cover
Contact Name
Azharsyah Ibrahim
Contact Email
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2nd Floor Jln. Syech Abdur Rauf Banda Aceh 23111, Aceh, Indonesia Email: jurnal.share@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam
ISSN : 20896239     EISSN : 25490648     DOI : https://doi.org/10.22373/share
Core Subject : Religion, Economy,
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam [SHARE] is a double-blind peer-reviewed journal published by the Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. SHARE publishes research and concept papers pertaining to the field of Islamic economics and finance in open access format, which enables readers to freely access and download the articles under the CC BY SA license. Since 2017, SHARE has become a CrossRef Member, meaning that each article published by the journal will have a unique DOI number. SHARE has been indexed in many trusted indexing sites, such as DOAJ, Index Copernicus, Scilit, WorldCat, Google Scholar, Dimensions, EBSCO, and many others. In Indonesia, SHARE is listed among the top-notch journals by the Indonesian journal accreditation body officialized with the Decree of Director General of Research Strengthening and Advancement, Ministry of Research, Technology, and Higher Education, No. 21/E/KPT/2018, starting from 9 July 2018 until 9 July 2023. Currently, SHARE is under consideration for inclusion in SCOPUS.
Articles 328 Documents
How Islamic Corporate Governance Mitigates Financing Risk in Indonesian Islamic Banking? Rosidi, Rosidi; Nugraha, Rizky Aditya; Putri, Intan Lifinda Ayuning
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.21469

Abstract

Islamic banking in Indonesia exhibits strong growth but continues to grapple with high financing risk, as evidenced by Non-Performing Financing (NPF) levels. While previous research suggests a link between Sharia Supervisory Boards (DPS), Financing to Deposit Ratios (FDR), and NPF, findings remain inconsistent. This study investigates the mediating role of Islamic Corporate Governance (ICG) in the relationship between DPS, FDR, and NPF within the context of Indonesian Islamic commercial banks. Panel data from 12 Indonesian Islamic commercial banks between 2016 and 2021 were analyzed using panel multiple regression. The Sobel test was employed to assess the mediating effect of ICG. The study reveals a positive relationship between DPS and NPF, while FDR showed no significant effect on NPF. Importantly, ICG had a negative impact on NPF and partially mediated the relationship between DPS and NPF. These findings highlight the critical importance of robust ICG practices in mitigating financing risk within Islamic banking. The study recommends further research into the influence of macroeconomic factors on NPF and exploring the effectiveness of DPS functions in enhancing ICG practices.========================================================================================================ABSTRAK – Bagaimana Tata Kelola Syariah Memitigasi Risiko Pembiayaan pada Perbankan Syariah di Indonesia? Perbankan syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat namun terus menghadapi risiko pembiayaan yang tinggi, seperti yang terlihat dari tingkat pembiayaan bermasalah (NPF). Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara tingkat NPF dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS), Rasio Pembiayaan terhadap Simpanan (FDR), dan Tata Kelola Perusahaan Syariah (ICG), namun hasilnya belum konsisten. Penelitian ini mengkaji peran mediasi ICG dalam hubungan antara DPS, FDR, dan NPF dalam konteks bank umum syariah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data panel dari 12 bank umum syariah di Indonesia selama periode 2016-2021. Metode analisis yang digunakan adalah regresi panel berganda dengan uji Sobel untuk menguji efek mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DPS berpengaruh positif terhadap risiko pembiayaan syariah sedangkan FDR tidak berpengaruh terhadap risiko pembiayaan syariah. Kemudian ICG berpengaruh negatif terhadap risiko pembiayaan syariah. Selain itu, hasil uji Sobel menunjukkan bahwa ICG secara parsial memediasi pengaruh DPS dan FDR terhadap risiko pembiayaan syariah. Temuan ini menggarisbawahi pentinya praktik ICG yang baik dalam mengurangi risiko pembiayaan dalam perbankan syariah. Kajian ini merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut fokus pada pengaruh faktor makroekonomi terhadap NPF dan menganalisis efektivitas fungsi DPS dalam meningkatkan praktik ICG.
E-Commerce and Ethical Business Practices: The Role of DSN-MUI Fatwa Nugroho, Randhy; Nurhayati, Ely
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 14, No 1 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.23296

