cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Pengaruh terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi ujian Yunitasari, Eva; Aliun, Fatimah Wahab; Oktarosada, Dwi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.758

Abstract

Background: Anxiety is an emotional response to an individual's perspective that is subjective and has no known cause. The global prevalence of anxiety in the world is 3.6 Psychological problems that are often experienced by students, namely fear of failure, getting bad grades and not being able to do exams, are included in their own burdens that cause levels of anxiety. Action or therapy is needed to minimize the incidence of anxiety. Non-pharmacological therapy as an alternative and solution, including hydrotherapy therapy, namely ablution techniques and also murottal Al-Qur'an. Purpose: To identify the effect of ablution and murottal Al-Qur'an on changes in students' anxiety in facing exams. Method: Pre-experimental research with one group design, pre-test and post-test design. The population in this study were all students of class XII of Al Ihya Islamic Boarding School Kalirejo Lampung Tengah in the 2022/2023 academic year, totaling 110 people consisting of 3 classes. Using random sampling technique, 30 students were selected as respondents. The intervention variables in this study were ablution therapy and Al-Quran recitation, while the dependent variable was anxiety. The instrument used in this study was the Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A). Data were processed using statistical tests using paired T-tests. Results: The level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was in the range of 12-41 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was in the range of 8-28. While the average value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 30.83 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 17.80. For the standard deviation value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 6.41 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 5.77. Based on the normality test, the value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was 0.117 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was 0.247. Meanwhile, based on the T-paired test between the level of anxiety of respondents before and after ablution therapy and Al-Qur'an recitation, the value was 13.03 and p-value = 0.001. Conclusion: Ablution therapy and Al-Quran recitation have a significant effect in reducing students' anxiety levels in facing exams. Providing ablution therapy and Al-Quran recitation to reduce anxiety is very effective when done in a duration of 15-30 minutes and can be done at any time to control anxiety.   Suggestion: As an alternative solution, schools or educational institutions can implement ablution therapy and listen to the recitation of the Al-Quran to control the mental state of students who experience anxiety. Keywords: Ablution therapy; Al-Quran recitation; Anxiety Pendahuluan: Kecemasan merupakan respon emosional terhadap perspektif individu yang bersifat subjektif dan tidak diketahui penyebabnya. Prevalensi global kejadian kecemasan di dunia adalah sebanyak 3.6 Masalah psikologis yang sering dialami siswa yaitu takut gagal, mendapat nilai jelek dan tidak bisa mengerjakan ujian adalah termasuk beban tersendiri yang menimbulkan tingkat rasa kecemasan. Tindakan atau terapi sangat diperlukan untuk meminimalkan kejadian kecemasan. Terapi nonfarmakologis sebagai alternatif dan solusi, diantaranya  dengan terapi hidroterapi yaitu teknik wudhu dan juga murottal Al-Qur’an. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh wudhu dan murottal Al-Qur’an terhadap perubahan kecemasan siswa/siswi dalam menghadapi ujian. Metode: Penelitian pre-eksperimen dengan rancangan one group design, pre-test dan post-test design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas XII pondok pesantren Al  Ihya Kalirejo Lampung Tengah tahun ajar 2022/2023 sebanyak 110 orang yang terdiri dari  3 kelas. Dengan teknik random sampling mendapatkan sebanyak 30 siswa/siswi untuk menjadi responden. Variabel intervensi dalam penelitian ini yaitu terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an, sedangkan variabel dependennya yaitu kecemasan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A). Data diolah dengan Uji statistik menggunakan T-test berpasangan atau paired T test. Hasil: Tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an dalam rentang skor 12-41 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an dalam rentang skor 8-28. Sedangkan nilai rata-rata tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 30.83 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 17.80.  Untuk nilai standar deviasi tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 6.41 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 5.77. Berdasarkan uji normalitas mendapatkan nilai tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an sebesar 0.117 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an sebesar 0.247.  Sedangkan berdasarkan uji T-paired test antara tingkat kecemasan responden sebelum terhadap sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an mendapatkan nilai 13.03 dan p-value=0.001. Simpulan: Terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan siswa/siswi dalam menghadapi ujian. Pemberian terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an untuk menurunkan kecemasan sangat efektif di lakukan dalam durasi 15 – 30 menit dan dapat dilakukan kapanpun untuk mengendalikan rasa kecemasan. Saran: Sebagai solusi alternatif pada pihak sekolah atau lembaga pendidikan dapat menerapkan terapi wudhu dan mendengarkan murottal Al-Qur’an untuk mengendalikan mental siswa/siswi yang mengalami kecemasan
Edukasi tentang manfaat pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan di Desa Tanete Kabupaten Maros Sawidi, Hasnawati; Nur, Guntur Fara; Fadillah, Fadillah; Naldi, Naldi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i6.781

