cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
ISSN : -     EISSN : 26866404     DOI : -
Core Subject : Education,
Seminar nasional Pascasarjana merupakan kegiatan rutin yang dilakasanakan oleh Pascasarjana UNNES. Tahun 2018 adalah kali ke 5 pelaksanan yang diselenggarakan oleh Kampus yang telah berubah alamat dari lokasi di Kampus Bendan Ngisor berpindah di Kampus Kelud Utara III Kecamatan Gajahmungkur kota Semarang. Kegiatan akademik ini merupakan kerjasama yang sinergi antar enam Kampus Pascasarjana LPTK di Indonesia.
Articles 830 Documents
Pelaksanaan Koperasi Sekolah di MAN 3 Palembang Imam Santoso
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koperasi sekolah memiliki peranan sebagai penggerak dan motivasi siswa untuk berwirausaha sesuai dengan minat bakat. Koperasi sekolah juga disiapkan sebagai sarana pelatihan siswa untuk mempersiapkan insan pembangun masa depan. Koperasi sekolah berada di lingkungan sekolah dengan beranggotakan semua staff, guru dan siswa. Semua jejang tingkatan pendidikan mulai dari sekolah dasar, menengah dan atas biasanya memiliki koperasi sekolah Metodologi penelitian yang digunakan penelitian deskriptif kualitatif dan jenis penelitian lapangan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. informan utama penelitian ini ialah pembina koperasi sekolah dan ketua koperasi, sedangkan informan pendukung ialah kepala sekolah dan peserta didik. Adapun hasil penelitian: Pelaksanaan koperasi sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 3 Palembang terdiri dari empat point penting yakni: (1) Rencana detail program dilakukan untuk merancang semua program kegiatan yang akan dilakukan koperasi sekolah, (2) Pembagian tugas yang telah dibagi sesuai bidangnya dirancang ketua koperasi dan siswa pun telah dikelompokkan, (3) Monitor atau pemantauan kegiatan koperasi sekolah yang dilaksanakan oleh siswa diantaranya menjaga koperasi sekolah, menjual, mengevaluasi sampai pelaporan di Rapat Anggota Tahunan, dan (4) Review sama halnya seperti pengawasan kegiatan koperasi sekolah langsung ditempat kegiatan koperasi sekolah ini dilakukan. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan koperasi sekolah terdiri dari faktor pendukung meliputi keikutsertaan siswa, tersedianya fasilitas sarana prasarana, kebijakan strategis kepala sekolah, dan aturan-aturan terkait koperasi untuk mempermudahkan siswa menjalankan tugasnya dan faktor penghambat meliputi kurangnya pembiasaaan disiplin, kurangnya kesadaran siswa mengenai pelaksanaan tugasnya, kurangnya sosialisasi dan pelatihan kepada siswa
Pendidikan Musik di masa Pandemi Covid-19: Adaptasi kebiasaan Baru dalam mengajar musik secara daring Richard Junior Kapoyos
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptasi kebiasaan baru dalam mengajar musik memerlukan waktu lama dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisikondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk melakukan segala kegiatan di rumah saja, dalam memotong rantai penyebaran pandemi covid-19 yang menjadi ujian berat untuk pendidik musik. Namun para pendidik musik tetap survive dalam mengajar musik secara daring. Dampak yang kurang baik dalam Adaptasi Kebiasaan Baru dalam mengajar musik yang serba daring ini adalah mengubah halhal yang bersifat abstrak menjadi kongkret, begitu juga sebaliknya yaitu dari kongkret menjadi abstrak. Dampak lainnya yaitu membuat apresiator, dalam hal ini manusia, tidak lagi dapat berinteraksi dengan sesama manusia karena lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk mengajar musik secara daring
Efektivitas Pembelajaran IPS Berbasis Media Animasi di Era Pandemi Covid-19 Sugiantoro Sugiantoro; Joko Widodo; Masrukhi Masrukhi; Agustinus Sugeng Priyanto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi Covid-19 mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, tak terkeccuali aspek pendidikan. Dampak dari pandemi Covid-19 pada aspek pendidikan adalah mengharuskan keegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun peserta didik berada di rumah. Sehingga pendidik dituntut untuk mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online). Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mempelajari dan memahami penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran online masa Covid-19. Hasil kajian ilmiah ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi berbasis media animasi dalam pembelajaran online di masa Covid-19 ini menimbulkan berbagai tanggapan dan perubahan yang mempengaruhi proses pembelajaran serta tingkat perkembangan peserta didik dalam merespon materi yang disampaikan. Sehingga dapat ditarik sebuh benang merah bahwa pembelajaran berbasis media animasi dirasa cukup efektif dalam pembelajaran IPS baik disaat pandemic covid-19 bahkan pasca pandemic covid-19.
