cover
Contact Name
Husna Nashihin
Contact Email
aufahusna.lecture2017@gmail.com
Phone
+6283817990006
Journal Mail Official
jurnaljipsi.amorfati@gmail.com
Editorial Address
Kantor Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta Alamat: Siwil RT.05/RW.20, Siwil, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
ISSN : -     EISSN : 29629187     DOI : -
Education Science. The Islamic Education Science. Educational Psychology. Learning Psychology. Educational Philosophy. Islamic Educational Philosophy. Lesson Plan. Lesson Design. Lesson Media Development of Resources and Learning Media. Learning Theory of Islamic Education. Learning Strategies of Islamic Education. Islamic Education Curriculum Development. Objectives and Evaluations of Educational Curriculum. Tafsir Tarbawi. Hadist Tarbawi.
Articles 437 Documents
Leadership Communication of Dormitory Heads in Strengthening the Organizational Culture of Islamic Boarding Schools Safarotul Jannah; Lidia Astuti; Siti Aimah
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1310

Abstract

Komunikasi kepemimpinan kepala asrama memiliki peran penting dalam membangun dan memperkuat budaya organisasi di lingkungan pesantren. Melalui komunikasi yang efektif, kepala asrama tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menanamkan nilai, membangun kedisiplinan, dan mempererat hubungan antara pengurus dengan santri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi kepemimpinan kepala asrama berperan dalam penguatan budaya organisasi pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan kepala asrama, pengurus, dan santri. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kepemimpinan kepala asrama dilaksanakan melalui komunikasi formal dan informal yang didukung oleh keteladanan, musyawarah, pembiasaan, serta evaluasi secara berkelanjutan. Pola komunikasi tersebut mampu memperkuat budaya organisasi melalui meningkatnya kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan komitmen terhadap nilai-nilai kepesantrenan. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa temuan mengenai pola komunikasi kepemimpinan yang khas di lingkungan pesantren sebagai salah satu strategi dalam memperkuat budaya organisasi.
Transformasi Hubungan Sosial Di Lingkungan Madrasah Aliyah Al Muawanah Pada Pembelajaran Hybrid Nihlah Kamilah; Aslimah; Muh. Ainun Najib; Aan Setiawan
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1315

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi hubungan sosial murid pada era pembelajaran hybrid di sekolah, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta menjelaskan dampaknya terhadap proses pembelajaran dan pembentukan karakter murid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Informan penelitian ini terdiri atas guru Sosiologi dan murid yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman melalui tahap kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran hybrid telah mentransformasi hubungan sosial murid dari interaksi yang didominasi tatap muka menuju interaksi berbasis teknologi digital. Transformasi tersebut tampak pada pola komunikasi dengan guru dan antarmurid, kerja sama kelompok, dan solidaritas serta hubungan pertemanan yang semakin memanfaatkan media digital. Faktor-faktor yang memengaruhi transformasi tersebut meliputi penggunaan teknologi digital, berkurangnya intensitas tatap muka dan peran guru sebagai fasilitator. Transformasi hubungan sosial memberikan dampak positif berupa meningkatnya kemampuan adaptasi sosial, kemandirian, tanggung jawab dan kemudahan kolaborasi melalui media digital. Namun pembelajaran hybrid juga menyebabkan berkurangnya kedekatan emosional, menurunnya intensitas interaksi langsung serta munculnya tantangan dalam membangun komunikasi interpersonal dan partisipasi aktif sebagian murid. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran hybrid perlu dirancang secara seimbang dengan mengoptimalkan integrasi antara tatap muka dan komunikasi digital agar perkembangan sosial, proses pembelajaran, dan pembentukan karakter murid dapat berlangsung secara optimal.
Adaptation of Transformational Leadership Models to Overcome Organizational Stagnation in the Era of Disruption: A Case Study of the Darul Falah Batam Islamic Boarding School Nur Hafidzoh; Muhammad Faisal; Ria Kurniawaty
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1354

