cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 317 Documents
Perbandingan Lama Rawatan Pasien Sectio Caesarea Metode ERACS dengan Metode Konvensional di RSIA Restu Ibu Padang Harbaindo, Shavira Quincy; Effendi, Rinal; Linosefa, Linosefa; Suharti, Netti; Rustini, Rini; Antonius, Puja Agung
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.989

Abstract

Latar Belakang. Angka sectio caesarea yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun mendorong banyaknya potensi yang timbul untuk mengembangkan pelayanan, salah satunya dari aspek kecepatan pemulihan yang ditawarkan metode ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery). Metode ERACS memiliki beberapa perbedaan dari metode konvensional, dan menurut penelitian terdahulu, metode ERACS menunjukan lebih banyak keunggulan yang dapat menguntungkan pasien, salah satunya dari segi lama rawatan. Objektif. Mengetahui perbandingan lama rawatan pasien sectio caesarea metode ERACS dengan metode konvensional di RSIA Restu Ibu Padang. Metode. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain kohort. Data diambil secara retrospektif dari rekam medik pasien sectio caesarea di RSIA Restu Ibu periode November-Desember 2021. Sampel berjumlah 67 pasien yang dipilih menggunakan total samplingberdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Frekuensi lama rawatan paling tinggi pada pasien sectio caesarea dengan metode konvensional adalah lebih dari atau sama dengan 3 hari, sedangkan lama rawatan pada metode ERACS menunjukan paling banyak pasien dirawat selama 2 hari. Hasil analisis dengan uji Chi-square pada perbandingan lama rawatan antara metode ERACS dengan metode konvensional di rumah sakit tempat penelitian menunjukan nilai p=0,002. Kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) dari perbandingan lama rawatan antara metode ERACS dengan metode konvensional di RSIA Restu Ibu Padang.
Karakteristik dan Faktor Risiko Bibir dan Langit-Langit Sumbing di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2018-2021 Ziqri, Muhammad Fathi Naufal; Saputra, Deddy; Usman, Elly; Alvarino, Alvarino; Rusjdi, Selfi Renita; Windasari, Noverika
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.998

Abstract

Latar Belakang: Sumbing bibir dan langit-langit merupakan salah satu malformasi orofasial yang paling sering terjadi yang meliputi isolated cleft lip, cleft lip with cleft palate, dan isolated cleft palate. Angka kejadian CL/P dipengaruhi oleh faktor etnis, ras, geografis, maupun jenis kelamin. Faktor-faktor risiko CL/P melingkupi usia ibu lanjut, merokok, konsumsi alkohol, dan defisiensi asam folat.. Objektif: Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui karakteristik sumbing bibir dan langit-langit di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan rekam medis pasien sumbing bibir dan langit-langit di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2018-2021 serta wawancara dengan keluarga pasien. Penelitian ini dilakukan di bagian rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Maret-September tahun 2022. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi celah bibir dan langit-langit terbanyak yakni 60,9% untuk cleft lip and palate. Celah bibir yang paling sering ditemukan yakni celah unilateral kiri dengan 36,8%. Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki dengan 51,1%. Terdapat 56% pasien yang berasal dari daerah luar Padang. Rata-rata usia saat labioplasty yakni 15,21 bulan dan palatoplasty yakni 30,14 bulan. Terdapat 79,3% dari kehamilan tidak berisiko. Distribusi frekuensi faktor risiko terbanyak yakni paparan asap rokok selama kehamilan trimester pertama dengan 80,4% Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini didapatkan cleft lip and palate terbanyak. Celah unilateral sisi kiri paling sering ditemukan. Laki-laki lebih banyak ditemukan dibandingkan perempuan. Faktor risiko paling banyak yakni paparan asap rokok dengan kemungkinan penyebab rendahnya kesadaran masyarakat terkait PHBS rumah tangga.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Merokok Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Andalas Sari, Popy Puspita; Herman, Deddy; Abdiana, Abdiana
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1021

