cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan
ISSN : 28278240     EISSN : 28278070     DOI : https://doi.org/10.51878/healthy.v1i2
Core Subject :
HEALTHY: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Kesehatan
Articles 124 Documents
EVALUASI PEMERIKSAAN PSIKOMETRI PADA TATALAKSANA AWAL GANGGUAN CEMAS MENYELURUH DENGAN GANGGUAN DEPRESIF BERULANG: SEBUAH LAPORAN KASUS PUTRA, I PUTU RISDIANTO EKA; MARIANTO, MARIANTO; SRIANDARI, LUH PUTU FEBY
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3441

Abstract

This case report discusses a 32-year-old female patient who presented with generalized anxiety disorder and recurrent depressive disorder, current episode severe without psychotic symptoms. The patient presented with complaints of excessive anxiety that had persisted for three years and had worsened in the last three months, accompanied by physical complaints such as heartburn, palpitations, and frequent feelings of fainting. In addition to anxiety, the patient also experienced depressive symptoms such as feelings of sadness, fatigue, sleep disturbances, and loss of interest in daily activities. The results of the mental status examination showed an anxious and sad mood with preoccupation with health problems. Psychodynamic assessment identified the presence of ego defense mechanisms such as repression and somatization related to past traumatic experiences and strict parenting. The diagnostic formulation led to a primary diagnosis of generalized anxiety disorder and recurrent depressive disorder, with anankastic and anxious-avoidant personality factors supporting the patient's clinical symptoms. The management provided included pharmacotherapy with sertraline, clobazam, and risperidone, as well as non-pharmacological interventions in the form of psychoeducation, supportive psychotherapy, relaxation, and psychodynamic psychotherapy. Family therapy was also applied to increase support from the husband and family. The patient's prognosis was dubia ad bonam, with aggravating factors in the form of immature ego defense mechanisms and less than optimal family support. This report highlights the importance of a holistic approach in the management of anxiety and depressive disorders involving psychotherapy and family support in addition to pharmacological therapy. ABSTRAKLaporan kasus ini membahas seorang pasien perempuan berusia 32 tahun yang mengalami gangguan cemas menyeluruh dan gangguan depresif berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik. Pasien datang dengan keluhan kecemasan berlebihan yang telah berlangsung selama tiga tahun dan semakin memburuk dalam tiga bulan terakhir, disertai keluhan fisik seperti nyeri ulu hati, berdebar-debar, dan sering merasa akan pingsan. Selain kecemasan, pasien juga mengalami gejala depresi seperti perasaan sedih, mudah lelah, gangguan tidur, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Hasil pemeriksaan status mental menunjukkan adanya mood cemas dan sedih dengan preokupasi terhadap masalah kesehatan. Penilaian psikodinamik mengidentifikasi adanya mekanisme pertahanan ego seperti represi dan somatisasi yang berkaitan dengan pengalaman traumatis masa lalu serta pola asuh yang ketat. Formulasi diagnostik mengarah pada diagnosis utama gangguan cemas menyeluruh dan gangguan depresif berulang, dengan faktor kepribadian anankastik dan cemas menghindar yang mendukung gejala klinis pasien. Penatalaksanaan yang diberikan meliputi farmakoterapi dengan sertraline, clobazam, dan risperidone, serta intervensi non-farmakologis berupa psikoedukasi, psikoterapi suportif, relaksasi, dan psikoterapi psikodinamik. Terapi keluarga juga diterapkan untuk meningkatkan dukungan dari suami dan keluarga. Prognosis pasien bersifat dubia ad bonam, dengan faktor pemberat berupa mekanisme pertahanan ego imatur dan dukungan keluarga yang kurang optimal. Laporan ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam manajemen gangguan cemas dan depresi yang melibatkan psikoterapi dan dukungan keluarga selain terapi farmakologi.
PERAN NUNAS BAOS DALAM PROSES BERDUKA UMAT HINDU BALI: STUDI KASUS TERAPI RELIGIUS DAN SPIRITUAL ARIANI, NI KETUT PUTRI; SANTOSA, I KETUT ARYA; MAHARDIKA, I KOMANG ANA; TRISNOWATI, RINI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3442

