cover
Contact Name
Septiana Fathonah
Contact Email
jpkmk@stikes-notokusumo.ac.id
Phone
+6282136407862
Journal Mail Official
jpkmk@stikes-notokusumo.ac.id
Editorial Address
Jl. Bener No.26, Tegalrejo, Yogyakarta 55243
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan (JPKMK)
ISSN : -     EISSN : 28073134     DOI : 10.53423
Core Subject : Health,
Merupakan jurnal ilmiah dari hasil kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen. Jurnal ini dikemas secara padat dan berisi, sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari kalangan akademis dan umum. Jurnal ini merupakan implementasi hasil penelitian.
Articles 156 Documents
Pengendalian Stress Wanita Sehat Produktif (Westif) untuk Menurunkan Risiko Keparahan PMS di Desa Sumbang: PStress Management of Healthy Productive Women to Reduce PMS Severity Risk in Sumbang Village Sistiarani, Colti; Hariyadi, Bambang; Maryati, Leni
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Premenstruasi Sindrom merupakan salah satu gejala fisik dan psikologis yang dialami oleh Wanita Usia Subur dan dialami menjelang prementruasi. PMS dapat menggangu produktivitas dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Ada kaitan tingkat stress dan lama penggunaan kontrasepsi dengan kejadian PMS. Pentingnya diberikan pengendalian stress melalui komunitas wanita sehat dan produktif (WESTIF) untuk menurunkan keparahan PMS. Lokasi pelaksanaan kegiatan dilakukan di Puskesmas 1 Sumbang Kabupaten Banyumas. Khalayak sasaran dalam kegiatan ini yaitu WUS berjumlah 26 orang. Metode pendekatan yang dilakukan yaitu mengaplikasikan pengendalian stress untuk menurunkan keparahan menggunakan pendekatan pembentukan kelompok Wanita sehat dan produktif (WESTIF) melalui kegiatan aktifitas fisik serta pembentukan kelompok sebaya melalui komunitas wanita sehat dan produktif untuk meningkatkan keterampilan melalui pendidikan aktivitas fisik.   Abstract: Premenstrual Syndrome is one of the physical and psychological symptoms experienced by women of childbearing age and is experienced before premenstruation. PMS can interfere with productivity and interfere with daily activities. There is a relationship between stress levels and duration of contraceptive use with the incidence of PMS. It is important to control stress through healthy and productive women's communities (WESTIF) to reduce the severity of PMS. The location of the activity was carried out at Puskesmas 1 Sumbang, Banyumas Regency. The target audience for this activity is WUS, totaling 26 people. The approach method used is applying stress control to reduce severity using the approach of forming healthy and productive women's groups (WESTIF) through physical activity activities and forming peer groups through healthy and productive women's communities to improve skills through physical activity education.
Inisiasi Posyandu Remaja Melalui Pembentukan Duta APD (Anti Penyakit Degeneratif): Initiation of Youth Posyandu Through the Formation of APD Ambassadors (Anti Degenerative Disease) Solida, Adila; Amir, Andy; Wisudariani, Evy; Hidayati, Fajrina; Wardiah, Rizalia
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kejadian penyakit degeneratif yang merupakan bagian dari Penyakit Tidak Menular (PTM), masih menjadi penyebab utama kematian di dunia dan banyak wilayah Indonesia. Sementara itu, upaya pencegahan penyakit degeneratif yang bersentuhan dengan kelompok umur remaja masih jarang dilakukan seperti pembentukan Posyandu Remaja, termasuk di Desa Sungai Duren. Belum terdapat pos kesehatan yang memberikan pelayanan peduli remaja di Desa Sungai Duren, sementara terdapat banyak remaja bermukim (mahasiswa usia di bawah 21 tahun) dengan beragam gaya hidup yang berisiko terhadap penyakit degeneratif. Kegiatan dilaksanakan pada bulan September tahun 2024 di Desa Sungai Duren melalui 3 pertemuan pada minggu pertama, minggu kedua dan minggu ketiga. Pengabdian pada masyarakat ini bertujuan menginisiasi pos pelayanan terpadu yang peduli kesehatan remaja (posyandu remaja) untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan serta kemampuan remaja dalam mencegah terjadinya penyakit degeneratif serta menyebarluaskan kemampuan yang mereka miliki kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggal sebagai upaya menekan pertambahan kasus penyakit degeneratif melalui pembentukan Duta Anti Penyakit Degeneratif (Duta APD) di Desa Sungai Duren. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemberian edukasi, pengembangan keterampilan mempraktikkan gaya hidup CERDIK serta pendampingan menjadi Duta APD. Hasil kegiatan terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan pada peserta antara sebelum dan sesudah kegiatan PPM (p=0,000). Sebanyak 80% peserta PPM merasakan peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit degenerative dan menyatakan sikap siap menjadi Duta APD di lingkungan tempat tinggal. Abstract: The incidence of degenerative diseases, which are part of Non-Communicable Diseases (PTM), is still the main cause of death in the world and in many parts of Indonesia. Meanwhile, efforts to prevent degenerative diseases in contact with the adolescent age group are still rarely carried out, such as the establishment of Youth Posyandu, including in Sungai Duren Village. There is no health post that provides youth care services in Sungai Duren Village, while there are many residential teenagers (students under 21 years of age) with various lifestyles who are at risk of degenerative diseases. This community service activity aims to initiate an integrated service post that cares about adolescent health (adolescent posyandu) to increase the understanding, skills and abilities of adolescents in preventing the occurrence of degenerative diseases and to disseminate their abilities to the community in their living environment in an effort to suppress the increase in cases of degenerative diseases. through the formation of Anti-Degenerative Disease Ambassadors (APD Ambassadors) in Sungai Duren Village. Activities carried out include providing education, developing skills to practice the CERDIK lifestyle and mentoring to become APD Ambassadors. The results of the activity showed a significant difference in knowledge among participants between before and after the PPM activity (p=0.000). As many as 80% of PPM participants felt an increase in knowledge and understanding about degenerative diseases and expressed an attitude of being ready to become APD Ambassadors in their living environment.  
Edukasi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan pada Tim Kesehatan Himpunan Mahasiswa Keperawatan: First Aid Education for Accidents in The Health Team of The Nursing Student Association Sutriningsih, Ani; Ardiyani, Vita Maryah; Metrikayanto, Wahyu Dini; Choeron, Rachmat Chusnul
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Masalah kesehatan pada kegiatan orientasi mahasiswa baru merupakan isu  yang sering kali diabaikan, padahal memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan mahasiswa. Masa orientasi melibatkan berbagai kegiatan fisik dan mental yang intens, yang dapat menyebabkan kelelahan, stres, dan gangguan kesehatan. Penelitian sebelumnya menyebutkan sekitar 30% mahasiswa baru mengalami stres tingkat tinggi selama masa orientasi yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) pada Tim Kesehatan Himpunan Mahasiswa Keperawatan sebagai tim kesehatan orientasi pendidikan (ORDIK) mahasiswa baru. Sasaran kegiatan ini terdiri dari ketua dan pengurus Himpunan Mahasiswa Keperawatan sebanyak 10 orang di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pertama mengukur pengetahuan peserta tentang P3K (pre test) menggunakan kuesioner, kedua memberikan edukasi tentang P3K khususnya pada kasus yang sering terjadi pada mahasiswa baru yang sedang menjalani orientasi, dan ketiga mengukur kembali pengetahuan peserta tentang P3K (post test) menggunakan kuesioner. Hasil analisis univariat didapatkan lebih dari separuh peserta (80%) mempunyai pengetahuan dengan kategori kurang dan setelah diberi edukasi tentang P3K didapatkan lebih dari separuh peserta (60%) mempunyai pengetahuan dengan kategori baik. Edukasi P3K memberikan dampak langsung yaitu peningkatan pengetahuan P3K pada tim kesehatan.   Abstract: Health problems during new student orientation activities are an issue that is often ignored, even though it has a significant impact on student welfare. The orientation period involves a variety of intense physical and mental activities, which can cause fatigue, stress, and even health problems. Previous research states that around 30% of new students experience high levels of stress during the orientation period which has a negative impact on mental and physical health. This community service implementation aims to provide First Aid for Accidents (P3K) education to the Nursing Student Association Health Team as the educational orientation health team (ORDIK) for new students. The targets for this activity consisted of the chairman and administrators of the Nursing Student Association, 10 people at Tribhuwana Tunggadewi University. The method of implementing community service activities is carried out in three stages, first measuring participants' knowledge (pre test), second providing education about First Aid, and third measuring participants' knowledge again about First Aid (post test) using questionnaire. The univariate analysis showed that 80% knowledge in the poor category and 60% had knowledge in the good category. First aid education has a direct impact, namely increasing knowledge about first aid in the health team.