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan prevalensi perokok laki-laki tertinggi di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan memiliki jumlah perokok terbanyak ketiga di dunia. Prevalensi perokok usia 15 tahun atau lebih di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka ia cenderung tidak merokok. Mahasiswa kedokteran lebih memahami bahaya rokok bagi kesehatan tubuh. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada mahasiswa kedokteran Universitas Andalas. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Agustus 2020 hingga Desember 2022. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling dimana semua populasi menjadi sampel, yaitu 153 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) dan kuesioner Global Youth Tobacco Survey (GYTS), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis cross tab didapatkan stres (p = 0,250) dan pengaruh orang tua (p = 0,067) memiliki nilai p>0,05, sedangkan pengaruh teman sebaya (p = 0,001) dan iklan rokok (p = 0,016) memiliki nilai p<0,05. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok, yaitu pengaruh teman sebaya dan iklan rokok, sedangkan stres dan pengaruh orang tua tidak berpengaruh. Kata kunci: perilaku merokok, stres, pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, iklan rokok
Gambaran Antenatal Care Pada Pasien Preeklamsia dan Eklamsia Di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2021 Aisha, Fahra Audina; Ariadi, Ariadi; Hasmiwati, Hasmiwati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.1037

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu di dunia adalah preeklamsia. Bila terjadi kejang umum pada wanita preeklamsia, maka itu merupakan eklamsia. Beberapa faktor risiko preeklamsia dapat diketahui lebih awal dengan dilakukannya pemeriksaan antenatal care (ANC) secara teratur dan berkualitas. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ANC pada pasien preeklamsia dan eklamsia yang menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2021 Metode: Penelitian ini adalah penelitian penelitian deskriptif retrospektif. Penelitian ini dilakukan di rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Januari 2022 – Oktober 2022. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 42 pasien preeklamsia dan eklamsia. Hasil: Sebagian besar sampel berusia 20-35 tahun 73.8%, pendidikan 52,4% SMA, sampel ibu rumah tangga sebanyak 73.8%. Terdapat 78.6% dengan diagnosis preeklamsia dan 21.4% dengan diagnosis eklamsia. Mayoritas sampel tidak memenuhi kunjungan antenatal K4 yaitu sebanyak 61.9%. Sampel sebagian besar telah memenuhi standar 7T yaitu sebanyak 88.1% Kesimpulan: Pasien preeklamsia dan eklamsia di RSUP Dr. M. Djamil mayoritas berusia 20-35 tahun, pendidikan terakhir SMA, dan mayoritas merupakan ibu rumah tangga dengan sebaran kasus 78,6% preeklamsia dan 21,4% eklamsia. Gambaran ANC pada seluruh pasien berdasarkan kunjungan ANC yaitu lebih banyak yang tidak memenuhi minimal kunjungan K4. Berdasarkan standar 7T ANC yang telah memenuhi standar 7T sebanyak 88.1%.
Korelasi Kadar HbA1c dengan Kadar D-dimer pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Alamsyah, Lucky; Yulia, Dwi; Aprilia, Dinda
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1079

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) atau kedua-duanya. Peningkatan kadar HbA1c dan peningkatan kadar D-dimer merupakan dua kondisi pemeriksan hematologi yang bisa ditemukan dalam perjalanan penyakit DM tipe 2. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar Hba1c dengan kadar D-dimer pada pasien diabetes melitus tipe 2 . Metode: Penelitian ini merupakan analitik dengan pendekatan cross sectional pada data sekunder pasien diabetes melitus tipe 2 yang dilakukan pemeriksaan kadar HbA1c dan kadar D-dimer dengan alat POCT. Sampel penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis DM tipe 2 dengan kadar HbA1c terkontrol (≤7 %) di Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr. M Ali Hanafiah Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar sebanyak 20 sampel. Waktu penelitian periode November 2020–April 2021. Hasil: Penelitian diperoleh nilai rerata untuk kadar HbA1c pasien DM tipe 2 sebesar 5,925% dan kadar D-dimer sebesar 432 ng/mL. Analisis statistik uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar HbA1c dengan kadar D-dimer (r=0,081; p=0,257). Kesimpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan tidak ditemukan korelasi antara kadar HbA1c dengan kadar D-dimer pada diabetes melitus tipe 2. Kata kunci: D-dimer, Diabetes Melitus Tipe 2, HbA1c Abstract Background: Type 2 Diabetes is a metabolic disorder characterized by increased blood sugar due to decreased insulin secretion by pancreatic beta cells or insulin function disorders (insulin resistance) or both. Increased levels of HbA1c and increased levels of D-dimer are two conditions for hematological examination that can be found in the course of Type 2 diabetes. Objective: This study aims to determine whether there was a correlation between HbA1c levels and D-dimer levels in patients with Type 2 diabetes. Methods: This study was an analytic study with a cross sectional approach to secondary data for patients with type 2. 2 diabetes who were examined for HbA1c levels and D-dimer levels using POCT. The sample of this study were patients diagnosed with type 2 diabetes with controlled HbA1c levels (≤7 %) at Prof. Dr. M Ali Hanafiah Batu Sangkar, Tanah Datar Regency as many as 20 samples. The research period was November 2020 - April 2021. Results: Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Pearson correlation test. Correlation was significant if p <0.05. The study obtained that the mean value for the HbA1c level of Type 2 diabetes patients was 5.925% and the D-dimer level was 432 ug / dL. The results of the bivariate analysis showed the relationship between HbA1c levels and D-dimer levels, the p value was 0.734 (> 0.05) and the correlation value (r) was 0.081. Conclusion: So it can be concluded that there is a weak correlation between HbA1c levels and D-dimer levels in patients with Type 2 diabetes.
Korelasi Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Rashieka, Shaydi Amala; Rasyid, Rosfita; Miro, Saptino; Yulia, Dwi; Ilmiawati, Cimi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.1081

