cover
Contact Name
Asep Harhar Muharam
Contact Email
jtsda@hathi.id
Phone
+6281284830523
Journal Mail Official
jtsda@hathi.id
Editorial Address
Gedung Direktorat Sumber Daya Air Lt. 8 Jl. Patimura No 20 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta - 12110
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Teknik Sumber Daya Air
ISSN : 24071048     EISSN : 29628105     DOI : -
Jurnal Teknik Sumber Daya Air (JTSDA) adalah jurnal berbahasa Indonesia yang memuat naskah ilmiah dalam bidang Teknik Sumber Daya Air dengan proses review secara double-blind peer-reviewed. JTSDA terbit 2 (dua) kali dalam setahun, open access, menerima berbagai tipe naskah, baik naskah penelitian (research articles), naskah kasus teknik (technical notes), ataupun naskah ulasan (review articles). Ketiga tipe naskah JTSDA tersebut mencakup aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak sumber daya air, sistem informasi sumber daya air, serta kelembagaan sumber daya air.
Articles 79 Documents
Studi Komparasi Peta Bahaya Kekeringan Meteorologi dan Hidrologi WS Pemali Comal Primadita, Brigita Diaz; Utami, Nirmaya Arti; Utama, Riksa Nugraha; Levina; Radhika; Pohan, Dasniari; Rizqullah, Hirzi
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v3i2.85

Abstract

The Pemali-Comal River Basin experienced a very massive impact due to drought, considering the large area of land used for agriculture. Therefore, an effective drought mitigation is needed, one of which is developing a hazard map that includes spatial analysis and the severity degree of the drought. This study aims to compare the spatial distribution of meteorological and hydrological drought hazards in the Pemali-Comal River Basin. Meteorological drought can identify areas that naturally experience a water deficit due to rain, while hydrological drought can indicate areas that experience a surface flow deficit. Drought hazard mapping was carried out using condition classification using the Standardized Precipitation Index and Standardized Runoff Index on 67 rain gauges and 16 streamflow gauges throughout 1990-2021. More than half of the total Pemali Comal River Basin area is at a high-very high danger level (70% meteorological drought and 50% hydrological drought). Regarding the danger of meteorological drought, the majority of areas with a very high level of danger are in the eastern part of the river region, namely Pemalang Regency , Pekalongan Regency, and parts of Batang Regency. Meanwhile, from hydrological drought, the northern coastal areas of the Pemali-Comal WS, especially in the north of Brebes Regency, Tegal City, north of Pemalang Regency and Pekalongan City tend to have very high levels of danger. The hydrological drought (showing surface water deficit) in the Pemali Comal River Basin are caused by athropogenic factors which can be seen from the distribution of land use. Therefore, it is recommended to carry out mitigation such as rainwater harvesting, creating water reservoirs, and reforesting areas that have a very high risk of surface water drought, especially in the northern part of the Pemali-Comal River Basin.
Pengaruh Metode Pemasangan Pipa Distribusi Terhadap Aliran Hidraulika Purwadi, Ofik Taufik; Awan, Fajriharish Nur; Nugroho, Hendra Satria; Tumijo, Tumijo
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (Juni 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i1.86

