cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 317 Documents
Gambaran Faktor Risiko Pada Pasien Ulkus Kornea Infeksi Dan Derajat Keparahan Di Dapartemen Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2022 Resti, Dina; Vitresia, Havriza; Anggraini, Fika Tri; Hidayat, Muhammad; Sauma, Eldi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 4 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i4.1166

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kornea adalah kematian jaringan transparan yang menyebabkan hilangnya sebagian permukaan kornea. Ulkus kornea mempunyai beberapa faktor risiko yaitu trauma mata, penggunaan obat mata tradisional, pemakaian lensa kontak, penyakit sistemik, penggunaan kortikosteroid topikal, pasca operasi mata, penyakit kelopak mata. Derajat keparahan ulkus kornea terdiri dari ringan, sedang dan berat. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko pasien ulkus kornea infeksi dan derajat keparahan di Poliklinik Mata RSUP Dr M Djamil Padang Tahun 2020-2022. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan pendekatan cross sectional, dengan cara mengambil data rekam medik pasienulkus kornea infeksi di Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020-2022 dengan metode total sampling. Hasil: Dari 85 orang sampel penelitian ini terdapat  63 orang (74,1%) adalah laki-laki dan berada pada rentang umur 30-60 tahun yaitu 56 orang (65,9%) dengan karakteristik pekerjaan terbanyak adalah buruh atau petani yaitu 65 orang (76,5%). Faktor risiko utama ulkus kornea infeksi adalah trauma mata 55 orang (61,1%) dengan derajat keparahan terbanyak adalah derajat sedang yaitu 59 orang (65,9%). Kesimpulan: Berdasarkan karakteristik pasien ulkus kornea infeksi lebih dari separuh subjek penelitian berada pada umur 30-60 tahun, jenis kelamin sebagian besar adalah laki-laki, jenis pekerjaan terbanyak adalah buruh atau petani. Faktor risiko utama pasien ulkus kornea infeksi penelitian ini adalah trauma mata. Lebih dari separuh sampel penelitian termasuk dalam kategori derajat keparahan sedang. Kata Kunci: mata, ulkus kornea, faktor risiko, derajat keparahan
Korelasi Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Hemoglobin pada Lansia di Nagari Sumaniak Kabupaten Tanah Datar Ikhsan, Farid; Pertiwi, Dian; Reza, Mohamad
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1188

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Lanjut usia merupakan tahap akhir fase kehidupan yang mengalami perubahan dan penurunan kondisi fisiologis tubuh akibat proses degeneratif. Hal ini mengakibatkan meningkatnya masalah gizi pada lansia, salah satunya kurang gizi yang ditandai dengan rendahnya indeks massa tubuh. Indeks massa tubuh yang rendah merupakan salah satu faktor risiko terjadinya anemia. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin pada lansia di Nagari Sumaniak, Kabupaten Tanah Datar. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder pada bulan oktober 2021 dengan subjek penelitian sebanyak 44 sampel. Metode penelitian menggunakan analisis data bivariat menggunakan uji Pearson correlation. Hasil: Hasil penelitian didapatkan kelompok lansia terbanyak berada pada lansia muda dengan jenis kelamin perempuan. Nilai rerata indeks massa tubuh sebesar 24,116 ±4,473 kg/m2, rerata kadar hemoglobin sebesar 12,55±1,961g/dL. Hasil analisis bivariat korelasi indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin didapatkan (r = 0,230; p = 0,133). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi bermakna antara indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin pada lansia di Nagari Sumaniak, Kabupaten Tanah Datar. Kata kunci: Indeks massa tubuh, Kadar hemoglobin, Lansia Abstract Background: Elderly is the final stage of life that experiences changes and decreases in the physiological condition of the body due to degenerative processes. It increased nutritional problems in elderly, which is undernutrition that characterized by a low body mass indeks. A low body mass index is a risk factor for anemia Objective: This study aims to determine whether there is a correlation between body mass index and hemoglobin levels in the elderly in Sumaniak Nagari, Tanah Datar Regency Methods: This study is an analytical study with a cross-sectional design using secondary data in october 2021 with 44 subjects. The study method uses bivariate data analysis using the Pearson correlation test. Results: The results of the study found that the most elderly group was young elderly with female gender. The average value of body mass index was 24.116 ± 4.473 kg/m2, the average hemoglobin level was 12.55 ± 1.961g/dL. The results of bivariate analysis of the correlation of body mass index with hemoglobin levels were obtained (r = 0.230; p = 0.133). Conclusion: The conclusions of this study indicate that there is no significant correlation between body mass index and hemoglobin levels in the elderly in Sumaniak Nagari, Tanah Datar Regency. Keyword: Body mass index, Hemoglobin level, Elderly
Perbandingan Efektivitas Ekstrak Biji Petai dengan Metformin terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Kartika, Amalia; Reza, Mohamad; Alioes, Yustini
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1189

