cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Pengaruh edukasi dengan video animasi getar “gempa tanggap dan responsif” terhadap pengetahuan kesiapsiagaan gempa bumi pada siswa Nurfalahi, Salma Cinta; Sutrisno; Putra, Fajar Alam
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1192

Abstract

Background: Indonesia is a country with a high risk of natural disasters, particularly earthquakes and volcanic eruptions, due to its location at the confluence of three active tectonic plates: the Indo-Australian, Eurasian, and Pacific. Earthquakes are among the most destructive disasters in the world. Lack of public knowledge about disaster preparedness, including in schools, is a factor that increases disaster risk. One way to increase students' knowledge about disaster preparedness is through engaging learning media such as animated videos. Purpose: To increase students' knowledge of earthquake preparedness through educational media using animated videos. Method: This activity was conducted on April 17, 2025, at Gentungan 1 State Elementary School (SDN), Mojogedang, Karanganyar Regency. A quantitative approach was used with a pre-experimental research method. The population in this study were 105 students in grades 3, 4, 5, and 6 of SDN 1 Gentungan, Karanganyar. The sample size was 52 respondents. The variable of knowledge of earthquake disaster preparedness. The intervention activity is education on knowledge of earthquake preparedness using animated video media. Results: The average age of respondents was 10.67 years with a standard deviation of 1.08 years, with the majority of respondents aged 9-12 years (15 (28.9%) being under 12 years old. The majority were female (32 (61.5%), and the majority were sixth-grade students (16 (30.7%). The pre-test knowledge level was in the very good category (4 (7.7%), and the post-test knowledge level was in the very good category (22 (42.3%). Conclusion: Educational activities on earthquake disaster preparedness through visual and audio-based learning significantly improved student understanding. Animated video media not only provided information but also presented it in an engaging, simple, and easy-to-understand manner. Keywords: Animated video; Disaster preparedness; Elementary school students; Knowledge Pendahuluan: Indonesia adalah negara dengan risiko bencana alam yang tingggi, terutama gempa bumi dan letusan gunung berapi, keran lokasinya dipertemuan tiga lempeng tektonik aktif yaitu indo-australia, Eurasia. Dan pasifik, Gempa bumi termasuk bencana paling merusak di dunia. Kurangnya pengetahuan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah, dalam menghadapi bencana alam menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan bencana adalah melalui media pembelajaran menarik seperti video animasi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam kesiapsiagaaan terhadap gempa bumi berupa edukasi dengan media video animasi. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17 April 2025 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentungan 1 Mojogedang Kabupaten Karanganyar. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian pre-ekspremental. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 3, 4, 5, dan 6 SDN 1 Gentungan Karanganyar yang berjumlah sebanyak 105 siswa. Sampel yang digunakan 52 responden. Variabel pengetahuan kesiapsiagaan bencana gempa bumi.Kegiatan intervensinya adalah edukasi pengetahuan kesiapsiagaan gempa bumi dengan media video animasi. Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 10.67 tahun dengan standar deviasi 1.08 tahun dalam rentang usia 9-12 tahun dan sebagian besar usia responden adalah 12 tahun sebanyak 15 (28.9%), Mayoritas jenis kelamin perempuan sebanyak 32 (61.5% dan sebagian besar siswa kelas 6 sebanyak 16 (30.7%). Sedangkan tingkat pengetahuan (pre-test) kategori sangat baik sebanyak 4 (7.7%) dan tingkat pengetahuan (post-test) kategori sangat baik sebanyak 22 (42.3%) Simpulan: Kegiatan edukasi pengetahuan kesiapsiagaan bencana gempa bumi melalui pembelajaraan berbasis visual dan audio mampu meningkatkan pemahaman peserta didik secara signifikan, media video animasi tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menyajikannya dengan cara yang menarik, sederhana dan mudah untuk diterima.
Pengetahuan penderita hipertensi tentang gaya hidup sehat di Rumah Sakit Bidadari Nasution, Zulkarnain; Saragih, Rosita; Tampubolon, Prety Lestasri; Nasution, Bayu Safrizal
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1227

