cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 328 Documents
Infeksi Cacing dan Penyakit Autoimun Selfi Renita Rusjdi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1065

Abstract

Seiring dengan peningkatan kesejahteraan suatu negara, higiene dan sanitasi lingkungan juga semakin baik. Kesadaran untuk minum obat cacing dan lingkungan yang bersih menyebabkan prevalensi infeksi cacing yang berkurang, namun diikuti dengan peningkatan insiden penyakit inflamasi termasuk penyakit autoimun. Korelasi negatif antara infeksi cacing dan penyakit autoimun ini juga sejalan dengan higiene hypothesis dan old friend hypothesis yang menyatakan bahwa peningkatan penyakit inflamasi terkait dengan kurangnya paparan mikroorganisme. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cacing mempunyai efek imunomodulasi terhadap penyakit autoimun. Efek imunoregulasi ini terjadi karena infeksi cacing menimbulkan ruspon Th2 polarzed dan modified Th2 response yang mengaktifkan sel Tregulator (Treg). Keterlibatan sel Treg ini nantinya yang akan menekan berbagai proses inflamasi yang terjadi pada penyakit autoimun. Tulisan ini membahas peranan infeksi cacing dalam menghambat berbagai penyakit autoimun, seperti multiple sclerosis, Inflammatory Bowel Disease, rheumatoid arthritis dan insulin dependent diabetes melitus.
Hubungan Kualitas Tidur dengan Derajat Keparahan Akne Vulgaris pada Siswa Kelas XII di SMAN 2 Bukittinggi Irma Yulianti; Ennesta Asri; Nuzulia Irawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1076

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris adalah suatu penyakit peradangan menahun pada folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja, dapat sembuh sendiri dan menjadi tanda pertama pubertas. Kualitas tidur yang buruk dapat memicu peningkatan hormon androgen sehingga meningkatkan proliferasi keratin dan produksi sebum yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya akne vulgaris. Objektif: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan derajat keparahan akne vulgaris pada siswa kelas XII. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Bukittinggi dengan menjadikan seluruh populasi menjadi sampel. Dalam penelitian ini 144 responden yang memenuhi kriteria. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk mengukur kualitas tidur, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil dari penelitian ini adalah 23 orang responden memiliki kualitas tidur yang baik, 17,4% diantaranya menderita akne vulgaris derajat ringan, 73,9% menderita akne vulgaris derajat sedang dan 8,7% menderita derajat berat, sedangkan pada 121 orang responden memiliki kualitas tidur yang buruk, 3,3% diantaranya menderita akne vulgaris derajat ringan, 68,6% menderita akne vulgaris derajat sedang dan 28,1% menderita akne vulgaris derajat berat. Hasil analisis data diperoleh p-value sebesar 0,007. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan derajat keparahan akne vulgaris pada siswa kelas XII di SMAN 2 Bukittinggi.
Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah pada Lansia di Kecamatan Kuranji Kota Padang Dea Rika Putri Purba; Restu Susanti; Rika Susanti; Hendra Permana; Arina Widya Murni; Eldi Sauma
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1077

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan angka harapan hidup yang terjadi menyebabkan peningkatan penyakit degeneratif pada lansia, salah satunya hipertensi. Proses penuaan pada lansia menyebabkan lansia mengalami beberapa perubahan fisiologi salah satunya fisiologi tidur, struktur, durasi, kedalaman, dan kontinuitas tidur akan pada lansia. Kualitas tidur buruk dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatis. Objektif: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia di kecamatan Kuranji Kota Padang. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain studi cross-sectional. Sampling from the population using consecutive sampling techniques in the elderly recorded in Kuranji District, Padang City and conducting interviews with PSQI questionnaires and blood pressure measurements directly on the samples. Hasil: Terdapat sebanyak 67 responden (69,1%) memiliki kualitas tidur buruk dan 30 responden (36,1%) memiliki kualitas tidur baik. Sebanyak 62 responden (63,9%) mengalami hipertensi. Hasil analisis data dengan SPSS menggunakan uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,000 < 0.05 ( α = 0,05 ). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dan tekanan darah pada lansia di Kecamatan Kuranji Kota Padang sehingga H1 ditolak.
Gambaran Terapi Antivirus pada Pasien Covid-19 Di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Maret-Agustus 2020 Rawzan Abdul Aziz; Russilawati Russilawati; Cimi Ilmiawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1107

Abstract

Latar Belakang: COVID-19 merupakan penyakit saluran pernafasan oleh SARS-CoV-2. Perubahan terapi COVID-19 bersifat dinamis. Solidarity trial oleh WHO yang melibatkan RSUP M. Djamil Padang dilakukan menggunakan 4 alternatif terapi yaitu remdesivir, gabungan lopinavir/ritonavir, lopinavir/ritonavir ditambah interferon (ß1b), dan klorokuin. Objektif: Untuk mengetahui gambaran terapi antivirus pada pasien COVID-19 di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Maret sampai Agustus 2020. Metode: Penelitian ini menggunakan data dari rekam medik dengan metode total sampling. Variabel penelitian adalah umur, jenis kelamin, derajat penyakit, komorbid, obat antivirus, durasi pemberian, cara pemberian obat dan luaran perawatan. Data dianalisis secara univariat. Hasil: Total rekam medis pasien COVID-19 adalah 105. Hasil penelitian menunjukkan rerata umur pasien yaitu 44,9 ± 18,8 tahun. Kelompok terbanyak 45-64 tahun (41,9%), jenis kelamin perempuan (54,3%), derajat sedang (37,1%), dan tanpa komorbid (58,7%). Antivirus yang diberikan adalah oseltamivir (26,4%), remdesivir (0,9%), hidroksiklorokuin/ klorokuin (2,8%), oseltamivir diikuti hidroksiklorokuin/ klorokuin (17,9%), kombinasi lopinavir dan ritonavir (7,6%) serta tanpa antivirus (44,3%). Rute pemberian terbanyak adalah oral; durasi terapi oseltamivir 5-10 hari, hidroksiklorokuin/klorokuin 5-13 hari, serta kombinasi lopinavir dan ritonavir 12-15 hari. Pasien yang mendapatkan oseltamivir sebagian besar sembuh (96,4%). Kesimpulan: Terdapat perubahan terapi antivirus yang dinamis sejak awal pandemi hingga Agustus 2020 di RSUP M.Djamil Padang dengan oseltamivir sebagai antivirus yang paling banyak digunakan.
Gambaran Fungsional Sendi Bahu Pasien Pasca Mastektomi Radikal Berdasarkan Skor QuickDASH Khalisha Azzahra Pramesti Abdillah; Rizki Rahmadian; Rudy Afriant
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1152

Abstract

Latar belakang: Gangguan pada fungsi sendi bahu sering ditemukan pada pasien setelah menjalani prosedur mastektomi radikal. Gejala yang sering ditemukan pasca pembedahan adalah keterbatasan fungsi bahu, kelemahan ekstremitas atas, limfedema, dan nyeri dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsional sendi bahu pasien pasca mastektomi radikal berdasarkan skor QuickDASH di RSUP Dr. M Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan menggunakan teknik consecutive sampling. Sampel penelitian ini menggunakan data primer berupa wawancara pasien pasca mastektomi radikal di RSUP Dr. M Djamil Padang periode 2020 – 2021 menggunakan kuesioner QuickDASH. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria didapatkan sebanyak 35 sampel. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia terbanyak pada rentang ≥ 45 tahun (77,1%), tingkat pendidikan SMA/Sederajat (51,4%), tidak bekerja (74,3%), dan tingkat pendapatan Rp1.000.000,- s.d. Rp5.000.000,- (68,6%). Sisi pengangkatan terbanyak pada sisi unilateral kiri (54,3%), dengan riwayat terapi radiasi (51,4%), dan dengan kategori stadium lanjut (54,3%). Pasien paling sering berada pada kategori disabilitas minimum (60%). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah pasien pasca mastektomi radikal paling sering memiliki gangguan fungsional sendi bahu pada kategori disabilitas minimum. Gangguan tersebut ditemukan meningkat seiring meningkatnya stadium dan pada pasien yang mendapatkan radioterapi. Fungsi sendi bahu dipengaruhi oleh sisi pengangkatan, stadium, dan riwayat terapi radiasi. Sedangkan pendidikan, pendapatan, dan lama waktu sejak operasi tidak memengaruhi fungsi sendi bahu.
Perbedaan Kadar NSE Berdasarkan Derajat Perlukaan Menurut Aspek Medikolegal Pada Korban Trauma Kepala di IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang Rika Susanti; Muhammad Farhan Khadaffi; Yuliarni Syafrita
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1174

