cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
ANALISIS RISIKO GEMPA DI KOTA SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN METODE GUMBEL Unwanus Sa'adah; Yusep Muslih Purwana; Noegroho Djarwanti
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.378 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37304

Abstract

Indonesia merupakan wilayah yang rawan gempa karena terletak di antara tiga lempeng tektonik dunia. Beberapa gempa besar kerap terjadi di Indonesia yang menimbulkan banyak kerusakan, baik berupa kerusakan tanah maupun kerusakan struktur yang mengakibatkan kerugian besar. Untuk meminimkan kerusakan struktur, dapat diupayakan dengan perencanaan bangunan yang memperhitungkan gempa rencana. Dalam perhitungan gempa rencana, salah satu parameter yang biasanya dipakai adalah percepatan tanah puncak. Percepatan tanah puncak dapat dicari dengan menggunakan analisis Fungsi Atenuasi pada daerah yang akan ditinjau. Dalam penelitian ini digunakan Fungsi Atenuasi Boore et al. (1997) dan Youngs et al. (1997) dengan mempertimbangkan nilai cepat rambat gelombang geser pada lokasi yang ditinjau. Analisis Fungsi Atenuasi juga dapat disertai dengan analisis probabilitas untuk mendapatkan percepatan tanah puncak dengan kala ulang tertentu. Analisis probabilitas dalam penelitian ini menggunakan Metode Gumbel. Hasil penelitian menunjukkan percepatan tanah puncak di Kota Surakarta sebesar 0,0985 gal untuk kala ulang 500 tahun dan 0,1217 gal untuk kala ulang 2500 tahun.
PENERAPAN METODE CRASHING DALAM PERCEPATAN DURASI PROYEK DENGAN ALTERNATIF PENAMBAHAN JAM LEMBUR DAN SHIFT KERJA (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Hotel Grand Keisha, Yogyakarta) Fika Giri Aspia Ningrum; Widi Hartono; Sugiyarto Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.225 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i2.36873

Abstract

Penyusunan kegiatan dalam proses penjadwalan harus dibuat dengan detil agar dapat membantu dalam evaluasi proyek serta menciptakan pelaksanaan proyek konstruksi yang efektif dan efisien. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan membandingkan besarnya durasi dan biaya setelah dilakukan percepatan dengan menggunakan alternatif penambahan jam kerja (lembur) dan shift kerja. Studi kasus pada penelitian ini mengambil proyek pembangunan Hotel Grand Keisha yang terletak di Yogyakarta. Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain kurva S, rekapitulasi perhitungan biaya proyek, daftar Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan daftar harga satuan upah pekerja. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan merancang network planning, menghitung crash cost pada penambahan jam kerja dan shift kerja, menghitung biaya langsung dan biaya tidak langsung pada setiap kegiatan yang berubah akibat perubahan durasi pelaksanaan, percepatan durasi pekerjaan, perhitungan cost slope, serta penentuan biaya dan durasi optimum akibat penerapan metode crashing. Setelah dilakukan percepatan dengan metode crashing, untuk alternatif penambahan jam kerja diperoleh pengurangan total cost sebesar Rp.1.012.856.772,54 dari total cost normal Rp.90.620.898.879,84 menjadi Rp.89.608.042.107,30 dengan durasi 392 hari. Sementara untuk alternatif shift kerja terjadi pengurangan total cost sebesar Rp.1.240.492.176,44 dari total cost normal Rp.90.620.898.879,84 menjadi Rp.89.380.406.703,40 dengan durasi 382 hari.
EVALUASI TARIF BERDASARKAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK), ABILITY TO PAY (ATP), WILLINGNESS TO PAY (WTP), DAN ANALISIS BREAK EVEN POINT (BEP) BUS BATIK SOLO TRANS (Studi Kasus: Koridor 1) Tb. Pradika; Slamet Jauhari Legowo; Budi Yulianto
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.271 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i2.37191

Abstract

Tarif merupakan salah satu unsur angkutan umum yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan operasional. Kebijakan tarif yang berlaku harus ditinjau terhadap dua aspek, penumpang selaku konsumen dan pengelola angkutan umum. Angkutan bus BST merupakan angkutan bus kota yang saat ini sedang digalakkan pengoperasiaannya di daerah Surakarta. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi tarif yang berlaku saat ini berdasarkan penghitungan BOK, ATP, WTP, dan analisis BEP. Data penelitian ini didapat dengan mewawancarai dengan Perum Damri sebagai pengelola bus BST dan dengan menyebarkan kuisioner kepada pengguna angkutan bus BST koridor 1. Data yang didapat kemudian di analisis untuk mengetahui besarnya BOK, ATP, WTP serta nilai BEP pada bus BST Koridor 1. Dalam hal ini penghitungan BOK menggunakan 3 metode yaitu Dephub, DLLAJ, FSTPT serta dilakukan dalam 2 skenario. Skenario 1 yaitu kondisi dimana operator membeli bus baru, sedangkan skenario 2 adalah kondisi dimana bus merupakan hibah dari pemerintah. Penghitungan ATP dan WTP dilakukan pada 2 hari, yaitu hari kerja dan libur. Hasil analisis data yang didapatkan pada skenario 1 penghitungan BOK menurut metode Dephub sebesar Rp. 5.621,68, metode DLLAJ sebesar Rp. 5.532,91, dan metode FSTPT sebesar Rp. 5.087,92. Pada skenario 2 terjadi penurunan sebesar 19 - 20 % dibanding skenario 1. Jika dilihat nilai BOK, tarif saat ini masih dibawah dari nilai BOK. Berdasarkan ATP pada hari kerja sebesar Rp 3.488,95 untuk kategori umum dan Rp. 2.000,22 untuk kategori pelajar. Sedangkan pada hari libur sebesar Rp. 3.485,4, untuk kategori umum dan Rp. 1.996,07, untuk kategori pelajar. Besarnya nilai WTP pada hari kerja sebesar Rp. 3.374,33 untuk kategori umum dan Rp 2.136,36 untuk kategori pelajar, pada hari libur sebesar Rp. 3.422,37 untuk kategori umum dan Rp. 2.000 untuk kategori pelajar. Hal ini menunjukkan nilai ATP & WTP sudah mendekati dengan tarif yang berlaku saat ini, walaupun pada kategori umum nilai ATP & WTP sedikit dibawah dari tarif yang berlaku. Nilai BEP berdasarkan load factor pada hari kerja sebesar 0,63 dan pada hari libur sebesar 0,59 pada skenario 1. Penghitungan nilai BEP pada skenario 2 terjadi penurunan sebesar 18 - 20 % dibanding skenario 1. Selain itu, pada skenario 1 membutuhkan waktu 19,57 tahun untuk impas dan membutuhkan waktu 1,61 tahun pada skenario 2.
PEMETAAN ANGKA KEAMANAN LERENG BERDASARKAN DATA HUJAN (STUDI KASUS : BUKIT GANOMAN, DESA KORIPAN, KECAMATAN MATESIH, KABUPATEN KARANANYAR) Pengkuh Jalu Kurniawan; Raden Harya Dananjaya; Raden Roro Rintis Hadiani
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2018): Juni 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.194 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i2.36573

Abstract

   Karanganyar merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang tergolong sebagai lokasi rawan longsor, sebanyak 34 titik di 8 kecamatan di Kabupaten Karanganyar teridentifikasi rawan longsor. Salah satu faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah hujan. Hujan dengan intensitas tinggi (>100 mm/hari) dapat memicu terjadinya longsor, hal tersebut dikarenakan air hujan yang terinfiltrasi kedalam tanah menyebabkan proses penjenuhan tanah sehingga massa tanah meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat peta angka keamanan lereng akibat pengaruh  hujan dan sudut kemiringan dilokasi bukit Ganoman, Desa Koripan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.Data tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah data tanah primer yang diperoleh dari sampel tanah tidak terganggu dan data sekunder tanah yang diambil dari penelitian sebelumnya di lokasi yang sama. Data hujan yang digunakan adalah data hujan dua harian maksimum selama tahun 2015 dan 2016 dari stasiun hujan Matesih dan Karanganyar. Asumsi lama hujan yang terjadi adalah hujan 6 jam-an. Data variasi kemiringan diperoleh dari ASTER GDEM Kabupaten Karanganyar. Ketebalan tanah jenuh akibat infiltrasi air hujan dihitung menggunakan metode Green-Ampt. Stabilitas lereng dihitung menggunakan software GeoStudio Slope/W. Dan kemudian SF yang diperoleh dari Geostudio Slope/W diplotkan ke peta Rupa Bumi sehingga didapatkan peta risiko longsor. Dari hasil penelitian diketahui bukit Ganoman memiliki variasi kemiringan lereng berkisar antara 0 hingga 45 derajat dan hujan dua harian maksimum yang terjadi pada tahun 2015 dan 2016 dengan intensitas hujan 6 jam-an adalah 17,219 mm/jam, sehingga menyebabkan ketebalan tanah jenuh (Hsat) berkisar antara 3,8 hingga 5,48 meter. Berdasarkan kriteria Bowles (1989) klasifikasi lereng bukit Ganoman adalah : 1) Lereng dengan kondisi stabil, yaitu lereng yang mempunyai kemiringan 0º hingga 30º, 2) lereng dengan kondisi kritis, yaitu lereng yang mempunyai kemiringan 31º hingga 35º, dan 3) lereng dengan kondisi labil, yaitu lereng yang mempunyai kemiringan 36º hingga 45º. 
Prioritas Perbaikan Saluran Drainase Dengan Metode Analytic Network Process (ANP) Di Kelurahan Kadipiro Bagian Barat Suprapto, Mamok; Suyanto, Suyanto; Prasetya, Edwin
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.616 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37090

