cover
Contact Name
Zuhair Abdullah
Contact Email
zuhair.abdullah@uingusdur.ac.id
Phone
+6285799315340
Journal Mail Official
jupe@uingusdur.ac.id
Editorial Address
Jl. Pahlawan, KM. 5, Desa Rowolaku, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Penelitian
ISSN : 18299903     EISSN : 25416944     DOI : https://doi.org/10.28918/jupe
Aim Jurnal Penelitian is a peer-reviewed journal dedicated to publishing high-quality research on various aspects of religiosity, Islam, and culture in Indonesia. As a predominantly Muslim country, Indonesia is home to a diverse range of local cultures. Islam, which originated outside of Indonesia, brought with it not only religious doctrines but also cultural influences. The interaction between Islam— as the majority religion— and the unique cultural identity of Indonesia is a central theme of the journal. The journal focuses on exploring the dynamics between Islam and Indonesian identity, examining how the two intersect and influence each other. Scope The dynamics between Islam and Indonesian identity enable a diverse range of scientific studies. Therefore, the scope of Jurnal Penelitian includes issues related to: - The relationship between Islam and local culture in Indonesia, - Islamic movements vis-a-vis the state in Indonesia, - Mainstreaming religious moderation in Indonesia, - Islamic education and appreciation of local culture in Indonesia.
Articles 281 Documents
KEUNGGULAN MADRASAH SEBAGAI INSTITUSI PENDIDIKAN Akhmad Zaeni
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 1 (2008): Volume 5 Nomor 1 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam sejarahnya, sebagai institusi pendidikan, pesantren dan madrasah mendapat rintangan besar dari kaum penjajah. Ketidaksukaan pemerintah Kolonial Belanda terhadap pesantren dan madrasah pada hakikatnya terletak pada proses pembelajaran yang mengarah pada pembentukan kepribadian muslim, dimana salah satu gejala kepribadian muslim adalah tertanamnya jiwa patriotisme wathaniyah dan diniyah. Karena itu, pesantren dan madrasah menjadi institusi pendidikan Islam yang berbahaya bagi kelangsungan daerah jajahan. Tak heran pula, institusi pendidikan Islam semacam pesantren dan madrasah selalu mendapat perlakukan diskriminatif dari kaum penjajah bahkan masih terasa hingga kini. Padahal, harus diakui, peranan pesantren dan madrasah telah nyata-nyata memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.
JARINGAN ULAMA HADITS INDONESIA Hasan Su'aidi
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai salah satu dari sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an, hadits mendapatkan banyak perhatian dari para cendekiawan muslim, tidak terkecuali para cendekiawan muslim Indonesia. Namun demikian, selama ini tokoh dan pemerhati hadits Indonesia kurang terekspos dibandingkan dengan para pemerhati hadits dari negara-negara lain, khususnya Negara-negara yang termasuk wilayah Timur Tengah. Padahal banyak di antara para ulama atau cendekiawan muslim Indonesia yang mempunyai perhatian khusus dan menggeluti bidang tersebut kemudian dituangkan ke dalam beberapa kitab atau buku yang membahas tentang hadits maupun ilmunya. Bahkan dari ulama-ulama tersebut kemudian terbentuk jaringan ulama khususnya yang membidangi hadits maupun ilmu hadits. Sebagai salah satu dari sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an, hadits mendapatkan banyak perhatian dari para cendekiawan muslim, tidak terkecuali para cendekiawan muslim Indonesia. Namun demikian, selama ini tokoh dan pemerhati hadits Indonesia kurang terekspos dibandingkan dengan para pemerhati hadits dari negara-negara lain, khususnya Negara-negara yang termasuk wilayah Timur Tengah. Padahal banyak di antara para ulama atau cendekiawan muslim Indonesia yang mempunyai perhatian khusus dan menggeluti bidang tersebut kemudian dituangkan ke dalam beberapa kitab atau buku yang membahas tentang hadits maupun ilmunya. Bahkan dari ulama-ulama tersebut kemudian terbentuk jaringan ulama khususnya yang membidangi hadits maupun ilmu hadits.