Abstract

Grieving the death of a loved one is a universal experience influenced by cultural and spiritual factors. In Balinese Hindu culture, death is perceived as a temporary separation of the soul from the physical body, which shapes the grieving process. A notable ritual practiced among Balinese Hindus is nunas baos, a ceremony that enables family members to communicate with the deceased through a spiritual intermediary. This case study focuses on a 35-year-old Balinese woman navigating her grief after her father’s death and explores the impact of nunas baos on her emotional healing. The ritual involves specific prayers, offerings, and the presence of a medium, facilitating a connection between the living and the deceased. Observations revealed that nunas baos significantly aided the woman in processing her emotions, fostering a sense of comfort and resolution. By allowing her to express feelings of loss and receive messages purportedly from her father, the ceremony provided a framework for understanding her grief and moving toward acceptance. This study highlights the role of nunas baos within the broader context of spiritual therapy, emphasizing its potential benefits for mental health practices that incorporate cultural and religious values. As such, nunas baos not only serves as a coping mechanism for bereavement but also underscores the importance of integrating spiritual rituals into therapeutic approaches to enhance emotional well-being in culturally diverse contexts. ABSTRAKBerduka atas kematian orang yang dicintai merupakan pengalaman universal yang dipengaruhi oleh faktor budaya dan spiritual. Dalam budaya Hindu Bali, kematian dianggap sebagai pemisahan sementara jiwa dari tubuh fisik, yang membentuk proses berduka. Ritual penting yang dipraktikkan di kalangan umat Hindu Bali adalah nunas baos, sebuah upacara yang memungkinkan anggota keluarga berkomunikasi dengan almarhum melalui perantara spiritual. Studi kasus ini berfokus pada seorang wanita Bali berusia 35 tahun yang menjalani kesedihannya setelah kematian ayahnya dan mengeksplorasi dampak nunas baos terhadap penyembuhan emosionalnya. Ritual ini melibatkan doa khusus, persembahan, dan kehadiran medium, yang memfasilitasi hubungan antara yang hidup dan yang meninggal. Pengamatan mengungkapkan bahwa nunas baos secara signifikan membantu wanita dalam memproses emosinya, menumbuhkan rasa nyaman dan resolusi. Dengan mengizinkannya mengungkapkan perasaan kehilangan dan menerima pesan yang konon berasal dari ayahnya, upacara tersebut memberikan kerangka untuk memahami kesedihannya dan bergerak menuju penerimaan. Studi ini menyoroti peran nunas baos dalam konteks terapi spiritual yang lebih luas, menekankan potensi manfaatnya bagi praktik kesehatan mental yang menggabungkan nilai-nilai budaya dan agama. Dengan demikian, nunas baos tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme mengatasi duka tetapi juga menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan ritual spiritual ke dalam pendekatan terapeutik untuk meningkatkan kesejahteraan emosional dalam konteks budaya yang beragam.
ASPEK PSIKIATRI TRADISI OMED OMEDAN DI BANJAR KAJA, KELURAHAN SESETAN, KOTA DENPASAR KUSUMADEWA, BAGUS SURYA; KURNIAWAN, I GDE YUDHI; MAHARDIKA, I KOMANG ANA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3443