Abstract

In light of the rapid expansion of e-commerce, this study critically examines the role of the National Sharia Board-Indonesian Council of Ulama (DSN-MUI) fatwas (No. 144 and 146) in fostering ethical business practices within online marketplaces. With the ongoing digital transformation, aligning business practices with Islamic ethical standards has become increasingly critical. This research critically evaluates the practical implementation of Sharia-compliant consignment contracts on two leading platforms, Shopee and Tokopedia, using a document analysis approach. Findings indicate that current consignment contracts largely comply with DSN-MUI guidelines despite the absence of explicit contractual formulations. Furthermore, both Shopee and Tokopedia have implemented preventive and corrective mechanisms to deter prohibited transactions, such as tadlis (concealment of defects) and ghisy (quality mismatch). However, a notable gap exists in measures addressing tanajusy (demand engineering) transactions. The study suggests that issuing additional fatwas specifically targeting tanajusy transactions, along with adopting Islamic compliance labeling, could further strengthen the ethical framework of the e-commerce sector.========================================================================================================ABSTRAK - E-Commerce dan Praktik Bisnis Beretika: Peran Fatwa DSN-MUI. Seiring dengan pertumbuhan e-commerce yang pesat, kebutuhan untuk menyelaraskan praktik bisnis dengan standar etika Islam semakin mendesak. Penelitian ini mengkaji peran fatwa DSN-MUI (No.144 dan 146) dalam mendorong perilaku bisnis beretika di platform ritel daring. Penelitian ini secara kritis mengevaluasi implementasi kontrak konsinyasi pada dua platform e-commerce terkemuka, yaitu Shopee dan Tokopedia. dan menganalisis kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah. Dengan menggunakan pendekatan analisis dokumen, penelitian ini menguji kesesuaian praktik kontraktual dengan kedua fatwa DSN-MUI tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan kontrak konsinyasi saat ini secara substansial telah memenuhi persyaratan DSN-MUI meskipun tidak ada formulasi kontrak eksplisit. Selain itu, kedua platform telah menerapkan mekanisme preventif dan korektif untuk mencegah transaksi terlarang seperti tadlis (penyembunyian cacat) dan ghisy (ketidaksesuaian kualitas). Namun, penelitian juga mengungkapkan adanya kekurangan dalam mekanisme yang mengatasi transaksi tanajusy (rekayasa permintaan). Penelitian ini menyarankan untuk penerbitan fatwa tambahan yang khusus mengatur transaksi tanajusy, serta penerapan label kepatuhan syariah, sehingga dapat memperkuat iklim etis di sektor e-commerce.
Enhancing Employee Performance in Islamic Banking: The Moderating Role of Religiosity Yasir, Yasir; Bachmid, Sofyan; Ermawati, Ermawati; Noval, Noval; Nurwanita, Nurwanita
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.24078

Abstract

Organizational culture, happiness at work, and leadership have been widely studied, yet the complex interactions among these factors and the role of religiosity in employee performance remain poorly understood, especially in the context of Islamic banking. This study investigates these relationships and their impact on the employee performance of Bank Muamalat Indonesia (BMI) in the Palu Branch, with religiosity as the moderating variable. Data were collected using closed questionnaires from all employees at the branch and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results indicate that organizational culture and happiness at work significantly enhance employee performance, while leadership does not have a significant impact. Notably, religiosity strengthens the positive effect of organizational culture on employee performance, indicating that religious values can deepen employee commitment and productivity by providing greater meaning and purpose in their work. The study highlights the importance of incorporating religiosity to foster an inclusive and productive work environment in Islamic banking. Future research with a more comprehensive design and a more diverse sample is recommended to further explore these relationships.========================================================================================================ABSTRAK – Meningkatkan Kinerja Karyawan Perbankan Syariah: Peran Moderasi Religiositas. Meskipun budaya organisasi, kebahagiaan di tempat kerja, dan kepemimpinan telah banyak diteliti, kompleksitas hubungan di antara faktor-faktor tersebut dan peran religiositas terhadap kinerja karyawan masih belum terpahami dengan baik, terutama dalam konteks perbankan syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan tersebut dan pengaruhnya terhadap kinerja karyawan Bank Muamalat Indonesia (BMI) Cabang Palu dengan religiositas sebagai variabel moderasi. Data penelitian dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada seluruh karyawan BMI di cabang tersebut yang kemudian dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya organisasi dan kebahagiaan di tempat kerja secara signifikan meningkatkan kinerja karyawan, sementara kepemimpinan tidak berpengaruh signifikan. Menariknya, religiositas memperkuat dampak positif budaya organisasi terhadap kinerja karyawan yang mengindikasikan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat memperdalam komitmen dan produktivitas karyawan dengan memberikan makna dan tujuan yang lebih besar dalam pekerjaan mereka. Studi ini menekankan pentingnya integrasi aspek religiositas untuk membangun lingkungan kerja yang inklusif dan produktif di perbankan syariah. Penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif dan sampel yang lebih beragam masih diperlukan untuk memvalidasi dan memperluas hubungan ini.
How Islamic Social Finance Boosts Psychological Well-Being? Cahyanti, Irni Sri; Ulfah, Ulfah; Suhendi, Endi
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.19998

Abstract

While the economic impact of Islamic social finance (ISF) is increasingly acknowledged, its potential contribution to psychological well-being remains underexplored. This study investigates the relationship between ISF practices (Zakat, Infaq, Sadaqah, Waqf) and psychological well-being. Using a qualitative descriptive approach, the study undertakes a comprehensive review of existing literature, encompassing books and national and international journal articles. Findings demonstrate a strong correlation between ISF and various dimensions of psychological well-being, including self-acceptance, positive relationships, autonomy, environmental mastery, life goals, and self-development. This positive association is attributed to ISF's central role in achieving Falah (spiritual prosperity) within the maqashid al-sharia (objectives of Islamic law) framework, fostering social justice and shared prosperity conducive to individual well-being. The study recommends that philanthropic institutions prioritize enhancing service quality in collecting and distributing ISF funds to maximize their positive impact on psychological well-being within the community.========================================================================================================ABSTRAK – Bagaimana Keuangan Sosial Syariah Meningkatkan Kesejateraan Psikologis? Meskipun dampak ekonomi keuangan sosial syariah (KSS) semakin diakui, potensinya terhadap kesejahteraan psikologis masih belum banyak dieksplorasi. Studi ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara praktik KSS (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) dengan kesejahteraan psikologis. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, studi ini melakukan tinjauan literatur yang komprehensif dengan menganalisis sejumlah buku dan artikel, baik dari jurnal nasional maupun internasional. Temuan menunjukkan hubungan yang erat antara KSS dan berbagai dimensi kesejahteraan psikologis, meliputi penerimaan diri, hubungan positif, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pengembangan diri. Hubungan positif ini tidak terlepas dari peran sentral KSS dalam mencapai Falah (kesejahteraan spiritual) dalam kerangka maqashid al-syariah (tujuan hukum Islam), mendorong keadilan sosial, dan meningkatkan kemakmuran bersama yang kondusif bagi kesejahteraan individu. Studi ini merekomendasikan agar lembaga filantropi memprioritaskan peningkatan kualitas layanan dalam pengumpulan dan pendistribusian dana KSS untuk memaksimalkan dampak positifnya terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat.
Enhancing Audit Quality through a Sharia-Based Model Saputra, Julfan; Siregar, Saparuddin; Kamilah, Kamilah
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.25116

Abstract

Audit quality is crucial for ensuring accountability in the public interest, yet it remains vulnerable to fraud. Persistent concerns from regulators and investors about the audit quality in public accounting firms highlight the limitations of conventional standards, which primarily focus on technical and ethical dimensions while often failing to prevent fraud. This study aims to develop a sharia-based audit quality model and analyze its influencing factors, with religiosity serving as a moderating variable. A quantitative approach was adopted to evaluate the research variables, using the Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) method for data analysis. SEM-PLS was chosen for its robust measurement capabilities, its ability to explore structural variables, and its suitability for model fitting. The results reveal that the predictor variables—independence, competence, motivation, and time budget pressure—moderated by religiosity, significantly affect Sharia audit quality. This is evidenced by an R-Square value of 0.873 (87%), indicating a high structural impact. However, only independence demonstrated a significant partial effect on Sharia audit quality. While competence, religiosity, motivation, and time budget pressure influence Sharia audit quality, their structural-level impact is minimal. Additionally, religiosity moderates the relationship between independence and Sharia audit quality. The study recommends enhancing auditor religiosity, which has been shown to positively influence Sharia audit quality.========================================================================================================ABSTRAK – Peningkatan Kualitas Audit dengan Model berbasis Syariah. Kualitas audit sangat penting untuk memastikan akuntabilitas dalam kepentingan publik, namun tetap rentan terhadap fraud. Kekhawatiran terhadap kualitas audit terus diungkapkan oleh regulator dan investor, terutama karena standar audit konvensional yang hanya berfokus pada aspek teknis dan etika sering kali gagal mencegah fraud. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kualitas audit berbasis syariah dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya, dengan religiositas sebagai variabel moderasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif, analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS), yang dipilih karena keunggulannya dalam menghasilkan pengukuran yang akurat, mengeksplorasi variabel-variabel struktural, serta kemampuannya memodelkan penelitian dengan tingkat kesesuaian yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, variabel prediktor yaitu independensi, kompetensi, motivasi, dan time budget pressure yang dimoderasi oleh variabel religiositas berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit syariah. Hal ini dibuktikan dengan nilai R Square sebesar 0,873 atau 87%, yang masuk pada efek level struktural tinggi. Secara parsial, hanya variabel independensi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit syariah. Sementara itu, variabel kompetensi, religiusitas, motivasi, dan time budget pressure memiliki pengaruh, namun berada pada level efek struktural rendah terhadap kualitas audit syariah. Pada efek moderasi, variabel religiositas terbukti memoderasi pengaruh independensi terhadap kualitas audit syariah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan religiositas auditor, yang terbukti memberikan pengaruh positif pada kualitas audit syariah.
The Role of Financial Inclusion in Islamic Bank Efficiency: Evidence from Asian OIC Countries Taufiq, Taufiq; Razali, Razali
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22894

Abstract

The role of financial inclusion in determining the efficiency of Islamic banks remains understudied despite its significance. This study seeks to bridge this gap by introducing financial inclusion as a novel variable influencing Islamic bank performance. Analyzing panel data from Sharia banking across OIC Asian countries from Q3 2018 to Q1 2023, the research employs random effect model regression analysis (GLS) to assess the impact of financial inclusion on two efficiency measures, operational and cost efficiency. The analysis reveals that financial inclusion positively impacts cost efficiency but negatively affects operational efficiency. This indicates that financial inclusion in these banks is low due to factors such as high participation of low-income customers, interest rate restrictions, and limited product offerings by Islamic banks. In addition, cultural and economic factors also contribute to this trend. To enhance cost efficiency, it is recommended that Islamic banks improve service accessibility for customers. Furthermore, operational efficiency is positively influenced by capital adequacy, loans, profitability, and bank size, while negatively affected by banking risk. Policymakers should focus on strengthening financial infrastructure and legal systems to promote greater financial inclusion. Bank managers are advised to exercise caution in loan issuance to avoid inefficiencies, and identifying key efficiency factors is crucial for developing effective strategies for sustainability in Islamic banking.========================================================================================================ABSTRAK – Peran Inklusi Keuangan dalam Efisiensi Bank Syariah: Bukti dari Negara-negara OKI di Asia. Walaupun dianggap penting, peran inklusi keuangan syariah dalam menentukan efisiensi bank syariah masih belum banyak dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel inklusi keuangan syariah terhadap efisiensi bank syariah di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang ada di Asia dari kuartal 3-2018 sampai kuartal 1-2023. Penelitian ini mengumpulkan data panel dari sejumlah bank syariah di negara-negara tersebut untuk kemudian dilakukan analisis regresi dengan random effect model (GLS), menggunakan dua ukuran efisiensi, yaitu efisiensi operasional dan efisiensi biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi keuangan berdampak positif terhadap efisiensi biaya tetapi berdampak negatif terhadap efisiensi operasional. Hal ini berarti bahwa rendahnya inklusi keuangan pada perbankan syariah disebabkan oleh sejumlah faktor seperti tingginya jumlah nasabah berpenghasilan rendah, pembatasan suku bunga, dan kurangnya variasi produk yang ditawarkan oleh bank syariah. Selain itu, faktor budaya dan ekonomi juga berperan signifikan terhadap hasil ini. Untuk meningkatkan efisiensi biaya, disarankan agar bank syariah meningkatkan aksesibilitas layanan bagi pelanggan. Selain itu, efisiensi operasional dipengaruhi secara positif oleh kecukupan modal, pinjaman, profitabilitas, dan ukuran bank, sementara dipengaruhi secara negatif oleh risiko perbankan. Pembuat kebijakan harus fokus pada penguatan infrastruktur keuangan dan sistem hukum untuk mendorong inklusi keuangan yang lebih baik. Pihak bank disarankan untuk berhati-hati dalam penerbitan pinjaman untuk menghindari inefisiensi, dan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang dapat meningkatkan efisiensi sehingga dapat merumuskan strategi keberlanjutan bagi perbankan syariah. 
Maximizing Local Own-Source Revenue: Tax Strategies from an Islamic Public Finance Perspective Safarida, Nanda; Hisan, Khairatun; Lazira, Widya Asriani
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.21203

Abstract

This study investigates the contribution of hotel and restaurant taxes to the enhancement of Local Own-Source Revenue (PAD) in Langsa City, Aceh, Indonesia, while evaluating the government strategies to optimize tax contributions in alignment with Islamic public finance principles. Employing a qualitative approach, primary data were gathered through interviews with hotel and restaurant owners and government officials at BPKD Langsa, complemented by content analysis of both primary and secondary data. Findings reveal that from 2016 to 2022, the contribution of these taxes to PAD remains minimal, constituting only 3% of the total revenue. Key challenges include taxpayers reluctance to pay due to a lack of transparency in financial management. The Langsa City government addresses these issues through continuous promotion, imposing fines, and enhancing oversight. These efforts align with Islamic economic principles, as they are not burdensome to taxpayers and aim to fulfill societal needs. Additionally, the government is advancing transparency in tax collection via the QRIS payment system. The study recommends that stakeholders enhance supervision and functions to optimize the PAD of Langsa City. This research provides valuable insights into the intersection of local tax policy and Islamic economic principles, offering implications for similar contexts in other regions.========================================================================================================ABSTRAK – Maksimalisasi Pendapatan Asli Daerah: Strategi Pajak dalam Perspektif Keuangan Publik Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Langsa, Aceh, Indonesia, dan upaya yang dilakukan dalam memaksimalkan pajak hotel dan restoran, serta kesesuaiannya dengan teori keuangan publik Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan berbagai sumber dan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap PAD Kota Langsa selama tujuh tahun terakhir (2016-2022) masih sangat rendah, yaitu di bawah 3% dari total PAD. Kendala utama yang dihadapi Pemerintah Kota Langsa adalah kurangnya kesadaran wajib pajak pemilik hotel dan restoran untuk membayar pajak, yang disebabkan oleh kurangnya transparansi dalam pengelolaan keuangan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Kota Langsa telah melakukan berbagai upaya, seperti promosi berkelanjutan melalui baliho, penerapan denda dan sanksi, serta memperketat fungsi pengawasan. Upaya ini sejalan dengan teori ekonomi Islam, terutama dalam konsep keuangan publik Islam, karena tidak memberatkan wajib pajak dan pajak dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Selain itu, pemerintah juga berupaya mendorong transparansi dalam proses pemungutan pajak melalui aplikasi QRIS. Penelitian ini memberikan rekomendasi tentang keselarasan antara kebijakan pajak lokal dengan prinsip ekonomi Islam dan pengaplikasiannya untuk konteks serupa di wilayah lain.
Islamic Banking and Agricultural Development in Aceh: A Strategic Partnership Model Using ANP Methodology Al Amin, Haris; Ramadhan, Muhammad; Sugianto, Sugianto
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 14, No 1 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.24028

Abstract

The persistent challenges to farmer welfare in Aceh, Indonesia, stem from interconnected internal and external constraints. Bank Aceh Syariah (BAS) has emerged as a pivotal institution in addressing these issues through partnership-driven empowerment models. This study develops a comprehensive empowerment framework leveraging BAS strategic role to enhance agricultural sustainability and farmer livelihoods. Employing a mixed-methods approach, it integrated qualitative interviews with multi-stakeholder perspectives (academics, government agencies, farming communities, and BAS policymakers) into an Analytic Network Process (ANP) analysis using Super Decisions Software 3.10. The findings identify significant internal barriers, such as knowledge deficits, limited access to technology, and innovation stagnation, alongside external challenges like climate risks, market volatility, and restricted access to Islamic financial services. The study highlights the interdependent dynamics of socioeconomic, environmental, and institutional factors shaping agricultural development. The proposed strategic framework emphasizes coordinated actions in resource distribution, policy alignment, and market integration, facilitated through strengthened BAS-farmer partnerships. This research contributes to the discourse on sustainable agricultural ecosystems by offering actionable recommendations for policymakers, emphasizing the critical role of integrated financial and institutional strategies in fostering resilience and development.========================================================================================================ABSTRAK - Perbankan Syariah dan Pembangunan Pertanian: Model Kemitraan Strategis dengan Metode ANP. Kesejahteraan petani di Aceh, Indonesia, terus menghadapi tantangan yang kompleks akibat berbagai hambatan internal dan eksternal yang saling terkait. Bank Aceh Syariah (BAS) telah berperan sebagai institusi strategis dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut melalui implementasi model pemberdayaan berbasis kemitraan. Penelitian ini merumuskan sebuah kerangka pemberdayaan yang komprehensif dengan memanfaatkan peran strategis BAS untuk meningkatkan keberlanjutan sektor pertanian sekaligus kesejahteraan petani. Dengan menerapkan pendekatan metode campuran, penelitian ini mengintegrasikan wawancara kualitatif dari berbagai pemangku kepentingan—meliputi akademisi, instansi pemerintah, komunitas petani, dan pembuat kebijakan BAS—ke dalam analisis Analytic Network Process (ANP) menggunakan perangkat lunak Super Decisions 3.10. Hasil analisis mengidentifikasi hambatan internal utama, seperti kesenjangan pengetahuan, keterbatasan akses terhadap teknologi, dan minimnya inovasi, serta tantangan eksternal berupa kerentanan terhadap perubahan iklim, ketidakstabilan pasar, dan akses yang terbatas ke layanan keuangan syariah. Temuan penelitian ini mengungkapkan adanya keterkaitan yang erat antara faktor sosial-ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan yang memengaruhi pembangunan sektor pertanian. Kerangka strategis yang dihasilkan menekankan pentingnya intervensi terkoordinasi dalam alokasi sumber daya, harmonisasi kebijakan, dan penguatan akses pasar melalui kemitraan yang diperkuat antara BAS dan petani. Penelitian ini menegaskan urgensi pendekatan finansial-kelembagaan yang terintegrasi untuk menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh serta memberikan rekomendasi strategis yang relevan bagi pembuat kebijakan dalam mendukung inisiatif pembangunan berkelanjutan.
Decentralized Finance and Its Maslahah: Shaping the Future of Financial Services in Indonesia Amir, Muhammad Fakhri; Kadir, Syahruddin; Sumarlin, Sumarlin
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.22857

Abstract

Technological innovations are revolutionizing the financial sector through decentralized systems. The emergence of digital currencies necessitates a shift in the financial system toward services that accommodate the development of digital money in the era of Society 5.0. This study aims to explore the potential of Decentralized Finance (DeFi) and its maslahah (benefit) for future financial services in Indonesia. A qualitative approach was employed using library research by collecting primary and secondary data from journals, books, and other literature. Data were analyzed using descriptive analysis through data grouping, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that DeFi has the potential to become one of the future financial services as it aligns with technological advancements and the development dimensions of the Society 5.0 era. DeFi offers five maslahah benefits: (1) Protecting religion (hifzu al-din) by serving as an alternative investment instrument; (2) Protecting life (hifzu an-nafs) by becoming a financial market instrument; (3) Protecting progeny (hifzu al-nasl) by encouraging income growth; (4) Protecting intellect (hifzu al-‘aql) by developing human resource potential; and (5) Protecting wealth (hifzu al-maal) by accommodating sources of income and financing for the benefit of society. Therefore, DeFi holds significant potential to contribute positively to Indonesia's financial future by providing services aligned with the values of maslahah and the technological advancements of Society 5.0.========================================================================================================ABSTRAK - Desentralisasi Keuangan dan Maslahahnya: Membentuk Layanan Keuangan Masa Depan di Indonesia. Inovasi teknologi mengarah pada revolusi sektor keuangan melalui sistem terdesentralisasi. Kemunculan mata uang digital memaksa sistem keuangan untuk beralih ke layanan yang mengakomodasi perkembangan uang digital di era 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi Decentralized Finance (DeFi) berikut maslahahnya sebagai layanan keuangan masa depan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan, dimana data-data dikumpulkan dari artikel jurnal, buku, dan literatur lainnya. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif melalui pengelompokan data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DeFi memiliki potensi untuk menjadi salah satu layanan keuangan di masa depan karena selaras dengan kemajuan teknologi dan dimensi pengembangan untuk era 5.0. DeFi menawarkan lima manfaat maslahah: (1) Melindungi agama (hifzu al-din) dengan menjadi instrumen investasi alternatif; (2) Melindungi jiwa (hifzu an-nafs) dengan menjadi instrumen pasar keuangan; (3) Melindungi keturunan (hifzu al-nasl) dengan mendorong pertumbuhan pendapatan; (4) Melindungi akal (hifzu al-‘aql) dengan mengembangkan potensi sumber daya manusia; dan (5) Melindungi harta (hifzu al-maal) dengan mengakomodasi sumber pendapatan dan pembiayaan untuk kepentingan masyarakat. DeFi memiliki potensi yang signifikan untuk berkontribusi secara positif terhadap masa depan sistem keuangan Indonesia dengan menyediakan layanan yang sejalan dengan nilai-nilai maslahah dan kemajuan teknologi era 5.0. 
Do Tuition Fees Crowd Out Donations for Religious Public Goods? Hendri, Davy
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i2.21133

Abstract

The provision of public goods, particularly religious educational facilities like Al-Qur’an Learning Center (Taman Pendidikan Al-Qur’an - TPA), often faces financial constraints due to their reliance on voluntary donations. To address funding gaps, some institutions have adopted a hybrid model that combines voluntary donations with mandatory tuition fees. This study investigates the impact of introducing tuition fees on donation amounts and the perceived utility of TPA services among residents in Padang City, West Sumatra, Indonesia. Using Ordinary Least Squares (OLS) regression analysis on data from 600 households across 30 housing estates, the research examines the relationship between tuition fees, voluntary donations, and the perceived utility of TPA services. Utilizing the Lancastrian model, the study reveals an inverse U-shaped relationship between donations and perceived utility. While increased tuition fees initially correlate with a perceived improvement in TPA services or infrastructure, likely due to an association between higher fees and quality, this effect diminishes as fees continue to rise. This suggests that while residents may accept and even welcome reasonable fees, excessive charges can discourage voluntary donations, even if individuals remain intrinsically motivated to support the TPA. These findings highlight the importance of carefully balancing financial sustainability with community engagement in TPA funding models. Striking this balance is essential to ensure the continued success and community support of these important institutions.========================================================================================================ABSTRAK – Apakah Pengenaan Biaya untuk Fasilitas Keagamaan Publik mengurangi Donasi? Pengelolaan fasilitas publik, terutama dalam pendidikan keagamaan seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), seringkali mengalami kendala keuangan. Sumber pendanaan yang hanya mengandalkan sumbangan masyarakat menjadi kendala utama. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa lembaga pendidikan mengadopsi model pembiayaan gabungan antara sumbangan sukarela dengan biaya wajib. Studi ini mengkaji dampak pembebanan biaya pendidikan terhadap jumlah sumbangan dan manfaat yang dirasakan dari TPA di kalangan penduduk Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Penelitian ini melibatkan 600 rumah tangga di 30 kompleks perumahan. Melalui analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS), studi ini mengkaji hubungan antara biaya pendidikan, sumbangan sukarela, dan manfaat yang dirasakan dari TPA. Dengan menggunakan model Lancastrian, studi ini menemukan hubungan berbentuk U terbalik antara sumbangan dan utilitas yang dirasakan. Meskipun pembebanan biaya pendidikan berkorelasi positif dengan peningkatan layanan atau infrastruktur TPA, hal ini akan berkurang seiring dengan meningkatnya biaya. Artinya, masyarakat pada dasarnya menerima pembebanan biaya pendidikan yang wajar. Namun, pembebanan biaya yang dianggap berlebihan dapat mengurangi sumbangan sukarela, meskipun mereka secara intrinsik tetap mendukung keberlangsungan TPA. Temuan ini menekankan pentingnya model pendanaan yang dapat menyeimbangkan keberlanjutan finansial dengan keterlibatan masyarakat. Model pendanaan yang ideal akan menjamin kesuksesan lembaga ini, sekaligus menjaga dukungan masyarakat yang berkelanjutan.