Abstract

Genangan menyebabkan kerugian ekonomi maupun sosial. Namun akibat terbatasnya dana dari pemerintah daerah maka perbaikan sistem drainase secara menyeluruh tidak dapat dilaksanakan, maka diperlukannya prioritas perbaikan saluran drainase yang efektif untuk mencegah terjadinya genangan di Kelurahan Kadipiro Bagian Barat Dalam penelitian ini dibagi dalam empat tahap penelitian. Tahap pertama yaitu melakukan anlisis debit rencana menggunakan metode rasional pada setiap segmen saluran. Tahap kedua yaitu melakukan analisis kapasitas saluran pada pada setiap segmen saluran yang tergenang di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Pada tahap ketiga yaitu menentukan daerah prioritas perbaikan saluran drainase di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Berdasarkan analisis menggunakan software ANP diperoleh daerah genangan A3 menjadi daerah prioritas genangan di Kelurahan Kadipiro bagian barat. Tahap ke empat yaitu menentukan konsep perbaikan saluran pada daerah prioritas genangan. Pada daerah genangan A3 terdapat segmen saluran S3, S4, S5 dan S6. Konsep perbaikan yang disarankan pada segmen saluran S3, S4, S5 dan S6 desain ulang pada dimensi saluran drainase.
PERBANDINGAN NILAI MARSHALL DASPAL (DAMAR ASPAL) DI LABORATORIUM DENGAN HASIL CORING DI LAPANGAN SERTA ANALISIS SKID RESISTANCE Satria Lima Santara; Ary Setyawan; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 4 (2019): DESEMBER
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.913 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i4.38485

Abstract

Kebutuhan akan aspal konvensional yang terus meningkat membutuhkan alternatif penggunaan bahan lain sebagai pengganti yang disebut bioaspal. Salah satu bahan yang sedang dikembangkan saat ini adalah daspal (damar aspal). Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan benda uji daspal yang dibuat di laboratorium dengan benda uji hasil coring dari lapangan dengan variasi pemadatan menggunakan pengujian Marshall serta skid resistance. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental di laboratorium dan lapangan. Adapun variasi pemadatan lapangan yang dilakukan yaitu 6 kali, 10 kali, dan 14 kali. Sebelum dilakukan proses coring, pengujian skid resistance dilakukan dengan alat rolling straightedge di lapangan. Coring pada setiap variasi pemadatan dilakukan guna mengambil benda uji untuk pengujian Marshall lapangan. Komposisi penyusun daspal adalah damar serbuk (350 gr), damar bongkahan (100 gr), minyak goreng (205 gr), fly ash (150 gr), dan lateks (4 %). Analisis hasil pengujian Marshall benda uji laboratorium didapatkan nilai stabilitas 1118,519 kg, flow 4,65 mm dan MQ 241,102 kg/mm. Nilai skid resistance 6 kali pemadatan 9,83 mm/m, 10 kali pemadatan 8,83 mm/m, dan 14 kali pemadatan 7,67 mm/m. Nilai stabilitas, flow, dan MQ benda uji yang dibuat di laboratorium lebih besar daripada stabilitas, flow dan MQ benda uji hasil coring dari lapangan dengan semua variasi pemadatan. Semakin besar nilai skid resistance mengindikasikan tekstur permukaan semakin rata.
Kajian Kuat Tarik Belah pada Beton Ringan Memadat Mandiri Menggunakan Agregat Kasar Pecahan Genteng dengan Variasi Kadar Viscocrete Mediyanto, Antonius; Wibowo, Wibowo; Arif Fathoni, Ahmad Rijal
Matriks Teknik Sipil Vol 8, No 3 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.813 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v8i3.45539

Abstract

ABSTRAKDewasa ini, dunia konstruksi khusunya beton mengalami banyak perkembangan, salah satu beton yang dikembangkan adalah beton ringan memadat mandiri (Light-weight Self Compacting Concrete). Beton ini merupakan beton yang terbuat dari agregast ringan yang mampu memadat mandiri tanpa bantuan alat penggetar (vibrator). Agregat ringan alami yaitu agregat yang diperoleh dari bahan-bahan alami seperti batu apung, skoria, atau tufa dan agregat buatan adalah agregat yang dibuat melalui proses pemanasan bahan-bahan, seperti tanah liat, abu terang, abu sabak, dan batu lempung. Untuk meningkatkan workability pada beton ringan ini maka digunakan penambahan admixture viscocrete sehingga diharapkan beton segar mudah mengalir dan melakukan pemadatan mandiri. Dalam penelitian ini mengamati kuat tarik belah akibat penambahan kadar viscocrete. Kadar viscocrete yang digunakan ialah 1,5% ; 1,75% ; 2% ; dan 2,25%. Benda uji yang digunakan untuk pengujian kuat tarik belah adalah silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Kata Kunci: agregat ringan, beton ringan memadat mandiri, kuat tarik belah, viscocrete, workabilitas
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BENDRAT DENGAN FLY ASH DAN BAHAN TAMBAH BESTMITTEL PADA BETON MUTU TINGGI METODE DREUX TERHADAP KUAT GESER. Azhari, Romi; Rismunarsi, Endang; Azhari, Romi
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.802 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36977

Abstract

Disebabkan perkembangan zaman, struktur bangunan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Struktur beton bertulang merupakan salah satu struktur yang sangat diandalkan kekuatannya saat ini dan banyak dimanfaatkan pada pembangunan gedung-gedung tinggi, jembatan dengan bentang panjang, tower dan sebagainya. Struktur demikian membutuhkan beton mutu tinggi dengan kuat tekan lebih besar dari 6000 Psi atau 41,4 MPa yang digunakan untuk menopang komponen struktur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat bendrat terhadap sifat-sifat mekanik beton berupa kuat tekan, dan kuat geser beton mutu tinggi metode dreux. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan, Benda uji berbentuk balok dengan dimensi 8 x 12 x 100 cm untuk pengujian kuat geser. Benda uji masing-masing berjumlah 3 buah untuk 1 variasi kadar penambahan serat. Persentase serat yang digunakan adalah 0%; 0,5%; 1%; 1,5%; dan 2%. Pengujian menggunakan alat CTM (Compression Testing Machine) untuk pengujian kuat tekan. Peningkatan paling maksimum terdapat pada kadar penambahan serat sebesar 1% dari berat beton. Pada hasil pengujian dengan penambahan serat 0%; 0,5%; 1 %; 1,5%; dan 2% menghasilkan pembebanan rerata pada retak maksimal dan gaya geser yang terjadi pada balok beton bertulang berturut-turut sebesar 2583Kg; 2833Kg; 5250Kg; 4461Kg; 3667Kg; dengan gaya geser berturut-turut sebesar 1297Ton; 1417Ton; 2625Ton; 2208Ton; 1833 Ton dan Untuk Hasil lendutan retak pertama benda uji A berturut-turut adalah 2.2mm; 2.6mm; 3.1mm; 2.9mm; 2.5mm untuk benda uji B bertutut-turut adalah 1.8mm; 2.6mm; 3.8mm; 1.9mm 2.9mm; dan untuk benda uji C berturut-turut adalah 1.8mm; 2.7mm; 2.1mm; 3.3mm; dan 2.9mm dan lendutan beban retak maksimal benda ujia A berturut-urut adalah 2.4mm; 3.6mm; 4.9mm; 4.3mm; 3.4mm untuk benda uji B berturut-urut adalah 2.6mm; 2.8mm; 5.8mm; 4.2mm; 3.9mm dan untuk benda uji C berturut-urut adalah 2.8mm; 3.6mm; 5.1mm; 4.9mm; dan 4.4mm.
APLIKASI METODE MOCK, NRECA, TANK MODEL DAN RAINRUN DI BENDUNG TRANI, WONOTORO, SUDANGAN DAN WALIKAN Raras Phusty Kesuma; Agus Hari Wahyudi; Suyanto Suyanto
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.304 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v1i4.37503

Abstract

Dalam penghitungan simulasi debit, dikenal beberapa model yang umum digunakan seperti Metode Mock, Nreca, Tank Model dan Rainrun. Penelitian ini mencoba mengembangkan beberapa model tersebut sehingga didapatkan hasil terbaik untuk mentransformasikan hujan ke debit. Hasil transformasi terbaik menunjukkan metode yang cocok untuk diaplikasikan pada DAS Bendung Trani. Hasil perhitungan debit terbaik pada DAS Bendung Trani yaitu dengan metode Tank Model memberikan hasil statistik berupa koefisien korelasi (R) = 0,625; selisih volume (VE) = 20%; dan koefisien efisiensi (CE) = 0,664%. DAS Bendung Wonotoro yaitu dengan metode Tank Model memberikan hasil statistik berupa R = 0,462; VE = 20%; dan CE = 0,661%. DAS Bendung Sudangan yaitu dengan metode Rainrun memberikan hasil statistik berupa R = 0,233; VE = 20%; dan CE = 0,196%. DAS Bendung Walikan yaitu dengan metode Tank Model memberikan hasil statistik berupa R = 0,464; VE = 20%; dan CE = 0,391%. Hasil transformasi terbaik dari hujan ke debit di keempat DAS Bendung ditunjukkan oleh metode Tank Model.
KAJIAN KUAT LENTUR DAN KUAT LEKAT BALOK BETON BERTULANGAN BAMBU WULUNG POLOS Dian Kurniawan; Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.81 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37320

Abstract

Beton dengan tulangan baja adalah perpaduan yang kuat karena beton yang kuat terhadap tekan tetapi lemah terhadap tarik dan tulangan baja yang kuat terhadap tarik tetapi lemah terhadap tekan. Akan tetapi baja tulangan merupakan bahan hasil tambang sehingga semakin lama akan semakin habis. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebagai alternative dicoba pemakaian tulangan bambu yang murah dan berkekuatan tinggi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan total benda uji 3 buah. Benda uji yang digunakan adalah balok beton berukuran 110 x 150 x 1700 mm. Tiga buah menggunakan tulangan baja dan tiga buah menggunakan tulangan bambu Wulung polos. Mutu beton yang direncanakan adalah f'c = 17,5 MPa. Uji lentur dilakukan pada umur 28 hari dengan metode third point loading. Enam benda uji silinder ditanam tulangan bambu wulung nodia dan tanpa nodia sedalam 15 cm dengan ukuran 60 cm x 2 cm x 0,52 cm. Tiga silinder ditanam tulangan baja ø 8 mm sebagai pembanding. Pengujian dilakukan di Laboratorium Struktur, FT UNS, pada umur beton 28 hari dengan memberikan dua titik beban terpusat pada jarak 1/3 bentang balok dari tumpuan, untuk uji lekat menggunakan alat Universal Testing Machine ( UTM ). Kuat tarik leleh bambu wulung diambil sebesar 322,529 N/mm2 atau kuat tarik pada nodia, karena kuat tarik pada nodia berkisar setengah dari kuat tarik internodia. Pola keruntuhan pada balok beton dengan tulangan baja maupun pada balok beton dengan tulangan bambu Wulung polos terletak antara 1/3 bentang tengah. Keruntuhan yang demikian termasuk dalam keruntuhan lentur. Nilai Mmax atau momen kritis pada benda uji balok beton bertulangan bambu wulung polos didapat sebesar 0,328 Tonm. Momen nominal berdasarkan analisis pada benda uji balok beton bertulangan bambu wulung pada kuat tarik Nodia didapat sebesar 0,328 Tonm, bambu wulung Internodia sebesar 0,809 Tonm. Untuk kapasitas lentur balok bertulangan bambu wulung sebesar 7,460 MPa. Hasil penelitian uji lekat tulangan pada sesar 0,25 mm didapatkan nilai bambu wulung nodia sebesar 0,1600 MPa, bambu wulung internodia sebesar 0,1783 Mpa.