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan kadar glukosa darah merupakan karakteristik dari diabetes melitus yang jumlah penderitanya semakin meningkat. Obat antidiabetes oral pilihan pertama adalah metformin, selain itu biji petai dikenal dapat mengobati DM karena memiliki senyawa flavonoid dan polifenol. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas ekstrak biji petai dengan metformin terhadap kadar glukosa darah mencit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pretest posttest control group design di Lab Farmakologi Fakultas Farmasi dan Lab Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Agustus 2019-Maret 2020. Sebanyak 42 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (K-), kontrol positif (K+) diinduksi aloksan 175 mg/kgBB, kelompok perlakuan (P1, P2, P3) diberikan ekstrak biji petai 300 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, dan metformin 2,6 mg/20gBB mencit secara oral selama 7 hari, dilakukan pengukuran kadar glukosa darah puasa mencit menggunakan spektrofotometer. Data dianalisis menggunakan uji nonparametrik Kruskal-Wallis dan Post-Hoc Mann-Whitney. Hasil: Rerata kadar glukosa darah puasa mencit adalah 103,7 mg/dl untuk K-, 318,1 mg/dl untuk K+, 85,5 mg/dl untuk P1, 66,6 mg/dl untuk P2, dan 81,3 mg/dl untuk P3. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar glukosa darah puasa masing-masing kelompok penelitian dengan nilai p=0,0001 (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara kelompok P1 dengan P3. Kesimpulan: Ekstrak biji petai dosis 300 mg/kgBB memiliki efektivitas yang sama dengan metformin terhadap kadar glukosa darah mencit.
Hubungan Severitas Gambaran Radiologis Foto Toraks Pasien Covid-19 Dengan Peningkatan Kadar D-Dimer Randa, Ilham; Handayani, Tuti; Suharti, Netti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1195

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit pneumonia yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2 yang dapat mengarah kepada badai sitokin yang menginduksi disregulasi koagulasi (ditandai dengan peningkatan kadar D-dimer) sehingga meningkatkan risiko terjadinya trombosis. Pemeriksaan foto toraks memiliki peranan dalam upaya pemeriksaan lini pertama karena penggunaannya yang mudah dan dapat diterapkan untuk memantau kelainan paru pada pasien COVID-19. Objektif: Penelitian ini bertujuan melihat hubungan severitas gambaran radiologis foto toraks pasien COVID-19 dengan peningkatan kadar D-dimer. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional pada data sekunder pasien COVID-19 yang dilakukan pemeriksaan foto toraks dengan menggunakan skor Brixia dan kadar D-dimer di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang terhadap 30 sampel. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Korelasi dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Penelitian ini memperoleh nilai rerata untuk severitas gambaran radiologis foto toraks pasien COVID-19 sebesar 9,8±4,286 dan kadar D-dimer sebesar 1955±1065,041 µg/L. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan severitas gambaran radiologis foto toraks dengan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 (p=0,028) dan nilai korelasi (r) ialah 0,401. Kesimpulan: Kesimpulan yang didapat adalah terdapat hubungan dengan korelasi moderat antara severitas gambaran radiologis foto toraks dengan kadar D-dimer pada pasien COVID-19. Kata kunci: COVID-19, D-dimer, Foto Toraks Abstract Background: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) is a pneumonia caused by infection with SARS-CoV-2 that can lead to a cytokine storm that induces coagulation dysregulation (characterized by elevated D-dimer levels) thereby increasing the risk of thrombosis. X-ray examination has a role in first-line examination efforts because it is easy to use and can be applied to monitor lung abnormalities in COVID-19 patients. Objective: This study aims to see the relationship between the severity of the chest radiography of COVID-19 patients with increased levels of D-dimer. Methods: This study was an analytic study with a cross sectional approach to secondary data for patients with COVID-19 who were examined for chest X-ray with Brixia scores and D-dimer levels. The sample of this study were patients diagnosed with COVID-19 at Dr. M. Djamil Hospital, Padang as many as 30 samples. Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Pearson correlation test. Correlation was significant if p<0,05. Results: The study obtained that the mean value for the chest X-ray scores of COVID-19 patients was 9,8±4,286 and the D-dimer level was 1955±1065,041 µg/L. The results showed that there was a significant relationship between chest X-ray scores and D-dimer levels, the p value was 0,028 and the correlation value (r) was 0,401. Conclusion: It is concluded that there is relationship with a moderate correlation between chest X-ray scores and D-dimer levels in patients with COVID-19.
Karakteristik Pasien Kusta dengan Reaksi dan Tanpa Reaksi Tahun 2018-2021 Di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang Dzakiyyah, Adzristi Zahrah; Rahmatini, Rahmatini; Gustia, Rina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1204

