cover
Contact Name
SUSYANI
Contact Email
susyani@poltekkespalembang.ac.id
Phone
+628117119191
Journal Mail Official
jgk@poltekkespalembang.ac.id
Editorial Address
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Palembang lt.4
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Kesehatan
Core Subject : Health,
nutrition and health, related to clinical nutrition, community nutrition, and food service (Nutritional Institutions and Food Technology)
Articles 148 Documents
ASUPAN VITAMIN C DAN E PADA PASIEN JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT JASA KARTINI KOTA TASIKMALAYA JAWA BARAT Yanita Listianasari; Salsabila Amanata Nurhaliza
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3829

Abstract

Coronary heart disease (CHD) is a non-communicable disease caused by the narrowing of coronary artery blood vessels, which obstructs blood flow to the heart muscle (atherosclerosis). In Indonesia, the prevalence of coronary heart disease (CHD) reaches 1.5%, in West Java it reaches 1.6%, and in Tasikmalaya, heart disease ranks third among seven non-communicable diseases. The study aims to describe the intake of vitamins C and E in patients with cardiovascular disease at Jasa Kartini Hospital in Tasikmalaya City. The type of research is descriptive quantitative using the purposive sampling method. Data were obtained thru interviews using the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) method. The research results show that 55% of respondents have an average vitamin C intake in the good category, whereas 68% of respondents have an average vitamin E intake in the less good category. These results indicate that the majority of patients have met their vitamin C needs, but many have not yet met their vitamin E needs. The low intake of vitamin E is concerning because this vitamin plays a role in preventing LDL oxidation and plaque formation. The conclusion of the study is that the vitamin C intake of most CHD patients is mostly good, but the vitamin E intake is still low.
KONSUMSI VITAMIN C DAN SENG DENGAN RISIKO DIABETES MELITUS DI WILAYAH JEMBATAN KECIL KOTA BENGKULU Juita Sari; Arie krisnasary; Jumiyati Jumiyati
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3830

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Pola makan rendah konsumsi vitamin c dan seng faktor risiko yang dapat dicegah. Wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penderita DM yang tinggi. Oleh karna itu, penting dilakukan penelitian terkait faktor gaya hidup untuk mencegah DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi vitamin c dan seng dengan risiko diabetes melitus di wilayah Puskesmas Jembatan Kecil Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 65 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling, instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner SQ-FFQ dan CanRisk. Analisis data di lakukan dengan uji chi-square menggunakan tingkat signifikansi p ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara vitamin c dengan risiko DM (p = 0,014;OR = 4,571) dan tidak ada hubungan yang signifikan antara seng dengan risiko DM (p = 0,934;OR = 737). Konsumsi vitamin c berhubungan dengan risiko DM tapi tidak berhubungan dengan seng. Peningkatan pola makan sehat perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko DM pada kelompok usia 40-70 tahun
ASUPAN KARBOHIDRAT, ASUPAN SERAT, DAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA Ratna Ratna; Laila Sholehah
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3860

Abstract

Type II Diabetes Mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels due to impaired insulin function. One of the factors affecting blood glucose levels is dietary intake, particularly carbohydrate and fiber intake. This study aimed to analyze the relationship between carbohydrate intake, fiber intake, and blood glucose levels in patients with Type II Diabetes Mellitus at RSUD Ratu Zalecha Martapura. This study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 33 respondents selected using purposive sampling technique. Data on carbohydrate and fiber intake were collected using a 24-hour food recall, while fasting blood glucose data were obtained from laboratory examination results or medical records. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that most respondents had excessive carbohydrate intake (39.4%), low fiber intake (90.9%), and uncontrolled fasting blood glucose levels (72.7%). There was a significant relationship between carbohydrate intake and fasting blood glucose levels (p<0.001), as well as between fiber intake and fasting blood glucose levels (p=0.003). Proper carbohydrate intake regulation and increased fiber consumption are important in controlling blood glucose levels in patients with Type II Diabetes Mellitus.
ASUHAN GIZI INDIVIDUAL PADA SIROSIS HATI DEKOMPENSATA SEKUNDER AKIBAT MAFLD DENGAN ASITES MASIF DAN HIPERGLIKEMIA REAKTIF Ririn Iryani; Wiwik Ekorinawati; Indrawati Indrawati; Ahmad Fahrudin; Fatimah Azzahra
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3890

Abstract

Latar Belakang: Sirosis hepatis dekompensata akibat metabolic dysfunction-associated fatty liver disease (MAFLD) sering disertai malnutrisi, asites, gangguan metabolisme glukosa, dan risiko hepatic sarcopenia yang memerlukan penatalaksanaan gizi komprehensif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan asuhan gizi individual pada pasien sirosis hepatis dekompensata Child-Pugh B akibat MAFLD dengan asites permagna dan hiperglikemia reaktif. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan Nutrition Care Process (NCP) yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, monitoring, dan evaluasi gizi. Hasil: Pasien mengalami malnutrisi terkait penyakit kronik dengan inflamasi, ditandai oleh %LILA 85,3%, asupan energi-protein tidak adekuat, asites permagna, anemia, hiperglikemia reaktif, dan risiko hepatic sarcopenia. Setelah intervensi, asupan energi meningkat dari 900,2 kkal menjadi 1.149 kkal dan asupan protein dari 37,4 g menjadi 52 g, disertai perbaikan toleransi makan dan kondisi klinis. Kesimpulan: Asuhan gizi individual berbasis GLIM membantu meningkatkan asupan energi-protein dan mendukung stabilisasi kondisi klinis pasien sirosis hepatis dekompensata akibat MAFLD. Keywords / Kata kunciSirosis hepatis; MAFLD; asites; hiperglikemia; asuhan gizi
DAYA TERIMA COOKIES DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI ASI BOOSTER UNTUK IBU MENYUSUI Yossy Anggraeni; Imelda Telisa; Sartono Sartono; Yuli Hartati; Yunita Nazarena
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3919

Abstract

Background: Breast milk is the primary source of nutrition for infants, but many breastfeeding mothers face challenges related to both the quantity and quality of their breast milk. Consuming functional foods such as moringa leaves, which contain lactagogue compounds, offers a natural alternative to support milk production. Cookies are chosen as a practical food product because they are easy to consume and can be combined with moringa leaves to help meet the nutritional needs of breastfeeding mothers. Objective: To determine the acceptability of moringa leaf cookies (Moringa oleifera) as a breast milk booster for breastfeeding mothers and to analyze the nutritional content of the best formulation. Methods: This research used an experimental method with a completely randomized design (CRD) consisting of three treatments: F1, F2, and F3. A total of 30 untrained panelists conducted organoleptic evaluations based on color, aroma, taste, texture, and aftertaste. Nutritional analysis of the best formulation was performed through proximate tests and iron content measurement. Results: The F2 formulation (with the addition of 10 grams of moringa leaf powder) showed the highest acceptability across all organoleptic attributes. Laboratory analysis of F2 cookies revealed the following nutritional content per 100 grams: 526.91 kcal energy, 7.58 g protein, 29.59 g fat, 57.57 g carbohydrates, and 4.36 mg iron. Conclusion: The F2 moringa leaf cookie formulation had the best acceptability and has the potential to serve as a functional snack that supports the nutritional needs of breastfeeding mothers.
MODIFIKASI MUTU DAN NILAI GIZI YOGURT BERBASIS SUSU SKIM DENGAN SUPLEMENTASI DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) Ayu Meilina; Imelda Telisa; Nurul Salasa Nilawati; Yuli Hartati
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3920

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan pangan lokal yang memiliki kandungan protein, mineral, vitamin, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik yang berperan sebagai antioksidan alami. Pemanfaatannya dalam produk fermentasi susu, khususnya yogurt, semakin banyak dikembangkan sebagai upaya peningkatan nilai gizi dan karakteristik fungsional pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun kelor terhadap mutu fisik, kimia, dan organoleptik yogurt susu skim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan konsentrasi daun kelor 0%, 10%, 20%, dan 30% yang diulang sebanyak tiga kali. Proses pembuatan yogurt meliputi pasteurisasi susu skim, penambahan starter bakteri asam laktat, serta fermentasi hingga tercapai kondisi optimal. Parameter yang dianalisis meliputi pH, viskositas, kadar protein, lemak, abu, dan serat, serta uji organoleptik yang mencakup warna, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan panelis. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daun kelor memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik yogurt susu skim. Peningkatan konsentrasi daun kelor meningkatkan kadar serat dan beberapa komponen gizi, namun berdampak pada penurunan tingkat penerimaan panelis terutama pada aspek warna dan rasa. Perlakuan 10% merupakan formulasi terbaik karena mampu mempertahankan keseimbangan antara peningkatan nilai gizi dan penerimaan sensoris.
HUBUNGAN IMT DAN ASUPAN CAIRAN TERHADAP KEBUGARAN JASMANI PRAJURIT TNI AU Zainal Abidin; Podojoyo Podojoyo; Nur Abdul Goni; Gunawan Purwanto; Eksan Khoirul Bahruroji; Nanda Firdaus
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3923

Abstract

Kebugaran fisik prajurit adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas militer secara efektif tanpa mengalami kelelahan berlebihan serta mampu pulih kembali dengan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan asupan cairan dari minum terhadap kebugaran fisik dengan rancangan penelitian cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah prajurit Angkatan Udara, dengan sampel adalah prajurit yang tinggal di mess sebanyak 32 orang laki-laki yang diambil secara simpel random. Pengukuran kebugaran fisik menggunakan skor sit-up, pull-up, push-up, shuttle-run dan run. Hasil penelitian diperoleh kebugaran fisik baik (rata-rata 46,54), asupan cairan cukup (rata-rata 2620,31 ml), dan nilai IMT rata-rata 26,01 adalah kelebihan berat badan. Terdapat hubungan negatif kebugaran fisik terhadap asupan cairan (r=-0,59) dan nilai IMT (r=-0,841). Semakin banyak asupan cairan dari air minum dan semakin tinggi nilai IMT akan berhubungan dengan tingkat kebugaran fisik prajurit.
KANDUNGAN FLAVONOID TEPUNG BIJI LABU KUNING (CUCURBITA MOSCHATA DUCH.) SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL Nurul Asifah Hafsiyah; Rifdah Wardani; Anindya Monika Putri
JGK: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jgk.v6i1.3926

Abstract

Biji labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan hasil samping pangan lokal yang memiliki kandungan zat gizi dan berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Meskipun demikian, informasi ilmiah mengenai kandungan flavonoid pada tepung biji labu kuning masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan flavonoid tepung biji labu kuning melalui identifikasi secara kualitatif dan penetapan kadar flavonoid total secara kuantitatif. Penelitian menggunakan rancangan eksperimen laboratorium dengan sampel berupa tepung biji labu kuning. Identifikasi flavonoid dilakukan menggunakan metode mikrokimia, sedangkan kadar flavonoid total ditentukan menggunakan metode kolorimetri aluminium klorida (AlCl₃) yang diukur dengan spektrofotometer UV-Visible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tepung biji labu kuning memberikan respons positif terhadap uji flavonoid. Analisis kuantitatif menunjukkan kadar flavonoid total rata-rata sebesar 1,968%. Temuan ini menunjukkan bahwa tepung biji labu kuning memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pangan fungsional karena kandungan flavonoidnya yang berpotensi memberikan aktivitas antioksidan.