cover
Contact Name
Daniel Fajar Panuntun
Contact Email
niel398@gmail.com
Phone
+6285747332374
Journal Mail Official
masokan.iakntoraja@gmail.com
Editorial Address
Jalan Poros Makale - Makassar Km. 11,5, Kelurahan Rante Kalua', Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia (91871).
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Masokan: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
ISSN : 27981932     EISSN : 27982262     DOI : https://doi.org/10.34307/misp.v1i1
Jurnal ini diterbitkan oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Toraja. Masokan dalam Bahasa Toraja artinya anugerah atau kemurahan, dapat juga diartikan sebagai kebaikan. Konsepnya, pengetahuan dimaknai sebagai anugerah atau kemurahan yang diberikan Allah kepada manusia, agar manusia dapat menggunakan pengetahuan untuk melakukan kebaikan kepada seluruh ciptaan Allah. Logo Masokan terdiri 3 bagian yaitu: tangan, buku dan pohon yang berbuah. 1. Tangan sebagai dasar utama, diartikan sebagai karya manusia. Melalui tangan, manusia berkarya, berpengaruh, membuat sesuatu, dan tangan warna biru merupakan kepercayaan dan profesionalisme. Lambang tangan berwana biru kemudian diartikan sebagai karya yang dapat dipercaya dan dibuat secara professional. 2. Buku yang terdiri dari 3 warna, diartikan sebagai buku sebagai sumber informasi, pengetahuan. Warna hijau identik dengan warna alam yang memberikan efek rileks, selain itu warna hijau juga identif dengan kehidupan, harapan, dan harmoni. Warna hijau mewakili ilmu psikologi dan ilmu kesehatan. Warna biru identik sebagai lambang pengetahuan dan kecerdasan. Lambang biru mewakili ilmu pendidikan. Warna kuning sebagai lambang kebijaksanaan, cahaya, keceriaan dan cinta yang mewakili hubungan sosial manusia mewakili ilmu sosial. 3. Lambang Pohon diartikan sebagai keberadaan pohon memberikan manfaat bagi manusia yang menggunakan atau memanfaatkannya. Pohon juga menjadi simbol kehidupan. Pohon dengan bunga pohon warna kuning diartikan sebagai pembawa kabar baik, harapan baik, dan kebahagiaan. Sehingga logo Masokan, diharapkan sebagai hasil karya yang professional, yang berasal dari bidang keilmuan sosial dan ilmu pendidikan yang menghasilkan manfaat, kabar baik, dan kebahagiaan bagi manusia yang membutuhkannya. Pada konteks inilah, jurnal Masokan muncul, memuat artikel dan penelitian pada cendekia (dosen, peneliti, maupun mahasiswa) sehingga karya tulisan dapat menjadi pengetahuan yang dibagikan untuk kebaikan manusia. Focus and Scope: 1. Digital learning in education 2. Education and e-learning invention 3. Psychology and humanities practice 4. Education of languages 5. Child and family health
Articles 50 Documents
GEREJA YANG RAMAH UNTUK KESEHATAN MENTAL: MEMBACA 1 RAJA-RAJA 19:1-8 DENGAN LENSA NEUROSAINS DAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD Rerung, Alvary Exan
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i1.139

Abstract

This paper discusses the phenomenon of mental health problems in Indonesia, which continue to increase in number. This reality must certainly make Christianity try to help the government to minimize the increase in this problem. The church must not become one of the perpetrators of the increase in mental health problems because it does not know what to do. That is why, by using a descriptive qualitative method, this paper offers the concept of a church that is friendly to mental health. This effort will be built based on reading the text of 1 Kings 19:1-8 through the lens of neuroscience and Sigmund Freud's psychoanalysis. The results of this study indicate three important things that the church must implement to become a church that is friendly to mental health, namely: first, eliminating the negative stigma on those who experience mental health problems as not having strong faith in God; second, focusing on the phase of mental health disorders experienced by a person so that the church can help in efforts to cancel the intention to commit suicide; and third, it must be able to be a comfortable community so that someone feels owned and has. Tulisan ini membahas tentang fenomena masalah gangguan kesehatan mental di Indonesia yang jumlahnya terus bertambah. Realitas ini tentu harus membuat kekristenan berupaya membantu pemerintah guna meminimalisir bertambahnya masalah ini. Jangan sampai gereja malah menjadi salah satu pelaku bertambahnya masalah gangguan kesehatan mental akibat tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, tulisan ini menawarkan konsep gereja yang ramah untuk kesehatan mental. Upaya ini akan dibangun berdasarkan pembacaan terhadap teks 1 Raja-raja 19:1-8 dengan lensa Neurosains dan Psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian ini menunjukkan tiga hal penting yang harus diterapkan gereja guna menjadi gereja yang ramah untuk kesehatan mental, yaitu: Pertama, menghilangkan stigma negatif pada mereka yang mengalami masalah kesehatan mental sebagai tidak memiliki iman yang kuat kepada Tuhan; Kedua, fokus terhadap fase gangguan kesehatan mental yang dialami seseorang agar gereja bisa membantu dalam usaha membatalkan niat untuk melakukan tindakan bunuh diri; dan Ketiga, harus bisa menjadi komunitas yang nyaman agar seseorang merasa dimiliki dan memiliki.
ANALISIS DESKRIPTIF GEJALA STRES PADA ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI LPKA KELAS II BANDUNG Situmorang, Aryanti
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i1.142

Abstract

This study aims to describe the stress symptoms experienced by children in conflict with the law (CICL) at the Bandung Juvenile Detention Center (LPKA). A quantitative descriptive approach was used, with data collected through a structured questionnaire based on Lazarus's transactional stress theory and the DASS-42 scale. The instrument measured four key aspects of stress: physical, cognitive, emotional, and behavioral. The sample consisted of 60 children selected through simple random sampling. The results revealed that the highest stress symptoms appeared in cognitive (57.22%) and emotional (51.47%) aspects, reflecting mental burdens, anxiety, guilt, and fear of the future. Meanwhile, physical and behavioral symptoms were in the low category. These findings indicate that psychological pressure is more internalized in thoughts and emotions than in overt behaviors. The study highlights the need for cognitive-emotion-based psychosocial interventions and a holistic approach within the rehabilitation system at LPKA to support comprehensive recovery. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan gejala stres yang dialami oleh anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner tertutup, yang disusun berdasarkan teori stres transaksional Lazarus dan alat ukur DASS-42. Instrumen penelitian mencakup empat aspek utama stres, yaitu fisik, kognitif, emosional, dan perilaku. Sampel berjumlah 60 anak, dipilih melalui teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala stres tertinggi terdapat pada aspek kognitif (57,22%) dan emosional (51,47%), yang mencerminkan beban pikiran, kegelisahan, serta perasaan bersalah dan cemas terhadap masa depan. Sementara itu, aspek fisik dan perilaku berada pada kategori rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis ABH lebih banyak terinternalisasi dalam pikiran dan perasaan daripada dalam tindakan nyata. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi psikososial berbasis kognitif-emosional dan pendekatan holistik dalam sistem pembinaan anak di LPKA agar mendukung pemulihan menyeluruh.
PEMBELAJARAN MENULIS LANJUTAN DI SEKOLAH DASAR: SEBUAH ANALISIS DAN USULAN TEORETIS Ittihad, Nurul; Hamzah, Rahma Ashari; Citra, Reli
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i1.143

Abstract

To improve students' writing skills, they must master the type of essay based on their own personal experiences. While they are learning to write, the goal of advanced writing instruction in elementary school is for students to develop the ability to convey their thoughts and feelings, as well as to express their knowledge, ideas, and opinions. This literature review will employ qualitative research methods and will be based on a study or review of existing literature. Consequently, the aim of this research is to gather information about the methods elementary schools use to teach effective writing skills. One challenge with teaching writing is that the open-ended materials used by teachers are often not engaging. Additionally, publicly available creative writing resources are often insufficient for teachers. Many educators argue that writing is merely an assignment to be completed and graded. Developing writing skills in elementary school is a crucial step toward improving students' literacy. However, many teachers focus solely on students' written results without actively helping them develop their writing process. Advanced writing instruction fosters students' creativity and critical thinking by teaching various writing styles, such as narration, description, and exposition, which helps them articulate their ideas more systematically. Teachers play a vital role in supporting students to improve the quality of their writing through guidance and constructive feedback. Untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa, mereka harus menguasai jenis karangan yang didasarkan pada pengalaman pribadi mereka sendiri. Pembelajaran menulis lanjutan di sekolah dasar bertujuan untuk menulis lanjutan di sekolah dasar adalah untuk memperoleh informasi dan pemahaman mengenai metode serta strategi yang digunakan oleh guru sekolah dasar dalam meningkatkan keterampilan menulis lanjutan siswabelajaran menulis lanjutan di sekolah dasar adalah agar siswa memiliki kemampuan tertulis menyampaikan pikiran dan perasaan mereka serta mengungkapkan pengetahuan, ide, dan pendapat mereka. Penelitianini menggunakan metode penelitian kualitatif didasarkan pada studi literatur atau kajian pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang metode yang digunakan sekolah dasar untuk mengajar keterampilan menulis yang baik. Salah satu masalah dengan keterampilan menulis adalah bahan terbuka yang digunakan guru tidak menarik. Selain itu, sumber daya penulisan kreatif yang tersedia untuk umum tidak cukup untuk guru. Banyak guru berpendapat bahwa menulis hanyalah tugas yang harus dikumpulkan dan dinilai sendiri. Menulis lanjutan di sekolah dasar adalah langkah penting dalam meningkatkan keterampilan literasi siswa. Banyak guru yang hanya fokus pada hasil tulisan siswa tanpa membantu mereka menulis secara aktif. Pembelajaran menulis lanjutan meningkatkan kreativitas dan daya berpikir kritis siswa dengan mengajarkan berbagai jenis tulisan, seperti narasi, deskripsi, dan eksposisi, yang membantu mereka menyampaikan ide-ide mereka dengan lebih sistematis. Guru bertanggung jawab untuk membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan kualitas tulisan mereka dengan memberikan bimbingan dan umpan balik.
STRATEGI INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA LANJUTAN: STUDI LITERATUR PADA KONTEKS SEKOLAH DASAR Baso, Rini Zakiah; Hamzah, Rahma Ashari; Nurdianah, Nurdianah
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i1.145

Abstract

This study aims to examine advanced speaking learning strategies in elementary schools to enhance students' communication skills. The research approach is qualitative, utilizing desk research and referencing relevant, current literature. The analysis shows that interactive methods such as group discussions, role plays, and oral presentations effectively improve students' speaking abilities. Technology-based innovations, including educational applications and creative projects, also positively influence students' confidence and fluency. Moreover, project-based assessment is identified as a relevant approach, allowing teachers to comprehensively evaluate students' fluency, pronunciation, and idea communication. The study also highlights barriers to language learning, such as students' lack of confidence, inconsistent teaching practices, and limited learning environments. Therefore, this article offers recommendations for innovative learning strategies to improve students' speaking skills and emphasizes the importance of authentic assessment in supporting successful advanced speaking development. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran berbicara lanjutan di sekolah dasar guna meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan mengacu pada literatur relevan dan terkini. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode interaktif, seperti diskusi kelompok, bermain peran, dan presentasi lisan, efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Inovasi berbasis teknologi, seperti penggunaan aplikasi pendidikan dan proyek kreatif, turut memberikan pengaruh positif terhadap kepercayaan diri dan kelancaran berbicara siswa. Selain itu, evaluasi berbasis proyek diidentifikasi sebagai pendekatan penilaian yang relevan, memudahkan guru untuk menilai aspek kelancaran, pengucapan, dan penyampaian gagasan siswa secara komprehensif. Penelitian ini juga mengidentifikasi kendala dalam pembelajaran berbicara, seperti rasa kurang percaya diri siswa, metode pengajaran yang tidak variatif, serta keterbatasan lingkungan belajar. Dengan demikian, artikel ini memberikan rekomendasi strategi pembelajaran berbasis inovasi yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa, serta pentingnya evaluasi autentik dalam mendukung keberhasilan pembelajaran berbicara lanjutan.
STATUS SOSIAL EKONOMI PESERTA DIDIK DENGAN PERFORMA AKADEMIK: AKANKAN BERHUBUNGAN ATAU BERTOLAK BELAKANG? Muzaki, Alfian Nur; Fadholi, Lukman; Rohana, Putri Ayu; Riseva, Stella Dea; Wijaya, Tri Wisnu Hadi; Mardiyana, Isna Ida
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i1.147

Abstract

The academic success of students is often linked to various factors, including their parents' socioeconomic status (SES). This study aimed to examine the relationship between SES and the academic performance of students in class 2B UPTD SDN Pangeran 3 in English and mathematics, and to identify other factors influencing academic success. The research adopted a qualitative methodology with triangulation techniques. Findings indicated that while SES significantly impacts students' academic achievement, other factors such as parental involvement, motivation to learn, and environmental influences also play a role. The study revealed that in class 2B UPTD SDN Pangeran 3, some students with low SES can achieve high academic results. In contrast, students with high SES may struggle academically due to a lack of parental supervision and uncontrolled technology use. Consequently, this study emphasizes the need for a comprehensive approach to enhance students' academic achievement. Keberhasilan akademik peserta didik seringkali dikaitkan dengan beberapa faktor termasuk status sosial ekonomi (SES) orang tua. Tujuan penelitian yang dilaksanakan yaitu mengetahui korelasi antara SES dengan prestasi akademik peserta didik di kelas 2B UPTD SDN Pangeranan 3 mata pelajaran Bahasa Inggris dan matematika, serta mengidentifikasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan akademik. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik triangulasi. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa meskipun SES berperan penting dalam menentukan prestasi akademik peserta didik, tetapi terdapat faktor-faktor lain yang berkontribusi, seperti keterlibatan orang tua, motivasi belajar, dan pengaruh lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelas 2B UPTD SDN Pangeranan 3 diketahui beberapa peserta didik dengan SES rendah mampu mencapai prestasi akademik tinggi, sedangkan peserta didik dengan SES tinggi mengalami kesulitan belajar disebabkan kurangnya pengawasan orang tua dan penggunaan teknologi yang kurang terkontrol. Oleh karena itu, penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan secara menyeluruh dalam meningkatkan keberhasilan prestasi akademik peserta didik.
SINERGI SPIRITUALITAS PASTORAL DAN BELAJAR AKTIF DALAM MEMBENTUK MAHASISWA PERCAYA DIRI Femy Tangdilintin, Aussie; Bunga Sapan, Erwin
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i2.141

Abstract

This study aims to analyze the synergy between pastoral spirituality and active learning in shaping students’ self-confidence at Christian universities in Indonesia. The research background focuses on the urgent issue of low self-confidence among students when facing academic and social challenges. Using a descriptive qualitative method through a review of literature from 2018 to 2025, this study examines empirical data from several Christian universities, including UKI, UK Petra, UKSW, UKDW, and Maranatha Christian University. The findings show that pastoral programs increased students’ self-confidence by up to 68%, while active learning methods improved it by 72%. Combining both approaches led to even higher outcomes, exceeding 75%, and contributed to enhanced self-efficacy, reduced academic anxiety, and strengthened psychological resilience. These results are consistent with Bandura’s self-efficacy theory and self-determination theory, emphasizing the importance of blending spiritual support with active learning experiences to build self-confidence. Therefore, this research makes a novel contribution by integrating two previously studied approaches and provides practical recommendations for Christian universities to develop more effective mentoring and learning models. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi antara spiritualitas pastoral dan pembelajaran aktif dalam membentuk rasa percaya diri mahasiswa di universitas Kristen di Indonesia. Latar belakang penelitian ini didasari oleh urgensi rendahnya kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis kajian literatur periode 2018–2025, penelitian ini mengkaji data empiris dari berbagai universitas Kristen, seperti UKI, UK Petra, UKSW, UKDW, dan Universitas Kristen Maranatha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pastoral meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa hingga 68%, sementara pembelajaran aktif mampu menaikkannya hingga 72%. Sinergi keduanya memberikan hasil yang lebih tinggi, yaitu lebih dari 75%, yang berimplikasi pada peningkatan self-efficacy, pengurangan kecemasan akademik, serta terbentuknya ketahanan psikologis. Temuan ini sejalan dengan teori self-efficacy Bandura dan teori self-determination, yang menegaskan pentingnya kombinasi dukungan spiritual dan pengalaman belajar aktif dalam membangun kepercayaan diri. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kebaruan dalam integrasi dua pendekatan yang sebelumnya lebih banyak dikaji secara terpisah, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi universitas Kristen untuk mengembangkan model pembinaan dan pembelajaran yang lebih efektif.
KONSEP KEBAHAGIAAN MENURUT MARTIN SELIGMAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP HIDUP ORANG PERCAYA Rona, Heber
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i2.140

Abstract

Happiness is a fundamental aspect of human life, as everyone longs for a meaningful and joyful existence. However, happiness is often misunderstood as something materialistic or temporary, which in turn produces negative rather than positive impacts. This study aims to examine the concept of happiness as defined by Martin Seligman within the framework of positive psychology, as well as the idea of happiness from the perspective of Christian believers. Using a descriptive qualitative approach through literature review and interviews, this research seeks to identify similarities and differences between the two perspectives. The findings indicate that Seligman’s concept of happiness emphasizes psychological dimensions such as positive emotions, engagement, and meaning in life. In contrast, the believers’ idea of happiness is rooted in a relationship with God and the acceptance of His grace. This comparison provides a more comprehensive understanding of happiness and affirms that integrating positive psychology with faith can help believers respond authentically to the happiness God bestows. Kebahagiaan merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia, karena setiap orang senantiasa mendambakan hidup yang bermakna dan penuh sukacita. Namun, tidak jarang kebahagiaan disalahpahami sebagai sesuatu yang bersifat materialistis atau sementara, sehingga justru menimbulkan dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kebahagiaan menurut Martin Seligman dalam kerangka psikologi positif serta konsep kebahagiaan menurut orang percaya dalam perspektif iman Kristen. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur dan wawancara, penelitian ini berupaya menemukan persamaan dan perbedaan dari kedua perspektif tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebahagiaan menurut Seligman menekankan pada aspek psikologis seperti emosi positif, keterlibatan, dan makna hidup, sedangkan kebahagiaan menurut orang percaya berakar pada relasi dengan Allah dan penerimaan atas anugerah-Nya. Perbandingan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang kebahagiaan, sekaligus menegaskan bahwa integrasi antara psikologi positif dan iman dapat membantu orang percaya merespons kebahagiaan yang dianugerahkan Allah secara autentik.
DINAMIKA SOSIAL DAN PERILAKU JUDI ONLINE DI KERTEK WONOSOBO: ANALISIS KRIMINOLOGIS DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN SOSIOLOGI Maharani, Andriana; Agustin, Friscilla Naftalia; Putri, Wanda Sabila
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i2.185

Abstract

This study examines online gambling in the Kertek area of Wonosobo through a criminological lens to understand the underlying causes and the social, psychological, and economic impacts. In-depth interviews reveal that the primary driver of online gambling is urgent monetary need, such as covering basic living expenses and improving unstable financial conditions. Economic and social pressures, coupled with low awareness of legal risks, reinforce the tendency to engage in this illegal gambling practice. This phenomenon leads to shifts in social activities, psychological disturbances, and significant economic losses, and it also triggers criminal acts such as theft and fraud. The lack of legal oversight and weak enforcement of the law further exacerbates this situation. Therefore, the study emphasizes the importance of criminal justice system reform, increased awareness of the dangers of online gambling, and community-based approaches to enhance public understanding and minimize its negative impacts. These efforts are expected to strengthen law enforcement and create a safer, more orderly social environment. Penelitian ini mengkaji fenomena judi online di wilayah Kertek, Wonosobo, melalui pendekatan kriminologis untuk memahami faktor penyebab, dampak sosial, psikologis, dan ekonomi yang mendasarinya. Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong pelaku terjerumus ke dalam judi online adalah kebutuhan ekonomi mendesak, seperti memenuhi kebutuhan hidup dan memperbaiki kondisi keuangan yang tidak stabil. Tekanan ekonomi, sosial, serta rendahnya kesadaran akan risiko hukum memperkuat kecenderungan masyarakat untuk terlibat dalam praktik perjudian ilegal ini. Fenomena ini menyebabkan pergeseran aktivitas sosial, gangguan psikologis, dan kerugian ekonomi yang signifikan, serta memicu tindakan kriminal seperti pencurian dan penipuan sebagai akibatnya. Kurangnya pengawasan hukum dan lemahnya penegakan hukum turut memperburuk situasi ini. Oleh karena itu, penelitian menekankan pentingnya reformasi sistem peradilan pidana, peningkatan sosialisasi bahaya judi online, serta pendekatan berbasis komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan meminimalisir dampak negatifnya. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat penegakan hukum serta menciptakan situasi sosial yang lebih aman dan tertib.
GEREJA DAN KESEHATAN MENTAL PEMUDA DI KAWASAN INDUSTRI Pasoa, Christin Natalia
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i2.195

Abstract

This study aims to examine the church's role in addressing mental health challenges faced by Christian youth working in industrial zones, particularly in the nickel mining area of Morowali. Using a qualitative, phenomenological paradigm, data were gathered through in-depth interviews with four young people and a church leader from the Eben-Haezer Solonsa Congregation. The theoretical foundation relies on practical theology, which views the church as a healing community. The findings show that industrial youth workers often experience ongoing psychological stress due to work demands, economic pressures, and disconnection from the church community. Despite the existence of local churches, their pastoral responses are usually liturgically focused and do not fully meet the emotional and spiritual needs of the youth. Consequently, many feel spiritually unsupported and mentally drained. This study recommends that churches in industrial areas develop tailored pastoral approaches that prioritize mental health and offer safe spiritual spaces for youth coping with the realities of industrial work. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran gereja dalam merespons tantangan kesehatan mental yang dialami oleh pemuda Kristen yang bekerja di kawasan industri, khususnya di wilayah pertambangan nikel Morowali. Dengan menggunakan metode kualitatif berparadigma fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat orang pemuda dan satu pelayan gereja dari Jemaat Eben-Haezer Solonsa. Landasan teori yang digunakan adalah teologi praktis yang memandang gereja sebagai komunitas penyembuh. Temuan menunjukkan bahwa pemuda yang bekerja di sektor industri mengalami tekanan psikologis kronis akibat tuntutan kerja, beban ekonomi keluarga, serta keterputusan dari komunitas gereja. Meskipun gereja hadir secara institusional, respons pastoral yang diberikan cenderung berfokus pada liturgi dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan emosional dan spiritual pemuda. Akibatnya, banyak dari mereka merasa tidak mendapatkan dukungan rohani yang memadai dan mengalami kelelahan mental. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja-gereja di wilayah industri mengembangkan pendekatan pastoral yang kontekstual dan berorientasi pada kesehatan mental, serta menyediakan ruang aman secara spiritual bagi pemuda yang menghadapi realitas kerja industri.
ETIKA PROFESI DAN BUDAYA SEKOLAH: FONDASI KINERJA GURU DI ERA PENDIDIKAN 5.0 Andriyati, Sri Iin; Anjarsari, Afita; Susanti, Dewi Marya; Purnomo, Himawan Eko; Yuliarti, Rini
Masokan Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/misp.v5i2.238

Abstract

The transformation of the educational paradigm toward Education 5.0 requires a shift in the role of teachers from mere instructors to ethical, adaptive learning facilitators oriented toward humanistic values. This study aims to identify and synthesize the interrelationships among professional ethics, school culture, and teacher performance within the context of technology-based and human-centered educational transformation. This study employed an integrative literature review, analyzing 20 scientific articles published between 2019 and 2024 and indexed in SINTA and reputable international journals. The synthesis indicates that professional ethics provide a fundamental value framework that guides teachers’ integrity, accountability, and professionalism, while school culture functions as an ecosystem that supports the internalization of these values through a collaborative, disciplined, and quality-oriented environment. The integration of both dimensions creates synergy that strengthens teacher performance, particularly in professional responsibility, pedagogical innovation, and commitment to the quality of learning in the digital era. This study confirms that strengthening professional ethics and school culture is not only relevant as a normative discourse but also strategic as a foundation for fostering superior and sustainable teacher performance in the era of Education 5.0. Perubahan paradigma pendidikan menuju era Pendidikan 5.0 menuntut pergeseran peran guru dari sekadar pengajar menjadi fasilitator pembelajaran yang beretika, adaptif, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mensintesis keterkaitan antara etika profesi, budaya sekolah, dan kinerja guru dalam konteks transformasi pendidikan berbasis teknologi dan humanisasi. Metode yang digunakan adalah integrative literature review dengan menganalisis 20 artikel ilmiah yang diterbitkan pada periode 2019–2024 dan terindeks SINTA maupun jurnal internasional bereputasi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa etika profesi berperan sebagai landasan nilai yang menuntun integritas, akuntabilitas, dan profesionalitas guru, sementara budaya sekolah berfungsi sebagai ekosistem yang mendukung internalisasi nilai-nilai tersebut melalui iklim kolaboratif, disiplin, dan berorientasi mutu. Integrasi keduanya menghasilkan sinergi yang memperkuat kinerja guru, terutama dalam aspek tanggung jawab, inovasi pedagogis, dan komitmen terhadap mutu pembelajaran di era digital. Kajian ini menegaskan bahwa penguatan etika profesi dan budaya sekolah tidak hanya relevan sebagai wacana normatif, tetapi juga strategis sebagai fondasi kinerja guru yang unggul dan berkelanjutan di era Pendidikan 5.0.