cover
Contact Name
Fathiyyatul Khaira
Contact Email
fathiyyatul.khaira@gmail.com
Phone
+6285161910033
Journal Mail Official
jikesi.editorial@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jln. Limau Manis, Pauh – Padang – Sumatera Barat. 25163.
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI)
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : 27224848     DOI : https://doi.org/10.25077/jikesi.v1i3
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on promoting health sciences to integrate research in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields: Anesthesiology Cardiovascular Cell and molecular biology Child health Dermato-venereology Histopathology Internal medicine Neuro-psychiatric medicine Nutrition Obstetrics and Gynecology Ophthalmology Otorhinolaryngology Pharmacology Pulmonology Radiology Surgery
Articles 328 Documents
Hubungan Diabetes Melitus dengan Kematian dan Rehospitalisasi Pasien STEMI Pasca IKPP Sylvia; Elfi, Eka Fithra; Putri, Biomechy Octomalio; Ilhami, Yose Ramda; Anggraini, Fika Tri
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1467

Abstract

Latar Belakang: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) tetap menjadi tantangan kesehatan utama dengan risiko kematian dan rehospitalisasi yang lebih tinggi pada pasien dengan diabetes melitus (DM). Meskipun intervensi koroner perkutan primer (PPCI) efektif menurunkan angka kematian dibandingkan terapi fibrinolitik, pasien DM menghadapi risiko komplikasi lebih besar karena kerusakan vaskular dan hiperglikemia. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan DM dengan kematian dan rehospitalisasi padapasien STEMI pasca IKPP di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik obsevasioal dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik pasien dan  menggunakan media telepon. Teknik pegambilan sampel adalah total sampling dengan 104 subjek memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Dari 104 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 89 laki-laki, usia dominan 45–64 tahun (n=62), 69 memiliki IMT ≥23, 39 dengan lokasi infark anterior, 69 perokok, 101 mengalami penurunan kadar HDL, 71 mengalami peningkatan kadar LDL, dan 85 memiliki faktor risiko ganda. Terdapat 9 kasus kematian (8 dengan DM) dan 19 kasus rehospitalisasi (14 dengan DM), dengan korelasi signifikan antara DM dengan kematian (p=0,015) serta rehospitalisasi (p=0,034). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pasien STEMI didominasi laki-laki, usia 45-64 tahun, dengan IMT ≥23, penurunan HDL, peningkatan LDL, lokasi infark anterior, faktor risiko ganda, dan merokok. Kejadian kematian dan rehospitalisasi lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, dengan hubungan signifikan terhadap peningkatan risiko keduanya
Hubungan antara Lama Menjalani Terapi Hemodialisis dengan Kualitas Hidup pada Pasien Chronic Kidney Disease di RS M. Djamil Padang Nabilah, Hanifah; Afriant, Rudy; Yaunin, Yaslinda; Wahid, Irza; Sauma, Eldi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1475

Abstract

Latar Belakang: Penyakit chronic kidney disease (CKD) merupakan abnormalitas struktur dan fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) atau kadar glomerulus kurang dari 60 mL/menit/1,73m2 yang bersifat ireversibel. Salah satu terapi yang digunakan sebagai pengganti fungsi ginjal adalah hemodialisis. Terapi hemodialisis ini digunakan pada pasien CKD stadium akhir dan berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pasien chronic kidney disease di RS M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan wawancara kepada pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RS. M. Djamil Padang. Hasil: Kasus CKD lebih banyak terjadi pada wanita (50,2%), dengan kelompok umur rentang 46-65 tahun, pendidikan terakhir terbanyak SMA serta 63,1% pasien tidak bekerja. Lama pasien menjalani HD terbanyak >24 bulan dan memiliki kualitas hidup cukup. Hasil uji Chi-square p=0,193 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pada pasien chronic kidney disease di RS. M. Djamil Padang. Kata kunci:  Chronic Kidney Disease, Terapi Hemodialisis,Kualitas Hidup.
Perbedaan Rerata Kadar Albumin Pasien Lupus Eritematosus Sistemik berdasarkan Derajat Aktivitas Penyakit di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ulti, Zifa Amanda; Elvira, Dwitya; Firdawati; Efrida; Raveinal; Aliska, Gestina
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1478

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kompleks yang dapat menyerang berbagai pertahanan sistem tubuh. Penyakit ini berhubungan dengan pembentukkan autoantibodi sehingga dapat menyebabkan inflamasi kronis yang berujung pada kerusakkan jaringan tubuh. Aktivitas Penyakit LES diduga dapat mempengaruhi kadar albumin di dalam tubuh.    Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rerata kadar albumin pasien LES berdasarkan derajat aktivitas penyakit di RS M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel penelitian berjumlah 59 pasien LES rawat jalan dan rawat inap di RS M. Djamil Padang yang dikumpulkan secara consecutive sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji one way annova. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan mayoritas pasien LES berada di rentang usia 26−35 tahun (44,1%), berjenis kelamin perempuan (100%). Lebih dari setengah pasien LES mengalami hipoalbuminemia (76,3%), sebagian besar pasien memiliki derajat aktivitas penyakit sedang (39%). Rerata kadar albumin terendah ditemukan pada pasien dengan derajat aktivitas penyakit berat sebesar 2,25 g/dL. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada rerata kadar albumin pasien LES. Rerata kadar albumin terendah pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit berat. Rerata kadar albumin tertinggi pasien LES ada pada kelompok derajat aktivitas penyakit ringan.
Characteristics of Breast Cancer Patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang Ahmad Aqeed Izreen; Darwin, Eryati; Khambri , Daan
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1531

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women in Indonesia and worldwide. Among the proven risk factors are age, age of menarche, age of menopause, history of hormonal birth control use, number of parities, breastfeeding history, family history of breast cancer and smoking history. Objective: This study was conducted to determine the risk factors and distribution of breast cancer patients based on risk factors at Dr. M. Djamil Padang Hospital in 2022-2023. Methods: This study is a retrospective descriptive study. The study sample was breast cancer patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang and was selected using consecutive sampling technique. Data was taken from the patient's medical record and processed using the SPSS application to obtain a distribution of patients based on risk factors. Results: The results of the study obtained a sample according to the inclusion and exclusion criteria were 52 people. The majority of patients were aged 40–49 (40.4%), menarche at the age of 13 and 14(50%), not yet menopause (26.9%), using hormonal birth control for 5 years and more (42.3%), having 2 children (34.6%), breastfeeding for 24 to 35 months (50%), not having a family with breast cancer (88.5%) and never smoked but was a passive smoker (92.3%). Conclusions:  Exposure to risk factors increase the incidence rate of breast cancer. Keyword: reproductive period, family history, smoking
Patofisiologi Patent Ductus Arteriosus Kino; Hariyanto, Didik; Perdana, Rully; Byant, Nadhila Annisa
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1596

Abstract

Background: Patent ductus arteriosus (PDA) is a congenital heart defect resulting from the failure of the ductus arteriosus to close after birth. This condition leads to a left-to-right shunt between the aorta and the pulmonary artery, which may cause increased pulmonary blood flow, pulmonary hypertension, and heart failure if left untreated. Physiological closure of the ductus arteriosus after birth depends on postnatal circulatory changes and the regulation of molecular mediators, particularly prostaglandin E2 and nitric oxide, with additional contributions from genetic factors. Objective: To describe the role of molecular mechanisms and genetic factors in the pathophysiology of PDA and to highlight their implications for diagnostic and therapeutic approaches. Methods: This article is based on a narrative review of the scientific literature addressing the pathophysiology of PDA, with particular emphasis on the roles of prostaglandins, nitric oxide, and genetic factors such as the TBX1 gene and the Notch signaling pathway. Results: The literature indicates that persistent prostaglandin E2 levels and ongoing nitric oxide activity contribute to the maintenance of ductal patency after birth, especially in preterm neonates. Moreover, dysregulation of the TBX1 gene and alterations in the Notch signaling pathway are associated with impaired development and reduced contractility of ductus arteriosus smooth muscle, thereby hindering normal physiological closure. These findings provide a mechanistic basis for the use of prostaglandin-inhibiting pharmacological therapy in the management of PDA. Conclusion: Patent ductus arteriosus is a multifactorial condition driven by complex interactions between molecular mediators and genetic determinants. A comprehensive understanding of these mechanisms is essential for optimizing PDA management through more precise, pathophysiology-based therapeutic strategies.
Sindrom Hipoventilasi Obesitas (Pickwickian Syndrome): Laporan Kasus Novia, Juvita; Ida Bagus, Aditya Nugraha; Wira, Gotera
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1623

Abstract

Background: Obesity hypoventilation syndrome (OHS) or Pickwickian syndrome is a chronic respiratory disorder characterized by the combination of obesity, daytime hypercapnia, and sleep-related breathing disturbances. This condition is often underdiagnosed and may increase the risk of morbidity and mortality. Case: A 30-year-old male presented with complaints of shortness of breath, snoring during sleep, frequent nighttime awakenings, fatigue, and headaches. The patient was severely obese and had a history of hypertension, type 2 diabetes mellitus, and a 15-year history of smoking one pack of cigarettes daily. He was diagnosed with severe community-acquired pneumonia (CAP) with sepsis, right heart failure, and OHS. The patient received ventilatory support, diuretics, antibiotics, blood glucose regulation with insulin, and physiotherapy. Discussion: During hospitalization, the patient had difficulty weaning from the ventilator due to OHS. The diagnosis was based on three main criteria: a body mass index >30 kg/m², daytime PaCO₂ >45 mmHg, and sleep-disordered breathing in the absence of other causes of alveolar hypoventilation. Conclusion: OHS should be promptly recognized and managed through a multidisciplinary approach to reduce morbidity and mortality. Education and clinical awareness of this syndrome must be improved, as it is frequently underdiagnosed. Keywords: obesity, hypoventilation, pickwickian syndrome, sleep disorder
A case report Management of Foreign Body “Scarf Pin” Stuck in the Left Bronchus Through Rigid Bronchoscope: Article Case Report Septiany, Dwi Tika; Asyari, Ade
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1713

Abstract

Introduction: Aspiration of foreign body a scarf pin happens in teenagers who wear the headscarf. The diagnosis of foreign body aspiration is established on the anamnesis, choking history and chest X-ray. Rigid bronchoscopy is an option to extracted foreign body in the tracheobronchial tree. Objective: Understanding diagnosis dan management of foreign body scarf pin stuck in the left bronchus. Case Report: Reported a case 14-year-old girl came to Emergency room with chief complaint of accidentally choked a pin 7 hours before admission. Chest X-ray examination revealed a homogeneous opacity of metallic density in the projection of the left primarius bronchus at the level of the thoracic vetebra 6-7. The patient was diagnosed foreign body a pin at the left bronchus. Patient was treated by diagnostic and therapeutic rigid bronchoscope. Conclusion: A headscarf pin foreign body can be found in the left bronchus because the tracheal angle symmetric and effect of Bernoulli phenomenon. Rigid bronchoscope can be used to diagnostic and therapeutic in this case. If there are postoperative complications such as laceration and perforation of the bronchus, immediately consult to the Department of Cardiothoracic Vascular Surgery for further management Kata kunci: Foreign body in bronchus; rigid bronchoscopy; headscarf pin
Profil Pasien Katarak Kongenital di Poli Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2020-2022 Kusumayanti, Ratna Dwi; Sayuti, Kemala; Akhyar, Gardenia; Hendriati, Hendriati; Afdal, Afdal; Anggraini, Fika Tri
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v7i1.1325

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyebab utama kebutaan pada bayi baru lahir dan anak-anak adalah katarak kongenital. Kekeruhan lensa sejak lahir ini dapat menghambat perkembangan visual dan berisiko menimbulkan ambliopia permanen bila tidak ditangani dini. Variasi etiologinya luas sehingga deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat menjadi sangat penting. Operasi yang dilakukan pada pasien katarak kongenital adalah Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) tanpa atau dengan pemasangan Intraocular Lens (IOL). Namun, pemasangan IOL jarang dilakukan pada anak di bawah usia 2 tahun. Objektif: Tujuan penelitian untuk mengetahui profil pasien katarak kongenital di Poli Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Data rekam medis diperoleh dari 29 pasien yang terdiagnosis katarak kongenital pada periode 2020-2022 di Poli Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang. Seluruh variabel dilakukan analisis univariat. Hasil: Hasil dari penelitian ini didapatkan kelompok usia katarak kongenital terbanyak 12-59 bulan (37,9%), sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (62,1%) dan merupakan penderita katarak bilateral (72,4%). Infeksi intrauterin merupakan penyebab yang banyak ditemukan (44,8%), tetapi sebagian besar idiopatik (48,3%). Sebagian besar pasien katarak kongenital dilakukan prosedur ECCE tanpa IOL (61,5%). Kesimpulan:  Katarak kongenital sering terjadi pada usia 12-59 bulan, laki-laki, dan bersifat bilateral. Faktor idiopatik merupakan penyebab utama terjadinya katarak kongenital. Sebagian besar pasien ditatalaksana ECCE tanpa pemasangan IOL karena sebagian besar pasien berusia di bawah 2 tahun.
Hubungan Kadar Cancer Antigen 125 dan Metastasis pada Kanker Ovarium Tipe Epitel Wulandari, Natasya; Rikarni; Irramah, Miftah; Yaswir, Rismawati; Afriani, Nita
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v7i1.1332

Abstract

Latar belakang: Kanker ovarium tipe epitel merupakan salah satu jenis dari kanker ovarium, dan merupakan tipe terbanyak (95%). Kanker ovarium menempati peringkat tujuh berdasarkan insiden dan mortalitas di dunia. Salah satu pemeriksaan preoperatif yang dapat dilakukan untuk kanker ovarium adalah pemeriksaan penanda tumor cancer antigen 125 (CA-125). Penelitian memperlihatkan bahwa kadar CA-125 yang tinggi berhubungan dengan metastasis kanker ovarium. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar CA-125 dan metastasis pada kanker ovarium tipe epitel. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional retrospektif dengan dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling. Sampel adalah pasien kanker ovarium tipe epitel yang bermetastasis sejumlah 15 orang dan tidak bermetastasis sejumlah 15 orang. Hasil: Usia pasien kanker ovarium tipe epitel terbanyak ditemukan pada kelompok usia 41-50 tahun yaitu 30%. Subtipe terbanyak adalah high grade serous yaitu 53,3%.  Sebanyak 73,3% pasien memiliki kadar CA-125  ≥35 U/mL. Organ yang paling banyak mengalami metastasis adalah omentum yaitu 80%. Median kadar CA-125 pada kanker ovarium yang tidak bermetastasis lebih rendah (23,15 U/mL) dibanding yang bermetastasis (>600 U/mL). Hasil uji Chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kadar CA-125 dengan metastasis pada kanker ovarium tipe epitel (p=0,001). Kurva ROC menunjukkan nilai cut-off untuk metastasis adalah 139,59 U/mL dengan sensitivitas 93% dan spesifisitas 80%. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara kadar CA-125 dengan metastasis pada kanker ovarium tipe epitel di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Pengaruh Ekstrak Kemangi terhadap Ekspresi Gen Interleukin-1β pada Tikus Diabetes Melitus Gestasional Medison, Sultan Rafli Putra; Decroli, Eva; Ali, Hirowati
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v7i1.1464

Abstract

Latar Belakang: Istilah Diabetes Melitus Gestasional (DMG) mengacu pada adanya intoleransi glukosa yang ditemukan pertama kali pada kehamilan, menyebabkan terjadinya inflamasi yang ditandai dengan peningkatan ekspresi gen Interleukin-1β (IL-1β) dan dapat memicu terjadi stres oksidatif. Kemangi (Ocimum basilicum) merupakan tanaman herbal dengan kandungan zat aktif yang mempunyai efek antidiabetes, antiinflamasi maupun antioksidan. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) terhadap ekspresi gen IL-1β pada tikus model diabetes melitus gestasional. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode post test only control group design. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian dilakukan selama bulan September 2023 sampai Januari 2024. Besar sampel yang digunakan ditentukan dengan rumus Federer. Jumlah sampel setiap kelompok adalah 6. Penelitian ini terdiri dari 4 kelompok yaitu 2 kontrol dan 2 perlakuan sehingga jumlah total sampel adalah sebanyak 24 serum. Hasil: Rerata hasil ekspresi gen IL-1β yang pada kelompok K- (kontrol negatif), K+ (kontrol positif), P1 (perlakuan 1), dan P2 (perlakuan 2) adalah masing masing 1,16, 1,24, 0,86, dan 0,81. Terdapat perbedaan bermakna pada setiap kelompok dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian ini memperlihatkan  terdapat perbedaan bermakna penurunan ekspresi IL-1β antara K+ dengan P1 dan P2 (p<0,001) namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara P1 dan P2. Kesimpulan: Pemberian ektrak kemangi dapat mempengaruhi ekspresi gen IL-1β pada tikus DMG.