Abstract

Latar Belakang: Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu kondisi adanya gangguan struktur dan gangguan fungsi ginjal yang dapat dilihat melalui pemeriksaan laboratorium ataupun pencitraan dan terjadi lebih dari tiga bulan. Pada pasien PGK yang sudah mencapai tahap akhir akan memerlukan terapi pengganti ginjal. Terapi pengganti ginjal yang sering diberikan pada pasien PGK di Indonesia adalah hemodialisis. Akan tetapi pada hemodialisis terdapat beberapa komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. Penurunan kualitas hidup pada pasien PGK juga dapat sebagai prediktor dari angka kesakitan dan kematian pada pasien PGK. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien PGK di RSUP Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel yaitu 93 pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner KDQOL SFTM 1.3. Uji Statistik yang digunakan yaitu korelasi Spearman. Hasil: Jumlah pasien yang menjalani hemodialisis yang kecil atau sama 60 bulan sebanyak (84,9%) dan setengah dari pasien tersebut (50,5%) mempunyai kualitas hidup yang baik. Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara kualitas hidup dan lama hemodialisis dan korelasi yang bernilai positif (r=0,263; p=0,017). Kesimpulan: Semakin lama pasien menjalani hemodialisis maka kualitas hidup pasien akan semakin baik.
Hubungan Tingkat Keparahan Pasien COVID-19 dengan Distres Psikologis Pada Periode 1 Maret 2020 sampai 31 Desember 2021 di Rumah Sakit Universitas Andalas Liandhu Hakim, Sonya; Widya Murni, Arina; Yulistini, Yulistini; Gusya Liza, Rini; Ermayanti, Sabrina; Ashal, Taufik
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i1.1102

Abstract

Latar Belakang: Wabah COVID-19 (Coronavirus Disease 19) menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental. Studi menilai kesehatan mental akibat keparahan COVID-19 masih belum dijadikan sebagai prioritas utama penatalaksanaan COVID-19. Objektif: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dengan stres pasien COVID-19. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada periode 1 Maret 2020 Sampai 31 Desember 2021 di Rumah Sakit Universitas Andalas. Penelitian menggunakan data rekam medis pasien terkonfirmasi COVID-19 yang telah dinilai tingkat stres menggunakan DASS-21 (Depression, Anxiety, Stress Scale 21). Sebanyak 55 responden di ambil dengan teknik pengambilan sampel acak sederhana yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Lebih dari setengah pasien COVID-19 (54,5%) memiliki tingkat keparahan penyakit sedang dan 56,3% mengalami tingkat stres sedang. Uji Chi–square menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai p sebesar 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat keparahan COVID-19 dengan tingkat stres pada pasien terkonfirmasi COVID-19. Oleh sebab itu, pendekatan psikologis diperlukan untuk tata laksana pasien COVID-19 untuk mengurangi pengaruh psikis terhadap keparahan penyakit.  
Hubungan Tingkat Aktivitas Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik dengan Derajat Gangguan Fungsi Ginjal pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik Nabila, Fathiya Sarah; Miro, Saptino; Effendi, Rinal; Almurdi, Almurdi; Yulia, Dwi; Putra, Syandrez Prima
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1103

