cover
Contact Name
Husna Nashihin
Contact Email
aufahusna.lecture2017@gmail.com
Phone
+6283817990006
Journal Mail Official
aufahusna.lecture2017@gmail.com
Editorial Address
Siwil RT.05/RW.20, Siwil, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
ISSN : -     EISSN : 29629209     DOI : https://doi.org/10.59944/amorti
Islam and Philosophy, Islam and History, Islam and Religion, Islam and Political Science, Islam and International Relations, Islam and Psychology, Islam and Sociology, Islam and Anthropology, Islam and Economics, Islam and Law, Islam and Culture, Islam and Health, Islam and Technology, Islam and Education, dan Islam and Social Science.
Articles 264 Documents
Membaca Hadis dengan Kacamata Hermeneutika: Urgensi Asbab al-Wurud di Era Modern Cika Auliya Nurrohmah; Romlah Abubakar Askar; Miftahuddin
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Juli 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i3.1078

Abstract

Hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur'an memiliki peran sentral dalam membentuk tatanan teologi, hukum, dan etika umat Islam. Namun, sebagai teks yang lahir pada abad ke-7 dalam konteks sosial-budaya Arab yang sangat spesifik, hadis menghadapi tantangan serius dalam hal relevansi dan aplikasinya di era modern yang ditandai oleh globalisasi, pluralisme, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimana teks masa lalu dapat tetap bermakna dan memberikan petunjuk bagi konteks yang berbeda secara fundamental. Penelitian ini bertujuan mengkaji urgensi pendekatan hermeneutika dalam studi hadis kontemporer, dengan fokus khusus pada integrasinya bersama konsep asbab al-wurud sebagai jembatan antara teks dan konteks. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis isi (content analysis) terhadap sumber-sumber primer dan sekunder yang mencakup karya Muhammad Syuhudi Ismail, Fazlur Rahman, Khaled Abou El-Fadl, dan sarjana relevan lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika dan asbab al-wurud bersifat komplementer, bukan kontradiktif. Asbab al-wurud menyediakan fondasi historis-konkret tentang latar kemunculan hadis, sementara hermeneutika menawarkan kerangka filosofis-metodologis untuk memproyeksikan nilai-nilai universal hadis ke dalam konteks kekinian melalui mekanisme double movement. Integrasi keduanya memungkinkan pemahaman hadis yang tidak ahistoris, memperkuat dimensi moral dan maqasid al-syari'ah, sekaligus mencegah misinterpretasi yang bersifat parsial. Meskipun demikian, pendekatan ini tetap memiliki batasan berupa risiko relativisme dan subyektivitas interpretasi, sehingga harus diimbangi dengan komitmen terhadap kritik sanad dan tradisi keilmuan Islam yang otentik.
Negotiating Tradition and Modernity: Malam Satu Suro Ritual as a Cultural Identity Practice among Javanese Migrants in Bangun Rejo Village, South Kalimantan Noor Hasanah; Muhammad Azmi Hidayat
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Januari 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.1099

Abstract

The Malam Satu Suro ritual remains one of the enduring cultural traditions practiced by Javanese migrant communities in Bangun Rejo Village, South Kalimantan, despite rapid social transformation and modernization. Existing studies have largely focused on the ritual's symbolic meanings and religious dimensions, while limited attention has been paid to its role in sustaining cultural identity and negotiating tradition within a multicultural environment. This study aims to examine how the First Suro Night ritual functions as a cultural identity practice and explores the ways local communities negotiate traditional values in the context of contemporary social change. Employing a qualitative ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews with community leaders, religious figures, and residents, as well as document analysis. The findings reveal that the ritual serves not merely as a ceremonial event but as a cultural mechanism for preserving Javanese identity, strengthening social cohesion, and transmitting local wisdom across generations. At the same time, the tradition demonstrates a dynamic process of adaptation, in which cultural practices are continuously reinterpreted to align with Islamic values and the realities of modern life without losing their essential cultural significance. This study contributes to discussions on cultural resilience, identity negotiation, and the preservation of intangible cultural heritage in Indonesia's multicultural society.
Krisis Peradaban Modern dan Rekonstruksi Paradigma Pendidikan: Perspektif Filsafat Pendidikan Islam Nur Widiastuti; Ina Gustiana; Yusra Andi Ani; Paino; Nizomudin; Haristian Hergandi
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.1101

Abstract

Krisis peradaban modern ditandai oleh berkembangnya degradasi moral, krisis spiritual, individualisme, konsumerisme, ketimpangan sosial, serta kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari paradigma modern yang cenderung berorientasi pada rasionalitas instrumental dan kemajuan material. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan etika. Artikel ini bertujuan menganalisis hakikat krisis peradaban modern serta mengkaji kontribusi filsafat pendidikan Islam sebagai paradigma alternatif dalam membangun pendidikan yang mampu menjawab tantangan modernitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap berbagai literatur yang relevan, meliputi Al-Qur'an, Hadis, buku, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen akademik. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis dengan pendekatan deskriptif-kritis untuk mengidentifikasi hubungan antara krisis peradaban modern dan prinsip-prinsip filsafat pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar krisis peradaban modern terletak pada terpisahnya ilmu pengetahuan dari nilai-nilai wahyu, hilangnya adab, serta bergesernya tujuan pendidikan menjadi berorientasi pragmatis. Filsafat pendidikan Islam menawarkan solusi melalui penguatan paradigma tauhid, integrasi ilmu, pembentukan adab, serta pengembangan konsep insān kāmil sebagai tujuan pendidikan. Paradigma tersebut memberikan dasar bagi rekonstruksi sistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, kedewasaan spiritual, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan peradaban. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam memiliki relevansi yang kuat sebagai landasan konseptual dalam membangun pendidikan yang humanis, berkeadaban, dan berkelanjutan di tengah dinamika peradaban modern.
Kalimat Larangan: Kajian Struktur dan Fungsinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Husnul Khatimah; Andi Miswar; Mohamad Harjum
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.1110

Abstract

The prohibitive expression (al-nahy) is one of the forms of inshā’ ṭalabī (directive speech) that plays a significant role in understanding the meanings of the Qur'an and the formulation of Islamic legal rulings (aḥkām shar‘iyyah). This study aims to analyze the grammatical structure and functions of prohibitive expressions in Qur'anic interpretation through a library research approach using a descriptive-analytical method. The findings reveal that prohibitive expressions appear in several forms, namely the imperfect verb (fi‘l muḍāri‘) preceded by lā al-nahy (the prohibitive lā), the direct use of prohibitive expressions, and the use of the word ḥarrama ("has prohibited" or "has made unlawful"). According to the principles of uṣūl al-fiqh, al-nahy fundamentally denotes prohibition (taḥrīm), requires immediate compliance, and remains permanently applicable unless there is evidence indicating otherwise. However, in certain contexts, prohibitive expressions may function beyond their primary meaning, serving as supplication (du‘ā’), request (iltimās), guidance (irshād), continuity (dawām), explanation of consequences (bayān al-‘āqibah), expression of despair (ta’yīs), and threat (tahdīd). A proper understanding of the structure and functions of prohibitive expressions is therefore essential for Qur'anic exegetes in order to avoid errors in deriving legal rulings (istinbāṭ al-aḥkām) and to comprehend the intended meanings of Allah comprehensively.
Marriage Prevention from the Perspective of Maqāṣid al-Sharīʿah: An Analysis of Concealed Marital Status Cases in Temanggung Mar'atul Ulya; Sumarjoko; Hidayatun Ulfa; Hasman Zhafiri Muhammad
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 4 No. 4 Oktober 2025: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v4i4.1122

Abstract

This study aims to analyze a case of marriage prevention resulting from the concealment of marital status by a prospective husband in Kemiri Village, Tembarak District, Temanggung Regency, from the perspective of Maqāṣid al-Sharīʿah. The research employed a qualitative method with a juridical-empirical (field research) approach, using in-depth interviews, observation, and documentation as data collection techniques. The findings reveal that the marriage prevention occurred after it was discovered that the prospective husband was still legally married and intended to engage in polygamy without obtaining the consent of his first wife or authorization from the Religious Court. Such conduct constitutes tadlīs (deception) through the concealment of marital status, which may result in legal, social, and psychological harm to the prospective wife. From the perspective of Maqāṣid al-Sharīʿah, the prevention of this marriage is consistent with the objective of protection at the level of ḍarūriyyāt, particularly in safeguarding lineage (ḥifẓ al-nasl). Legally, the case is classified as marriage prevention prior to the marriage contract (akad nikah), thereby producing no legal consequences of marriage for either party. Sociologically, the involvement of village authorities and religious leaders played a significant role in providing social protection and minimizing stigma toward the woman involved. This study demonstrates that marriage prevention in cases involving the concealment of marital status is not only legally justified but also reflects the implementation of Maqāṣid al-Sharīʿah values in protecting the welfare of individuals and society.
Relevansi Stay-At-Home Dad Terhadap Konsep Nafkah Dalam Al Qur’an Muhammad Fadhil
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.1137

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi fenomena stay-at-home dad dengan konsep nafkah dalam Al-Qur'an melalui pendekatan tafsir tematik (maudhu'i), konseptual, dan sosiologi hukum. Secara normatif, kewajiban nafkah dibebankan kepada suami sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa' ayat 34 dan QS. Al-Baqarah ayat 233. Namun Al-Qur'an tidak secara eksplisit melarang istri untuk turut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip proporsionalitas yang ditekankan melalui lafaz bi al-ma'ruf dan la tukallafu nafsun illa wus'aha dalam Al Qur’an membuka ruang bagi peralihan peran pencari nafkah ketika kondisi keluarga menuntut demikian. Makna qawwam yang bersifat fungsional mencakup pemeliharaan, perhatian, pembinaan, dan perlindungan, bukan sekadar pemberian materi memberikan makna legitimasi bagi suami yang menjalankan peran pengasuhan langsung di rumah. Seorang ayah rumahan yang secara aktif mengasuh anak dan mengelola rumah tangga sejatinya tetap menjalankan fungsi qiwamah-nya. Lebih jauh, pandangan Mazhab Syafi'i yang mewajibkan ibu untuk menutupi kekurangan nafkah ayah menegaskan bahwa Islam telah mengakui tanggung jawab nafkah sebagai tanggung jawab bersama yang bersifat saling melengkapi (ta'awun), bukan tanggung jawab tunggal yang kaku. Dengan demikian, fenomena stay-at-home dad yang dilandasi kesepakatan bersama, kerelaan kedua pihak, dan orientasi pada kemaslahatan keluarga bukanlah penyimpangan dari nilai-nilai Islam, melainkan bagian integral dari sistem tanggung jawab keluarga yang fleksibel dan berkeadilan.
Takhrij Hadis Tentang Anjuran Memilih Pasangan Karena Agamanya Mita Azzalia Nurunnajwa
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.1138

Abstract

Memilih pasangan berdasarkan kualitas keagamaan merupakan salah satu ajaran pokok dalam Islam, namun pada praktiknya banyak orang masih mengutamakan harta, keturunan, atau kecantikan fisik dalam menentukan calon pasangan hidup. Penelitian ini mengkaji hadis yang menganjurkan pemilihan pasangan karena agamanya melalui metode takhrij hadis, yaitu penelusuran dan pengujian keabsahan sumber hadis. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan studi pustaka, teks (matan) dan mata rantai periwayatan (sanad) hadis ditelusuri melalui kitab-kitab hadis induk (al-kutub al-sittah) dengan bantuan basis data digital Maktabah Syamilah, dengan fokus pada riwayat yang tercatat dalam Shahih Muslim nomor 1466. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis ini juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 5090), Sunan Abu Dawud (no. 2047), dan Sunan an-Nasa’i (no. 3230), di antara sumber-sumber lain, serta berstatus muttafaq ‘alaih. Pengkajian biografis dan kritis (jarh wa ta’dil) terhadap sembilan perawi dalam jalur Shahih Muslim menunjukkan bahwa sanad hadis ini bersambung (muttashil), para perawinya bersifat adil dan dhabit (tsiqah), dengan satu catatan minor pada Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi, serta matan yang bebas dari kejanggalan (syadz) maupun cacat tersembunyi (‘illat). Hadis ini dengan demikian dinyatakan shahih dan maqbul, sehingga menegaskan bahwa keagamaan seharusnya menjadi kriteria utama dalam memilih pasangan hidup.
Reimajinasi Pendidikan Karakter Islam untuk Memperkuat Kohesi Sosial di Masyarakat hendrawadi
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Juli 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i3.1139

