cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcspr@unisba.ac.id
Phone
+6285723033508
Journal Mail Official
bcspr@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Public Relations
ISSN : -     EISSN : 28282167     DOI : https://doi.org/10.29313/bcspr.v2i2
Bandung Conference Series: Public Relations (BCSPR) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Public Relations dengan ruang lingkup Strategi Promosi, Brand, Citra, Corporate Social Responbility, Digital Public Relations, Diplomasi Publik, Dramaturgi, Hoax, Humas International, Informasi, Kampanye Public Relations, Transaksi, Krisis, Kinerja, Komunikasi Persuasi, Konseling, Konten, Kredibilitas, Kualitas Pelayanan, Literasi, Media Online, Media Sosial, Membangun Kepercayaan, Minat beli, Motif, Pelayanan, Pemberitaan, Peran Sosial, Perspektif, Pola Komunikasi Perusahaan, Profesionalisme, Publikasi, Rebranding, rebranding, Sikap, Special Event, Strategi media relations, Publikasi, Teknologi Informasi, Word of Mouth. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 524 Documents
Komunikasi Konflik Emosional Keluarga Non-Biologis Muhammad Sultan Alfiansyah; Maya Amalia Oesman Palapah
Bandung Conference Series: Public Relations 359-366
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25366

Abstract

Abstract. This study examines how emotional conflict is represented in the communication of a non-biological family in the Chinese drama Go Ahead. Non-biological or chosen families are increasingly visible in popular media, yet their closeness is often accompanied by intense emotional friction that has rarely been examined through a communication lens. This research aims to identify the forms of emotional conflict displayed among the main characters and to interpret the meaning of that conflict within their family relationship. A qualitative approach with content analysis was used. Data were collected through repeated observation and documentation of scenes and dialogues across the drama's episodes that display expressions of anger, disappointment, jealousy, and worry. The findings show that emotional conflict, particularly disappointment, is the most dominant form appearing in the characters' interactions, and that these conflicts consistently emerge around moments of separation, unmet expectations, and perceived threats to closeness. Rather than signaling relational fragility, recurring emotional conflict functions as a marker of attachment, since its intensity corresponds to the depth of the bond among the characters. The study concludes that in a non-biological family, interpersonal communication quality, more than blood ties, determines how emotional conflict is expressed, negotiated, and resolved into stronger relational commitment.   Abstrak. Penelitian ini mengkaji bagaimana konflik emosional direpresentasikan dalam komunikasi keluarga non-biologis pada drama Cina Go Ahead. Keluarga non-biologis atau chosen family semakin banyak ditampilkan dalam media populer, namun kedekatan yang terbentuk kerap diiringi gesekan emosional yang intens dan belum banyak dikaji dari perspektif komunikasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik emosional yang ditampilkan oleh tokoh utama serta memaknai konflik tersebut dalam konteks relasi keluarga mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi secara berulang terhadap adegan dan dialog di sepanjang episode drama yang menampilkan ekspresi kemarahan, kekecewaan, kecemburuan, dan kekhawatiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik emosional, khususnya kekecewaan, merupakan bentuk yang paling dominan muncul dalam interaksi antartokoh, dan konflik tersebut secara konsisten muncul di sekitar momen perpisahan, harapan yang tidak terpenuhi, serta ancaman terhadap kedekatan yang dirasakan. Alih-alih menandakan kerapuhan hubungan, konflik emosional yang berulang justru berfungsi sebagai penanda kelekatan, karena intensitasnya berbanding lurus dengan kedalaman ikatan antartokoh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam keluarga non-biologis, kualitas komunikasi interpersonal, lebih daripada ikatan darah, menentukan bagaimana konflik emosional diekspresikan, dinegosiasikan, dan diselesaikan menjadi komitmen relasional yang lebih kuat.
Sikap Mahasiswa Bandung terhadap Komunikasi Publik Dedi Mulyadi Fathan Lukmannulhakim Nur Musthofa; Ratri Rizki Kusumalestari
Bandung Conference Series: Public Relations 367-374
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25384