Abstract

Background: The community health check-up program is one of the activities to improve the health of the community by providing education on healthy lifestyles. The government provides various free health services for the community in the hope that it can help improve the community's health and increase life expectancy. One way to detect risks that threaten health is by routinely conducting health checks. Purpose: To provide the community with an understanding of the benefits of a healthy lifestyle and health checks on the impact of health in an effort to detect early and determine the risk of the level of disease spread. Method: This community service activity was carried out on Saturday, December 14, 2024, starting at 08.00 to 12.00 at the Tanete Village Office, Maros Regency with 20 participants. By conducting initial observations in the form of surveys to the village to see the healthy lifestyles that have been carried out by the community. The extension activity used the lecture method by gathering the community at the Tanete Village Office.Results: Positive responses from participants indicate that this community service activity was well received and beneficial. After the health check, they obtained public health data in the form of cholesterol, blood sugar and uric acid checks. With this community service activity, the community understands more about how to maintain a healthy lifestyle so that in the future they can better protect themselves from disease.Conclusion: Health education about healthy lifestyles and health checks provide a positive contribution in increasing public understanding of the importance of maintaining health.Suggestion: It is hoped that this community service activity can provide information dissemination to the entire community in Tanete Village, Maros Regency so that it can expand the reach of useful information and the positive impacts of a healthy lifestyle. Keywords: Education; Health checks; Healthy lifestyle Pendahuluan: Program pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat merupakan salah satu kegiatan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan edukasi pola hidup sehat. Pemerintah menyediakan berbagai layanan kesehatan gratis bagi masyarakat dengan harapan bisa membantu dalam meningkatkan derajat masyarakat dan menaikkan angka harapan hidup. Mendeteksi adanya risiko yang mengancam kesehatan salah satunya adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.Tujuan: Untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang manfaat pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan terhadap dampak kesehatan dalam upaya deteksi sejak dini dan mengetahui risiko tingkat penyebaran penyakit. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Desember 2024, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 di Kantor Desa Tanete Kabupaten Maros dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Dengan melakukan observasi awal berupa survei ke desa untuk melihat pola hidup sehat yang sudah dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan penyuluhan menggunakan metode ceramah dengan mengumpulkan masyarakat di Kantor Desa Tanete.Hasil: Tanggapan positif dari peserta menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian ini dapat diterima dengan baik dan bermanfaat. Setelah pemeriksaan kesehatan mendapatkan data kesehatan masyarakat berupa cek kolesterol, gula darah dan asam urat Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini masyarakat menjadi lebih mengerti tentang bagaimana menjaga pola hidup sehat sehingga kedepannya mereka bisa lebih memproteksi diri terhadap penyakit.Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan memberikan kontribusi yang positif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan.Saran: Diharapkan dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat memberikan desiminasi informasi kepada seluruh masyarakat di Desa Tanete Kabupaten Maros sehingga dapat memperluas jangkauan informasi yang bermanfaat dan dampak positif dari pola hidup sehat.    
Penyuluhan kesehatan seks pranikah pada siswi di MAN 3 Kota Makassar Musyawir, Andi Khairul; Amalia, Momen
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i6.784

Abstract

Background: Adolescence is a transition period from childhood to adulthood, grouped in the age group of 11-24 years. In the adolescent phase, life is full of dynamics, marked by major changes in physical, emotional, and social psychological aspects. Premarital sex is a sensitive issue, especially related to its impact on reproductive health, psychology, and social life of adolescents. Comprehensive sex education and open communication can guide adolescents to make better decisions and live healthier lives. Purpose: To increase knowledge about the impact of premarital sex on students/adolescents. Method: This premarital sex counseling activity was carried out at MAN 3 Makassar with the topic of increasing knowledge about premarital sex among adolescents which was attended by 29 students as respondents, teachers and parties related to the public health community. The activity was carried out by presenting material (presentation), distributing leaflet media, discussions and interactive Q&A. Using pre-test and post-test questionnaires as a medium for measuring the level of knowledge of premarital sex in students. Results: Shows that 5 respondents have lower pre-test scores than post-test (Negative Ranks) with an average score of 6.50 out of a total score of 32.50. While 20 respondents have higher pre-test scores than post-test (Positive Ranks) with an average score of 14.63 out of a total score of 292.50. Furthermore, 4 respondents showed the same pre-test and post-test scores (Ties). These results indicate that the majority of respondents got an increase in scores from pre-test to post-test. Based on the Wilcoxon signed ranks test, the Z score was -3.551 with a p-value = 0.000. Conclusion: Counseling activities about premarital sex among students in high schools or equivalent can increase understanding, awareness and self-confidence in dealing with psychosocial problems, especially issues related to sexual norms. Increasing knowledge about premarital sex in students has a significant positive influence on thinking patterns to be more open and more responsible in making decisions related to sexual life. This counseling has proven effective in providing essential education for adolescents in developing healthier and more responsible views about premarital sex. Suggestion: With this community service activity, schools can integrate this information into the school curriculum and community activities to expand the reach and impact of education. Keywords: Counseling; Premarital sex; Students Pendahuluan: Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang dikelompokkan usia 11-24 tahun. Pada fase masa remaja memiliki kehidupan yang penuh dinamika, ditandai dengan perubahan besar dalam aspek fisik, emosional, dan psikologi sosialnya. Seks pranikah menjadi isu yang sensitif, terutama terkait dampaknya pada kesehatan reproduksi, psikologi, dan kehidupan sosial remaja.  Pendidikan seks yang menyeluruh dan komunikasi yang terbuka dapat membimbing remaja untuk membuat keputusan yang lebih baik dan menjalani kehidupan yang lebih sehat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang dampak seks pranikah pada siswi/remaja. Metode: Kegiatan penyuluhan seks pranikah ini dilakukan di MAN 3 Kota Makassar dengan topik meningkatkan pengetahuan tentang seks pranikah di kalangan remaja yang dihadiri 29 siswi sebagai responden, para guru dan pihak terkait dengan komunitas kesehatan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan pemaparan materi (presentasi), membagikan media leaflet, diskusi dan tanya jawab inter aktif. Menggunakan kuesioner pre-test dan post-test sebagai media pengukuran tingkat pengetahuan seks pranikah pada siswi.   Hasil: Menunjukkan bahwa 5 responden memiliki nilai pre-test lebih rendah dibandingkan post-test (Negative Ranks) dengan nilai rata-rata 6.50 dari total nilai 32.50. Sedangkan 20 responden memiliki nilai pre-test lebih tinggi dibandingkan post-test (Positive Ranks) dengan nilai rata-rata 14.63 dari total nilai 292.50. Selanjutnya 4 responden menunjukkan nilai pre-test dan post-test yang sama (Ties). Hasil ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden mendapatkan peningkatan nilai dari pre-test ke post-test. Berdasarkan uji wilcoxon signed ranks mendapatkan nilai Z sebesar -3.551 dengan p-value= 0.000. Simpulan: Kegiatan penyuluhan tentang seks pranikah di kalangan siswi di sekolah menengah atas atau sederajatnya dapat meningkatkan pemahaman, kesadaran dan kepercayaan diri dalam menghadapi permasalahan psikososial terutama isu-isu terkait norma seksualitas. Peningkatan pengetahuan tentang seks pranikah pada siswi memberikan pengaruh positif yang cukup signifikan terhadap pola pemikiran menjadi lebih terbuka dan lebih bertanggung jawab dalam membuat keputusan terkait kehidupan seksual. Penyuluhan ini terbukti efektif dalam memberikan edukasi yang esensial bagi remaja dalam mengembangkan pandangan yang lebih sehat dan bertanggung jawab mengenai seks pranikah. Saran: Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini sekolah dapat mengintegrasikan informasi ini dalam kurikulum sekolah dan kegiatan komunitas untuk memperluas jangkauan dan dampak edukasi.
Edukasi pemanfaatan kacang hijau sebagai peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum Parwati, Dewi; Safitri, Norma; Musdalifah, Musdalifah
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i6.786

