cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 364 Documents
PENGEMBANGAN PROFESIONAL GURU DI SEKOLAH DASAR INDONESIA DALAM KONTEKS KEBIJAKAN NASIONAL ANGGRAHENI, IKA; HADI, SYAMSUL; PRISTIANI, RISKA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4102

Abstract

Teacher professional development in primary schools in Indonesia is a crucial component in the efforts to enhance educational quality. This research focuses on evaluating the effectiveness of the Continuing Professional Development (CPD) program whick aimed at enhancing pedagogical and professional competencies of teachers. The methodology used is qualitative research with a literature study approach involving data collection to understand and study theories from relevant literature.  In addition, policy analysis and interviews with various stakeholders in the education sector. The results of this study show that the CPD policy significantly impacts teaching practices and teachers' learning experiences, though challenges in its implementation include resource limitations and systematic support. The implications for improving education quality are significant, with improvements in teaching abilities and teachers' adaptation to innovative learning methods. This study proposes that educational policies should focus more on high-quality training and collaborative approaches between teachers and local governments to ensure effective implementation of professional development programs. ABSTRAKPengembangan profesional guru sekolah dasar di Indonesia merupakan komponen krusial dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Fokus penelitian ini adalah mengevaluasi efektivitas Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru. Metodologi yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur melibatkan pengumpulan data untuk memahami dan mempelajari teori-teori dari literatur yang relevan. Selain itu dilakukan juga analisis kebijakan dan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan PKB memiliki dampak yang signifikan terhadap praktik pengajaran dan pengalaman belajar guru, meskipun terdapat tantangan dalam penerapannya yang mencakup keterbatasan sumber daya dan dukungan sistematis. Implikasinya terhadap peningkatan mutu pendidikan adalah signifikan, dengan peningkatan kemampuan mengajar dan adaptasi guru terhadap metode pembelajaran inovatif. Penelitian ini mengusulkan bahwa kebijakan pendidikan harus lebih menekankan pada pelatihan berkualitas tinggi dan pendekatan kolaboratif antara guru dan pemerintah daerah untuk memastikan implementasi yang efektif dari program pengembangan profesional.
PERAN IBADAH DALAM PEMBENTUKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS REMAJA ASTUTI, RAHAYU FUJI; NURFADILLAH, RIZKY; RAHMAD, AULIA; GEA, NISCA NADYA PERMATA; QOLBI, RIDWAN HAMID; SYAHPUTRA , DENI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4103

Abstract

This study aims to determine the role of worship in the formation of psychological well-being of adolescents in class 9 Integrated 2, Smp Muhammadiyah 01 Medan. The research method used in this research is qualitative research, where qualitative research is research conducted on natural object conditions with a case study method. This data analysis is carried out circularly by starting with data collection, data presentation and conclusions. Researchers used data collection instruments in the form of observations and interviews. The results show that the routine activities at the research location can form psychologically prosperous students through dhuha prayer worship, recitation of asmaul husna and recitation of hadith. In conclusion, worship plays an important role in overcoming adolescent psychological well-being. This worship is made to improve faith as an effort to get closer to Allah Swt and improve mental health. With regular worship, they can certainly prosper their psychology in the midst of turbulent adolescent development. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ibadah dalam pembentukan kesejahteraan psikologis remaja di kelas 9 Terpadu 2, Smp Muhammadiyah 01 Medan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi obyek yang bersifat alamiah dengan metode studi kasus. Analisis data ini dilakukan secara sirkuler dengan diawali melakukan pengumpulan data, penyajian data dan kesimpulan. Peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan rutinan yang ada di lokasi penelitian dapat membentuk peserta didik yang sejahtera psikologis melalui ibadah sholat dhuha, pembacaan asmaul husna dan pembacaan hadis. Kesimpulannya ibadah memainkan peranan yang penting dalam mengatasi kesejahteraan psikologis remaja. Ibadah ini dibuat untuk memperbaiki keimanan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan memperbaiki kesehatan mental. Dengan ibadah rutin yang dilakukan tentu dapat mensejahterakan psikologis mereka ditengah perkembangan remaja yang bergejolak.
KONFLIK BATIN KURT PADA TOKOH AKU DALAM CERPEN KOMPAS SUATU HARI, KAMU AKAN MENGERTI KARYA RAISA KAMILA PRIKUSUMA, ATHAYA RIDHA; PAMUNGKAS, ONOK YAYANG; WIBOWO, IQBALVA DEMAS; HAMZAH, HAMZAH; PURNOMO, WESLEY
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4124