Abstract

Abstract. The development of digital technology has significantly transformed public communication patterns, where social media has become a primary platform for public officials to convey information and build their image. The use of social media by Dedi Mulyadi as the Governor of West Java through visual and narrative content has generated various perceptions among students, particularly in Bandung as a group with high critical literacy. This study aims to describe the perceptions of Bandung city students toward Dedi Mulyadi’s communication strategy on social media, which includes media exposure, source credibility, message appeal, and policy substance. The research employs a quantitative approach with a post-positivist paradigm and a descriptive method. Data were collected through a Likert-scale questionnaire distributed to students in Bandung using purposive sampling techniques. In addition, literature studies were conducted to strengthen the theoretical framework. The results indicate that the communication strategy demonstrates strong visual and emotional appeal; however, students tend to critically evaluate the substance of the policies presented. This suggests an imbalance between content popularity and rational acceptance of policy. This study is expected to contribute to the field of digital public communication and provide practical insights for improving more effective and substantive communication strategies. Abstrak. Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan signifikan dalam pola komunikasi publik, di mana media sosial menjadi sarana utama bagi pejabat public dalam menyampaikan informasi dan membangun citra. Pemanfaatan media sosial oleh Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat melalui konten yang bersifat visual dan naratif menimbulkan beragam persepsi di kalangan mahasiswa, khususnya di Kota Bandung sebagai kelompok yang memiliki tingkat literasi kritis tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa Kota Bandung terhadap strategi komunikasi Dedi Mulyadi di media sosial yang meliputi terpaan media, kredibilitas sumber, daya tarik pesan, serta substansi kebijakan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan paradigma post-positivisme dan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert kepada responden mahasiswa di Kota Bandung dengan teknik purposive sampling. Selain itu, studi pustaka digunakan untuk memperkuat landasan teori penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan memiliki daya tarik tinggi secara visual dan emosional, namun mahasiswa cenderung bersikap kritis terhadap substansi kebijakan yang disampaikan. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara popularitas konten dan penerimaan rasional terhadap kebijakan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian komunikasi publik digital serta menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif dan substantif.
Menjaga Keharmonisan Keluarga: Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Mahasiswa Perantau Masarrah Nurul Azizah; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations 375-382
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25449

Abstract

Abstract. Migration is a growing social phenomenon in the era of globalization, with advances in communication technology enabling parents and children to maintain connections across distances. Many families now pursue education outside their home regions, yet the physical and emotional presence of parents remains important for family harmony. This study examines how long-distance parents and children exchange verbal and nonverbal messages to maintain harmonious relationships. Employing a descriptive qualitative method, data were collected through interviews, observations, and documentation. The research focuses on identifying communication patterns, factors influencing message effectiveness, and family adaptations to preserve harmony. Findings are analyzed using Herbert Blumer’s Symbolic Interaction Theory to understand how symbolic meanings are formed in remote communication, and John Bowlby’s Attachment Theory to explore how emotional bonds are sustained despite separation. The results are expected to offer a comprehensive picture of the communication processes within migrant families and provide practical recommendations for maintaining family harmony across distances. Abstrak. Migrasi adalah fenomena sosial yang semakin berkembang di era globalisasi, dengan kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan orang tua dan anak untuk menjaga hubungan meskipun terpisah jarak. Banyak keluarga sekarang mengejar pendidikan di luar daerah asal mereka, namun kehadiran fisik dan emosional orang tua tetap penting untuk keharmonisan keluarga. Studi ini meneliti bagaimana orang tua dan anak yang terpisah jarak jauh bertukar pesan verbal dan nonverbal untuk menjaga hubungan yang harmonis. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini berfokus pada mengidentifikasi pola komunikasi, faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pesan, dan adaptasi keluarga untuk menjaga keharmonisan. Temuan dianalisis menggunakan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer untuk memahami bagaimana makna simbolik terbentuk dalam komunikasi jarak jauh, dan Teori Keterikatan John Bowlby untuk mengeksplorasi bagaimana ikatan emosional dipertahankan meskipun terpisah. Hasilnya diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang proses komunikasi dalam keluarga migran dan memberikan rekomendasi praktis untuk menjaga keharmonisan keluarga meskipun terpisah jarak.
Konstruksi Simbolik Logo HUT ke-80 Republik Indonesia di Media Sosial X Nadia Rifda Nur Fadilah; Septiawan Santana Kurnia
Bandung Conference Series: Public Relations 393-400
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25613