Abstract

Background: Hypertension is often referred to as a terrifying disease because it is considered a silent killer or a hidden disease. Many people do not experience symptoms and therefore are unaware of their elevated blood pressure after being examined at a health facility. The number of people with hypertension continues to increase annually. In 2013, the figure was 25.8%, increasing to 34.1% in 2018, with the majority occurring in people aged 50 to 69 years. Purpose: To assess and describe the level of knowledge of hypertension sufferers about a healthy lifestyle. Method: This descriptive study was conducted at Bidadari Hospital in Binjai, involving 360 people with hypertension as the population, with an average of 31 patients per month. Using an accidental sampling technique, 30 respondents were selected. Data collection was conducted directly using a questionnaire containing questions related to hypertension and lifestyle. Results: Data obtained showed that the average age of respondents was 65.33 years with a standard deviation of 8.87 years, ranging from 45 to 78 years. The majority of respondents were 60-70 years old (12 respondents) (40.0%). The majority of respondents had a high school education (15 respondents) (50.0%), and the majority of respondents were farmers (15 respondents) (50.0%). Meanwhile, the majority of respondents' knowledge about hypertension and a healthy lifestyle was in the poor category (15 respondents) (50.0%). Conclusion: The level of knowledge of hypertension sufferers about a healthy lifestyle is categorized as poor. Appropriate and accessible educational activities are essential to increase the knowledge of hypertension sufferers about the importance of a healthy lifestyle. Suggestion: Continuous health promotion is important for both patients and the community, including primary, tertiary, and secondary prevention efforts, disseminated through hospital media, so that patients and their families can easily access information related to hypertension prevention and treatment. Keywords: Hypertension sufferers; Level of knowledge; Lifestyle Pendahuluan: Penyakit hipertensi sering disebut besar orang sebagai penyakit yang mengerikan karena hipertensi merupakan pembunuh diam-diam atau penyakit tersembunyi sebab banyak orang tidak merasakan keluhan sehingga tidak menyadari bahwa terjadi peningkatan tekanan darah setelah dilakukan pemeriksaan di fasilitas kehatan. Setiap tahunnya penderita hipertensi semakin meningkat. pada tahun 2013 berada pada angka 25.8% mengalami peningkatan di tahun 2018 sebesar 34.1% mayoritas terjadi pada usia 50 hingga 69 tahun.  Tujuan: Untuk melihat dan menggambarkan tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang gaya hidup sehat. Metode: Penelitian deskriptif ini dilaksanakan di RS Bidadari Binjai dengan melibatkan seluruh penderita hipertensi sebanyak 360 orang sebagai populasi, dengan rata-rata 31 pasien per bulan. Dengan menggunakan teknik accidental sampling mendapatkan 30 orang menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan secara langsung menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan terkait hipertensi dan gaya hidup. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 65.33 tahun dengan standar deviasi 8.87 tahun dalam rentang usia 45 – 78 tahun dan sebagian besar usia responden adalah 60-70 tahun yaitu sebanyak 12 orang (40.0%), tingkat pendidikan responden mayoritas SMA sebanyak 15 orang (50.0%), dan sebagian besar status pekerjaan responden adalah sebagai petani sebanyak 15 orang (50.0%). Sedangkan mayoritas tingkat pengetahuan responden tentang hipertensi dan gaya hidup sehat adalah dalam kategori kurang yaitu sebanyak 15 orang (50.0%). Simpulan: Tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang gaya hidup yang sehat tergolong dalam kategori kurang. Sangat diperlukan adanya kegiatan edukasi yang sesuai dan mudah diterima sehingga dapat meningkatkan pengetahuan para penderita hipertensi tentang pentingnya pola gaya hidup yang sehat. Saran: Pelaksanaan promosi kesehatan penting dilakukan secara terus menerus baik kepada penderita maupun masyarakat apakah itu upaya pencegahan primer, tersier dan sekunder yang disebarluaskan melalui media yang ada di RS, sehingga pasien dan keluarga dengan mudah memperoleh informasi terkait pencegahan dan pengobatan hipertensi.
Gambaran potensi bahaya menggunakan metode (HIRADC) pada proyek pembangunan jembatan tahap struktur bawah Vindiani, Vina; Purnomo, Imam; Maulana, Jaya; Wahyuningsih, Wahyuningsih
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1263