Pendidikan Integrasi Bangsa Berbasis Kearifan Lokal Khanduri Pada Masyarakat Multiteknik di Langsa Pasca Konflik Aceh Aulia Rahmana; Wasino Wasino; Suyahmo Suyahmo; Thriwaty Arsal
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi bangsa menjadi isu yang sangat penting di tengah kondisi Aceh pasca konflik. Pengalaman konflik Aceh sejak tahun 1976-2005 menyebabkan rawan disintegrasi bangsa. Terlebih adanya residu pasca konflik berupa etnosentrisme dan masih munculnya rasa curiga terhadap orang baru berpotensi memunculkan disharmoni hubungan masyarakat multi etnik. Langsa sebagai bagian dari wilayah Aceh pasca konflik memiliki masyarakat multietnik dengan keberagaman budaya, bahasa, dan karakter. Tulisan ini secara khusus menganalisis kearifan lokal sebagai media pendidikan integrasi bangsa. Tulisan ini didasarkan pada argumen bahwa kearifan lokal tidak sekedar bersifat berguna bagi satu komunitas masyarakat saja, tetapi telah menjadi media dalam integrasi sosial masyarakat dan menjadi media pendidikan integrasi bangsa yang dapat mengintegrasikan masyarakat multietnik pasca konflik Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini merupakan kerja lapangan (field work) melalui tahapan observasi, wawancara mendalam dan analisis data. Selain itu, data juga didapatkan melalui studi pustaka untuk mendapatkan data yang relevan dengan tema penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa khanduri memiliki nilai-nilai pendidikan integrasi bangsa sehingga mampu menjadi jembatan untuk mengintegrasikan masyarakat multietnik dengan cara membangun kesadaran akan rasa persatuan, saling menghormati, menghargai perbedaan etnik. Kemampuan kearifan lokal sebagai rekayaya sosial dan ketahanan sosial ini dapat dikembangkan sebagai sebuah kebijakan integrasi bangsa berbasis kearifan lokal di Aceh pasca konflik. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menggali dan mendalami peran kearifan lokal dari masyarakat multietnik di Aceh yang dapat berfungsi sebagai media pendidikan integrasi bangsa.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL dan RESILIENSI: Reorientasi Pendidikan Pasca Pandemi (Analisis Sistem Ekologisosial dan Ruang Hidup Masyarakat Indonesia) Mufti Riyani; Wasino Wasino; Suyahmo Suyahmo; Nugroho Trisnu Brata
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku masyarakat di tengah pandemi telah mengakibatkan kerentanan sosial. Hal ini ditandai dengan guncangan pada community resilience akibat perilaku sosial yang kontradiktif dan menimbulkan friksi lanjutan. Dalam situasi ini, sistem pendidikan kita dinilai gagal menghasilkan SDM dengan keseimbangan aspek IQ, EQ dan SQ. Penelitian ini bertujuan menganalisis sebab munculnya perbedaaan perilaku sosial di tengah pandemi dan menunjukan posisi strategis pendidikan. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif fenomenologi. Pengambilan data menggunakan tehnik dokumentasi melalui data mining media sosial, observasi dan studi literatur. Analisis data memanfaatkan sentimen analisis dengan bantuan software orange.bioloab.si. Subjek bersifat purposive sampling. Analisis teoritik mengggunakan:1). cognitive perspectives Kurt Lewin serta, 2). teori Brofenbenner. Hasilnya menunjukan bahwa 2 pandangan ini sama-sama menjelaskan kaitan antara lingkungan mental personal individu dengan lingkungan sosialnya. Posisi sekolah dan sistem pendidikan sebagai mesosystem dan exosytem yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu dalam menghadapi Pandemi. Pendidikan Lingkungan Sosial dapat direkomendasikan sebagai reorientasi pelaksanaan pendidikan pasca pandemi dengan tujuan membantu individu atau kelompok masyarakat untuk memperbaiki regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, empati, kemampuan menganalisis masalah, efikasi diri dan peningkatan aspek positif yang diperlukan untuk membangun kemampuan resiliensi.