Abstract

The Omed-Omedan tradition is a unique cultural practice originating from Banjar Kaja, Denpasar, Bali. Held annually the day after Nyepi, this tradition involves young men and women in a ritual of mutual pulling, believed to strengthen communal bonds and foster community mental resilience. This study aims to explore the psychiatric aspects of the Omed-Omedan tradition, highlighting the social, emotional, and spiritual impacts of participation in this activity. Beyond fostering closeness among residents, the tradition serves as a means for individuals to develop self-control, identity, and maturity. A holistic cultural psychiatry approach is applied to understand the tradition's influence on participants' mental health. ABSTRAKTradisi Omed-Omedan merupakan salah satu tradisi unik yang berasal dari Banjar Kaja, Denpasar, Bali. Dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi, tradisi ini melibatkan pemuda-pemudi dalam ritual tarik-menarik yang diyakini dapat mempererat kebersamaan dan menguatkan mentalitas komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aspek psikiatri yang terdapat dalam tradisi Omed-Omedan, serta menyoroti dampak sosial, emosional, dan spiritual dari partisipasi dalam kegiatan ini. Tradisi ini tidak hanya menciptakan kedekatan antarwarga tetapi juga melatih pengendalian diri serta menumbuhkan identitas dan kedewasaan pada pesertanya. Pendekatan psikiatri budaya yang holistik diterapkan untuk memahami pengaruh tradisi ini terhadap kesehatan mental peserta.
INNOVATION CLITORIA TERNATEA INTO HERBAL TEA TO IMPROVING THE REGIONAL ECONOMY AFTER COVID-19 SAPUTRA, ARYA; ASTUTI, WIWIN; SUHARDI, MUHAMAD
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3779

Abstract

Clitoria ternatea is a blue monocotyledonous vine that has long been used as a decorative plant for gardens and hedges. This legume plant originates from tropical Asia, which has spread to tropical countries such as Indonesia. The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the economy around the world, including Indonesia. The goal of achieving the business as an innovation in the use of butterfly pea flowers which has many benefits, being able to plan, build, implement and prepare financial reports for a business and being able to improve the economy of the surrounding community in this century of the COVID-19 pandemic by buying butterfly pea flowers. The data obtained will be analyzed qualitatively using descriptive methods. The data collection method used is by using primary data and secondary data. The innovation of processing Clitoria ternatea into herbal tea in Kepayang Village has great potential to improve the regional economy after the COVID-19 pandemic ABSTRAKClitoria ternatea merupakan tanaman merambat monokotil berwarna biru yang telah lama digunakan sebagai tanaman hias taman dan pagar tanaman. Tanaman polong-polongan ini berasal dari Asia tropis, kemudian menyebar ke negara tropis seperti Indonesia. Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tujuan tercapainya usaha sebagai suatu inovasi pemanfaatan bunga telang yang mempunyai banyak manfaat, mampu merencanakan, membangun, melaksanakan dan menyusun laporan keuangan suatu usaha serta mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar pada abad ini. pandemi COVID-19 dengan membeli bunga telang. Data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Inovasi pengolahan Clitoria ternatea menjadi teh herbal di Desa Kepayang berpotensi besar meningkatkan perekonomian daerah pasca pandemi COVID-19
TATALAKSANA NON-FARMAKOLOGI PADA DEPRESI REMAJA : LAPORAN KASUS ARIRAHMAYANTI, I GUSTI AYU EKA; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; AJI, I PUTU KRISNA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3780

