cover
Contact Name
Aufa Rizka Azzumi
Contact Email
ahmad.ashifuddin@gmail.com
Phone
+6285156704080
Journal Mail Official
aufa.r.azzumi@stikes-ibnusina.ac.id
Editorial Address
JALAN RAYA AJIBARANG KM 1 BANYUMAS, JAWA TENGAH
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
ISSN : 29872898     EISSN : 29872901     DOI : 10.59841
Core Subject : Health,
rtikel dapat berasal dari salah satu bidang berikut: Kesehatan masyarakat, manajemen Farmasi, farmasi klinis, analis farmasi makanan, farmasi halal, halal industri.
Articles 279 Documents
Potensi Antioksidan Ekstrak Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) sebagai Agen Preventif Inflamasi Gingiva: Kajian Literatur Anindya Rizqita Salsabila; Haura Rasyikha Alhanin; Fatika Puteri Rosyi Prabowo; Arin Oktaviani Suningdyastiningrum; Rahastuti
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i2.3889

Abstract

Inflamasi gingiva merupakan kondisi periodontal yang dipengaruhi oleh akumulasi biofilm plak dan peningkatan stres oksidatif akibat produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang berlebihan. Antioksidan berpotensi menghambat kerusakan jaringan periodontal dengan menetralisasi radikal bebas. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) mengandung flavonoid, polifenol, vitamin C, dan betasianin yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, sehingga berpotensi sebagai agen preventif inflamasi gingiva. Tujuan: Mengkaji potensi ekstrak buah naga merah sebagai agen preventif inflamasi gingiva berdasarkan aktivitas antioksidan dan bukti ilmiah yang tersedia. Metode: Penelitian ini merupakan studi literatur dengan pencarian sistematis pada basis data PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait Hylocereus polyrhizus, antioksidan, aktivitas antiinflamasi, gingivitis, dan stres oksidatif. Artikel yang relevan dianalisis secara naratif berdasarkan kandungan senyawa bioaktif, aktivitas antioksidan, dan efek antiinflamasi. Hasil: Ekstrak buah naga merah mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak mampu menghambat denaturasi protein, menurunkan jumlah leukosit selama proses inflamasi, meningkatkan kapasitas antioksidan, serta berpotensi menekan mediator proinflamasi melalui penurunan stres oksidatif. Simpulan: Ekstrak buah naga merah berpotensi sebagai agen preventif inflamasi gingiva melalui mekanisme antioksidan dan antiinflamasi. Namun, uji klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitas, keamanan, dosis optimal, dan formulasi yang tepat.
Influence of Education Level on STI Incidence in The Productive Age Puguh Riyanto; Priskila Dwi Kurniasih; Olivia Jovina Priyanto; Sari Satya Febriani; Pho Denita Meiliani
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i2.3903

Abstract

Sexually transmitted infections (STIs) remain a major public health concern, particularly among young individuals of reproductive age. Educational attainment influences health behaviors, knowledge, and access to preventive services related to STIs. This study aims to analyze the influence of educational level on the incidence of STIs among individuals of reproductive age. A literature review method was employed using databases such as PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar to identify relevant observational studies. The selected studies included cross-sectional and other observational designs that examined the relationship between educational level and STI incidence. Data were synthesized narratively, and key findings from the included studies were reported. The results of five studies included in the review consistently demonstrated that individuals with lower educational attainment had a higher risk of STIs. The prevalence was approximately 18% among those with lower education compared to 11% among those with higher education (p < 0.001), and as high as 60% versus 40% in hospital-based populations (p < 0.05). Higher educational attainment was associated with better knowledge, safer sexual behaviors, and improved preventive practices. These findings suggest that educational level plays a significant role in shaping health literacy, risk perception, and access to STI prevention services. Individuals with higher levels of education are more likely to engage in preventive behaviors, thereby reducing the incidence of STIs. In conclusion, higher educational attainment is associated with a lower risk of STIs among individuals of reproductive age, indicating that education is an important factor in STI prevention. Further large-scale longitudinal studies are needed to strengthen causal evidence and inform public health interventions.
The Relationship Between Body Mass Index and Primary Genu Osteoarthritis in the Elderly at YW-UMI “Ibnu Sina” Hospital in 2022–2024 Fahira Nida Alzahra; Imran Safei; Iin Widya Ningsi; Darariani Iskandar; Fadil Mula Putra
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i2.3906