Model Pembelajaran Interaktif edukatif bagi penanaman sikap tanggap bencana erupsi merapi siswa SD di kabupaten Boyolali Mukhlis Mustofa; Dewi Liesnoor Setyowati; Juhadi Juhadi; Suwito Eko Pramono
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan kebencanaan adalah pendidikan yang mengintegrasikan materi kebencanaan dalam pendidikan formal sehingga siswa dapat berperan dalam membangun pengetahuan, untuk membangun ketahanan sekolah terhadap dan untuk menunjukkan bahwa promosi ketahanan seismik sekolah untuk keselamatan anak-anak dan kelangsungan pendidikan mereka. Permalahan kebencanaan berdasarkan kontes Ilmu Pendidikan Sosial dapat dikaji dari aspek sosiologis maupun elemen pembelejaran. rumusan masalah penelitian ini diidentifikasi dalam lima pertanyaan penelitian, yaitu: Bagaimana keteraitan tentang peran kearifan lokal di wilayah erupsi merapi sebagai lanskap pendidikan kebencanaan terhadap pengembangan pembelaaran? Bagaimana model pembelajaran yang dpaat dikembangkan di wilayah rawan bencana merapi di kabupaten Boyolali? Bagaimana model pembelajaran edukatif dalam konteks pengembangan wilayah tanggap bencana erupsi merapi sebagai bagian dari Indonesia? Bagaimana pemenuhan hak-hak edukatif siswa dalam pembelajaran IPS sebagai perwujudan warga negara yang baik ? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, mempunyai setting yang aktual, peneliti menjadi instrumen kunci, data biasanya bersifat deskriptif, menekankan kepada proses, Pendidikan kebencanaan berkelanjutan menjadi sangat penting mengingat kompleksitas wilayah di Indonesia memiliki potensi kebencanaan yang beragam. Keberadaan Bencana alam tidak harus disikapi dengan perasaaan ketakutan namun haruslah disikapi dengan penuh kesadaran untuk antisipasi. Nilai penting kebencanaan berikut penanaman sikap kesadaran siswa sejak usia dini ini menjadi penumbuhan proporsional dan sebagai bahan penelitian memadai.
Upaya Pelestarian Rapa’i Geurimpheng Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Di SMA Negeri 01 Padang Tiji Kabupaten Pidie Ahmad Syai
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan hal yang biasa dilakukan di sekolah, namun beda halnya dengan kegiatan ekstrakurikuler rapa’igeurimpheng di SMAN 1 Padang Tiji, langsung dilaksanakan dan dilatih oleh seniman penerus rapa’i geurimpheng, sehingga hasil daripelatihan yang dilakukan selama dua bulan lamanya telah menjadikan siswa mampu menampilkan rapa’i geurimpheng, kompak di dalamteam, bertanggungjawab dengan waktu serta saling menghargai satu dengan lainnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptifkualitatif, Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalahreduksi data, display data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan. Proses pembelajaran rapai geurimpheng di SMAN 1Padang Tiji diawali dengan pengetahuan terhadap perlakuan alat musik rapa’i, pemeliharaan dan penyimpanannya, teknik duduk danmenabuh rapa’i. Praktik menyanyikan syair sekaligus menabuh rapai dan permainan rapa’i dalam satu kelompok. Kendala yang dihadapipada saat proses latihan adalah awalnya pelatih sulit melakukan pendekatan kepada siswa, seiring perjalanan waktu kedekatan sudah terjalindan memudahkan pelatih melakukan proses pembelajaran. Demikian pula halnya dengan kehadiran siswa, terlalu banyak alasan sehinggamelibatkan pemantauan dari kepala sekolah. Pemilihan objek seni dalam kegiatan ekstrakurikuler sangat tepat sehingga siswa secara langsungdapat merasakan proses latihan serta aplikasi pelestarian seni daerah yang mereka miliki.