Skrining dan Pendidikan Kesehatan Mental pada Remaja SMA Negeri 11 Kupang: Mental Health Screening and Education for Adolescents at State Senior High School 11 Kupang Suwetty, Awaliyah Muslimah; Setu, Yohana Teodosia; Meldy Emry Lede; Joli R Nubatonis; Jenifer Lopes; Jidro R.Nautu
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Fenomena permasalahan remaja di era Revolusi Industri 4.0 perlu mendapat perhatian yang serius, tidak sedikit masalah yang diciptakan oleh remaja sebagai dampak dari perkembangan teknologi yang berimplikasi kepada perkembangan remaja. Masa remaja merupakan masa kritis dalam siklus perkembangan seseorang dan masa krusial untuk perkembangan social, emosional dan  kesejahteraan mental. Untuk mencegah timbulnya dampak tersebut, perlu dilakukan deteksi dini pada remaja untuk mengidentifikasi factor resiko dan factor protektif sehingga remaja dapat melewati masa ini dengan optimal serta remaja mampu menjadi individu dewasa yang matang baik fisik maupun psikisnya. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 11 Kupang dengan 3 sesi diantaranya sesi 1. brainstorming. Sesi 2 Pendidikan Kesehatan, sesi ke 3 skrining kesehatan jiwa. Hasil yang diperoleh antara lain sebanyak 36 responden dari 55 remaja (56%) mengalami gejala neurosis dan yang umum terjadi pada remaja SMAN 11 Kota Kupang adalah kecemasan. 5 responden dari 55 remaja (9 %) mengalami gangguan adiksi. Gangguan  Adiksi yang terjadi pada remaja lebih berkaitan dengan game online dan adiksi internet. 24 dari 55 remaja (44%) mengalami masalah gangguan psikotik, dan perlu penelusuran untuk menentukan masalah psikotik yang terjadi pada remaja, namun hasil ini memberikan gambaran adanya gangguan pada kemampuan remaja untuk berpikir jernih, menanggapi emosi, memiliki persepsi yang tidak biasa, memiliki delusi dan berperilaku tidak sesuai. 31 responden dari 55 remaja (56%) mengalami PTSD. PTSD yang dirasakan oleh remaja adalah kehilangan, perilaku impulsives dan agresif. Rencana selanjutnya, perlu dilakukan pengabdian masyarakat terkait edukasi berbasis bimbingan konseling kesehatan mental pada remaja terhadap perubahan perilaku remaja di SMAN 11 Kupang.   Abstract: The phenomenon of adolescent problems in the Industrial Revolution 4.0 era needs serious attention. Not a few problems are created by adolescents as a result of technological developments that have implications for adolescent development. Adolescence is a critical period in a person's development cycle and a crucial period for social, emotional and mental well-being development. To prevent these impacts, early detection is needed in adolescents to identify risk factors and protective factors so that adolescents can go through this period optimally and adolescents are able to become mature adults both physically and mentally. The activity was carried out at SMAN 11 Kupang with 3 sessions including session 1. Brainstorming. Session 2 health education, session 3 mental health screening. The results obtained included 36 respondents out of 55 adolescents (56%) experiencing symptoms of neurosis and what is common in adolescents at SMAN 11 Kupang City is anxiety. 5 respondents out of 55 adolescents (9%) experience addiction disorders. Addiction disorders that occur in adolescents are more related to online games and internet addiction. 24 out of 55 adolescents (44%) experienced psychotic disorders, and it is necessary to investigate to determine the psychotic problems that occur in adolescents, but these results provide a picture of disturbances in the ability of adolescents to think clearly, respond to emotions, have unusual perceptions, have delusions and behave inappropriately. 31 respondents out of 55 adolescents (56%) experienced PTSD. PTSD felt by adolescents is loss, impulsive and aggressive behavior. The next plan is to conduct research related to the influence of education based on mental health counseling guidance on adolescents on changes in adolescent behavior at SMAN 11 Kupang.
