cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 63 Documents
Search results for , issue "2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding" : 63 Documents clear
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Frozen Shoulder Sinistra Komorbiditas Diabetes Mellitus: A Case Study Ningsih, Fitriya; Wijianto, W; Yanuar, Reza Arshad
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Frozen shoulder adalah gangguan muskuloskeletal yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi bahu. Salah satu faktor primer pemicu frozen shoulder adalah diabetes melitus. Prevalensi frozen shoulder pada populasi umum sekitar 0,75%, namun prevalensi frozen shoulder pada penderita diabetes melitus lebih tinggi yaitu sekitar 13,4%.Case Presentation: Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun yang didiagnosis menderita frozen shoulder kiri dan memiliki riwayat diabetes melitus menjalani fisioterapi selama tiga sesi. Pemeriksaan menunjukkan pasien terdapat nyeri, penurunan kekuatan otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan penurunan aktivitas fungsional.Management and Outcome: Intervensi yang diberikan adalah terapi inframerah (13 menit), US (5 menit), dan terapi latihan (15–30 menit). Penilaian dilakukan dengan NRS, MMT, Goniometer, dan SPADI. Skor nyeri berkurang dari 3 menjadi 2, sementara nyeri akibat gerakan berkurang dari 4 menjadi 3. Rentang gerak sendi membaik dalam fleksi (+5°), ekstensi (+4°), abduksi (+6°), dan rotasi eksternal (+4°). Penilaian disabilitas SPADI turun dari 36,9% menjadi 33,8%.Discussion: Terapi kombinasi yang diberikan berupa terapi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi sendi bahu pada kasus frozen shoulder sinistra.Conclusion: Terapi kombinasi inframerah, ultrasound, dan terapi latihan efektif meredakan nyeri, menjaga stabilisasi kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi, dan kemampuan fungsional pasien frozen shoulder sinistra komorbiditas diabetes melitus.
Physiotherapy Approach in Early Elderly Patients with Neck Pain Due to Cervical Spondyloarthrosis and Cervical Hernia Nucleus Pulposus: A Case Report Apriliyani, Yuyun; Rahayu, Umi Budi; Kingkinnarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cervical spondyloarthrosis adalah kondisi degeneratif yang menyerang vertebra cervical, termasuk sendi facet, diskus intervertebralis, dan ligamen pendukung. Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) adalah kondisi nucleus pulposus menonjol melalui robekan annulus fibrosus yang dapat menekan saraf di sekitarnyaCase Presentation: Penelitian ini menggunakan desain case report yang dilakukan di RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponororgo, Jawa Timur pada tanggal 4 hingga 21 Februari 2025 pada pasien cervical spondyloarthrosis dan cervical hernia nucleus pulposus berdasarkan hasil rontgen dan MRI.Management and Outcome: Penelitian dilakukan secara langsung kepada pasien dengan kondisi cervical spondyloarthrosis dan CHNP dengan pemberian intervensi sebanyak tiga kali. Program rehabilitasi fisioterapi berupa SWD (Short Wave Diathermy), TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), cervical traction, stretching neck, neck calliet exercise. Pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran nyeri dengan Numerical Rating Scale (NRS), pengukuran kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT), pengukuran Lingkup Gerak Sendi (LGS) dengan goniometer, dan pengukuran kemampuan fungsional dengan Neck Disability Index (NDI). Setelah pemberian program rehabilitasi fisioterapi selama tiga sesi didapatkan hasil adanya terjadi penurunan nyeri pada nyeri gerak dan tekan. Terjadi- peningkatan LGS pada semua bidang gerak leher. Terjadi peningkatan kekuatan otot penggerak lateral fleksi dextra dan rotasi dextra. Selain itu, terjadi penurunan disabilitas yang dibuktikan dengan menurunnya skor NDI dari 38% pre-intervensi menjadi 26% pasca-intervensi.Conclusion: Pemberian program rehabilitasi fisioterapi telah terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri dan spasme, meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, serta meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome Bilateral di RSUD Panembahan Senopati Bantul: A Case Report Ardana, Shafira Dilla Setya; Perdana, Suryo Saputro; Widodo, Warih Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Carpal Tunnel Syndrome adalah salah satu gangguan pada muskuloskeletal yang sering sekali terjadi akibat kompresi atau penekanan pada saraf medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. CTS disebabkan oleh gerakan repetitif dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan.Case Presentation: Ny.S berusia 60 tahun dengan diagnosa medis CTS. ini pasien masih mengeluhkan kebas pada jari-jari tangan dan kesemutan terutama saat beraktivitas.Management and Outcome: Sesi terapi diberikan sebanyak 3 sesi terapi dengan intervensi yang sama dan dosis yang sama setiap sesi. Intervensi berupa Infra Red, TENS, Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise. Terdapat perubahan pada Intensitas Nyeri, Lingkup Gerak Sendi, dan Kemampuan Aktivitas Fungsional. Kombinasi pemberian modalitas Infra Red, TENS dengan terapi latihan berupa Hold Relax Stretching dan Tendon and Gliding Exercise memberikan peningkatan yang signifikan.Conclusion: Selama terapi yang dilakukan rutin selama 3 sesi di dapatkan hasil yang cukup signifikan. Pada pasien CTS terjadi penurunan nyeri, mempertahankan kekuatan otot, meningkatkan LGS, dan meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Neuralgia Trigeminal: A Case Report Sarita, Azizah Rahma; Widodo, Agus; Belinda, Melur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Neuralgia trigeminal merupakan gangguan nyeri neuropatik yang ditandai dengan nyeri tajam dan tiba-tiba pada distribusi nervus trigeminus. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Fisioterapi dapat menjadi pilihan intervensi tambahan, terutama ketika terapi farmakologis tidak memberikan hasil optimal.Case Presentation: Pasien berusi 58 tahun dengan diagnosa neuralgia trigeminal yang memiliki keluhan nyeri wajah unilateral disertai tertusuk-tusuk dan memburuk saat makan dan minum.Management and Outcome: Case report dilakukan sebanyak 3 pertemuan dengan pemberian modalitas fisioterapi berupa Transcutaneous Electrical Stimulation dan Head-Neck Exercise yang dilaukan evaluasi saat akhir sesi terapi.Conclusion: Pemberian modalitas fisioterapi berupa TENS dan Head-Neck Exercise secara rutin dapat menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan pasien secara bertahap.
Manajemen Fisioterapi pasca Orif Fraktur Klavikula: Studi Kasus Kinasih, Putri; Naufal, Adnan Faris
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Fraktur klavikula terjadi akibat cedera atau trauma. Lokasi fraktur yang paling umum adalah pertemuan antara dua kelengkungan tulang, yang merupakan titik terlemah. Tindakan pembedahan dikaitkan dengan hasil fungsional yang lebih baik. Pada Tindakan pasca operasi tentunya terdapat beberapa penurunan kemampuan fungsional.Case Presentation: Pasien laki-laki insial Tn.D berusia 21 tahun mengalami trauma cedera berkendara, kemudian dilakukan tindakan operasi. 1 bulan pasca operasi pasien mengeluhkan nyeri gerak, terbatasnya lingkup gerak sendi, dan kelemahan otot.Management and Outcome: Terapis memberikan intervensi berupa modalitas ultrasound dan hold relax. Setelah dilakukan terapi selama 4 kali terdapat penurunan nyeri Gerak T4 memiliki skor 4, nyeri diam menjadi skor 2, dan skor nyeri tekan 3, peningkatan lingkup gerak sendi, dan rata-rata peningkatan kekuatan otot menggunakan MMT memiliki skor 3+. Modalitas berupa ultrasound dapat mengurangi nyeri dari rata rata nilai nyeri berat ke nyeri ringan, selain dari mengurangi nyeri dalap meningkatkan fleksibilitas jaringan. Sedangkan hold relax dapat meningkatkan lingkup gerak sendi dengan teknik isometrik otot yang diikuti dengan relaksasi lalu di regangkan.Conclusion: Dapat disimpulkan bahwa ultrasound dan hold relax dapat membantu penurunan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot pada kasus post orif fracture clavicula sinistra.
Management Fisioterapi pada Kasus Sprain Wrist dengan Grip Strengthening Exercises: A Case Report Novitasari, Tessya Hadika; Perdana, Suryo Saputra; Kingkinnarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Sprain wrist terjadi ketika adanya regangan berlebih atau overstretch dari ligament dan adanya rupture atau robekan pada ligament. Hal ini biasanya terjadi karena overuse, trauma, gerakan yang mendadak berubah arah, dan menahan atau mengangkat beban secara berlebihan. Sprain wrist dapat mempengaruhi aktivitas fungsional tangan, tangan yang mempunyai peran vital pada pergerakan yang ada. Oleh karena itu memerlukan modalitas fisioterapi dengan tujuan mempercepat pemulihan dan kembalinya fungsi tubuh. Tujuan untuk mengetahui keefektifan dalam pemberian intervensi fisioterapi yang dikombinasikan dengan ultrasound, TENS, massage therapy dan grip strengthening exercise pada kasus sprain wrist.Case Presentation: Pasien Tn. F berusia 28 tahun yang bekerja di perkapalan dating ke fisioterapi dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan saat digerakan ke arah atas, bawah, kanan dan kiri. Awal mula keluhan yang dirasakan Tn.F dikarenakan pasien mengalami kecelakaan pada tanggal 3 November 2024. Subjek diberikan intervensi terapi sebanyak 2x dalam 1 minggu.Management and Outcome:Tindakan fisioterapi yang diberikan yaitu pemberian ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), terapi latihan diantaranya myofascial release massage, gerakan aktif, pasif dan isometric, serta strengthening exercise dengan teknik Grip-Strengthening Exercises Combined with Wrist Stability Training (GSE Plus WST). Hasil evaluasi nyeri menggunakan NRS dengan nyeri diam 0, nyeri tekan 4, nyeri gerak 6 mengalami penurunan nyeri tekan 2, nyeri gerak 2. Pemeriksaan kekuatan juga menunjukan peningkatan yang diukur dengan MMT dari nilai 4 menjadi nilai 5. Hasil evaluasi pemeriksaan LGS mengalami peningkatan pada gerakan palmar fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), kemudian pada gerakan dorsal fleksi T1(40°) menjadi T2 (45°), pada gerakan radial deviasi T1 (10°) menjadi T2 (15°), pada gerakan ulnar deviasi T1 (25°) menjadi T2 (25°), pada gerakan supinasi T1 (85°) menjadi T2 (90°), pada gerakan pronasi T1 (80°) menjadi T2 (80°). Kemampuan aktivitas fungsional mengalami peningkatan yang dievaluasi dengan WHDI T0 (25% Moderate) menjadi T1 (18% Minimal disability) dan pemeriksaan terakhir T2 (14% Minimal disability).Conclusion: Hasil yang didapatkan yaitu meningkat signifikan pada kasus sprain wrist yaitu ditandai dengan adanya penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot, penambahan LGS, serta peningkatan kemampuan fungsional.
Manajemen Fisioterapi pasca Debridement dan STSG pada Kasus Necrotizing Fascitis: Studi Kasus Hidayati, Asri Lutfika; Fatmarizka, Tiara; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Necrotizing fasciitis merupakan infeksi jaringan lunak yang bersifat progresif dan mengancam jiwa, ditandai dengan nekrosis pada fascia superfisialis dan jaringan subkutan. Penanganan bedah berupa debridement dan STSG sering menimbulkan permasalahan fungsional seperti nyeri, kekakuan sendi, keterbatasan lingkup gerak, dan penurunan kekuatan otot yang memerlukan manajemen fisioterapi komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari manajemen fisioterapi pasca debridement dan STSG pada kasus Necrotizing Fascitis dengan pemberian intervensi berupa Electrical Stimulation (ES) Stretching, Scar Massage, ROM Exercise, Strengthening Exercise, dan Gait TrainingCase Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali pada bulan November hingga Desember 2024 pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun, dengan diagnosa medis Post Debridement + STSG Regio Femur E.C. Necrotizing Fascitis. Permasalahan fisioterapi yang terdapat pada pasien, yaitu terdapat nyeri gerak, keterbatasan gerak aktif Range of Motion (ROM) penurunan kekuatan otot pergelangan kaki, serta terdapat oedem di area pergelangan kaki dan penurunan aktivitas fungsionalManagement and Outcome: Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran nyeri dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Pengukuran kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT). Goniometer untuk mengukur Range of Motion (ROM). Pengukuran oedem dengan mitline Figure of Eigth. Skala Fungsional Ekstremitas Bawah (LEFS) untuk mengukur kemampuan fungsional. LEFS adalah kuesioner kualitas hidup yang terdiri dari 20 item kemampuan sseorang ntuk melakukan tugas sehari-hari. Hasil setelah 3 kali fisioterapi terjadi penurunan nyeri gerak pada T1 = 3 menjadi T3 = 2. Peningkatan kekuatan otot regio hip dextra dalam gerakan fleksi, abduksi dan adduksi T1 = 4, menjadi T3 = 5. Regio knee dextra dalam gerakan fleksi dan ektensi T1 = 3 menjadi T3 = 4. Peningkatan Lingkup Gerak Sendi (LGS) pada regio knee dextra yaitu 0-0-40 mengalami peningkatan menjadi 0-0-50. Sedangkan pada regio ankle pada awal terapi yaitu 20-0-10° dan mengalami peningkatan menjadi 25°-0°-15° pada gerakan dorsal dan plantar fleksi. Penurunan oedem dengan selisih pada T1 = 5 cm menjadi T3 = 0. Peningkatan kemampuan fungsional LESF T1 = 31,2% kemudian menjadi T3 = 45%.Conclusion: Terdapat penurunan nyeri dan peningkatan pada ROM, kekuatan otot, oedema, aktivitas fungsional setelah diberikan intervensi Electrical Stimulation (ES), stretching, scar massage, ROM exercise, strengthening, serta gait training selama 3 sesi terapi.
Pengaruh Head Control Exercise terhadap Kemampuan Kontrol Kepala pada Kasus Cerebral Palsy Spastic Quadriplegi: Case Study Aulidya, Sarah Citra; Pristianto, Arif; Muazzaroh, Salma
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kondisi Cerebral Palsy mempengaruhi sistem gerak fungsi tubuh, anak dengan cerebral palsy akan memiliki koordinasi dan keseimbangan yang buruk, serta pola gerakan yang tidak normal. Prevalensi global kasus cerebral palsy adalah 2,5% per 1.000 kelahiran, dengan risiko 70% lebih tinggi pada bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1.500 gram. Sedangkan di Indonesia terdapat 5 juta kelahiran per tahun, sekitar 1.000-25.000 kelahiran didiagnosis menderita cerebral palsy, yang berarti ditemukan 1-5 kasus per 1.000 anak dengan cerebral palsy yang terdiagnosis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengevaluasi kemanjuran head control exercise dengan prinsip neuro development treatment yang dikombinasikan dengan tummy time terhadap fungsi motorik kasar terutama kemampuan kontrol kepala pada anak dengan cerebral palsy spastic quadriplegi.Case Presentation: Seorang anak berusia 6 tahun yang menjalani terapi di UPT PLDPI Surakarta. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien memiliki spastisitas pada pada anggota gerak atas dan anggota gerak bawah, kemampuan head control yang buruk dan belum mampu untuk berguling.Management and Outcome: Pemberian intervensi head control exercise dilakukan pada posisi neck capital flexion, head control in prone position, head control in sitting position dan tummy time. Setelah dilakukan terapi sebanyak enam kali didapatkan hasil adanya peningkatan kemampuan kontrol kepala dan perbaikan motorik kasar (GMFM).Conclusion: Adanya efek untuk peningkatan kemampuan kontrol kepala dan perbaikan motorik kasar dengan head control exercise.
Efek Pemberian Electrical Stimulation dan Terapi Latihan pada Kasus Drop Foot: Studi Kasus Zahra, Fadhilla Mutiara; Wijianto, W; Purbasasana, P
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Drop foot ditandai oleh ketidakmampuan untuk melakukan dorsifleksi pada bagian depan telapak kaki akibat kelemahan otot dorsifleksi. Kondisi ini dapat mengakibatkan gaya berjalan yang tidak stabil dan kompensasi, serta meningkatkan risiko terjatuh.Case Presentation: Seorang pria berusia 69 tahun, dengan diagnosa medis drop foot sinistra. Pasien datang dengan keluhan kelemahan otot kaki/drop foot pada bagian kaki kiri serta adanya rasa nyeri pada ankle kiri pada saat berjalan.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Electrical Stimulation dan Terapi Latihan. Pemberian Electrical Stimulation diberikan 1x/minggu dan Terapi Latihan dilakukan 2x/setiap hari. Hasil yang didapat adalah nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah. Nyeri gerak pada pertemuan kedua sudah berkurang menjadi nilai 1 (nyeri ringan) dari yang sebelumnya nilai 2 (nyeri ringan) dan untuk nyeri diam serta nyeri tekan tetap di nilai 0; MMT (Kekuatan otot) meningkat yaitu untuk gerakan eversi dari nilai 2 menjadi nilai 3, gerakan plantar fleksi dari nilai 3 menjadi nilai 4, gerakan inversi dari nilai 3 menjadi nilai 4 sedangkan untuk gerakan dorsi fleksi belum ada perubahan dari nilai 2 tetap di nilai 2; Range of Motion meningkat pada gerakan dorsi fleksi-plantar fleksi dan untuk gerakan eversi-inversi; Kemampuan fungsional pasien juga meningkat yaitu dari nilai 74 menjadi nilai 75; serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.Conclusion: Setelah di berikan intervensi fisioterapi 2 kali pertemuan terlihat perubahan yaitu nyeri gerak sudah berkurang, MMT (Kekuatan otot) meningkat, Range of Motion meningkat, Kemampuan fungsional pasien juga meningkat, serta massa otot pada kaki kiri yang bertambah.
Penerapan Active Exercise dan Pumping Ankle Exercise untuk Mengurangi Nyeri dan Meningkatkan Fungsional pada Penderita Chronic Ulcers ec Morbus Hansen: Sebuah Studi Kasus Setyawan, Annisa Putri Amalia; Herawati, Isnaini; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic ulcer merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas dengan prevelensi yang terus meningkat yang terjadi karena disfungsi vena, diabeteus mellitus, infeksi, neuropati parifer, tekanan dan aterosklerosis. Bakteri penyebab chronic ucler salah satunya adalah bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini biasanya muncul pada penderita morbus hansen (kusta). Morbus,hansen merupakani infeksii kronis yangi disebabkani olehi bakterii mycobacterium lepraei yang menyerang saraf tepi kemudian mengenai organ-organ tubuh lainnya, yang dapat mengakibatkan hilangnya sensibilitas serta susah melakukan aktivitas sehari-hari karena penurunan kekuatan otot serta penurunan kemampuan fungsional pada penderitanya.Case Presentation: sebuah case report yang dilakukan di RSUD Sumber Glagah Mojokerto dengan diagnose medis Chronic Ulcers ec Morbus Hansen pada seorang ibu yang berusia 59 tahun dengan keluhan luka di kedua kaki yang sudah 2 bulan belum sembuh, luka basah dan terasa nyeri serta melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan kursi roda.Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus ini adalah dengan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle. Intervensi ini dilakukan untuki meningkatkani lingkupi gerak sendi, meningkatkani kekuatan ototi pada regio ankle, mencegah luka berlubang serta untuk meningkatan activity daily living pasien sehingga pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle dilakukan selama 3 hari dengan dosis 10 menit disetiap intervensinya. Evaluasi latihan dilakukan di setiap hasil latihan untuk mengetahui efektivitasnya. Evaluasi nyeri dengan NRS, LGS dengan goniometer, kekuatan otot dengan MMT dan Kemampuan fungsional dengan index bartelConclusion: setelah meakukan latihan Active Assisted exercise ROM dan Pumping ankle selama 3 hari, didapatkan bahwa nyeri mengalami penurunan akan tetapi Kemampuan fungsionalnya tidak mengalami peningkatan.