Abstract

The organizational stagnation at the Darul Falah Batam Islamic Boarding School emerged in the transition from charismatic-centralistic leadership to collective-managerial governance that has not been followed by equalization of vision, clarity of authority, effective coordination, financial supervision, and data-based work systems. This research aims to analyze leadership conditions and organizational stagnation dynamics, explain the adaptation of transformational leadership dimensions in encouraging change, and formulate a contextual model for strengthening pesantren governance in the era of disruption. The research uses a qualitative approach with an instrumental case study design. Data were collected through in-depth interviews, moderate participatory observations, and documentation studies of leaders, administrators, managers of educational units, ustaz, and education staff. Data is analyzed interactively through condensation, presentation, withdrawal, and conclusion verification; Credibility is maintained through triangulation, member examinations, peer discussions, and audit trails. The results of the study show that transformational leadership adaptation requires the integration of ideal influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration with the values of trust, deliberation, ukhuwah, and example. The study concludes that the adaptive model consists of the diagnostic stage and release of old patterns, the implementation of structural and work system updates, and institutionalization through procedures, evaluation, supervision, documentation, and regeneration. The model strengthens organizational responsiveness, governance accountability, quality of educational services, and the sustainability of pesantren identity in facing the demands of social, technological, and societal changes in an adaptive, participatory, measurable, and sustainable and inclusive manner.
Habitus Moral Peserta Didik dalam Ekologi Sosial Pendidikan Islam di Era Digital Amrullah; Abullah Idi; Karoma; Yulia Trisamiha
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1360

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis pembentukan habitus moral peserta didik dalam ekologi sosial pendidikan Islam di era digital. Kajian dilakukan melalui pendekatan studi literatur dengan sintesis tematik terhadap berbagai penelitian mengenai pendidikan moral, budaya sekolah, keteladanan guru, keterlibatan keluarga, relasi teman sebaya, dan budaya digital. Hasil kajian menghasilkan lima arena utama pembentukan habitus moral. Pertama, budaya sekolah membentuk kebiasaan moral melalui aturan, pembiasaan, simbol, dan kegiatan religius. Kedua, guru memperkuat internalisasi nilai melalui keteladanan, relasi edukatif, kepemimpinan nilai, dan otoritas moral. Ketiga, keluarga menjaga kesinambungan nilai melalui pengasuhan, religiositas, komunikasi, dan pengawasan terhadap aktivitas digital. Keempat, teman sebaya memengaruhi penerimaan norma melalui pengakuan sosial, budaya kelompok, dan perilaku prososial. Kelima, budaya digital menjadi arena negosiasi akhlak yang menuntut kemampuan tabayyun, amanah, adab, rahmah, dan pengendalian diri. Temuan menunjukkan bahwa pembentukan moral tidak berlangsung secara instruksional dan satu arah, tetapi melalui interaksi berulang antara nilai agama, praktik keseharian, relasi sosial, dan pengalaman digital. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu dikembangkan melalui pendekatan ekologis-transformatif yang mengintegrasikan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan pendidik, kemitraan keluarga, penguatan kelompok sebaya, dan literasi digital berbasis akhlak. Pendekatan tersebut menempatkan peserta didik sebagai subjek moral yang mampu memahami, menegosiasikan, dan menerapkan nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan nyata maupun ruang digital.
Pergeseran Otoritas Keagamaan Murid Ma Pppa Guppi Rangas Di Era Tiktok Dan Artificial Intelligence Zaenab Syifa; Aan Setiawan; Nurul Hazirah Hamzah; Nur Saada; Bahari Risaldi; Suddin Bani
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1378

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara pandang murid dalam memperoleh pengetahuan keagamaan melalui TikTok dan Artificial Intelligence (AI). Peneliti ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman murid dalam memperoleh pengetahuan keagamaan, mengetahui bentuk pergeseran otoritas keagamaan, mengidentifikasi faktor yang menyebabkan murid menjadikan TikTok dan AI sebagai rujukan keagamaan serta memahami dampak pengalaman memperoleh pengetahuan agama melalui TikTok dan AI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian fenomenologi dan desain penelitian studi kasus. Informan terdiri dari enam murid dan guru di MA PPPA Guppi Rangas yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan perbaikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok dan AI menjadi sumber belajar keagamaan yang mudah diakses, cepat, dan menarik. Pergeseran otoritas keagamaan yang terjadi bersifat parsial, ditandai dengan perubahan cara memperoleh informasi tanpa menggantikan peran guru, ornag tua, dan ustadz sebagai rujukan utama. Penggunaan TikTok dan AI didorong oleh kemudahan akses, kecepatan informasi, penyajian materi yang menarik, serta pengaruh lingkungan. Dengan demikian, TikTok dan AI berfungsi sebagai sumber belajar pendukung yang melengkapi, bukan menggantikan otoritas tradisional dalam memperoleh pengetahuan keagamaan
Dinamika Laïcité dan Tantangan Integrasi Islam di Prancis Rani Yulisa
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1381