Abstract

Background: Construction projects have varying levels of risk, ranging from low to high. This demonstrates the importance of understanding and implementing occupational health and safety (K3) to minimize potential risks. Companies engaged in construction services face varying levels of potential hazards and risks in each type of work, particularly in the substructure phase, which involves activities such as piling, excavation, casting, and welding. Purpose: To provide an overview of potential hazards using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) method for bridge construction projects. Method: Descriptive, observational, and qualitative methods. Data collected consisted of primary data obtained through direct field observation using HIRADC worksheets and interviews with the HSE team and daily workers, as well as secondary data from internal company documents and related literature. Observations included identifying the types of work activities in the workplace, determining the location, and conducting a risk assessment based on an identification table. The HIRADC worksheet is used as a process for describing hazard sources in detail, including activities, hazards, risks, impact and probability figures, risk level scores, bands, risk rankings and control actions that will be recommended for improvement (action) so as to minimize potential hazards. Result: The bridge construction project has 6 types of work with 2 areas, namely the west side work area and the east side work area. The six types of work include spun pile driving work using a diesel hammer, spun pile connection work (welding), excavation work, spun pile cutting work with a grinder, and H-Beam breaching installation work, and foundation concreting work. From the 6 types of work, 29 potential hazards were found which were classified into 13 high risks, 11 medium risks, and 5 low risks. There are 2 hazards with high risks, namely physical hazards, namely noise with a score of 9, which comes from spun pile driving activities using a diesel hammer which can cause hearing loss. The next high-risk hazard is an environmental hazard, namely extreme hot weather during spun pile driving activities with a score of 8 which can cause dehydration and fainting. And the next high-risk hazard comes from physical hazards, namely radiation from spun pile connection activities (welding) which can cause eye damage. It is necessary to implement appropriate risk controls, including technical and administrative engineering and the use of personal protective equipment (PPE), to minimize the impact of hazards on occupational safety and health in the project environment. Conclusion: Each type of work in the substructure bridge construction phase has different potential hazards. Of the six types of work analyzed, 29 potential hazards were identified, including three high-risk hazards: noise hazards, environmental hazards, and radiation hazards. The most predominant high-risk hazards originate from spun pile driving and spun pile connection activities. Therefore, appropriate risk control measures, including engineering, administrative, and personal protective equipment (PPE), are required to minimize the impact of hazards on occupational safety and health within the project environment. Overall, comprehensive control measures based on the hierarchy of controls (elimination, substitution, engineering, administrative, and PPE) must be implemented to reduce risk levels, improve occupational safety, and support safe and efficient project implementation. Suggestion: Future research is recommended to quantitatively measure the effectiveness of each control (engineering, administrative, and PPE) in reducing accident risk. Tools such as noise, vibration, gas detectors, and lighting are also recommended to provide objective data on hazard levels in the field. Keywords: Construction work; HIRADC; Potential hazards; Work activity risks Pendahuluan: Pembangunan konstruksi memiliki tingkat risiko dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pembangunan konstruksi perlu pemahaman dan penerapan K3 untuk meminimalisir risiko yang akan terjadi. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dalam mengerjakan proyek memiliki potensi bahaya dan tingkat risiko di setiap jenis pekerjaan yang berbeda-beda. Terutama pada tahap struktur bawah yang melibatkan aktivitas seperti pemancangan, penggalian, pengecoran, dan pengelasan. Tujuan: Untuk memberikan gambaran potensi bahaya menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) pada proyek pembangunan jembatan. Metode: Deskriptif observasional dengan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer, yang diperoleh melalui observasi langsung di lapangan menggunakan lembar kerja HIRADC dan wawancara dengan tim HSE serta pekerja harian, serta data sekunder yang berasal dari dokumen internal perusahaan dan literatur terkait. Kegiatan observasi dengan melakukan identifikasi jenis kegiatan pekerjaan di tempat kerja, yaitu dengan menentukan tempat atau lokasi dan melakukan penilaian risiko berdasarkan tabel identifikasi. HIRADC worksheet yang digunakan sebagai proses penjabaran sumber bahaya secara terperinci meliputi aktivitas, bahaya, risiko, angka dampak dan probabilitas, skor level risiko, bands, ranking risiko dan tindakan pengendalian yang akan direkomendasikan untuk perbaikan (action) sehingga dapat meminimalisir potensi bahaya. Hasil: Proyek pembangunan jembatan memiliki 6 jenis pekerjaan dengan 2 area yaitu area kerja sisi barat dan area kerja sisi timur. Enam jenis pekerjaan di antaranya adalah pekerjaan pemancangan spun pile menggunakan diesel hammer, pekerjaan penyambungan spun pile (welding), pekerjaan penggalian, pekerjaan pemotongan spun pile dengan gerinda, dan pekerjaan pemasangan breaching H-Beam, dan pekerjaan pengecoran (concreating) pondasi. Dari 6 jenis pekerjaan tersebut didapati 29 potensi bahaya yang diklasifikasikan ke dalam 13 risiko tinggi, 11 risiko sedang, dan 5 risiko rendah. Terdapat 2 bahaya dengan risiko tinggi adalah bahaya fisik yaitu kebisingan dengan skor 9 yaitu berasal dari aktivitas pemancangan spun pile menggunakan diesel hammer yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Bahaya dengan high risk selanjutnya adalah bahaya lingkungan yaitu cuaca panas yang ekstrim pada saat aktivitas pemancangan spun pile dengan skor 8 yang dapat menyebabkan dehidrasi dan pingsan. Dan bahaya dengan risiko tinggi selanjutnya berasal dari bahaya fisik yaitu radiasi dari aktivitas penyambungan spun pile (pengelasan) yang dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Diperlukan penerapan pengendalian risiko yang tepat, termasuk rekayasa teknis, administratif, dan penggunaan alat pelindung diri (APD), guna meminimalkan dampak bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan proyek. Simpulan: Setiap jenis pekerjaan pada pembangunan jembatan tahapan struktur bawah memiliki potensi bahaya yang berbeda-beda. Dari enam jenis pekerjaan yang dianalisis, ditemukan 29 potensi bahaya terdapat 3 jenis bahaya dengan risiko tinggi yaitu bahaya kebisingan, bahaya lingkungan, dan bahaya radiasi. Bahaya dengan risiko tinggi paling dominan berasal dari aktivitas pemancangan spun pile dan penyambungan spun pile. Diperlukan penerapan pengendalian risiko yang tepat, termasuk rekayasa teknis, administratif, dan penggunaan APD, guna meminimalkan dampak bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan proyek. Secara keseluruhan, perlu penerapan untuk pengendalian berdasarkan hierarki pengendalian (eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, administratif, dan APD) harus diterapkan secara komprehensif guna menurunkan tingkat risiko, meningkatkan keselamatan kerja, dan mendukung pelaksanaan proyek secara aman dan efisien. Saran: Penelitian mendatang disarankan untuk mengukur secara kuantitatif efektivitas masing-masing kontrol (engineering, administrative, PPE) dalam menurunkan risiko kecelakaan. Serta disarankan menggunakan alat seperti untuk mengukur tingkat kebisingan, getaran, gas detector, dan pencahayaan untuk memberikan data yang objektif terhadap tingkat bahaya di lapangan
Sosialisasi SADARI sebagai strategi efektif membangun ketahanan kesehatan reproduksi Holida, Siti Solihat; Yusdian, Yudi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1265

