cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 200 Documents
REKONSTRUKSI MATERIAL PEMBANGUNAN BENTENG-BENTENG NUSANTARA: STUDI KASUS BENTENG KERATON BUTON DAN INDRAPATRA Ari Swastikawati; Leliek Agung Haldoko; Pramudianto Dwi Hanggoro; Arif Gunawan
Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v16i2.297

Abstract

Benteng Keraton Buton dan benteng Indrapatra termasuk benteng tradisional yang dapat mewakili beberapa benteng nusantara di Indonesia, dimana kontruksinya menggunakan pengetahuan dan teknologi tradisional berdasarkan tradisi masyarakat setempat kala itu. Terkait jenis material batuan dan komposisi bahan perekatpun menjadi menarik untuk dikaji agar dapat dibuktikan secara ilmiah. Tujuan kajian ini untuk mengetahui jenis batuan, komposisi mineral spesi/mortar, metode pembuatan spesi/mortar tradisional dan sifat fisik-mekanik spesi/mortar tiruan Benteng Indrapatra dan Keraton Buton. Metode penelitian dalam kajian ini adalah survai dan eksprimen didasarkan pada hasil analisis laboratorium komposisi mortar asli dan baru dari Benteng Keraton Buton dan Benteng Indrapata. Berdasarkan hasil survai dan analisis laboratorium diketahui bahwa Jenis batuan penyusun Benteng Keraton Buton berupa batu gamping non klastik, klastik dan kristalin, sedangkan Benteng Indrapatra berupa batu gamping klastik, batu gamping non klastik, batu andesit dan koral/terumbu. Perbandingan binder dan agregat mortar asli Benteng bervariasi, mulai dari 1:1, 1:2, 1:3, 1: 4 dan 2:3. Adapun Jenis mortar asli baik dari Benteng merupakan mortar kapur yang sangat didominasi oleh kehadiran kalsium karbonat (CaCO3) dengan persentasi kehadiran di atas 84%. Proses yang menentukan keberhasilan dalam proses pembuatan mortar kapur adalah proses pembakaran batu gamping dan proses perendaman kapur tohor. Berdasarkan hasil tersebut sebaiknya mortar kapur diterapkan untuk perbaikan dalam rangka menjaga dan memelihara bahan cagar budaya, namun untuk kegiatan yang bersifat perkuatan struktur diperlukan bahan aditif untuk mempercepat proses pengeringan dan meningkatkan kekuatan mortar.
EVALUASI DAMPAK PEMANFATAN CANDI BOROBUDUR SEBELUM DAN PASCA PANDEMI:: PANDEMI COVID-19 MENJADI LANGKAH AWAL KEBIJAKAN MENUJU KUNJUNGAN BERKUALITAS Isni Wahyuningsih
Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v16i2.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ataupun dampak pemanfaatan Candi Borobudur sebelum, selama ataupun sesudah pandemi Covid-19 merebak. Candi Borobudur ditutup sementara untuk kunjungan umum dan langkah - langkah diambil untuk pengendalian pemanfaatan. Pemanfaatan Cagar Budaya adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya baik seara fisik maupun marwah atau nilai. Pemanfaatan Candi Borobudur sebagai warisan dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, bersifat dinamis selaras dengan perkembangan zaman dan teknologi. Hal tersebut berpotensi memiliki dampak positif maupun negatif, baik langsung maupun tidak langsung terhadap Candi Borobudur. Pemanfatatan Candi Borobudur sebagai objek dan tujuan wisata yang bersifat mass tourism berpotensi membawa dampak negatif pada fisik Candi Borobudur antara lain keausan tangga dan lantai karena gesekan alas kaki pengunjung serta vandalisme. Dampak negatif pemanfaatan lainnya seperti dari event besar yang dapat terukur seperti getaran suara ataupun gesekan tekanan kaki pengunjung. Namun ada juga dampak yang tidak bisa terukur, tetapi menggunakan standar etika atau kepantasan Candi Borobudur sebagai tempat yang sakral. Pada saat pandemi Covid-19 pemanfaatan di Candi Borobudur ditutup sementara untuk memutus rantai pandemi. Hal tersebut justru membawa dampak positif bagi Candi Borobudur dan menjadi momentum pemerintah untuk mengambil kebijakan terhadap kelestarian Candi Borobudur dengan penerapan kebijakan agar kunjungan berkualitas antara lain dengan pembatasan jumlah kuota kunjungan, pengunjung wajib didampingi pemandu yang kompeten, penggunaan alas kaki (Upanat) serta pendistribusian pengunjung ke kawasan.
PROTECTING THE ARCHAEOLOGICAL REMAINS AT THE BORDER AREA: CASE STUDY OF CERAMIC REMAINS AT NATUNA REGENCY Murdihastomo, Ashar; Seno Bismoko, Dimas
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i1.298