PERSEPSI MAHASISWI TERHADAP JILBAB GAUL Sopiah; Abdul Khobir; Amat Zuhri; Eli Mufidah
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi jilbab gaul di kalangan mahasiswi STAIN Pekalongan. Jilbab gaul dimaksudkan sebagai busana muslimah yang gaul, yang cenderung seksi sehingga di satu sisi menutup tubuh pemakainya, di sisi lain menampilkan keseksian. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan paradigma naturalistik. Sifat penelitian ini deskriptif analisis kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswi STAIN Pekalongan terhadap jilbab gaul sangat positif, syar’i secara kognitif namun secara afektif bervariasi. Faktor yang melatarbelakangi pemakaian jilbab gaul berupa faktor personal dan faktor situasional.
KULTUR EKONOMI PADA KLUSTER INDUSTRI KECIL (Pendekatan Sosiologi terhadap Relasi Ekonomi & Agama Melalui Strategi: Moral, Rasional & Modal Sosial) Susminingsih
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena industri kecil dipandang sebagai salah satu tahap dari sebuah proses besar evolusi masyarakt di Indonesia. Pasca krisis moneter era 1997an, sektor industri justru didominasi usaha kecil dan menengah (small and medium enterprises atau SMEs). Di Kota Pekalongan sendiri, sektor industri skala mikro atau kecil mempunyai eksistensi tersendiri walaupun kehadirannya tidak jarang hanya dilihat sebagai effect multiplier dari industri- industri besar. Dengan struktur kepemilikan dan pola kerja antara pengusaha dan karyawan yang sangat unik dilihat dari sisi moral, rasional sekaligus menjadikannya sebagai modal sosial yang tidak mudah dikesampingkan begitu saja. Konsekuensinya, profil industri dalam kategori dormant cluster ini perlu didukung, dibina dan dikembangkan tanpa menghilangkan identitas mereka sebagai kaum santri.
FORMULASI PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS BAGI PEMELUK AGAMA LOKAL Moh. Rosyid
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hak pelayanan pendidikan bagi warga negara yang memiliki kebutuhan khusus dilindungi oleh negara. UU nomor 20 tahun 2003 pasal 5 (2) warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif noninteraktif ini mengkaji formulasi pendidikan layanan khusus bagi pemeluk agama lokal, masyarakat Samin Kudus. Kajian ini menunjukkan bahwa praktik pendidikan belum mengakomodir formulasi pendidikan khusus bagi pemeluk agama lokal. Praktik pendidikan rumahan (homeschooling) pada dasarnya pendidikan mengakomodir kebutuhan masyarakat Samin, akan tetapi, produk hukum tentang homeschooling belum ada. Dengan demikian, pendidikan formal adalah solusi yang harus dipenuhi untuk pelayanan pendidikan bagi pemeluk agama Samin.
FORMALISASI DAN TRANSFORMASI PENDIDIKAN PESANTREN Ahmad Ta'rifin; Muhlisin; Maskhur; Miftahul Ula
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini menyimpulkan bahwa upaya formalisasi pendidikan pesantren yang dilaksanakan pada beberapa pesantren di Kota Pekalongan dengan orientasi "setengah hati", tidak diikuti pendirian lembaga pendidikan formal, justru berdampak negatif terhadap perkembangan pesantren. Sebaliknya, jika diikuti dengan pendirian lembaga pendidikan formal seperti MTs dan MA maka berpengaruh terhadap perkembangan pesantren secara kondusif. Formalisasi pesantren juga berdampak terhadap pergeseran pola kepemimpinan pesantren, dari kepemimpinan individu ke kepemimpinan kolektif yayasan; dari sistem pendidikan tradisional ke sistem pendidikan persekolahan; dari kurikulum kitab kuning oriented ke kurikulum integrative; dan dari metode tradisional salafi yang kyai oriented (weton, sorogan, hapalan, ceramah) ke metode student oriented (diskusi, resitasi, problem solving, kerja kelompok) dan lain-lain. Yang menarik, ketika pesantren-pesantren yang diteliti memformalisasikan pendidikannya, kurikulum pesantren salaf yang berbasis kitab kuning tetap dipertahankan, sedangkan ilmu umum hanya dijadikan pendukung ilmu agama yang ada di kurikulum salaf. Ilmu umum dipandang sebagai kebutuhan/tantangan modernisasi pendidikan.
DIMENSI FEMINIS TUHAN Tri Astutik Haryati
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gender inequality seringkali dianggap devine creation (segalanya bersumber dari Tuhan). Di sinilah teologi Islam sebenarnya mendapat batu ujian. Karena teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat sehingga tidak hanya bicara tentang konsep ketuhanan, tetapi yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan sosial terutama persoalan perempuan. Lebih tepatnya, teologi perempuan adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminim Tuhan demi kesetaraan jender. Penelitian ini berusaha melacak akar-akar teologis perempuan serta mengekplorasi sifat-sifat feminim Tuhan agar kesetaraan gender dapat tercipta. Perendahan terhadap kualitas feminim perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminim Tuhan. Atas dasar hal tersebut, diskriminasi jender sesungguhnya tidak memiliki legitimasi teologis tetapi justru pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. Alasannya, relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri.
TAFSIR AGAMA DAN KEKERASAN BERBASIS GENDER Triana Sofiani
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada indikasi bahwa pemahaman bias atas tafsir teks-teks relasi gender bukan disebabkan oleh keyakinan akan sakralitas agama, akan tetapi lebih disebabkan sebagai alasan ‘pembenar’ atau menjustifikasi perilaku tindak kekerasan yang dilakukan terhadap korban. Oleh karena itu, akar penyebab tindak KDRT bukan hanya dipengaruhi oleh faktor pemahaman agama yang keliru, melainkan juga oleh faktor lain di luar agama, seperti budaya patriarkhi, role mode; mitos KDRT yang mengejawantah dalam kehidupan masyarakat; psikologis pelaku; faktor ekonomi dan idiologi harmoni. Faktor-faktor tersebut saling terkait erat dan tidak bisa berdiri sendiri sebagai alasan untuk menjustifikasi terjadinya tindak KDRT.
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PENJUALAN PRODUK UNGGULAN DAERAH UNTUK PENCIPTAAN KEPUASAN PENGUNJUNG PASAR GROSIR PEKALONGAN Arif Budiharjo
JURNAL PENELITIAN Vol 5 No 2 (2008): Volume 5 Nomor 2 2008
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi terhadap strategi peningkatan kualitas pelayanan produk unggulan daerah untuk penciptaan kepuasan pengunjung ini dilakukan pada pasar grosir kota Pekalongan, yaitu pasar grosir Setono dan pasar grosir MM. Kajian ini meliputi aspek pelayanan penjualan yang meliputi dimensi pelayanan; atribut penjualan lainnya, karakteristik produk yang dijual, dan aspek kepuasan atas konstelasi pasar grosir. Adapun alat analisis yang digunakan adalah important performance analysis (IPA). Hasil riset ini mengungkap bahwa kepuasan pengunjung masih belum atau tidak puas. Untuk itu, hasil kajian ini memberi rekomendasi kepada pengelola grosir dan para pedagang pada kios-kios di pasar grosir-pasar grosir di Pekalongan untuk meningkatkan kualitas pada dimensi pelayanan, kualitas atribut penjualan, dan kualitas karakteristik produk yang dijualnya.
Mubadalah and Sexual Consent Education: Bridging Religious Norms & Legal Perspective on Sexual Violence Prevention Firdaus, Slamet; Gumiandari, Septi; Fitriana; Nafi’a, Ilman
JURNAL PENELITIAN Vol 21 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jupe.v21i2.9249

Abstract

Misconceptions surrounding sexual consent often serve as a catalyst for sexual violence. The absence of explicit refusal in a sexual encounter does not necessarily indicate agreement. The debate over sexual consent education has gained prominence, particularly in the context of Indonesia’s Draft Law on the Prevention and Handling of Sexual Violence (RUU PKS). This study critically examines polarized perspectives on this issue using a qualitative approach and the Mubādalah framework to find common ground. The findings reveal two opposing positions. The Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) emphasizes that the absence of consent is a primary cause of sexual violence, advocating for sexual consent education as a preventive measure. In contrast, the Indonesian Family Love Alliance (AILA Indonesia) argues that such education contradicts Indonesia’s cultural and religious values, potentially fostering sexual permissiveness. AILA proposes a preventive approach rooted in local norms and values. The Mubādalah perspective provides a mediating lens, emphasizing that sexual activities outside marriage are impermissible in Islam. It reframes sexual consent within marital contexts and advocates education that prioritizes respect, mutual consent, and adherence to ethical and religious principles. This balanced approach addresses both ICJR’s and AILA’s concerns, fostering a culture of respect and responsibility while upholding religious values to prevent sexual violence.