Edukasi dan Pelaksanaan Senam Hipertensi pada Kelompok Prolanis di Puskesmas Cisadea Kota Malang: Education and Implementation of Hypertension Exercises in The Prolanis Group at The Cisadea Health Center in Malang City Badriya, Laili; Zidni Imanurrohmah Lubis; Rizal Septian
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Hipertensi adalah penyebab utama kematian di dunia. Kota Malang menduduki peringkat ke-3 tertinggi di Jawa Timur dengan prevalensi hipertensi sebanyak 26,69%. Pada tahun 2023, penderita hipertensi di Puskesmas Cisadea Kota Malang mencapai 7.332 pasien. Konsumsi natrium yang berlebihan menjadi salah satu faktor terjadinya hipertensi. Selain itu, faktor usia juga memengaruhi akan terjadinya hipertensi, karena pada seseorang yang sudah lanjut usia sering terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri sehingga menyebabkan kerja jantung yang meningkat. Oleh karena itu, diperlukan adanya edukasi kepada masyarakat akan pentingnya perubahan gaya hidup, pengembangan pendidikan, dan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi. Metode yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian ini adalah berupa kegiatan penyuluhan yang menggunakan media poster dan leaflet tentang manfaat senam hipertensi serta melakukan senam hipertensi bersama yang dilakukan di halaman Puskesmas Cisadea. Terdapat pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan senam hipertensi. Kegiatan pengabdian berupa penyuluhan ini, dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Melalui penyuluhan yang dihadiri oleh 35 orang, diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat akan manfaat dari senam hipertensi. Hasil yang diperoleh dari 35 orang, terdapat 3 orang yang tekanan darahnya menurun dan 3 orang lainnya tekanan darahnya meningkat. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan senam hipertensi baru dilakukan satu kali dan pengukuran tekanan darah dilakukan tepat setelah melakukan senam hipertensi.   Abstract: Hypertension is the leading cause of death in the world. Malang City is ranked 3rd highest in East Java with a hypertension prevalence of 26.69%. In 2023, hypertension patients at the Cisadea Health Center in Malang City reached 7,332 patients. Excessive sodium consumption is one of the factors for hypertension. In addition, the age factor also affects the occurrence of hypertension, because in someone who is elderly there is often thickening and stiffness of the arterial walls, causing increased heart work. Therefore, it is necessary to educate the community about the importance of lifestyle changes, education development, and community knowledge about hypertension. The method used in this service activity is in the form of counseling activities using poster and leaflet media about the benefits of hypertension exercises and conducting joint hypertension exercises carried out in the Cisadea Health Center yard. There are blood pressure measurements before and after doing hypertension exercises. This service activity in the form of counseling was carried out for 3 consecutive days. Through counseling attended by 35 people, it is expected to increase public knowledge of the benefits of hypertension exercises. The results obtained from 35 people, there were 3 people whose blood pressure decreased and 3 other people whose blood pressure increased. This can occur because hypertension exercises have only been done once and blood pressure measurements are taken right after doing hypertension exercises.
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Golongan Darah Melalui Sosialisasi dan Pemeriksaan di Dusun Duplang Jember: Enhancing Community Knowledge on Blood Types Through Socialization and Screening In Dusun Duplang Jember Wijaya, Anas Fadli; Agustin, Ayu Tri; Mufidah, Hartalina; Purwanto, Sigit; Humairoh, Riska Tsamarah; Elnaja, Dinar Anisa; Hayati, Farhatul; Purwanti, Ananda Kamila Nurcahya
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Golongan darah A,B,O, dan AB dan rhesus merupakan salah satu pewarisan genetik. Pengetahuan tentang jenis golongan darah yang dimiliki sangat krusial untuk mengetahui kompatibilitas golongan darah. Hal ini berperan penting ketika suatu individu mengalami kecelakaan dan terkena penyakit tertentu sehingga membutuhkan transfusi darah dalam waktu singkat. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya mengetahui golongan darah melalui sosialisasi dan pemeriksaan golongan darah A,B,O, dan AB. Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Dusun Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan menggunakan leaflet dan poster dan pre-test dan post-test. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan golongan darah A,B,O, dan AB menggunakan slide test dari warga masyarakat yang hadir Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki golongan darah B dan O. Sosialisasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat sebesar 75,9% tentang pentingnya pengetahuan tentang golongan darah untuk kesiapan dalam keadaan darurat.   Abstract: Blood types A, B, O, and AB and rhesus are one of the genetic inheritances. Knowledge of the type of blood type was crucial to determine blood type compatibility. It plays an important role when an individual has an accident and is affected by certain diseases that require blood transfusions in a short time. The purpose of this service was increase knowledge about the importance of knowing blood types through socialization and examination of blood types A, B, O, and AB. This public service was conducted at Duplang Hamlet, Kamal Village, Arjasa District, Jember Regency with the participation of 16 respondents. This public service was conducted by socializing using leaflets and posters and pre-test and post-test. Then it was followed by blood type assay A, B, O, and AB using slide tests from public respondence who attended. The results showed that the majority of respondents had blood types B and O. Socialization proved effective in increasing public awareness in 75,9% of the importance of knowledge about blood types for emergency preparedness.
Gerakan Masyarakat Peduli Stunting Anak (Gempita): Upaya Pencegahan Stunting di Kelurahan Babakan, Nusa Tenggara Barat: Community Movement for Child Stunting Prevention (Gempita): Efforts to Preven Stunting in Babakan, West Nusa Tenggara Kholisha, Citra Dian; Arfi, Sofian Dwi; Felayati , Baiq Apriana; Maulida, Novia; Harisatuljannah; Adriani, Ni Wayan Dewi; Trikomala, Arrum; Gustini, Ni Wayan Soma; Kurnia, Theresia Avila; Rostina; Rumasiwe , Ana
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:  Program Gerakan Masyarakat Peduli Stunting Anak (GEMPITA) dilaksanakan di Kelurahan Babakan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan tujuan mencegah dan menurunkan angka stunting melalui pemberdayaan masyarakat dan pemenuhan gizi seimbang. Metode pelaksanaan melibatkan pengukuran antropometri, edukasi masyarakat terkait gizi, pemeriksaan kesehatan ibu dan calon ibu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pemberian intervensi pangan tambahan berbasis protein hewani. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu terkait stunting dari 20% menjadi 61,3%. Pemeriksaan kesehatan ibu dan anak juga dilakukan, meliputi tekanan darah, hemoglobin, dan pemberian ASI eksklusif. Program GEMPITA berhasil meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan stunting, yang tercermin dari peningkatan pengetahuan ibu tentang stunting dari 20% menjadi 61,3%, serta partisipasi aktif 137 balita, hingga ibu dan  remaja dalam berbagai kegiatan edukasi, pemeriksaan, dan intervensi gizi.   Abstract: The Community Movement for Child Stunting Prevention (GEMPITA) was implemented in Babakan Village, Lombok, West Nusa Tenggara, with the aim of preventing and reducing stunting through community empowerment and balanced nutrition. The program involved anthropometric measurements, nutrition education, health screening for mothers and prospective mothers, promotion of clean and healthy living behavior (PHBS), and the provision of additional food interventions based on animal protein. The results showed a significant increase in maternal knowledge about stunting, rising from 20% to 61.3%. Health screenings included blood pressure and hemoglobin checks, as well as monitoring of exclusive breastfeeding. GEMPITA successfully enhanced public awareness and community engagement in stunting prevention, as reflected by the increased maternal knowledge and the active participation of 137 toddlers, mothers and adolescents in educational sessions, health checks, and nutrition-based interventions.
Pelatihan Manajemen Stres Guru Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Kupang: Stress Management Trainng for Teachers of The State Extraordinary School of Kupang Daik, Irene Elvira; Devi Novita Sheldena; Gusti Yohanis Sette; Septe Mangi Uly; Marlen Djo; Donny Esporil Kefi; Dominggo Hendthrof Tak
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Kupang menghadapi tantangan dalam menangani siswa berkebutuhan khusus yang memiliki berbagai keterbatasan baik dari segi fisik, mental dan sosial. Siswa memiliki sensitivitas emosi tinggi dalam membangun relasi dan beragam perilaku yang tidak sesuai tingkat perkembangannya. Hal ini memicu sumber stres bagi Para Guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Kupang. Stres yang tidak dikelola dapat berdampak negatif pada kesehatan dan produktivitas. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melatih guru dalam manajemen stres guna mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Kota Kupang dengan melibatkan para Guru yang berjumlah 20 orang. Dan Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, pelatihan manajemen stres melalui pengisian lembar kerja, diskusi, serta pendampingan oleh para mentor. Hasil kegiatan pengabdian adalah para pengajar memahami stres dan mampu mengelola stres dengan indikator sebagai berikut: peserta dapat mengindentifikasi masalah atau situasi yang menjadi sumber stres, menganalisa stres, menyusun berbagai strategi menghindari stres dan  melakukan coping stres.   Abstract: Teachers at the State Special Needs School Pembina Kupang face challenges in handling students with special needs who have various limitations both physically, mentally and socially. Students have high emotional sensitivity in building relationships, various behaviors that are not appropriate to their level of development. This triggers a source of stress for teachers at the State Special Needs School Pembina Kupang. Unmanaged stress can have a negative impact on health and productivity. Therefore, this community service activity aims to train teachers in stress management to overcome the problems faced. This activity was carried out in the Hall of the State Special Needs School Pembina Kupang City involving 20 teachers. And the methods used in this activity included lectures, stress management training through filling out worksheets, discussions, and mentoring by mentors. The results of the community service activity were that teachers understood stress and were able to manage stress with the following indicators: participants were able to identify problems or situations that were sources of stress, analyze stress, develop various strategies to avoid stress and carry out stress coping.
Edukasi Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) pada Remaja: Gender-Based Violence (GBV) Prevention Education in Adolescents Dwi Hariyanti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kekerasan Berbasis Gender (KBG) sebagai kekerasan langsung pada seseorang yang didasarkan atas gendernya. Bentuk perilaku tersebut meliputi kekerasan fisik, seksual, mental, pemaksaan, ancaman, ataupun perbuatan yang membatasi kebebasan seseorang berkaitan dengan gendernya. Peningkatan KBG hampir 50% di tahun 2022, sebanyak 338.496 pengaduan kasus kekerasan berbasis gender pada tahun 2021. Bahwa 1 dari 3 wanita pernah mengalami kekerasan fisik/seksual. Supaya kasus KBG tidak bertambah drastis, dibutuhkan pengenalan dan pemahaman bentuk kekerasan dan cara pencegahannya, salahsatunya dengan pemberian edukasi pada kelompok rentan/labil seperti remaja. Tujuan dari pelaksanaan edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender yaitu agar siswa memiliki bekal yang baik terkait hal tersebut. Manfaat yang bisa didapatkan siswa yaitu mendapatkan bekal informasi yang baik dan bisa mensikapi dengan baik terkait dengan kekerasan berbasis gender, serta bisa meemberikan informasi tersebut kepada orang lain. Jumlah siswa yang menajdi sasaran pengabdian yaitu 23 siswa. Metode yang digunakan yanitu eduaksi interaktif dengan media audio visual aids/AVA. Sebelum dilakukan edukasi tingkat pengetahuan tentang pencegahan dalam kategori baik yaitu 70 persen dari 23 siswa, dan meningkat menjadi 87 persen setelah edukasi. Jadi edukasi kekerasan berbasis gender bisa meningkatkan pengetahuan sebesar 17 persen.   Abstract: Gender-Based Violence (GBV) is direct violence against a person based on their gender. This behavior includes physical, sexual, and mental violence, coercion, threats, or actions that limit a person's freedom related to their gender. GBV cases increased by almost 50% in 2022, with 338,496 complaints of gender-based violence cases in 2021. One in three women has experienced physical/sexual violence. To prevent a drastic increase in GBV cases, it is necessary to recognize and understand the forms of violence and how to prevent them, one of which is by providing education to vulnerable/unstable groups such as adolescents. The purpose of implementing gender-based violence prevention education is to provide students with good provisions regarding this matter. The benefits that students can get are getting good information and being able to respond appropriately to gender-based violence, and being able to share this information with others. The number of students who are the target of community service is 23 students. The method used is interactive education with audio-visual aids/AVA media. Before the education, 70 percent of 23 students had good knowledge about prevention, which increased to 87 percent after the education. Therefore, gender-based violence education can increase knowledge by 17 percent.  
Penguatan Peran Keluarga Cegah Diabetes Melalui Gerakan “Encok” (Edukasi, Nutrisi, Cek Gula Darah, Olahraga dan Konsultasi): The Role Of Family Related to Diabetes Through The Provision of "Encok" (Education, Nutrition, Check Blood Sugar, Exercise And Consultation) Wulan, Sri Wulan Megawati; Darajat, Agus Mi’raz Darajat; Abidin, Imam Abidin; Tambunan, Irisanna Tambunan; Khotimah, Nur Intan Hayati Khusnul Khotimah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Kejadian penyakit diabetes mengalami peningkatan setiap tahun tidak hanya pada dewasa tetapi juga anak anak yang dapat berdampak pada produktifitas bangsa di masa depan. Permasalah mitra adalah kasus diabetes yang ada sekarang tidak hanya terjadi pada dewasa dan lansia tetapi meningkat pada anak dan remaja. Solusi yang ditawarkan adalah dengan melaksanakan penyuluhan dan pelatihan tentang pencegahan dan deteksi dini diabetes pada anak dan dewasa. Tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sasaran utamanya adalah Ibu. Metoda pelaksanaan terdiri dari persipaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan tentang diabetes melitus dan demostrasi senam diabet juga cek gula darah mandiri. Evaluasi dilakukan dengan pre dan post test. Hasilnya pengetahuan pre test 58,83% kategori sedang, post test 79,17% kategori baik. Kemampuan melakukan senam diabet pre test 100% kategori tidak bisa, post test 70.83% kategori bisa. Periksa gula darah sendiri pre test 100% kategori tidak bisa, post test 83.33%  kategori bisa.   Abstract: The incidence of diabetes increases every year, not only in adults but also in children, which can have an impact on the nation's productivity in the future. The partner problem is that current diabetes cases do not only occur in adults and the elderly but are increasing in children and adolescents. The solution offered is to carry out outreach and training on the prevention and early detection of diabetes in children and adults. The goal to be achieved is to increase the knowledge and skills of the main target, Mother. The implementation method consists of preparation, implementation and evaluation. The activities carried out were counseling about diabetes melitus and demonstrations of diabetes exercises as well as independent blood sugar checks. Evaluation is carried out with pre and post tests. The result was that pre-test knowledge was 58.83% in the medium category, post-test knowledge was 79.17% in the good category. The ability to do diabetes exercises in the pre-test was 100% in the unable category, post-test 70.83% in the able category. Check your own blood sugar before the test is 100% in the can't category, post test 83.33% in the can category.