Abstract

Natuna is one of the areas in Indonesia that has archaeological remains with the background of past international trade activities through the sea, one of which is ceramics. The number of ceramics remains found on the island can provide information on the early history of civilization on Natuna Island. Ceramics are sought by the residents of Natuna, especially those affected by the northern monsoon, to be traded illegally. Therefore, the question posed in this article is how the archaeological remains protection system is implemented in Natuna Regency. The goal is to minimize illegal activities related to archaeological remains in the Natuna Regency. This article uses primary and secondary data from field research in 2019-2021 and literature studies related to archaeological remains in Natuna. The data was collected through direct observation, excavation, interviews, and a literature review. Then, we did the data reduction. From that, we made an interpretation that is used to solve problems about the protection of archaeological remains. The conclusion obtained is that to minimize illegal activities related to archaeological remains is to collaborate with the activities of three parties, namely the government, stakeholders, and the general public.
KARAKTERISTIK FISIK DAN MINERALOGI TUFF PENYUSUN CANDI PLAOSAN Haldoko, Leliek Agung
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i2.306

Abstract

Candi Plaosan yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dibangun menggunakan material andesit dan tuff. Tuff pada Candi Plaosan di antaranya dipakai pada bagian pagar, stupa perwara dan talud parit. Tuff memiliki karakteristik yang lebih mudah lapuk jika dibandingkan dengan andesit. Akibatnya kebutuhan batu pengganti untuk jenis tuff menjadi lebih besar. Permasalahan terjadi ketika batu pengganti yang digunakan memiliki kualitas yang tidak sesuai dengan batu aslinya. Karena itu perlu penelitian untuk menentukan karakteristik tuff penyusun Candi Plaosan. Penelitian dilakukan untuk memperoleh karakteristik fisik maupun mineralogi tuff penyusun Candi Plaosan. Karakteristik fisik yang diteliti meliputi parameter densitas, porositas, kekerasan dan kuat tekan. Selain itu dilakukan analisis mineralogi untuk mengetahui jenis tuff dan komposisi mineral penyusunnya. Hasil penelitian menunjukkan batu kulit Candi Plaosan merupakan jenis lithic tuff, sedangkan untuk batu isian terdiri dari dua jenis yaitu lithic tuff dan vitric tuff. Nilai densitas tuff batu kulit berkisar antara 1,12-1,23 g/cm3 sedangkan untuk batu isian antara 0,96-1,20 g/cm3. Porositas batu kulit berkisar antara 45,56-47,00% sedangkan untuk batu isian antara 46,54-50,59 %. Kekerasan tuff batu kulit maupun batu isian memiliki nilai yang sama yaitu 3 skala mohs. Tuff batu kulit memiliki kuat tekan 46,15-67,71 kg/cm2 sedangkan pada batu isian berkisar antara 28,81-51,86 kg/cm2. Dengan karakteristik fisik dan mineralogi yang telah diperoleh, maka batu pengganti yang akan digunakan diharapkan dapat memenuhi seluruh karakteristik batu aslinya.
PENDOKUMENTASIAN NILAI RELIEF CANDI BOROBUDUR DALAM SENI TARI MELALUI FILM DOKUMENTER Kasatriyanto, Bambang; Sularsih, Sri
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i1.307