Abstract

Adolescents are a population that is vulnerable to mental disorders, one of which is depressive disorder. Biological and psychosocial factors can influence the occurrence of depression. Psychosocial factors that play a role include family upbringing, life events and environmental stress as well as certain personality factors. In this case report, a 22 year old man, a 7th semester student, has not worked and is not married. The patient was diagnosed with moderate depressive disorder without somatic symptoms. The patient felt sad followed by feelings of annoyance and anger since 4 years ago since the patient started studying at a university. He felt sad and disappointed because he was not in a campus life that met his expectations. The feeling of sadness felt by the patient is followed by feelings of pessimism, failure and loss of self-confidence, feeling that there is no future anymore, often thinking about just dying. The patient has anankastic personality traits with neglected parenting. This patient's neglected parenting style causes the patient's id to become more dominant than the superego, resulting in ego defense mechanisms of projection, introjection and reaction formation. In this parenting style, parents tend not to care or be involved in the child's life. The patient fails to pass the Autonomy vs. Autonomy phase. Shame and Doubt, so that they experience feelings of anxiety or perfectionism. ABSTRAKRemaja merupakan populasi yang rentan mengalami gangguan mental, salah satunya adalah gangguan depresi. Faktor biologis dan psikososial dapat memengaruhi terjadinya depresi pada remaja. Faktor psikososial yang berperan antara lain faktor pola asuh keluarga, peristiwa kehidupan dan stres lingkungan serta faktor kepribadian tertentu. Pada laporan kasus ini, laki laki berusia 22 tahun, merupakan seorang mahasiswa semester 7, belum bekerja dan belum menikah. Pasien terdiagnosis dengan gangguan depresi sedang tanpa gejala somatik. Pasien merasa sedih diikuti oleh perasaan kesal dan marah sejak 4 tahun yang lalu sejak pasien mulai berkuliah di salah satu universitas. Ia merasa sedih dan kecewa karena ia tidak berada dalam kehidupan kampus yang sesuai harapannya. Perasaan sedih yang dirasakan pasien diikuti oleh perasaan pesimis, gagal dan kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak ada masa depan lagi, sering terpikirkan untuk mati saja. Pasien memiliki ciri kepribadian anankastik dengan pola asuh neglected. Pola asuh orang tua yang neglected pada pasien ini menyebabkan id pasien menjadi lebih dominan daripada superego sehingga muncul mekanisme pembelaan ego proyeksi, introyeksi dan reaksi formasi. Pada pola asuh ini, orang tua cenderung tidak peduli maupun terlibat dalam kehidupan anak. Pasien gagal melewati fase Autonomy vs. Shame and Doubt, sehingga muncul mereka perasaan kecemasan atau perfeksionisme.
PENGARUH PEMBERIAN JUS MENTIMUN TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA IBU HAMIL MARLINA, MARLINA; TRIANINGSIH, INDAH; NOVIYANTI, SANTI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3781

Abstract

The prevalence of hypertension pregnancy in Indonesia reaches a prevalence of 12.7%. Pregnancy hypertension can cause preeclampsia, even death. The treatment used by midwives can be in the form of non-pharmacological treatments, of the therapies is using cucumbers because potassium functions as a widens blood vessels so that blood pressure decreases. In 2022, 1 case of maternal death will be caused by hypertension pregnancy in Air Naningan sub-district. Survey results obtained showed cases of hypertension in pregnancy from January to April 2024. The aim of this research was to provide the effect of giving cucumber juice on reducing blood pressure in pregnant women with hypertension in the working of the Air Naningan Health Center. The research design uses a Quasy Experiment with a Non Equivalent Control. The sampling technique used purposive sampling, sample used was 20 respondents consisting of 2 groups, the intervention group was given 150ml of cucumber juice once a day as many 10 people and the control group was not given anything as many 10 people, the time this research was 7 days. Normality test used Shapiro Wilk and analysis used Paired T test. The results showed that p value was 0.000 (p<0.05). So Ha accepted. This means that there is an effect of consuming cucumber on reducing blood pressure in pregnant women who experience hypertension in the working area of the Air Naningan Health Center. With the existence of non-pharmacological therapy using cucumber juice, it can be used by midwives to reduce hypertension rates in pregnancy. ABSTRAKPrevalensi hipertensi dalam kehamilan di Indonesia mencapai prevalensi 12,7%, hipertensi kehamilan dapat menyebabkan preeklamsi, afterload, penurunan curah jantung bahkan kematian. Penatalaksanaan yang digunakan oleh tenaga kesehatn dapat berupa pengobatan farmakologi dan non-farmakologi, salah satu terapi nya menggunakan buah mentimun karena kalium yang berfungsi sebagai vasodilator atau melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun. Pada tahun 2022 terdapat 1 kasus kematian ibu disebabkan hipertensi dalam kehamilan di kecamatan Air Naningan. Hasil survey didapatkan pada desa Air Naningan dan desa Batutegi terdapat kasus hipertensi dalam kehamilan pada bulan Januari hingga bulan April tahun 2024. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Air Naningan. Desain penelitian menggunakan Quasy Eksperiment dengan rancangan Non Equivalent Control Group. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sampel yang digunakan sebanyak 20 responden terdiri dari 2 kelompok, kelompok intervensi dengan diberikan jus mentimun 1x perhari sebanyak 150ml sebanyak 10 orang dengan kelompok kontrol tidak diberikan jus mentimun sebanyak 10 orang, waktu penelitian ini adalah selama 7 hari penuh. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk dan analisis data menggunakan Paired T test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa p value sebesar 0,000 (p<0,05). Maka Ha diterima. Artinya ada pengaruh dari konsumsi jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada ibu hamil yang mengalami hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Air Naningan Kabupaten Tanggamus. Dengan adanya terapi non farmakologi menggunakan jus mentimun ini dapat diguanakan oleh tenaga kesehatan (bidan) dalam menurunkan angka hipertensi dalam kehamilan.
PENILAIAN SKOR PANSS DAN WHOQOL-BREF PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN REGIMEN PENGOBATAN ANTIPSIKOTIK YANG BERBEDA: STUDI DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI ARYDA, LUH NYOMAN TRIWIDAYANI; MAHARDIKA, I KOMANG ANA; KUSUMADEWA, BAGUS SURYA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i2.3846

Abstract

Schizophrenia is a complex mental disorder that affects thoughts, perceptions, emotions, and behaviors, having a significant impact on individuals, families, and health systems. This study aims to evaluate the relationship between demographic characteristics, schizophrenia subtypes, comorbidities, and antipsychotic treatment regimens with the severity of schizophrenia symptoms using the PANSS scale and the quality of life of patients using WHOQOL-BREF. The study was conducted descriptively analytically with a cross-sectional approach on 88 schizophrenia patients at the Bali Mental Hospital. The results showed that the majority of patients were in the normal PANSS category (55.7%) and had quality of life at the intermediate functioning level (58%). Gender factors and comorbidities had a significant relationship with PANSS scores, while schizophrenia subtype factors and treatment regimen did not show a significant effect. Patients without comorbidities and using a combination of more than two antipsychotics tend to have a better quality of life. These findings emphasize the importance of a multidisciplinary approach, including comorbidity management, to improve clinical outcomes and quality of life of schizophrenia patients. ABSTRAKSkizofrenia merupakan gangguan mental kompleks yang memengaruhi pikiran, persepsi, emosi, dan perilaku, memberikan dampak signifikan pada individu, keluarga, dan sistem kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara karakteristik demografi, subtipe skizofrenia, penyakit penyerta, dan regimen pengobatan antipsikotik dengan keparahan gejala skizofrenia menggunakan skala PANSS serta kualitas hidup pasien menggunakan WHOQOL-BREF. Studi dilakukan secara deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 88 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Bali. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada dalam kategori PANSS normal (55,7%) dan memiliki kualitas hidup pada tingkat intermediate functioning (58%). Faktor jenis kelamin dan penyakit penyerta memiliki hubungan signifikan terhadap skor PANSS, sedangkan faktor subtipe skizofrenia dan regimen pengobatan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Pasien tanpa penyakit penyerta dan menggunakan kombinasi lebih dari dua antipsikotik cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin, termasuk pengelolaan komorbiditas, untuk meningkatkan hasil klinis dan kualitas hidup pasien skizofrenia.
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP MINAT KUNJUNG KEMBALI PASIEN KE RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA MATARAM ARYANI, MENIK; SEPTIKA, BAIQ HERDINA; WULANDARI, YAYANG ERRY; SUPRATMAN, SUPRATMAN
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4261

