cover
Contact Name
Rusdi
Contact Email
rusdi@itkeswhs.ac.id
Phone
+6281243772756
Journal Mail Official
jurnalkeperawatanwiyata@itkeswhs.ac.id
Editorial Address
Jalan Kadrie Oening No.77 Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu, Kota Samarinda
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Wiyata
ISSN : 27744558     EISSN : 27749789     DOI : 10.35728
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Wiyata diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan Institut Teknologi Kesehatan dan Sains (ITKES) Wiyata Husada Samarinda sebagai terbitan berkala ilmiah yang menyajikan informasi dan analisis persoalan dibidang kesehatan. Redaksi menerima karya ilmiah/hasil penelitian atau artikel, termasuk ide-ide pengembanan dibidang kesehatan. karena itu redaksi mengundang para akademisi, praktisi, para pakar dibidang keperawatan, Dosen untuk menuangkan gagasan, ide-ide dan hasil penelitian yang dilakukan secara tanggung jawab. Redaksi berhak untuk menyingkat dan memperbaiki karangan yang dimasukan sepanjang tidak merubah tujuan isinya. Redaksi juga berhak untuk tidak menerbitkan karangan apabila dipandang tidak sesuai dengan scope jurnal keperawatan wiyata
Articles 69 Documents
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN EFIKASI DIRI PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ZAINOEL ABIDIN KOTA BANDA ACEH Akmalia, Anissa; Cyntia Kasih, Laras; Safuni, Nani
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1312

Abstract

Latar Belakang: Pasien PPOK umumnya sering mengalami masalah kesulitan bernapas, hal ini tentunya berdampak pada kenyamanan serta psikologis pasien yang menyebabkan menurunnya efikasi diri pada pasien PPOK. Dukungan keluarga sangat berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan keyakinan diri seseorang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan efikasi diri pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) di Poliklinik Paru Rumah Sakit di kota Banda Aceh. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 283 pasien yang berkunjung ke poliklinik paru. Pengukuran sampel dilakukan dengan menggunakan aplikasi G*Power sehingga jumlah sampel yang didapatkan yaitu sebanyak 143 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner Family APGAR score untuk dukungan keluarga dan COPD Self Efficacy Scale (CSES) untuk efikasi diri. Hasil: Penelitian menunjukkan ada hubungan dukungan keluarga dengan efikasi diri pada pasien PPOK di Poliklinik Paru (p value = 0,000). Kesimpulan: Pasien memiliki dukungan keluarga yang tinggi maka efikasi diri yang dihasilkan juga akan tinggi. Rekomendasi: Pentingnya untuk tetap menjaga dan meningkatkan dukungan keluarga yang baik agar pasien PPOK memiliki motivasi dan keyakinan diri yang tinggi dalam pengendalian penyakitnya.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN AKSES POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN LANSIA KEPOSYANDU UNIT PELAYANAN TERPADU PUSKESMAS KUJAU KECAMATAN BETAYAU Sulistyarini, Wahyu Dewi; Kholifah, Siti; Sukmawati, Sukmawati
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1404

Abstract

Latar Belakang : Posyandu pelayanan terpadu untuk lanjut usia disuatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi dukungan keluarga dan akses ke posyandu dengan kunjungan lansia di posyandu. Metode :Penelitian cross sectional dengan jumlah sampel melibatkan 87 responden dengan teknik simple random sampling. Variabel independen adalah dukungan keluarga dan akses ke posyandu. Variabel dependen adalah kunjungan lansia. Pengumpulan data dengan instrumen demografi, kuesioner kuesioner dukungan keluarga selanjutnya dianalisis dengan spearman rho whitney dengan ? =?0,05. Hasil : Hasil penelitian menemukan bahwa responden hampir setengahnya dukungan keluarga dalam kategori sedang kunjungan lansia kurang aktif atau 24.1% dan aktif 34.5% (p value= 0.025:r=0.069) dan hampir setengahnya akses ke posyandu dalam kategori mudah kunjungan lansia kurang aktif atau 30% dan aktif 34.4% (p value= 0.036; r=0.019). Kesimpulan:. Dukungan keluarga berhubungan dengan kunjungan lansia ke posyandu dengan kekuatan hubungan lemah namun positif yang artinya semakin tinggi dukungan keluraga maka akan semakin aktif kunjungan lansia ke posyandu. Akses ke posyandu berhubungan dengan kunjungan lansia ke posyandu dengan kekuatan hubungan lemah namun positif yang artinya semakin mudah akses ke posyandu maka akan semakin aktif kunjungan lansia ke posyandu. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kunjungan lansia ke posyandu sehingga meningkatkan derajat kesehatan lansia.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN LANSIA MINUM OBAT HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI BOH Mukaromah, Siti; Lestari, Nanik; Pagiu, Siska
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1407