Abstract

Latar Belakang: Cedera otak traumatis (TBI) adalah penyebab utama kematian, terutama disebabkan oleh jatuh, kekerasan, dan kecelakaan lalu lintas. Dalam kasus kekerasan dan kecelakaan lalu lintas, polisi seringkali meminta visum et repertum, sebuah laporan tertulis yang menjelaskan luka korban dan diklasifikasikan menjadi tiga derajat luka. Namun, pemeriksaan ini kadang-kadang tidak akurat karena hanya melibatkan luka fisik yang terlihat. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan, seperti pemeriksaan biomarker, seperti neuron specific enolase (NSE) Objektif: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan pada korban trauma kepala. Metode: Ini adalah studi potong-lintang, dimana kadar NSE dinilai dengan Teknik ELISA, pada kunjungan korban trauma kepala di IGD. Derajat perlukaan diperoleh melalui catatan visum et repertum korban yang disimpan di bagian forensik dan medikolegal. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan. Hasil: Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (76,2%) dengan kelompok usia terbanyak di umur 12-45 tahun. Kadar NSE pada korban trauma kepala dengan derajat tiga lebih tinggi daripada korban trauma kepala dengan derajat dua. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar NSE pada korban trauma kepala dengan derajat dua atau tiga (p=0.642). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar NSE berdasarkan derajat perlukaan.
Nilai Sensitivitas Kontras Pasien Katarak yang Dilakukan Operasi Fakoemulsifikasi Di RS Unand Ahdaliza, Anisa; Syauqie, Muhammad; Handayani, Tuti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.820

Abstract

Latar Belakang: Katarak senilis merupakan kekeruhan lensa mata yang terjadi pada orang berusia 50 tahun keatas yang terbagi atas katarak nuklear, kortikal dan subkapsular posterior. Kekeruhan lensa menyebabkan terjadinya penurunan sensitivitas kontras sehingga pasien sulit membedakan objek dan latar belakangnya. Terapi katarak senilis yang digunakan saat ini yaitu operasi dengan metode terbanyak dipakai adalah fakoemulsifikasi. Objektif: Mengetahui pengaruh operasi fakoemulsifikasi terhadap sensitivitas kontras pada pasien katarak senilis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik berpasangan dua kelompok dengan menggunakan desain penelitian intervensional (one group pretest-posttest. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Teknik pengambilan subjek adalah consecutive sampling. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 32 subjek. Data akan dianalisis dengan Wilcoxon test. Hasil: Hasil penelitian didapatkan rentang usia pasien terbanyak adalah 65-74 tahun (40,6%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (53,1%), dan tipe katarak senilis terbanyak adalah katarak nuklear (34.4%). Sensitivitas kontras terendah terjadi pada katarak subkapsular posterior dengan nilai 0,00 logaritma. Hasil analisis bivariat didapatkan peningkatan signifikan dari sensitivitas kontras subjek setelah operasi fakoemulsifikasi dengan nilai p <0,001. Kesimpulan: Operasi fakoemulsifikasi terbukti berpengaruh dalam meningkatkan sensitivitas kontras pasien katarak senilis Kata kunci: katarak senilis, tipe katarak, operasi fakoemulsifikasi, sensitivitas kontras
Kualitas Hidup Pasien dengan JJ-Stent Pasca Operasi Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Ureteroscopy (URS) Arrahman, Najmi Shauqy; MYH, Etriyel; Darwin, Eryati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.876

Abstract

Latar Belakang: Pemasangan JJ-Stent adalah prosedur rutin untuk memastikan bahwa aliran urin dari ginjal bisa sampai ke kandung kemih. Pemasangan JJ-Stent juga berdampak buruk terhadap kualitas hidup, produktivitas, dan fungsi seksual pasien. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pasien yang menggunakan JJ-Stent pasca operasi PCNL dan URS. Metode: Penelitian merupakan penelitian desktriptif observasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling pada pasien pasien yang menggunakan JJ-Stent pasca operasi PCNL dan URS di Rumah Sakit Umum Bunda BMC Padang periode Januari – Februari 2022. Data diperoleh dari data primer yang diambil menggunakan kuesioner USSQ dan data sekunder pada bulan Januari – Februari 2022 dengan sampel 29 orang. Hasil: Pada penelitian ini di dapatkan sebagian besar pasien yang menggunakan JJ-Stent pasca operasi PCNL dan URS berjenis kelamin laki – laki dengan kelompok usia terbanyak 18 – 65 tahun, dan sebagian besar pasien didiagnosis batu ginjal. Gejala yang paling sering muncul sesuai dengan kuesioner USSQ yaitu nokturia, nyeri, tidak bisa melakukan aktivitas berat, dan gangguan dalam aktivitas seksual. Gejala yang muncul menyebabkan terjadinya penurunan kualitas hidup pada pasien pasca pemasangan JJ-Stent. Kesimpulan: Mengetahui hubungan gejala dengan kualitas hidup pasien pasca pemasangan JJ-Stent juga dapat dikaji lebih lanjut.
Gambaran Faktor Risiko Penularan HIV/AIDS pada Kelompok Lelaki Seks Lelaki di Kota Bukittinggi Oktavia, Mutiara; Firdawati, Firdawati; Irfandy, Dolly
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.933