Abstract

Background: Low exclusive breastfeeding is caused by problems experienced by mothers in breastfeeding, one of which is the factor of breast milk production. The impact if breast milk does not come out is that the breasts can become swollen, mastitis and even abscesses. Lack of knowledge of postpartum mothers can cause babies to experience dehydration, malnutrition, diarrhea and jaundice. Purpose: Provide education about the use of green beans to increase breast milk production. Method: Counseling activities were carried out on January 7, 2025 at 09.00 WITA to 12.30 WITA at the Binanga Health Center, Mamuju District in collaboration with the LPPM Siti Fatimah Mamuju Health and Business Institute. The activity was attended by cadres and residents in the Binanga Health Center work area. The implementation was carried out by providing material related to green bean nutrition as a supporter of increasing breast milk production. As a measurement of the level of knowledge using a questionnaire media which was carried out before (pre-test data) and after (post-test data) the counseling activity. Results: Participants were quite enthusiastic in participating in the activity and stated that they would consume green beans regularly to increase breast milk production. Questionnaire data showed that before the counseling, it was 55% and after the counseling it increased to 87%, this indicates that there was an increase in participants' understanding of the importance of nutritional intake in increasing breast milk production.Conclusion: Educational activities about nutrition in the community provide a positive contribution to the knowledge and understanding of the success of mothers in providing nutrition to their babies and the causes of irregular breast milk production. There is an increase in public knowledge about the importance of optimal nutritional intake and green beans are one of the good vegetable proteins for smooth breast milk production. Suggestion: It is expected that health workers will guide the community to utilize materials or plants that are around the environment such as TOGA (Family Medicinal Plants) in meeting nutritional intake needs which will be easier, more affordable, and more economical. Keywords: Breast milk production; Green beans; Nutrition; Postpartum mothersPendahuluan: Rendahnya pemberian ASI Eksklusif disebabkan oleh masalah yang dialami oleh ibu dalam menyusui salah satunya adalah faktor pengeluaran produksi ASI. Dampak jika asi tidak keluar adalah payudara bisa bengkak, mastitis bahkan abses. Kurangnya pengetahuan ibu nifas dapat mengakibatkan bayi mengalami dehidrasi, kurang gizi, diare dan ikterus. Tujuan: Memberikan edukasi tentang pemanfaatan kacang hijau terhadap peningkatan produksi ASI. Metode: Kegiatan penyuluhan dilakukan pada tanggal 07 Januari 2025 pukul 09.00 Wita sampai 12.30 Wita di Puskesmas Binanga Kecamatan Mamuju bekerja sama dengan LPPM Institut Kesehatan dan Bisnis Siti Fatimah Mamuju. Kegiatan dihadiri oleh kader dan warga di wilayah kerja Puskesmas Binanga. Pelaksanaan dilakukan dengan memberikan pemaparan materi terkait nutrisi kacang hijau sebagai pendukung meningkatnya produksi ASI. Sebagai pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan media kuesioner yang dilakukan sebelum (data pre-test) dan sesudah (data post-test) kegiatan penyuluhan.Hasil: Peserta cukup antusias dalam mengikuti kegiatan dan menyatakan akan mengonsumsi kacang hjiau secara rutin guna meningkatkan produksi ASI. Data kuesioner menunjukkan bahwa sebelum penyuluhan sebanyak 55% dan setelah penyuluhan meningkat menjadi 87%, hal ini menunjukkan terdapat peningkatan pemahaman peserta terhadap pentingnya asupan nutrisi dalam meningkatkan produksi ASI.Simpulan: Kegiatan edukasi tentang nutrisi pada masyarakat memberikan kontribusi positif terhadap pengetahuan dan pemahaman keberhasilan ibu dalam memberikan nutrisi kepada bayinya dan penyebab produksi ASI yang tidak lancar. Terdapat peningkatan pengetahuan pada masyarakat terhadap pentingnya asupan nutrisi dan gizi yang optimal dan kacang hijau adalah salah satu protein nabati yang baik untuk kelancaran produksi ASI.Saran: Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar membimbing masyarakat untuk memanfaatkan bahan atau tanaman yang ada disekitaran lingkungan seperti TOGA (tanaman Obat Keluarga) dalam memenuhi kebutuhan asupan nutrisi/gizi dimana akan menjadi lebih mudah, terjangkau, dan ekonomis.
Kejadian malaria dan intervensi berbasis masyarakat di Dusun Mutun: Studi kasus Nuryani, Dina Dwi; Yanti, Dhiny Easter; Agusman, Gilang; Muliono, Muliono; Forcepta, Chania; Sastini, Ketut; Putra, Gilang Ramadhan; Fitriani, Fitriani
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.817