Abstract

Osteoarthritis (OA) is one of the most common degenerative joint disorders, particularly affecting the elderly population and frequently involving the knee joint (primary genu OA). Body Mass Index (BMI) is widely recognized as a modifiable risk factor that may contribute to the development of osteoarthritis. In Makassar, the prevalence of primary genu OA has continued to rise, especially among older adults with a BMI of ≥25 kg/m². This study aimed to examine the relationship between Body Mass Index (BMI) and the incidence of primary genu osteoarthritis among elderly patients at Ibnu Sina Hospital YW-UMI Makassar during the period of 2022–2024. This research used a quantitative cross-sectional design involving 50 elderly respondents, consisting of 25 patients diagnosed with primary genu OA and 25 patients without OA. Data were obtained from medical records, including variables such as age, BMI, and osteoarthritis status. Univariate analysis was used to describe respondent characteristics, while bivariate analysis with the Fisher Exact test was performed to evaluate the relationship between BMI categories and the occurrence of OA. The findings indicated that most respondents were aged 60–69 years (48%). The majority had BMI values categorized as normal (52%) and overweight (36%). The proportion of respondents with OA and without OA was equal, each accounting for 50% of the sample. Statistical analysis demonstrated that there was no significant relationship between BMI and the incidence of primary genu osteoarthritis (p = 0.46). The study concludes that BMI was not significantly associated with the occurrence of primary genu osteoarthritis in the study population. Nevertheless, maintaining a healthy body weight remains important for the prevention and management of osteoarthritis among the elderly.
Analisis Kepuasan Pengguna Rekam Medis Elektronik Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit TK III Dr. Soetarto Yogyakarta Tutik Wahyuningsih; Amanina Faqihan
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3944

Abstract

Latar belakang: RME bukan sekedar alat pengganti kertas, melainkan jantung dari operasional rumah sakit atau klinik. Secanggih apapun teknologinya, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana manusia (dokter, perawat, dan staf) berinteraksi dengannya. Evaluasi penggunaan RME bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan langkah krusial untuk memastikan bahwa investasi besar yang dikeluarkan organisasi benar-benar memberikan nilai tambah. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tampilan yang biasa dan kurang menarik menyebabkan kurang ketertarikan petugas dalam penggunaan electronic medical records sehingga menyebabkan berbagai dampak pada pelayanan kesehatan dan manajemen pada fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis kepuasan pengguna RME di rumah sakit TKIII Dr. Soetarto Yogyakarta dengan menggunakan metode End User Computing Satisfaction (EUCS). Metode Penelitian: jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional, jumlah populasi penelitian ini sejumlah 78 responden pengguna RME. Teknik sampling menggunakan total sampling analisis data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian: Ada pengaruh secara parsial antara variabel tampilan terhadap kepuasan penggunaan dengan nilai Sig 0,000<0,05. Ada pengaruh antara faktor ketepatan waktu terhadap kepuasan penggunaan dengan nilai Sig 0,030< 0,0. Secara simultan ada pengaruh antara variabel isi, keakuratan, tampilan, ketepatan waktu dan kemudahan pengguna terhadap kepuasan penggunaan dengan nilai sig 0,000< 0,05. Kesimpulan: berdasarkan uji statistik 5 variabel ada 2 variabel yang berpengaruh terhadap kepuasan pengguna RME yaitu tampilan dan ketepatan waktu. Sedangka tida lainnya yaitu variable isi, akurasi dan kemudahan pengguna tidak berpengaruh terhadap pengguna RME
Analisis Penyebab Pending Klaim BPJS pada Dokumentasi e-Triage EMR di IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin Syntya Dewi; Desy Widyaningrum
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3953

Abstract

Pending klaim BPJS Kesehatan merupakan kondisi ketika klaim belum dapat diselesaikan karena memerlukan konfirmasi, perbaikan, atau kelengkapan informasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berkaitan dengan pending klaim BPJS Kesehatan berdasarkan dokumentasi e-Triage pada Electronic Medical Record (EMR) pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi dan telaah dokumentasi e-Triage pada EMR, wawancara mendalam terhadap petugas yang terlibat dalam proses pengajuan, verifikasi, dan penyelesaian klaim, serta studi dokumentasi terhadap 40 kasus pending klaim pada April 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pending klaim yang paling banyak ditemukan adalah konfirmasi kriteria kegawatdaruratan sebanyak 14 kasus (35%), diikuti konfirmasi episode pelayanan sebanyak 11 kasus (27,5%) dan konfirmasi indikasi kunjungan rawat jalan berulang sebanyak 7 kasus (17,5%). Jenis pending lainnya meliputi konfirmasi indikasi kunjungan atau tindakan, penagihan klaim KLL/KK/PAK/KAPJ, serta konfirmasi kode diagnosis dan prosedur. Hasil telaah dan wawancara menunjukkan bahwa pending klaim berkaitan dengan ketidaksesuaian informasi klinis, kelengkapan dokumentasi, identifikasi episode pelayanan, pengodean diagnosis dan prosedur, serta kelengkapan dokumen pendukung. Dokumentasi e-Triage menjadi salah satu sumber informasi penting dalam mendukung verifikasi kondisi klinis dan kriteria kegawatdaruratan pasien. Disimpulkan bahwa peningkatan kelengkapan dan konsistensi dokumentasi e-Triage, penguatan koordinasi antarunit, serta optimalisasi integrasi sistem informasi diperlukan untuk mendukung kelancaran proses verifikasi dan meminimalkan kejadian pending klaim BPJS Kesehatan.
Optimalisasi Pemanfaatan Check-In Pasien BPJS melalui APM Pelayanan Rawat Jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung: Studi Deskriptif Kualitatif Sani Nurfadilah; Desy Widyaningrum
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3955

