cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
livana.ph@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
livana.ph@gmail.com
Editorial Address
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JLH/about/editorialTeam
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Language and Health
ISSN : 27220311     EISSN : 27223965     DOI : https://doi.org/10.37287/jlh
Core Subject : Health, Education,
Journal of Language and Health (JLH) is a peer-reviewed journal which promotes discussion on a broad range of the relationships between language and health. Catering for the linguistic expressions of health condition (including clinical and pathological), the journal publishes conceptual and empirical articles in the area. Submissions may include experimental, review, and theoretical discussion articles, with studies of either quantitative and/or qualitative frameworks. Articles may relate to any area of the intersections between language and health with regard, but not limited, to etiological issues, diagnosis, intervention, and theoretical frameworks.
Articles 451 Documents
Hubungan Paparan Asap Rokok dan Pembakaran Sampah dengan Kejadian ISPA pada Anak Yulianti Yulianti; Umi Hanik Fetriyah; Adriana Palimbo; Paul Joae Brett Nito
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Language and Health: March 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i1.1838

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan menjadi penyebab utama morbiditas. Anak memiliki sistem imun yang belum matang sehingga lebih rentan terhadap paparan polusi udara di lingkungan rumah tangga. Paparan asap rokok dan asap pembakaran sampah mengandung partikel berbahaya yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko ISPA. Kebiasaan merokok di dalam rumah serta praktik pembakaran sampah masih banyak ditemukan di masyarakat dan berpotensi meningkatkan paparan pada anak. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA pada anak. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan rancangan cross-sectional. Sampel berjmla 35 orang yang diambil dengan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan asap rokok, paparan asap pembakaran sampah, dan kejadian ISPA. Hasil uji validitas menunjukkan semua item kuesioner memiliki nilai r hitung > r tabel pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05), sehingga dinyatakan valid. Sementara itu, uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha memperoleh nilai α sebesar 0,842, yang berarti instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan konsisten. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Sebagian besar anak yang terpapar asap rokok  sebesar 60%, dan asap pembakaran sampah sebesar 31,1,  Sebagian anak mengalami ISPA sebesar 42,2%. Uji Fisher menunjukkan hubungan antara paparan asap rokok dan paparan asap pembakaran sampah dengan kejadian ISPA masing-masing nilai p-value nya 0.000 (α < 0,05). Paparan asap rokok dan pembakaran sampah berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak.
Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Perilaku Bullying pada Remaja Aura Putri Alleyda; Ghulam Ahmad; Abdul Rahman La Ede
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Language and Health: June 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i2.1889

Abstract

Bullying pada remaja masih menjadi masalah yang cukup tinggi dan berdampak luas terhadap kesejahteraan psikologis. Dukungan sosial dari teman sebaya sebagai lingkungan terdekat remaja diduga memiliki peran penting dalam memengaruhi munculnya perilaku bullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku bullying pada remaja di SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi. Jenis penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh siswa di SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi dengan sampel 285 orang menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel dukungan sosial teman sebaya diukur menggunakan instrumen The Social Provisions Scale dengan hasil uji validitas p < 0,05 dan uji reliabilitas menunjukkan koefisien alpha sebesar 0,928, serta variabel perilaku bullying menggunakan instrumen Olweus Bullying Scale yang telah teruji dengan hasil dinyatakan valid dan reliabel (Akmaaliyah, 2023). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku bullying dengan p-value 0,000. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan perilaku bullying pada remaja di SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi.  
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Bullying pada Remaja Putri Salsabilla; Ghulam Ahmad; Ida Ida
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Language and Health: June 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i2.1892

Abstract

Perilaku bullying pada remaja menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian karena berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis dan sosial. Perilaku ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi. tian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh siswa SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi dengan sampel 285 orang melalui teknik proportional random sampling. Variabel pola asuh orang tua diukur menggunakan instrumen Parental Authority Questionnaire (PAQ) dengan hasil uji validitas menunjukkan nilai p-value <0,05 sehingga dinyatakan valid dan uji reliabilitas diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,849  (Isnaini, 2023). Sedangkan, variabel perilaku bullying menggunakan instrumen Olweus Bullying Scale yang telah diuji dengan hasil dinyatakan valid dan reliabel (Akmaaliyah, 2023). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying (p = 0,032). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di SMAN 1 Cikembar Kabupaten Sukabumi.  
Pengaruh Pijat Bayi terhadap Pertumbuhan Bayi Strahmawati Hamzah; Sitti Nurul Hikma Saleh; Kurniati Akhfar; Husnul Khatimah; Hamzah B
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Language and Health: June 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i2.1903

Abstract

Berdasarkan laporan SSGI 2024 prevalensi kasus stunting di Indonesia sebanyak 19,8%, underweight sebanyak 16,8%. Berdasarkan umur, jumlah bayi (0-11 bulan) stunting sebanyak 21,6%, underweight sebanyak 9,9% dan wasting sebanyak 10,1%. Pijat bayi juga merupakan satu alternatif upaya untuk meraih derajat kesehatan yang paling sederhana yang bisa dilakukan di rumah, namun banyak ibu yang merasa takut melakukan pijat terhadap bayinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pijat bayi terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre-experimental design dengan rancangan penelitian one group pretest-post-test design.   Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Motoboi Kecil. Sampel sebanyak 20 bayi usia 0-12 bulan. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar checklist. Data dianalisis menggunakan uji paired t test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat badan bayi sebelum dipijat adalah 4,61 kg dengan SD 0,75 dan rata-rata berat badan bayi setelah dipijat adalah 6,54 kg dengan SD 0,80. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) artinya ada pengaruh pijat bayi terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Terdapat perbedaan rata-rata skor berat badan bayi sebelum dan sesudah diberikan pijatan dengan perbedaan rata-rata sebesar 1,93, maka dapat disimpulkan pijat bayi dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan bayi di wilayah kerja Puskesmas Motoboi Kecil. 
Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Menular pada Masyarakat Kawasan Pesisir Wahidah Wahidah; Motris Pamungkas; Farida Umamy; Shofiyyahina Shofiyyahina; Fiorentina Fiorentina
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.1998

Abstract

Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan utama, terutama pada masyarakat pesisir yang memiliki keterbatasan akses air bersih dan sanitasi. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu pendekatan penting dalam upaya pencegahan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara PHBS dengan perilaku pencegahan penyakit menular pada masyarakat kawasan pesisir. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pesisir di Kabupaten Medan, dengan jumlah sampel sebanyak 136 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Variabel independen adalah PHBS, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan penyakit menular. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS dengan perilaku pencegahan penyakit menular (p-value = 0,001). Responden dengan PHBS baik memiliki peluang 4,243 kali lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan yang tinggi dibandingkan dengan responden dengan PHBS kurang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa PHBS memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pencegahan penyakit menular, terutama pada masyarakat pesisir yang memiliki kerentanan lingkungan lebih tinggi. PHBS dapat menjadi pendekatan strategis dalam upaya promotif dan preventif untuk menurunkan risiko penyakit menular melalui perubahan perilaku kesehatan masyarakat.
Pengaruh Sistem Informasi Kesehatan Berbasis Komunitas terhadap Upaya Promotif di Kawasan Pesisir Sri Malemna Br Barus; Meni Fuzi Astuti Tanjung; Selvi Puspan Sari; Nisah Nisah; Eva Maulina
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem informasi kesehatan berbasis komunitas merupakan salah satu inovasi dalam upaya meningkatkan akses informasi kesehatan dan mendukung pelaksanaan program promotif, khususnya pada wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan seperti kawasan pesisir. Masyarakat pesisir sering menghadapi hambatan dalam memperoleh informasi kesehatan yang akurat dan tepat waktu, sehingga diperlukan pendekatan berbasis komunitas yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sistem informasi kesehatan berbasis komunitas terhadap upaya promotif pada masyarakat pesisir. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat kawasan pesisir di Kabupaten Medan dengan jumlah sampel sebanyak 200 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah sistem informasi kesehatan berbasis komunitas, sedangkan variabel dependen adalah upaya promotif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linier sederhana untuk mengetahui besarnya pengaruh antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem informasi kesehatan berbasis komunitas berpengaruh signifikan terhadap upaya promotif dengan nilai koefisien regresi (β = 0,481) dan tingkat signifikansi (p < 0,001). Nilai koefisien determinasi (R² = 0,231) menunjukkan bahwa sistem informasi kesehatan mampu menjelaskan sebesar 23,1% variasi dalam upaya promotif masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem informasi kesehatan berbasis komunitas memiliki peran penting dalam meningkatkan pelaksanaan upaya promotif melalui peningkatan akses informasi, kesadaran kesehatan, dan partisipasi masyarakat.
Hubungan Pola Konsumsi, Aktivitas Fisik, dan Perilaku Kesehatan dengan Kejadian Hipertensi pada Masyarakat Pesisir Fahnidar Rahma; Weni Tursini; Atika Pohan; Fiorentina Fiorentina; Nurul A’ini
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.2001

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama, khususnya pada masyarakat dengan faktor risiko gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola konsumsi, aktivitas fisik, dan perilaku kesehatan. Masyarakat pesisir memiliki karakteristik yang berpotensi meningkatkan risiko hipertensi, seperti pola konsumsi tinggi garam dan keterbatasan akses informasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola konsumsi, aktivitas fisik, dan perilaku kesehatan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir di wilayah kerja Puskesmas Sei Tualang Raso. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah masyarakat pesisir dengan jumlah sampel sebanyak 225 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Variabel independen meliputi pola konsumsi, aktivitas fisik, dan perilaku kesehatan, sedangkan variabel dependen adalah kejadian hipertensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola konsumsi (OR = 3,225; p = 0,000), aktivitas fisik (OR = 2,679; p = 0,002), dan perilaku kesehatan (OR = 2,275; p = 0,006) dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pola konsumsi merupakan faktor yang paling dominan (Exp(B) = 3,242; p = 0,001), diikuti oleh perilaku kesehatan (Exp(B) = 2,852; p = 0,001) dan aktivitas fisik (Exp(B) = 2,765; p = 0,004). Temuan ini menunjukkan bahwa kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir dipengaruhi oleh kombinasi faktor perilaku dan gaya hidup, dengan pola konsumsi sebagai determinan utama dalam model penelitian ini.
Efektivitas Sistem Monitoring dalam Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Mallisa Juni Aisyah Hasibuan; Ika Lestari; Dara Putri; Rahma Lestari; Putri Yana
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.2022