Inovasi Media Pembelajaran Tari Semarangan Berbasis Android Meningkatkan Kesadaran Budaya Lokal Atip Nurharini; Sumilah Sumilah; Arini Estiastuti; Sri Susilaningsih
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tari Semarangan sebagai seni budaya lokal populer di masyarakat Semarang dengan jumlah peminat untuk mempelajarinya terus bertambah. Tari ini menjadi pengembangan muatan lokal daerah sekolah dasar di Semarang. Guru sekolah dasar bingung ketika dihadapkan dengan materi tari Semarangan pada mata pelajaran muatan lokal. Tidak semua guru memiliki waktu khusus untuk belajar tari di sanggar, atau orang lain, sehingga diperlukan teknologi atau media pembelajaran yang praktis sebagai alternatif dalam belajar tari Semarangan. Tujuan penelitian ini yaitu meningkatkan kesadaran budaya lokal dengan penerapan inovasi media pembelajaran tari semarangan berbasis android. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian yaitu 88% guru dan siswa senang mempelajari tari gaya semarangan, dan guru mampu membuat media pembelajaran tari Semarangan berbasis android. Hasil ini mengimplikasikan tentang meningkatkan kesadaran untuk mencintai budaya lokal tari semarangan dengan adanya kemunculan media inovasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah
Tantangan dalam Penyelenggaraan Pendidikan Seni Budaya pada Tingkat SMP dari Sudut Pandang Manajemen Pendidikan Frihastyayu Bintyar Mawasti
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran seni budaya di tingkat satuan pendidikan SMP sering kali menimbulkan gejolak terkait dalam proses pembelajaran. Guru seni budaya terkadang diharuskan mengajar tiga materi sekaligus, yaitu seni tari, seni musik, dan seni rupa yang notabene tidak semua merupakan bidang ilmu yang digeluti akibat dari ketidaktersediaan tenaga pendidik di sekolah dan untuk mengatasi minimnya biaya untuk gaji guru seni budaya yang honorer. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan struktural fungsional. Tujuan penulisan artikel ini yakni ingin mengetahui bagaimana praktik penyelenggaraan pendidikan seni budaya pada tingkat SMP dari perspektif manajemen pendidikan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa guru seni budaya di tingkat SMP yang mengajar tiga bidang dalam mata pelajaran Seni Budaya dapat menyampaikan materi dengan baik dengan mengikuti kegiatan pengembangan guru disertai dengan pengintegrasian kepala sekolah masing-masing. Artikel ini diharapkan dapat memberikan gambaran baru mengenai pengelolaan sistem pengajaran seni budaya di sekolah sehingga dapat membantu mengatasi problematika yang diakibatkan oleh minimnya biaya untuk pengadaan guru seni budaya di sekolah, khususnya tingkat SMP.
Problematika Penerapan Kriya di SMP N 3 Jiken Blora dalam Upaya Pelestarian dan Pengembangan Potensi Lokal Gunadi Gunadi; Bangkit Sanjaya
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blora terkenal dengan hutan jati unggulan. Banyak perajin akar jati di Kecamatan Jiken yang menjadi identitas Kabupaten Blora. Sekolah merupakan lembaga efektif dalam mendukung pelestarian dan pengembangan potensi lokal. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan kriya dalam pembelajaran seni budaya di SMP N 3 Jiken Blora dan mendeskripsikan problematika penerapan kriya dalam pembelajaran seni budaya berbasis potensi lokal di SMP N 3 Jiken Blora. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan di SMP N 3 Jiken Blora. Subjek penelitian ini adalah Guru Seni Budaya di SMP N 3 Jiken Blora. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan teknik analisis model interaktif melalui beberapa tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan simpulan/ verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran seni kriya di SMP N 3 Jiken Blora mengacu pada buku teks prakarya dengan kegiatan seperti memahat, menganyam, dan menjahit. Kegiatan memahat media yang digunakan seperti sabun, kayu, dan bambu. Sedangkan kegiatan menganyam yang diberikan seperti membuat “keset” dari bahan kain bekas. Problematika dalam pembelajaran kriya antara lain basic guru yang tidak sesuai bidang studi sehingga skill dan kreativitas yang kurang. Saran, hendaknya terjalin koordinasi antara Dinas Pendidikan, sekolah, guru, dan perajin lokal agar bersinergi dalam satu tujuan yang sama.