Abstract

This study aims to analyze the inner conflict experienced by Kurt, the character "Aku" in the short story Sebuah Hari, Kamu Akan Mengerti by Raisa Kamila. This study uses a literary psychology approach to understand the inner dynamics of the main character, especially the internal conflict reflected in behavior, dialogue, and narrative. The research data in the form of short story texts were analyzed using qualitative descriptive methods to reveal aspects of inner conflict including the conflict between hopes, fears, and reality faced by Kurt. The results of the study indicate that Kurt's inner conflict arises due to feelings of being pressured by social expectations, past trauma, and longing for acceptance. Kurt experiences a dilemma between his desire to express his identity and his fear of rejection from his surroundings. In addition, the narrative of the short story describes how Kurt's inner struggle regarding his personal relationships with those closest to him influences important decisions in his life. This inner conflict culminates in an introspective dialogue that describes Kurt's desire to make peace with himself. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik batin yang dialami oleh Kurt, tokoh "Aku" dalam cerpen Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti karya Raisa Kamila. Kajian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk memahami dinamika batin tokoh utama, khususnya konflik internal yang tercermin dalam perilaku, dialog, dan narasi. Data penelitian berupa teks cerpen yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk mengungkap aspek-aspek konflik batin yang meliputi pertentangan antara harapan, ketakutan, dan kenyataan yang dihadapi oleh Kurt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik batin Kurt muncul akibat perasaan tertekan oleh ekspektasi sosial, trauma masa lalu, dan kerinduan terhadap penerimaan. Kurt mengalami dilema antara keinginannya untuk mengekspresikan jati diri dan ketakutannya akan penolakan dari lingkungan sekitar. Selain itu, narasi cerpen menggambarkan bagaimana pergulatan batin Kurt terkait hubungan personalnya dengan orang-orang terdekat memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Konflik batin ini memuncak pada dialog introspektif yang menggambarkan keinginan Kurt untuk berdamai dengan dirinya sendiri
GAMBARAN TOXIC RELATIONSHIP BAGI DEWASA AWAL YANG BERPACARAN CHI, GABRIEL; DARIYO, AGOES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4172

Abstract

This research aims to describe the experience of toxic relationships in young adults who are currently in a dating relationship. In an era that is increasingly open to relationship issues, toxic relationships are one of the problems that individuals often face, especially in early adulthood who are looking for identity and emotional stability. The method used in this research is a qualitative approach with interview techniques. This research involved five sources aged between 20 and 25 years, who had experience in dating relationships that were considered toxic. The research results showed that the signs of a toxic relationship experienced by the interviewee included excessive control, poor communication, emotional violence, and inequality in the relationship. In addition, most interviewees expressed difficulty in getting out of the relationship because of feelings of emotional dependence, fear of rejection, and uncertainty about the future. It is hoped that this research can provide a deeper understanding of the dynamics of toxic relationships among young adults. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana pengalaman toxic relationship pada dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran. Dalam era yang semakin terbuka terhadap isu-isu hubungan, toxic relationship menjadi salah satu masalah yang sering dihadapi oleh individu, terutama pada usia dewasa awal yang sedang mencari identitas dan stabilitas emosional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara. Penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yang berusia antara 20 hingga 25 tahun, yang memiliki pengalaman dalam menjalin hubungan pacaran yang dianggap toxic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda toxic relationship yang dialami oleh narasumber meliputi kontrol berlebihan, komunikasi yang buruk, kekerasan emosional, serta ketidaksetaraan dalam hubungan. Selain itu, sebagian besar narasumber mengungkapkan adanya kesulitan dalam keluar dari hubungan tersebut karena rasa ketergantungan emosional, rasa takut terhadap penolakan, dan ketidakpastian akan masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang dinamika toxic relationship di kalangan dewasa awal.
GAMBARAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA: STUDI DESKRIPTIF DI PERGURUAN TINGGI YANG MENERAPKAN HYBRID LEARNING SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4174

Abstract

This study aims to describe the college student adjustment in the context of hybrid learning in higher education. Hybrid learning combines face-to-face and online learning, adaptation challenges for students, particularly after the COVID-19 pandemic. The study employs a qualitative descriptive method with purposive sampling, involving 125 students from various cohorts at a university in West Jakarta. Data analysis was conducted using MAXQDA 2020 software to explore four aspects of adjustment: academic adjustment, social adjustment, personal-emotional adjustment, and goal commitment-institutional attachment. The findings reveal that hybrid learning positively impacts students' learning motivation and social interactions but also presents challenges such as boredom, stress, and time management difficulties. This research provides valuable insights into factors influencing student adjustment in a hybrid learning system. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran college student adjustment (penyesuaian diri mahasiswa) dalam proses pembelajaran hybrid learning di perguruan tinggi. Hybrid learning menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring, memberikan tantangan adaptasi bagi mahasiswa, terutama setelah pandemi coronavirus disease (covid-19). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan purposive sampling, melibatkan 125 mahasiswa dari berbagai angkatan di salah satu Universitas di Jakarta Barat. Analisis data dilakukan menggunakan software MAXQDA 2020 dan mengidentifikasi empat aspek penyesuaian diri sebagai temuan penelitian yaitu: penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, dan kelekatan terhadap universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hybrid learning memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar dan interaksi sosial mahasiswa, namun juga memunculkan tantangan berupa kebosanan, stres, dan kesulitan dalam mengatur waktu dalam penerapan sistem hybrid learning.
PERBEDAAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA YANG MERANTAU DI JAKARTA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN AMALIA, RIZKY; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4175

Abstract

This study aims to examine the differences in self-esteem among students who have migrated to Jakarta based on gender. Gender is often considered a factor that influences self-esteem. However, previous studies have shown diverse findings, making this gap important to explore further. This research employs a quantitative research method, with the target participants being active students aged 18-25 years who have migrated to Jakarta. After data collection through a Google Form survey, a sample of 171 participants was obtained, consisting of 132 female participants and 39 male participants. Data collection was carried out using purposive sampling. The analysis results showed that (p = 0.576 > 0.05), indicating that there is no significant difference in self-esteem among students who have migrated to Jakarta when viewed based on gender. However, there was a slight difference in the mean scores between male and female students, with the average score for male students being higher (M = 3.7333) compared to female students (M = 3.6523). Nevertheless, due to the t-value of 0.560, this mean difference is not strong enough to be considered statistically significant. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-esteem pada mahasiswa yang merantau di Jakarta berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin sering kali dianggap sebagai faktor yang memengaruhi variabel self-esteem. Namun, hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam, sehingga kesenjangan ini penting untuk dibahas lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan target partisipan yaitu mahasiswa aktif berusia 18-25 tahun yang merantau di Jakarta. Setelah data dikumpulkan melalui penyebaran menggunakan google form, didapatkan sampel berjumlah 171 orang dengan jumlah partisipan perempuan sebanyak 132 orang dan partisipan laki-laki sebanyak 39 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa (p = 0,576 > 0,05), sehingga hasil temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada self-esteem mahasiswa yang merantau di Jakarta apabila ditinjau berdasarkan jenis kelamin. Meskipun begitu terdapat sedikit perbedaan pada hasil rata-rata antara mahasiswa laki-laki dengan mahasiswa perempuan, dimana rata-rata mahasiswa laki-laki lebih besar (M = 3.7333) dibandingkan rata-rata mahasiswa perempuan (M = 3,6523). Namun karena nilai t = 0,560, sehingga perbedaan rata-rata tersebut tidak cukup kuat untuk dianggap signifikan.
GAMBARAN PENGGUNAAN ABUSIVE LANGUAGE DAN HATE SPEECH PADA SISWA SEKOLAH DASAR YANG DITIRUKAN DARI MEDIA SOSIAL JAMIL, AZIZAH NURUL; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4176

Abstract

The use of abusive language and hate speech among elementary school students is influenced by the widespread presence of social media. Social media, as a source of information and entertainment, has become an inseparable part of children’s lives, but also brings negative impacts, including the imitation of abusive language and hate speech. This research aims to describe the use of abusive language and hate speech by elementary school students who are influenced by the rise of social media. Social media as a source of information and entertainment has become an inseparable part of children's lives, but it also has negative impacts, including imitation of harsh language and hate speech. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through in-depth interviews, observations, and content analysis of student interactions, both directly in the school environment and on social media platforms. The research results show that elementary school students tend to imitate abusive language and hate speech they encounter on social media without fully understanding its meaning and impact. The main factors that influence this behavior include the duration of social media use, lack of supervision from parents, and minimal understanding of digital communication ethics. The impact of using this language can be seen in disrupting social relationships between students, increasing verbal conflicts, and decreasing politeness values ??in daily interactions. This research recommends increasing supervision of elementary school children in their use of social media. The role of parents and educators is the most important thing in providing their students with an understanding of how to wisely use social media to prevent behavior that imitates negative language from social media. Apart from that, strengthening regulations regarding social media access for children needs to be done. ABSTRAKPenggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran penggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar yang dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten dari interaksi siswa, baik secara langsung di lingkungan sekolah maupun di platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar cenderung menirukan abusive language dan hate speech yang mereka temui di media sosial tanpa memahami sepenuhnya makna dan dampaknya. Faktor utama yang memengaruhi perilaku ini meliputi durasi penggunaan media sosial, kurangnya pengawasan dari orang tua, dan minimnya pemahaman tentang etika komunikasi digital. Dampak penggunaan bahasa tersebut terlihat pada terganggunya hubungan sosial antar siswa, meningkatnya konflik verbal, serta penurunan nilai-nilai kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap anak-anak sekolah dasar dalam penggunaan media sosial. Peran orang tua dan para pendidik menjadi hal yang paling penting dalam memberikan pemahaman terhadap anak didiknya tentang cara bijak menggunakan media sosial guna mencegah perilaku meniru bahasa negatif dari media sosial. Selain itu penguatan regulasi terkait akses media sosial untuk anak-anak perlu dilakukan.
PERAN AYAH DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL: UJI KORELASI PADA WANITA DEWASA AWAL MENJALANI HUBUNGAN ROMANTIS SIAHAAN, BELLA GUSTINA; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4177

Abstract

Fathers have a major role in supporting development such as meeting financial needs, being a friend in playing and sharing, providing love and care, educating and modeling, supervising and disciplining, protecting from threats or dangers, helping children overcome difficulties, and encouraging them to achieve success. Interpersonal communication as a form of communication carried out by two or more people to carry out the process of sending communication to get feedback in the form of receiving messages from interlocutors that affect the quality of social relationships, including romantic relationships. This study aims to determine the relationship between the condition of the father's role with interpersonal communication in early adult women who are in a romantic relationship (dating). This study used a quantitative method using purposive sampling technique, involving 405 early adult female participants aged 19-30 years who were in a romantic relationship.  The research instruments include the Father's role scale and the interpersonal communication scale which have been tested for validity and reliability. The correlation test results show a correlation coefficient (rcy) of .737 with a significance value of .000 (p < 0.05) which indicates a positive relationship between the father's role variable and interpersonal communication, and this can be interpreted, if the father's role is high then interpersonal communication in early adult women in undergoing romantic relationships (dating) will also be high. ABSTRAKAyah memiliki peran utama dalam mendukung perkembangan seperti memenuhi kebutuhan finansial, menjadi teman dalam bermain dan berbagi, memberikan kasih sayang dan perawatan, mendidik serta menjadi teladan, mengawasi dan mendisiplinkan, melindungi dari ancaman atau bahaya, membantu anak mengatasi kesulitan, serta mendorong mereka untuk mencapai keberhasilan. Komunikasi interpersonal sebagai bentuk komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk melakukan proses pengiriman komunikasi untuk mendapatkan umpan balik berupa penerimaan pesan-pesan dari lawan bicara yang memengaruhi kualitas hubungan sosial, termasuk hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi Peran ayah dengan komunikasi interpersonal pada wanita dewasa awal yang sedang menjalani hubungan romantis (pacaran). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang melibatkan 405 partisipan wanita dewasa awal berusia 19–30 tahun yang sedang menjalin hubungan romantis. Instrumen penelitian mencakup skala Peran ayah dan skala komunikasi interpersonal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi (rcy) sebesar .737 dengan nilai signifikansi sebesar .000 (p < 0.05) yang mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara variabel peran ayah dengan komunikasi interpersonal, dan hal ini dapat diartikan, jika peran ayah yang tinggi maka komunikasi interpersonal pada wanita dewasa awal dalam menjalani hubungan romantis (pacaran) juga akan tinggi.
HUBUNGAN TIPE SIRKADIAN MALAM DENGAN BURNOUT AKADEMIK YANG DIRASAKAN OLEH MAHASISWA KELAS REGULER PUTRI, SHARON FLOWRETA; BASARIA, DEBORA; TASDIN, WILLY
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4178

Abstract

This study aims to examine the relationship between night chronotype and academic burnout among regular class students. The night chronotype refers to an individual's preference for optimal activity during the evening to night time, whereas regular classes are typically scheduled in the morning to afternoon. This misalignment may lead to adaptation difficulties, increasing the risk of academic burnout. This quantitative research utilized a correlational approach. A total of 204 active university students aged 17-22 years attending regular classes and identify as night chronotype individuals. The study uses the Composite Scale of Morningness (CSM) and Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS). Results revealed a nonsignificant relationship between night chronotype and academic burnout in regular class students. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara tipe sirkadian malam dan tingkat burnout pada mahasiswa kelas reguler. Tipe sirkadian malam mengacu pada preferensi individu untuk beraktivitas paling optimal pada sore hingga malam hari, sedangkan kelas reguler umumnya dijadwalkan pada pagi hingga siang hari. Ketidaksesuaian antara waktu optimal aktivitas dan jadwal kuliah berpotensi menyebabkan kesulitan adaptasi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko burnout akademik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Jumlah partisipan pada penelitian ini adalah 204 orang dengan kriteria mahasiswa aktif berumur 17-22 tahun di Universitas X yang menghadiri kelas reguler dan memiliki tipe sirkadian malam. Penelitian ini menggunakan alat ukur Composite Scale of Morningness (CSM) dan Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS). Penelitian ini menunjukkan bahwa tipe sirkadian malam dan burnout akademik tidak memiliki hubungan yang signifikan pada mahasiswa kelas reguler.
PENGARUH KECANDUAN VIDEO GAME TERHADAP SELF-ESTEEM PADA DEWASA MUDA SADINA, KINARA; AGUSTINA, AGUSTINA; TASDIN, WILLY
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4290

Abstract

This study examines the impact of video game addiction on self-esteem in young adults. Although video games are a popular form of entertainment, excessive use—defined as playing more than 3 hours per day with negative impacts on mental and social health—was found to have a significant negative association with self-esteem. Individuals who are addicted tend to have low self-esteem, often using gaming as an escape from reality or to seek social validation. This condition is also associated with poor interpersonal relationships, which increases the risk of social isolation and worsens their self-confidence. This study highlights the importance of understanding the psychological impact of video game addiction in young adults, who are in a critical phase of identity development and social relationships. Low levels of self-esteem make individuals more vulnerable to the negative impacts of addiction, such as difficulties in forming healthy relationships and obstacles in psychosocial development. The results of this study provide insights for the development of interventions aimed at helping individuals manage their gaming time more healthily. These interventions are expected to improve psychological well-being and support the development of better social relationships for affected young adults. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji dampak kecanduan video game terhadap self-esteem pada dewasa muda. Meskipun video game merupakan bentuk hiburan yang populer, penggunaan berlebihan—didefinisikan sebagai bermain lebih dari 3 jam per hari dengan dampak buruk pada kesehatan mental dan sosial—ditemukan memiliki hubungan negatif signifikan dengan self-esteem. Individu yang mengalami kecanduan cenderung memiliki self-esteem rendah, sering menggunakan game sebagai pelarian dari kenyataan atau untuk mencari validasi sosial. Kondisi ini juga dikaitkan dengan hubungan interpersonal yang buruk, yang meningkatkan risiko isolasi sosial dan memperburuk kepercayaan diri mereka. Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami dampak psikologis kecanduan video game pada dewasa muda, yang berada dalam fase penting perkembangan identitas dan hubungan sosial. Tingkat self-esteem yang rendah membuat individu lebih rentan terhadap dampak negatif kecanduan, seperti kesulitan menjalin hubungan yang sehat dan hambatan dalam perkembangan psikososial. Hasil penelitian ini memberikan wawasan untuk pengembangan intervensi yang bertujuan membantu individu mengelola waktu bermain secara lebih sehat. Intervensi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mendukung pengembangan hubungan sosial yang lebih baik bagi dewasa muda yang terdampak.