggi perilaku konsumtif tinggi atau dapat lebih mudah berperilaku konsumtif.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN EFIKASI DIRI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA SMA SWASTA KELAS 12 ULULAJMI, PUTRI AULIA; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3830

Abstract

Adolescents often make hasty decisions as they go through a period of rapid growth and change. At this stage, they do not fully understand themselves or their true needs, which leads them to follow momentary desires without considering the consequences, including in career choices (Widyaningrum & Hastjarjo, 2016). Emotional intelligence plays a crucial role in helping adolescents face various challenges during their studies, enabling them to make more thoughtful career decisions (Ran et al., 2022). Hanifah et al. (2023) explain that self-efficacy is highly influenced by a person's emotional state. Positive emotions can enhance self-efficacy, while emotional intelligence allows individuals to manage their emotions effectively, helping them achieve optimal self-efficacy. This study involved 138 high school students in the Jabodetabek area to explore the relationship between emotional intelligence and self-efficacy in career decision-making. Data was collected using two main instruments: the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) to measure students' emotional intelligence and the Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) to assess their self-efficacy in making career decisions. The results of this study indicate a significant relationship between the two variables, where high emotional intelligence contributes to an increase in self-efficacy in career decision-making. ABSTRAKRemaja kerap membuat keputusan secara terburu-buru karena sedang melalui masa pertumbuhan dan perubahan yang cepat. Pada tahap ini, mereka belum sepenuhnya memahami diri sendiri atau kebutuhan sebenarnya, sehingga cenderung mengikuti keinginan sesaat tanpa memikirkan dampaknya, termasuk dalam memilih karir (Widyaningrum & Hastjarjo, 2016). Kecerdasan emosional memainkan peran penting dalam membantu remaja menghadapi berbagai tantangan selama masa studi, sehingga mereka dapat membuat keputusan karir yang lebih matang (Ran et al., 2022). Hanifah et al. (2023) menjelaskan bahwa efikasi diri sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi seseorang. Emosi positif dapat meningkatkan efikasi diri, sementara kecerdasan emosional memungkinkan seseorang mengelola emosinya dengan baik, sehingga mampu mencapai efikasi diri yang optimal. Penelitian ini melibatkan 138 siswa SMA di wilayah Jabodetabek dengan tujuan mengeksplorasi hubungan antara kecerdasan emosional dan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir. Data dikumpulkan menggunakan dua alat ukur Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) untuk mengukur kecerdasan emosional siswa, dan Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) untuk menilai tingkat efikasi diri mereka dalam membuat keputusan karir. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel tersebut, di mana kecerdasan emosional yang tinggi berkontribusi pada peningkatan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir.
PENGARUH PERLAKUAN SHOLAT TERHADAP KEBAHAGIAAN: STUDI MINI RESEARCH DENGAN PENDEKATAN PRE-EKSPERIMENTAL NURHALIM, MUHAMMAD; HERMAWAN, M.A
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4017

Abstract

This research is motivated by the number of Muslims who perform prayers but do not feel happiness when doing so. This study aims to determine the effect of prayer treatment on happiness.. This research is a mini-research that uses a pre-experimental design. The subjects of this study were ten people. The results showed that all practitioners felt happiness when praying this way.   In addition, the feeling of joy that practitioners think lasts until outside the prayer. This study also found that the sense of happiness depended on the situation, the condition of feelings before worship, and the preparations made. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya muslim yang melaksanakan sholat tetapi tidak merasakan kebahagiaan saat melaksanakannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakukan sholat terhadap kebahagiaan. Penelitian ini merupakan penelitian mini research yang menggunakan pre-eksperimental design. Subjek penelitian ini sejumlah 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua praktikan merasakan efek bahagia ketika melaksanakan sholat dengan cara ini dengan durasi yang berbeda beda dan skala yang berbeda pula.  Selain itu, perasaaan bahagia yang muncul pada diri praktikan, ada yang bertahan sampai di luar sholat. Dalampenelitian ini juga ditemukan bahwa perasaan bahagia yang muncul sangat tergantung pada situasi, kondisi perasaan sebelum sholat dan persiapan yang dilakukan.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN MEMAAFKAN PADA KORBAN BULLYING GEN Z KOTA JAKARTA MARPAUNG, DERIAN GIOVANNO; SIAHAAN, BELLA GUSTINA; BERNARD, ALESSANDRO; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4018