Abstract

Background: Malaria is one of the deadliest infectious diseases in the world. Every year, millions of people are infected with this parasite, with the majority of cases occurring in tropical and subtropical regions of Africa, Asia, and Latin America. In Southeast Asia, Indonesia is one of the countries with a fairly high incidence of malaria, with the number of cases reaching 443,530 in 2023. Several factors that contribute to the high incidence of malaria in the community include environmental conditions that support the breeding of Anopheles mosquitoes, low public awareness of disease prevention, and limited access to health services. Purpose: To identify the incidence of malaria in Mutun Hamlet and provide education with direct intervention with the community in efforts to control and prevent malaria. Method: using a quantitative descriptive approach with a field survey method with 238 heads of families as the population and with random sampling to get 100 people to become respondents. The instrument used in this study was a questionnaire containing questions related to the history of malaria, prevention behavior, and access to health services. Environmental observation with local health workers and several community representatives includes household conditions, sanitation, and factors that influence the presence of Anopheles mosquitoes. Determination of problem priorities is the Pan American Health Organization (PAHO) method by approaching the extent of the problem (magnitude), degree of severity (severity), availability of technology (vulnerability), and community concern. Results: The community of Mutun Hamlet and village officials gave a positive response and actively participated in carrying out activities. The age of respondents who experienced malaria was mostly between the ages of 4-25 years, namely 5 (5.6%), the gender of respondents who experienced malaria was mostly male, namely 6 (66.7%). The majority of the education level of the Mutun Hamlet community was elementary school graduates, namely 57 (57.0%) and most of the environmental conditions where the community lives in Mutun Village have lots of puddles, namely 56 (56.0%). Conclusion: Malaria is a dominant health problem in Mutun Hamlet. Community-based education and intervention can increase awareness and compliance in environmental control and prevention of malaria. Suggestion: Related parties and the government need to increase malaria vaccination programs as an effort to control the presence of malaria vectors and their spread. Keywords: Anopheles mosquitoes; Community intervention; Malaria prevention Pendahuluan: Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia. Setiap tahun, jutaan orang terinfeksi parasit ini, dengan sebagian besar kasus terjadi di wilayah-wilayah tropis dan subtropis di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kejadian malaria yang cukup tinggi, dengan jumlah kasus mencapai 443.530 pada tahun 2023. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian malaria di masyarakat antara lain adalah kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Tujuan: Mengidentifikasi kejadian malaria di Dusun Mutun dan memberikan edukasi dengan intervensi langsung bersama masyarakat dalam upaya pengendalian dan pencegahan kejadian malaria. Metode: menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei lapangan dengan 238 kepala keluarga sebagai populasinya dan dengan random sampling mendapatkan 100 orang untuk menjadi responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi pertanyaan terkait riwayat penyakit malaria, perilaku pencegahan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Observasi lingkungan bersama tenaga kesehatan setempat dan beberapa perwakilan masyarakat meliputi kondisi rumah tangga, sanitasi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan nyamuk Anopheles. Penentuan prioritas masalah adalah metode Pan American Health Organization (PAHO) dengan melakukan pendekatan luasnya masalah (magnitude), derajat keparahan (severity), ketersediaan teknologi (vulnerability), dan kepedulian masyarakat. Hasil: Masyarakat Dusun Mutun and aparatur Desa memberikan respon positif dan ikut berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan. Usia responden yang mengalami kejadian malaria adalah sebagian besar di usia 4-25 tahun yaitu sebanyak 5(5.6%), jenis kelamin responden yang mengalami kejadian malaria mayoritas laki-laki yaitu sebanyak 6(66.7%). Mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Dusun Mutun adalah tamatan SD yaitu sebesar 57 (57.0%) dan sebagian besar kondisi lingkungan tempat tinggal masyarakat di Desa Mutun terdapat banyak genangan air yaitu sebanyak 56 (56.0%). Simpulan: Kejadian malaria merupakan masalah kesehatan yang dominan di Dusun Mutun. Edukasi dan intervensi berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesadaran serta kepatuhan dalam pengendalian lingkungan dan pencegahan kejadian malaria. Saran: Pihak terkait dan pemerintah perlu meningkatkan program vaksinasi malaria sebagai upaya pengendalian keberadaan vektor malaria dan penyebarannya.
Peningkatan pengetahuan pencegahan anemia pada remaja 8000 HPK dan pemberian ketrampilan pengolahan abon telur pada kader di Desa Bontomanai, Jeneponto Triananinsi, Nurhidayat; Khatimah, Husnul; Supardi, Nurjannah; Wahyuni, Wahyuni
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.858