Abstract

Pendokumentasian Cagar Budaya terdapat berbagai metode yang dapat dilakukan antara lain sketsa, hand survey, fotografi, audio visual, fotogametri, 3D laser scanner, SIG (Sistem Informasi Geografis) dan GPS (Global Positioning System). Salah satu metode dokumentasi yang bisa dilihat dan didengar adalah pendokumentasian audio visual. Salah satu bentuk pendokumentasian audio visual yang mampu memberikan penjelasan lebih dalam dan mudah dipahami oleh masyarakat adalah film dokumenter. Film dokumenter cagar budaya amatlah penting dalam upaya pelestarian Cagar Budaya. Informasi dan dokumentasi diperlukan sebagai sarana pengetahuan dan pemahaman tentang suatu arti dan nilai-nilai dari keberadaan suatu objek Cagar Budaya. Candi Borobudur merupakan salah satu Cagar Budaya yang memiliki nilai pesan moral yang tergambarkan dalam relief-relief candi. Jumlah keseluruhan relief terdapat 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan yang mengitari struktur candi, dan 1.212 panil relief dekoratif. Relief cerita di Candi Borobudur terbagi dalam beberapa bagian yaitu Relief Karmawibhangga, Relief Lalitavistara, Relief Jataka-Avadana, dan Relief Gandavyuha. Rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana perancangan film dokumenter dalam hal ini Relief Candi Borobudur yang diaktualiasikan dalam seni tari dan nilai-nilai apa saja yang mampu disajikan dalam film documenter. Dari hasil penelaahan menunjukkan bahwa perancangan film dokumenter Menarikan Borobudur telah berhasil dilaksanakan menggunakan model cyclic strategy dengan menggunakan tahapan produksi film yaitu pra produksi, produksi, pasca produksi dan pengujian. Film dokumenter Menarikan Borobudur memenuhi kriteria sebagai salah satu metode Pendokumentasian Cagar Budaya dimana mendokumentasikan relief Jataka-Avadana Candi Borobudur dan mampu menunjukkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu nilai edukatif, inspiratif, rekreatif, dan regenerasi.
Kajian Lokasi dalam Konteks Arkeologi Industri: : Studi Kasus PG Karangsuwung, Cirebon 1920-1943 Dharussalam, Robby
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i1.311

Abstract

The sugar industry was very profitable during the Dutch East Indies colonial period due to favorable geographical conditions in Indonesia for sugar cane cultivation. However, not all areas were suitable for establishing sugar factories. PG Karangsuwung is a historical site that represents the prosperity of the sugar industry during that period and is being studied to determine an ideal location for a sugar factory. The study involved three stages: data collection through literature and field observations, data processing through macro and micro spatial analysis using GIS, and interpretation through contextual analysis of the environment around the factory. The results of the study indicate that PG Karangsuwung has a focus on labor and raw material sources and is located in an integrated arrangement for the sugar industry.
SIGNIFIKANSI JALUR SIRKULASI TERHADAP TRANSMISI NARASI CANDI BOROBUDUR Kurniawan, Jordi; Oktarina, Freta
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i2.313

Abstract

Candi Borobudur dicanangkan menjadi salah satu Destinasi Wisata Super Prioritas (DWSP) yang berbasis pendekatan storynomics tourism, yaitu pariwisata yang mengangkat narasi dan konten. Candi Borobudur mengandung narasinya tersendiri, akan tetapi perlahan narasi tersebut tidak tersampaikan kepada pengunjung akibat pengaturan sirkulasi yang tidak sesuai. Penelitian ini merupakan penelitian arsitektur dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jalur sirkulasi yang ada di Candi Borobudur kemudian memahami signifikansi jalur sirkulasi terhadap transmisi narasi Candi Borobudur. Penelitian menggunakan metode analisis deskriptif secara arsitektural pada jalur sirkulasi dan metode sejarah melalui studi pustaka. Sumber data berasal dari hasil observasi lapangan dan pustaka sejarah atau historiografi. Dari hasil identifikasi dan analisis yang dilakukan pada jalur sirkulasi, kemudian dikaitkan dengan perannya dalam mentransmisikan narasi Candi Borobudur. Temuan penelitian yang diperoleh berupa Candi Borobudur menyimpan narasi dalam bentuk perjalanan transformasi ruang arsitektural yang mewakili tataran atau tahapan menuju pencerahan dan panel-panel relief naratif yang tersedia mengajarkan tentang sifat-sifat kesempurnaan. Pengaturan jalur sirkulasi pengunjung yang sesuai konteks Borobudur berperan signifikan dalam keberhasilan transmisi narasi Candi Borobudur.
PERSPEKTIF ECO-SPIRITUAL DALAM PASAR JAWA KUNO Widhianningrum, Purweni; Eko Ganis Sukoharsono; Roekhudin; Yeney Widya Prihatiningtias
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i1.314