Abstract

In the era of globalization, competition in the field of health services is getting tighter because people are increasingly choosing health service facilities. Patients can ask for all information from various types of hospital services, facilities provided, hospital advantages. Information from various media, both print and electronic, easily. The aim of this research is to determine the influence of the quality of health services on patients' intention to return to the Mataram city regional general hospital, either partially or simultaneously. Quantitative analytical research method with a cross sectional approach with a sample size of 100 people. Data analysis was carried out using SPSS Statistical Program for Social Sciences 2.7. The research results found that partially the quality of health services had a positive and significant effect on intention to return visits. Then, simultaneously, the quality of health services has a positive and significant effect on interest in returning to visit. ABSTRAKPada era globalisasi, persaingan di bidang pelayanan Kesehatan semakin ketat karena Masyarakat semakin memilih dalam fasilitas layanan kesehatan. Pasien dapat menanyakan semua informasi dari berbagai jenis pelayanan rumah sakit, fasilitas yang diberikan, keunggulan rumah sakit informasi dari berbagai media baik cetak maupun elektronik dengan medah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan kesehatan terhadap minat kunjung Kembali pasien ke rumah sakit umum daerah kota mataram baik secara parsial maupun simultan. Metode penelitian analitik kuantitatif dengan metode pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 100 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS Statistical program for Social Sciences 2.7. Hasil penelitian menemukan bahwa secara pasial kualitas pelayanan kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjung Kembali. Kemudian secara simultan kualitas pelayanan kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjung Kembali.
RESIKO GANGGUAN JIWA PADA PASANGAN DENGAN BENTUK PERNIKAHAN PADA GELAHANG ANGGANI, A A SAGUNG RIA ARDHA; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4353

Abstract

In Balinese social customs, there are three types of marriage, namely ordinary marriage, nyentana marriage, and gelahang marriage. A gelahang marriage is a marriage where neither party says goodbye and both parties decide to maintain their status as kapurusa in fulfilling their obligations (swadharma) and rights (swadikara) in their respective families. Marriages in this gelahang are generally carried out because both parties are determined not to leave their families, so that ordinary marriages or nyentana marriages cannot occur. These social stressors can result in the risk of mental disorders in couples undergoing a marriage system. Several studies show that the use of a traditional marriage system, the use of an arranged marriage system, or marriages involving extended families pose a risk for the emergence of mental disorders in a person. A wedding at a gelahang requires the bride and groom to fulfill their obligations as kapurusa to each side of the family in fulfilling swadharma and self-sufficiency, and in carrying on ancestral traditions. This must be done equally by one side of the family and the other by the bridal couple who are carrying out the wedding at the gelahang. In a wedding at Gelahang, the burden of obligations on both sides of the family must be fulfilled so that the burden of obligations carried out increases on each side of the bride and groom. This can be an emotional and psychological stressor for brides and grooms who get married at Gelahang. Weddings carried out with various rituals are an illustration of the value in each procession undertaken. In many cultures, families have very high expectations of married couples. The pressure to live up to social standards can be overwhelming for couples. Marriage in a gelahang is a risk of mental disorders ABSTRAKDalam adat kemasyarakatan Bali, terdapat tiga jenis pernikahan yaitu pernikahan biasa, pernikahan nyentana, dan pernikahan pada gelahang. Pernikahan pada gelahang merupakan pernikahan dimana kedua belah pihak tidak ada yang melakukan mepamit dan kedua belah pihak memutuskan mempertahankan statusnya sebagai kapurusa dalam memenuhi kewajiban (swadharma) dan hak (swadikara) dalam masing-masing keluarga. Pernikahan pada gelahang ini umumnya dilakukan akibat kedua belah pihak bersih kukuh untuk tidak meninggalkan keluarganya, sehingga pernikahan biasa atau pernikahan nyentana tidak dapat terjadi. Stresor sosial ini dapat mengakibatkan munculnya risiko gangguan jiwa pada pasangan yang menjalani sistem pernikahan pada gelahang. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan sistem pernikahan secara tradisional, penggunaan sistem perjodohan, atau pernikahan yang melibatkan keluarga besar menjadi risiko munculnya gangguan jiwa pada seseorang. Pernikahan pada gelahang mewajibkan kedua belah pengantin untuk memenuhi kewajibannya sebagai kapurusa kepada masing-masing pihak keluarga dalam memenuhi swadharma dan swadikara, dan dalam meneruskan tradisi leluhur. Hal ini wajib dilakukan sama rata pada pihak keluarga satu dan yang lainnya oleh pasangan pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. pada pernikahan pada gelahang, beban kewajiban pada kedua belah pihak keluarga wajib dipenuhi sehingga beban kewajiban yang dijalankan bertambah pada masing-masih pihak pengantin. Hal ini yang dapat menjadikan stresor emosional dan psikologis kepada pengantin yang menjalankan pernikahan pada gelahang. Pernikahan yang dilakukan dengan berbagai ritual menjadi gambaran nilai dalam masing-masing prosesi yang dijalani. Dalam banyak budaya, keluarga memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap pasangan yang menikah. Tekanan untuk memenuhi standar sosial bisa sangat membebani pasangan. Pernikahan pada gelahang sebagai resiko terjadinya gangguan jiwa
DINAMIKA KONFLIK PSIKODINAMIK, POLA ASUH, DAN STRESOR PSIKOSOSIAL PADA KASUS AGORAFOBIA PASARIBU, IMELDA LOREN M.; ARDANI, I GUSTI AYU INDAH; WARDANI, IDA AJU KUSUMA
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i4.4354

Abstract

This qualitative study utilizes a case study approach that combines observational and biographical studies. The subject is a 26-year-old Balinese woman with a high school education, unmarried, and self-employed. The patient was diagnosed with agoraphobia and panic disorder, reporting anxiety that arises in crowded places, public settings, while waiting in line, or when alone at home. She had experienced these symptoms for three years, with significant worsening in the five months before she visited the psychiatric clinic. This condition has subsequently limited her daily activities and work. The findings of this study indicate that the patient’s mental health disorder stems from complex internal conflicts involving the interplay of biopsychosocial and cultural factors. Ambivalent parenting styles, economic difficulties and prolonged parental relationship conflicts contribute to the patient’s mental health condition. If left unmanaged, these issues may lead to additional problems and stressors for both the patient and her family. Overall, this case underscores the importance of understanding psychodynamic conflicts rooted in parenting patterns, family environment, and psychosocial stressors in the diagnosis and treatment of agoraphobia. It enriches the clinical perspective in designing holistic therapeutic interventions. ABSTRAKPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus menggabungkan studi observasi dan studi biografi. Seorang perempuan 26 tahun, Bali, pendidikan SMA, belum menikah, wiraswasta. Pasien didiagnosa dengan agorafobia dengan gangguan panik, mengeluhkan cemas yang muncul ketika berada di keramaian, di tempat umum, sedang mengantri atau ketika di rumah sendirian. Hal ini sudah dialami selama 3 tahun ini dan memberat dalam 5 bulan sebelum datang ke poliklinik jiwa. Kondisi ini kemudian membatasi aktivitas dan pekerjaan pasien. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa gangguan jiwa yang dialami pasien merupakan akibat dari konflik internal yang kompleks, yang melibatkan interaksi faktor biopsikososiokultural. Pola asuh ambivalensi, masalah ekonomi, konflik hubungan orang tua yang berkepanjangan berperan dalam kondisi gangguan jiwa yang dialami pasien. Hal ini jika tidak dikelola dengan baik maka akan memunculkan masalah dan stresor baru bagi pasien dan keluarga. Secara keseluruhan, kasus ini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap konflik psikodinamik, yang berakar pada pola asuh, lingkungan keluarga, dan stressor psikososial dalam diagnosis serta penanganan agorafobia. Hal ini memperkaya perspektif klinis dalam merancang intervensi terapeutik yang holistik.

Page 7 of 13 | Total Record : 124