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Kusta adalah salah satu penyakit menular yang dapat menyerang kulit dan saraf tepi dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Kusta dapat ditularkan melalui cairan tubuh seperti dari mulut dan hidung serta terdapat kontak erat dan dekat dengan pasien kusta. Kusta dapat menyebabkan seseorang menderita suatu reaksi inflamasi yang disebut dengan reaksi kusta. Reaksi kusta jika tidak diobati secara adekuat dapat menyebabkan kecacatan atau disabilitas. Objektif: untuk mengetahui karakteristik pasien kusta dengan reaksi dan tanpa reaksi pada tahun 2018-2021 di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosis kusta dengan reaksi dan tanpa reaksi oleh klinisi di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan jumlah sampel sebanyak 54 orang dari tahun 2018-2021. Hasil: Hasil penelitian didapatkan kasus kusta tanpa reksi terbanyak pada usia lansia, jenis kelamin laki-laki, tipe kusta MB, pemeriksaan BTA positif, dan tidak ada riwayat kontak erat dengan penderita kusta. Selain itu, kasus kusta dengan reaksi kusta terbanyak pada usia remaja, jenis kelamin laki-laki, tipe kusta MB, pemeriksaan BTA positif, tidak ada riwayat kontak erat dengan penderita kusta , tipe reaksi kusta ENL, dan waktu kejadian reaksi setelah MDT. Kesimpulan: Karakteristik pasien kusta dengan reaksi dan tanpa reaksi paling banyak pada kelompok usia remaja dan lansia, jenis kelamin laki-laki, tipe kusta MB, hasil pemeriksaan BTA positif, tidak ada riwayat kontak erat dengan penderita kusta, mengalami reaksi kusta tipe ENL, dan waktu kejadian reaksi setelah MDT. Abstract Background: Leprosy is and infectious disease caused by Mycobacterium leprae which affects the skin and peripheral nerves. Leprosy can caused a person to suffer from an inflammatory reaction called leprosy reaction. If not treated properly, leprosy reaction can lead to deformity or disability. Leprosy still exist in Indonesia and is still an unresolved problem until this day. Objective: This research aimed to determine the characteristics based on age, gender, majority, occupation, place of residence, complications, type of leprosy, AFB test result, history of close contact, type of leprosy reaction, and time of reaction of leprosy patients with and without reactions at the Dermatology and Venereology Polyclinic, RSUP Dr. M. Djamil Padang From 2018-2021. Methods: This study employed descriptive research. the population of this study consists all patients diagnosed leprosy with and without leprosy reaction by doctors with a total sampling methode obtained was 54 people from 2018-2021. Results: Of the 54 people sampled on this study this results showed that the majority of leprosy cases without reaction were found in elderly were 15 people (42,9%), male were 25 people (71,4%), MB type of leprosy were 25 people (71,4%), positive AFB test result were 17 people (48,5%), and patients with no history of close contact with leprosy patients were 31 people (88,6%). Additionally, the majority of leprosy cases with reactions were found in adolscent were 8 people (42,1%), male were 13 people (68,4%), MB type of leprosy, were 18 people (94,7%), positive AFB test result, were 13 people (68,4%), patients with no history of close contact with leprosy patients were 13 people (68,4%), patients with type 2 leprosy reaction (ENL) were 13 people (68,4%), and experiencing the reaction time after MDT were 9 people (47,4%). Conclusion: The majority of leprosy cases without reaction were found in elderly, male, MB type of leprosy, positive AFB test result, and patients with no history of close contact with leprosy patients. Additionally, the majority of leprosy cases with reactions were found in adolscent, male, MB type of leprosy, positive AFB test result, patients with no history of close contact with leprosy patients, patients with type 2 leprosy reaction (ENL), and experiencing the reaction time after MDT. Keyword: Leprosy, Leprosy Reactions, Without Reaction
Hubungan Koping dengan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Perantau Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Wijaya, Harwin; Yanis, Amel; Yanni, Mefri; Murni, Arina Widya; Fasrini, Ulya Uti; Abdiana, Abdiana
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i4.1206

