cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747838785
Journal Mail Official
widyaningsihari89@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.186, Gedang Anak, Ungaran Timur 50512
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE)
ISSN : 26571161     EISSN : 2657117x     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
Redaksi menerima sumbangan tulisan yang belum pernah dimuat di media lain. Naskah diketik rapi dengan spasi rangkap pada kertas kuarto. Panjang tulisan antara 8-15 halaman. Redaksi berhak melakukan perubahan sepanjang tidak mengurangi atau merubah maksud tulisan. Tulisan yang dimuat akan dikembalikan untuk dilakukan perbaikan.
Articles 243 Documents
Peningkatan Peranan Kader Kesehatan dalam Pelaksanaan Posyandu Integrasi Layana Primer (ILP) di Dusun Tegalrejo Desa Lerep Kabupaten Semarang Setyoningrum, Umi; Liyanovitasari; Neency Aryanti3
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4062

Abstract

supporting promotive and preventive efforts, particularly in realizing the Integrated Primary Service (ILP). However, the implementation of ILP at the Posyandu level still faces various challenges, especially related to the role of health cadres. Based on a preliminary study conducted in February 2025 in Tegalrejo Hamlet, Lerep Village, Semarang Regency, it was found that out of 15 active cadres, only 6 people (40%) fully understood the ILP concept, and only 4 people (26.7%) routinely carried out recording and reporting according to ILP standards. The survey results also showed that only 33% of Posyandu activities had integrated maternal and child health services, immunization, nutrition, and non-communicable diseases comprehensively. This activity aims to improve the capacity and role of health cadres in implementing ILP-based Posyandu through structured training and mentoring. Method: The method used was health education through counseling, participatory training, hands-on practice, and evaluation with pre-test and post-test. This activity was carried out over three weeks and involved all active cadres in Tegalrejo Hamlet.The activity showed an increase in the average cadre knowledge score from 59.3 (pre-test) to 85.7 (post-test). In addition, 80% of cadres showed improved skills in conducting simple screenings, service recording, and public education. Participatory-based training and intensive mentoring can effectively improve the capacity of cadres in implementing ILP-based Posyandu. Recommendation: This activity recommends continuous support from the Community Health Center (Puskesmas), village government, and strengthening the monitoring and evaluation system for cadres to ensure optimal and sustainable ILP implementation.   ABSTRAK Pelaksanaan Posyandu sebagai bagian dari pelayanan kesehatan tingkat dasar memiliki peran vital dalam mendukung upaya promotif dan preventif, terutama dalam mewujudkan Integrasi Layanan Primer (ILP). Namun, implementasi ILP di tingkat posyandu masih menghadapi berbagai kendala, khususnya terkait peran kader kesehatan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada Februari 2025 di Dusun Tegalrejo, Desa Lerep, Kabupaten Semarang, diketahui bahwa dari 15 kader aktif, hanya 6 orang (40%) yang memahami secara menyeluruh konsep ILP, dan hanya 4 orang (26,7%) yang rutin melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai standar ILP. Hasil survei juga menunjukkan bahwa hanya 33% dari kegiatan posyandu telah mengintegrasikan layanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, serta penyakit tidak menular secara menyeluruh. kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan peran kader kesehatan dalam pelaksanaan Posyandu ILP melalui pelatihan dan pendampingan yang terstruktur. yang digunakan adalah pendidikan kesehatan melalui penyuluhan, pelatihan partisipatif, praktik langsung, dan evaluasi dengan pre-test dan post-test. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga minggu dan melibatkan seluruh kader aktif di Dusun Tegalrejo. kegiatan menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan kader dari nilai rata-rata 59,3 (pre-test) menjadi 85,7 (post-test). Selain itu, 80% kader menunjukkan peningkatan keterampilan dalam melakukan skrining sederhana, pencatatan pelayanan, dan edukasi kepada masyarakat. dari kegiatan ini adalah bahwa pelatihan berbasis partisipatif dan pendampingan intensif dapat meningkatkan kapasitas kader dalam menjalankan peran pada pelaksanaan Posyandu ILP secara efektif. Rekomendasi kegiatan ini adalah perlunya dukungan berkelanjutan dari Puskesmas, pemerintah desa, serta penguatan sistem monitoring dan evaluasi kader agar implementasi ILP dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Pendampingan Program Penurunan Berat Badan dan Kebugaran pada Member Sanggar Senam Linggar Ungaran Anugrah, Riva Mustika; Puji Afiatna; Ika Nilawati; Inka Wahyu Arnanda
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4072

Abstract

The increasing number of obesity becomes a health problem. Diet with consumption of foods high in fat and energy is an influencing factor. Gymnastics is one type of exercise that can help lose weight and reduce the risk of increasing non-communicable diseases (NCDs). Most gymnastics members only rely on gymnastics as a means of weight loss, without being balanced by balanced nutrition that supports weight loss. Adequate education on balanced nutrition and healthy lifestyles that support exercise results as well as a system for recording or monitoring progress in weight loss, physical fitness, or changes in healthy behavior have not been carried out, making it difficult to measure the effectiveness of gymnastics activities in the long term. Activities were carried out for three weeks to 10 Linggar Susukan Ungaran gymnastics participants. The first activity was education about foods that support weight loss and was accompanied by measurements of weight, height, Body Mass Index and percent body fat. Education in the second week is a light strength training movement accompanied by anthropometric monitoring, and the third activity is monitoring evaluation of anthropometry.  The results of the implementation of activities show that there is an increase in knowledge of participants in the weight loss program but there has not been a decrease in body weight and body fat percent.   ABSTRAK Meningkatnya jumlah penderita obesitas di masyarakat menjadi permasalahan yang semakin mengkhawatirkan. Pola makan dengan konsumsi makanan  tinggi lemak dan energi merupakan faktor yang mempengaruhi. Senam merupakan salah satu jenis olahraga yang dapat membantu menurunkan berat badan dan mengurangi risiko peningkatan penyakit tidak menular (PTM). Sebagian besar member senam hanya mengandalkan senam sebagai sarana penurunan berat badan, tanpa diimbangi oleh makana gizi seimbang yang mendukung penurunan berat badan. Edukasi yang memadai tentang gizi seimbang dan pola hidup sehat yang menunjang hasil olahraga serta sistem pencatatan atau pemantauan progres penurunan berat badan, kebugaran fisik, atau perubahan perilaku sehat belum pernah dilakukan sehingga, sulit mengukur efektivitas kegiatan senam dalam jangka panjang. Kegiatan dilakukan selama tiga minggu kepada10 peserta senam Linggar Susukan Ungaran. Kegiatan pertama edukasi mengenai makanan yang mendukung penurunan berat badan dan disertai pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh dan persen lemak tubuh. Edukasi pada minggu kedua yaitu gerakan latihan kekuatan ringan disertai pemantauan antropometri, dan kegiatan yang ketiga yaitu monitoring evaluasi terhadap antropometri.  Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta program penurunan berat badan namun belum terdapat penurunan berat badan dan persen lemak tubuh
Pendampingan Guru dalam Pencegahan Sindrom Metabolik di SMA N 1 Bergas, Kabupaten Semarang Afiatna, Puji; Sugeng Maryanto; Umi Setyoningrum; Untari; Anisa Puspitasari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4080

Abstract

Metabolic syndrome is a condition that can lead to the development of cardiovascular disease (CVD), coronary heart disease (CHD), and type 2 diabetes mellitus (T2DM). These diseases are frequently referred to as "noncommunicable diseases," and they account for the highest global mortality rates. The occupation of school teachers has been identified as a profession with a high risk of obesity. This is due to the fact that teachers engage in relatively sedentary daily activities, exhibit excessive eating patterns, frequently engage in snacking, and consume foods that are high in calories and carbohydrates. This condition places school teachers at high risk of developing metabolic syndrome and may adversely impact their performance. It is imperative to enhance our understanding and competencies regarding metabolic syndrome and its prevention. A series of educational initiatives have been implemented to promote the prevention of metabolic syndrome among teaching professionals. These initiatives employ a multifaceted approach, incorporating lecture-style presentations, interactive discussions, and hands-on demonstrations. The content of these sessions encompasses an in-depth examination of metabolic syndrome, its underlying causes, the ramifications it can have on individuals, and effective strategies for its prevention. Prior to the commencement of the activity, a series of anthropometric measurements and health assessments were conducted. Additionally, the presentation encompassed material on the role of functional foods in the prevention of metabolic syndrome, along with the processing of healthy foods. Demonstrations of food portioning according to nutritional needs and metabolic syndrome prevention exercises were carried out. The results obtained after the material was administered revealed a 26.55-point increase in the average score of teacher knowledge. A substantial majority of teachers exhibit a commendable degree of pedagogical expertise, with a notable 93.1% demonstrating a high level of proficiency. Teachers' curiosity about the prevention of metabolic syndrome has been shown to encourage active participation in activities. The subject displays a high level of motivation.   ABSTRAK Sindrom metabolik merupakan kondisi yang dapat berkembang menjadi penyakit  gagal jantung (CVD), jantung coroner (CHD) dan diabetes melitus tipe 2 (T2DM). Penyakit tersebut yang sering disebut ”noncommunicable diseases” dan penyebab utama kematian di dunia. Guru sekolah merupakan kelompok dengan risiko obesitas tinggi karena memiliki aktivitas harian tergolong ringan, pola makan yang berlebih, sering ngemil, makan makanan tinggi kalori dan karbohidrat. Kondisi ini menyebabkan guru sekolah berisiko tinggi mengalami sindrom metabolik dan akan berdampak pada performa guru. Diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan menganai sindrom metabolik dan pencegahannya. Kegiatan pendampingan pencegahan sindrom metabolik pada guru dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi mengenai sindrom metabolik, faktor penyebab, dampak dan pencegahannya. Kegiatan didahului dengan pengukuran antropometri dan pemeriksaan kesehatan. Selanjutnya disampaikan materi mengenai pangan fungsional untuk pencegahan sindrom metabolik dan pengolahan makanan yang sehat. Dilakukan demonstrasi pemorsian makanan sesuai kebutuhan gizi dan senam pencegahan sindrom metabolik. Hasil yang didapat setelah diberikan materi adalah meningkatnya rerata skor pengetahuan guru  sebesar 26,55 poin. Hampir seluruh guru memiliki tingkat pengetahuan guru menjadi baik (93,1%). Keingintahuan guru yang mengenai pencegahan sindrom metabolik menjadi penyemangat guru untuk aktif mengikuti kegiatan. Motivasi yang tinggi untuk memiliki pola makan dan pola hidup yang lebih sehat merupakan dasar perubahan perilaku menjadi perilaku yang lebih sehat.
Pendampingan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pangan Lokal di Desa Tanjung dan Desa Kalijambe, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang Pontang, Galeh Septiar; Sri Setyaningsih; Anissa Putri Aliya; Zeinisa Fariza
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i1.4006

Abstract

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pangan Lokal  program is a government initiative aimed at reducing the prevalence of stunting and wasting among children under five.  PMT has the potential to increase nutrient intake where it is lacking in the diet. A study of the nutritional status of children under five in the villages of Desa Tanjung and Desa Kalijambe revealed that 6.3% exhibited stunting (impaired growth), and 74% demonstrated an energy deficit. A total of 13 children aged 12–59 months participated in the PMT programme, alongside YBM BRILiaN cadres and their mothers. The methodology encompasses observational studies, socialisation initiatives and training programmes for childcare providers and parents of young children. Direct intervention strategies were also employed during the 90-day intervention period. The intervention took the form of a comprehensive menu made available during the designated lunch period. Dietary intake data was collected using a 1x24-hour recall form, administered once every 30 days during the intervention period. It has been demonstrated that the mean energy and macronutrient intake of children under five has increased compared to the mean intake prior to the implementation of the providing supplementary food. A systematic and continuous monitoring process must be implemented within the programme to ensure the efficacy of PMT is preserved.   ABSTRAK Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pangan lokal merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai target penurunan balita stunting dan wasting.  Program PMT berpotensi meningkatkan asupan zat gizi balita yang defisit. Di Desa Tanjung dan Desa Kalijambe terdapat 6,3% balita stunting dan 74% diantaranya balita memiliki asupan energi yang defisit. Pendampingan program PMT pangan lokal dilakukan pada 13 balita berusia 12-59 bulan dengan melibatkan peran kader dan ibu balita. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan pada orang tua balita, pelatihan kepada kader serta intervensi program PMT pada balita selama 90 hari. Intervensi diberikan berupa paket menu lengkap saat jam makan siang. Pengambilan data asupan gizi menggunakan formulir recall 1x24 jam dilakukan tiap bulan selama intervensi. Hasil program diketahui bahwa rata-rata asupan energi dan zat gizi makro balita mengalami peningkatan dibandingkan sebelum PMT pangan lokal. Monitoring menu dalam program perlu dilakukan secara berkala dan terus menerus untuk mempertahankan daya terima PMT.
Penerapan Metode Edukasi Interaktif "Ular Tangga” untuk Mengoptimalkan Pemahaman Gizi pada Ibu Hamil Widayati; Hapsari Windayanti
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4241

Abstract

Stunting is a child growth disorder that causes them to be short in stature. Fortunately stunting in children can be prevented during pregnancy. Stunting is a problem that occurs in almost all regions of Indonesia. One in three toddlers in Indonesia suffers from stunting, which affects their growth and development.  Based on 2018 Riskesdas data, stunting cases reached 30.8% (Ri, 2018) while the WHO has set a threshold whereby Indonesia has a high prevalence rate (30-39%). Stunting is a condition of growth failure in toddlers due to prolonged malnutrition, especially during the first 1000 days of life (HPK). Babies born with low birth weight will experience incomplete growth and cause stunting in children. Improving nutrition during pregnancy can improve the nutritional status of pregnant women thereby preventing stunting (Syakur et al., 2023). Cognitive and motor development barriers that will affect brain development and abilities in school. Meanwhile, the long-term impact of impaired brain development in early childhood will result in decreased intellectual capacity neurological disorders and a negative impact on productivity in adulthood. This community service program aims to provide pregnant women with knowledge about nutrition as a primary measure to prevent stunting. Health education was provided interactively and through demonstrations using a snake ladder game involving 37 pregnant women. The stages included preparation, implementation, and evaluation. The pre-test results showed that 10.8% of pregnant women had good knowledge and after receiving health education 86.5% had good knowledge. The results of the implementation showed an increase in pregnant women's knowledge about maternal nutrition.   ABSTRAK Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang anak yang menyebabkan tubuh mereka berperawakan pendek. Beruntungnya, masalah stunting pada anak sudah dapat dicegah sejak masa kehamilan. Permasalahan stunting terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Satu dari tiga anak balita di Indonesia mengalami stunting dan berdampak pada tumbuh kembangnya.  Berdasarkan data Riskesdas 2018, kasus stunting mencapai 30,8% (RI, 2018), sementara WHO menetapkan ambang batas yang mana Indonesia menempati pada angka dengan prevalensi tinggi (30-39%). Stunting merupakan keadaan gagal tumbuh pada balita akibat dari kekurangan gizi yang lama terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah akan mengalami pertumbuhan yang tidak sempurna dan menyebabkan stunting pada anak. Perbaikan nutrisi semenjak hamil dapat meningkatkan status nutrisi ibu hamil sehingga dapat mencegah stunting (Syakur et al., 2023). Hambatan perkembangan kognitif dan motorik yang akan berpengaruh pada perkembangan otak dan kemampuan di sekolah. Sedangkan dampak jangka panjang akibat terganggunya perkembangan otak diwaktu kecil akan mengakibatkan menurunnya intelektual, terjadinya gangguan fungsi saraf sehingga berpengaruh pada hasil produktifitasnya waktu dewasa. Program pengabdian masyarakat ini bermaksud untuk memberikan pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil sebagai upaya primer dalam pencegahan stunting. Pemberian Pendidikan Kesehatan dilakukan secara interaktif dan demonstrasi dengan menggunakan ular tangga yang melibatkan 37 ibu hamil. Tahapannya meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil yang berpengetahuan baik sebesar 10,8% dan setelah diberikan Pendidikan Kesehatan yang berpengetahuan baik sebesar 86,5%. Hasil kegiatan pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil.
SMART GenRe: Sehat Menjaga Reproduksi, Tahu Resiko dan Edukasi pada Remaja Mawardika, Tina; Umi Aniroh; Agung Wibowo; Alivia Desi Rahmawati; Ahmad Ali Rohman
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4408

Abstract

SMK Negeri 2 Salatiga is a vocational high school located in Dukuh Sidomukti, Salatiga, Central Java. A preliminary survey conducted among students revealed that they had never received information related to reproductive health, particularly regarding potential risks and strategies to maintain reproductive organ health. Adolescents are a vulnerable group with respect to reproductive health issues due to limited knowledge, environmental influences, and high curiosity. Insufficient accurate information may lead to risky sexual behavior, unintended pregnancies, sexually transmitted infections (STIs), and psychosocial problems. Evaluation of the activity was carried out using a pre-test and post-test method to measure the improvement of adolescents’ knowledge regarding reproductive health. In addition, observations were conducted to assess participants’ activeness during the educational sessions, and a satisfaction questionnaire was administered to evaluate the effectiveness of the activity and participants’ responses toward the SMART GenRe program. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge, awareness, and skills in maintaining reproductive health through interactive education and participatory approaches. The program was implemented through health education sessions, group discussions, and case simulations. A total of 59 female students participated in the activity. Prior to the intervention, evaluation results showed that most respondents were in the “poor understanding” category (37.42%), followed by “fair” (26.59%), “good” (28.13%), and “very good” (7.86%). After the intervention, a significant improvement was observed, with the majority of participants categorized as “very good” (35.09%) and “good” (57.07%), while the “fair” category decreased to 6.29% and “poor” to only 1.66%. Based on questionnaire results, it was evident that the educational program improved participants’ understanding of the importance of maintaining reproductive organs, recognizing the risks of sexual behavior, and making healthy and responsible decisions. The overall effectiveness of the intervention was 96.23%. This activity is expected to serve as a sustainable intervention model for preventing adolescent reproductive health problems.   ABSTRAK SMK Negri 2 Salatiga merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang terletak di Dukuh Sidomukti Salatiga Jawa Tengah. Berdasarkan hasil survey yang telah kami lakukan terhadap mitra yaitu remaja yang bersekolah di SMK tersebut  belum pernah mendapatkan informasi terkait Kesehatan Reproduksi khususnya resiko yang ditimbulkan dan cara menjaga kesehatan organ reproduksi. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi karena keterbatasan pengetahuan, pengaruh lingkungan, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Minimnya informasi yang benar dapat menimbulkan risiko perilaku seksual berisiko, kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual (IMS), hingga gangguan psikososial Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi melalui edukasi interaktif dan pendekatan partisipatif. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Selain itu, dilakukan observasi terhadap keaktifan peserta selama sesi edukasi dan pengisian kuesioner kepuasan untuk menilai efektivitas kegiatan dan respon peserta terhadap program SMART GenRe. Metode kegiatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, diskusi kelompok, serta simulasi kasus. Jumlah remaja putri yang mengikuti kegiatan edukasi yaitu 59 responden. Sebelum pelaksanaan edukasi, hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman responden masih didominasi kategori kurang paham sebesar 37,42%, diikuti oleh cukup paham 26,59%, pemahaman baik 28,13%, dan sangat baik hanya 7,86%. Setelah intervensi edukasi diberikan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Mayoritas peserta berada pada kategori sangat baik sebesar 35,09% dan baik sebesar 57,07%, sementara kategori cukup menurun menjadi 6,29% dan kurang tinggal 1,66%. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, diketahui adanya perbaikan pemahaman peserta setelah diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga organ reproduksi, memahami risiko perilaku seksual, serta mampu mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab  yang diberikan sebesar 96,23%.  Kegiatan ini diharapkan menjadi model intervensi berkelanjutan dalam upaya pencegahan masalah kesehatan reproduksi remaja.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Buah Bit dalam Upaya Mengurangi Risiko Anemia di PKK RT 08 RW 03 Kelurahan Candisari Kota Semarang Puspita, Rina; Hendro Pratomo Setyo; Tulus Puji Lestari; Tasya Widyana Sejati
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4429

Abstract

Anemia is a global health problem that significantly affects women of reproductive age, adolescent girls, and pregnant women. The prevalence of anemia in Indonesia reaches 48.9%, with adolescent girls being the highest-risk group. This condition leads to decreased productivity, reduced learning concentration, increased risk of pregnancy and delivery complications, and even potential rejection in blood donation. Therefore, preventive efforts are needed through education and community empowerment based on locally sourced foods rich in iron. This community service activity aimed to empower the community through education on the utilization of beetroot (Beta vulgaris) as an effort to prevent anemia. The methods used included socialization, Focus Group Discussion (FGD), and practical sessions on making beetroot juice. The activity was conducted at PKK RT 08 RW 03, Candisari Village, Semarang City, in February 2025, involving PKK administrators, local residents, lecturers, and students. The results showed a significant increase in community understanding and knowledge regarding the importance of anemia prevention and the benefits of beetroot as a natural source of iron. Based on the evaluation results, more than 85% of participants were able to correctly answer questions related to anemia and balanced nutrition after the activity. Participants also showed great enthusiasm during the beetroot juice-making practice and expressed interest in trying the recipe at home. In addition to improving knowledge and skills, this activity also inspired small-scale entrepreneurial ideas based on beetroot products, such as bottled juice and beetroot jam, which have the potential to increase household economic value.   ABSTRAK Anemia merupakan masalah kesehatan global yang berdampak signifikan pada wanita usia subur (WUS), remaja putri, dan ibu hamil. Prevalensi anemia di Indonesia mencapai 48,9%, dengan remaja putri sebagai kelompok berisiko tertinggi. Kondisi ini berdampak pada penurunan produktifitas, konsentrasi belajar, serta peningkatan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, potensi tertolaknya untuk donor darah. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal dan kaya zat besi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui edukasi pemanfaatan buah bit (Beta vulgaris) sebagai upaya pencegahan anemia. Metode yang digunakan adalah sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), dan praktik pembuatan jus buah bit. Kegiatan dilaksanakan di PKK RT 08 RW 03 Kelurahan Candisari Kota Semarang pada Februari 2025 dengan melibatkan pengurus PKK, masyarakat setempat, dosen, dan mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pencegahan anemia dan manfaat buah bit sebagai sumber zat besi alami. Berdasarkan hasil evaluasi, lebih dari 85% peserta mampu menjawab dengan benar materi terkait anemia dan gizi seimbang setelah kegiatan berlangsung. Peserta juga menunjukan antusiasme tinggi dalam praktik pembuatan jus buah bit serta minat untuk mencoba resep tersebut di rumah. Selain peningkatan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini juga menumbuhkan ide wirausaha kecil berbasis olahan buah bit, seperti jus kemasan dan selai bit, yang berpotensi menambah nilai ekonomi bagi keluarga.Simpulan program edukasi pengolahan buah bit ini efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan anemia. Pemanfaatan buah bit sebagai pangan fungsional tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis bahan pangan lokal.
Peningkatan Pengetahuan Bahaya Anemia pada Remaja Putri dengan Edukasi Penggunaan Tablet Tambah Darah Della Jauharotus Sa’adah; Hasna Mawar Halimah; Maria Yustati Lele; Melati Aprilliana Ramadhani
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4432

Abstract

Adolescence is a transitional period from childhood to adulthood, typically encompassing ages 10 to 19 years, marked by significant physical, psychological, and social changes. Anemia constitutes a major health concern among adolescents, particularly female adolescents. Anemia is defined as a condition where hemoglobin (Hb) levels in the blood are below the normal range, primarily due to iron (Fe) deficiency. This deficiency negatively affects growth, development, cognitive abilities, and learning concentration, while simultaneously increasing susceptibility to infectious diseases and the risk of future reproductive complications. To enhance adolescents' comprehension of the dangers of anemia, an intervention was implemented through health education (counseling). This activity encompassed material presentation, distribution of educational leaflets on anemia, interactive discussion/question-and-answer sessions, and instruction on the proper use of Iron Supplement Tablets (TTD - Tablet Tambah Darah). Iron Supplement Tablets are a nutritional supplement containing iron and folic acid, essential for the body to produce healthy red blood cells and prevent anemia. The target participants for this counseling session were female adolescents at SMK Kanisius Ungaran (Kanisius Ungaran Vocational High School). It is vital for these adolescents to receive engaging and educational information to prevent and manage the risks associated with anemia. A post-intervention evaluation, measured through pretest and posttest scores, demonstrated an increase in knowledge following the education session. The pretest yielded an average score of 68.23. However, following the provision of counseling, the posttest results showed a significant increase, with an average score of 87.86.   ABSTRAK Remaja putri adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dengan rentang usia sekitar 10 hingga 19 tahun yang ditandai dengan berbagai perubahan signifikan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial dengan masalah anemia yang menjadi fokus utama pada remaja. Anemia adalah kondisi dimana hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal yang disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) yang berdampak negatif pada pertumbuhan, perkembangan, kemampuan kognitif dan konsentrasi belajar, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan risiko kompikasi reproduksi di masa depan. Dalam meningkatkan pemahaman remaja tentang bahaya anemia dilakukan salah satu upaya melalui penyuluhan dengan pemaparan materi, pembagian leaflet edukasi anemia, diskusi/tanya jawab dan pemberian edukasi penggunaan Tablet Tambah Darah (TTD). Tablet tambah darah adalah suplemen gizi yang mengandung zat besi dan asam folat yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi sel darah merah yang sehat dan mencegah anemia. Sasaran penyuluhan ini adalah para remaja putri SMK Kanisius Ungaran. Pentingnya bagi para remaja putri SMK Kanisius Ungaran untuk mendapatkan informasi yang menarik dan edukatif untuk mencegah dan mengatasi bahaya anemia pada remaja. Adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikannya penyuluhanyang dilihat dari hasil pretest dan posttest setelah pemaparan materi. Hasil pretest diperoleh skor rata-rata 68,23. Namun, setelah diberikan penyuluhan terjadi peningkatan dengan hasil posttest dengan skor rata-rata 87,86.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Buah Bit dalam Upaya Mengurangi Resiko Anemia pada Ibu PKK Kelurahan Candirejo Rini Susanti; Sari, Kartika; Jatmiko Susilo
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4433

Abstract

Anemia is a condition in which the hemoglobin (Hb) level in the blood is lower than normal as a result of a deficiency of one or more essential nutrients. Currently, anemia is one of the most common and difficult nutritional problems throughout the world, both in developing and developed countries. Anemia can be experienced by all age groups, especially teenagers. Beetroot can help overcome anemia because it contains iron, vitamin C, and folic acid needed for the formation of red blood cells. The benefits of beetroot for anemia include: helping to increase hemoglobin levels in the blood, maintaining health, normalizing low blood pressure, preventing inflammation of blood vessels, preventing birth defects, preventing hypertension and stroke, cleansing the intestines, reducing kidney stones, improving menstrual problems. How to consume beetroot: Drink beetroot juice once a day as much as 250ml, for 7 days to overcome anemia. It can also be combined with beetroot and honey. The goal is to increase knowledge about anemia and the benefits of beetroot. The PKM program implementation method uses a participatory approach, meaning that fostered partners will be actively involved in every stage and coaching activity that will be carried out through health education which is then continued with the implementation of daily habits by mothers and families. To analyze the level of participant understanding, pre- and post-test questionnaires were used. The pre-test results showed that 12 mothers (60%) had poor knowledge and 8 mothers (40%) had good knowledge. The post-test results showed that the majority of mothers had good knowledge, 15 mothers (75%) had good knowledge and 5 mothers (25%) had poor knowledge. The implementation of this PKM activity was very effective and beneficial in increasing the knowledge and understanding of PKK mothers about anemia and its management. ABSTRAK Anemia merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal sebagai akibat dari kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial. Saat ini anemia merupakan salah satu masalah gizi yang paling umum dan sulit diatasi di seluruh dunia baik negara berkembang maupun negara maju. Kejadian anemia dapat dialami oleh semua kelompok umur terutama remaja. Buah bit dapat membantu mengatasi anemia karena mengandung zat besi, vitamin C, dan asam folat yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah. Manfaat buah bit untuk anemia antara lain : membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah, menjaga Kesehatan, menormalkan tekanan darah rendah, mencegah peradangan pembuluh darah, mencegah cacat lahir, mencegah hipertensi dan stroke, membersihkan usus, mengurangi batu ginjal, memperbaiki masalah menstruasi. Cara mengonsumsi buah bit yaitu Minum jus buah bit 1 kali/ hari sebanyak 250ml, selama 7 hari untuk mengatasi terjadinya anemia. Bisa juga dikombinasikan buah bit dan madu. Meskipun Buah Bit berpotensi, pengetahuan WUS tentang pemanfaatan dan pengolahan Buah Bit sebagai penambah darah masih minim di wilayah mitra. Oleh karena itu, kegiatan PkM ini bertujuan untuk meningkatan pengetahuan tentang  anemia dan  pemanfaatan buah Bit. Metode pelaksanaan program PKM dengan metode pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang akan dilakukan melalui pendidikan kesehatan yang kemudian dilanjutkan dengan penerapan kebiasaan sehari-hari oleh ibu serta keluarga. Untuk menganalisis tingkat pemahaman peserta digunakan kuesioner pre dan post test. Hasil pre test di dapatkan hasil bahwa 12 orang ibu (60%) memiliki pengetahuan yang kurang dan 8 orang ibu (40%) memiliki pengetahuan baik sedangkan hasil post test didapatkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan baik sejumlah 15 orang (75%) dan  5 orang ibu (25 %) memiliki pengetahuan kurang. Penyelenggaraan kegiatan PKM ini sangat efektif dan bermanfaat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu-ibu PKK  tentang anemia dan penatalaksanaannya
Pelatihan Penanganan Cedera Ringan dengan Teknik Pembalutan dan Pembidaian Metode Drill and Practice pada Remaja di Dusun Sendang Putri Desa Nyatnyono Puji Lestari; Umi Setyoningrum; Liyanovitasari; Muhamad Sandi Rizki; Aditya Putra
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4440

Abstract

Minor injuries caused by physical activities are a common health issue faced by young people. Often, incorrect initial management traditionally can worsen the injury condition. This community service program is designed to enhance the understanding and skills of adolescents in handling minor injuries through counseling and training on bandaging and immobilization techniques using the drill and practice method. The training takes place in Dusun Sendang Putri RW 06, Desa Nyatnyono, and involves 20 adolescents aged 15 to 20 years. The methods used include interactive lectures, demonstrations, repetitive practice, discussions, and evaluations. The results of this activity show an increase in the knowledge and skills of the participants, evident from their ability to explain procedures as well as to independently apply bandaging and suturing techniques. The drill and practice approach has proven successful in enhancing the participants' confidence and accuracy in practice. This training is expected to contribute to the formation of responsive and skilled adolescents in providing first aid for minor injuries in their surroundings.   ABSTRAK Cedera ringan yang disebabkan oleh aktivitas fisik merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh anak muda. Seringkali, penanganan awal yang dilakukan secara tidak benar secara tradisional dapat memperburuk kondisi cedera tersebut. Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan remaja dalam menangani cedera ringan melalui penyuluhan serta pelatihan mengenai teknik pembalutan dan pembidaian dengan metode drill and practice. Pelatihan ini berlangsung di lingkungan Dusun Sendang Putri RW 06 Desa Nyatnyono dan melibatkan peserta remaja berusia 15 hingga 20 tahun yang berjumlah 20 orang remaja. Metode yang digunakan mencakup ceramah interaktif, demonstrasi, praktik berulang, diskusi, dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta, terlihat dari kemampuan mereka untuk menjelaskan prosedur serta mengaplikasikan teknik pembalutan dan pembidaian secara mandiri. Pendekatan drill and practice terbukti berhasil dalam meningkatkan kepercayaan diri dan akurasi praktik peserta. Pelatihan ini diharapkan bisa berkontribusi pada pembentukan remaja yang responsif dan terampil dalam memberikan pertolongan pertama untuk cedera ringan di lingkungan sekitar.