Abstract

Background: Pest control with pesticides effectively increases agricultural yields, but exposure to synthetic compounds such as organophosphates carries the risk of neurological damage, reproductive disorders, and carcinogenesis, including increased incidence of breast cancer. Students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, are vulnerable to exposure during field practice, while their knowledge of early breast cancer detection remains low. The Breast Self-Examination (SADARI) education program is proposed as a low-cost and practical preventive measure to increase awareness and early detection skills. This initiative supports students' role as agents of change in strengthening the health of rural communities. Purpose: To increase knowledge and awareness among students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, regarding reproductive health and SADARI as an early detection method for breast cancer. Method: The type of activity carried out was health education to the community with the theme "Socialization of BSE and Clinical Breast Examination: An Effective Strategy to Build Reproductive Health Resilience in Agricultural Students." The target of this activity was 23 third-semester students, who were of productive age and vulnerable to various reproductive health risks. The first activity was held on Saturday, March 23, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. at the Faculty of Agriculture Experimental Garden, in the form of demonstrations and direct practice by participants, such as breast self-examination (BSE) simulations, which are an important part in developing participants' practical skills. The second activity was held on Monday, April 1, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. in the classroom, participants were given educational materials regarding reproductive health, breast cancer risk factors, and steps to perform BSE correctly, which were delivered through presentations, educational videos, and interactive discussions to explore participants' understanding and provide a question and answer space. Results: The pre-test showed that 7 (30.4%) respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was in the good category, 12 (52.2%), and 4 (17.4%) were in the poor category. Meanwhile, the post-test respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was all in the good category, at 23 (100.0%). Conclusion: The community service activity themed Breast Self-Examination (SADARI) education and outreach for agricultural students was implemented smoothly and successfully increased participants' knowledge, awareness, and skills in maintaining reproductive health and conducting early breast cancer detection. Through a combination of theoretical counseling and direct practice, students gained conceptual understanding and practical experience as health education agents in the community, particularly in rural areas. Suggestion: It is hoped that this activity will be carried out continuously by participants, thereby encouraging independent SADARI practice and disseminating information and correct health practices in rural areas and the agricultural sector, which will be the participants' primary service areas, as a form of preventive behavior in maintaining reproductive health. Keywords: Breast cancer prevention; Pesticide exposure; Reproductive health; SADARI method Pendahuluan: Pengendalian hama dengan pestisida efektif meningkatkan hasil pertanian, namun paparan senyawa sintetik seperti organofosfat berisiko memicu kerusakan neurologis, gangguan reproduksi, dan karsinogenesis, termasuk meningkatnya insiden kanker payudara. Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bale Bandung rentan terpapar saat praktik lapangan, sementara pengetahuan deteksi dini kanker payudara di kalangan mereka masih rendah. Program edukasi mandiri SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) diusulkan sebagai langkah preventif murah dan praktis untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan deteksi dini. Inisiatif ini mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam memperkuat kesehatan masyarakat pedesaan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Mahasiswa fakultas pertanian Universitas Bale Bandung  tentang kesehatan reproduksi dan SADARI sebagai upaya deteksi dini terhadap kanker payudara. Metode: Jenis kegiatan yang dilaksanakan berupa pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan mengusung tema “Sosialisasi SADARI dan Pemeriksaan Klinis Payudara: Strategi Efektif Membangun Ketahanan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Pertanian.” Sasaran kegiatan ini adalah 23 mahasiswa semester III, yang berada pada usia produktif dan rentan terhadap berbagai risiko kesehatan reproduksi. Kegiatan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 23 Maret 2024, mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, berupa demonstrasi dan praktik langsung oleh peserta, seperti simulasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), yang menjadi bagian penting dalam membentuk keterampilan praktis peserta. Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 1 April 2024, pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di ruang kelas, peserta diberikan materi edukatif mengenai kesehatan reproduksi, faktor risiko kanker payudara, serta langkah-langkah melakukan SADARI dengan benar, yang disampaikan melalui presentasi, video edukatif, dan diskusi interaktif untuk menggali pemahaman peserta serta memberikan ruang tanya jawab. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara pre-test dalam kategori baik sebanyak 7 (30.4%), kategori cukup sebanyak 12 (52.2%), dan kategori kurang sebanyak 4 (17.4%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara post-test semuanya dalam kategori baik yaitu sebanyak 23 (100.0%). Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat bertema edukasi dan sosialisasi SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) bagi mahasiswa pertanian telah terlaksana dengan lancar dan berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan peserta dalam menjaga kesehatan reproduksi serta melakukan deteksi dini kanker payudara. Melalui kombinasi penyuluhan teori dan praktik langsung, mahasiswa memperoleh pemahaman konseptual sekaligus pengalaman aplikatif sebagai agen edukasi kesehatan di masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Saran: Diharapkan kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan oleh peserta, sehingga dapat mendorong praktik SADARI secara mandiri dan menyebarluaskan informasi serta praktik kesehatan yang benar di lingkungan pedesaan dan sektor pertanian yang menjadi wilayah pengabdian utama peserta kelak, sebagai bentuk perilaku preventif dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Posyandu dalam era transformasi integrasi layanan primer dan intervensinya Kusrini, Agatha Ratri Rini; Natalio, Rahmat; Sinaga, Evi Susanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1310

Abstract

Background: Lifecycle-based health services are a strategic approach to primary care transformation in Indonesia, positioning the Integrated Health Post (Posyandu) as a crucial community-based service. However, the implementation of Posyandu still faces various obstacles, such as a lack of trained cadres, suboptimal health education, and limited educational facilities and media, particularly in reaching target groups. Purpose: To evaluate the implementation of integrated Posyandu and to increase the capacity of cadres through outreach and the development of educational media. Method: This community service activity was conducted in Kebon Baru Village in January 2025. Eight participants participated. The first stage involved identifying Posyandus based on the lifecycle, encompassing a systems approach, evaluating input, process, and output aspects, and observing the service process directly at the Posyandu. The second stage involved providing education and developing educational media to enhance cadre knowledge and facilitate knowledge transformation. Results: Data obtained showed that the level of knowledge of cadres before the outreach activity was categorized as good (4%, 50%) and poor (4%, 50%). Meanwhile, the level of knowledge after being given extension activities was in the good category as many as 7 (87.5%) and in the less category as many as 1 (12.5%). Conclusion: Integrated health post (Posyandu) activities have implemented life cycle or integrated services, which, based on the identification results, are actively running and have been awarded the "Purnama Posyandu" status. Community service activities, including providing counseling and creating educational media, have helped improve cadre knowledge and optimize their role in providing education to the community at the Posyandu and during home visits. Suggestion: Training is recommended for each cadre to ensure equitable knowledge and skills, so that life cycle-based Posyandus will provide increasingly optimal services, particularly health services, to the community. Keywords: Counseling; Health cadres; Integration of primary services; Integrated Service Post Pendahuluan: Pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup merupakan pendekatan strategis dalam transformasi layanan primer di Indonesia, yang menempatkan Posyandu sebagai layanan berbasis masyarakat yang penting. Namun, pelaksanaan Posyandu masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya kader terlatih, belum optimalnya edukasi kesehatan, serta keterbatasan sarana dan media edukasi, terutama dalam menjangkau kelompok sasaran. Tujuan: Untuk mengevaluasi pelaksanaan posyandu terintegrasi dan meningkatkan kapasitas kader melalui penyuluhan serta pengembangan media edukasi. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Kebon Baru pada bulan Januari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 8 peserta. Pada tahapan pertama melakukan identifikasi posyandu berdasarkan siklus hidup meliputi pendekatan sistem yakni mengevaluasi dari aspek input, proses, dan output serta kegiatan observasi dengan memantau secara langsung proses pelayanan di Posyandu. Selanjutnya untuk tahapan kedua adalah memberikan edukasi dan pembuatan media edukasi untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam melakukan transformasi pengetahuan. Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan kader sebelum diberikan kegiatan penyuluhan yang dalam kategori baik sebanyak 4 (50.0%) dan kategori kurang sebanyak 4 (50.0%). Sedangkan tingkat pengetahuan setelah diberikan kegiatan penyuluhan yang dalam kategori baik sebanyak 7 (87.5%) dan dalam kategori kurang 1 (12.5%). Simpulan: Kegiatan posyandu sudah menjalankan layanan siklus hidup atau terintegrasi yang berdasarkan hasil identifikasi sudah berjalan aktif dan telah mendapat strata posyandu purnama. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui pemberian penyuluhan dan pembuatan media edukasi telah membantu meningkatkan pengetahuan kader dan mengoptimalkan peran kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat di posyandu maupun saat kunjungan rumah. Saran: Diharapkan untuk memberikan pelatihan kepada setiap kader sebagai upaya kesetaraan pengetahuan dan ketrampilan sehingga posyandu berbasis siklus hidup akan memberikan pelayanan yang semakin optimal khususnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Peran kader dalam skrining balita sebagai upaya akselerasi penurunan stunting di Desa Karanganyar Kabupaten Pekalongan Rahma, Sarah Aulia; Priharwanti, Ardiana; Irawan, Teguh; Yuniarti, Yuniarti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1290