Abstract

Jumlah debit kebutuhan air bersih yang harus dipenuhi di Kota Bandar Lampung mencapai 1.237,2 Liter/detik, namun tingkat pemenuhan kebutuhan debit air bersih yang ada hanya 525 Liter/detik.  Jaringan perpipaan PDAM di Kota Bandar Lampung belum terbangun di semua wilayah kota Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aliran hidrolika pada pemasangan pipa menggunakan metode HDD dan metode konvensional. Penelitian dilakukan pada 3 lokasi pemasangan pipa. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif. Data yang dianalisa berupa data aliran hidrolika yang dibantu dengan software EPANET 2.2. Hasil yang diperoleh adalah kecepatan aliran pada lokasi 1 dan 2 memiliki nilai 0,94 m/s di jam rata rata dan 1,41 m/s pada jam puncak, pada pemasangan di  lokasi 3 memiliki nilai 0,99 m/s di jam rata rata dan 1,49 m/s di jam puncak. Headloss di lokasi 1 memiliki nilai antara 0,00 m sampai dengan 0,4447 m, di lokasi 2 memiliki nilai antara 0,00 m sampai dengan 0,4673 m dan di  lokasi 3 memiliki nilai antara 0,00 sampai dengan 0,7142 m. Tekanan pipa di lokasi 1 memiliki nilai antara 0,546 atm sampai 0,925 atm. Di lokasi 2 memiliki nilai antara 2,050 atm sampai 2,534 atm.dan di lokasi 3 memiliki nilai antara 2,108 atm sampai 2,619 atm. Kata Kunci: Air bersih, HDD, Kehilangan energi, Open cut
Pembaharuan Pola Pengoperasian Waduk Sianjo-Anjo Akibat Peningkatan Laju Sedimen dan Variabilitas Aliran Zahrah, Nurrul; Azmeri; Maimun Rizalihadi
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v3i2.87

Abstract

Waduk berperan penting dalam memastikan keberadaan air untuk memenuhi kebutuhan air di hilirnya. Keberadaan waduk dapat mengurangi variabilitas temporal terhadap aliran melalui pengaturan outflow air waduk. Pada penelitian ini sistem pengoperasian Waduk Sianjo-anjo untuk menyuplai kebutuhan air baku. Sistem pengoperasian waduk harus optimal agar penggunaan air sesuai dengan kebutuhan daerah pelayanan. Metode pengoperasian waduk dianalisis menggunakan teknik optimasi dengan program non linier. Optimasi pengoperasian waduk ditujukan untuk meminimalkan deviasi (outflow-kebutuhan air) dalam pengoperasiannya. Berdasarkan hasil optimasi pengoperasian Waduk Sianjo-Anjo dengan menggunakan Tool Solver pada Microsoft Excel didapatkan rata-rata outflow saat tahun kering sebesar 552.534,16 m3, saat tahun normal didapatkan rata-rata outflow sebesar 998.071,34 m3, dan saat tahun basah didapatkan rata-rata outflow sebesar 1.632.488,80 m3. Dengan demikian pengoperasian Waduk Sianjo-Anjo menghasilkan lebih besar atau sama dengan 100% keandalan untuk dapat memenuhi kebutuhan air baku yang dapat menyeimbangkan dengan kebutuhan air baku dan tampungan waduk.
Nina Estimasi Angkutan Sedimen Dasar pada Saluran Sand Trap Daerah Irigasi Gumbasa: Estimation of Bedload Sediment Transport at Sand-trap Channel of Gumbasa Irrigation Area Rustiati, Nina; Fauzi, Nurfahli Riza; Keristiadi, Ariesto; Setiaji, Wahyu; Ngaripin
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v3i2.88

Abstract

The Sulawesi River Basin Office 3 requires data on the characteristics of sediment grains to predict the frequency of sedimentation flushing. The Gumbasa Irrigation Area is located in the Palu valley area which extends from the headwaters of the Gumbasa River to the Kawatuna River in Palu City, namely: Gumbasa, Tanambulaya, Dolo, Sigi Biromaru and South Palu Districts. The Gumbasa Irrigation Area has an area of ​​1,737 Ha. This study aims to determine the amount of bedload sediment transport in the Sand Trap Channel of the Gumbasa Irrigation Area. In this research, bed load sampling, flow velocity and water depth in the channel were taken. Sampling was carried out in two seasons, namely at the beginning of the rainy season (February) and the end of the rainy season (March). The purpose of taking samples at two different times is to determine the difference in the amount of sediment transport at that time. The sediment samples are then tested in the laboratory to obtain grain diameter measurements with a passing percentage of 90% and 50% (D90 and D50). The data that has been obtained is then analyzed using the Meyer-Peter-Muller equation. The analysis results show that the amount of bedload sediment transport at the beginning of the rainy season using the Meyer-Peter-Muller equation is 184,966 m3/day, while at the end of the rainy season the amount of bedload sediment transport using the Meyer-Peter-Muller equation is 38,494 m3/day.
Analisis Penerapan Reality Capture Berbasis Fotogrametri sebagai Alternatif Pemantauan Deformasi Bendungan Dhanardono, Bhima; Riyanto, Didit Puji; Prasetyo, Wahyu; Suhardi; Apriyoga, Wahyu
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (Juni 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i1.89

Abstract

Penerapan Reality Capture untuk pemantauan deformasi dapat dilakukan dengan menggunakan laser scanner atau fotogrametri. Kelebihan metode fotogrametri adalah jauh lebih murah dalam aspek biaya investasi alat dan lebih cepat dalam pengambilan data terutama jika menggunakan wahana udara. Tetapi dalam pemantauan deformasi tentu mempertimbangkan tingkat akurasi pengukuran. Seberapa akurat hasil pengukuran deformasi menggunakan fotogrametri akan menjadi salah satu aspek yang menentukan layak tidaknya fotogrametri sebagai alternatif pengganti laser scanner untuk pemantauan deformasi. Permasalahan tersebut akan dikupas dalam penelitian ini dengan cara menilai akurasi hasil pengukuran deformasi menggunakan metode fotogrametri menggunakan Unmanned Aerial Vehicle dibandingkan dengan pengukuran terestris yang dilakukan dengan menggunakan Robotic Total Station. Studi kasus penelitian ini adalah bendungan Randugunting di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pemantauan deformasi bendungan difokuskan pada sebelas patok geser di lereng sisi hilir bendungan. Pengukuran deformasi dari fotogrametri dilakukan pada posisi patok geser yang didapat dari penampang bendungan hasil rekonstruksi point cloud. Hasil pengujian akurasi dengan menggunakan Root Mean Squared Error menunjukkan bahwa pengukuran deformasi dengan metode fotogrametri akurasinya tinggi. Meskipun terdapat selisih nilai deformasi terhadap pengukuran terestris, tetapi secara umum terdapat kecenderungan laju deformasi yang serupa. Akurasi pengukuran fotogrametri dapat ditingkatkan salah satunya dengan updating nilai koordinat titik referensi yang digunakan setiap siklus pemantauan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Reality Capture berbasis fotogrametri dapat diterapkan sebagai alternatif pemantauan deformasi bendungan.
Pengembangan Pentapod Armor Beton Jenis Baru untuk Pelindung Bangunan Pantai Natakusumah, Dantje Kardana; Achiari, Hendra; Nugroho, Eka; Hidayatulloh, Syarif; Angelo, Jonathan; Adinata, Fitra
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v3i2.92

Abstract

This paper discusses PentaPod concrete armor, a new type of coastal structure protection made from concrete designed to shield against wave and tidal damage. PentaPod concrete armor can be arranged randomly or in an organized fashion without requiring ties. However, it can also be installed systematically, in one or multiple layers, interconnected with ties. The overall stability of structures with PentaPod armor far exceeds that of conventional concrete armor installations. The research method involves determining the Stability Coefficient (Kd) for two variants of PentaPod concrete armor, namely PentaCone and PentaOcta, tested in a Wave Tank. This study aimed to find the stability coefficient for both variants of PentaPod concrete armor when installed randomly and systematically without tie bonds. The novelty of the research includes that the concrete armor: 1) can be installed randomly and systematically, 2) systematic installation without ties reduces the number of armor units and associated costs, 4) systematic tie-bonded installation improves stability and can reduce the size of armor units, thus lowering costs, 5) the use of ties facilitates the installation of armor on the surface and underwater. In this paper, the Flow 3D software is used as a Numerical Wave Flume. Although there are no results from the Numerical Wave Flume that can be compared with the results from the Physical Wave Flume, this is an initial step toward obtaining complementary results between the Physical and Numerical Wave Flume methods.
Validasi Akurasi Data Curah Hujan Per-Jam GSMaP Menggunakan ARR Tersebar di Sulawesi Selatan Mustamin, Muhammad Rifaldi; Maricar, Farouk; Lopa, Rita Tahir; Karamma, Riswal
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (Juni 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i1.93

Abstract

Data hujan adalah kebutuhan yang sangat penting dalam berbagai kegiatan. Adanya keterbatasan sebaran titik stasiun hujan menyebabkan keterbatasan data hujan di suatu daerah. Salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah penggunaan data satelit seperti GSMaP. Untuk mendukung penggunaan data curah hujan satelit di suatu daerah, maka perlu dilakukan pengujian akurasi data untuk mengetahui karakteristik error yang dihasilkan. Tujuan dari peneltian ini untuk memvalidasi tingkat akurasi data curah hujan skala jam - jaman GSMaP dalam mengestimasi curah hujan di wilayah Indonesia khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan data ARR. Metode validasi akurasi dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi (r), Root Mean Square Error (RMSE), dan Relative Bias (RB) yang dilakukan berdasarkan klasifikasi kelas hujan yaitu ringan, sedang, lebat dan sangat lebat. Hasil dari validasi akurasi menunjukkan bahwa data curah hujan satelit GSMaP dan data curah hujan terukur pada skala jam – jaman memiliki hubungan yang kuat dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi 0,6–0,9. Jika ditinjau dari nilai RB dan RMSE, maka data hujan GSMaP pada intensitas hujan ringan cenderung over-estimated dari data hujan terukur, kemudian cenderung under-estimated pada intesitas hujan sedang hingga sangat lebat. Secara umum, data curah hujan satelit GSMaP masih memiliki error terhadap data pengamatan meskipun kemampuan mendeteksi curah hujannya sudah baik. Hal ini menunjukkan data curah hujan GSMaP dapat diandalkan untuk estimasi curah hujan di wilayah yang tidak memiliki titik pengamatan, namun pada daerah yang memiliki data terukur tetapi panjang data terbatas sebaiknya data satelit tersebut dilakukan koreksi/kalibrasi terlebih dahulu karena masih terdapat error.  
Pengembangan Model Empiris Penentuan Kebutuhan Air Irigasi Penyiapan Lahan Padi Sawah Hemat Air Arif, Chusnul; Purwanto, Moh Yanuar J; Saptomo, Satyanto Krido; Sutoyo; Heryansyah, Arien; Sofiyuddin, Hanhan A.
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (Juni 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i1.94

Abstract

Currently, in KP-01 the determination of irrigation water requirements for land preparation (KAIPL) for rice fields is still based on the Van de Goor & Zijlstra (VGZ) equation with the assumption of constant discharge. This method is practical in planning but tends to be wasteful in implementation. Therefore, the aim of this paper is to develop an empirical model for determining KAIPL that is more water efficient by implementing intermittent irrigation. The model was developed from the application of inundation at certain periods and water levels for three different soil textures. The empirical model was developed from the VGZ equation by adding constants as factors for intermittent irrigation and soil texture (called the MVGZ model). Then compared with the results of measurements in the field during 2 growing seasons in DI Cihea, West Java. The results show that the constant values for the MVGZ model with heavy, medium and light soil textures are 0.79; 0.76 and 0.73. With this constant, accuracy is obtained with a coefficient of determination (R2) of 0.99. Field validation results show that the MVGZ model is close to the measurement results with water savings of 28-34% compared to the VGZ model. Therefore, the MVGZ model can be applied to determine KAIPL which is more water efficient.
KONSERVASI SUMBER DAYA AIR BERBASIS KEARIFAN LOKAL KALI ELELI KAMPUNG HELAKSILI DISTRIK ABENAHO KABUPATEN YALIMO Wambrauw, Elisabeth Veronika; Sambom, Marice; Agnesari, Lisa
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v3i2.95

Abstract

Pengelolaan Sumber Daya Air meliputi konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak harus dilakukan berkelanjutan guna mengurangi risiko kekurangan ketersediaan air tawar dan dampak negatif dari perubahan iklim yang tidak menentu. Salah satu bentuk pengelolaan yang dapat dilakukan adalah berbasis kearifan lokal yang ada di masyarakat adat (Indigenous People) yang telah diterapkan antar generasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi salah satu konsep pengelolaan sumber daya air yang ada di Papua yaitu suku Sambom yang berada pada Kampung Helaksili di kaki Gunung Hawi, Distrik Abenaho Kabupaten Yalimo Provinsi Papua Pegunungan. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah Kualitatif dan Metode Systematic Literature Review, yang mana selain didasarkan oleh epistemology dan ontology Suku Sambom, juga collecting data sebanyak dua kali yakni tahun 2020 dan 2021, serta literature review 2022 sampai 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku Sambom memiliki lima zona pemanfaatan sumber daya air yang berasal dari Kali Elelim yang dikategorikan oleh penulis sebagai zona A (zona konservasi dan bersifat sakral), zona B (pengambilan air minum), zona C (tempat mencuci), zona D (tempat mandi laki-laki), dan zona E (tempat mandi perempuan). Pembagian zonasi ini memuat semua unsur pengelolaan sumber daya air yang termuat dalam UU No. 17 tahun 2019 dan bersifat berkelanjutan. Pembatasan zonasi menggunakan batasan alami seperti vegetasi, landscape, dan sempadan sungai selebar satu km yang dipertahankan ekosistemnya dan berfungsi sebagai buffer zone antara sungai dan permukiman penduduk. Dengan demikian pengintegrasian kearifan lokal ini dalam kebijakan pemerintah penting dalam menjamin ketersedian air, perlindungan terhadap nilai budaya dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Analisis Perubahan Garis Pantai dengan Skematisasi Model Numerik 2D : (Studi Kasus: Penanganan Pantai Manggar Segarasari, Balikpapan) Hakiki, Irham Adrie; Nugroho, Cahyo Nur Rahmat; Gemilang, Rd. Indra Anggun; Setiawan, M. Hendro; Prasetyo, Adi
Jurnal Teknik Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (Juni 2024)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56860/jtsda.v4i1.96

Abstract

Kemunduran garis pantai adalah permasalahan yang mendominasi kerusakan pantai di Indonesia. Penanganannya memerlukan analisis yang tepat, sehingga solusi terpilih mampu menjawab permasalahan yang ada. Untuk kemunduran garis pantai akibat erosi, model numerik merupakan alat yang sesuai karena dapat digunakan untuk memprediksi kejadian dalam jangka waktu panjang serta mencakup wilayah yang luas. Model 1D merupakan yang sering digunakan karena penggunaannya yang relatif mudah dan perilakunya mudah diprediksi. Namun, model ini memiliki keterbatasan dalam meninjau dampak dari adanya bangunan pantai, terutama yang melibatkan proses morfologi di area downdrift bangunan pantai atau bypassing sedimen. Oleh karena itu, penggunaan model 2D menjadi alternatif dalam proses analisis perubahan garis pantai akibat melibatkan proses fisik yang lebih detil dalam simulasinya. Namun, penggunaan model 2D terkendala oleh lebih banyaknya sumber daya komputasi yang diperlukan. Pada tulisan ini, kinerja hasil simulasi dengan penggunaan skematisasi pada model 2D dikaji untuk mengetahui dampak penyederhanaan pengaturan model dalam analisis perubahan garis pantai akibat penanganan dengan bangunan pantai dengan kasus pada Pantai Manggar Segarasari menjadi daerah percontohan. Penyederhanaan ini mencakup metode forcing dan interaksi dari tiap kejadian fisik yang mengatur perubahan morfologi. Hasil dari simulasi dengan beberapa kombinasi bangunan menunjukkan bahwa model cukup sensitif terhadap konfigurasi bangunan yang disimulasikan. Tiap skenario menghasilkan respon yang cukup berbeda untuk dapat diambil sebuah kesimpulan. Namun, teramati juga hasil yang tidak realistis akibat efek dari tidak adanya umpan balik dari perubahan morfologi terhadap respon hidrodinamika, sehingga metode ini lebih disarankan untuk analisis kualitatif, namun tetap perlu diiringi dengan suatu kuantifikasi untuk mempermudah perbandingan kinerja.