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika Laïcité sebagai prinsip sekularisme Prancis yang lahir dari Undang-Undang Pemisahan Gereja dan Negara tahun 1905, serta implikasinya terhadap integrasi komunitas Muslim. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desaun studi kasus tunggal dan analisis isi terhadap dokumen kebijakan, pernyataan resmi, dan literatur akademik. Penelitian ini menemukan bahwa laïcité telah bergeser dari prinsip netralitas negara menjadi instrumen pembatasan ekspresi keagamaan, khususnya terhadap Islam yang merupakan agama kedua terbesar di Prancis dengan populasi diperkirakan mencapai 8,8% penduduk 2017 dan terus meningkat. Regulasi seperti larangan simbol agama di sekolah negeri, larangan burkini, serta Undang-Undang Anti-Separatisme di bawah pemerintahan Emmanuel Macron memicu perdebatan mengenai batas antara netralitas republik dan komunitas Muslim Prancis bersifat multidimensional, meliputi steorotip media, restriksi pendidikan agama, dan marjinalisasi sosial-ekonomi, meskipun komunitas ini tetap berkonstribusi aktif melalui lembaga pendidikan swasta seperti Lycée Averroés. Penelitian ini beragumen bahwa ekspansi regulatif laïcité pasca serangan teror dan Undang-Undang Anti-Separatisme telah menghasilkan pola Islamphobia struktural sebagaimana dikonseptualisasikan dalam literatur Islamophobia studies kontemporer, sehingga diperlukan reformasi kebijakan yang mengakomodasi keberagaman tanpa mengorbankan prinsip sekularisme itu sendiri.
Implementasi Kurikurum Berbasis Cinta Pada Materi Hadist di PAS Baitu Al-Qur’an Ponorogo Muhammad Ilman Hafizhul Huda Ilman; Idam Mustofa; Hafizh Raafi; Wahyu Setiawan; Syarifah
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1383

Abstract

This study proposes a conceptual model of love-based hadith learning that integrates teacher role modelling, humanistic interaction, and value internalization to strengthen students' character formation. The Love-Based Curriculum (LBC) is an educational paradigm that emphasizes the internalization of compassion, empathy, respect, and responsibility as the foundation for students' character development. In hadith learning, the implementation of the LBC is essential because the learning process should not only focus on knowledge acquisition but also on the internalization and practice of Islamic values in everyday life. This study aims to analyze the implementation of the Love-Based Curriculum in hadith learning at Pesantren Anak Sholeh Baitul Al-Qur'an Ponorogo, identify teachers' strategies for internalizing the values of love, and examine the supporting and inhibiting factors affecting its implementation. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through participant observation, semi-structured interviews, and document analysis, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which consists of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings reveal that the implementation of the Love-Based Curriculum is reflected through exemplary behavior (uswah hasanah), humanistic educational communication, contextual explanation of hadith, and the habituation of good manners within the pesantren culture. Its successful implementation is supported by a strong religious culture, harmonious teacher–student relationships, and teachers' pedagogical competence, while the main challenges include the predominance of lecture-based instruction, limited use of digital learning media, and the lack of collaborative learning practices. The study implies that the conceptual model integrating hadith learning, teacher role modeling, humanistic educational interaction, and the internalization of love-based values can serve as a practical framework for developing character-oriented hadith instruction that promotes religiosity, empathy, responsibility, and noble character in Islamic boarding schools and other Islamic educational institutions.
Membangun Kesadaran Diri Menuju Taubat Melalui Tazkiyatun Nufus: Ana-lisis Madarij Al-Salikin Dalam Psikologi Islam Nida Uzakiyah; Qiyadah Robbaniyah
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 4 November 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner (Articles in Pres
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i4.1385