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama yang terus meningkat dan memerlukan upaya pencegahan yang efektif, khususnya melalui program di tingkat pelayanan kesehatan primer. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan program tersebut adalah sistem monitoring yang digunakan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem monitoring dalam program pencegahan penyakit tidak menular di wilayah kerja Puskesmas Teluk Nibung Kota Tanjungbalai. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Teluk Nibung dengan jumlah sampel sebanyak 200 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Variabel independen adalah sistem monitoring, sedangkan variabel dependen adalah efektivitas program pencegahan PTM. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sistem monitoring dengan efektivitas program pencegahan penyakit tidak menular (p = 0,000). Sistem monitoring yang baik memiliki peluang meningkatkan efektivitas program sebesar 3,413 kali dibandingkan dengan sistem monitoring yang kurang baik (OR = 3,413; CI 95%: 1,867–6,238). Temuan ini menunjukkan bahwa sistem monitoring memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas program pencegahan PTM, khususnya dalam mendukung pengelolaan data, evaluasi program, serta pengambilan keputusan di tingkat pelayanan kesehatan primer..
Pengaruh Effort-Reward Imbalance dan Burnout terhadap Organizational Citizenship Behavior melalui Organizational Commitment Zia’ul Fatwa Andini Yusuf; Tjipto Rini; Rian Adi Pamungkas
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Language and Health: June 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v7i2.2215

Abstract

Berdasarkan laporan SSGI 2024 prevalensi kasus stunting di Indonesia sebanyak 19,8%, underweight sebanyak 16,8%. Berdasarkan umur, jumlah bayi (0-11 bulan) stunting sebanyak 21,6%, underweight sebanyak 9,9% dan wasting sebanyak 10,1%. Pijat bayi juga merupakan satu alternatif upaya untuk meraih derajat kesehatan yang paling sederhana yang bisa dilakukan di rumah, namun banyak ibu yang merasa takut melakukan pijat terhadap bayinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pijat bayi terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre-experimental design dengan rancangan penelitian one group pretest-post-test design.   Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Motoboi Kecil. Sampel sebanyak 20 bayi usia 0-12 bulan. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar checklist. Data dianalisis menggunakan uji paired t test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat badan bayi sebelum dipijat adalah 4,61 kg dengan SD 0,75 dan rata-rata berat badan bayi setelah dipijat adalah 6,54 kg dengan SD 0,80. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) artinya ada pengaruh pijat bayi terhadap pertumbuhan berat badan bayi. Terdapat perbedaan rata-rata skor berat badan bayi sebelum dan sesudah diberikan pijatan dengan perbedaan rata-rata sebesar 1,93, maka dapat disimpulkan pijat bayi dapat meningkatkan pertumbuhan berat badan bayi di wilayah kerja Puskesmas Motoboi Kecil. 
Self-Medication Behavior among Breastfeeding Mothers Nila Rusdi Rahayu; Oon Fatonah Akbarini; Eny Indriyani; Dwi Larasati
Journal of Language and Health Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Language and Health: June 2026
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self-medication is a common practice among breastfeeding mothers and may pose risks to infants due to potential drug exposure through breast milk. Limited awareness of medication safety and the widespread availability of over-the-counter drugs contribute to this behavior. This study aimed to describe self-medication behavior among breastfeeding mothers. A descriptive cross-sectional study was conducted involving 120 breastfeeding mothers with infants aged 0–24 months. Data were collected using a validated and reliable self-administered online questionnaire. The instrument consisted of 25 items covering self-medication practices, including types of medications used, frequency, reasons for use, sources of information, and awareness of medication safety. Data were analysed using descriptive statistics. Self-medication was reported by 78.3% of respondents. Analgesics and antipyretics were the most commonly used medications, followed by cold remedies and vitamins. The main reasons for self-medication were perceived mild symptoms, prior experience, and convenience. Most respondents relied on informal sources of information, particularly the internet and social media. Awareness of medication safety during breastfeeding varied, with a substantial proportion demonstrating moderate to poor understanding. Conclusions: Self-medication behaviour is prevalent among breastfeeding mothers and is influenced by accessibility, prior experience, and reliance on non-professional information sources. Limited awareness of medication safety highlights the need for improved health education and professional guidance to support safer medication practices during breastfeeding.