cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
livana.ph@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
livana.ph@gmail.com
Editorial Address
https://journal2.stikeskendal.ac.id/index.php/far/about/editorialTeam
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Farmasetis
ISSN : 22529721     EISSN : 25498126     DOI : https://doi.org/10.32583/far
Core Subject : Health, Education,
Jurnal farmasetis merupakan bagian integral dari jurnal yang diterbitkan oleh LPPM STIKES Kendal. Jurnal farmasetis berfokus pada topik teknologi farmasi, manajemen, farmasi sosial, obat tradisional, dan farmakologi yang mencakup 17 pilar meliputi: Pengelolaan resep, Swamedikasi, Manajemen pengelolaan resep, Manajemen rumah sakit, Manajemen apotek, Identifikasi dan determinasi tanaman obat, Standarisasi simplisia tanaman obat, Standarisasi ekstrak tanaman obat, Teknik ekstraksiTeknik isolasi dan pemurnian bahan aktif atau kandungan kimia tanaman obat, Identifikasi dan elusidasi bahan aktif atau bahan kandungan kimia tanaman obat, Semisintesis senyawa bahan bioaktif, Formulasi sediaan obat bahan alam dan studi farmasetiknya, Studi biovialibilitas sediaan obat bahan alam, Uji aktivitas preklinik obat bahan alam : secara in vitro dan in vivo, Uji toksisistas, uji teratogenik dan uji mutagenik, Uji Klinik. Penulis jurnal berasal dari tenaga kesehatan, dosen, mahasiswa, peneliti yang tertarik dalam bidang farmasi. Jurnal diterbitkan pertama kali sejak Juni tahun 2011, dan terbit dengan ISSN versi cetak pada Volume 2 No 1 Juni 2012 dan ISSN versi online pada Volume 6 No 1 Mei 2017. Jurnal farmasetis terbit 2 kali dalam setahun yaitu bulan Mei dan November.
Articles 139 Documents
Pengaruh Interaksi Obat dan ADR Antiretroviral dengan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Pasien HIV Nur, Lisa Febriana; Virginia, Dita Maria
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Farmasetis: Mei 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i2.2255

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan penyebaran HIV/AIDS tercepat di antara lima negara Asia Tenggara. Orang yang terinfeksi HIV saat ini ingin memulai pengobatan ARV tidak lebih dari tiga pil per hari di mana mereka biasanya meminumnya sekali sehari. Manajemen kepatuhan dan interaksi obat diperlukan untuk menjaga konsentrasi ARV untuk mencegah replikasi virus. Kepatuhan ARV di Indonesia masih di bawah 95%. Terapi antiretroviral harus seumur hidup tanpa henti karena sekali dihentikan, jika pasien berhenti minum obat, maka HIV akan bertambah jumlahnya. Oleh karena itu, kami meninjau dampak interaksi obat dan ADR ARV terhadap kepatuhan pengobatan. Tujuan penelitian Untuk mengetahui pengaruh interaksi obat dan adr antiretroviral dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien hiv. Metode penelitian Dilakukan dengan menggunakan pencarian Pubmed dan google scholar artikel dari tahun 2012 hingga 2022, dengan kata kunci sebagai berikut: HIV/AIDS, interaksi obat, efek samping obat, efek samping, kepatuhan, kepatuhan, ARV. Ada 23 makalah dari google scholar dan 18 makalah dari Pubmed disaring relevansinya dan dipertimbangkan untuk ditinjau lebih lanjut. Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2012 sampai tahun 2022 bahwa kepatuhan minum obat antiretroviral berpengaruh nyata pada pasien dengan penyakit penyerta. Efek samping obat timbul karena penggunaan obat lain bersamaan dengan obat antiretroviral. kepatuhan minum obat ARV lebih dari tiga tahun, 90% memiliki kepatuhan optimal. Penelitian di Malang menyatakan kepatuhan ODHA berada pada tingkat sedang yaitu 60%. Sementara di Papua, 10 perempuan pengidap HIV patuh minum obat dari 20 pasien perempuan pengidap HIV. Studi menunjukkan bahwa kemanjuran obat ARV pada pasien HIV secara signifikan mempengaruhi kepatuhan minum obat. Selain khasiat obat ARV, munculnya efek samping jangka panjang pada pasien HIV dengan hipertensi dan gagal ginjal kronis membuat angka kepatuhan minum obat ARV lebih tinggi 78% dibandingkan obat antihipertensi kronis yang mencapai 68%. Ketidakpatuhan juga dapat dipengaruhi oleh konsumsi alkohol, mariyuana, dan kokain.
Uji Fitokimia Ekstrak Etanol 96% dan Fraksi Air, Fraksi Kloroform serta Fraksi N-Hexana Rimpang Kunyit (Curcuma Longa L) Ramadhan, Muhamad Fauzi; Supriani, Supriani; Sari, Supriani, Wahyunita Yulia; Khotimah, Khusnul; Setyaningsih, Marriska
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Farmasetis: Mei 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i2.2258

Abstract

Kunyit (Curcuma longa L.) memiliki kandungan senyawa yaitu kurkumin dan minyak atsiri. Kunyit memiliki khasiat sebagai obat nyeri haid, penyakit kulit, infeksi parasite, peradangan rematik, gangguan saluran empedu dan gangguan pernafasan. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini untuk menguji kandungan fitokimia atau metabolit sekunder ekstrak etanol 96%, fraksi air, fraksi kloroform, dan fraksi n-heksana rimpang kunyit. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan perbandingan 1:10, dilakukan fraksinasi berdasarkan kepolarannya menggunakan pelarut air, kloroform, dan n-heksan. Hasil ekstraksi dan fraksinasi dilakukan pengujian fitokimia meliputi uji alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, steroid, tanin, glikosida, triterpenoid dan minyak atsiri. Hasil: Ekstrak etanol 96% dan fraksi kloroform mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, steroid, tanin, glikosida, triterpenoid dan minyak atsiri. Fraksi air mengandung flavonoid, polifenol, saponin, tanin, dan glikosida. Fraksi n-heksana menunjukan hasil positif kandungan metabolit sekunder alkaloid, steroid, terpenoid dan minyak atsiri. Diskusi: Penyebaran senyawa metabolit sekunder pdada tiap fraksi mengikuti kepolaran yang dimiliki pelarut, senyawa yang ditarik oleh n-hexana adalah senyawa non polar, kloroform dapat menarik semua senyawa karena sifatnya yang semi polar dan fraksi air menunjukan hasil positif pada senyawa metabolit sekunder yang bersifat polar.  
Pengaruh Usia dan Dosis Terhadap Efek Samping Penggunaan Metformin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan dan Rawat Inap Purwoko, Bambang; Chasanah, Uswatun
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Farmasetis: Mei 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i2.2261

Abstract

Pengelolaan Metformin adalah pilihan pertama untuk agen hipoglikemik oral dan sering dikaitkan dengan reaksi obat yang merugikan (ROM) karena efek samping gastrointestinal seperti diare, mual, muntah, dan perut kembung. Efek samping tersebut dapat dipengaruhi oleh usia, dosis, dan cara penggunaan metformin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor usia dan dosis terhadap efek samping metformin pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan menggunakan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dengan sampel sebanyak 96 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medis pasien dan wawancara dengan pasien. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden yang memiliki penyakit DMT2 tertinggi adalah pada jenis kelamin perempuan sebesar (55,21%), umur 56-65 tahun sebesar (42,71%), pendidikan SD sebesar (36,46%), dan pekerjaan IRT sebesar (38,54%). Analisis uji chi square tabel 2x2 digunakan untuk menghubungkan dua variabel. Variabel dari penelitian ini adalah usia, dosis, dan terjadinya efek samping penggunaan metformin. Hasil uji chi square menunjukan dosis metformin berpengaruh terhadap risiko efek samping penggunaan metformin dimana nilai (p<0,05) sedangkan faktor usia tidak berpengaruh terhadap efek samping penggunaan obat metformin dengan nilai (p>0,05). Penggunaan metformin dianjurkan diminum sesudah makan dengan dosis awal rendah untuk mengurangi dan menghindari terjadinya efek samping mual dan perut kembung pada penderita diabetes melitus tipe 2.
Studi Docking Molekuler Senyawa [(5-prop-2-enylpyrimidin-2-yl) propanoate] dan [4-((1e)-buta-1,3-dienyl)phenol] Terhadap Protein Er-Α, Er-Β, dan IKK sebagai Agen Sitotoksik Hindami, Fathan Taqwim; Da’i, Muhammad; Fauzi, Ahmad; Wulandari, Febri
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 3 (2024): Jurnal Farmasetis: Agustus 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i3.2316