Abstract

Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) merupakan fasilitas berbasis teknologi yang digunakan untuk mendukung proses check-in pasien BPJS secara mandiri pada pelayanan rawat jalan. Namun, pemanfaatan APM di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan check-in pasien BPJS melalui APM, mengidentifikasi hambatan dalam penggunaannya, serta menggambarkan tingkat kemandirian pasien dalam melakukan proses check-in. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dipilih secara purposive sampling dan terdiri atas tujuh orang, yaitu dua petugas pendaftaran rawat jalan dan lima pasien BPJS. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil observasi dashboard menunjukkan bahwa pada April 2026 terdapat 3.577 pasien yang melakukan check-in melalui APM dan 9.603 pasien yang tidak melakukan check-in melalui APM. Pada Mei 2026, sebanyak 2.569 pasien melakukan check-in, sedangkan 11.279 pasien tidak melakukan check-in melalui APM. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian pasien telah memahami alur check-in, tetapi masih memerlukan bantuan petugas, termasuk pasien yang telah lama melakukan kontrol. Hambatan yang ditemukan meliputi ketidaktahuan pasien, kebiasaan memperoleh bantuan petugas, keterbatasan jaringan dan kuota internet, serta kendala verifikasi identitas melalui fingerprint dan face recognition (FRISTA). Temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan APM sebagai layanan mandiri belum optimal karena masih terdapat ketergantungan pasien terhadap bantuan petugas dan kendala teknis dalam proses verifikasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan, pembiasaan pasien untuk melakukan check-in secara mandiri, pendampingan sesuai kebutuhan, serta peningkatan keandalan jaringan dan sistem verifikasi untuk mendukung optimalisasi pemanfaatan APM.
Analisis Penerapan Sistem Rekam Medis Hybrid dalam Pengelolaan Berkas Aktif di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Hasan Sadikin Sintya; Irda Sari
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3956

Abstract

Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) secara bertahap menyebabkan sebagian fasilitas pelayanan kesehatan masih menggunakan sistem rekam medis hybrid, yaitu pengelolaan dokumen rekam medis elektronik dan fisik secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat mempertahankan kebutuhan penyimpanan dokumen fisik meskipun proses digitalisasi telah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan sistem rekam medis hybrid dan kaitannya dengan akumulasi berkas rekam medis aktif di Instalasi Rekam Medis Rawat Inap RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2021–2025 serta mengidentifikasi hambatan dalam proses digitalisasi sebagai dasar penyusunan rekomendasi. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan kepala unit pengelolaan dokumen rekam medis dan petugas digitalisasi, observasi proses pengelolaan dan digitalisasi dokumen, serta dokumentasi data berkas aktif dan hasil scanning periode 2021–2025. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman, sedangkan keabsahan data dijamin melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah berkas rekam medis aktif meningkat dari 27.783 berkas pada tahun 2021 menjadi 57.210 berkas pada tahun 2025. Pada periode yang sama, jumlah berkas yang telah dilakukan scanning meningkat dari 2.008 menjadi 33.733 berkas, sedangkan berkas yang belum dilakukan scanning menurun dari 25.775 menjadi 23.477 berkas. Meskipun digitalisasi meningkat, dokumen yang telah dilakukan scanning masih disimpan dalam bentuk fisik sehingga kebutuhan penyimpanan dokumen tetap tinggi. Hambatan digitalisasi berdasarkan unsur 5M meliputi keterbatasan sumber daya manusia dan kompetensi, dukungan anggaran, kesiapan dokumen, perangkat dan jaringan, serta belum tersedianya SOP khusus digitalisasi. Penelitian merekomendasikan penyusunan SOP digitalisasi yang mengatur tahapan persiapan dokumen, scanning, pengendalian mutu, pengunggahan ke RME, dan pengelolaan dokumen fisik setelah digitalisasi untuk mendukung proses yang lebih terstandar dan optimal.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pasien Osteoarthritis Genu bilateral dengan Modalitas Tens dan Quadriceps Exercise di Rumah Sakit Pusdikkes Puskesad Fauzia Kharisma Seminar; Ika Rahman
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3957

Abstract

Osteoarthritis (OA) genu bilateral merupakan gangguan degeneratif pada sendi lutut yang dapat menyebabkan nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS), kelemahan otot, dan gangguan aktivitas fungsional. Penatalaksanaan fisioterapi diperlukan untuk mengurangi keluhan dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan nyeri, LGS, kekuatan otot quadriceps, dan kemampuan fungsional pada pasien osteoarthritis genu bilateral setelah pemberian kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan quadriceps exercise. Penelitian menggunakan desain studi kasus pada seorang pasien laki-laki berusia 55 tahun dengan diagnosis osteoarthritis genu bilateral yang menjalani enam sesi fisioterapi di Rumah Sakit Pusdikkes Puskesad. Evaluasi dilakukan secara serial menggunakan Visual Analog Scale (VAS) untuk mengukur nyeri, goniometer untuk mengukur LGS, Manual Muscle Testing (MMT) untuk menilai kekuatan otot, dan Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) untuk mengevaluasi kemampuan fungsional. Setelah enam sesi terapi, nyeri diam pada genu dextra menurun dari skor 3 menjadi 1, nyeri tekan dari 4 menjadi 2, dan nyeri gerak dari 6 menjadi 2. Pada genu sinistra, nyeri diam menurun dari 3 menjadi 1, nyeri tekan dari 5 menjadi 2, dan nyeri gerak dari 7 menjadi 2. LGS fleksi meningkat dari 110° menjadi 125° pada genu dextra dan dari 105° menjadi 120° pada genu sinistra. Kekuatan otot quadriceps meningkat dari MMT grade 4 menjadi grade 5, disertai perbaikan kemampuan fungsional berdasarkan evaluasi WOMAC. Setelah enam sesi fisioterapi, pasien menunjukkan perubahan klinis positif berupa penurunan nyeri, peningkatan LGS fleksi, peningkatan kekuatan otot quadriceps, dan perbaikan kemampuan fungsional. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi TENS dan quadriceps exercise dapat menjadi bagian dari penatalaksanaan fisioterapi pada kasus osteoarthritis genu bilateral.
Analisis Keterkaitan Kualitas Ajuan Klaim dengan Hasil Verifikasi Klaim BPJS Kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Novia Pitryani; Desy Widyaningrum
Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Mahasiswa Ilmu Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jumkes.v4i3.3958

Abstract

Proses pengajuan dan verifikasi klaim BPJS Kesehatan merupakan tahapan penting dalam mendukung kelancaran pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ketidaklengkapan dan ketidaksesuaian data pada dokumen pengajuan dapat menyebabkan klaim memerlukan klarifikasi, pelengkapan, atau perbaikan sebelum proses verifikasi dapat diselesaikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan kualitas data ajuan klaim dengan hasil verifikasi klaim BPJS Kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data sekunder berupa data ajuan dan hasil verifikasi klaim rawat inap periode April 2026 digunakan sebagai data pendukung, sedangkan data utama diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 6 verifikator internal dan 5 koder rawat inap yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, pengelompokan tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1.224 kasus klaim, sebanyak 597 kasus (48,8%) berstatus layak, 623 kasus (50,9%) berstatus pending, 4 kasus (0,3%) berstatus tidak layak, dan tidak terdapat kasus dispute. Hasil wawancara mengidentifikasi beberapa kondisi yang berkaitan dengan klaim pending, meliputi ketidaklengkapan dokumen administrasi dan medis, hasil pemeriksaan penunjang yang belum tersedia, dokumentasi tindakan yang tidak lengkap, ketidaksesuaian diagnosis dengan bukti klinis dan tindakan, ketidaksesuaian billing dengan dokumentasi medis, serta ketidaktepatan pengodean. Kondisi tersebut menyebabkan perlunya klarifikasi, pelengkapan dokumen, koreksi pengodean, dan konfirmasi kepada DPJP sebelum klaim dapat diproses lebih lanjut. Dengan demikian, kualitas dan kesesuaian data ajuan merupakan aspek penting dalam mendukung kelancaran proses verifikasi klaim BPJS Kesehatan. Penguatan pemeriksaan kelengkapan dokumen, verifikasi internal, ketepatan pengodean, dan koordinasi antarpetugas diperlukan untuk mengurangi kebutuhan tindak lanjut pada klaim yang diajukan.