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Evaluasi fungsi ginjal dan pemantauan aktivitas penyakit pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES) diperlukan untuk mendeteksi penyakit LES secara dini. Penilaian aktivitas penyakit juga berperan penting dalam memandu pemberian terapi yang tepat agar memberikan hasil yang lebih baik. Objektif: Mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas penyakit LES dengan derajat gangguan fungsi ginjal pada pasien LES. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien LES di Departemen Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive sampling dengan total sampel 70 pasien LES. Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi-squared test. Hasil: Terdapat 98,6% pasien berjenis kelamin perempuan, 48,9% pasien berada pada kelompok usia 17–25 tahun, rerata kadar serum kreatinin 1,756±3,3437 mg/dl, 65,7% pasien memiliki fungsi ginjal normal, 70% pasien memilliki tingkat aktivitas penyakit LES sedang, dan hasil uji statistik antara tingkat aktivitas penyakit LES dengan derajat gangguan fungsi ginjal pada pasien LES adalah menunjukkan nilai p=0,081. Kesimpulan: Mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan, kelompok usia terbanyak yaitu usia 17 – 25 tahun, rerata kadar serum kreatinin 1,756±3,3437 mg/dl, mayoritas memiliki derajat fungsi ginjal yang normal, tingkat aktivitas penyakit LES sedang, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas penyakit LES dengan derajat gangguan fungsi ginjal pada pasien LES. Kata kunci: tingkat aktivitas penyakit, derajat gangguan fungsi ginjal, lupus eritematosus sistemik Abstract Background: Evaluation of kidney function and monitoring the disease activity in patients with systemic lupus erythematosus (SLE) are necessary for early detection of the SLE disease. Assessment of disease activity also plays an important role in providing a better therapy. Objective: This study aims to determine the relationship between SLE disease activity and the stages of kidney disease in SLE patients. Methods: This study is an analytical study with a cross-sectional approach using secondary data from the medical records of SLE patients in the Internal Medicine Department of Dr. M. Djamil Padang Hospital. The sampling technique is consecutive sampling with a total sample of 70 SLE patients. Data analysis was performed using chi-squared test. Results: There were 98.6% of the patients were female, 48.9% of the patients were in the age group of 17–25 years, the mean serum creatinine level was 1.756±3.3437 mg/dl, 65.7% of the patients had normal kidney function, 70% of the patients had a moderate level of LES disease activity, and the results of a statistical test between the level of activity of LES disease and the stages of kidney disease in SLE patients showed a value of p=0.081. Conclusion: The majority of patients were female, the largest age group was 17-25 years old, the average serum creatinine were 1,756±3,3437 mg/dl, majority of patients had a normal kidney function, had a moderate level of SLE disease activity, and there was no significant relationship between level of SLE disease activity and stages of kidney disease in SLE patients. Keyword: disease activity, stages of kidney disease, systemic lupus erythematosus
Profil Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Ulkus Kaki Diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2021 Jannah, Lidya Raudhatul; Elvira, Dwitya; Noer, Mustafa; Decroli, Eva; Saputra, Deddy; Linosefa, Linosefa
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1114