Abstract

Background: The 8000 First Days of Life program is a systematic intervention in three phases of life after 1000 First Days of Life, namely the phase at the age of 5-9 years, where in this phase the incidence of infectious diseases and malnutrition are the main problems that interfere with growth and development. The prevalence of stunting in Jeneponto Regency reached 39.8%, far above the national average (21.6%), with anemia in adolescents as one of the causative factors. Observations at the Bontomanai Village Posyandu showed that most adolescents were not aware of the importance of consuming iron tablets, with 4 out of 6 adolescents showing signs of anemia. In addition, there is no place for consultation and health education for adolescents in this area. Purpose: To increase knowledge about anemia prevention and the skills of Posyandu cadres through counseling and training in food processing as support for nutritional adequacy. Method: The activity was carried out on September 18, 2024 at the house of the head of Bontomanai Village, Jeneponto Regency. The activity was attended by 32 cadres and 5 adolescent girls. The target of this community service activity is focused on the cadres of the Bontomanai Village Posyandu work area, Rumbia District, Jeneponto Regency. Delivering material using lecture and discussion methods regarding anemia, causes, symptoms, long-term impacts, and management and prevention of anemia. Simulations are provided in the form of demonstrations and assistance regarding the procedure for processing eggs into shredded meat. The questionnaire data is tabulated and then analyzed by comparing the results of the accumulated pre-test scores with the post-test scores accompanied by direct observation notes when providing assistance. Results: There was an increase in the number of participants who had knowledge about anemia in the good category from before the counseling as many as 5 people (13.5%) to 20 people (54.1%). There was also an increase in the number of participants who had skills in processing eggs into shredded meat from before the counseling as many as 10 people (27.0%) to 20 people (94.6%). Conclusion: Counseling activities to increase knowledge about anemia by providing skills in the form of food processing skills have a very positive influence on increasing the understanding of cadres in efforts to prevent anemia and stunting. Suggestion: Cadres can continue this activity together with partners and coordinate with the PKM team in a joint effort to prevent anemia in 8000 First Days of Life and stunting. Keywords: Adolescent girls; Anemia; Fulfillment of nutrition; Posyandu cadres; Skills                                                                                                                                                        Pendahuluan: Program 8000 HPK merupakan sebuah intervensi yang sistematis pada tiga fase kehidupan setelah 1000 HPK, yaitu fase pada usia 5-9 tahun, dimana pada fase ini kejadian penyakit infeksi dan kekurangan gizi menjadi masalah utama yang mengganggu tumbuh kembang. Prevalensi stunting di Kabupaten Jeneponto mencapai 39.8%, jauh di atas rata-rata nasional (21.6%), dengan anemia pada remaja sebagai salah satu faktor penyebab. Observasi di Posyandu Desa Bontomanai menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak menyadari pentingnya konsumsi tablet tambah darah, dengan 4 dari 6 remaja menunjukkan tanda anemia. Selain itu, belum tersedia tempat konsultasi dan wadah edukasi kesehatan untuk remaja di wilayah ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan anemia dan keterampilan kader posyandu melalui penyuluhan dan pelatihan pengolahan makanan sebagai dukungan kecukupan gizi. Metode: Kegiatan dilakukan pada tanggal 18 September 2024 di rumah kepala Desa Bontomanai Kabupaten Jeneponto. Kegiatan dihadiri oleh 32 kader dan 5 remaja putri. Sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini di fokuskan pada para kader wilayah kerja posyandu Desa Bontomanai Kec. Rumbia Kab. Jeneponto. Menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan diskusi mengenai anemia, penyebab, gejala, dampak jangka panjang serta penanggulangan dan pencegahan anemia. Diberikan simulasi dengan berupa peragaan, demonstrasi dan pendampingan mengenai tatacara pengolahan telur menjadi abon. Data kuesioner ditabulasikan kemudian di analisa dalam membandingkan hasil akumulasi skor pre-test dengan skor post-test disertai dengan catatan observasi langsung ketika melakukan pendampingan. Hasil: Mendapatkan peningkatan jumlah peserta yang memiliki pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dari sebelum penyuluhan sebanyak 5 orang (13.5%) menjadi sebanyak 20 orang (54.1%). Terdapat juga peningkatan jumlah peserta yang memiliki ketrampilan dalam mengolah telur menjadi abon dari sebelum penyuluhan sebanyak 10 orang (27.0%) menjadi sebanyak 20 orang (94.6%). Simpulan: Kegiatan penyuluhan peningkatan pengetahuan tentang anemia dengan memberikan kemampuan berupa ketrampilan pengolahan makanan memiliki pengaruh yang sangat positif terhadap peningkatan pemahaman para kader dalam upaya pencegahan anemia dan stunting. Saran: Kepada para kader dapat melanjutkan kegiatan ini bersama dengan mitra dan koordinasi dengan tim PKM dalam upaya bersama pencegahan anemia pada 8000 HPK dan stunting.  
Penyuluhan kesehatan tentang dampak kecemasan dan cara pencegahannya selama persalinan di PMB Nurliah Suradi Hasriani, Hasriani; Yuliana, Yuliana; Sampara, Nurqalbi; Rosdianah, Rosdianah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1156