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang tergolong penyakit tidak menular dan kasusnya terus bertambah. Kanker payudara sering ditemukan pada wanita di seluruh dunia. 1’-Acetoxychavicol acetate (ACA) adalah fenilpropanoid dalam rimpang spesies jahe Alpinia. ACA menunjukkan aktivitas sitotoksik pada berbagai lini sel tumor, salah satunya MCF7 (sel kanker payudara) dengan nilai IC50 berkisar antara 5 - 50 μM tanpa toksisitas terhadap sel normal. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui senyawa turunan ACA memiliki aktivitas antikanker terhadap protein kanker payudara secara in silico dengan docking molekuler. Protein target yang digunakan adalah ER-α, ER-β, dan IKK. Senyawa uji yang digunakan adalah senyawa 1 [(5-prop-2-enylpyrimidin-2-yl) propanoate], senyawa 2 [4-((1e)-buta-1,3-dienyl)phenol], lalu terdapat tambahan doksorubisin (sebagai kontrol positif), dan metformin (sebagai kontrol negatif). Parameter docking berupa nilai afinitas, semakin kuat ikatan ligan terhadap reseptor, maka semakin baik prediksi docking molekuler dinyatakan dengan nilai afinitas ikatan yang semakin kecil. Parameter lain yaitu nilai Root Mean Square Deviation (RMSD). Pengujian dinyatakan valid ketika hasil RMSD ≤ 2 Å. Dilakukan visualisasi juga yang menghasilkan interaksi antara residu asam amino dengan ligan. Hasil nilai afinitas senyawa 1 dengan protein ER-α, ER-β, dan IKK berturut-turut -6.3 kkal/mol, -6.2 kkal/mol, dan -5.8 kkal/mol. Pada senyawa 2 berturut-turut -5.7 kkal/mol, -6.2 kkal/mol, dan -6.8 kkal/mol. Hasil RMSD senyawa 1 berturut-turut 0.587 Å, 1.15 Å, 1.047 Å dan senyawa 2 berturut-turut 0.177 Å, 1.146 Å, 1.295 Å. Hasil visualisasi pada senyawa 1 dan senyawa 2 menunjukkan kemiripan dengan doksorubisin (kontrol positif). Hasil tersebut menandakan senyawa 1 [(5-prop-2-enylpyrimidin-2-yl) propanoate] dan senyawa 2 [4-((1e)-buta-1,3-dienyl)phenol] berpotensi sebagai agen antikanker payudara.
Studi Docking Molekuler Senyawa Turunan Acetoxychavicol Acetat (ACA) pada Protein Target ER-α, ER-β, dan HER-2 sebagai Agen Sitotoksik Nugroho, Aldi Waskito; Fauzi, Ahmad
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 3 (2024): Jurnal Farmasetis: Agustus 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i3.2318

Abstract

Kanker merupakan penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel yang tidak terkendali yang tumbuh secara abnormal serta merusak bentuk dan fungsi awalnya. Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang banyak terjadi dan sering menyebabkan kematian akibat kanker pada wanita. Senyawa Acetoxychavicol Acetate (ACA) merupakan senyawa yang memiliki aktifitas sebagai zat antikanker yang kuat terhadap beberapa sel kanker. Senyawa ACA ini diketahui dapat menyebabkan apoptosis dan penurunan aktivitas proliferasi sel kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi yang terbentuk antara senyawa turunan ACA terhadap protein kanker secara in silico dengan metode docking molekuler. Senyawa uji turunan ACA yang digunakan adalah senyawa PDP (4-[(3E)-penta-1,3-dien-3-yl]phenol) dan senyawa BEP (4-[(E)-but-2-en-2-yl]phenol), lalu tambahan senyawa asli ACA dan obat kanker doxorubisin sebagai uji pembanding. Docking molekuler dilakukan dengan beberapa tahapan seperti validasi metode, optimasi struktur senyawa turunan ACA 3D, dan docking antara senyawa turunan ACA dengan protein ER-α, ER-β dan HER-2. Dengan menggunakan parameter docking score (energi ikatan) semakin rendah nilai energi ikatan maka semakin kuat dan stabil ikatan yang terjadi. Hasil docking energi ikatan senyawa PDP dengan protein ER- α, ER- β dan HER-2 secara berturut-turut adalah -6.3, -6.6, dan -6.9. Nilai energi ikatan senyawa BEP secara berturut-turut adalah -6.3, -6.5, dan -6.8. Hasil RMSD senyawa PDP berturut-turut 1.90, 0.55, 3.62 dan senyawa BEP berturut-turut 0.01, 0.53, 2.88. Hasil RMSD tersebut menunjukkan bahwa senyawa 4-[(3E)-penta-1,3-dien-3-yl]phenol) dan (4-[(E)-but-2-en-2-yl]phenol) memiliki potensi sebagai agen antikanker payudara pada protein ER-α dan ER-β sedangkan pada protein HER-2 tidak memenuhi syarat karena nilai RMSD yang diperoleh diatas 2 Å.
Hubungan Lama Terapi dengan Efek Samping Pengobatan TB-MDR Nova, Triyo; Purwoko, Bambang; Mubarok, Fa’iq Hanif
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 3 (2024): Jurnal Farmasetis: Agustus 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB-MDR) merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan waktu terapi yang lama (18-24 bulan) dengan efek samping yang banyak. Efek samping yang dialami pasien yaitu artralgia, mual dan muntah, renal, gangguan pendengaran, gangguan tidur, gangguan psikiatri, hipokalemia, hiperurisemia, diare dan nyeri. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lama terapi dengan efek samping pengobatan TB-MDR. Penelitian ini dilakukan di RSUD Cilacap dengan desain penelitian observasional deskriptif. Pemilihan subyek penelitian  menggunakan populasi pasien dengan diagnosa TB-MDR yang sesuai dengan kriteria inklusi serta pasien yang mengalami efek samping OAT selama menjalani terapi. Responden yang memenuhi kriteria inklusi ada 49 responden. Pengambilan data secara retrospektif dengan uji Fisher Exact. Lama pengobatan dibagi menjadi pengobatan jangka menengah kurang dari 12 bulan dan pengobatan jangka panjang lebih dari 12 bulan, dengan tingkat efek samping ringan dan berat, didapat 6 pasien jangka menegah (66,7%) dengan efek samping ringan dan sebanyak 3 pasien (33,3%) yang mengalami efek samping berat, 11 pasien jangka panjang (27,5%) dengan efek samping ringan dan 29 pasien (72,5%) dengan efek samping berat. Analisis dengan uji Fisher Exact menunjukkan terdapat hubungan antara lama terapi dengan efek samping obat (p=0,049).
Uji Aktivitas Antibakteri Propionibacterium Acnes dari Kombinasi Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium Varingiaefolium) dan Ekstrak Daun Pacar Kuku (Lawsonia Inermis Linn) Mahroji, Mokhamad; Kurnia, Nia Marlina; Hasby, Rizal Maulana; Hidayat, Arif; Setiadi, Adi
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 3 (2024): Jurnal Farmasetis: Agustus 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara tradisional daun cantigi (Vaccinium varingiaefolium) digunakan untuk menyembuhkan luka, bengkak, terbakar, nyeri, bisul, serta berfungsi sebagai analgesic, anti radang, dan mengatasi keriput halus. Pacar kuku (Lawsonia inermis Linn) yang mengandung senyawa glikosida, steroid, fitosterol, saponin, tanin, dan flavonoid yang dilaporkan mempunyai manfaat untuk mengatasi bisul, kudis, sakit kepala, sakit pinggang, dan dapat mempercepat pertumbuhan rambut. Jerawat merupakan gangguan pada kulit dengan ditandai adanya peradangan yang disertai penyumbatan pada saluran kelenjar minyak di dalam kulit sehingga memicu peningkatan produksi sebum. Bahan alam yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap P. acne yaitu cantigi (Vaccinium varingiaefolium) dan pacar kuku (Lawsonia inermis Linn). Daun cantigi dan daun pacar kuku dimaserasi dengan metode maserasi kinetic dengan penyaringan berulang pada pelarut etanol 70%. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula ekstrak anti jerawat yang meliputi pengujian terdahap konsentrasi hambat minimun (KHM) secara dilusi, diameter daya hambat (DDH) secara difusi sumuran. Hasil skrining fitokimia ekstrak daun cantigi dan daun pacar kuku memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan fenol. Penelitian ini menunjukan hasil aktivitas antibakteri pada konsentrasi hambat minimum ekstrak daun cantigi sebesar 7% dan ekstrak daun pacar kuku sebesar 6%. Ekstrak tunggal daun cantigi dan daun pacar kuku memiliki aktivitas antibakteri yang kuat pada konsentrasi 80% dengan diameter daya hambat berturut -turut sebesar 13,3± 0,28 mm dan 13,3 ± 0,35 mm. Dari hasil kombinasi ekstrak daun cantigi dan daun pacar kuku diketahui merupakan kombinasi yang sinergis dengan perbandingan yang paling besar yaitu 1 EDC dan EDPK 2. Dengan nilai diameter daya hambat sebesar 10,7 ± 0,49 mm.
Studi Kasus Neurodermatitis pada Lansia dan Tata Laksana di Tempat Praktik Dokter Mandiri Kusumawinakhyu, Titik
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 3 (2024): Jurnal Farmasetis: Agustus 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i3.3178

Abstract

Neurodermatitis atau disebut dengan  lichen simplex chronicus merupakan penyakit kulit yang dirasakan penderitanya dengan rasa gatal, sehingga sering terjadi iritasi bahkan luka lecet akibat garukan. Lokasi tersering berada di kulit kepala, tengkuk, bahu, siku dan pergelangan tangan dan kaki. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan analis studi kasus neurodermatitis pada lansia dan tata laksana di tempat praktik dokter mandir.  Tempat dokter praktik mandiri menjadi tempat penderita periksa dan berobat. Kasus pada Tn. S usia 70 tahun datang dengan keluhan gatal di bagian tengkuk, bahu, lengan kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, lebih dari 1 tahun menderita sakit seperti ini, Pasien sudah sering berobat di layanan primer, dan membeli salep di apotek tetapi belum membaik. Kulit tampak putih menebal, luka bekas garukan Memburuk setelah seharian bekerja di sawah, mempunyai Mempunyai riwayat penyakit dahulu hipertensi, pasien merasakan emosi menjadi labil dan perasaan menarik diri. Setelah dilakukan pemeriksaan, didiagnosis dan diberikan terapi  farmakologi oral dan topikal, pelembab kulit, sabun berbahan dasar zaitun,  perawatan luka lecet menggunakan NaCl dan betadine cair serta diedukasi pada pertemuan pertama dan kedua pasien sudah sangat mengalami perkembangan yang baik, kulit halus dan penebalan kulit tidak tampak, gatal menghilang, warna kulit yang putih memudar.
Studi Etnobotani Tanaman Berkhasiat Obat untuk Pengobatan Tradisional Anti, Sri; Dewi, Iva Rinia; Supriani, Supriani; Kholid, Rofik; Miranti, Indira Pipit; Ramadhan, Muhamad Fauzi
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 4 (2024): Jurnal Farmasetis: November 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i4.2343

Abstract

Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanaman dan interaksi   antara manusia dan  sumber daya tanaman yang digunakan oleh manusia. Tanaman berkhasiat obat merupakan tanaman yang digunakan untuk obat, baik yang ditanam secara langsung maupun secara liar berdasarkan pengalaman dengan bagian-bagian tanaman yang dapat digunakan antara lain akar, batang, biji, buah, bunga, daun, kulit, rimpang, seluruh bagian, dan umbi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, khasiat, dan cara pengolahan tanaman berkhasiat obat oleh masyarakat Desa Pekuncen. Penelitian dilakukan di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian Deskriptif Kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara dengan mendiskripsikan hasil pengamatan tentang pemanfaatan tanaman berkhasiat obat. Sampel yang digunakan sebanyak 95 orang responden dari masyarakat Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas dengan teknik purposive sampling. Responden terdiri dari terdiri dari dukun bayi, dukun pijat, orang yang dituakan atau sesepuh desa, penjual jamu, dan masyarakat umum. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, terdapat 101 jenis tanaman berkhasiat obat yang digunakan oleh masyarakat. Jenis tanaman yang sering digunakan adalah kunyit 9,51%. Jenis penyakit banyak dijumpai oleh masyarakat diantaranya batuk, maag, demam, diare, pegal-pegal, hipertensi dan asam urat. Pengolahan tanaman yang sering dilakukan adalah direbus 56,64%.
Hubungan Self Stigma dengan Kepatuhan Obat Antiretroviral pada Pasien Baru Terdiagnosis HIV Inriyana, Ria; Nugraha, Firman
Jurnal Farmasetis Vol 13 No 4 (2024): Jurnal Farmasetis: November 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v13i4.2355

Abstract

Self stigma merupakan konsep diri negatif dimana Orang dengan HIV (ODHIV) memberikan label negatif terhadap dirinya sendiri yang mengakibatkan tidak bisa bebas akses terhadap pengobatan, sedangkan ODHIV harus mengkonsumi obat seumur hidupnya. Kepatuhan pengobatan ARV pada ODHIV sebesar 50% di negara maju dan di negara berkembang memiliki persentase yang lebih rendah. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan self stigma dengan kepatuhan obat antiretroviral pada pasien baru terdiagnosis HIV. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan kriteria inklusi pasien baru terdiagnosis HIV (reaktif) selama bulan Juli – November 2023 sebanyak 30 responden. Data di analisis menggunakan pearson product moment. Hasil penelitian didapatkan responden berada pada rentang usia 18-25 tahun (36.7%) dan 26 – 25 tahun (36.7%), berjenis kelamin laki-laki (70%), menkonsumsi obat TLE terdiri dari Tenofovir (TDF), Lamivudine (3TC), dan Efavirenz (EFV) (36.7%), dan tidak ada efek samping obat (46.7%). Terdapat hubungan signifikan antara self stigma dengan kepatuhan obat (p=0.001). Semakin rendah self stigma yang dirasakan oleh responden maka semakin patuh dalam menjalani pengobatan ARV. Self stigma yang dirasakan oleh ODHIV membuat mereka mengembangkan berbagai mekanisme koping untuk mengatasinya. Strategi koping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping strategi) dapat menjadi salah satu strategi dalam mengatasi self stigma ODHIV.