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that has long-term impacts on child growth and development and the future quality of human resources. Karanganyar Village in Pekalongan Regency is recorded as one of the areas with the highest prevalence of stunting, thus requiring the active role of Posyandu cadres in toddler screening activities to detect and address stunting early. Purpose: To identify the role of Posyandu cadres in toddler stunting screening activities as part of efforts to accelerate stunting reduction. Method: This study used a descriptive qualitative method with data collection techniques including in-depth interviews, participant observation, and documentation. Informants consisted of 5 active cadres as primary informants, 2 health workers as supporting informants, and 10 mothers of toddlers as triangulation informants. Sampling techniques used purposive and accidental sampling. Results: Integrated Health Service Post (Posyandu) cadres play a role in basic health services, early detection of nutritional disorders, and recording and reporting toddler growth data. Despite obstacles such as limited measuring instruments, minimal training, and a lack of incentives, cadres continue to demonstrate a high level of commitment to their duties. Conclusion: The role of cadres in toddler stunting screening activities significantly impacts the success of stunting reduction programs. However, this success requires ongoing training, logistical support, and an adequate incentive system. Suggestion:  The role of cadres is needed through policies that provide technical, structural, and social support so they can optimally and sustainably carry out their functions in stunting prevention efforts. Keywords: Posyandu cadres; Stunting; Toddler screening Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dan masa depan kualitas sumber daya manusia. Desa Karanganyar di Kabupaten Pekalongan tercatat sebagai salah satu wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi, sehingga diperlukan peran aktif dari kader Posyandu dalam kegiatan skrining balita untuk mendeteksi dan menanggulangi stunting sejak dini. Tujuan: Untuk mengidentifikasi peran kader Posyandu dalam kegiatan skrining balita stunting sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 5 kader aktif sebagai informan utama, 2 petugas kesehatan sebagai informan pendukung, dan 10 ibu balita sebagai informan triangulatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan accidental sampling. Hasil: Kader Posyandu menjalankan peran dalam pelayanan kesehatan dasar, deteksi dini gangguan gizi, serta pencatatan dan pelaporan data pertumbuhan balita. Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan alat ukur, minimnya pelatihan, dan kurangnya insentif, kader tetap menunjukkan komitmen tinggi dalam menjalankan tugasnya. Simpulan: Peran kader dalam kegiatan skrining balita stunting memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan program penurunan stunting. Namun, keberhasilan ini perlu ditunjang oleh pelatihan berkelanjutan, dukungan logistik, dan sistem insentif yang memadai. Saran: Diperlukan penguatan peran kader melalui kebijakan yang mendukung secara teknis, struktural, dan sosial agar mereka dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan stunting.
Sebaran kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Batang 2: Spatial analysis Febrymellinia, Karine Laurenza Aulia; Indriyani, Yulis; Irawan, Teguh
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1303