Abstract

Background: Anxiety during labor is a common psychological problem that can affect the process and outcome of labor, including increasing the risk of prolonged labor, high blood pressure, and fetal disorders. In Indonesia, the high maternal mortality rate is a major challenge, especially in areas with limited access to education. Increasing pregnant women's knowledge about anxiety and strategies for preventing it is necessary to create a safe and comfortable labor process. Purpose: To increase the knowledge of pregnant women in their third trimester regarding the impact of anxiety and how to prevent it during labor. Method: The activity was conducted at the Nurliah Suradi Prenatal Training Center on November 13, 2024, involving 15 pregnant women, lecturers, students, and midwives. The education was conducted interactively and applied through activities such as pre-tests, counseling, discussions, pregnancy exercises, and post-tests. Leaflets were also used as additional learning resources. Evaluation was conducted by comparing participants' pre-test and post-test scores. Results: The average age of respondents was 26.87 years with a standard deviation of 5.66 years, ranging from 19 to 37 years. The majority of respondents were between 19 and 25 years old (9 respondents, 60.0%), and the majority were housewives (10 respondents, 66.7%). Participants demonstrated high enthusiasm and positive responses during the activity. The average score increased from 67.5 points in the pre-test to 88.9 points in the post-test. Conclusion: Counseling on anxiety and its prevention during childbirth has proven effective in increasing pregnant women's knowledge and strengthening their mental and physical readiness for a healthy and safe delivery. Increasing pregnant women's knowledge about anxiety also provides an understanding of its impact and how to prevent it during childbirth. Suggestion: Regular and comprehensive education through prenatal classes is needed to strengthen understanding and build mothers' emotional and physical readiness for childbirth, while supporting efforts to reduce maternal mortality nationally. Keywords: Anxiety; Childbirth; Health education; Prenatal knowledge Pendahuluan: Kecemasan saat persalinan merupakan permasalahan psikologis yang umum terjadi dan dapat mempengaruhi proses serta hasil persalinan, termasuk meningkatkan risiko partus lama, tekanan darah tinggi, serta gangguan pada janin. Di Indonesia, tingginya angka kematian ibu menjadi tantangan besar, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses edukasi. Peningkatan pengetahuan ibu hamil mengenai kecemasan dan strategi pencegahannya diperlukan untuk menciptakan proses persalinan yang aman dan nyaman. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil trimester ketiga mengenai dampak kecemasan dan cara pencegahannya selama proses persalinan. Metode: Kegiatan dilaksanakan di PMB Bdn. Nurliah Suradi pada 13 November 2024 dengan melibatkan 15 ibu hamil, dosen, mahasiswa, dan tenaga bidan. Edukasi dilakukan dengan interaktif dan aplikatif berupa kegiatan melalui pre-test, penyuluhan, diskusi, senam hamil, dan post-test, serta penggunaan media leaflet sebagai sarana pembelajaran tambahan. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test peserta. Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 26.87 tahun dengan standar deviasi 5.66 tahun dalam rentang usia 19 –37 tahun. Sebagian besar usia responden berada di usia 19 – 25 tahun yaitu sebanyak 9 (60.0%) dan mayoritas status pekerjaan responden adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 10 (66.7%). Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan respon positif selama kegiatan. Terdapat peningkatan skor rata-rata dari 67.5 poin pada pre-test menjadi 88.9 poin pada post-test. Simpulan: Penyuluhan tentang kecemasan dan pencegahannya selama persalinan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil, memperkuat kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi proses persalinan yang sehat dan aman. Peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan juga memberikan pemahaman pada dampak dan cara pencegahannya selama persalinan. Saran: Diperlukan edukasi berkala dan menyeluruh melalui kelas ibu hamil guna memperkuat pemahaman dan membangun kesiapan emosional serta fisik ibu dalam menghadapi persalinan, sekaligus mendukung upaya penurunan angka kematian ibu secara nasional. 
Pendampingan skrining pertumbuhan dan perkembangan sebagai pendeteksian dini pada anak usia prasekolah Anggraeni, Fitri; Meylawati, Luluk Eka; Astuti, Harwina Widya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1157