Abstract

Latar Belakang: Urgensi penelitian dilakukan mengingat tingginya prevalensi hipertensi dan penyakit kardiovaskuler di Indonesia. Dukungan keluarga seperti yang dijelaskan dalam berbagai penelitian terkait, menjadi faktor krusial dalam menjaga kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan lansia  minum obat hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sungai Boh Kabupaten Malinau. Metode: Rancangan penelitian deskripsi analitik dengan pendekatan cross sectional. Besaran sampel penelitian menggunakan metode total sampling dimana semua populasi diteliti sebagai sampel, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang. Instrumen berupa kuesioner dukungan keluarga berisi 20 item pernyataan dan kuesioner kuesioner kepatuhan pengobatan MMAS berisi 8 item pertanyaan. Analisa data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Diperoleh hasil bahwa karakteristik respondensebagian besar berumur  60-69 tahun sebanyak 42 orang(70%), berjenis kelamin perempuan 43 orang(71,7%),tidak sekolah sebanyak 42 orang(70%), sebagai ibu rumah tangga 40 orang(66,7%) dan lama menderita hipertensi  seluruhnya lebih dari 1 tahun sebanyak 60 orang(100%).Responden yang memiliki dukungan keluarga baik 45%, dan tidak baik 55%, Kemudian yang memiliki kepatuhan yang patuh 46,7% dan yang tidak patuh 53,3%  sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga dalam kategori kurang baik dan tidak patuh sebanyak 27 orang (45%). Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p=0,000 maka disimpulkan ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan lansia. Kesimpulan: Ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sungai Boh Kabupaten Malinau. Saran: Diharapkan adanya peningkatan pemberian dukungan keluarga, informasi langsung dari petugas kesehatan, dan penelitian lebih lanjut dengan faktor-faktor lain serta sampel yang lebih besar terkait kepatuhan lansia dalam minum obat hipertensi secara teratur dan rutin kontrol ke posyandu.   Kata kunci: dukungan keluarga, kepatuhan minum obat, lansia
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SIBLING RIVALRY USIA 7-12 TAHUN DI SDN 3 SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU Hardiansyah Safitri, Kiki; Veriyallia, Vera; Aldina, Aldina
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1427

Abstract

Latar Belakang: Menurut data Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS) pemanfaatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus meningkat setiap tahunnya. Kunjungan rawat inap di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada tahun 2018 tercatat sejumlah 147.4 juta, meningkat menjadi 257.4 juta pada tahun 2023, kunjungan rawat inap di rumah sakit pada tahun 2018 tercatat sejumlah 9.8 juta meningkat menjadi 27.8 juta pada tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa ada kenaikan jumlah pasien disetiap tahunnya. Sehingga dengan meningkatnya jumlah pasien ini akan meningkatkan beban kerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Bila banyaknya tugas yang tidak sebanding dengan kemampuan fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia maka akan menjadi sumber stress. Stres dapat memberikan pengaruh negatif maupun positif bagi kerja perawat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat terhadap tingkat stress di ruang rawat inap RSUD dr. Abdul Rivai Kabupaten Berau. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode analitik korelasional untuk melihat hubungan beban kerja perawat terhadap tingkat stress. Hasil: Hasil analisa uji statistic menggunakan Kendall Tau dengan nilai kemaknaan α = 0.05 sehingga didapatkan sig = 0.006. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sig 0.006 < 0.05, artinya hipotesis (Ho) ditolak, dan hipotesis (Ha) diterima. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa "Terdapat korelasi atau Hubungan" yang signifikan antara beban kerja dengan tingkat stress perawat di bangsal rawat inap RSUD dr. Abdul Rivai Kabupaten Berau.
GAMBARAN PENERAPAN KOMUNIKASI SBAR (SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT, RECOMMENDATION) SAAT HANDOVER PERAWAT Rusdi, Rusdi; Hidaya Tappi, Nurul; Dewi Sulistyarini, Wahyu; Sirait, Yusnita; Wardatun Hasanah, Siti
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1451