Abstract

Abstract. This study is motivated by divergent interpretations of the 80th Anniversary Logo of the Republic of Indonesia released by the government in 2025, amid heightened political tension caused by mass demonstrations. Although officially intended to represent unity, sovereignty, and national progress, part of the public on social media platform X read the logo particularly when rotated 90 degrees as a symbol of silencing. This study aims to identify the denotative, connotative, and mythical meanings embedded in the logo using Roland Barthes's semiotic approach within a constructivist paradigm and a qualitative method. Data were collected through visual document analysis, in-depth interviews with five communication-science students and a visual-communication-design expert, literature review, and documentation, then analyzed through Barthes's three levels of signification combined with Stuart Hall's encoding-decoding framework. Findings show that denotatively the logo displays the number 80, thin and thick white lines, the tagline "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju," and a red-white-black color scheme. Connotatively, two opposing meanings emerge: the government's positive official meaning and the public's negative reading of the thick lines as censorship. At the mythical level, visual ambiguity, tense socio-political context, and platform X accelerated an oppositional reading. The study concludes that visual symbol meaning is unstable and highly context-dependent, open to negotiation, rejection, or reversal by audiences.   Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pemaknaan terhadap Logo HUT ke-80 Republik Indonesia yang dirilis oleh pemerintah pada tahun 2025, di tengah situasi politik yang memanas akibat gelombang demonstrasi masyarakat. Logo yang secara resmi dimaksudkan untuk merepresentasikan persatuan, kedaulatan, dan kemajuan bangsa justru dimaknai oleh sebagian pengguna media sosial X sebagai simbol pembungkaman, khususnya ketika logo diputar 90 derajat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam logo menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dalam paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen visual, wawancara mendalam dengan lima mahasiswa Ilmu Komunikasi dan seorang pakar desain komunikasi visual, studi kepustakaan, serta dokumentasi. Data kemudian dianalisis melalui tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes yang dipadukan dengan kerangka encoding-decoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, logo menampilkan angka 80, garis tipis dan tebal berwarna putih, tagline "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju", serta perpaduan warna merah, putih, dan hitam. Secara konotatif, ditemukan dua pemaknaan yang berlawanan, yaitu makna resmi pemerintah yang bersifat positif dan pemaknaan publik yang cenderung negatif dengan membaca garis tebal sebagai simbol sensor atau pembungkaman. Pada tingkat mitos, ambiguitas visual ketika logo diputar, konteks sosial-politik yang tegang, serta peran media sosial X mendorong munculnya pembacaan oposisional (oppositional reading) terhadap logo. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna simbol visual bersifat tidak tetap dan sangat bergantung pada konteks, sehingga terbuka untuk dinegosiasikan, ditolak, atau bahkan dibalikkan oleh khalayak.
Strategi Guru dalam Keterampilan Public Speaking Santri Sifa Nurul Aulia; Yenni Yuniati Yuniati
Bandung Conference Series: Public Relations 401-408
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25715

Abstract

Abstract. Public speaking is a crucial communication competency for santri (Islamic boarding school students), serving as a foundation for dakwah  (religious outreach), leading religious activities, and interacting with the community. Muhadharah (public speaking practice sessions) is one activity that plays a key role in developing these skills. This study aims to analyze teachers' strategies for fostering santri public speaking skills through the application of memorization and extemporaneous methods during muhadharah activities at the Al-Ma’mun Islamic Boarding School in Sumedang Regency. The study employs a qualitative method with a case study approach. Data were gathered through in-depth interviews, observation, and documentation involving three primary informants who oversee muhadharah activities and one supporting informant with expertise in public speaking. Data analysis followed the Miles and Huberman model comprising data reduction, data display, and conclusion drawing while data validity was verified through source triangulation. The results indicate that teachers employ two complementary instructional strategies. The memorization method effectively enhances material mastery, self-confidence, delivery precision, and vocabulary. Meanwhile, the extemporaneous method cultivates critical thinking, improvisation, speech fluency, and more natural audience interaction. Combining these methods allows santri to develop speaking skills tailored to their individual proficiency levels; consequently, muhadharah sessions serve not merely as speech practice but as an effective communication learning platform for shaping santri public speaking competence.   Abstrak. Kemampuan public speaking merupakan salah satu kompetensi komunikasi yang penting dimiliki oleh santri sebagai bekal dalam berdakwah, memimpin kegiatan keagamaan, serta berinteraksi dengan Masyarakat. Salah satu kegiatan yang berperan dalam mengembangkan kemampuan tersebut Adalah muhadharah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam keterampilan public speaking santri melalui penerapan metode memoriter dan ekstemporer pada kegiatan muhadharah di Pondok Pesantren Al-Ma’mun Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang diperoleh dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi terhadap tiga informan utama yang membina kegiatan muhadharah dan satu informan pendukung sebagai seseorang yang ahli dalam public speaking. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu melalui tahapapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui traingulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru menerapkan dua strategi pembelajaran yang saling melengkapi. Metode memoriter efektif dapat meningkatkan penguasaan materi, kepercayaan diri, ketepatan penyampaian,  serta memperkaya kosakata santri. Sedangkan metode ekstemporer mampu melatih kemampuan berpikir kritis, improvisasi, kelancaran berbicara, dan interaksi yang lebih alami dengan audiens. Kombinasi kedua metode tersebut memberikan kesempatan kepada santri untuk dapat mengembangkan keterampilan berbicara sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing sehingga kegiatan muhadharah tidak hanya menjadi media Latihan pidato saja, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran komunikasi yang lebih efektif dalam membentuk komptensi public speaking santri.
Komunikasi Interpersonal antara Perawat dan Keluarga Pasien Terkait Triase Ihtifazhuddin Pamungkas; Izni Nur Indrawati
Bandung Conference Series: Public Relations 409-416
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25779

Abstract

Abstract. The triage process in the Emergency Department (ED) is an essential stage in determining patient treatment priorities based on the level of emergency. Effective communication between nurses and patients' families is crucial because differences in understanding the triage priority system may lead to miscommunication, anxiety, conflict, and decreased trust in healthcare services. This study aims to identify the types of communication used by nurses with patients' families during the triage process, analyze interpersonal communication strategies in overcoming miscommunication, identify communication barriers, and understand the reasons why nurses apply an interpersonal communication approach in ED services. This research employed a constructivist paradigm with a qualitative approach using a case study method conducted at the Emergency Department of Santosa Bandung Kopo Hospital. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, and were analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The findings indicate that interpersonal communication plays a significant role in reducing miscommunication during the triage process. Nurses apply openness, empathy, emotional support, a positive attitude, and clear communication using simple and understandable language. The main communication barriers include the psychological condition of patients' families, limited communication time, workload pressure, and a lack of understanding of the triage system. Therefore, interpersonal communication serves as an essential strategy for building trust and improving the effectiveness of healthcare services in the Emergency Department.   Abstrak. Proses triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan tahapan penting dalam menentukan prioritas pelayanan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Pelaksanaan triase membutuhkan komunikasi yang efektif antara perawat dan keluarga pasien karena perbedaan pemahaman mengenai sistem prioritas dapat menyebabkan miskomunikasi, kecemasan, konflik, dan menurunnya kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis komunikasi perawat dengan keluarga pasien selama proses triase, menganalisis strategi komunikasi interpersonal dalam mengatasi miskomunikasi, mengidentifikasi hambatan komunikasi, serta memahami alasan perawat menerapkan pendekatan komunikasi interpersonal dalam pelayanan IGD. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Santosa Bandung Kopo. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berperan penting dalam mengurangi miskomunikasi selama proses triase. Perawat menerapkan keterbukaan, empati, dukungan emosional, sikap positif, serta penyampaian informasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Hambatan komunikasi meliputi kondisi psikologis keluarga, keterbatasan waktu, tekanan pekerjaan, dan kurangnya pemahaman tentang sistem triase. Komunikasi interpersonal menjadi strategi penting dalam membangun kepercayaan dan meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan di IGD.
Strategi Komunikasi Pemasaran Toko Thrifting BNS.NEWGEN melalui Fitur Shopee Live Taufiq Muhammad Firdaus; Ratri Rizki Kusumalestari
Bandung Conference Series: Public Relations 417-426
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25793

Abstract

Abstract. This study describes the marketing communication strategy of the BNS.NEWGEN thrift store through the Shopee Live feature in increasing the number of viewers, covering planning, obstacles, and solutions. Live streaming has grown into a marketing communication medium on e-commerce platforms, particularly Shopee Live, enabling sellers to interact with audiences in real time. This research uses a qualitative approach with a descriptive method and a positivist paradigm. Data were collected through interviews with three informants, namely the store owner, the live host, and the store admin, observation of live streaming sessions, and documentation of Shopee Live dashboard data for the period of 14 April to 11 May 2025. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman and validated through triangulation. The results show that planning focuses on three aspects: staged promotional strategies supported by Shopee Live advertising, host credibility built through transparency about product conditions and familiarity with viewers, and broadcast scheduling every day except Monday in two sessions. Obstacles include unstable networks, power outages, accumulated comments, and national events that divide audience attention. Solutions include backup power and connections, selective comment management, and schedule adjustments.   Abstrak. Penelitian ini mendeskripsikan strategi komunikasi pemasaran Toko Thrifting BNS.NEWGEN melalui fitur Shopee Live dalam meningkatkan jumlah viewers, yang mencakup perencanaan, kendala, dan solusi. Penelitian dilatarbelakangi oleh berkembangnya live streaming sebagai sarana komunikasi pemasaran pada platform e-commerce, khususnya Shopee Live, yang memungkinkan penjual berinteraksi secara real-time dengan audiens. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan paradigma positivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tiga informan, yaitu pemilik toko, host live, dan admin toko, observasi terhadap sesi live streaming, serta studi dokumentasi data dashboard Shopee Live periode 14 April sampai 11 Mei 2025. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan uji keabsahan melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan perencanaan diarahkan pada tiga aspek, yaitu strategi promosi bertahap yang didukung iklan Live Shopee, kredibilitas host yang dibangun melalui keterbukaan kondisi produk dan keakraban dengan penonton, serta pemilihan waktu siaran setiap hari kecuali Senin dalam dua sesi. Kendala meliputi gangguan jaringan, pemadaman listrik, penumpukan komentar, dan acara nasional yang memecah perhatian penonton. Solusi mencakup penyediaan daya dan koneksi cadangan, pengelolaan komentar secara selektif, serta penyesuaian jadwal siaran.
Representasi Kesenjangan Sosial Ekonomi dalam Film 13 Bom di Jakarta Farras Muhammad; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations 427-434
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25816

Abstract

Abstract. This research is entitled "Representation of Socio-Economic Inequality in the Film 13 Bombs in Jakarta". The object of this research is a mass communication media film 13 Bombs in Jakarta by Angga Dwimas Sasongko which will be released in 2023. The aim of this research is to find out the signs, objects and interpretants, which show social inequality in the film 13 Bom Di Jakarta, and to find out the meaning of socio-economic inequality in the film 13 Bom Di Jakarta. With Charles Sanders Peirce's semiotic analysis, signs according to Charles Sanders Peirce have a relationship between one sign and another sign. This research uses a qualitative approach with Charles Sanders Pierce's semiotic analysis method to assist researchers in observing scene fragments in 13 Bombs in Jakarta. Abstrak. Penelitian ini berjudul “Representasi Kesenjangan Sosial Ekonomi Pada Film 13 Bom Di Jakarta”. Objek dari penelitian ini adalah sebuah media komunikasi massa film yang 13 Bom Di Jakarta karya Angga Dwimas Sasongko yang di rilis pada tahun 2023 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanda-tanda sign, object, dan interpretant, yang menunjukan ketimpangan sosial pada film 13 Bom Di Jakarta, dan mengetahui makna ketimpangan sosial ekonomi pada film 13 Bom Di Jakarta. Dengan analisis Semiotika Charles Sanders Peirce, dimana tanda-tanda menurut Charles Sanders Pierce memiliki hubungan antara satu tanda dengan tanda lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Charles Sanders Pierce untuk membantu peneliti dalam mengamati potongan scene dalam 13 Bom Di Jakarta.
Konstruksi Identitas Diri Blink melalui Pengalaman Menonton Konser Blackpink ‘Deadline’ Meisya Dinnah Putri; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations 435-444
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25837

Abstract

Abstract. This study aims to understand the process of self-identity construction among Blackpink fans, known as Blink, through their experience of attending the 'Deadline' concert. Utilizing a qualitative methodology with a phenomenological approach, the research explores the subjective experiences of fans focusing on the synthesized findings regarding their motives, language style, dressing style, and concert experiences. The findings reveal that fan motives consist of historical roots (because-of motive) and future-oriented goals (in-order-to motive). Language style adaptation shows two patterns: situational usage within the community and universal usage in daily communication. Furthermore, the dressing style reflects a hybrid identity combining collective fandom symbols with personal preferences. Ultimately, the live concert experience serves as an emotional catalyst that reinforces and redefines their self-concept. The study concludes that the self-identity of a Blink is a continuous, dynamic process deeply intertwined with their social environment and cultural adaptation.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses konstruksi identitas diri penggemar Blackpink, yang dikenal sebagai Blink, melalui pengalaman menonton konser 'Deadline'. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman subjektif penggemar yang berfokus pada hasil temuan terkait motif, gaya bahasa, gaya berpakaian, dan pengalaman menonton konser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif penggemar terbentuk dari akar masa lalu (because-of motive) dan orientasi tujuan (in-order-to motive). Adaptasi gaya bahasa menunjukkan dua pola: situasional di dalam komunitas dan menyeluruh dalam komunikasi harian. Selanjutnya, gaya berpakaian mencerminkan identitas hibrida yang menggabungkan simbol kolektif fandom dengan preferensi personal. Pada akhirnya, pengalaman menonton konser secara langsung berfungsi sebagai katalis emosional yang memperkuat dan mendefinisikan ulang konsep diri mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas diri seorang Blink adalah proses yang berkelanjutan, dinamis, dan terikat erat dengan lingkungan sosial serta adaptasi budaya mereka.
Manajemen Konflik Antarbudaya di PR Agency Multinasional Alfidas Refky Bandarea; Ani Yuningsih
Bandung Conference Series: Public Relations 445-454
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25893

Abstract

Abstract. In the context of globalization and cross-border collaboration, cultural differences pose significant challenges to organizational communication, including within multinational Public Relations (PR) agencies. This study examines how intercultural conflicts are managed in the work environments of Vero Indonesia and Vero Thailand, two branches of a multinational PR agency in Southeast Asia. The study aims to identify conflict resolution strategies, employee adaptation patterns, and solutions to intercultural communication barriers. A phenomenological approach was employed to explore the subjective experiences of employees influenced by cultural values such as kreng jai, power distance, and uncertainty avoidance. A qualitative method was applied through in-depth interviews with three informants from both countries. The findings indicate that cross-cultural communication conflicts more frequently emerge as subtle coordination disruptions such as message misinterpretation, differences in work pace, and variations in authority structures rather than through open confrontation. Employees address these challenges through synchronous communication, output visualization, observation of communication styles, and cross-branch coordination escalation. Self-adaptation is understood as a process of developing empathy and professional flexibility, while cultural diversity is perceived as an organizational strength that enriches cross-border collaboration.   Abstrak. . In the context of globalization and cross-border collaboration, cultural differences pose significant challenges to organizational communication, including within multinational Public Relations (PR) agencies. This study examines how intercultural conflicts are managed in the work environments of Vero Indonesia and Vero Thailand, two branches of a multinational PR agency in Southeast Asia. The study aims to identify conflict resolution strategies, employee adaptation patterns, and solutions to intercultural communication barriers. A phenomenological approach was employed to explore the subjective experiences of employees influenced by cultural values such as kreng jai, power distance, and uncertainty avoidance. A qualitative method was applied through in-depth interviews with three informants from both countries. The findings indicate that cross-cultural communication conflicts more frequently emerge as subtle coordination disruptions such as message misinterpretation, differences in work pace, and variations in authority structures rather than through open confrontation. Employees address these challenges through synchronous communication, output visualization, observation of communication styles, and cross-branch coordination escalation. Self-adaptation is understood as a process of developing empathy and professional flexibility, while cultural diversity is perceived as an organizational strength that enriches cross-border collaboration