cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Kolaborasi FIK dan HPU dalam menumbuhkan kesadaran pemeriksaan kesehatan rutin sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular Nuryani, Dina Dwi; Listyaningsih, Erna; Sary, Lolita; Oktarina, Devi; Chrisanto, Eka Yudha; Muhani, Nova; Perdana, Agung Aji; Setiawati, Setiawati
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1382

Abstract

Background: Maintaining health is a fundamental aspect in supporting quality of life, especially for vulnerable groups such as mothers and children. Prevention through early detection and health education is a key strategy in building public awareness. As a concrete manifestation of the university's role in improving public health, the Faculty of Health Sciences (FIK) of Malahayati University, in collaboration with Health Promoting University (HPU), conducted a community service activity. Purpose: To raise awareness and increase knowledge of mothers and children regarding the importance of regular health check-ups and adopting a healthy lifestyle as a preventative measure for non-communicable diseases (NCDs). Method: The activity was held on Sunday, May 24, 2025, involving 136 orphans and 120 mothers of orphans. The series of activities included a fun walk, health checks by FIK lecturers (measurement of blood pressure, blood sugar, uric acid, weight, and height), and distribution of iron tablets. Additionally, educational games were provided by the Psychology Study Program, reproductive health counseling by the Midwifery Study Program, and education on NCD prevention by the Public Health Study Program. Results: The number of participants in this activity was quite significant, demonstrating high public enthusiasm for the free health screening service. The majority of participants were housewives and school-aged children from communities with limited access to routine health services. The examination results indicated that some participants had test results that were outside the normal range, particularly for blood pressure and blood sugar levels. In children, several cases were found with a body mass index (BMI) below the standard. Conclusion: The basic health screening activity for mothers and orphans went smoothly and received high enthusiasm from participants. The basic health screening activity for mothers and orphans had a positive impact in raising awareness of the importance of early detection for preventing non-communicable diseases (NCDs). Suggestion: Participants are expected to undergo regular health checks, and relevant parties are also encouraged to facilitate access and improve health education in the community. Keywords: Community service; Early detection; Health education; Non-communicable diseases Pendahuluan: Menjaga kesehatan merupakan aspek fundamental dalam menunjang kualitas hidup, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu dan anak. Pencegahan melalui deteksi dini dan edukasi kesehatan menjadi strategi utama dalam membentuk kesadaran masyarakat. Sebagai wujud nyata peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Malahayati bekerja sama dengan Health Promoting University (HPU) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Tujuan: Untuk menumbuhkan kesadaran serta meningkatkan pengetahuan ibu dan anak mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan penerapan gaya hidup sehat sebagai langkah pencegahan penyakit tidak menular (PTM). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 24 Mei 2025, dengan melibatkan 136 anak yatim dan 120 ibu dari anak-anak yatim. Rangkaian kegiatan meliputi jalan sehat, pemeriksaan kesehatan oleh dosen FIK (pengukuran tekanan darah, gula darah, asam urat, berat badan, dan tinggi badan), serta pemberian tablet Fe. Selain itu, terdapat permainan edukatif oleh Prodi Psikologi, penyuluhan kesehatan reproduksi oleh Prodi Kebidanan, serta edukasi pencegahan PTM oleh Prodi Kesehatan Masyarakat. Hasil: Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini cukup signifikan, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Mayoritas peserta merupakan ibu rumah tangga dan anak-anak usia sekolah dari kelompok masyarakat dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan rutin. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian peserta memiliki hasil pemeriksaan yang tidak berada dalam rentang normal, khususnya dalam hal tekanan darah dan kadar gula darah. Pada anak-anak, ditemukan beberapa kasus dengan indeks massa tubuh (IMT) yang berada di bawah standar. Simpulan: Kegiatan pemeriksaan kesehatan dasar bagi ibu-ibu dan anak-anak yatim berjalan dengan lancar, mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Kegiatan pemeriksaan kesehatan dasar bagi ibu-ibu dan anak-anak yatim berdampak positif dalam meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya deteksi dini untuk pencegahan terjadinya penyakit tidak menular (PTM). Saran: Diharapkan pada peserta untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin dan pihak terkait juga diharapkan untuk memberikan kemudahan dalam peningkatan akses dan edukasi kesehatan di masyarakat.
Inovasi edukasi dengan media website dan flashcard tentang gizi seimbang pada anak usia 2 – 5 tahun Djohar, Zohna; Anggraini, Ika Rizki
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1385

Abstract

Background: The health of children aged 2-5 years is crucial for their growth and development and immune system. One important indicator of a child's health is their nutritional status. In Indonesia, malnutrition remains a challenge, with the prevalence among children aged 2-5 years reaching 17.1% in 2022. If left untreated, it can increase the risk of stunted growth, cognitive decline, and susceptibility to disease. Purpose: To increase mothers' knowledge about the importance of balanced nutrition for children aged 2-5 years using a website and flashcards. Method: The educational activity was held on Wednesday, July 2, 2025, from 1:00 PM to 2:00 PM WIB in Sukoanyar Village, RW 04/RT 04. This activity used a case study design with a one-group pre-test and post-test technique. Lecture methods, website media, and flashcards were used. Respondents in this educational activity were two toddlers and their two mothers. Educational materials are presented to mothers through a website containing structured explanations, definitions, types, benefits, the four pillars of nutrition, messages, and factors influencing balanced nutrition. Toddlers are also provided with illustrated flashcards and simple text to facilitate understanding. Results: Balanced nutrition education using a website and flashcards successfully improved the knowledge of mothers and children aged 2–5 years. The website education for mothers resulted in pre-test scores of 30 for respondent 1 and 50 for respondent 2, followed by post-test scores of 90 for respondent 1 and 80 for respondent 2, and post-test scores of 90 for respondent 1 and 90 for respondent 2. Meanwhile, flashcard education for toddlers resulted in pre-test scores of 6 for respondent 1 and 7 for respondent 2, and post-test scores of 10 for respondent 1 and 12 for respondent 2. Conclusion: The website and flashcards proved effective in improving mothers' knowledge of balanced nutrition and the understanding of children aged two to five years. The intervention demonstrated not only significant improvements in scores but also post-intervention knowledge retention and increased child engagement in the learning process. Suggestion: Balanced nutrition education programs need to be implemented routinely and sustainably by expanding the number of participants and involving health cadres and village officials to strengthen local support and validate findings. These programs should be accompanied by regular evaluations to monitor knowledge retention and adapt materials. They should also include the development of interactive content such as video tutorials and online quizzes to enrich learning methods and increase participant interest. Keywords: Early childhood; Flashcards; Nutrition education; Website media Pendahuluan: Kesehatan anak pada usia 2-5 tahun sangat menentukan proses tumbuh kembang dan daya tahan tubuh, salah satu indikator penting kesehatan anak ialah status gizinya. Di Indonesia, masalah gizi kurang masih menjadi tantangan dengan prevalensi pada anak usia 2-5 tahun mencapai 17.1% pada tahun 2022, jika tidak ditangani dapat menimbulkan risiko anak mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan kemampuan kognitif dan mudah terserang penyakit.  Tujuan: Meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya gizi seimbang pada anak usia 2–5 tahun dengan menggunakan media website dan flashcard. Metode: Kegiatan edukasi dilaksanakan pada hari rabu, 02 juli 2025 pada pukul 13.00-14.00 WIB berlokasi di Desa Sukoanyar RW 04/RT 04. Kegiatan ini merupakan edukasi dengan desain penelitian case study dengan teknik one group pre-test dan post-test. Menggunakan metode ceramah, media website dan juga flashcard. Responden dalam edukasi ini adalah 2 balita dan 2 ibunya. Materi edukasi disajikan kepada ibu melalui situs web yang memuat penjelasan terstruktur, penyampaian definisi, jenis, manfaat, prinsip empat pilar, pesan, dan faktor yang memengaruhi gizi seimbang. Penjelasan kepada balita dengan media flashcard bergambar berteks sederhana untuk memudahkan pemahaman. Hasil: Edukasi gizi seimbang dengan media website, dan flashcard berhasil meningkatkan pengetahuan ibu dan anak usia 2–5 tahun. Menunjukkan bahwa edukasi dengan menggunakan website pada ibu mendapatkan skor pre-test responden 1 adalah 30 dan responden 2 adalah 50, selanjutnya untuk skor post-test1 responden 1 adalah 90 dan responden 2 adalah 80, kemudian untuk skor post-test2 responden 1 adalah 90 dan responden 2 adalah 90. Sedangkan untuk edukasi dengan menggunakan flashcard pada balita mendapatkan poin pre-test responden 1 adalah 6 dan responden 2 adalah 7, selanjutnya untuk poin post-test responden 1 adalah 10 dan responden 2 adalah 12. Simpulan: Media website dan flashcard terbukti efektif meningkatkan pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang serta pemahaman anak usia dua hingga lima tahun. Intervensi menunjukkan tidak hanya peningkatan skor yang signifikan, tetapi juga retensi pengetahuan pasca intervensi dan peningkatan keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Saran: Program edukasi gizi seimbang perlu dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan dengan memperluas jumlah peserta serta melibatkan kader kesehatan dan perangkat desa untuk memperkuat dukungan lokal dan memvalidasi temuan, disertai evaluasi berkala guna memantau retensi pengetahuan sekaligus menyesuaikan materi, serta pengembangan konten interaktif seperti video tutorial dan kuis online untuk memperkaya metode pembelajaran dan meningkatkan minat peserta.
Pendampingan dalam edukasi pertolongan pertama kecelakaan pada remaja tanggap darurat Rohmah, Anis Ika Nur; Al Husna, Chairul Huda; Maulana, Muhammad Hafiz; Putri, Maharani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1388