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasikan pentingnya nilai-nilai spiritual ketika bersentuhan dengan aspek ekologi, khususnya pada konteks pasar Jawa kuno. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif-kualitatif dengan menggunakan penelaahan berbagai sumber tertulis (kepustakaan) sebagai bahan kajian analisa data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pasar pada periode Jawa kuno selalu menekankan pentingnya proses keberlanjutan ekologis dengan aspek spiritual sebagai pendorongnya. Kebersamaan hidup dengan alam menjadikan masyarakat Jawa kuno memiliki pengetahuan luas tentang kesatuan relasi spiritual antara manusia (mikrokosmos) dengan alam (makrokosmos) atau dikenal dengan istilah eco-spiritual. Penghayatan terhadap kekuatan relasi eco-spiritual tersebut menjadi dasar masyarakat menjalankan aktivitas di pasar, sebagaimana terekam dalam relief karmavibhangga candi Borobudur. Relief karmavibhangga merepresentasikan ajaran Buddha tentang karma yang terkait dengan proses sebab akibat dari perbuatan manusia. Ajaran karma inilah yang kemudian menjadi nilai-nilai pendorong kesadaran eco-spiritual masyarakat Jawa kuno bersikap bijaksana mengelola beragam sumber daya alam secara wajar, tanpa menghancurkan ekosistem. Bagi mereka, alam memiliki unsur yang bernilai spiritual daripada sekedar realitas fisik yang bersifat material semata.
KONSERVASI ARTEFAK MATA UANG CINA BERBAHAN PERUNGGU DARI DESA KEPATIHAN, TULANGAN, SIDOARJO DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN KONSERVAN JERUK NIPIS DAN ALKALI GLISEROL Malino, Gabriela Virginia; Erwin Mansyur Ugu Saraka; Khadijah Thahir Muda; Ira Fatmawati
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i2.323

Abstract

Penelitian ini berfokus untuk mengetahui efektivitas penggunaan bahan konservan pada artefak koin berbahan perunggu yang merupakan hasil kegiatan peninjauan di Desa Kepatihan, Tulangan, Sidoarjo yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur Tahun 2008 dan saat ini tersimpan di Laboratorium Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. Dalam penelitian ini, bahan konservan yang digunakan adalah jeruk nipis dan alkali gliserol. Metode yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu penggosokan dan perendaman. Pembersihan menggunakan jeruk nipis untuk menghilangkan korosi dilakukan melalui penggosokan dan perendaman, sedangkan pembersihan menggunakan alkali gliserol dilakukan melalui perendaman yang dilakukan dua kali selama 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jeruk nipis lebih efektif daripada penggunaan alkali gliserol dengan metode penggosokan. Hal ini disebabkan oleh kontak langsung antara metode penggosokan dengan artefak serta kandungan asam yang terkandung dalam jeruk nipis.
OPTIMASI PASTA SEREH WANGI DAN NATRIUM BIKARBONAT UNTUK PEMBERSIHAN LICHEN PADA CAGAR BUDAYA BERBAHAN BATU : (STUDI KASUS CANDI PLAOSAN LOR) Sugijono; Destiana Murtiyani; Tisa Putri Sekararum
Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v17i2.324

Abstract

Kerusakan dan pelapukan pada batuan penyusun Cagar Budaya merupakan permasalahan yang menjadi ancaman kelestarian Cagar Budaya. Salah satu masalah pelapukan yang terjadi di Candi Plaosan Lor adalah pertumbuhan lichen. Bahan konservan yang selama ini digunakan yaitu emulsi sereh wangi masih belum efektif untuk membersihkan lichen yang ada di Candi Plaosan Lor. Penggunaan emulsi sereh wangi membutuhkan waktu yang lama untuk pembersihan lichen dan masih meninggalkan sisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan natrium bikarbonat (NaHCO3) dan Carboxymethyl Cellulose (CMC). Natrium bikarbonat memiliki sifat abrasi ringan sehingga dapat membantu menghilangkan lichen pada permukaan batu. Campuran antara emulsi sereh wangi, natrium bikarbonat, dan CMC akan membentuk pasta. CMC berperan sebagai polimer penghambat penguapan yang juga memiliki fungsi mengikat partikel kotoran, menjaga stabilitas emulsi, mengatur pH, dan mengendalikan kelembaban batu selama proses pembersihan. Percobaan dilakukan dengan membuat variasi kadar natrium bikarbonat. Kadar CMC dibuat tetap yaitu 5% dan kadar natrium bikarbonat dibuat variasi 0%; 1%; 2,5%; dan 5%. Hasil aplikasi pasta sereh wangi pada permukaan batuan yang ditumbuhi lichen menunjukkan hasil paling optimal pada campuran emulsi sereh wangi, CMC 5%, dan natrium bikarbonat 5%.

Filter by Year

2007 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 2 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 18 No. 1 (2024): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Vol. 17 No. 2 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 17 No. 1 (2023): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue