cover
Contact Name
Dian Septiandani
Contact Email
slr_fh@usm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
slr_fh@usm.ac.id
Editorial Address
Jl. Soekarno-Hatta Tlogosari Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Semarang Law Review
Published by Universitas Semarang
ISSN : -     EISSN : 27236447     DOI : https://dx.doi.org/10.26623/slr
Core Subject : Social,
Semarang Law Review (SLR) merupakan Jurnal Nasional yang diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Semarang. fokus dan ruang lingkup jurnal ini adalah Hukum Korporasi, Hukum Perdata, Hukum Islam, Hukum Adat, Hukum Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Internasional, Perbandingan Hukum, Filsafat Hukum, Hukum Acara dan Hukum Agraria.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 170 Documents
Kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara dalam Menguji Keputusan Mahkamah Konstitusi: Analisis Putusan Nomor 604/G/2023/PTUN.JKT: The Administrative Court’s Authority in Reviewing Constitutional Court Decisions: An Analysis of Decision Number 604/G/2023/PTUN.JKT Roberto William Gaja Wora; Tri Mulyani; Endah Pujiastuti
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13576

Abstract

This study addresses the problem of jurisdictional anomaly arising from the authority of the State Administrative Court (PTUN) to review internal decisions of the Constitutional Court, which potentially creates institutional tension within the Indonesian constitutional framework. The objective of this research is to analyze the judicial reasoning and legal implications of Decision Number 604/G/2023/PTUN.JKT in relation to the principles of the rule of law and judicial governance. This study employs a normative juridical method with statutory, case, and conceptual approaches, utilizing secondary data analyzed qualitatively. The findings reveal that the decision substantively fulfills the three fundamental legal values legal certainty, justice, and expediency, while affirming that administrative decisions issued by the Constitutional Court may qualify as objects of administrative dispute insofar as they meet the criteria of State Administrative Decisions (KTUN). The legal implications extend beyond restoring the claimant’s position, also prompting institutional reform within the Constitutional Court to ensure compliance with the general principles of good governance. The novelty of this research lies in its juridical construction regarding the legitimacy of administrative judicial review over judicial institutions, as well as its clarification of the boundary between judicial independence and administrative legality, leading to the conclusion that such review constitutes a legitimate form of judicial control in upholding the supremacy of law and maintaining the integrity of the judicial system.   AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini berangkat dari adanya anomali kewenangan ketika Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) menguji keputusan internal Mahkamah Konstitusi yang berpotensi menimbulkan konflik antar lembaga peradilan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim serta implikasi yuridis Putusan Nomor 604/G/2023/PTUN.JKT terhadap prinsip negara hukum dan tata kelola peradilan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual, menggunakan data sekunder yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan tersebut secara substantif telah memenuhi tiga pilar hukum yaitu kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan, serta mempertegas bahwa keputusan administratif Mahkamah Konstitusi dapat dikualifikasikan sebagai objek sengketa tata usaha negara sepanjang memenuhi unsur Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN). Implikasi hukum dari putusan ini tidak hanya berdampak pada pemulihan kedudukan penggugat, tetapi juga mendorong perbaikan tata kelola kelembagaan Mahkamah Konstitusi agar lebih taat terhadap asas-asas umum pemerintahan yang baik. Kebaruan penelitian ini terletak pada konstruksi argumentasi mengenai legitimasi kewenangan PTUN dalam menguji keputusan lembaga yudikatif serta penegasan batas antara independensi kekuasaan kehakiman dan prinsip legalitas administrasi negara, yang menghasilkan kesimpulan bahwa pengujian tersebut merupakan bentuk kontrol yudisial yang sah dalam rangka menjaga supremasi hukum dan integritas sistem peradilan.
Pertanggungjawaban Hukum PPAT terhadap Akta Jual Beli Simulatif dalam Perjanjian Utang-Piutang: Legal Liability of Land Deed Officials (PPAT) for Simulated Sale and Purchase Deeds in Debt Agreements Verrian Ottoman; Hasim Purba; Tony Tony
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13979

Abstract

The use of sale and purchase deeds as a form of simulation in debt agreements raises legal issues, particularly concerning the validity of the parties’ consent and the liability of Land Deed Officials (PPAT). This study aims to analyze the existence of defects of consent in simulated sale and purchase deeds, examine the legal liability of PPAT, and assess the legal consequences arising from such deeds based on Decision Number 12/Pdt.G/2018/PN.Btl. This research employs a normative juridical method with statutory, conceptual, and case approaches. Data were collected through library research and analyzed qualitatively. The results indicate that a sale and purchase deed used as a simulation of a debt agreement contains defects of consent, as it does not reflect the true and free intention of the parties. As public officials, PPAT are legally obliged to ensure the formal and material validity of the deed. Failure to fulfill this obligation may result in administrative, civil, and ethical liability. Simulated deeds may be declared null and void or voidable, thereby lacking binding legal force. Therefore, strengthening supervision and enhancing the professionalism of PPAT are essential to ensure legal certainty and protection for the parties.   AbstrakPraktik penggunaan akta jual beli sebagai bentuk simulasi perjanjian utang-piutang menimbulkan persoalan hukum terkait keabsahan kehendak para pihak dan tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya cacat kehendak dalam akta jual beli yang bersifat simulatif, menelaah bentuk pertanggungjawaban hukum PPAT, serta mengkaji akibat hukum dari akta tersebut berdasarkan Putusan Nomor 12/Pdt.G/2018/PN.Btl. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan studi kasus. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akta jual beli yang dibuat sebagai simulasi perjanjian utang-piutang mengandung cacat kehendak karena tidak didasarkan pada kesepakatan yang bebas dan sebenarnya. PPAT sebagai pejabat umum memiliki kewajiban untuk memastikan kebenaran formal dan material akta, sehingga kelalaian dalam menjalankan fungsi tersebut dapat menimbulkan pertanggungjawaban administratif, perdata, dan etik. Akta yang bersifat simulatif berpotensi dinyatakan batal demi hukum atau dapat dibatalkan sehingga tidak memiliki kekuatan mengikat. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan profesionalitas dan pengawasan terhadap PPAT guna menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak.
Perlindungan Hukum Konsumen dalam Transaksi QRIS Berdasarkan Regulasi Bank Indonesia: Consumer Legal Protection in QRIS Transactions Under Bank Indonesia Regulations Ivalatifah Sekar Saraswati; Suparwi Suparwi; M. Aziz Zaelani
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13980

Abstract

The rapid development of digital payment systems based on the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) has generated significant legal implications for consumer protection, particularly in addressing risks such as system failures, data breaches, and fraud, which indicate a gap between legal norms and their practical implementation. This study aims to analyze the forms of consumer legal protection in QRIS transactions under Bank Indonesia Regulations and Board of Governors Regulations, as well as to examine the legal liability of payment service providers and the challenges in its implementation. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches, with qualitative and prescriptive analysis of primary and secondary legal materials. The findings reveal that consumer protection in QRIS transactions has been formulated through preventive and repressive mechanisms, including information transparency, system security standards, personal data protection, and complaint and dispute resolution mechanisms. The liability of payment service providers extends beyond contractual liability toward the application of strict liability and vicarious liability principles in ensuring transaction security. However, the implementation of such legal protection still faces several challenges, including regulatory disharmony, limited supervisory capacity, technological vulnerabilities, and low levels of digital literacy among consumers. These findings imply the necessity of strengthening the integration between legal norms and the practical operation of digital payment systems to establish a more adaptive and responsive consumer protection framework.   AbstrakPerkembangan pesat sistem pembayaran digital berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menimbulkan implikasi yuridis terhadap perlindungan konsumen, terutama dalam menghadapi risiko transaksi elektronik seperti kegagalan sistem, kebocoran data, dan fraud, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum konsumen dalam transaksi QRIS berdasarkan Peraturan Bank Indonesia dan Peraturan Anggota Dewan Gubernur, serta mengkaji tanggung jawab hukum penyedia jasa pembayaran dan kendala implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, dengan analisis kualitatif yang bersifat preskriptif terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum konsumen dalam transaksi QRIS telah dirumuskan melalui mekanisme preventif dan represif yang mencakup transparansi informasi, standar keamanan sistem, perlindungan data pribadi, serta mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa. Tanggung jawab penyedia jasa pembayaran tidak hanya didasarkan pada hubungan kontraktual, tetapi juga berkembang ke arah penerapan prinsip tanggung jawab mutlak dan tanggung jawab pengganti dalam menjamin keamanan transaksi digital. Namun demikian, implementasi perlindungan hukum tersebut masih menghadapi berbagai kendala, antara lain disharmonisasi regulasi, keterbatasan pengawasan, kerentanan sistem teknologi, serta rendahnya literasi digital masyarakat. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan integrasi norma hukum dengan praktik penyelenggaraan sistem pembayaran digital guna mewujudkan perlindungan konsumen yang lebih adaptif dan responsif terhadap perkembangan teknologi.
Disparitas Pengaturan Suap Sektor Swasta dalam Perspektif Perbandingan Indonesia dan Singapura: Disparity in the Regulation of Private Sector Bribery: A Comparative Perspective between Indonesia and Singapore Siti Rhoma Wati; Muhammad Iftar Aryaputra; Subaidah Ratna Juita; Ani Triwati
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13981

Abstract

The disparity in the regulation of bribery offenses in the private sector between Indonesia and Singapore reflects differing legal paradigms in addressing bribery within criminal law systems. In Indonesia, private-sector bribery has not been fully classified as a corruption offense and remains regulated under a limited, separate legal framework, whereas in Singapore it is integrated into a comprehensive anti-corruption regime. This condition necessitates a comparative assessment to evaluate the effectiveness of criminal law policies in responding to the evolution of modern economic crimes. This study aims to analyze the regulation of private-sector bribery in Indonesian positive law and compare it with the legal framework in Singapore. This research employs a normative juridical method, a comparative law approach, and a descriptive-analytical specification, using qualitative analysis of primary and secondary legal materials. The findings indicate that the regulatory disparity lies in the classification of offenses, the scope of legal subjects, and the construction of criminal liability. Indonesia positions private-sector bribery outside the anti-corruption regime and primarily focuses on individual liability, whereas Singapore, through the Prevention of Corruption Act 1960, treats private-sector bribery as part of corruption offenses, with broader liability encompassing both individuals and corporations, emphasizing the element of guilty knowledge. These differences suggest that Indonesia’s legal system requires further strengthening to address the complexity of bribery practices in the private sector. Therefore, a more integrative and adaptive legal approach is necessary to enhance the effectiveness of combating bribery within the modern economic sector.   AbstrakDisparitas pengaturan tindak pidana suap di sektor swasta antara Indonesia dan Singapura menunjukkan adanya perbedaan paradigma dalam memandang penyuapan sebagai bagian dari rezim hukum pidana. Di Indonesia, penyuapan sektor swasta belum sepenuhnya dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi dan masih diatur secara terbatas dalam rezim hukum tersendiri, sedangkan Singapura telah mengintegrasikannya dalam kerangka hukum antikorupsi yang komprehensif. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan untuk mengkaji perbedaan pengaturan tersebut guna menilai efektivitas kebijakan hukum pidana dalam merespons perkembangan kejahatan ekonomi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan tindak pidana suap di sektor swasta dalam hukum positif Indonesia serta membandingkannya dengan pengaturan di Singapura. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perbandingan hukum dan spesifikasi deskriptif-analitis, melalui pengkajian bahan hukum primer dan sekunder yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disparitas pengaturan terletak pada kualifikasi delik, lingkup subjek hukum, serta konstruksi pertanggungjawaban pidana. Indonesia masih menempatkan penyuapan sektor swasta di luar rezim tindak pidana korupsi dengan orientasi pada pelaku individu, sedangkan Singapura melalui Prevention of Corruption Act 1960 mengkonstruksikan penyuapan sektor swasta sebagai bagian dari korupsi dengan cakupan pertanggungjawaban yang meliputi individu dan korporasi serta menekankan unsur pengetahuan bersalah (guilty knowledge). Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia masih memerlukan penguatan dalam merespons kompleksitas praktik penyuapan di sektor swasta. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan hukum yang lebih integratif dan adaptif guna meningkatkan efektivitas pemberantasan penyuapan dalam sektor ekonomi modern.
Analisis Yuridis Empiris Pernikahan di Bawah Umur dan Perlindungan Hukum Anak Perempuan di Sumberlawang: Empirical Juridical Analysis of Child Marriage and Legal Protection of Girls in Sumberlawang District Rosi Ramadhon Nur Rejeki; Suparwi Suparwi; Yulian Dwi Nurwanti
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13982

Abstract

Child marriage remains a significant legal and social issue in Indonesia despite the establishment of a minimum legal marriage age under Law Number 16 of 2019, indicating a gap between legal norms and their implementation in society; therefore, this study aims to analyze the practice of Child Marriage, identify its underlying factors, and evaluate the effectiveness of legal protection for children and women. This research employs an empirical legal method with a socio-juridical approach, with data collected through interviews with officials of the Office of Religious Affairs (KUA) in Sumberlawang District and a literature review of primary and secondary legal materials, which were analyzed qualitatively. The results show that Child Marriage persists due to premarital pregnancy, individual willingness influenced by socio-cultural environments, and low levels of legal awareness, as well as weak legal dissemination and supervision, resulting in suboptimal legal protection. The novelty of this study lies in its empirical juridical approach that integrates normative analysis with local social realities, providing a comprehensive understanding of the disparity between law in books and law in action in Child Marriage practices and its implications for the legal protection of children and women.   AbstrakPernikahan di bawah umur masih menjadi permasalahan hukum dan sosial di Indonesia meskipun telah ditetapkan batas usia minimum perkawinan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik di masyarakat; oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pernikahan di bawah umur, mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya, serta mengevaluasi efektivitas perlindungan hukum terhadap anak dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan yuridis sosiologis, dengan data yang diperoleh melalui wawancara dengan aparat Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sumberlawang serta studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pernikahan di bawah umur masih terjadi akibat faktor kehamilan di luar nikah, kehendak pribadi yang dipengaruhi lingkungan sosial budaya, serta rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat, di samping lemahnya sosialisasi hukum dan pengawasan terhadap praktik perkawinan yang menyebabkan perlindungan hukum belum berjalan optimal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan yuridis empiris yang mengintegrasikan analisis normatif dengan realitas sosial secara spesifik di tingkat lokal, sehingga memberikan pemahaman komprehensif mengenai disparitas antara law in books dan law in action dalam praktik pernikahan di bawah umur serta implikasinya terhadap perlindungan hukum anak dan perempuan.
Batasan Pertanggungjawaban Pidana Direksi BUMN dalam Perspektif Business Judgment Rule Pasca Revisi UU BUMN: Limits of Criminal Liability of SOE Directors under the Business Judgment Rule after SOE Law Revision Faqih Zuhdi Rahman
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13983

Abstract

The shift in legal paradigm in the governance of State-Owned Enterprises (SOEs) under Law Number 1 of 2025 has significant implications for the concept of directors’ criminal liability, particularly in relation to losses arising from business decisions. The separation of SOE assets from state finances and the removal of directors’ status as public officials have triggered debates regarding the boundary between business risk and corruption offenses. This study aims to analyze the limits of criminal liability of SOE directors within the framework of the Business Judgment Rule and its relevance to corporate criminal law in Indonesia. This research employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and doctrinal approaches, with qualitative descriptive-analytical techniques. The findings indicate that the Business Judgment Rule provides legal protection for directors against criminalization of business decisions, provided that such decisions are made in good faith, with due care, without conflicts of interest, and in the best interest of the company. However, such protection is not absolute, as criminal liability may still arise in cases involving unlawful conduct, mens rea, abuse of authority, or gross negligence. The study reveals a repositioning of the boundary between business risk and criminal conduct in SOE governance, where corporate losses are not automatically classified as state financial losses. This underscores the need for a more adaptive legal approach in assessing directors’ business decisions, ensuring a balance between professional corporate governance and effective criminal law enforcement.   AbstrakPerubahan paradigma hukum dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 menimbulkan implikasi signifikan terhadap konsep pertanggungjawaban pidana direksi, khususnya terkait kerugian yang timbul dari keputusan bisnis. Pemisahan kekayaan BUMN dari keuangan negara serta penghapusan status direksi sebagai penyelenggara negara menimbulkan perdebatan mengenai batas antara risiko bisnis dan tindak pidana korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis batasan pertanggungjawaban pidana direksi BUMN dalam kerangka doktrin Business Judgment Rule serta relevansinya dalam sistem hukum pidana korporasi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan doktrinal, yang dianalisis secara kualitatif dengan teknik deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Business Judgment Rule memberikan perlindungan hukum terhadap direksi dari kriminalisasi atas keputusan bisnis sepanjang dilakukan dengan itikad baik, penuh kehati-hatian, tanpa konflik kepentingan, serta berorientasi pada kepentingan perusahaan. Namun, perlindungan tersebut tidak bersifat absolut, karena pertanggungjawaban pidana tetap dapat dikenakan apabila terbukti adanya perbuatan melawan hukum, niat jahat (mens rea), penyalahgunaan wewenang, atau kelalaian berat. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya reposisi batas antara risiko bisnis dan tindak pidana dalam pengelolaan BUMN, di mana kerugian perusahaan tidak secara otomatis dikualifikasikan sebagai kerugian negara. Hal ini menegaskan perlunya pendekatan hukum yang lebih adaptif dalam menilai keputusan bisnis direksi, guna menjamin keseimbangan antara profesionalisme pengelolaan BUMN dan efektivitas penegakan hukum pidana.
Perlindungan Hukum Anak Perempuan dalam Pekerja Anak di Indonesia: Kajian Sosiologi Hukum Feminis: Legal Protection of Girls in Child Labour in Indonesia: A Feminist Socio-Legal Study Comera Arihatsu
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13984

Abstract

Girls face distinct needs and vulnerabilities that require specific legal attention. In practice, the absence of gender-sensitive protection results in inadequate safeguards for girls’ rights, particularly in cases of child labour exploitation and exposure to sexual abuse. This study critically examines the legal protection of girls by adopting Lawrence M. Friedman’s legal system theory, which encompasses legal structure, legal substance, and legal culture. Employing a socio-legal approach grounded in normative juridical analysis, this research analyzes statutory frameworks, institutional practices, and socio-cultural contexts affecting the protection of girls. The findings demonstrate that existing child protection regulations tend to apply gender-neutral norms that insufficiently address the specific risks faced by girls. The study argues for the formulation of special protective measures as lex specialis to ensure more effective legal protection for girls against child labour exploitation and sexual violence, and to strengthen gender-responsive child protection policies in Indonesia.   AbstrakAnak perempuan memiliki kebutuhan dan kerentanan khusus yang menuntut perlindungan hukum yang lebih sensitif terhadap perspektif gender. Dalam praktiknya, ketiadaan perlindungan yang bersifat spesifik gender menyebabkan hak-hak anak perempuan belum terlindungi secara optimal, terutama dalam konteks eksploitasi pekerja anak dan kerentanan terhadap kekerasan serta pelecehan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis perlindungan hukum terhadap anak perempuan dengan menggunakan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-legal berbasis yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan, praktik kelembagaan, dan konteks sosial-budaya yang memengaruhi implementasi perlindungan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka regulasi perlindungan anak yang bersifat netral gender belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan perlindungan khusus bagi anak perempuan. Penelitian ini merekomendasikan perumusan pengaturan perlindungan khusus sebagai lex specialis guna memberikan perlindungan yang lebih efektif terhadap anak perempuan dari berbagai bentuk ancaman, khususnya eksploitasi pekerja anak dan kekerasan seksual, serta mendorong penguatan kebijakan perlindungan anak yang responsif gender di Indonesia.
Integrasi Kurikulum Antikorupsi dan Pendidikan Bela Negara dalam Wajib Belajar 12 Tahun: Studi Komparatif Model Denmark dan Singapura: Integration of Anti-Corruption and National Defense Education in the Twelve-Year Compulsory Education System: A Comparative Study of the Danish and Singaporean Models Abelmart Sihombing; Yohan Kurnia Pasca; Slamet Tri Wahyudi
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13985

Abstract

Corruption in Indonesia not only causes state financial losses but also undermines moral integrity, legal culture, and national character. Existing anti-corruption efforts, which predominantly rely on law enforcement, have proven insufficient in creating sustainable deterrence, thereby necessitating a preventive approach through education. This study aims to examine the conceptual gap in integrating anti-corruption education, national defense education, and the twelve-year compulsory education policy, as well as to formulate an integrative national curriculum model. This research employs a normative juridical method with a comparative approach, analyzing educational systems in Denmark and Singapore as countries with low corruption levels. The study utilizes secondary data collected through literature review and analyzed qualitatively. The findings reveal that Denmark emphasizes a cultural approach by internalizing values such as honesty, transparency, and social trust, while Singapore adopts an institutional approach through a structured education system, transparent school funding, and rigorous teacher selection. Indonesia has the potential to integrate these approaches through a value-based curriculum that incorporates regulatory, pedagogical, and evaluative dimensions. This study concludes that integrating anti-corruption and national defense education within the twelve-year compulsory education system constitutes an effective preventive strategy to cultivate integrity-driven and nationally conscious citizens. The findings offer policy recommendations for developing a comprehensive national curriculum to support the realization of Indonesia Emas 2045.   AbstrakKorupsi di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerugian negara, tetapi juga menggerus integritas moral, budaya hukum, dan karakter kebangsaan. Pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini berfokus pada penindakan belum mampu memberikan efek jera yang berkelanjutan, sehingga diperlukan strategi preventif berbasis pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekosongan konseptual dalam integrasi kurikulum antikorupsi, pendidikan bela negara, dan kebijakan wajib belajar 12 tahun, serta merumuskan model kurikulum nasional yang integratif. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan komparatif terhadap sistem pendidikan di Denmark dan Singapore sebagai negara dengan tingkat korupsi rendah. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Denmark menekankan pendekatan kultural melalui internalisasi nilai sosial seperti kejujuran, transparansi, dan kepercayaan publik, sedangkan Singapura mengedepankan pendekatan institusional melalui sistem pendidikan formal yang terstruktur, transparansi pendanaan, serta seleksi tenaga pendidik yang ketat. Indonesia memiliki peluang untuk mengintegrasikan kedua model tersebut melalui desain kurikulum berbasis nilai (value-based curriculum) yang menggabungkan pendekatan normatif-regulatif, pedagogis, dan evaluatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kurikulum antikorupsi dan pendidikan bela negara dalam sistem wajib belajar 12 tahun merupakan strategi preventif yang efektif untuk membentuk generasi berintegritas dan berkarakter kebangsaan. Implikasi penelitian ini memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dalam merumuskan kurikulum nasional yang komprehensif guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Penerapan Teori Percobaan dalam Putusan Hakim Kekerasan Seksual: Application of Attempt Theory in Judicial Decisions on Sexual Violence Clara Murti Terisah; Henny Yuningsih; Irsan Irsan
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.13986

Abstract

The enforcement of criminal law in sexual violence cases extends not only to completed offenses but also to attempted acts. A fundamental issue arises in the application of the attempt theory (Poging), particularly in determining the threshold of “commencement of execution,” which often leads to legal uncertainty and inconsistency in judicial decisions. This study aims to analyze the application of attempt theory (Poging) in judicial decisions concerning sexual violence and to formulate an ideal concept for its future implementation. This research employs a normative legal method using statutory and case approaches, relying on secondary data analyzed qualitatively through deductive reasoning. The findings reveal that the application of attempt theory in Decision Number 513/Pid.B/2024/PN.Bpp and Decision Number 100/Pid.B/2025/PN.Bpp reflects a mixed theoretical approach integrating both subjective (mens rea) and objective (actus reus) elements. This approach is considered appropriate as it balances victim protection with the imposition of criminal liability on perpetrators who have demonstrated clear criminal intent. However, the absence of precise normative criteria regarding the commencement of execution creates potential inconsistencies in judicial practice. This study underscores the necessity of legal reform, particularly within the Indonesian Criminal Code, to establish clearer parameters for the commencement of execution and to harmonize such provisions with the Law on Sexual Violence Crimes. Furthermore, a unified understanding among law enforcement authorities is essential to ensure legal certainty, substantive justice, and deterrence.   AbstrakPenegakan hukum terhadap tindak pidana kekerasan seksual tidak hanya berkaitan dengan perbuatan yang telah selesai, tetapi juga mencakup perbuatan yang masih dalam tahap percobaan. Permasalahan muncul pada penerapan teori percobaan (Poging), khususnya dalam menentukan batas “permulaan pelaksanaan” yang sering menimbulkan ketidakpastian hukum dan disparitas putusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan teori percobaan (Poging) dalam putusan hakim terhadap pelaku kekerasan seksual serta merumuskan konsep ideal penerapannya di masa mendatang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, menggunakan data sekunder yang dianalisis secara kualitatif melalui teknik deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teori percobaan (Poging) dalam Putusan Nomor 513/Pid.B/2024/PN.Bpp dan Putusan Nomor 100/Pid.B/2025/PN.Bpp menggunakan pendekatan teori campuran yang mengintegrasikan aspek subjektif (niat) dan objektif (permulaan pelaksanaan). Pendekatan ini dinilai relevan karena mampu mengakomodasi perlindungan korban sekaligus menjamin pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku yang telah menunjukkan niat jahat secara nyata. Ketiadaan batasan normatif yang tegas terkait unsur permulaan pelaksanaan berpotensi menimbulkan inkonsistensi dalam praktik peradilan, maka diperlukan pembaharuan norma hukum, khususnya dalam KUHP Nasional, untuk memberikan kriteria yang lebih jelas mengenai permulaan pelaksanaan serta harmonisasi dengan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Selain itu, diperlukan kesamaan perspektif antar penegak hukum dalam menerapkan teori percobaan guna mewujudkan kepastian hukum, keadilan substantif, dan efek jera terhadap pelaku.
Optimalisasi Peran Pemerintah Desa dalam Pengentasan Kemiskinan melalui Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni: Optimizing Village Government Role in Poverty Alleviation through Uninhabitable Housing Rehabilitation Program Implementation in Indonesia Irkham Saputra; Sukimin Sukimin; Amri Panahatan Sihotang; A. Heru Nuswanto
Semarang Law Review (SLR) Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v7i1.14024

Abstract

This study addresses the issue of the suboptimal implementation of the Uninhabitable House Rehabilitation Program (RTLH) in poverty alleviation, caused by limited budget allocation, bureaucratic complexity, and low community participation at the village level. The research aims to analyze the role of the Jatiharjo Village Government in implementing the RTLH program based on Grobogan Regent Regulation Number 44 of 2021, as well as to identify the obstacles and the efforts to overcome them. This study employs an empirical juridical method with a descriptive-analytical approach, utilizing primary data obtained through interviews and secondary data derived from statutory regulations and relevant literature, analyzed qualitatively. The findings reveal that the Jatiharjo Village Government has effectively performed its administrative, coordinative, and technical functions in data collection, verification, prioritization, and program supervision, resulting in a positive impact on improving housing quality and community welfare. However, the program implementation remains suboptimal due to budget constraints, lengthy fund disbursement procedures, and intergovernmental bureaucratic barriers. Efforts to address these challenges include strengthening coordination with regional authorities, optimizing village fund utilization, and enhancing community participation through collective action. The novelty of this research lies in reinforcing the conceptual role of village government as the primary actor in housing-based social policy implementation, as well as integrating legal and empirical approaches to assess program effectiveness, leading to the conclusion that the success of poverty alleviation through this program depends on institutional synergy and good governance practices.   AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini terletak pada belum optimalnya pelaksanaan Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam pengentasan kemiskinan akibat keterbatasan anggaran, kompleksitas birokrasi, serta rendahnya partisipasi masyarakat di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pemerintah Desa Jatiharjo dalam pelaksanaan program RTLH berdasarkan Peraturan Bupati Grobogan Nomor 44 Tahun 2021 serta mengidentifikasi kendala dan upaya penyelesaiannya. Metode yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif analitis, menggunakan data primer melalui wawancara dan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan serta literatur relevan yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Jatiharjo telah menjalankan fungsi administratif, koordinatif, dan teknis secara efektif dalam pendataan, verifikasi, penetapan prioritas, serta pengawasan program, sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hunian dan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, pelaksanaan program belum optimal karena keterbatasan anggaran, panjangnya prosedur pencairan dana, serta hambatan birokrasi lintas pemerintahan. Upaya yang dilakukan meliputi peningkatan koordinasi dengan pemerintah daerah, optimalisasi pemanfaatan dana desa, serta penguatan partisipasi masyarakat melalui gotong royong. Kebaruan penelitian ini terletak pada penguatan konstruksi peran pemerintah desa sebagai aktor utama dalam implementasi kebijakan sosial berbasis perumahan serta integrasi pendekatan hukum dan empiris dalam menilai efektivitas program RTLH, yang menghasilkan kesimpulan bahwa keberhasilan pengentasan kemiskinan melalui program ini sangat bergantung pada sinergi kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang baik.