Abstract

This study aims to determine the relationship between social support conditions and forgiveness in victims of bullying gen z Jakarta. Social Support is defined as support by engaging to communicate with victims to support in the form of appreciating, loving, respecting, and embracing victims. (Sulfemi & Yasita, 2020). According to Ahmed & Braithwaite (2006) forgiveness is a positive response made by the victim that appears when the victim gets bullying behavior from the behavior. This study used a quantitative method using purposive sampling technique, this study involved 205 participants who were victims of bullying gen z born in 1997-2012. The research instruments included a social support scale and a forgiveness scale that had been tested for validity and reliability. The correlation test results show a correlation coefficient (rcy) of .645 with a significance value of 0.000 (p < 0.05) which indicates a positive relationship between social support variables and forgiveness. A high level of social support will make gen z bullying victims have a high level of forgiveness for the bully. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi dukungan sosial dengan forgiveness pada korban bullying gen z kota Jakarta. Dukungan Sosial didefinisikan sebagai dukungan dengan cara terlibat untuk melakukan komunikasi kepada korban untuk medukung dalam bentuk menghargai, mencintai, menghormati, dan merangkul korban. (Sulfemi & Yasita, 202o). Menurut Ahmed & Braithwaite (2006) memaafkan merupakan respon positif yang dilakukan oleh korban yang muncul pada saat korban mendapatkan perilaku perundungan dari perilaku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling,  penelitian ini melibatkan 205 partisipan korban bullying gen z lahir pada tahun 1997-2012. Instrumen penelitian mencakup skala dukungan sosial dan skala forgiveness yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi (rcy) sebesar .645 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05) yang mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara variabel dukungan sosial dengan forgiveness. Tingkat dukungan sosial yang tinggi akan membuat korban bullying gen z memiliki tingkat forgiveness yang tinggi pada para pelaku bullying.
STUDI TENTANG LONLINESS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BERCERAI AGUSTINE, SALWA NADIRA; DARIYO, AGOES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4060

Abstract

The smallest world for every individual is their family. A positive or healthy family ensures security, comfort, and support for its members. However, not all children have the opportunity to experience such a family, especially those from single-parent families due to divorce. Children from divorced single-parent families may face challenges related to family activities. Single-parenthood can arise from divorce, death, or out-of-wedlock births. This study aims to describe the experiences of loneliness faced by early adult women who grew up in single-parent families due to divorce. The research employs a qualitative approach using semi-structured interviews with four participants aged 18-25 years who meet the research criteria. Data analysis was conducted to identify the factors, causes, and impacts of loneliness experienced by the participants in social, emotional, and situational dimensions. The findings reveal that loneliness in early adult women is influenced by limited social support, challenges in adapting to changes in family structure, and a sense of losing meaningful relationships with others. This loneliness impacts participants' emotional well-being, including difficulties in expressing emotions, low self-esteem, and obstacles in building social relationships. The study highlights the importance of social support and a conducive environment to minimize the effects of loneliness in individuals from single-parent families. These findings can serve as a foundation for designing more effective psychological interventions to enhance the emotional well-being of early adult women from single-parent backgrounds. ABSTRAKDunia terkecil bagi setiap individu adalah keluarga, keluarga yang positif atau sehat ialah dapat menjamin bagi para anggota yaitu keamanan, kenyamanan, dan memiliki dukungan. Tidak semua anak mendapatkan pengalaman mengenai keluarga tersebut, terutama bagi anak yang berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian, anak-anak yang berasal dari orang tua tunggal akibat perceraian dapat mengalami masalah terkait aktivitas keluarga. Keadaan orang tunggal bisa dikarenakan akibat perceraian, kematian, atau kelahiran anak di luar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman loneliness yang dialami oleh perempuan dewasa awal yang tumbuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalu wawancara semi-struktur (semi structure) terhadap empat partisipan berusia 18-25 tahun yang sesuai dengan kriteria penelitian. Analisis data yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor, penyebab, dan dampak loneliness yang di alami partisipan dalam dimensi sosial, emosional, dan situasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa loneliness pada Perempuan dewasa awal dipengaruhi oleh keterbatasan dukungan sosial, tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan struktur keluarga serta rasa kehilangan hubungan yang bermakna dengan orang lain. Loneliness ini memberikan dampak pada kesejahteraan emosional pada partisipan, seperti kesulitan mengekspresikan perasaan, rendahnya rasa percaya diri, dan hambatan dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial dan lingkungan yang kondusif untuk meminimalkan dampak loneliness pada seseorang yang berasal dari keluarga tunggal. Temuan ini dapat menjadi landasan dalam merancang intervensi psikologis yang lebih tepat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan emosional perempuan dewasa awal dengan latar belakang tinggal bersama orang tua tunggal
PENGARUH PERSEPSI POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA REMAJA AKHIR SHAFIRA, NAJMADIZHA AUREL; SUPARMAN, MEISKE YUNITHREE
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4095