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik menjadi permasalahan di Indonesia karena sedikitnya tenaga kesehatan yang menggeluti ulkus kaki diabetik, sedikit pengetahuan masyarakat mengenai ulkus kaki diabetik, dan biaya penatalaksanaan yang besar. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus kaki diabetik di RSUP Dr.M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien dengan diagnosis ulkus kaki diabetik yang berobat di RSUP Dr.M. Djamil Padang periode 2020-2021. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sebanyak 93 sampel. Data menggunakan jenis univariat dan penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pasien ulkus kaki diabetik paling banyak berada pada usia >55-65 tahun (41,9%), jenis kelamin perempuan (52,7%), tidak bekerja/ IRT (44,1%), tingkat pendidikan terakhir SLTA (55,9%). Derajat ulkus 5 (37,6%), lama rawatan 6-10 hari (40,9%), tekanan darah normal (43,1%). Hasil laboratorium menunjukkan keadaan anemia sedang (47,3%), hipoalbuminemia (96,8%), hiperglikemia (54,8%). Tatalaksana dengan pemberian kombinasi dua antibiotik (59,1%), terapi bedah debridemen (30,2%), kondisi pasien membaik saat dipulangkan (63,4%). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian yaitu sebagian besar pasien ulkus kaki diabetik adalah perempuan lansia akhir dengan kondisi anemia, hipoalbuminemia, hiperglikemia. Tatalaksana yang umum diberikan adalah pemberian kombinasi dua antibiotik dan debridemen dengan luaran pasien membaik. Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, pasien ulkus kaki diabetik, profil Abstract Background: Diabetic foot ulcers are a problem in Indonesia because of the lack healthcare professional on diabetic foot ulcers, little public knowledge about diabetic foot ulcers, and high management costs. Objective: The purpose of this study was to determine the profile of type 2 DM patients with diabetic foot ulcers at RSUP Dr.M. Djamil Padang. Methods: This study was an observational descriptive with a cross-sectional design. The research sample was patients diagnosed with diabetic foot ulcers at RSUP Dr.M. Djamil Padang for the 2020-2021 period. The total sampling technique was used to collect a total of 93 samples. The collecting data was analyze by univariat and presented with frequency distribution tables. Results: The results of this study were the most diabetic foot ulcer patients were in the age group >55-65 years (41.9%), female (52.7%), unemployed/housewife (44.1%), and high school education (55.9%). The most ulcer grade 5 (37.6%), treatment duration was 6-10 days (40.9%) and normal blood pressure (43.1%). Laboratory results showed the conditions of moderate anemia (47.3%), hypoalbuminemia (96.8%), and hyperglycemia (54.8%). Management given was a two combination of antibiotics (59.1%), debridementt therapy (30.2%), the patient's condition improved when being discharged (63.4%). Conclusion: This study concluded that the majority of patients with diabetic foot ulcers were elderly women with anemia, hypoalbuminemia, and hyperglycemia. The most common management given was a combination of two antibiotics and debridementt, which resulted in improved patient outcomes. Patients who are at high risk are expected to be more aware of the appearance of symptoms and clinicians are expected to be able to manage patients comprehensively. Keyword : Diabetic foot ulcer patient, profile, type 2 diabetes mellitus
Gambaran Gejala Depresi pada Penderita Parkinson Disease di RSI Ibnu Sina Padang Mubarak, M. Dzaky; Syafrita, Yuliarni; Nurhayati, Nurhayati; Liza, Rini Gusya; Syahrul, Muhammad Zulfadli
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1153

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kronik progresif yang ditandai dengan hilangnya sel saraf (neuron) dopaminergik pada bagian substansia nigra. Pada Penyakit Parkinson dapat ditemukan gejala non motorik seperti gejala psikiatri terutama depresi. Depresi pada penderita parkinson memiliki dampak yang sangat besar pada kualitas hidup karena mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita Penyakit Parkinson, distribusi terjadinya depresi pada parkinson, dan tingkatan depresi yang dialami pada penderita parkinson di RSI Ibnu Sina Padang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif metode Cross Sectional dengan kuesioner Beck Depression Inventory. Pengambilan data penelitian berupa data primer dari semua penderita Parkinson yang berobat jalan pada bulan Maret 2023 hingga Mei 2023 di Poli Saraf RSI Ibnu Sina yang memenuhi kriteria dengan jumlah sampel 29 orang. Hasil: Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian penderita Penyakit Parkinson lebih banyak ditemukan pada kelompok umur lansia dengan jenis kelamin perempuan dan paling banyak sudah tidak bekerja. Sebagian besar masih berstatus kawin dengan lama menderita sakit parkinson mayoritas selama ≥ 5 tahun dan terbanyak didapatkan pada stadium 3 Penyakit Parkinson. Kasimpulan: Mayoritas sebanyak 65,5% mengalami depresi dan paling banyak pada tingkat depresi sedang. Kata kunci: penyakit parkinson; depresi. Abstract Background: Parkinson's Disease is a progressive chronic neurodegenerative disease characterized by the loss of dopaminergic neurons in the substantia nigra. In Parkinson's Disease, non-motor symptoms such as psychiatric symptoms, especially depression, can be found. Depression in people with Parkinson's has a very large impact on quality of life because it results in a decrease in quality of life. Objective: This study aims to determine the characteristics of patients with Parkinson's Disease, the distribution of depression in Parkinson's, and the level of depression experienced in patients with Parkinson's at RSI Ibnu Sina Padang. Methods: This research is a descriptive study with a qualitative approach with a cross sectional method using the Beck Depression Inventory questionnaire. Retrieval of research data in the form of primary data from all Parkinson's patients who were on outpatient treatment from March 2023 to May 2023 at the Ibnu Sina Hospital who met the criteria with a sample size of 29 people. Result: The results of this study found that people with Parkinson's Disease were mostly elderly age group, female, and most were not working. Most were still married, had suffered from Parkinson's disease for 5 years and more, and most found in stage 3 Parkinson's Disease. Conclusion: The majority as much as 65.5% experienced depression and most were at moderate levels of depression) Keywords: parkinson's disease; depression