Abstract

Background: National development is essentially the development of the whole person. Efforts to develop the whole person must begin as early as possible, namely from the time a person is still in the womb and during infancy. Child development services play a crucial role, as early detection of developmental disorders allows for appropriate intervention. Delayed detection and intervention of developmental disorders can hinder a child's development and reduce the effectiveness of therapy. Purpose: To provide knowledge on conducting growth and development screening in preschool children. Methods: This community service activity was conducted at Angkasa 1 Kindergarten, Jakarta, targeting preschool-aged children. It involved 60 second-year students from the Diploma III Nursing Program, Faculty of Health Sciences, Universitas Suryaya (UNSURYA), and teachers at Angkasa 1 Kindergarten. Participants for the growth screening were 54 children present at school on the day of the community service activity. The developmental screening used a Pre-Screening Development Questionnaire (KPSP) instrument adapted to the children's age. The implementation of the Growth and Development Screening Assistance program in Early Detection in Preschool Children is designed holistically to ensure that early detection is carried out effectively. Results: The mean age of respondents was 63.0 months with a standard deviation of 9.10 months, ranging from 37 to 75 months. The majority of respondents (25) were in the 61-72 month range (46.3%), with a majority of males (29) being male (53.7%), and the majority of growth measurement results were in the good nutritional status category (42) (77.8%). Conclusion: The community service activity provided significant benefits for students, teachers, and children. Students had the opportunity to directly implement the child growth and development screening process. For teachers, this activity provided understanding and improved skills in conducting growth and development screening for preschool children. Keywords: Early detection; Growth and development; Preschool children; Screening Pendahuluan: Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya. Upaya membangun manusia seutuhnya harus dimulai sedini mungkin, yakni sejak manusia itu masih berada dalam kandungan dan semasa balita. Pelayanan tumbuh kembang anak memiliki peran yang sangat penting, karena deteksi dini terhadap kelainan tumbuh kembang memungkinkan pemberian intervensi yang tepat. Jika kelainan tumbuh kembang terlambat dalam pendeteksian dan intervensi, maka hal ini dapat menghambat perkembangan anak dan mengurangi efektivitas terapi. Tujuan: Memberikan pengetahuan dalam melakukan skrining pertumbuhan dan perkembangan pada anak prasekolah. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di TK Angkasa 1 Jakarta dengan sasaran anak-anak usia prasekolah yang melibatkan 60 mahasiswa tingkat 2 dari Program Studi Diploma III Keperawatan FIKES UNSURYA serta guru-guru di TK Angkasa 1 Jakarta. Peserta untuk skrining pertumbuhan adalah 54 anak yang hadir di sekolah pada hari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Melakukan skrining perkembangan menggunakan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang disesuaikan dengan usia anak. Pelaksanaan program Pendampingan Skrining Pertumbuhan dan Perkembangan dalam Pendeteksian Dini pada Anak Usia Prasekolah dirancang secara holistik untuk memastikan deteksi dini dilakukan secara efektif. Hasil: Mendapatkan usia rata-rata responden adalah 63.0 bulan dengan standar deviasi 9.10 bulan dalam rentang 37-75 bulan. Sebagian besar usia responden dalam rentang 61-72 bulan sebanyak 25 (46.3%), mayoritas berjeniskelamin laki-laki sebanyak 29 (53.7%) dan sebagian besar hasil pengukuran aspek pertumbuhan dalam kategori status gizi baik sebanyak 42 (77.8% Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah memberikan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa, guru, dan anak-anak. Mahasiswa berkesempatan untuk mengimplementasikan secara langsung proses skrining pertumbuhan dan perkembangan anak. Bagi guru, kegiatan ini memberikan pemahaman dan meningkatkan keterampilan dalam melakukan skrining pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah.
Pengaruh edukasi mobilisasi dini dengan media audiovisual dalam dukungan keluarga pada pasien post operasi Maula, Inayah; Sunarsih, Sunarsih; Rihiantoro, Tori
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1168

Abstract

Background: Based on interviews with postoperative patients in the digestive surgery room at General Ahmad Yani Regional Hospital, many are reluctant to undergo early mobilization due to a lack of family support. This lack of family knowledge regarding postoperative patient care, particularly regarding early mobilization, leads to a lack of family support for early mobilization, which can increase the risk of postoperative complications. Purpose: To determine the effectiveness and influence of education using audiovisual media on early mobilization in postoperative patients. Method: This activity was conducted at General Ahmad Yani Regional Hospital, Metro, Lampung Province, from April 15 to May 15, 2025. This activity was a quasi-experimental study using a non-equivalent control group design with a posttest only approach. The population in this study were postoperative patients undergoing general anesthesia at General Ahmad Yani Regional Hospital, Metro, Lampung Province. Using a non-probability sampling technique, 30 respondents were selected as the control group and 30 respondents as the experimental group. The experimental group received an intervention in the form of education using audiovisual media to implement early mobilization. Results: Data showed that the majority of control group respondents (18 (60.0%) received good family support, while the majority of experimental group respondents (26 (86.7%) received good family support. The p-value was 0.041 with an OR of 4.333. The p-value was 0.041 (p<0.05) and the odds ratio (OR) was 4.333, indicating that families of patients who received audiovisual education were 4.33 times more likely to provide good support. Conclusion: The audiovisual-based educational approach not only increased knowledge but also influenced family attitudes and behaviors in responding to postoperative patient needs, thus providing better motivation for early mobilization. Suggestion: It is hoped that future activities can create more engaging educational videos so that this audiovisual education method can have a more significant effect. Keywords: Audiovisual; Early mobilization; Family support; Postoperative patients Pendahuluan: Berdasarkan wawancara pasien pasca operasi di ruang bedah digestif RSUD Jend. Ahmad Yani banyak yang enggan untuk melakukan mobilisasi dini karena kurangnya dukungan dari keluarga. Minimnya pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien pasca operasi terutama tentang mobilisasi dini pasien post operasi menyebabkan kurangnya dukungan keluarga terhadap anggota keluarga dalam pelaksanaan mobilisasi dini pasca operasi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pasca operasi. Tujuan: Untuk memgetahui efektifitas dan pengaruh edukasi dengan media audiovisual dalam pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD. Jend. Ahmad Yani Metro Provinsi Lampung pada 15 April – 15 Mei 2025. Kegiatan ini adalah quasy eksperiment (ekperimen semu) dengan pendekatan non-equivalent control group design with posttest only. Populasi pada penelitian ini adalah pasien post operasi dengan general anestesi RSUD. Jend. Ahmad Yani Metro Provinsi Lampung. Dengan menggunakan teknik non-probability sampling, mendapatkan 30 responden sebagai kelompok kontrol dan 30 responden sebagai kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen diberikan intervensi berupa edukasi dengan menggunakan media audiovisual dalam menerapkan mobilisasi dini. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar responden kelompok kontrol yang mendapatkan dukungan keluarga dalam kategori baik sebanyak 18 (60.0%), sebagian besar juga untuk responden yang mendapat dukungan keluarga kelompok eksperimen dalam kategori baik sebanyak 26 (86.7%), dan mendapatkan pValue=0.041 dengan nilai OR=4.333. Dengan mendapatkannya nilai p=0.041 (p<0.05) dan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4.333, yang berarti keluarga dari pasien yang menerima edukasi dengan media audiovisual memiliki kemungkinan 4.33 kali lebih besar untuk memberikan dukungan yang baik. Simpulan: Pendekatan edukatif berbasis audiovisual tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga memengaruhi sikap dan perilaku keluarga dalam merespons kebutuhan pasien pasca operasi sehingga memberikan motivasi yang lebih baik pada tindakan mobilisasi dini. Saran: Diharapkan untuk kegiatan selanjutnya dapat mengkreasikan video edukasi menjadi lebih menarik lagi sehingga metode edukasi dengan media audiovisual berupa video ini dapat memberikan efek yang lebih signifikan.
Pendidikan kesehatan mengenai pola hidup sehat pada penderita diabetes mellitus di Desa Sukajaya Lempasing Kabupaten Pesawaran Furqoni, Prima Dian; Juliawan, Ladin; Sintia, Monica Bela Dwi; Natalia, Mutiara; Adhani, Neisa; Istawala, Anggun; Prayogo, Idfy Dwi; Fajrianti, Endah; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Saraswati, Ika
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1178

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease with a steadily increasing prevalence, particularly among the elderly. Data from the International Diabetes Federation (IDF) in 2022 showed that the number of diabetes sufferers in Indonesia reached 19.5 million people and is expected to increase to 28.6 million by 2045. Based on the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of DM in those aged 15 years and older increased to 10.9%, with the highest rate in the 55–74 age group. In Pesawaran Regency, Lampung Province, the prevalence of DM reached 1.0%. Initial findings in Mutun Hamlet 7 indicate that most elderly people do not understand the importance of a healthy lifestyle in diabetes management. Health education is an effective strategy to increase awareness and independence in the elderly. Purpose: Increase knowledge and awareness of a healthy lifestyle through communicative educational activities tailored to the characteristics of elderly people with diabetes mellitus. Method: This activity was part of the Gerontology Nursing professional practice program held on Monday, June 2, 2025, in Dusun 7 Mutun. The methods used were lectures, discussions, and leaflet distribution. Ten elderly people with a history of diabetes participated. Results: This outreach activity had a positive impact on increasing the elderly's understanding of the importance of maintaining a balanced diet, engaging in light physical activity, and independently monitoring their blood sugar levels. Participants demonstrated active participation and stated that they gained new knowledge that they could apply in their daily lives. Conclusion: Health education has proven effective in increasing the knowledge of elderly people with diabetes about healthy lifestyles and encouraging them to become independent in managing their disease. Keywords: Diabetes mellitus; Elderly; Health education; Healthy lifestyle Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia). Data International Diabetes Federation tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 19,5 juta orang dan diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2045. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi DM pada usia ≥15 tahun meningkat menjadi 10.9%, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 55–74 tahun. Di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, prevalensi DM mencapai 1.0%. Temuan awal di Dusun 7 Mutun menunjukkan sebagian besar lansia belum memahami pentingnya pola hidup sehat dalam pengelolaan diabetes. Pendidikan kesehatan menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kemandirian lansia. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai pola hidup sehat melalui kegiatan edukasi yang komunikatif dan sesuai karakteristik lansia penderita diabetes mellitus. Metode: Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik profesi Ners Keperawatan Gerontik yang dilaksanakan pada Senin, 02 Juni 2025, di Dusun 7 Mutun. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, serta pembagian leaflet. Jumlah peserta sebanyak 10 orang lansia dengan riwayat DM. Hasil: Kegiatan penyuluhan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman lansia mengenai pentingnya menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik ringan, serta memantau kadar gula darah secara mandiri. Peserta menunjukkan partisipasi aktif dan menyatakan memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Simpulan: Pendidikan kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan lansia penderita DM tentang pola hidup sehat dan mendorong lansia memiliki kemandirian dalam pengelolaan penyakit.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue