cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 452 Documents
Efektivitas Promosi Kesehatan Dalam Mendukung Pengobatan Karies Gigi Pada Pasien Dewasa Harlina Harlina; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1444

Abstract

Latar Belakang: Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak dialami masyarakat dan menjadi masalah kesehatan gigi serta mulut di berbagai negara. Pada pasien dewasa, karies yang tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan nyeri, gangguan fungsi pengunyahan, infeksi, penurunan kualitas hidup, hingga kehilangan gigi. Keberhasilan pengobatan karies tidak hanya ditentukan oleh tindakan klinis, tetapi juga oleh perilaku pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut, mematuhi jadwal kontrol, dan menerapkan pola hidup sehat. Promosi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien sehingga mendukung keberhasilan terapi karies. Tujuan: Menganalisis efektivitas promosi kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan menjalani pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest with control group. Sebanyak 80 pasien dewasa yang menjalani perawatan karies dibagi menjadi kelompok intervensi (n=40) dan kelompok kontrol (n=40). Kelompok intervensi menerima promosi kesehatan melalui edukasi tatap muka, media leaflet, video edukasi, dan penguatan melalui media digital selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol memperoleh pelayanan rutin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, observasi perilaku kebersihan gigi dan mulut, serta lembar kepatuhan kontrol. Analisis menggunakan paired t-test, independent t-test, uji Chi-square, dan ANCOVA dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Kelompok intervensi mengalami peningkatan skor pengetahuan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,001). Perilaku menjaga kebersihan gigi dan mulut meningkat secara bermakna setelah intervensi (p<0,001). Tingkat kepatuhan terhadap jadwal kontrol pengobatan pada kelompok intervensi mencapai 90,0%, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (67,5%; p=0,012). Kesimpulan: Promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta kepatuhan pengobatan karies gigi pada pasien dewasa. Integrasi program promosi kesehatan ke dalam pelayanan kedokteran gigi dapat mendukung keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Faktor - Faktor Penyebab Penumpukan Antrean Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Maranatha Nursipa Nursipa; Desy Widyaningrum
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1452

Abstract

Queue buildup at outpatient registration is an issue that can affect the quality of hospital services. Long queues have the potential to increase patient waiting times, reduce satisfaction, and hinder service effectiveness. This study aims to analyze the factors causing queue buildup during outpatient registration at Maranatha Hospital. The study employs a descriptive approach utilizing observation, interviews, and document review. Research informants include registration staff and relevant personnel from the medical records unit. Data were analyzed descriptively to identify the causes of queue buildup based on aspects of human resources, work methods, facilities and infrastructure, and service systems. The findings are expected to provide insight into the factors contributing to queue buildup, thereby serving as a basis for the hospital to evaluate and improve the effectiveness of outpatient registration services.
Analisis Perbedaan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Dengan Antikoagulan Edta Dan Naf Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Inka Fitra Rahmadani; Fitria Milanda
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1454

Abstract

Random blood glucose (RBG) testing is one of the clinical chemistry examinations whose results may be affected by delayed analysis due to the glycolysis process. The use of an appropriate anticoagulant is essential to maintain glucose stability. Sodium fluoride (NaF) is known to inhibit glycolysis, whereas Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) is more commonly used for hematological examinations but is still occasionally used for glucose testing. The different characteristics of these anticoagulants may influence the accuracy of glucose measurements; therefore, further evaluation is necessary. This study aimed to analyze the differences in random blood glucose levels measured using EDTA plasma and sodium fluoride (NaF) plasma in final-year students. This experimental study employed a comparative design involving two types of anticoagulants using blood samples collected from 20 respondents. Venous blood samples were collected using a vacutainer system, with 3 mL drawn into an EDTA tube and 2 mL into a NaF tube. Random blood glucose levels were measured using the enzymatic hexokinase method. The results showed that the mean random blood glucose level was 86.05 mg/dL in EDTA plasma and 89.80 mg/dL in NaF plasma, with a mean difference of 3.75 mg/dL. The paired t-test demonstrated a statistically significant difference between the two sample types. NaF plasma produced higher glucose levels than EDTA plasma because it effectively inhibited glycolysis, thereby maintaining glucose stability throughout the analytical process.
Analisis Strategi Promosi Kesehatan Dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer Di Puskesmas Tiakur Kabupaten Maluku Barat Daya Heronika Anthonia Marcus; Rahmawati Azis; Jalil Genisa
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1455

Abstract

Layanan kesehatan primer merupakan fondasi utama sistem kesehatan yang mampu memenuhi hingga 90 persen kebutuhan kesehatan masyarakat sepanjang siklus hidup, namun implementasinya di daerah kepulauan terpencil seperti Kabupaten Maluku Barat Daya masih menghadapi tantangan struktural pada 2023. Program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan sejak Agustus 2023 menuntut strategi promosi kesehatan berupa advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat, namun kesiapan pelaksanaannya di Puskesmas Tiakur belum terkaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi promosi kesehatan dalam implementasi ILP di Puskesmas Tiakur, Kabupaten Maluku Barat Daya, tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sepuluh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas Kepala Puskesmas, Penanggung Jawab Program ILP, petugas promosi kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan masyarakat penerima layanan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan advokasi berjalan lancar melalui pertemuan rutin tiga hingga enam bulan sekali dengan pemangku kepentingan lintas sektor, bina suasana memanfaatkan jalur keagamaan dan tiga platform media sosial, sedangkan pemberdayaan masyarakat masih terbatas pada pembelajaran sambil bekerja tanpa pelatihan formal bagi kader. Hambatan utama meliputi rangkap tugas satu-satunya petugas promosi kesehatan, sistem informasi puskesmas yang belum terintegrasi, keterbatasan transportasi antarpulau, serta rendahnya kesadaran sebagian kelompok dewasa untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Strategi promosi kesehatan di Puskesmas Tiakur telah berjalan namun masih bertumpu pada modal sosial dan komitmen personal, belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis, sehingga diperlukan penguatan sumber daya manusia, integrasi sistem informasi, dan dukungan sarana transportasi laut untuk keberlanjutan implementasi ILP di wilayah kepulauan terpencil.
Hubungan Kadar Gula Darah Puasa Dengan Kadar Gula Darah Post- Prandial 2 Jam Pada Lansia Di Rs Hermina Arcamanik Erna Sari; Restiani Alia Pratiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1456

Abstract

The increasing prevalence of type 2 diabetes melitus among the erderly is closely linked to a decline in metabolic function. Assessing glycemic status through fasting blood glucose (FBG) and 2-hour postprandial blood glucose (2hPBG) levels is crucial for identifying the progression of diabetes melitus. This study aims to analyze the relationship between fasting blood glucose (FGB) levels and 2-hour postprandial blood glucose(2hPBG) levels the elderly at Hermina Arcamanik Hospital. This is a quantitative study using an observational analytical approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 70 respondents selected through purposive sampling. Data analysis utilized univariate and Spearman’s rho bivariate test. The result showed that the majority of participants met the clinical criteria for prediabetes (23%) and type 2 diabetes melitus (67%). Statistical analysis revealed a significant and strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels, with a correlation coefficient of r = 0.785 and p = 0.000. In conclusion, there is a strong positive correlation between FBG and 2hPBG levels. Pathophysiologically, an increase in these two parameters indicates pancreatic beta-cell dysfunction and insulin resistance influenced by aging. These findings underscore the importance of comprehensive glycemic screening as the first step in the early identification and monitoring of diabetes melitus risk in.
Analisis Implementasi Kebijakan Percepatan Penurunan Stunting Di Kabupaten Banggai Kepulauan Nirmala Wardhani Muhajji; Muhammad Azwar; Zamli Zamli
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1457

Abstract

Latar belakang: prevalensi stunting nasional yang masih berada di angka 19,8% pada 2024 menyisakan tantangan besar, terutama di Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai daerah kepulauan dengan prevalensi 27,7% pada 2023, jauh di atas rata-rata nasional maupun provinsi. Fluktuasi jumlah kasus stunting dari 1.029 (2023), 1.105 (2024), hingga 850 (2025) menunjukkan bahwa penurunan prevalensi belum diikuti pengendalian kasus yang stabil, sehingga efektivitas implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting perlu dikaji secara mendalam. Tujuan: penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan tersebut melalui pendekatan Input-Proses-Output yang diintegrasikan dengan empat variabel Edwards III, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode: penelitian menggunakan desain studi kasus instrumental tunggal dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 22 informan yang dipilih secara purposive sampling, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil: penelitian menunjukkan komunikasi kebijakan telah berjenjang secara formal namun melemah pada tingkat desa akibat variasi kapasitas kader. Sumber daya manusia dan anggaran tergolong mencukupi secara agregat kabupaten, tetapi timpang pada level distribusi mikro antarpulau dan antar-Puskesmas. Data e-PPGBM menunjukkan penurunan kasus sekitar 14%, namun bertolak belakang dengan tren data survei nasional yang justru meningkat, dan Kabupaten Banggai Kepulauan sempat meraih peringkat empat terbaik se-Provinsi Sulawesi Tengah pada 2024. Kesimpulan: struktur birokrasi telah memenuhi aspek prosedural, tetapi fragmentasi koordinasi informal antar-OPD tetap menjadi kendala substantif. Penguatan koordinasi lintas sektor dan standardisasi rujukan data menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efektivitas kebijakan di wilayah kepulauan serupa
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) Pada Ibu Hamil: Studi Cross Sectional Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026 A.Fitriani A.Fitriani; Andi Alim; Lina Fitriani; Ridwan Amiruddin
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1458

Abstract

Latar belakang: Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil merupakan kondisi kekurangan asupan energi dan protein yang berlangsung dalam waktu lama dan dapat berdampak terhadap kesehatan ibu serta pertumbuhan janin. Wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling masih menghadapi masalah Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Tujuan: Menganalisis hubungan umur ibu, pendidikan, usia kehamilan, paritas, pendapatan keluarga, dan pantangan makanan dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling Kecamatan Mare Kabupaten Bone Tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi sekaligus sampel adalah seluruh ibu hamil yang terdaftar dan berdomisili aktif di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumaling, dengan teknik total sampling sebanyak 56 responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 21. Fisher’s Exact Test digunakan untuk tabel 2×2, sedangkan Fisher–Freeman–Halton Exact Test digunakan untuk variabel usia kehamilan yang berbentuk tabel 3×2. Tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Kekurangan Energi Kronik (KEK) ditemukan pada 8 responden (14,3%). Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (69,6%), berpendidikan tinggi (78,6%), berada pada trimester II (51,8%), memiliki paritas risiko rendah (78,6%), pendapatan keluarga rendah (64,3%), dan tidak mendukung pantangan makanan (82,1%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara umur (p=0,688), pendidikan (p=0,348), usia kehamilan (p=0,103), paritas (p=0,180), pendapatan keluarga (p=1,000), maupun pantangan makanan (p=0,143) dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK). Kesimpulan: Keenam variabel yang diteliti tidak berhubungan secara statistik dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil di wilayah penelitian. Pencegahan Kekurangan Energi Kronik (KEK) tetap memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pemantauan status gizi, pelayanan antenatal, edukasi gizi, suplementasi, serta intervensi gizi yang tepat sasaran.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan Nasional Pada Peserta Mandiri Marlin Eppang; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1461

Abstract

Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam mewujudkan cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage). Keberlangsungan program JKN sangat bergantung pada kepatuhan peserta dalam membayar iuran, khususnya peserta mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Namun, tingkat kepatuhan pembayaran iuran masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan perilaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembayaran iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada peserta mandiri. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 220 responden dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel dependen adalah kepatuhan pembayaran iuran JKN. Variabel independen meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan tentang JKN, persepsi manfaat, kemampuan membayar iuran, dukungan keluarga, dan lama menjadi peserta JKN. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, serta regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 64,5% responden patuh membayar iuran JKN. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pendapatan (p=0,001), pengetahuan (p=0,003), persepsi manfaat (p=0,006), kemampuan membayar (p<0,001), dan dukungan keluarga (p=0,012) berhubungan signifikan dengan kepatuhan pembayaran iuran. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kemampuan membayar iuran merupakan faktor yang paling dominan (Adjusted OR=4,18; 95% CI=2,01–8,67). Kesimpulan: Kepatuhan pembayaran iuran JKN pada peserta mandiri dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat program, serta dukungan keluarga. Peningkatan edukasi dan strategi pembayaran yang lebih fleksibel diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan peserta
Kajian Epidemiologi Komparatif Penyakit Menular Dan Tidak Menular Pada Populasi Dewasa Marlin Eppang; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1462

Abstract

Latar Belakang: Transisi epidemiologi telah menyebabkan perubahan pola penyakit di Indonesia, di mana penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat tanpa diikuti penurunan yang signifikan pada penyakit menular (PM). Kondisi ini menimbulkan double burden of disease, yaitu beban ganda penyakit yang menjadi tantangan bagi sistem kesehatan. Penyakit menular masih berkaitan dengan faktor lingkungan dan sanitasi, sedangkan penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, perilaku kesehatan, dan faktor metabolik. Oleh karena itu, kajian epidemiologi komparatif diperlukan untuk mengidentifikasi perbedaan karakteristik dan faktor risiko kedua kelompok penyakit sehingga dapat menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan yang lebih efektif. Tujuan: Menganalisis perbedaan karakteristik epidemiologi serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional komparatif. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 240 responden dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel dependen adalah status penyakit (penyakit menular dan penyakit tidak menular), sedangkan variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, status merokok, aktivitas fisik, pola makan, indeks massa tubuh (IMT), riwayat penyakit keluarga, sanitasi lingkungan, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, penyakit tidak menular ditemukan pada 57,1% responden, sedangkan penyakit menular sebesar 42,9%. Faktor yang berhubungan dengan penyakit tidak menular meliputi usia, obesitas, aktivitas fisik, merokok, dan riwayat penyakit keluarga (p<0,05). Sementara itu, penyakit menular lebih berhubungan dengan sanitasi lingkungan yang kurang baik, kepadatan hunian, dan akses pelayanan kesehatan (p<0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor dominan pada penyakit tidak menular (Adjusted OR=4,26), sedangkan sanitasi lingkungan merupakan faktor dominan pada penyakit menular (Adjusted OR=3,84). Kesimpulan: Terdapat perbedaan karakteristik epidemiologi antara penyakit menular dan penyakit tidak menular pada populasi dewasa. Penyakit tidak menular lebih dipengaruhi oleh faktor perilaku dan metabolik, sedangkan penyakit menular lebih berkaitan dengan faktor lingkungan dan kondisi tempat tinggal.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Terhadap Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu Suaib Suaib; Basri Basri
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1463

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia). PPOK bersifat progresif dan menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, penurunan fungsi paru, serta berdampak terhadap kualitas hidup penderita. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan PPOK adalah melalui pendidikan kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pengelolaan penyakit. Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang PPOK terhadap kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian sebanyak 30 lansia dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang PPOK diberikan dalam dua sesi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan media leaflet. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF sebelum dan dua minggu setelah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Rata-rata skor kualitas hidup sebelum pendidikan kesehatan adalah 56,43 ± 8,52, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 68,27 ± 7,31. Hasil uji Paired t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara skor kualitas hidup sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan (p < 0,001). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan tentang PPOK berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup lansia di Panti Sosial Al-Kautsar Kota Palu. Pendidikan kesehatan dapat menjadi salah satu intervensi keperawatan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan lansia mengelola penyakit dan mempertahankan kualitas hidup