Abstract

Latar Belakang: Rumah sakit ialah elemen penting dalam sistem pelayanan kesehatan dengan penerapan komunikasi SBAR pada saat handoversangat diperlukan. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran metode komunikasi SBAR pada saaat handover. Metode: penelitian ini  deskriptif dengan populasi 56 orang tersebar 3 unit pelayanan. Sampel sejumlah 56 responden memakai teknik total sampling. Instrumen yang dipakai guna komunikasi SBAR ialah SOP milik badan PPSDMK kemenkes RI.  Data kuisioner SBAR dipilih ketika perawat menjalankan proses handover antar shift, dan diteruskan pengisian angket dan data dianalisis secara univariat. Hasil: Ruang Irna didapatkan nilai situation baik sejumlah 12 jiwa (52.2%), background baik sejumlah 18 jiwa (78.3%), assessment baik sejumlah 15 jiwa (65%), recommendation baik sejumlah 18 jjiwa (78.3%), ruang IGD didapatkan nilai situation baik sejumlah 12 jiwa (50%), background baik sejumlah 10 jiwa (41.7%), assessment baik sejumlah 6 jiwa (25%),recommendation baik sejumlah 13 jiwa (54.2%), ruang Perinatologi didapatkan nilai situation baik sejumlah 7 jiwa (77.8%), background baik sejumlah 5 jiwa (55.6%), assessment baik sejumlah 5 jiwa (55.6%), recommendation baik sejumlah 8 jiwa (88.9%). Kesimpulan: Gambaran penerapan komunikasi SBAR saat handover belum maksimal.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENANGANAN DIARE DENGAN DERAJAT DEHIDRASI BALITA DI RSUD ABDUL RIVAI BERAU Ain , Anisa; Kristina Layun, Marina; Abiyoga, Aries; Regia, Regia
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1459

Abstract

Latar Belakang :Balita yang mengalami diare dapat menyebabkan dehidrasi dan kondisi yang mengancam nyawa.pengetahuan ibu menjadi dasar utama tindakan cepat guna memberikan pertolongan pertama ketika balita mengalami diare dan mencegah terjadinya dehidrasi. Tujuan : Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang penanganan diare dengan derajat dehidrasi balita Metode : ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional,  melibatkan 44 ibu yang balitanya mengalami diare.Sample dikumpulkan dengan tehnik accidental sampling di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Abdul Rivai Berau . Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil : Karakteristik responden usia ibu antara 20-35 tahun(56,8%), pendidikan ibu tamat SMA (59,1%), pekerjaan ibu sebagai IRT (54,5%), usia balita antara 25-36 bulan (34,1%) dan jenis kelamin balita perempuan (59,1%). Pengetahuan ibu memiliki proporsi yang sama antara kategori, cukup dan kurang (34,1%) dan derajat dehidrasi balita berat (40,9%).Analisa data menunjukkan nilai p value = 0,001 < α : 0,05. Kesimpulan :Terdapat hubungan Pengetahuan ibu tentang penanganan diare dengan derajat dehidrasi balita. Sehingga  diharapkan petugas kesehatan lebih aktif memberikan sosialisai tentang penanganan dini diare guna mencegah terjadinya dehidrasi dan komplikasi lanjutan akibat diare.
GAMBARAN KEMAMPUAN AMBULASI DINI POST OPERASI PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD dr. ABDUL RIVAI BERAU Damanik, Chrisyen; Sinaga, Sumiati; Rosalina, Sara
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1460

Abstract

Latar Belakang: Penyebab masalah keperawatan post tindakan operasi fraktur ekstremitas bawah adalah gangguan ambulasi atau aktivitas berjalan yang kemudian disertai dengan oedema, keterbatasan luas gerak sendi, dan penurunan kekuatan otot. Kemampuan ambulasi pada pasien post operasi akibat fraktur ekstremitas bawah menjadi dasar dalam menentukan intervensi keperawatan lebih lanjut. Tindakan paling umum dilakukan oleh perawat di RSUD dr. Abdul Rivai pada pasion post operasi fraktur ekstremitas bawah diantaranya adalah latihan miring kanan dan miring kiri. Tujuan: Untuk menganalisa gambaran kemampuan ambulasi post operasi pada pasien fraktur ekstremitas bawah di ruang perawatan bedah RSUD dr. Abdul Rivai Berau. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan mendeskripsikan gambaran kemampuan pasien ambulasi post oporasi dengan fraktur ekstremitas bawah beserta variabel lain yang mendukungnya, menggunakan 26 responden. Hasil: Kategori ambulasi 6-8 jam terbanyak 42.3% (11 responden) yaitu mampu menggerakkan kaki dan mengkontraksikan otot kaki, kategori ambulasi 12-24 jam terbanyak 57.7% (15 responden) yaitu mampu duduk dengan posisi kaki tergantung dan kategori ambulasi >24 jam terbanyak 65.4% (17 reponden) yaitu dapat melakukan mobilisasi sederhana dengan bantuan. Kesimpulan: Ambulasi >24 jam terbanyak pada responden yang dapat mobilisasi sederhana dengan bantuan 65.4% (17 responden) dan dengan mobilisasi sederhana secara mandiri 34.6% (9 responden).
HUBUNGAN SIKAP, DUKUNGAN SUAMI DAN DUKUNGAN TENAGA KESEHATAN DENGAN MINAT WUS MELAKUKAN PEMERIKSAAN IVA TES DI DESA MALINAU HILIR KABUPATEN MALINAU Dwiyana Arief, Ana; Ayu Wardani, Desy; Sari, Christina
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1472

Abstract

Latar Belakang: Gambaran praktik pengasuhan ibu terhadap balita stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Malinau Kota, Kabupaten Malinau, mencerminkan perlunya peningkatan pemahaman ibu terkait gizi dan perawatan anak untuk mengatasi masalah stunting. Metode: Rancangan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 yang bertempat di wilayah kerja Puskesmas Malinau Kota Kabupaten Malinau. Sampel nonprobability sampling dengan teknik total sampling sebanyak 117 orang. Instrumen kuesioner data demografi, kuesioner praktik kebersihan diri, kuesioner praktik pengasuhan psikososial, kuesioner praktik perawatan kesehatan, kuesioner pola asuh. Data dianalisis dengan uji deskriptif. Hasil: Praktik pemberian makan ibu kepada anak mayoritas dalam keadaan kurang baik (57,26%), praktik kebersihan anak mayoritas kurang baik (79,49%), praktik pengasuhan sosial mayoritas kurang baik (62,39%), dan praktik perawatan Kesehatan mayoritas kurang baik (57,62%). Kesimpulan: Gambaran pola asuh ibu pada balita stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Malinau Kota Kabupaten Malinau dari setiap kategori adalah: praktik pemberian makan ibu kepada anak mayoritas dalam keadaan kurang baik, praktik kebersihan anak mayoritas kurang baik, praktik pengasuhan sosial mayoritas baik, dan praktik perawatan Kesehatan mayoritas baik.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS MARIDAN KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA Suwanto, Suwanto; Rusdi, Rusdi; Kori Pasola, Sarnica
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1614

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang sampai saat ini menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar saat penderita TB batuk atau bersin dan orang lain menghirup droplet yang dikeluarkan yang mengandung bakteri TB. Dukungan keluarga sangat diperlukan terutama pada penderita TB yang mengharuskan mengkonsumsi obat dengan jangka waktu yang lama. Untuk mencapai kesembuhan diperlukan keteraturan atau kepatuhan berobat bagi setiap penderita. Tujuan : untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC di Puskesmas Maridan. Metode : penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain cross sectional. Analisis menggunakan uji Chi-square pada 52 pasien TBC di Puskesmas Maridan sebagai responden yang dilakukan pada bulan Mei 2024. Hasil : penelitian didapatkan pasien yang tidak patuh dengan dukungan keluarga kurang yaitu 6 (9,8%) dan pasien yang patuh 7 (11,2%), sedangkan pasien yang tidak patuh dengan dukungan keluarga baik yaitu 11 (22,9%) dan pasien yang patuh 28 (56,1%). Didapatkan (p=0,232) tidak adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC di Puskesmas Maridan sama halnya dengan dukungan penghargaan (p=0,779), dukungan informasi (p=0,363) dan dukungan instrumental (p=0,494), tetapi berbeda dengan dukungan emosional (p=0,008) terdapat hubungan dengan kepatuhan minum obat. Kesimpulan : Kepatuhan minum obat tidak di pengaruhi oleh dukungan keluarga tetapi pada dukungan emosional mempengaruhi kepatuhan minum obat sedangkan pada dukungan penghargaan, dukungan informasi dan dukungan instrumental tidak mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien TBC.