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembangunan kesadaran diri menuju taubat melalui konsep tazkiyatun nufus dalam perspektif Madarij al-Salikin serta relevansinya dalam psikologi Islam. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, yang mengkaji pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah serta literatur terkait psikologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran diri dalam Islam merupakan proses psikospiritual yang holistik dan bertahap, yang melibatkan tiga konsep utama, yaitu tazkiyatun nufus sebagai proses penyucian jiwa, al-yaqadhah sebagai kebangkitan kesadaran dari kelalaian, dan al-fikrah sebagai pendalaman refleksi batin. Ketiga konsep ini terintegrasi dalam membentuk proses taubat yang tidak hanya berupa penyesalan, tetapi juga transformasi perilaku dan orientasi hidup. Temuan ini menegaskan bahwa kesadaran diri dalam Islam melampaui aspek kognitif, dengan mencakup dimensi moral dan spiritual yang berorientasi pada kedekatan dengan Allah. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa konsep tersebut relevan dalam pengembangan psikologi Islam kontemporer, khususnya dalam terapi berbasis spiritual, penguatan karakter, dan praktik self-healing Islami. Dengan demikian, pendekatan tazkiyah menawarkan model komprehensif dalam memahami dan membangun kesehatan mental yang integratif antara aspek psikologis dan spiritual.
Etika Komunikasi Digital dalam Perspektif Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas Abiano Al Affan
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1391

Abstract

Perkembangan media sosial telah melahirkan berbagai persoalan etika komunikasi digital. Berbagai kajian mengenai etika komunikasi digital telah dilakukan, namun sebagian besar masih menggunakan kerangka etika Barat atau memandang etika sebagai sesuatu yang relatif sehingga belum menawarkan landasan yang kokoh dalam perspektif Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep adab menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas serta merekonstruksi relevansinya sebagai landasan etika komunikasi digital. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-konseptual. Data diperoleh dari karya-karya Al-Attas yang membahas konsep adab, kemudian dianalisis secara konseptual dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adab menurut Al-Attas merupakan kemampuan menempatkan segala sesuatu sesuai hakikat dan kedudukannya berdasarkan perspektif Islam. Berdasarkan konsep tersebut, penelitian ini merumuskan kerangka etika komunikasi digital yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, serta komunikasi dan media. Kerangka ini menegaskan bahwa pembentukan etika komunikasi digital tidak cukup mengandalkan regulasi dan literasi digital, tetapi juga memerlukan pembinaan adab sebagai fondasi moral dan intelektual. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka konseptual etika komunikasi digital berbasis adab yang dapat menjadi landasan bagi pengembangan kajian maupun praktik komunikasi digital dalam perspektif Islam.
Reconstructing Gender Equality in Islamic Law From a Human Rights Perspective M. Wildan Murtadho Al Idrus; Dedy Syahputra; Yusrizal Amri; Robinhot Siagian; Dedi Sumanto
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1395

Abstract

This study aims to analyze the concept of gender equality within the framework of Islamic law and its relation to Human Rights. The issue of gender equality has become a significant debate due to the differences between normative values in Islamic teachings and their implementation in various Muslim countries. This research employs a normative juridical method with conceptual, statutory, and comparative approaches. The data sources consist of primary, secondary, and tertiary legal materials, which are analyzed qualitatively. The results indicate that, normatively, Islamic law upholds the principles of justice (al-‘adl), equality (al-musawah), and public interest (maslahah), which are in line with human rights values. However, in practice, there are still gaps caused by textual interpretations, patriarchal cultural influences, and state policies that are not yet fully responsive to gender issues. Comparative studies in several Muslim countries reveal variations in the implementation of gender equality, where more contextual and progressive approaches tend to produce more inclusive policies. The maqashid sharia approach can serve as a solution in bridging Islamic law and human rights through adaptive reinterpretation in accordance with contemporary developments. Therefore, gender equality can be realized through the comprehensive and just integration of Islamic values and human rights.

Filter by Year

2022 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 4 November 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner (Articles in Pres Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Februari 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 4 November 2025: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 3 Agustus 2025: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 2 Mei 2025: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 1 Februari 2025: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 4 November 2024: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 3 Agustus 2024: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 2 Mei 2024: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 1 Februari 2024: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 2 No. 4 November 2023: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 2 No. 3 Agustus 2023: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 2 No. 2 Mei 2023: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 2 No. 1 Februari 2023: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 1 No. 2 November 2022: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 1 No. 1 Agustus 2022: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner More Issue