Abstract

Latar Belakang: Koping merupakan suatu upaya kognitif atau perilaku untuk menghadapi tuntutan dari luar maupun dari dalam diri. Mahasiswa perantau sebagai individu yang pergi ke daerah lain dan dituntut untuk mampu menyesuaikan diri pada lingkungan baru, bila upaya penyesuaian tidak berjalan dengan baik dapat memunculkan stres atau bahkan beban mental yang dapat berdampak pada kemampuan mencapai prestasi akademik yang optimal. Dibutuhkan suatu mekanisme untuk menghadapi masalah tersebut, salah satunya adalah koping. Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemampuan koping dengan prestasi akademik pada mahasiswa perantau Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2019. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan total sampling dengan didapatkan jumlah sampel sebanyak 96 orang yang merupakan mahasiswa perantau Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pengumpulan data responden diperoleh dari kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan mayoritas responden memiliki kemampuan koping adaptif (93,8%) dan minoritas responden memiliki kemampuan koping maladaptive. Kategori cukup memuaskan, memuaskan, dan sangat memuaskan (53,1%) merupakan kategori indeks prestasi yang terbanyak diperoleh responden dan minoritas responden memiliki kategori dengan pujian (46,9%). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan koping dengan prestasi akademik (p=1).
Gambaran Faktor Risiko Hiperbilirubinemia Pada Neonatus yang Dirawat di Ruang Perinatologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Fadhillah, Ilham Arief; Afdal, Afdal; Pertiwi, Dian; Masnadi, Nice Rachmawati; Rofinda, Zelly Dia; Handayani, Tuti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1208