Abstract

Background: The death rate from accidents continues to rise worldwide. Accidents can occur due to falls, injuries, driving, and other factors, which can be detrimental and even result in loss of life. Muhammadiyah 1 Vocational School, Malang, is located on the main road in Galunggung, where traffic accidents are common. According to the school, accident victims are often brought to school, even though students lack the skills to manage emergencies. This emergency competency is also required during pre-clinical practice. To address this issue, information regarding first aid, in accordance with standardized guidelines, is provided to prevent the severity of injuries and reduce the morbidity and mortality caused by accidents, both within the school itself and the surrounding community. Purpose: To provide training and mentoring on first aid in an effort to develop a cadre of youth emergency responders. Method: This community service activity took the form of training on August 24-25, 2021. Participants were 20 tenth and eleventh grade nursing students from SMK Muhammadiyah 1 Malang, projected to become pioneering student health unit (UKS) cadres. This activity was carried out in two stages: training and first aid assistance. The material was delivered using lecture and discussion methods combined with images, animations, and displays, making the material relatively quick and easy to understand. The material provided covered various types of injuries that frequently occur in school and traffic accidents, such as lifting, moving, bleeding control, splinting, and transportation. Results: There was an increase in the knowledge and skills of young emergency responders in providing first aid in accidents. This was evidenced by an increase from an average pre-test score of 43 to an average post-test score of 67.3. The skills test was conducted in small groups, where participants were individually assessed by facilitators. The average skill test score was 81. While knowledge still requires further support, participants' skills after the training were in the good category. This community service activity also produced a first aid training module covering types of injuries, lifting, moving, bleeding control, splinting, and transportation. Conclusion: School-based first aid training provided to young people proved effective in improving participants' knowledge and skills. The training, which combined theory and hands-on practice, significantly contributed to participants' acquisition of first aid knowledge, as an effort to build a culture of preparedness and safety at the community level. Suggestion: Youth training on first aid and emergency preparedness should be conducted periodically and routinely across a wider audience to create a generation of young adults equipped with the knowledge to respond to emergencies in their social environments. Keywords: Emergency response; First aid; Training and mentoring; Youth Pendahuluan: Angka kematian akibat kecelakaan terus meningkat di seluruh dunia. Kecelakaan bisa terjadi karena terjatuh, cedera, berkendara dan lain-lain yang bisa merugikan bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. SMK Muhammadiyah 1 Malang terletak di depan jalan besar Galunggung yang sering terjadi kecelakaan lalu lintas. Menurut keterangan sekolah, korban kecelakaan seringkali dibawa ke sekolah, padahal siswanya juga belum memiliki skil untuk penatalaksanaan kegawatdaruratan. Kompetensi gawat darurat ini juga diperlukan saat siswa praktik pra klinik. Dari permasalahan tersebut dilaksanakan memberikan informasi yang sesuai pedoman terstandar mengenai pertolongan pertama pada injuri, sehingga keparahan injuri dapat dicegah dan mengurangi angka kesakitan yang disebabkan oleh kecelakaan baik dari dalam sekolah sendiri maupun lingkungan sekitar. Tujuan: Memberikan pelatihan dan pendampingan tentang pertolongan pertama dalam upaya pembentukan kader remaja tanggap darurat. Metode: Kegiatan pengabdian ini berupa pelatihan pada tanggal 24-25 Agustus 2021. Pesertanya adalah 20 siswa/siswi kelas X dan XI jurusan keperawatan SMK Muhammadiyah 1 Malang yang diproyeksikan sebagai perintis siswa kader UKS. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu melaksanakan pelatihan dan pendampingan pertolongan pertama pada kecelakaan. Penyampaian materi dengan metode ceramah dan diskusi yang dikombinasikan dengan gambar-gambar, animasi dan display sehingga materi yang disampaikan relatif lebih cepat dan mudah dimengerti. Materi yang diberikan meliputi: macam-macam atau beberapa jenis cidera yang sering dan umum terjadi pada kecelakaan di sekolah dan lalu lintas seperti tentang lifting moving, kontrol perdarahan, balut bidai, dan transportasi. Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan dan skil remaja tanggap darurat dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan  dari skor rata-rata pre-test 43, menjadi rata-rata skor post-test 67.3. Skill test dilaksanakan di stase-stase kecil dimana peserta diuji kemampuannya secara individu oleh fasilitator. Nilai rata-rata skill test adalah 81. Kemampuan pengetahuan masih memerlukan dukungan, ketrampilan peserta setelah pelatihan dalam kategori baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga menghasilkan modul pelatihan pertolongan pertama kecelakaan yang meliputi macam cidera, lifting moving, kontrol perdarahan, balut bidai, dan transportasi. Simpulan: Pelatihan pertolongan pertama berbasis sekolah yang diberikan kepada remaja terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Pelatihan dengan kombinasi teori dan praktik langsung memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi peserta dalam menerima pengetahuan tentang pertolongan pertama sebagai upaya membangun budaya kesiapsiagaan dan keselamatan di tingkat komunitas. Saran: Kegiatan pelatihan pada remaja tentang pertolongan pertama dan kesiapsiagaan kegawatdaruratan sebaiknya dilakukan secara berkala dan rutin kepada lingkup yang lebih luas sehingga akan mendapatkan generasi muda setingkat remaja yang meiliki pengetahuan dalam menghadapi kejadian tanggap darurat di lingkungan sosial masyarakat.
Pendidikan promosi kesehatan tentang kejadian diare di Puskesmas Kecamatan Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung Rifaie, Mahda Rizka Faer; Zainaro, M. Arifki; Gunawan, M. Ricko
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1392

Abstract

Background: Diarrhea in children is a leading cause of death, mostly due to infection. A child is categorized as having diarrhea if the volume of stool exceeds 10 ml/kg/day. The prevalence of diarrhea in children reaches 7.4%. In Bandar Lampung City, 5.754 cases of diarrhea in children were recorded. Of the three sub-districts in Tanjung Karang, Tanjung Karang Pusat District ranked first with 261 cases of diarrhea in children in 2024. This situation indicates the need for effective health promotion efforts to increase public knowledge regarding diarrhea prevention and treatment. Purpose: To increase knowledge about diarrhea incidence through health promotion media using leaflets and community health education programs (CHEP). Method: This study employed a quantitative design with a Paired Sample T-Test approach. The study population consisted of respondents in Tanjung Karang Pusat District. Most respondents were aged 31–40 years and had a senior high school education level. Knowledge levels were measured before and after the health promotion intervention using leaflets and community health education programs (CHEP).. Results: This activity was conducted on June 20, 2025, in the Tanjung Karang Pusat District Health Center, Bandar Lampung City. Participants were 30 parents with toddlers in the Tanjung Karang Pusat District Health Center's work area. Inclusion criteria were those who were willing to participate, had toddler-aged children, and were able to read. The instruments used were a questionnaire to measure respondents' knowledge and leaflets as reading materials during the presentation. The activity was conducted using a lecture method and provided instructions using leaflets. Measurement of the effectiveness of health education through health promotion media on parents' knowledge about diarrhea in children was conducted before and after the outreach activity. Results: The respondents' pre-test score averaged 64.30 with a standard deviation of 9.9 within a range of 50-80, with a 95% CI for Mean of 60.58-68.02. The post-test score averaged 83.67 with a standard deviation of 9.6 within a range of 70-100, with a 95% CI for Mean of 80.07-68.02. Conclusion: Health education through health promotion media in the form of leaflets and outreach programs (OPU) significantly improved parents' knowledge about diarrhea, prevention, and post-diarrheal care in children. Suggestion: It is hoped that health workers at community health centers (Puskesmas) will adopt media-based health education methods such as leaflets, community health education programs (CHEP), and interactive digital promotional methods on a regular basis to reach a wider audience. Keywords: Community health center; Diarrhea; Health education promotion; Leaflets Pendahuluan: Diare pada anak merupakan salah satu penyebab utama kematian yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi. Seorang anak dikategorikan mengalami diare apabila volume buang air besar lebih dari 10 ml/kg/hari. Prevalensi diare pada anak mencapai 7.4%. Di Kota Bandar Lampung, tercatat 5.754 kasus diare pada anak. Dari tiga kecamatan di Tanjung Karang, Kecamatan Tanjung Karang Pusat menduduki peringkat pertama dengan jumlah 261 kasus diare pada anak pada tahun 2024. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya promosi kesehatan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan dan penanganan diare. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang kejadian diare dengan media promosi kesehatan menggunakan leaflet dan satuan acara penyuluhan (SAP). Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2025 di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung. Pesertanya adalah 30 orang tua yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung. Kriteria inklusi adalah mereka yang bersedia menjadi responden, memiliki anak usia balita, dan mampu membaca. Instrumen yang digunakan adalah berupa lembar kuesioner sebagai alat ukur pengetahuan responden dan media leaflet sebagai media baca pada waktu penyampaian materi. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan memberikan petunjuk dengan media leaflet. Pengukuran efektivitas pendidikan kesehatan melalui media promosi kesehatan terhadap pengetahuan orang tua tentang diare pada anak dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan penyuluhan. Hasil: Menunjukkan bahwa skor pre-test responden mendapatkan mean 64.30 dengan standar deviasi 9.9 dalam rentang 50-80 pada nilai CI for Mean(95%)=60.58-68.02, sedangkan skor post-test responden mendapatkan mean 83.67 dengan standar deviasi 9.6 dalam rentang 70-100 pada nilai CI for Mean(95%)=80.07-68.02. Simpulan: Pendidikan kesehatan melalui media promosi kesehatan berupa leaflet dan satuan acara penyuluhan (SAP) secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan orang tua tentang kejadian diare, pencegahan dan penangan pasca kejadian diare pada anak. Saran: Diharapkan tenaga kesehatan di puskesmas dapat mengadopsi metode pendidikan kesehatan berbasis media promosi seperti leaflet, satuan acara penyuluhan (SAP) dan metode promosi digital yang interaktif secara rutin agar dapat menjangkau kelompok yang lebih luas.
Perumusan dokumentasi keperawatan berbasis pedoman SDKI, SLKI dan SIKI di IGD RS tipe B Kota Malang Wahyuningsih, Indri; Anggraini, Ika Rizki
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i6.1401

Abstract

Background: Nursing documentation serves as evidence of responsibility and legal protection for nurses in carrying out their duties. This documentation serves as an authentic record of the implementation of professional nursing care and can therefore be used as a basis for accountability for all actions taken by nurses. Should legal issues arise related to the nursing profession, complete and accurate documentation can serve as valid evidence in court. However, inadequate nursing documentation remains an internationally recognized problem in healthcare. In emergency nursing, which requires a fast-paced, high-pressure work environment that can determine the life or death of a patient in a matter of minutes, nurses are required to possess high competency to carry out the nursing process skillfully, precisely, and accurately. In addition to providing immediate action, emergency nurses are also required to create complete, accurate, and legally compliant nursing records. Purpose: To formulate nursing documentation based on the Indonesian Nursing Diagnosis Standards (INDS), the Indonesian Nursing Outcome Standards (INOS), and the Indonesian Nursing Intervention Standards (INIS) in the emergency department (ER). Method: This community service activity began in December 2024, focusing on developing nursing documentation in accordance with the INDS, INOS and INIS standards in the Emergency Room. The process was carried out through collaboration between the community service team, emergency room nurses, and nursing students. This activity included observation and subsequent discussion of the systematics and documentation models applied in the emergency room. The next stage included a lecture presentation to explain the documentation model and create a nursing documentation form template, coordination with emergency room nurses, and designing an initial nursing record format appropriate to the needs of emergency services. Results: The nursing documentation used was a mixture of manual and electronic formats, did not fully adhere to the INDS, INOS and INIS, and contained irregularities in the writing of nursing documentation. The community service team, along with partners, successfully identified the 10 most frequently encountered medical diagnoses in the emergency room at UMM Hospital and used these as the basis for developing a standardized nursing documentation form that integrates elements of the INDS, INOS and INIS. Conclusion: The community service program ran well and had a positive impact on improving nurses' knowledge in applying and documenting the INDS, INOS and INIS guidelines in the emergency department (ER). Suggestion: Future activities can be more applicable and conducted sustainably. Sustainable mentoring activities in preparing nursing documentation based on the INDS, INOS and INIS can be integrated with the Hospital Management Information System (MIS). Keywords: Documentation; Emergency department; INDS; INIS; INOS; Nursing process Pendahuluan: Dokumentasi keperawatan berfungsi sebagai bukti tanggung jawab dan perlindungan hukum bagi perawat dalam menjalankan tugasnya. Dokumentasi ini merupakan catatan autentik dari pelaksanaan asuhan keperawatan profesional, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertanggungjawaban atas seluruh tindakan yang dilakukan perawat. Apabila terjadi masalah hukum terkait profesi keperawatan, dokumentasi yang lengkap dan akurat dapat menjadi bukti yang sah di pengadilan. Namun, dokumentasi keperawatan yang kurang memadai masih menjadi masalah yang diakui secara internasional pada layanan kesehatan. Pada keperawatan gawat darurat yang memiliki lingkungan kerja cepat, penuh tekanan, dan dapat menentukan hidup-matinya pasien dalam hitungan menit, perawat dituntut memiliki kompetensi tinggi untuk melaksanakan proses keperawatan secara terampil, tepat, dan akurat. Selain memberikan tindakan segera, perawat gawat darurat juga diwajibkan membuat catatan keperawatan yang lengkap, tepat, dan sesuai ketentuan hukum. Tujuan: Merumuskan dokumentasi keperawatan berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) di instalasi gawat darurat (IGD). Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dimulai pada bulan Desember 2024 dengan fokus pengembangan dokumentasi keperawatan sesuai standar SDKI, SLKI, dan SIKI di IGD. Proses dilaksanakan melalui kolaborasi antara tim pengabdian, perawat IGD, dan mahasiswa keperawatan. Dalam kegiatan ini adalah melakukan observasi dan selanjutnya menelaah dengan berdiskusi mengenai terhadap sistematika dan model dokumentasi yang telah di aplikasikan di IGD. Tahap berikutnya adalah melakukan presentasi dengan metode ceramah untuk memaparkan secara sederhana model pendokumentasian dan pembuatan template formulir dokumentasi keperawatan, koordinasi dengan perawat IGD, dan perancangan format awal catatan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan layanan gawat darurat. Hasil: Menunjukkan bahwa dokumentasi keperawatan yang digunakan masih bersifat campuran antara format manual dan elektronik, belum sepenuhnya mengacu pada SDKI, SLKI, dan SIKI serta terdapat ketidakteraturan dalam penulisan dokumentasi keperawatan. Tim pengabdian bersama mitra berhasil mengidentifikasi 10 diagnosis medis yang paling sering ditemukan di IGD RS UMM dan menjadikannya dasar penyusunan formulir dokumentasi keperawatan terstandar yang mengintegrasikan elemen SDKI, SLKI, dan SIKI. Simpulan: Program pengabdian masyarakat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan perawat dalam mengaplikasikan dan melakukan dokumentasi menggunakan pedoman SDKI, SLKI dan SIKI di instalasi gawat darurat (IGD). Saran: Pelaksanaan kegiatan selanjutnya bisa lebih aplikatif dan dilakukan secara berkesinambungan. Keberlanjutan kegiatan pendampingan dalam penyusunan dokumentasi keperawatan berbasis SDKI, SLKI dan SIKI dapat diintegrasikan dengan SIM RS.
Edukasi latihan kombinasi pliometrik dan peregangan terisolasi aktif untuk meningkatkan fleksibilitas otot tubuh Raminda, Santri; Fadhail, Maulana Ahsan; Aliun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Zulfikar, Zulfikar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.997

Abstract

Background: Flexibility is an important component of daily activities. Physical activity, including movements involving jumping, can stimulate the brain and increase blood flow to the brain, which in turn can support cognitive function and help slow memory decline. Active and repetitive muscle stretching for short durations, while plyometrics involve explosive movements to increase strength and agility. Physical exercises such as plyometrics can increase circulating BDNF concentrations, thereby inducing brain plasticity and cognitive enhancement. Physical exercise may support the release of neurotransmitters and neurotrophins in an activity-dependent manner. Increasing flexibility will reduce pain, and increase range of motion without causing excessive strain or injury. Purpose: Providing knowledge about maintaining flexibility of body muscle movement with a combination of plyometric exercises and active isolation stretching. Method: This activity was carried out at the Siger Physio Way Halim Bandar Lampung Clinic in January 2025. With quota sampling, 22 teenagers were selected as respondents. Participants were given instructions by instructors in doing the exercises and then carried out direct practice. Active isolated stretching actions are by holding each stretching movement for 2-3 seconds and repeated up to 8 times, then performing plyometric movements in the form of jumping in place, box jumps and high jumps. Results: Found that the majority of respondents were aged 18-22 years, namely 11 (50.0%). While the profession of the type of sport pursued was football as many as 8 (36.4%), Badminton as many as 4 (18.2%), Basketball as many as 6 (27.2%), and athletics as many as 4 (18.2%). Getting the respondent's jump distance in the pre-test with a mean value of 34.2 cm and a standard deviation of ± 5.66, while in the post-test with a mean value of 37.4 and a standard deviation of ± 4.92. Conclusion: Providing education and training in combination of active isolated stretching with plyometrics is quite effective and can improve understanding in maintaining body muscle flexibility and avoiding the risk of injury. Suggestion: It is expected to conduct further research and develop research with more specific factors to provide knowledge of the importance of carrying out muscle stretching actions as an effort to maintain flexibility and avoid the risk of injury. Keywords: Combination exercise; Flexibility; Muscle stretching; Risk of injury Pendahuluan: Fleksibilitas merupakan komponen yang penting dalam beraktivitas sehari-hari. Aktivitas fisik, termasuk gerakan yang melibatkan melompat, dapat merangsang otak dan meningkatkan aliran darah ke otak, yang pada gilirannya dapat mendukung fungsi kognitif dan membantu memperlambat penurunan daya ingat. Peregangan otot secara aktif dan berulang dengan durasi singkat, sementara pliometrik melibatkan gerakan eksplosif untuk meningkatkan kekuatan dan kelincahan. Latihan fisik seperti plyometric dapat meningkatkan konsentrasi BDNF dalam sirkulasi, sehingga menginduksi plastisitas otak dan peningkatan kognitif. Latihan fisik mungkin mendukung pelepasan neurotransmiter dan neurotropin dengan cara yang bergantung pada aktivitas. Dengan meningkatnya fleksibilitas akan mengurangi nyeri, dan meningkatkan jangkauan gerak tanpa menyebabkan ketegangan berlebihan atau cedera. Tujuan: Memberikan pengetahuan tentang menjaga fleksibilitas gerak otot tubuh dengan latihan kombinasi pliometrik dan peregangan isolasi aktif. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di Klinik Siger Fisio Way Halim Bandar lampung pada bulan Januari 2025. Dengan quota sampling mendapatkan 22 remaja yang menjadi responden. Para peserta diberikan petunjuk dengan instruktur dalam melakukan latihan dan selanjutnya melakukan praktik langsung. Tindakan peregangan terisolasi aktif yaitu dengan menahan setiap gerakan peregangan selama 2-3 detik dan diulangi hingga 8 kali, selanjutnya melakukan gerakan pliometrik berupa lompat di tempat, lompat kotak dan lompat tinggi. Hasil: Mendapatkan bahwa usia responden sebagian besar di usia 18 – 22 tahun yaitu sebanyak 11(50.0%). Sedangkan profesi jenis olah raga yang ditekuni adalah sepak bola sebanyak 8 (36.4%), Bulutangkis sebanyak 4(18.2%), Bola basket sebanyak 6(27.2%), dan atletik sebanyak 4(18.2%). Mendapatkan jarak lompatan responden pada pre-test dengan nilai mean 34.2 cm dan standar deviasi ±5.66, sedangkan pada post-test dengan nilai mean 37.4 dan standar deviasi ±4.92. Simpulan: Pemberian edukasi dan latihan kombinasi peregangan terisolasi aktif dengan pliometrik cukup efektif dan dapat meningkatkan pemahaman dalam menjaga fleksibilitas otot tubuh dan menghindari risiko cedera. Saran: Diharapkan untuk dilakukan penelitian lanjutan dan mengembangkan penelitian dengan faktor yang lebih spesifik untuk memberikan pengetahuan pentingnya melakukan tindakan peregangan otot sebagai upaya menjaga fleksibilitas dan menghindari risiko cedera. 
Evaluasi peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA di SMK Gelora Jaya Nusantara Agustina, Dewi; Salsabila, Salsabila; Salsabilah, Khairani; Fadillah, Naya Kurnia; Najwa, Aqila; Nasution, Putri Suci Khoirunnisa; Nasution, Riri Andriani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.998

Abstract

Background: HIV/AIDS remains a global health problem in Indonesia, with major barriers being misunderstandings, social stigma, and ineffective educational approaches. The level of knowledge of adolescents about HIV/AIDS is sufficient, but there are still many misconceptions and communication barriers that hinder open and effective education. HIV cases in Indonesia continue to increase, especially in the productive age group, including adolescents. It is essential to provide interactive, contextual, and stigma-free health education to improve adolescents' understanding of HIV/AIDS. Purpose: To evaluate the level of knowledge about HIV/AIDS and attitudes towards PLWHA among vocational high school students. Method: This activity uses a quantitative descriptive survey design that aims to assess the level of understanding and attitudes of students regarding HIV/AIDS at SMK Gelora Jaya Nusantara on January 9, 2025. The population is all students at SMK Gelora Jaya Nusantara, using purposive sampling based on certain criteria to obtain 43 students who were selected as respondents. Data collection used a closed questionnaire that was given directly to respondents. This questionnaire contains questions that measure students' knowledge, attitudes, and views regarding HIV/AIDS. Results: Obtaining data on respondents' knowledge and attitudes about HIV/AIDS transmission due to unsafe sexual intercourse, most of them strongly agree, namely 27 (62.8%), how to avoid HIV/AIDS transmission, most of them strongly agree, namely 23 (53.5%), the comfort of being friends with PLWHA has an opinion of agreeing as many as 13 (30.2%) and disagreeing 13 (30.2%). The majority of respondents strongly agree that HIV/AIDS can attack anyone, namely 27 (62.8%) and about the comfort of being friends with PLWHA based on gender, it shows that most male respondents agree as many as 8 (33.3%), while female respondents disagree and strongly disagree, each of which is 6 (31.6%). Conclusion: The level of understanding and basic knowledge of adolescents in Indonesia regarding HIV/AIDS is in a fairly good position, where most survey participants understand the definition, how it is transmitted, and preventive measures. There are psychosocial and cultural barriers that hinder open dialogue and the effectiveness of education, such as discomfort when discussing the issue and the existence of social stigma against people with HIV/AIDS. Formal information education does not have enough influence in increasing understanding of HIV/AIDS and fostering social empathy. Suggestion: More interactive, relevant, and stigma-free methods are needed so that adolescent knowledge about HIV/AIDS can increase significantly and reduce stigma and discrimination. It is hoped that the findings of this study will be the basis for developing a more effective educational approach that is in accordance with the social context of adolescents in schools and communities. Keywords: Adolescent education; HIV/AIDS; HIV knowledge; Stigma Pendahuluan: HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan global di Indonesia, dengan hambatan utama berupa kesalahpahaman, stigma sosial, dan pendekatan pendidikan yang kurang efektif. Tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS cukup, namun masih banyak miskonsepsi dan hambatan komunikasi yang menghalangi pendidikan yang terbuka dan efektif. Kasus HIV di Indonesia terus meningkat, terutama di kelompok usia produktif, termasuk remaja. Sangat penting untuk memberikan pendidikan kesehatan yang interaktif, kontekstual, dan bebas stigma untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang HIV/AIDS Tujuan: Untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA pada siswa/siswi SMK. Metode: Kegiatan ini menggunakan desain survei deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menilai tingkat pemahaman dan sikap para siswa mengenai HIV/AIDS di SMK Gelora Jaya Nusantara pada tanggal 9 Januari 2025. Populasinya adalah semua siswa/siswi di SMK Gelora Jaya Nusantara, dengan menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu mendapatkan 43 siswa/siswi yang dipilih menjadi responden.  Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang diberikan secara langsung kepada responden. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengukur pengetahuan, sikap, dan pandangan siswa/siswi mengenai HIV/AIDS. Hasil: Mendapatkan data pengetahuan dan sikap responden tentang penularan HIV/AIDS karena hubungan seksual tidak aman sebagian besar adalah sangat setuju yaitu sebanyak 27 (62.8%), cara menghindari penularan HIV/AIDS sebagian besar adalah sangat setuju yaitu sebanyak 23 (53.5%), kenyamanan berteman dengan ODHA memiliki pendapat setuju sebanyak 13 (30.2%) dan tidak setuju 13 (30.2%). Mayoritas responden berpendapat sangat setuju bahwa HIV/AIDS dapat menyerang siapa saja yaitu sebanyak 27 (62.8%) dan  tentang kenyamanan berteman dengan ODHA berdasarkan jenis kelamin menunjukkan sebagian besar responden laki-laki berpendapat setuju sebanyak 8 (33.3%), sedangkan responden perempuan berpendapat tidak setuju dan sangat tidak setuju yang masing-masing sebanyak 6 (31.6%). Simpulan: Tingkat pemahaman dan pengetahuan dasar remaja di Indonesia mengenai HIV/AIDS berada pada posisi yang cukup baik, dimana sebagian besar peserta survei memahami definisi, cara penularan, dan langkah pencegahannya. Terdapat hambatan secara psikososial dan kultural yang menghalangi dialog terbuka dan efektivitas pendidikan, seperti ketidaknyamanan saat membahas isu tersebut dan adanya stigma sosial terhadap orang dengan HIV/AIDS. Pendidikan berupa informasi secara formal tidak memiliki cukup pengaruh dalam peningkatan pemahaman tentang HIV/AIDS dan menumbuhkan empati sosial. Saran: Diperlukan metode yang lebih interaktif, relevan, dan bebas dari stigma agar pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dapat meningkat secara signifikan dan mampu menurunkan stigma serta diskriminasi. Diharapkan, temuan dari penelitian ini akan menjadi landasan untuk pengembangan pendekatan pendidikan yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks sosial remaja di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Kegiatan deteksi dini penyakit kardiovaskuler melalui pemeriksaan 3D human disease Astuti, Novia Dwi; Istiana, Fuji; Iswidowati , Irma Tri; Setyowati , Ayu Wulandari; Sasmito, Priyo
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.999

Abstract

Background: Cardiovascular disease is a leading cause of death in Indonesia, making early detection crucial for reducing morbidity and mortality. Purpose: To detect potential cardiovascular disorders non-invasively and quickly. Methods: A health screening using 3D Human Disease technology was conducted during a plenary session of the Dharma Wanita Persatuan (DWP) of the Tuban Regency Regional Disaster Management Agency (BPBD) involving 25 members and 10 BPBD staff. The method used included a 3D Human Disease examination, which utilizes a laptop to detect the entire human body, providing immediate analysis of the condition of organs and the circulatory system. This was followed by a brief interview regarding lifestyle and interpretation of the results. Results: Some participants showed early signs of cardiovascular disorders, such as hypertension and metabolic disorders, as indicated by the device's interpretation. Most of those diagnosed with cardiovascular disorders were members over 40 years of age. Conclusion: This activity demonstrates that a technology-based preventive approach can increase health awareness and become part of a routine health screening program within women's organizations. Suggestion: This activity demonstrates the need for further examinations by medical personnel and increased health education for Dharma Wanita members. Keywords: Cardiovascular disease; Early detection; 3D Human Disease Pendahuluan: Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, sehingga upaya deteksi dini menjadi sangat penting dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Tujuan: Untuk mendeteksi potensi gangguan kardiovaskuler secara non-invasif dan cepat. Metode: Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan menggunakan teknologi 3D Human Disease dalam kegiatan pleno Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban sebanyak 25 anggota dan 10 staf BPBD Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan menggunakan alat 3D Human Disease yang menggunakan perantara lapotop ini mampu mendeteksi seluruh tubuh manusia dengan hasil langsung menganalisis kondisi organ dan sistem peredaran darah, dilanjutkan dengan wawancara singkat terkait gaya hidup dan interpretasi hasil pemeriksaan. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian peserta menunjukkan indikasi awal gangguan kardiovaskuler, seperti hipertensi dan gangguan metabolik yang ditunjukkan di interpretasi alat tersebut, dengan sebagian besar yang terdeteksi gangguan kardiovaskuler adalah anggota dengan usia di atas 40 tahun. Simpulan: Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan preventif berbasis teknologi dapat meningkatkan kesadaran kesehatan dan menjadi bagian dari program rutin pemeriksaan kesehatan di lingkungan organisasi perempuan. Saran: Kegiatan ini adalah perlunya pemeriksaan lanjutan oleh tenaga medis serta peningkatan edukasi kesehatan bagi anggota Dharma Wanita.
Pengaruh diaphragmatic breathing exercises terhadap saturasi oksigen (SpO2) pada pasien tuberculosis Sutrisno, Sutrisno; Herawati, Vitri Dyah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.1009

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium Tuberculosis. The infection that occurs can cause symptoms of shortness of breath due to the part of the lung that is attacked by the disease collapsing. Symptoms of shortness of breath that occur can occur due to decreased oxygen saturation in the blood. One intervention to reduce shortness of breath and increase oxygen saturation in TB patients is diaphragmatic breathing exercises. This action is related to the diaphragm muscle which is the partition between the chest and stomach which experiences expansion or tension when air enters the lungs.. This exercise can increase the strength of the diaphragm muscle which is the main muscle of respiration. Purpose: To determine the effect of diaphragmatic breathing exercises on oxygen saturation in TB patients. Method: Pre-experimental quantitative research with one group pretest and posttest design. The population in this study were outpatients at the Ngawi Health Center. With the quota sampling technique, 26 TB patients were selected as respondents. The intervention was carried out in the form of diaphragmatic breathing exercises. The accumulation of data was tested for normality with the Shapiro-Wilk test and analyzed with the Wilcoxon-rank test which looked at the effect of diaphragmatic breathing exercises on oxygen saturation (SpO2). Results: The average age of respondents was 43.6 years with an age range of 19-65 years and most of the respondents were in the age range of 19-44 years, namely 12 (46.2%). The majority of respondents were male, namely 16 people (61.5%) and most respondents had an elementary school education level, namely 9 people (34.6%). Based on the Wilcoxon rank test on the pre-test data against the post-test, the oxygen saturation value (SpO2) was 2.66, IK95% = 91.04-93.45 and pValue = 0.001. Conclusion: Based on the research conducted, it shows that with regular diaphragmatic breathing exercises will help TB sufferers have better respiratory muscles so that indirectly it can improve lung performance. Better lung performance will reduce complaints of shortness of breath which is indicated by one of them by increasing oxygen saturation. Keywords: Diaphragmatic breathing exercises; Oxygen saturation; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TBC) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Infeksi yang terjadi dapat mengakibatkan gejala sesak akibat bagian paru yang terserang penyakit mengalami kolaps. Gejala sesak napas yang terjadi bisa terjadi karena penurunan saturasi oksigen pada darah. Salah satu intervensi untuk mengurangi sesak napas dan meningkatkan saturasi oksigen pasien TBC adalah dengan diaphragmatic breathing exercises. Tindakan ini berkaitan dengan otot diafragma yang menjadi sekat pemisah antara dada dan perut yang mengalami  pengembangan atau penegangan saat udara masuk ke paru-paru. Latihan ini dapat meningkatkan kekuatan otot diafragma yang merupakan otot utama pernapasan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh latihan pernafasan diafragma (diaphragmatic breathing exercises) terhadap saturasi oksigen pada penderita TBC. Metode: Penelitian kuantitatif pre-eksperimental dengan one group pretest and posttest design. Populasi pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan di Puskesmas Ngawi. Dengan teknik quota sampling mendapatkan 26 orang penderita TBC untuk menjadi responden. Intervensi dilakukan berupa latihan pernapasan diafragma (diaphragmatic breathing exercises). Akumulasi data di uji normalitas dengan uji Saphiro-wilk dan di analisa dengan uji Wilcoxon-rank yang melihat pengaruh latihan pernapasan diafragma (diaphragmatic breathing exercises) terhadap saturasi oksigen (SpO2). Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 43.6 tahun dengan rentang usia 19 – 65 tahun dan sebagian besar usia responden berada di rentang usia19-44 tahun yaitu sebanyak 12 (46.2%). Mayoritas jenis kelamin responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 16 orang (61.5%) dan sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 9 orang (34.6%). Berdasarkan uji Wilcoxon rank pada data pre-test terhadap post-test mendapatkan nilai saturasi oksigen (SpO2) sebesar 2.66, IK95%=91.04-93.45 dan pValue=0.001. Simpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa dengan latihan pernapasan diafragma secara rutin akan membantu penderita TBC memiliki otot pernapasan yang lebih baik sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerja paru-paru. Kinerja paru-paru yang lebih baik akan mengurangi keluhan sesak napas yang ditunjukan salah satunya dengan peningkatan saturasi oksigen.
Edukasi kesehatan tentang diet dan keseimbangan gizi pada ibu hamil Susanti , Henny Dwi; Siti Nur Laily Afriyanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.1048

Abstract

Background: Pregnancy is a very important period in a woman's life. During this period, a woman experiences many changes that affect nutritional needs. During this period, attention to diet becomes very important to support maternal health and fetal development. Inadequate knowledge and dietary practices among pregnant women can cause various risks of complications, so it is necessary to provide health education about dietary practices and knowledge about nutritional balance to maintain the health of the mother and her baby. Purpose: Providing knowledge and practice about diet and nutritional balance for pregnant women. Method: Community service activities in the form of providing health education in an effort to improve knowledge and practice of diet for pregnant women. The activity was carried out in Dusun Cokro, Sukoanyar Village, Pakis District, Malang Regency on April 28, 2025. The sample in this study was Mrs. I, 24 years old, G2P1A0 with a gestational age of 21 weeks. The media used were power points and the instrument was a questionnaire. At the evaluation stage, pregnant women took a post-test to measure the respondents' understanding after receiving health education and a review of the material that had been presented previously was carried out, to help them remember and understand the information that had been explained. Results: After health education was conducted, it was found that the level of knowledge and dietary practices of pregnant women increased with a value of 14 points in the pre-test to 16 points in the post-test, while the dietary practices of pregnant women with a value of 5 points in the pre-test to 10 points in the post-test. This shows that there is an increase in knowledge and dietary practices among pregnant women after being given health education. Conclusion: Providing health education about diet and nutritional balance in caring for pregnant women can improve their knowledge, understanding and practical actions. With increased knowledge, it also has a positive impact on the health of pregnant women and the growth of their fetuses. Suggestion: It is recommended that health education programs regarding dietary practices in pregnant women be carried out routinely and systematically, especially in primary health care facilities. Nurses and midwives need to be given adequate training to improve their ability to deliver educational materials effectively and communicatively. In addition to the individual approach, the implementation of group education sessions is also recommended to encourage interaction and sharing of experiences between pregnant women, so that it can strengthen understanding and motivation to implement healthy dietary practices. Keywords: Diet Knowledge; Diet Practice; Health education; Pregnant women Pendahuluan: Kehamilan adalah masa yang sangat penting dalam kehidupan seorang wanita. Selama periode ini, seorang wanita mengalami banyak perubahan yang mempengaruhi kebutuhan gizi. Selama masa ini, perhatian terhadap pola makan menjadi sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu dan perkembangan janin. Pengetahuan dan praktik diet yang tidak memadai di kalangan ibu hamil dapat menimbulkan berbagai macam risiko komplikasi, sehingga perlu diberikan pendidikan kesehatan tentang praktik diet dan pengetahuan tentang keseimbangan gizi untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan praktik tentang diet dan keseimbangan gizi pada ibu hamil. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemberian pendidikan kesehatan dalam upaya peningkatan pengetahuan dan praktik diet pada ibu hamil. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Cokro Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang pada tanggal 28 April 2025. Sampel dalam penelitian ini adalah Ny.I berusia 24 tahun, G2P1A0 dengan usia kehamilan 21 minggu. Media yang digunakan berupa  power point yang dan instrument berupa kuesioner. Pada tahapan evaluasi, ibu hamil mengerjakan post-test untuk mengukur pemahaman responden setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dan dilakukan review materi yang telah disampaikan sebelumnya, untuk membantu mereka mengingat dan memahami kembali informasi yang sudah dijelaskan. Hasil: Setelah dilakukan pendidikan kesehatan didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan dan praktik diet ibu hamil meningkat dengan nilai pada pre-test 14 poin menjadi 16 poin pada post-test, sedangkan praktik diet ibu hamil dengan nilai pada pre-test 5 poin menjadi 10 poin pada post-test. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan praktik diet dikalangan ibu hamil setelah diberikan pendidikan kesehatan. Simpulan: Memberikan pendidikan kesehatan tentang diet dan keseimbangan gizi dalam perawatan ibu hamil dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan tindakan praktiknya. mereka. Dengan meningkatnya pengetahuan juga memberikan dampak positif pada kesehatan ibu hamil dan pertumbuhan janinnya. Saran: Disarankan agar program pendidikan kesehatan mengenai praktik diet pada ibu hamil dilakukan secara rutin dan sistematis, khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Perawat dan bidan perlu diberikan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menyampaikan materi edukasi secara efektif dan komunikatif. Selain pendekatan individual, penerapan sesi edukasi kelompok juga dianjurkan guna mendorong interaksi dan berbagi pengalaman antar ibu hamil, sehingga dapat memperkuat pemahaman dan motivasi untuk menerapkan praktik diet yang sehat.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue