cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.p4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnal.p4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Core Subject : Education, Social,
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Community Service
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 361 Documents
IMPLEMENTASI PELATIHAN ECOPRINT BERBASIS SUMBER DAYA ALAM LOKAL UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK Idola Dian Yoku Nebore; Jeni Jeni; Jan Hendriek Nunaki; Iwan Iwan; Nuryanti Rumalolas; Samuel Sander Erari; Suzlinawati Suzlinawati; Elisabeth S Saroi; Hosin Wabia; Naomi Oskalin Rumbiak
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.14339

Abstract

Creativity is an important competency that needs to be developed through active, contextual, and experiential learning activities. Utilizing local natural resources through the eco-print technique can provide students with opportunities to explore natural materials and produce creative artworks. This community service program aimed to implement eco-print training based on the utilization of local natural resources to support the development of students’ creativity at SMP Negeri 10 Anggori, Manokwari. The program was conducted on August 20, 2025, involving 20 students through preparation, material delivery, demonstration, hands-on practice, mentoring, and evaluation stages. Evaluation was conducted through process observation, product assessment, and discussion, focusing on student participation, understanding of work procedures, skills in utilizing natural materials, and creativity indicators consisting of originality, flexibility, and elaboration. The results showed that students actively participated throughout the training, were able to utilize leaves and flowers available in the school environment, and produced eco-print artworks with varied patterns and compositions. These findings indicate that the training provided opportunities for students to explore natural materials, express their ideas, and develop creativity through direct practical experience. The activity also increased students’ understanding of the responsible use of local natural resources and introduced eco-print products as artworks with aesthetic and economic potential. Local natural resource-based eco-print training can serve as an alternative community service activity to support students’ creativity, environmental literacy, and practical skills. ABSTRAK Kreativitas merupakan kompetensi penting yang perlu dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berbasis pengalaman. Pemanfaatan sumber daya alam lokal melalui teknik eco-print dapat menjadi alternatif kegiatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi bahan alam dan menghasilkan karya kreatif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan pelatihan eco-print berbasis pemanfaatan sumber daya alam lokal dalam mendukung pengembangan kreativitas peserta didik di SMP Negeri 10 Anggori, Manokwari. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Agustus 2025 dengan melibatkan 20 peserta didik melalui tahapan persiapan, penyampaian materi, demonstrasi, praktik, pendampingan, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan melalui observasi proses, penilaian hasil karya, dan diskusi dengan memperhatikan partisipasi, pemahaman tahapan kerja, keterampilan pemanfaatan bahan alami, serta indikator kreativitas berupa orisinalitas, keluwesan, dan elaborasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta didik terlibat aktif dalam seluruh tahapan pelatihan, mampu memanfaatkan daun dan bunga yang tersedia di lingkungan sekolah, serta menghasilkan karya eco-print dengan variasi motif dan komposisi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi bahan, menuangkan gagasan, dan mengembangkan kreativitas melalui pengalaman praktik langsung. Kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan sumber daya alam lokal secara bijaksana serta memperkenalkan potensi produk eco-print sebagai karya bernilai estetika dan ekonomi. Pelatihan eco-print berbasis sumber daya alam lokal dapat menjadi alternatif kegiatan pengabdian yang mendukung pengembangan kreativitas, literasi lingkungan, dan keterampilan peserta didik.
EDUKASI STRATEGI PARENTAL CONTROL SEBAGAI UPAYA HUKUM PREVENTIF DALAM MELINDUNGI HAK KONSUMEN ANAK DARI RISIKO CYBERSEX ADDICTION DI DESA SUKASIRNA KABUPATEN SUMEDANG Yuyut Prayuti; L. Alfies Sihombing; Yeni Nuraeni; Elis Herlina; Mia Rasmiaty; Erna Listiawati
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14411

Abstract

ABSTRACT Digital transformation has increased children’s and adolescents’ access to various online services, but it has also increased the risk of exposure to sexual content, digital exploitation, and risky cyber behavior. In Sukasirna Village, Rancakalong District, Sumedang Regency, low levels of parental digital literacy and the dominance of repressive supervision practices have resulted in suboptimal protection of children as digital consumers. This condition has the potential to increase the risk of risky sexual behavior associated with child marriage and the threat of stunting. This Community Service Program aimed to improve the community’s legal capacity and practical skills in protecting children through the integration of consumer protection law education and parental control training based on two-way communication. The method used was Participatory Community Empowerment, involving parents and adolescents through legal education, technical workshops on digital supervision, and family communication simulations. The results showed an improvement in parents’ understanding of children’s rights as digital consumers based on Article 4 of the Consumer Protection Law, an improvement in their ability to operate parental control features, and a 76% level of readiness to implement two-way communication in digital supervision. This approach not only improved the community’s legal and digital literacy but also strengthened the family as a micro-level preventive legal instrument for preventing exposure to cybersexual content, risky sexual behavior, child marriage, and factors contributing to stunting. This community service model is suitable for replication as a community empowerment strategy to create a safe, healthy, and child-friendly digital ecosystem. ABSTRAK Transformasi digital telah meningkatkan akses anak dan remaja terhadap berbagai layanan daring, namun juga memperbesar risiko paparan konten seksual, eksploitasi digital, dan perilaku siber berisiko. Di Desa Sukasirna, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, rendahnya literasi digital orang tua serta dominannya pola pengawasan yang bersifat represif menyebabkan perlindungan anak sebagai konsumen digital belum berjalan secara optimal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko perilaku seksual berisiko yang berkaitan dengan perkawinan usia anak dan ancaman stunting. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas hukum dan keterampilan praktis masyarakat dalam melindungi anak melalui integrasi edukasi hukum perlindungan konsumen dengan pelatihan parental control berbasis komunikasi dua arah. Metode yang digunakan adalah Participatory Community Empowerment yang melibatkan orang tua dan remaja melalui sosialisasi hukum dan lokakarya teknis pengawasan digital serta simulasi komunikasi keluarga. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua mengenai hak anak sebagai konsumen digital berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, kemampuan mengoperasikan fitur parental control meningkat, serta kesiapan menerapkan komunikasi dua arah dalam pengawasan digital mencapai 76%. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan literasi hukum dan literasi digital masyarakat, tetapi juga memperkuat keluarga sebagai instrumen hukum preventif mikro dalam mencegah paparan siber seksual, perilaku seksual berisiko, perkawinan usia anak, dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap stunting. Model pengabdian ini layak direplikasi sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan ekosistem digital yang aman, sehat, dan ramah anak.
PENYULUHAN HUKUM PARTISIPATIF: MENINGKATKAN KAPASITAS HUKUM MASYARAKAT TERHADAP TRANSISI DAN MITIGASI PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KUHP DAN KUHAP BARU L. Alfies Sihombing; Yeni Nuraeni; Yuyut Prayuti; Ahmad Jamaludin; Happy Yulia Anggraeni
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14412

Abstract

ABSTRACT Indonesia is entering a new era of decolonization of its criminal justice system, shifting toward a restorative and rehabilitative paradigm, with the enactment of Law No. 1 of 2023 (the New Criminal Code) and Law No. 20 of 2025 (the New Criminal Procedure Code) on January 2, 2026. However, the legislative process which has been criticized as rushed has created a gap between the ideal of the law (das Sollen) and on-the-ground reality (das Sein), particularly regarding the potential erosion of civil rights due to the expansion of law enforcement agencies’ authority to use coercive measures without strict judicial oversight. This gap is exacerbated by a lack of public understanding, which risks triggering premature criminalization. This community service program aims to enhance the public’s capacity for self-defense through legal education via a National Webinar-based Participatory Legal Education initiative. Using interactive and dialogic methods, this initiative involves legal practitioners, academics, and the general public to analyze the legal implications and mitigate the risks associated with the legal transition. Based on Soerjono Soekanto’s theoretical framework of legal awareness, evaluation results show a significant increase across all dimensions of participants’ legal awareness, with the highest surge occurring in the indicators of legal behavior and legal understanding. Comparative analysis indicates that participatory outreach methods are effective in transforming normative knowledge into tactical actions, such as readiness to utilize pretrial mechanisms and the right to legal representation. As reflected in the supporting documents, this initiative has proven to be crucial as a social and legal mitigation tool in addressing the structural challenges of the transition period. The program recommends continuing legal literacy efforts at the grassroots level and fostering cross-sectoral collaboration to ensure accountability in democratic law enforcement. ABSTRAK Indonesia tengah memasuki era baru dekolonisasi sistem hukum pidana Indonesia menuju paradigma restoratif dan rehabilitatif, dengan pemberlakuan UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru) dan UU No. 20 Tahun 2025 (KUHAP Baru) pada 2 Januari 2026. Namun, proses legislasi yang dinilai tergesa-gesa memicu kesenjangan antara cita hukum (das Sollen) dengan realitas lapangan (das Sein), khususnya terkait potensi pelemahan hak sipil akibat perluasan wewenang upaya paksa aparat tanpa pengawasan yudisial yang ketat. Kesenjangan ini diperparah oleh minimnya pemahaman masyarakat, yang berisiko memicu kriminalisasi prematur. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pertahanan hukum mandiri masyarakat melalui inovasi Penyuluhan Hukum Partisipatif berbasis Webinar Nasional. Menggunakan metode interaktif-dialogis, kegiatan ini melibatkan praktisi hukum, akademisi, dan masyarakat umum untuk membedah implikasi yuridis dan mitigasi risiko transisi hukum. Berdasarkan kerangka teori kesadaran hukum Soerjono Soekanto, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh dimensi kesadaran hukum peserta, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada indikator perilaku hukum dan pemahaman hukum. Analisis komparatif menunjukkan bahwa metode penyuluhan partisipatif efektif mentransformasi pengetahuan normatif menjadi tindakan taktis, seperti kesiapan menggunakan mekanisme praperadilan dan hak pendampingan hukum. Sebagaimana tercermin dalam dokumen pendukung, inisiatif ini terbukti krusial sebagai instrumen mitigasi sosial-yuridis dalam menghadapi tantangan struktural masa transisi. Program ini merekomendasikan keberlanjutan literasi hukum di tingkat akar rumput dan sinergi lintas sektor untuk mengawal akuntabilitas penegakan hukum yang demokratis.
PENGENALAN MAMALIA LOKAL WONDIBOI MELALUI MEDIA LUDO EDUKATIF DI SMAN 1 WONDAMA Aksamina Maria Yohanita; Egi Purnama; Nuryanti Rumalolas; Silvia Hanna Kusuma Sirait; Semuel Sander Erari; Salsabila Jasmine Frantoe; Sania Loisiana Yomaki; Esterlita Bonggoibo; Yohanes Sembori Sawor
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v5i2.14429

Abstract

This community service activity was motivated by the limited utilization of local biodiversity as a biology learning resource at SMAN 1 Wondama, particularly local mammals in the Wondiboi area. This condition highlights the need for learning media that can introduce local biodiversity in an engaging and contextual manner while fostering students’ awareness of wildlife conservation in their surrounding environment. This activity aimed to introduce local Wondiboi mammals to students through an educational Ludo game while providing an interactive and contextual learning experience. The activity was conducted on January 19, 2026, at SMAN 1 Wondama, Teluk Wondama Regency, Southwest Papua, involving 58 twelfth-grade students. The activity employed a participatory approach consisting of preparation, outreach, material presentation through an educational Ludo game, and reflection and feedback. The materials covered the names, morphological characteristics, habitats, ecological roles, and conservation efforts of local Wondiboi mammals. Evaluation was conducted through observations of student engagement, a student response questionnaire, question-and-answer sessions, reflection, and feedback from the accompanying teacher. The results showed that the educational Ludo game created an interactive learning environment and encouraged students’ attention, active engagement, participation, curiosity, and enthusiasm throughout the activity. Students also responded positively to the local mammal materials and gained information about the diversity of Wondiboi mammals and the importance of their conservation. The activity demonstrates that educational Ludo games can serve as an alternative local-potential-based biology learning medium that supports contextual learning and conservation education in schools. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati lokal sebagai sumber belajar biologi di SMAN 1 Wondama, khususnya mamalia lokal Wondiboi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan media pembelajaran yang mampu memperkenalkan biodiversitas lokal secara menarik, kontekstual, dan mendorong kepedulian peserta didik terhadap konservasi satwa di lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan mamalia lokal Wondiboi kepada peserta didik melalui media ludo edukatif sekaligus memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual. Kegiatan dilaksanakan pada 19 Januari 2026 di SMAN 1 Wondama, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, dengan melibatkan 58 peserta didik kelas XII. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang terdiri atas tahap persiapan, sosialisasi, pemaparan materi melalui permainan ludo edukatif, serta refleksi dan umpan balik. Materi yang disajikan mencakup nama, ciri morfologi, habitat, peranan ekologis, dan upaya konservasi mamalia lokal Wondiboi. Evaluasi dilakukan melalui observasi keterlibatan peserta didik, angket respons, tanya jawab, refleksi, dan tanggapan guru pendamping. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa media ludo edukatif menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan mendorong perhatian, keaktifan, partisipasi, rasa ingin tahu, serta semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan. Peserta didik juga menunjukkan respons positif terhadap materi mamalia lokal dan memperoleh informasi mengenai keberagaman serta pentingnya menjaga kelestarian fauna Wondiboi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ludo edukatif dapat menjadi alternatif media pembelajaran biologi berbasis potensi lokal yang mendukung pembelajaran kontekstual dan pendidikan konservasi di sekolah.
DIGITAL BRANDING AND SOCIAL MEDIA PROMOTION TRAINING FOR THE DEVELOPMENT OF BANYUROTO TOURISM VILLAGE BASED ON DATA, COMMUNITY, AND LOCAL WISDOM Silvina Rosita Yulianti; Andreas Rony Wijaya; Muhammad Bayu Nirwana; Kiki Ferawati; Hasih Pratiwi; Respatiwulan; Sri Sulistijowati Handajani; Aqila Khansa Hartanto
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14779

Abstract

ABSTRACT Digital technology has shifted tourism promotion toward internet and social media channels, yet many Indonesian tourism villages cannot use those channels consistently. Banyuroto Village, Sawangan Subdistrict, Magelang Regency, has highland landscapes, an access point to the Mount Merbabu hiking route, and micro-enterprise products, but no unified destination brand, fragmented visitor information, and uneven digital content skills among residents. This community engagement program, carried out on 2 June 2026, aimed to build and optimize the promotion of Banyuroto Tourism Village through participatory, community-based training and continuous mentoring, particularly for the younger generation. The program was implemented in five stages, from partner coordination and baseline measurement to integrated destination branding and tourism information standardization, hands-on content-creation practice, and evaluation, delivering three core materials on tourism branding, WhatsApp Business, and TikTok. Effectiveness was assessed through paired questionnaires completed by the same 16 participants and analyzed using the exact McNemar, Wilcoxon signed-rank, and Kruskal-Wallis tests. At baseline, only 37.50% understood destination branding and 25.00% had ever created promotional content, although all were already active social media users. After the training, understanding rose to 100%, a change produced by ten discordant pairs that all moved in the positive direction (p = 0.002), while mean confidence in creating promotional content gained a full point, from 2.94 to 3.94, with a large effect size (p = 0.019, r = 0.59). All participants could use the WhatsApp message template, 93.75% planned to apply the skills, and evaluation scores did not differ across hamlets (p = 0.406), showing that the capacity gained was distributed rather than concentrated. Integrating branding, information standardization, accessible platforms, and data literacy in one community-based model therefore converts awareness into applied promotional skill and supports SDG 4, SDG 8 and SDG 17. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah menggeser promosi pariwisata ke kanal berbasis internet dan media sosial, namun banyak desa wisata di Indonesia belum mampu memanfaatkannya secara konsisten. Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, memiliki lanskap dataran tinggi, akses jalur pendakian Gunung Merbabu, dan produk usaha mikro, tetapi belum memiliki destination branding yang terpadu, informasi wisatanya terpencar, dan keterampilan warga dalam membuat konten digital belum merata. Kegiatan pengabdian ini, yang dilaksanakan pada 2 Juni 2026, bertujuan membangun dan mengoptimalkan promosi Desa Wisata Banyuroto melalui pelatihan partisipatif berbasis masyarakat dan pendampingan berkelanjutan, khususnya bagi generasi muda. Program dilaksanakan dalam lima tahap, yaitu koordinasi mitra, identifikasi kebutuhan dan pengukuran awal, pelatihan terpadu destination branding dan standardisasi informasi wisata, praktik langsung pembuatan konten, serta evaluasi, dengan tiga materi inti berupa tourism branding, WhatsApp Business, dan TikTok. Efektivitas program diukur menggunakan kuesioner berpasangan yang diisi oleh 16 peserta yang sama serta dianalisis dengan uji McNemar eksak, Wilcoxon signed-rank, dan Kruskal-Wallis. Sebelum pelatihan, hanya 37,50% peserta memahami destination branding dan 25,00% pernah membuat konten promosi, meskipun seluruhnya telah aktif menggunakan media sosial. Setelah pelatihan, pemahaman peserta mencapai 100%, yang dihasilkan oleh sepuluh pasangan diskordan yang seluruhnya berubah ke arah positif (p = 0,002), sementara rerata keyakinan membuat konten promosi meningkat satu poin penuh, dari 2,94 menjadi 3,94, dengan ukuran efek besar (p = 0,019, r = 0,59). Seluruh peserta mampu menggunakan templat pesan WhatsApp, 93,75% berencana menerapkan keterampilannya, dan skor evaluasi tidak berbeda antardusun (p = 0,406), sehingga kapasitas yang terbentuk tersebar merata dan tidak terpusat. Pengintegrasian branding, standardisasi informasi, platform yang mudah diakses, dan literasi data dalam satu model berbasis masyarakat dengan demikian mengubah kesadaran menjadi keterampilan promosi terapan serta mendukung SDG 4, SDG 8, dan SDG 17.
PELATIHAN PENGGUNAAN ENGINE CUTTING SIMULATOR MESIN SEPEDA MOTOR MATIC BAGI GURU SMK NEGERI 3 KARAWANG Eko Arif Syaefudin; Himawan Hadi Sutrisno; Rani Anggrainy; Agung Gumelar; Hari Din Nugraha; Reza Febriano Armas; Diandra Keisha Gunadi; Rizky Malik Arrahman
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14904

Abstract

Teaching automatic motorcycle engines in vocational high schools is constrained by component placement inside the engine casing, which prevents students from observing the mechanism while the engine runs. This community service programme donated one Engine Cutting Simulator Matic Trainer Engine Honda unit to SMK Negeri 3 Karawang and trained the school's vocational teachers to operate it. The training was held on 23 June 2026 and followed a competency-based sequence of concept orientation, team demonstration, group practice guided by a printed module, and outcome measurement. Evaluation used a 15-item four-point Likert questionnaire and a 10-item multiple-choice knowledge test completed by five participating teachers. The mean questionnaire score was 3.69 out of 4.00, or 92.3%, with item means ranging from 3.60 to 3.80, all in the very good band (3.26 to 4.00). The media aspect scored highest at 3.80, followed by the organisation aspect at 3.70, while the material, trainer, and benefit aspects each scored 3.67. The mean test score was 98 out of 100 with a standard deviation of 4.47 across a 90 to 100 range, and every participant exceeded the 70-point mastery threshold. Nine of the ten items were answered correctly by all participants; one item on V-belt position at the primary pulley under high engine speed was answered correctly by four. This finding identifies continuously variable transmission operation as the concept requiring reinforcement in follow-up mentoring. Because only five teachers completed the instruments, the results describe those respondents rather than all vocational teachers at the partner school. ABSTRAK Pembelajaran mesin sepeda motor bertransmisi otomatis (matic) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terkendala oleh letak komponen yang tertutup rumah mesin sehingga gerak mekanisme tidak dapat diamati ketika mesin bekerja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menghibahkan satu unit Engine Cutting Simulator Matic Trainer Engine Honda kepada SMK Negeri 3 Karawang dan melatih guru produktif menggunakannya. Pelatihan berlangsung pada 23 Juni 2026 dengan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi, yang mencakup orientasi konsep, demonstrasi oleh tim, praktik berkelompok berbantuan modul, dan pengukuran hasil. Evaluasi menggunakan angket 15 butir berskala Likert empat poin dan tes pengetahuan pilihan ganda 10 butir yang diisi lima guru peserta. Rerata skor angket 3,69 dari 4,00 atau 92,3% dengan rentang antar butir 3,60 sampai 3,80, sehingga seluruh butir berada pada kategori sangat baik menurut rentang penafsiran 3,26 sampai 4,00. Aspek media memperoleh rerata tertinggi, yaitu 3,80, diikuti aspek penyelenggaraan 3,70, sedangkan aspek materi, narasumber, serta manfaat dan kepuasan masing-masing 3,67. Rerata nilai tes 98 dari 100 dengan simpangan baku 4,47, yaitu sebaran nilai 90 sampai 100, dan seluruh peserta melampaui batas ketuntasan 70. Sembilan dari sepuluh butir dijawab benar oleh seluruh peserta, sedangkan satu butir tentang posisi sabuk V pada puli primer saat putaran mesin tinggi dijawab benar oleh empat peserta. Temuan tersebut menempatkan konsep kerja continuously variable transmission (CVT) sebagai materi yang perlu diperkuat pada pendampingan lanjutan. Jumlah responden yang terbatas membuat hasil ini berlaku bagi peserta yang mengisi instrumen, bukan bagi seluruh guru produktif sekolah mitra.
PELATIHAN PENGGUNAAN TRAINER SIMULATOR ELECTRIC VEHICLE SEPEDA MOTOR BAGI GURU SMK NEGERI 3 KARAWANG Sugeng Priyanto; Imam Mahir; Rani Anggrainy; Agung Gumelar; Hari Din Nugraha; Miftah Al Hafidz; Diandra Keisha Gunadi; Rizky Malik Arrahman
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14906

Abstract

The electric motorcycle ecosystem in Indonesia is expanding, yet 2025 sales stood at 55,059 units, down 28.6% from 77,078 units in 2024, and still accounted for less than one percent of national motorcycle sales, leaving vocational high schools (SMK) with automotive programmes short of practical media for this topic. SMK Negeri 3 Karawang faced three problems: teachers' understanding of electric motorcycle architecture was uneven, inspection practice still relied on conventional electrical habits that carry risk on battery-voltage systems, and the school lacked practical media for safe repeated training. This community service programme donated one electric motorcycle simulator trainer unit to the school and trained teachers to operate it through competency-based training held on 23 June 2026, comprising material exposure, demonstration, and hands-on practice, with occupational health and safety (K3) included as training content. Evaluation used a 15-item satisfaction questionnaire on a 1-to-4 scale and a 10-item multiple-choice knowledge test completed by five participating teachers. The mean questionnaire score was 3.80 out of 4.00, categorised as very good, with no item scoring below 3. The mean test score was 184 out of 200, ranging from 170 to 200. Of the 50 test responses analysed, 43 were correct; six items were answered correctly by all participants, while the item on battery specifications was answered correctly by only one participant. The main finding is a split in participant mastery by item type: all participants answered the procedural and occupational safety items correctly, whereas only one answered the battery specification item correctly, directing follow-up mentoring towards reading the technical specification sheet rather than towards operating procedures. The limited number of respondents means the results describe the five teachers who completed the instruments rather than all vocational teachers at the partner school. ABSTRAK Ekosistem sepeda motor listrik di Indonesia berkembang, tetapi penjualannya pada 2025 tercatat 55.059 unit, turun 28,6% dari 77.078 unit pada 2024, dan porsinya masih di bawah satu persen dari total penjualan sepeda motor nasional, sehingga sekolah menengah kejuruan (SMK) program keahlian otomotif belum banyak memiliki media praktik untuk topik ini. SMK Negeri 3 Karawang menghadapi tiga persoalan, yaitu pemahaman guru terhadap arsitektur sepeda motor listrik yang belum merata, praktik pemeriksaan yang masih mengacu pada kebiasaan kelistrikan konvensional, padahal berisiko terhadap sistem bertegangan baterai, dan ketiadaan media praktik untuk berlatih berulang secara aman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menghibahkan satu unit trainer simulator sepeda motor listrik kepada sekolah dan melatih guru menggunakannya melalui pelatihan berbasis kompetensi pada 23 Juni 2026, mencakup pemaparan materi, demonstrasi, dan praktik langsung, dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai salah satu materi. Evaluasi menggunakan angket kepuasan 15 butir berskala 1 sampai 4 dan tes pengetahuan pilihan ganda 10 butir yang diisi oleh lima guru peserta. Rerata skor angket sebesar 3,80 dari 4,00 pada kategori sangat baik, tanpa satu pun butir bernilai di bawah 3. Rerata skor tes sebesar 184 dari 200, dengan rentang 170 sampai 200. Dari 50 jawaban tes yang dianalisis, 43 jawaban benar; enam butir dijawab benar oleh seluruh peserta, sedangkan butir tentang spesifikasi baterai hanya dijawab benar oleh satu peserta. Temuan utamanya adalah penguasaan peserta yang terbelah menurut jenis materi: butir prosedural dan butir keselamatan kerja dikuasai seluruh peserta, sedangkan butir hafalan spesifikasi baterai dikuasai satu peserta, sehingga pendampingan lanjutan diarahkan pada pembacaan lembar spesifikasi teknis dan bukan pada prosedur pengoperasian. Jumlah responden yang terbatas membuat hasil ini berlaku bagi lima peserta yang mengisi instrumen, bukan bagi seluruh guru produktif sekolah mitra.
OPTIMALISASI PENGETAHUAN REMAJA TENTANG BAHAYA PERILAKU SEKSUAL BERISIKO TERHADAP KEJADIAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN Maria Awaldina Dua Barbara; Devi Indriyani; Dwi Novelia Nurul Iman; Syakirina Agnia; Tania Mulyani; Yuni Sudradjat
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14914

Abstract

ABSTRACT Unintended pregnancy among adolescents is associated with the need for access to accurate reproductive health information and the ability to recognize risks in social relationships. This community service activity focused on strengthening adolescents’ understanding of risky sexual behavior, factors associated with unintended pregnancy, its potential consequences, and preventive measures through reproductive health education. The activity was conducted on July 5, 2026, in Karangmekar Village, Central Cimahi District, Cimahi City, targeting 20 adolescents aged 12–19 years. The program was delivered through face-to-face educational sessions using leaflets, combined with interactive discussions and question-and-answer sessions. Evaluation focused on participants’ engagement throughout the activity, including attention to the material, willingness to ask questions, ability to respond to questions, and participation in discussions, as well as their ability to restate the main topics at the end of the session. A total of 17 participants attended, representing 85% of the targeted participants. Engagement levels consisted of 76.5% active participants, 17.6% moderately active participants, and 5.9% less active participants. Most participants were able to explain the concepts of risky sexual behavior, the consequences of unintended pregnancy, and preventive measures. The activity suggests that reproductive health education supported by leaflets and two-way interaction can provide an educational space for adolescents to discuss reproductive health more openly. Sustained implementation accompanied by pre-test and post-test assessments is recommended to measure changes in knowledge more objectively. ABSTRAK Kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja berkaitan dengan kebutuhan akan akses informasi kesehatan reproduksi yang tepat serta kemampuan mengenali risiko dalam pergaulan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada penguatan pemahaman remaja mengenai perilaku seksual berisiko, faktor yang berkaitan dengan KTD, konsekuensi yang mungkin ditimbulkan, dan langkah pencegahannya melalui penyuluhan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan pada 05 Juli 2026 di Kelurahan Karangmekar, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, dengan sasaran 20 remaja berusia 12–19 tahun. Pelaksanaan dilakukan secara tatap muka melalui penyampaian materi menggunakan media leaflet, yang dipadukan dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Evaluasi diarahkan pada keterlibatan peserta selama kegiatan melalui observasi, meliputi perhatian terhadap materi, keberanian bertanya, kemampuan merespons pertanyaan, dan partisipasi dalam diskusi, serta kemampuan menjelaskan kembali pokok materi pada akhir kegiatan. Sebanyak 17 peserta hadir atau mencapai 85% dari target. Tingkat keterlibatan terdiri atas 76,5% peserta kategori aktif, 17,6% cukup aktif, dan 5,9% kurang aktif. Sebagian besar peserta mampu menguraikan kembali materi tentang perilaku seksual berisiko, dampak KTD, dan upaya pencegahannya. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa penyuluhan yang dipadukan dengan media leaflet dan interaksi dua arah dapat menjadi ruang edukatif bagi remaja untuk membahas kesehatan reproduksi secara lebih terbuka. Penguatan kegiatan secara berkelanjutan dengan evaluasi pre-test dan post-test diperlukan agar perubahan pengetahuan dapat diukur secara lebih objektif.
SOSIALISASI ETIKA GENERATIVE ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PROSES DAN EVALUASI PEMBELAJARAN BAGI GURU SMK PASUNDAN CIJULANG Constantinus Rudy Prihantoro; Rani Anggrainy; Hari Din Nugraha; Agung Gumelar; Widi Suryani
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.14932

Abstract

Generative Artificial Intelligence (GenAI) is changing how teachers design lessons and evaluate learning, yet many Vocational High School (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) teachers use these tools without adequate ethical guidance. This independent Community Service (Pengabdian kepada Masyarakat/PKM) activity aimed to strengthen the understanding of SMK Pasundan Cijulang teachers, in Pangandaran Regency, of ethical GenAI use in the learning process and its evaluation, referring to the Joint Decree of Seven Ministers Number 400.1-492 of 2026 on Guidelines for the Use and Learning of Digital Technology and Artificial Intelligence, and the AI Competency Framework for Teachers issued by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). The activity was conducted as a face-to-face outreach session on 1 August 2026, comprising material presentation, prompt-writing demonstration, and discussion. Effectiveness was evaluated using the reaction and learning levels of the Kirkpatrick model through a four-point Likert questionnaire and a multiple-choice comprehension test at cognitive levels C4 to C6, completed by eight participating teachers. Questionnaire results showed mean scores of 3.50 for Participant Reaction, 3.53 for Learning Outcome and Perceived Benefit, and 3.56 for Intention to Apply, on a 1–4 scale, with a Cronbach's Alpha of 0.949. The comprehension test yielded a mean score of 78.75 out of 100, and six of eight participants met the 70 minimum mastery criterion, but scores ranged widely from 20 to 100. The ethics dimension recorded the lowest proportion of correct answers (75.0 percent), below the prompt-writing dimension (78.1 percent) and the assessment dimension (87.5 percent). Satisfaction did not track mastery: the participant with the highest questionnaire score obtained the lowest test score. The remaining difficulty lay in applying ethical principles to concrete classroom cases rather than in recognising the rules, so follow-up support should target case-based practice and the participants who did not meet the criterion. ABSTRAK Kehadiran Generative Artificial Intelligence (GenAI) mengubah cara guru merancang pembelajaran dan menyusun evaluasi. Pemanfaatan perlu mengacu kepada etika yang berlaku. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mandiri ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru SMK Pasundan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, tentang etika penggunaan GenAI dalam proses dan evaluasi pembelajaran. Materi mengacu pada Keputusan Bersama Tujuh Menteri Nomor 400.1-492 Tahun 2026 dan  United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi tatap muka pada 1 Agustus 2026, mencakup pemaparan materi, demonstrasi teknik penyusunan prompt, dan sesi tanya jawab. Efektivitas kegiatan dievaluasi menggunakan model Kirkpatrick level reaksi dan hasil belajar melalui angket skala Likert empat poin serta tes pemahaman pilihan ganda berjenjang kognitif C4–C6, yang diisi oleh delapan orang guru peserta. Hasil angket menunjukkan skor rata-rata 3,50 pada Dimensi Reaksi Peserta, 3,53 pada Dimensi Hasil Belajar dan Kebermanfaatan, dan 3,56 pada Dimensi Niat Penerapan dari skala 1–4, dengan koefisien Cronbach's Alpha 0,949. Tes pemahaman memperoleh rata-rata skor 78,75 dari 100 dan enam dari delapan peserta mencapai kriteria ketuntasan minimal 70, tetapi sebaran skornya sangat lebar, yaitu 20 hingga 100. Dimensi etika penggunaan AI justru memperoleh persentase jawaban benar terendah (75,0%) dibandingkan dimensi teknik penyusunan prompt (78,1%) dan pemanfaatan AI dalam evaluasi pembelajaran (87,5%). Pola ini menunjukkan bahwa kepuasan peserta tidak sejalan dengan penguasaan materi, karena peserta dengan skor angket tertinggi justru memperoleh skor tes terendah. Kesulitan yang tersisa terletak pada penerapan prinsip etika ke situasi kelas yang konkret, bukan pada pengenalan aturannya, sehingga pendampingan lanjutan perlu diarahkan pada latihan kasus dan pada peserta yang belum tuntas.
PENDAMPINGAN PENGUATAN ENTREPRENEURSHIP MELALUI KOPERASI SANTRI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ QUR’AN (PPTQ) RAUDHATUL JANNAH MAKASSAR Juhri Juhri; Nurfadila Nurfadila; Jamaluddin Jamaluddin; Muh. Faisal; M. Furqan Hidayah
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.15076

Abstract

ABSTRACT This Community Service Program (PKM) was implemented at the Santri Cooperative of Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (PPTQ) Raudhatul Jannah Makassar to address several challenges, including weak cooperative governance, manual administration and bookkeeping, limited use of digital technology, and inadequate managerial and marketing skills among cooperative administrators. The program aimed to strengthen human resource capacity and promote digital transformation through the implementation of the SantriApp application for cooperative management and pesantren administration. The program employed a Community-Based Empowerment (CBE) approach combined with Participatory Action Research (PAR) through five stages: needs identification, program planning, training and mentoring, technology implementation, and monitoring and evaluation. Activities included training in cooperative management, bookkeeping, digital marketing, entrepreneurship, and mentoring in the use of SantriApp for transaction management, financial administration, inventory management, digital student identification, and pesantren information systems. The results demonstrated improved managerial, administrative, digital literacy, and entrepreneurial capacities among cooperative administrators and students. The implementation of SantriApp also supported more efficient services, greater management transparency, improved administrative organization, and better transaction recording. Therefore, the program contributed to establishing a more professional, accountable, technology-adaptive, and sustainable pesantren cooperative management system. ABSTRAK Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan pada Koperasi Santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (PPTQ) Raudhatul Jannah Makassar sebagai upaya mengatasi permasalahan tata kelola koperasi, administrasi dan pembukuan manual, rendahnya literasi digital, serta keterbatasan kemampuan pengurus dalam pengelolaan usaha dan pemasaran. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan mendorong transformasi digital melalui penerapan aplikasi SantriApp dalam pengelolaan koperasi dan administrasi pesantren. Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Community-Based Empowerment (CBE) yang dipadukan dengan Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelatihan dan pendampingan, implementasi teknologi, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan meliputi pelatihan manajemen koperasi, pembukuan, pemasaran digital, kewirausahaan, dan pendampingan penggunaan SantriApp untuk pengelolaan transaksi, administrasi keuangan, inventaris, identitas santri digital, serta sistem informasi pesantren. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas pengurus koperasi dan santri dalam aspek manajerial, administrasi, literasi digital, dan kewirausahaan. Penerapan SantriApp juga mendukung peningkatan efisiensi pelayanan, transparansi pengelolaan, ketertiban administrasi, dan kualitas pencatatan transaksi. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam membangun tata kelola koperasi pesantren yang lebih profesional, akuntabel, adaptif terhadap teknologi, dan berkelanjutan. ABSTRACT This Community Service Program (PKM) was implemented at the Santri Cooperative of Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an (PPTQ) Raudhatul Jannah Makassar to address several challenges, including weak cooperative governance, manual administration and bookkeeping, limited use of digital technology, and inadequate managerial and marketing skills among cooperative administrators. The program aimed to strengthen human resource capacity and promote digital transformation through the implementation of the SantriApp application for cooperative management and pesantren administration. The program employed a Community-Based Empowerment (CBE) approach combined with Participatory Action Research (PAR) through five stages: needs identification, program planning, training and mentoring, technology implementation, and monitoring and evaluation. Activities included training in cooperative management, bookkeeping, digital marketing, entrepreneurship, and mentoring in the use of SantriApp for transaction management, financial administration, inventory management, digital student identification, and pesantren information systems. The results demonstrated improved managerial, administrative, digital literacy, and entrepreneurial capacities among cooperative administrators and students. The implementation of SantriApp also supported more efficient services, greater management transparency, improved administrative organization, and better transaction recording. Therefore, the program contributed to establishing a more professional, accountable, technology-adaptive, and sustainable pesantren cooperative management system.