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Hiperbilirubinemia ditandai dengan adanya ikterus. Hiperbilirubinemia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hiperbilirubinemia fisiologis dan patologis. Hiperbilirubinemia pada neonatus perlu mendapat perhatian karena dapat menyebabkan neonatus mengalami bilirubin ensefalopati akut atau pada fase lanjut akan menyebabkan kernikterus Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko hiperbilirubinemia pada neonatus yang dirawat di perinatologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menggunakan data rekam medis neonatus dengan hiperbilirubinemia pada bulan Januari 2021 hingga Desember 2022 Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan 58,6% neonatus dengan hiperbilirubinemia berjenis kelamin laki-laki, dan 35,7% masuk dalam kategori high risk. Kejadian faktor risiko hiperbilrubinemia pada neonatus adalah 35,6% dengan berat lahir rendah, 32,8% dengan inkompatibilitas darah, 32,8% dengan preterm, 21,4% dengan infeksi, 7,1% dengan breastfeeding jaundice, dan 1,4% dengan ibu diabetes melitus. Tidak ditemukan faktor risiko polisitemia pada neonatus yang hiperbilirubinemia. Kesimpulan. Pada penelitian ini didapatkan faktor risiko hiperbilirubinemia pada neonatus terbanyak adalah BBLR, diikuti oleh faktor risiko lainnya seperti inkompatibilitas darah, usia gestasi, infeksi, breastfeeding jaundice, dan ibu diabetes melitus Abstract Background: Hyperbilirubinemia is an increased level of bilirubin in the blood which is clinically characterized by icterus. There are various risk factors for hyperbilirubinemia in neonates so attention needs to be paid because it can cause neonates to experience acute bilirubin encephalopathy or in the advanced phase it can cause kernicterus. Objective: This study aims to describe the risk factors for hyperbilirubinemia in neonates treated at the neonatology department of RSUP Dr. M. Djamil Padang. Method: This research is a retrospective descriptive study using medical records of neonates with hyperbilirubinemia. This research was conducted at RSUP Dr. M. Djamil Padang in January 2021 – December 2022. In this study, 70 samples were obtained from neonates with a diagnosis of hyperbilirubinemia who met the inclusion criteria. Result: The results of this study founded that 35,7% of neonates with hyperbilirubinemia were included in the high risk category. 41% of neonates with hyperbilirubinemia are male. The risk factors for hyperbilirubinemia in neonates were 35.6% with low birth weight neonates, 32.8% with blood incompatibility, 32.8% with preterm, 21.4% with infections, 7.1% with breastfeeding jaundice, and 1.4% with diabetes mellitus. No risk factors for polycythemia were found in neonates with hyperbilirubinemia. Conclusion: The conclusion of this study is the most common risk factor for hyperbilirubinemia in neonates is LBW, followed by other risk factors such as blood incompatibility, gestational age, infection, breastfeeding jaundice, cholestasis, and maternal diabetes mellitus. Keyword: Neonates, hyperbilirubinemia, risk factors.
Hubungan Karakteristik Pasien terhadap Luaran Pasien COVID-19 dengan Komorbid Kanker di RSUP Dr. M. Djamil Padang Nivolla, Rhona; Izzah, Amirah Zatil; Nurhayati, Nurhayati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1217

Abstract

Latar Belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) rentan dialami oleh pasien kanker karena memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Penelitian mengenai hubungan karakteristik pasien (jenis kelamin, usia, diagnosis kanker, derajat klinis COVID-19, dan komorbid lainnya) terhadap luaran pasien COVID-19 dengan komorbid kanker belum banyak dilakukan di Indonesia. Objektif: Mengetahui hubungan karakteristik pasien terhadap luaran pasien COVID-19 dengan komorbid kanker di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Jenis penelitian ini adalah kohort retrospektif. Subjek penelitian ini adalah pasien rawat inap COVID-19 dengan komorbid kanker di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Maret 2020 – Desember 2022. Jumlah sampel penelitian adalah 43 pasien. Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi square. Hasil: Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien COVID-19 dengan komorbid kanker dengan luaran meninggal terbanyak, yaitu perempuan (50,0%), usia di atas 60 tahun (60,0%), memiliki kanker darah (44,4%), memiliki derajat klinis COVID-19 sakit berat (60,0%), dan memiliki komorbid lainnya (72,7%). Uji statistik dengan chi square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara karakteristik komorbid lainnya terhadap luaran pasien COVID-19 dengan komorbid kanker (p=0,038). Tidak terdapat hubungan bermakna antara karakteristik jenis kelamin (p=0,683), usia (p=0,385), diagnosis kanker (p=1,000), dan derajat klinis COVID-19 (0,640) terhadap luaran pasien COVID-19 dengan komorbid kanker. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara karakteristik komorbid lainnya terhadap luaran pasien COVID-19 dengan komorbid kanker.
Kematian Akibat Kecelakaan Kereta Api: Laporan Kasus Sinai, Nadiva Kezia; Dzulkifli, Dzulkifli; Pertiwi, Shinta; Chentia, Rifani; Halimatussakdiyah, Halimatussakdiyah; Furqan, Muhammad; Alfaiz, Alif Budi; Nafyla, Allyscra; Arrafif, Caesar Rayhand; Zawira, Shafiqah; Windasari, Noverika
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1246

Abstract

Abstrak Seorang laki laki berumur 19 tahun dibawa ke Instalasi Forensik salah satu Rumah Sakit tipe A di Sumatera Barat oleh petugas dengan kondisi tidak bernyawa setelah tertabrak kereta api, korban merupakan seorang mahasiswa salah satu universitas di Sumatera Barat. Dalam kejadian ini tim forensik melakukan berbagai pemeriksaan dasar terkait kematian tidak wajar yang dilaporkan. Kata kunci: Tertabrak kereta api, forensik patologi, forensik klinik, kematian tidak wajar
Pengaruh Suplementasi Zink Terhadap Mukositis Oral Terkait Radiasi Pasien Kanker Kepala dan Leher: Studi Kasus Dengan Pendekatan Berbasis Bukti Gultom, Yohana Elisabeth; Sinaga, Wina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1253

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Mukositis oral merupakan efek samping radiasi kanker kepala leher yang paling sering, khususnya pada dosis radiasi lebih dari 30 Gray (Gy). Patofisiologi mukositis oral terkait radiasi dapat disebabkan oleh inflamasi dan reactive oxygen species (ROS) yang dihasilkan oleh radiasi pengion. Zink merupakan kofaktor dari sintesis, DNA, protein, polimerasi RNA, dan transkriptase terbalik sehingga memiliki kemampuan penyembuhan luka sekaligus meningkatkan pertumbuhan sel dan sistem imunitas tubuh. Objektif: Mengetahui efek pemberian suplementasi zink terhadap mukositis oral terkait radiasi pasien kanker kepala dan leher Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan advanced searching pada Pubmed, Embase, dan Cochrane dengan kriteria eligibilitas yang ditentukan oleh penulis. Hasil: Terdapat 2 artikel yang relevan dengan pertanyaan klinis dan kriteria eligibilitas yang sudah ditetapkan, terdiri dari 1 Randomized Clinical Trial (RCT) dan 1 Systematic Review/Meta-Analysis (SR/MA). Penelitian RCT menyimpulkan suplementasi zink dapat bermanfaat dalam menangani mukositis oral dan penelitian SR/MA menyimpulkan bahwa tidak terdapat manfaat suplementasi zink terhadap mukositis oral pasien kanker kepala leher yang menjalani kemoradiasi. Kesimpulan: Berdasarkan tinjauan kritis yang telah dilakukan dalam studi RCT dan SR/MA, suplementasi zink tidak mempengaruhi mukositis oral terkait radiasi kanker kepala dan leher. Kata kunci: suplementasi zink, mukositis oral, orofaringeal mukositis, kanker kepala leher, radiasi, radioterapi Abstract Background: Oral mucositis is the most frequent radiation side effect of head and neck cancer, particularly at radiation doses greater than 30 Gy. The pathophysiology of radiation-related oral mucositis can be caused by inflammation and reactive oxygen species (ROS) generated by ionizing radiation. Zinc is a cofactor of synthesis, DNA, protein, RNA polymerization, and reverse transcriptase so that it has the ability to heal wounds while increasing cell growth and the body's immune system. Objective: To determine the effect of zinc supplementation on radiation-related oral mucositis in head and neck cancer patients. Methods: Literature search was conducted by advanced searching on Pubmed, Embase, and Cochrane with eligibility criteria determined by the author. Results: There were 2 articles relevant to the clinical question and eligibility criteria that had been set, consisting of 1 Randomized Clinical Trial (RCT) and 1 Systematic Review/Meta-Analysis (SR/MA). The RCT study concluded that zinc supplementation could be beneficial in managing oral mucositis and the SR/MA study concluded that there was no benefit of zinc supplementation on oral mucositis in head and neck cancer patients undergoing chemoradiation. Conclusion: Based on a critical review of RCT and SR/MA studies, zinc supplementation does not affect head and neck cancer radiation-related oral mucositis. Keywords: zinc supplementation, oral mucositis, oropharyngeal mucositis, head and neck cancer, radiation, radiotherapy