Abstract

Background: Diarrhea is a disease characterized by more frequent bowel movements than usual, with looser or more watery stools. Generally, diarrhea is a symptom of an infection in the intestinal tract, which can be caused by bacteria, parasites, or viruses. The incidence of diarrhea worldwide reaches nearly 1.7 billion children each year. This disease is the third leading cause of death in children aged 1-59 months, with approximately 443,832 deaths annually in children under 5 years of age and 50,851 deaths in children aged 5-9 years. In addition to being a cause of death in children, diarrhea is also a major factor in malnutrition in children under 5 years of age worldwide. Purpose:To determine the distribution of diarrheal cases in the Batang 2 Community Health Center work area. Method: This ecological study involved spatial analysis. Data on 506 diarrhea cases were collected, comprising 159 toddlers and 347 children over 6 years of age. Subjects were individuals with diarrhea at the Batang 2 Community Health Center. The data source was secondary data. Variables included age, gender, location, month of diarrhea occurrence, toilet ownership, and water source. The data collection technique used was document analysis, which included data on diarrhea cases at the Batang 2 Community Health Center. The data was then processed using QGIS 3.38, the Quantum Geographic Information System. Results: Data on diarrhea cases in the Batang 2 Community Health Center's work area during 2024 reached 506 cases. The majority were in North Karangasem Village, with 172-214 cases. The distribution of diarrhea cases was mostly in women, namely 282 (55.7%), and most occurred in the age group ≥6 years, namely 347 (68.6%). Meanwhile, based on the time period of the month of the incident, the highest diarrhea incident data occurred in December with 66 cases and the lowest diarrhea incident occurred in April with 21 cases. Conclusion: The incidence of diarrhea at Batang 2 Community Health Center in 2024 was 506. The highest potential for diarrhea cases occurred in December 2024, and the area with the highest incidence was North Karangasem Village. Environmental protection and healthy lifestyle behaviors are the most important factors influencing diarrhea incidence. Suggestion: Relevant parties are expected to conduct regular and periodic education for communities living in densely populated areas about the importance of environmental sanitation and a healthy lifestyle in preventing diarrhea cases from continuing. Keywords: Diarrhea incidence, Distribution of diarrhea cases, Quantum geographic information system Pendahuluan: Diare merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan frekuensi buang air besar lebih sering dari biasanya dengan bentuk feses lebih encer ataupun cair. Pada umumnya penyakit diare merupakan suatu gejala infeksi yang terjadi di saluran usus, yang mana dapat diakibatkan oleh organisme bakteri, parasite, maupun virus. Kejadian diare didunia sendiri hampir mencapai 1.7 miliar pada anak disetiap tahunnya. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian menempati urutan ketiga pada anaak usia 1-59 bulan, dengan angka Kejadian diare kematian setiap tahunnya sekitar 443.832 pada kategori umur dibawah 5 tahun dan pada anak usia 5-9 tahun mencapai 50.851 kematian. Selain menjadi salah satu penyebab kematian pada anak, diare juga merupakan faktor utama penyebab terjadinya kekurangan gizi pada anak dibawah usia 5 tahun di dunia. Tujuan: Untuk mengetahui sebaran kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Batang 2. Metode: Kegiatan penelitian studi ekologi, dengan analisis spasial. Dengan data jumlah kejadian diare sebesar 506 kasus yang terdiri dari 159 kelompok balita dan 347 kelompok usia diatas 6 tahun. Subjek yang diteliti ialah orang dengan kejadian diare di Puskesmas Batang 2. Sumber data pada penelitian ini yaitu data sekunder. Variabel yang digunakan mencakup usia, jenis kelamin, tempat, bulan menurut kejadian diare. kepemilikan jamban, serta sumber air. Untuk teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan dokumen, yang mana dokumen berupa data kejadian diare yang ada di Puskesmas Batang 2. Kemudian, data yang telah didapat diolah menggunakan aplikasi QGIS 3.38 atau Quantum Geographic Information System. Hasil: Menunjukkan bahwa data kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Batang 2 selama tahun 2024 mencapai 506 kasus. Sebagian besar di Desa Karangasem Utara dengan jumlah kejadian diare sebanyak 172-214 kasus. sebaran kejadian diare sebagian besar adalah perempuan yaitu sebanyak 282 (55.7%) dan sebagian besar terjadi pada kelompok usia ≥6 tahun yaitu sebanyak 347 (68.6%). Sedangkan berdasarkan periode waktu bulan kejadian mendapatkan data kejadian diare tertinggi terjadi pada bulan Desember sebanyak 66 kasus dan kejadian diare terendah terjadi pada bulan April sebanyak 21 kasus. Simpulan: Kejadian diare di Puskesmas Batang 2 pada tahun 2024 sebanyak 506 kasus. Potensi tertinggi kejadian diare terjadi di bulan Desember 2024 dan wilayah yang mendapatkan kejadian diare terbanyak di Desa Karangasem Utara. Faktor menjaga lingkungan dan perilaku pola hidup sehat adalah yang paling menentukan terhadap kejadian diare. Saran: Diharapkan kepada pihak terkait untuk melakukan edukasi secara rutin dan berkala kepada masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang padat penduduk tentang pentingnya sanitasi lingkungan dan berpola hidup sehat dalam menanggulangi kejadian diare agar tidak berkelanjutan.
Peningkatan pengetahuan tentang pencegahan stroke dengan gaya hidup sehat di Desa Lamtimpeung Aceh Besar Humaira, Adintya; Baharuddin, Dharina; Fahdhienie, Farrah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1346

Abstract

Background: Stroke is a major public health problem. Globally, stroke is a serious problem, with morbidity and mortality rates higher than those of cardiovascular disease. Sudden stroke can cause physical and mental disability and death, both in productive and elderly individuals. Therefore, efforts are needed to reduce the incidence of stroke through the adoption of a healthy lifestyle, starting with a balanced diet, including plenty of vegetables, fresh fruit, low-fat protein, and fiber-rich foods that are beneficial for blood vessel health, and regular exercise. Purpose: To increase public understanding of stroke risk factors and prevention methods, and to encourage people to adopt healthy lifestyle behaviors to reduce stroke risk. Methods: The activity was conducted in Lamtimpeung Village, Aceh Besar, on July 1, 2025, from 8:30 a.m. to 11:30 a.m. WIB, with 30 participants. The activity used a one-group pre-test and post-test design to determine changes in participants' knowledge before and after the counseling session. The counseling session used posters and interactive discussions. Results: The average knowledge score of participants increased from 7.6 in the pre-test to 9.06 in the post-test, with a mean difference of -1.46. The p-value was 0.0000. The 95% CI for the pre-test ranged from 6.96 to 8.23, while for the post-test it ranged from 8.27 to 9.85, indicating a significant improvement after the counseling session. Conclusion: Counseling sessions using posters and an interactive approach have been shown to improve public understanding of stroke prevention through a healthy lifestyle and significantly increase knowledge about risk factors and prevention methods. This activity also creates a conducive atmosphere and encourages active involvement of participants in the health learning process. Sugesstion: Village officials, health workers, and related agencies can develop visual media-based outreach methods, such as posters and interactive discussions, as alternative ongoing education methods to increase public knowledge about stroke prevention through a healthy lifestyle. This approach can also be expanded to include simple digital platforms to reach a wider and more equitable audience. Keywords: Counseling; Healthy lifestyle; Poster media; Stroke Pendahuluan: Stroke menjadi salah satu masalah kesehatan utama bagi masyarakat. Hampir di seluruh dunia stroke menjadi masalah yang serius dengan angka morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kejadian penyakit kardiovaskuler. Serangan stroke yang mendadak dapat menyebabkan kecacatan fisik dan mental serta kematian, baik pada usia produktif maupun lanjut usia. Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi kejadian stroke melalui penerapan gaya hidup sehat, yang dimulai dengan mengkonsumsi gizi seimbang, seperti memperbanyak makan sayur, buah-buahan segar, protein rendah lemak, serta makanan kaya serat yang bermanfaat bagi kesehatan pembuluh darah, dan melakukan olahraga secara teratur. Tujuan: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang faktor risiko stroke dan cara pencegahannya serta mendorong masyarakat agar mampu menerapkan perilaku hidup sehat guna menurunkan risiko stroke. Metode: Kegiatan dilakukan di Desa Lamtimpeung, Aceh Besar, tanggal 1 Juli 2025, dimulai pukul 08.30 WIB hingga 11.30 WIB, dengan peserta sebanyak 30 orang. Kegiatan menggunakan desain one group pre-test & post-test untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.  Penyuluhan dilakukan dengan media poster dan diskusi interaktif. Hasil: Rata-rata skor pengetahuan peserta mengalami peningkatan dari 7,6 pada saat pre-test menjadi 9,06 pada post-test, dengan selisih rata-rata sebesar -1,46. Nilai p-value sebesar 0,0000. 95% CI  untuk pre-test berada pada kisaran 6,96 hingga 8,23, sementara untuk post-test berada pada 8,27 hingga 9,85, yang mengindikasikan adanya peningkatan yang signifikan setelah dilakukan penyuluhan. Simpulan: Penyuluhan dengan media poster dan pendekatan interaktif terbukti mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stroke melalui gaya hidup sehat, serta memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan mengenai faktor risiko dan cara pencegahannya. Kegiatan ini juga menciptakan suasana yang kondusif dan mendorong keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran kesehatan. Saran: Pihak desa, tenaga kesehatan, dan instansi terkait dapat mengembangkan metode penyuluhan berbasis media visual seperti poster dan diskusi interaktif sebagai alternatif edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stroke melalui gaya hidup sehat. Pendekatan ini juga dapat diperluas dengan melibatkan platform digital sederhana guna menjangkau masyarakat secara lebih luas dan merata.
Peningkatan kompetensi pengasuh lansia di Panti Werdha Aisyiyah Sumber Surakarta Sugiharto, Sugiharto; Kartinah, Kartinah; Kristinawati, Beti; Sulastri, Sulastri; Oktaviana, Wita; Fauzi, Ekan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1348