Abstract

This study aims to examine the effect of perceived parenting style on self-disclosure among late adolescents. Parenting styles are categorized into four types: authoritative, authoritarian, permissive, and neglectful, each of which has a different impact on adolescent development . The study uses a quantitative method with simple linear regression to analyze the influence of perceived parenting style on the level of self-disclosure. Data were collected from 260 adolescents aged 18 to 21 years through an online questionnaire. The results show that parenting style has a significant influence on self-disclosure, with an R square value of 60.1%. Another finding is that gender and each type of parenting style have a significantly different impact on self-disclosure. The authoritative parenting style was indicated as the strongest factor in self-disclosure compared to other types. Meanwhile, self-disclosure was found to be more prevalent among females than males. This study highlights the importance of a supportive parenting style in fostering adolescent self-disclosure. The findings of this study are expected to serve as a reference for developing interventions to improve communication between parents and adolescents or as a basis for future studies that consider other aspects. ABSTRAKStudi ini diperuntukkan menguji pengaruh tipe pola asuh yang dirasakan terhadap pengungkapan diri di kalangan remaja akhir. Tipe pola asuh dikategorikan menjadi empat macam: otoritatif, otoriter, permisif dan lalai, masing-masing tipe pola asuh memiliki dampak yang berbeda pada perkembangan remaja. Studi ini menggunakan metode kuantitatif menggunakan regresi linier sederhana untuk menganalisis pengaruh antara tipe pola asuh yang dirasakan dan tingkat pengungkapan diri yang dimiliki. Data dikumpulkan dari 260 remaja berusia 18 hingga 21 tahun melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang signifikan dengan pengungkapan diri, dengan nilai R squared sebesar 60,1%. Temuan lainnya yaitu jenis kelamin dan setiap tipe pola asuh memiliki pengaruh yang berbeda secara signifikan pada pengungkapan diri. Pola asuh otoritatif diindikasikan menjadi faktor terkuat dalam pengungkapan diri dibandingkan tipe pola asuh lainnya. Sementara itu, pengungkapan diri terlihat lebih banyak terjadi pada kelompok perempuan dibandingkan laki-laki. Studi ini menyoroti pentingnya pola asuh yang mendukung dalam menumbuhkan pengungkapan diri remaja. Temuan dalam studi ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan intervensi untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan remaja ataupun sebagai dasar studi lanjutan dengan mempertimbangkan aspek lain.
PERAN IBU TUNGGAL DALAM PEMBENTUKAN SELF-ESTEEM WANITA DEWASA AWAL PASCA PERCERAIAN KARENA PERSELINGKUHAN CHANDRA, ANANDA HILLARI; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4096

Abstract

Self-esteem is a person's view of himself or can be said to be the result of a person's evaluation of himself. Self-esteem is influenced by parenting, including parenting patterns applied by single parents. Sets and Burke (2014) divided self-esteem into three dimensions, namely self-worth, self-efficacy, and authenticity. Self-worth has the meaning of the extent to which a person feels positive about himself, namely feeling good and valuable. Self-efficacy is an assessment of what they are capable of doing in various situations. And authenticity is an individual's understanding of themselves. This study aims to understand the description of self-esteem in early adult women raised by single parent mothers after divorce because the father had an affair. This research method is qualitative with interview and observation data collection. In this study, there were six participants, namely participants S, C, J, F, N, and D. From this study it can be concluded that the six subjects fulfill different dimensions of self-esteem. All six participants (S, C, J, F, N, and D) fulfill the self-worth dimension. Five participants (S, C, J, N, and D) have self-efficacy while F does not. And, five of the six participants (S, C, F, N, and D) fulfilled the authenticity dimension, while J did not. ABSTRAKSelf-esteem merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri atau dapat dikatakan sebagai hasil evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Self-esteem ini dipengaruhi oleh pola asuh, termasuk pola asuh yang diterapkan oleh single parent. Sets dan Burke (2014) membagi self-esteem menjadi tiga dimensi, yaitu self-worth, self-efficacy, dan authenticity. Self-worth memiliki pengertian sejauh mana seseorang merasa positif terhadap dirinya sendiri, yaitu merasa baik dan berharga. Self-efficacy merupakan penilaian terhadap apa yang mampu mereka lakukan dalam berbagai situasi. Dan authenticity yaitu pemahaman individu terhadap dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran self-esteem pada wanita dewasa awal yang dibesarkan oleh ibu single parent setelah perceraian karena ayah berselingkuh. Metode penelitian ini kualitatif dengan pengambilan data wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini, terdapat enam partisipan, yaitu partisipan S, C, J, F, N, dan D. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keenam subjek memenuhi dimensi self-esteem yang berbeda. Keenam partisipan (S, C, J, F, N, dan D) memenuhi dimensi self-worth. Lima partisipan (S, C, J, N, dan D) memiliki self-efficacy sedangkan F tidak. Lalu, lima dari enam partisipan (S, C, F, N, dan D) memenuhi dimensi authenticity, sedangkan J tidak.
PERBEDAAN PERILAKU ASERTIF PADA SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL AMNESTITO, ZAFHIRA ALAYDA; JATI, SRI NUGROHO; VIDYASTUTI, VIDYASTUTI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4098

Abstract

Children are vulnerable to sexual violence as they are often perceived as weak or helpless. Research conducted by Bolen & Scannapieco (2001) indicates that 20% to 33% of girls and 10% to 16% of boys will become victims of sexual violence before the age of 18. In Kubu Raya Regency, 74 cases of violence against children and adolescents were recorded in 2021, with the majority involving sexual violence experienced by children aged 6-12 years. This study employed a quantitative experimental design with purposive sampling, involving children aged 9-12 years who attended elementary school. A total of 10 boys and 10 girls participated in the study. The purpose of this research was to examine the differences in assertive behavior between male and female students in response to sexual violence. Based on the Mann-Whitney test results, there was a significant difference in the statistical scores between the group of boys and the group of girls regarding sexual violence. ABSTRAKAnak-anak rentan terhadap kekerasan seksual karena dianggap lemah atau tidak berdaya. Data penelitian yang dilakukan oleh Bolen & Scannapieco (2001) menunjukkan bahwa 20% hingga 33% anak perempuan dan 10% hingga 16% anak laki-laki akan menjadi korban kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Di Kabupaten Kubu Raya tercatat pada tahun 2021 terdapat 74 kasus kekerasan terhadap anak dan remaja, dengan mayoritas kasus berupa kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak usia 6-12 tahun. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif yaitu purposive sampling, dengan subjek anak-anak berusia 9-12 tahun, dan bersekolah di SD. Sebanyak 10 anak laki-laki dan 10 anak perempuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan perilaku asertif pada siswa laki-laki dan perempuan terhadap kekerasan seksual. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney terdapat perbedaan signifikan antara skor statistik kelompok anak laki-laki dan kelompok anak perempuan terhadap kekerasan seksual.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BEKERJA PARUH WAKTU LIMIN, RAINY OSTANIA; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4099

Abstract

Various reasons and factors underlie students’ decision to work, making it increasingly common for students to study while working. Students tend to choose part-time jobs due to the flexibility of work schedules. However, balancing these dual roles is not easy. Many students struggle to allocate time between work and study, often failing to determine priorities, which creates challenges such as academic stress. One way to prevent academic stress is by developing resilience, which reflects an individual’s ability to endure and recover from difficulties. The more resilient an individual is, the greater their ability to overcome challenges. A quantitative non-experimental research method was employed, using non-probability sampling and purposive sampling techniques. The study utilized the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) and the Perceptions Stress Scale (PAS) as measurement tools. A total of 109 part-time working students participated in this research. The results showed a significant negative relationship between resilience and academic stress. ABSTRAKBerbagai alasan dan faktor yang melatarbelakangi mahasiswa bekerja sehingga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja saat ini sudah menjadi hal yang umum. Mahasiswa cenderung Iebih memilih bekerja paruh waktu karena jadwal kerja yang lebih fleksibel. Namun, untuk melakukan peran ganda tersebut bukanlah hal yang mudah. Banyak mahasiswa yang sulit membagi waktu antara pekerjaan dengan kuliah dan tidak tahu kegiatan apa yang perlu diprioritaskan sehingga menimbulkan hambatan pada mahasiswa itu sendiri, seperti stres akademik. Salah satu cara mencegah stres akademik adalah dengan menjadi individu yang resilien. Resiliensi merupakan gambaran ketahanan individu ketika mengalami kesulitan. Semakin resilien seorang individu, maka semakin besar kemungkinan individu tersebut dapat mengatasi kesulitannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan teknik non-probability sampling dan purposive sampIing yang menggunakan alat ukur The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan The Perceptions Stress Scale (PAS). Partisipan yang terkumpul dalam penelitian ini sebanyak 109 partisipan.Hasil penelitian ini terdapat hubungan negatif antara resiliensi dengan stres akademik.
PENGARUH SELF COMPASSION DAN CITRA TUBUH TERHADAP PURCHASE PREFERENCE SKINCARE ORGANIK PADA GRUP WA SNSTIC.ID SARI, NIMAS PUTRI FITRIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4101

Abstract

The concept of self-compassion has previously been widely applied in life, especially in mental health management, but outside of mental health management, it turns out that the concept of self-compassion can be a predictor in improving people's behavior and concern for healthy living. One of the concerns for healthy living is the behavior of caring for the body, in general, the behavior of caring for the body will begin with a perception of body image that is formed based on beauty standards in the social environment of society. This study aims to find out the effect of self-compassion and body image on the purchase preference of organic skincare. Respondents in the study consisted of 138 people, which were then subjected to analysis tests using multiple linear regression. Based on the results of the analysis, it was found that there was a significant relationship between self-compassion and self-image which influenced the purchase preference of organic skincare. The update in this study included the variable of self-compassion which was previously rarely involved in measuring purchasing decisions and the use of skincare. With this study, it is hoped that other studies will emerge related to the effect of self-compassion on the development of healthy living behavior, in addition, this study can also be an educational material for skincare users in choosing and buying skincare products appropriately based on the needs of the body image problems they are facing. ABSTRAKKonsep self compassion sebelumnya sudah banyak diterapkan dalam kehidupan terutama dalam pengelolaan kesehatan mental, namun diluar pengelolaan kesehatan mental ternyata konsep self compassion dapat menjadi prediktor dalam meningkatkan perilaku dan kepedulian masyarakat dalam hidup sehat. Salah satu kepedulian hidup sehat yaitu perilaku merawat tubuh, dalam perilaku merawat tubuh umumnya akan diawali adanya persepsi terhadap citra tubuh yang terbentuk atas estándar kecantikan dalam lingkungan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu pengaruh self compassion dan citra tubuh terhadap purchase preference skincare organik. Responden dalam penelitian terdiri dari 138 orang, yang selanjutnya dilakukan uji analisa menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisa didapatkan bawahsannya ditemukan adanya hubungan signifikan antara self compassion dan citra diri yang memberikan pengaruh terhdap purchase preference skincare organik. Pembaruan dalam penelitian ini yang memasukkan variabel self compassion yang sebelumnya jarang dilibatkan dalam pengukuran keputusan pembelian dan penggunaan skincare. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan munculnya penelitian lain berkaitan dengan pengaruh self compassion terhadap pembangunan perilaku hidup sehat, selain itu penelitian ini juga bisa menjadi bahan edukasi kepada pengguna skincare dalam memilih dan membeli produk skincare secara tepat berdasarkan pada kebutuhan permasalahan citra tubuh yang sedang dihadapi.