Abstract

Latar Belakang: Kejadian HIV/AIDS banyak terjadi usia produktif dengan persentase terbanyak pada laki-laki. Di Indonesia kasus HIV pada laki-laki di tahun 2019 lebih tinggi dari perempuan yaitu dengan persentase HIV 64,50% dan AIDS 68,60% pada laki-laki. Lelaki seks lelaki merupakan faktor risiko terbanyak dalam penularan HIV/AIDS yaitu 22 kali lebih besar diantara populasi berisiko di dunia tahun 2018. Kelompok LSL termasuk kelompok yang berisiko tinggi tertular HIV disebabkan karena perilaku hubungan seksual anal intercourse dan praktik seksual berisiko oleh kelompok tersebut. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko penularan HIV/AIDS pada kelompok Lelaki Seks Lelaki di Kota Bukittinggi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari penelitian yang dilaksanakan di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bukittinggi. Teknik pengambilan subjek adalah total sampling. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 37 orang. Hasil: Hasil penelitian ini memperoleh data responden memiliki status HIV negatif (89,2%), kelompok umur terbanyak 26-35 tahun (59,5%), tingkat pendidikan SMA/sederajat (64,9%), pekerjaan sebagai wiraswasta & pedagang (64,9%), responden belum menikah (91,9%), tingkat pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS (45,9%), perilaku seksual selalu memakai kondom (67,6%), jumlah pasangan sejenis 1 orang (48,6%), serta peranan seks top (45,9%). Kesimpulan: Hasil tes HIV yang negatif pada LSL perlu dilakukan screening sesuai aturan dari Kementrian Kesehatan. Perilaku seksual dan karakteristik pada LSL penting mendapat perhatian agar tidak meningkatkan angka HIV/AIDS.
Karakteristik Pasien Pneumotoraks Et Causa Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Angela, Sonnya Morisa; Sabri, Yessy Susanty; Hanum, Fathiya Juwita; Rasyid, Rosfita; Russilawati, Russilawati; Nofendra, Ade
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.986

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Pneumotoraks merupakan kelainan pada paru yang ditandai dengan terdapatnya udara pada rongga pleura. Terdapat beberapa jenis pneumotoraks salah satunya Pneumotoraks Spontan Sekunder (PSS). Pneumotoraks Spontan Sekunder (PSS) terjadi ketika penyakit dasar dengan target organ paru pada seseorang semakin memburuk. Penyakit paru tertinggi pada kasus PSS adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Objektif: Mengetahui karakteristik pasien penderita pneumotoraks spontan sekunder yang disebabkan PPOK di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang pada periode 2018 – 2021 berdasarkan usia, jenis kelamin, status merokok, keluhan utama, komorbid, dan sisi pneumotoraks pasien. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif menggunakan rekam medis pasien pneumotoraks spontan yang disebabkan PPOK. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik penelitian sensus sesuai kriteria inklusi. Hasil: Terdapat 26 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Terdapat 50% pasien berada pada kelompok usia 55-64 tahun, 96,15% pasien berjenis kelamin laki-laki, 55,85% sebagai bekas perokok, 100% pasien dengan keluhan utama dispnea, komorbid pneumonia komuniti 34,09%, dan 53,85% pasien pneumotoraks sisi kiri. Kesimpulan: Kebanyakan pasien adalah kelompok usia 55-64 tahun, jenis kelamin laki-laki, merupakan bekas perokok, keluhan utama dispnea, komorbid pneumonia komuniti, dan mengenai sisi kiri dada. Kata kunci: karakteristik, penyakit paru obstruktif kronik, pneumotoraks spontan