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model konseptual reimajinasi pendidikan karakter Islam sebagai paradigma penguatan kohesi sosial di masyarakat multikultural. Penelitian dilatarbelakangi oleh meningkatnya tantangan sosial berupa polarisasi, intoleransi, dan melemahnya kohesi sosial yang menunjukkan perlunya rekonstruksi paradigma pendidikan karakter Islam agar lebih adaptif terhadap dinamika masyarakat yang plural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research. Data diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap artikel ilmiah internasional dan nasional, buku teori utama, dokumen kebijakan, serta literatur pendukung yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan content analysis melalui tahapan pengumpulan literatur, seleksi sumber, kategorisasi tema, analisis kritis, sintesis konsep, dan penyusunan model konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reimajinasi pendidikan karakter Islam perlu dibangun melalui integrasi nilai-nilai tauhid, rahmatan lil ‘alamin, pendidikan multikultural, dan kohesi sosial dalam satu kerangka pendidikan yang holistik. Model konseptual yang dihasilkan menempatkan nilai toleransi, keadilan, empati, dialog, dan partisipasi sosial sebagai komponen utama dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa pengembangan paradigma pendidikan karakter Islam yang berorientasi pada penguatan kohesi sosial serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, dan kebijakan pendidikan Islam yang lebih responsif terhadap keberagaman masyarakat multikultural.
Integration of Ethnochemical Principles in the Preservation of Indonesian Batik Based on Tafsir Al-Maraghi Irfan Maulana Rohmatulloh; Mochammad Taufiq Ridho
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i2.1141

Abstract

This study aims to examine the integration of ethnochemistry principles into the preservation of Indonesian batik through the perspective of Tafsir Al-Maraghi. This research employed a qualitative approach using a literature review by analyzing various scholarly sources related to ethnochemistry, the batik-making process, and the interpretation of relevant Qur'anic verses. The findings indicate that the batik production process, particularly the waxing, dyeing, and wastewater treatment stages, embodies chemical concepts embedded in local community knowledge, representing the practical application of ethnochemistry. Furthermore, the analysis of Tafsir Al-Maraghi reveals that batik symbolizes personal adornment, as reflected in Qur'an Surah Al-A'raf (7):31, while the diversity of colors found in batik corresponds to the meaning of Surah Fatir (35):27, which emphasizes the diversity of Allah's creations as a manifestation of His greatness. Therefore, batik serves not only as a cultural heritage but also as a culturally responsive medium for science education and a means of strengthening Islamic values within society.
Revitalisasi Istiqomah Era 5.0 Sebagai Penyeimbang Desakralisasi Ilmu Pengetahuan: (Analisis QS. Fushshilat: 30 Perspektif Fakhr ad-Din ar-Razi) Ramlan Rozali; Komarudin Sassi
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Januari 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.1142

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan pada era Society 5.0 telah mendorong kemajuan teknologi yang signifikan, tetapi juga memunculkan fenomena desakralisasi ilmu pengetahuan akibat semakin terpisahnya ilmu dari nilai-nilai transendental. Kondisi ini menuntut hadirnya paradigma epistemologis yang mampu mengintegrasikan wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan secara harmonis. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep istiqamah dalam QS. Fushshilat ayat 30 berdasarkan perspektif Fakhr ad-Din al-Razi serta mengkaji relevansinya sebagai penyeimbang desakralisasi ilmu pengetahuan pada era Society 5.0. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data primer berupa QS. Fushshilat ayat 30 dan Mafātīḥ al-Ghayb karya Fakhr ad-Din al-Razi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui content analysis dengan pendekatan deskriptif-analitis dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Fakhr ad-Din al-Razi, istiqamah tidak hanya bermakna keteguhan dalam keimanan, tetapi juga mencerminkan konsistensi dalam menyelaraskan wahyu, rasionalitas, dan tindakan etis. Perspektif tersebut menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana memperoleh kebenaran sekaligus membangun tanggung jawab moral dan spiritual. Revitalisasi istiqamah menawarkan paradigma integratif yang mampu mengembalikan orientasi ilmu kepada nilai-nilai tauhid, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya berorientasi pada inovasi dan kemajuan material, tetapi juga pada keadilan, kemaslahatan, dan kesejahteraan manusia. Temuan ini menegaskan bahwa konsep istiqamah memiliki relevansi konseptual dalam membangun paradigma keilmuan Islam yang holistik untuk menjawab tantangan desakralisasi ilmu pengetahuan pada era Society 5.0.