Abstract

Background: The elderly population in every country around the world is growing, both in number and proportion. It is estimated that by 2030, 1 in 6 people worldwide will be 60 years of age or older. Elderly people living in nursing homes require increased care. Therefore, caregivers in nursing homes must also possess competent knowledge and skills. This can be achieved through structured upgrading of caregivers. Purpose: To provide knowledge and skills to caregivers as an effort to improve their competence in providing elderly care. Method: This community service activity was conducted from May to August 2025 with 12 meetings every Thursday from 8:00 to 11:00 a.m. in the hall of the Aisyiyah Sumber Surakarta Nursing Home. This activity was attended by 18 nursing home managers, both administrative and caregivers. This community service activity was conducted by six lecturers as speakers, facilitated by 10 students. Using LCDs, PowerPoint presentations, and the e-KMS link (https://lansia.giescare.com), participants were educated through lectures, interactive participatory discussions, and demonstrations. The education provided includes basic concepts of the elderly, ICOPE and SKILAS, psychosocial examinations, functional examinations of the elderly, hypertension, diabetes mellitus, rheumatoid arthritis, urinary problems in the elderly, reproductive health in the elderly, psychosocial health in the elderly, emergencies in the elderly, and complementary therapy. Results: The activity went well and received a positive response from the participants. Participants were able to practice simulations with demonstrations of caregiving practices according to the educational instructions. There was a significant increase in the knowledge and skills of elderly caregivers, with an average knowledge score of 30% increasing from the pre-test (average score of 20) to an average score of 60 at the post-test. Caregivers' skills in communication, mobility, self-care, and identifying signs of health risks in the elderly improved. Conclusion: Improving the competence of elderly caregivers through education and training has proven effective in enhancing their knowledge and skills in providing quality healthcare. Systematically designed, comprehensive, interactive, and needs-based training can have a positive impact on the knowledge, skills, and attitudes of elderly caregivers. Suggestion: The implication of this community service program is the importance of continuous learning for elderly caregivers to stay up-to-date with developments in science and technology so they can provide comprehensive, standardized, and increasingly better services. Keywords: Elderly; Elderly caregiver; Integrated care for the elderly; Nursing home Pendahuluan:  Populasi lansia di setiap negara di dunia mengalami pertumbuhan, baik dalam jumlah maupun proporsinya. Diperkirakan pada tahun 2030, 1 dari 6 orang di dunia akan berusia 60 tahun ke atas. Lansia yang tinggal di panti memerlukan perhatian lebih. Oleh karena itu para pengasuh lansia di panti juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kompeten. Hal tersebut dapat diperoleh dengan melakukan upgrading bagi pengasuh lansia di panti secara terstruktur. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan ketrampilan pada pengasuh lansia sebagai upaya peningkatan kompetensi dalam melakukan perawatan lansia. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2025 dengan 12 kali pertemuan setiap hari Kamis pukul 08.00 sampai dengan 11.00 di aula Panti Werdha Aisyiyah Sumber Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 18 pengelola panti baik administrasi maupun pengasuh. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh 6 dosen sebagai pemateri difasilitasi oleh 10 mahasiswa. Dengan media LCD, PPT, dan link e-KMS (https://lansia.giescare.com), para peserta diberikan edukasi dengan metode  ceramah, diskusi interaktif partisipatif, dan demonstrasi. Edukasi yang diberikan meliputi tentang konsep dasar lansia, ICOPE dan SKILAS,  pemeriksaan psikososial, pemeriksaan fungsional lansia, hipertensi, diabetes mellitus, rematoid artritis, masalah perkemihan pada lansia, kesehatan reproduksi lansia, kesehatan psikososial pada lansia, kegawatdaruratan pada lansia, dan terapi komplementer. Hasil: Kegiatan berjalan dengan baik dan mendapat respon positif dari para peserta. Para peserta dapat melakukan praktik simulasi dengan demonstrasi penerapan pengasuhan sesuai petunjuk dalam kegiatan edukasi. Terjadi peningkatan yang signifikan terhadap pengetahuan dan keterampilan para pengasuh lansia, dengan peningkatan skor tingkat pengetahuan rata-rata 30% dari pre-test (rata-rata nilai 20) menjadi rata-rata 60 pada saat post-test. Ada peningkatan keterampilan pengasuh dalam berkomunikasi, mobilisasi, perawatan diri, dan identifikasi tanda-tanda risiko kesehatan pada lansia. Simpulan: Peningkatan kompetensi bagi para pengasuh lansia dengan pemberian pendidikan dan pelatihan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengasuh lansia dalam pemberian pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelatihan yang dirancang secara sistematis, komprehensif, interaktif, dan berdasarkan kebutuhan dapat memberikan dampak positif baik pada tingkat pengetahuan, keterampilan, maupun sikap para pengasuh lansia. Saran: Implikasi dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah pentingnya pembelajaran berkesinambungan bagi pengasuh lansia untuk tetap up-to-date dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan sehingga dapat memberikan pelayanan yang komprehensif, sesuai standar dan semakin menjadi lebih baik.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang diabetes mellitus melalui edukasi: Kenali, Cegah, Lawan sejak dini Sibrina, Sibrina; Baharuddin, Dharina; Rinandar, Rinandar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1370

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease with a rising global prevalence and is a serious problem in Indonesia, including in rural areas. Low public awareness of risk factors, symptoms, and prevention is a major challenge. Community-based health education has proven effective in increasing knowledge and preventive behaviors. Therefore, an educational intervention was conducted in Kuta Krueng Village to improve public health literacy about diabetes and encourage healthy lifestyle changes. Purpose: To increase community knowledge in identifying and anticipating diabetes mellitus. Methods: The activity was conducted in Kuta Krueng Village, Pidie Jaya, on July 5, 2025, from 9:30 a.m. to 11:30 a.m. WIB, with 30 respondents participating in educational activities and health screenings. This activity used a one-group pre-test and post-test design, with the intervention providing education on recognizing, preventing, and anticipating diabetes mellitus early. Analysis of pre-test and post-test questionnaire data was used to systematically measure changes in community knowledge following the education. Results: The mean age of participants was 37.6 years, with a standard deviation of 13.3 years, and they ranged from 20 to 60 years. The majority of participants were aged 30 to 39, with 10 (33.3%). Most participants were female, with 22 (73.3%). The highest level of education for participants was junior high school or high school, with 17 (56.7%), and the majority of participants were married, with 18 (60.0%). There was an increase in participants' knowledge level, from 5 (16.7%) to 18 (60.0%). The average knowledge score increased to 11.73 after education, with a mean difference of -3.13 and a p-value of 0.000. Conclusion: Diabetes mellitus education activities have been shown to significantly increase participants' knowledge and broaden their understanding of the definition, etiology, risk factors, and prevention, as well as encourage behavioral changes towards a healthy lifestyle. With its easy-to-understand methods, this program is worthy of being used as a model for preventive and promotive education in efforts to control non-communicable diseases in other regions. Suggestion: Diabetes mellitus education needs to be continued and expanded to high-prevalence areas, involving health workers, cadres, and community leaders. The material should be tailored to the local context, delivered in an engaging manner, and supported by ongoing monitoring through Posbindu (Community Health Posts) and routine check-ups to foster a community that is aware and independent in diabetes prevention. Keywords: Diabetes mellitus; Early prevention; Health education; Public awareness Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi global yang terus meningkat dan menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di daerah pedesaan. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang faktor risiko, gejala, dan pencegahan menjadi tantangan utama. Edukasi kesehatan berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, dilakukan intervensi edukatif di Desa Kuta Krueng untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat tentang diabetes dan mendorong perubahan gaya hidup sehat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan mengantisipasi tentang kejadian  diabetes melitus. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Desa Kuta Krueng, Pidie Jaya, tanggal 5 Juli 2025, dimulai pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB, dengan responden sebanyak 30 orang yang mengikuti kegiatan edukatif dan skrining kesehatan. Kegiatan ini menggunakan disain one grup pre-test dan post-test dengan intervensi berupa pemberian edukasi tentang mengenali, cara mencegah dan mengantisipasi kejadian diabetes melitus sejak dini. Analisa data kuesioner pre-test dan post-test digunakan untuk mengukur secara sistematis perubahan pengetahuan masyarakat setelah dilakukan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata peserta adalah 37.6 tahun, dengan standar deviasi 13.3 tahun, dan dalam rentang usia 20-60 tahun. Mayoritas peserta berusia 30-39 tahun yaitu sebanyak 10 (33.3%). Sebagian besar peserta berjenis kelamin perempuan sebesar 22 (73.3%). Tingkat pendidikan terakhir peserta paling banyak pada SMP–SMA yaitu 17 (56.7%), dan sebagian besar peserta dengan status menikah 18 (60.0%). Terdapat peningkatan tingkat pengetahuan para peserta dalam kategori baik yaitu dari 5 (16.7%) menjadi 18 (60.0%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat menjadi 11.73 setelah edukasi, dengan selisih rata-rata sebesar -3.13 dan mendapatkan pValue=0.000. Simpulan: Kegiatan edukasi diabetes mellitus terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan memperluas pemahaman peserta tentang definisi, etiologi, faktor risiko, dan pencegahan, serta mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat. Dengan metode yang mudah dipahami, program ini layak dijadikan model edukasi preventif dan promotif dalam upaya penanggulangan penyakit tidak menular di wilayah lain. Saran: Edukasi diabetes mellitus perlu dilanjutkan dan diperluas ke wilayah prevalensi tinggi dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader, dan tokoh masyarakat; materi disesuaikan konteks lokal, disampaikan secara menarik, serta didukung pemantauan berkelanjutan melalui Posbindu dan pemeriksaan rutin untuk membentuk masyarakat yang sadar dan mandiri dalam pencegahan diabetes.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue