cover
Contact Name
Aufa Rizka Azzumi
Contact Email
ahmad.ashifuddin@gmail.com
Phone
+6285156704080
Journal Mail Official
aufa.r.azzumi@stikes-ibnusina.ac.id
Editorial Address
JALAN RAYA AJIBARANG KM 1 BANYUMAS, JAWA TENGAH
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
ISSN : 29872987     EISSN : 29874793     DOI : 10.59841
Core Subject : Health,
Farmasi Klinis; Farmasi Sosial;Farmasi Klinikal;Farmasi Industri;Farmasi Kesehatan Masyarakat;Farmasi Klinik;Farmasi Komunitas;Farmasi Klinikal dan Sosial;Ilmu Biomedis;Epidemiologi;Kesehatan Masyarakat;Kedokteran;Gizi;Psikologi Kesehatan;K3;Manajemen Farmasi;
Articles 320 Documents
Flavonoid Sebagai Agen Antikanker: Tinjauan Kimia Medisinal Dan Aktivitas Biologis Ramdhiani, Nova Dwi; Amin, Saeful
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3411

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia dan menjadi masalah kesehatan yang terus meningkat. Terapi konvensional sering menimbulkan efek samping serta resistensi obat, sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam yang lebih aman dan efektif. Flavonoid, kelompok senyawa polifenolik yang banyak ditemukan dalam tanaman tropis termasuk spesies lokal Indonesia, menunjukkan potensi sebagai agen antikanker alami. Artikel ini merupakan kajian pustaka yang menelaah aktivitas biologis flavonoid serta mekanisme kerjanya berdasarkan berbagai penelitian in vitro dan in silico. Hasil telaah menunjukkan bahwa flavonoid memiliki aktivitas antikanker melalui penghambatan proliferasi, induksi apoptosis, penekanan angiogenesis, serta peningkatan kapasitas antioksidan. Beberapa penelitian terhadap tanaman lokal seperti Caulerpa racemosa, Sargassum ilicifolium, dan Ischaemum rugosum memperlihatkan aktivitas sitotoksik yang tinggi terhadap sel kanker. Potensi tersebut memperkuat peluang pengembangan flavonoid sebagai kandidat obat antikanker berbasis bahan alam. Namun, bioavailabilitas yang rendah dan kestabilan metabolik masih menjadi tantangan yang perlu diteliti lebih lanjut melalui pendekatan formulasi dan uji pra-klinis.
Perbandingan Kadar SGOT dan SGPT Sebelum dan Sesudah Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Resisten Obat Syifa Hayati Arni Sari; Foekh, Neiny Prisy; Dzia Ulhaq Rohadatul Aisy
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3427

Abstract

Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis yang resistan terhadap obat. Obat OAT yang digunakan diantaranya seperti Bedaquiline, Isoniazid, dan Pirazinamid diketahui memiliki efek samping hepatotoksik, sehingga harus dilakukan pemeriksaan rutin kadar SGOT dan SGPT dalam pemantauan fungsi hati pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan signifikan kadar SGOT dan SGPT sebelum dan sesudah pengobatan pada pasien TB-RO. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif obervasional analitik dengan desain longitudinal retrospektif yang menggunakan data sekunder dari 61 pasien TB-RO yang menjalani pengobatan pada periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB-RO adalah laki-laki 43 (70,5%) pasien, dan perempuan 18 (29,5%) pasien dengan kelompok usia remaja 3 (5%) pasien, usia dewasa 52 (85,2%) pasien dan usia lansia 6 (9,8%) pasien. Selanjutnya nilai rata-rata kadar SGOT dan SGPT sebelum pengobatan 21,80 U/L dan 17,67 U/L sedangkan nilai rata-rata kadar SGOT dan SGPT sesudah pengobatan 24,61 U/L dan 18,98 U/L. Berdasarkan uji Wilcoxon, terdapat perbedaan signifikan pada kadar SGOT sebelum dan sesudah pengobatan (p=0,003). Namun, kadar SGPT tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,210). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian OAT pada pasien TB-RO dapat mempengaruhi kadar SGOT, namun tidak berdampak signifikan terhadap kadar SGPT.
Perbedaan Kadar Hemoglobin Sebelum dan Setelah Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Resistan Obat Zahra Putri Septira; Neiny Prisy Foekh; Dzia Ulhaq Rohadatul Aisy
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3431

Abstract

Tuberkulosis resistan obat (TB RO) adalah penyakit akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis yang mengalami mutasi spontan pada kromosom. Pemberian obat Linezolid pada pasien TB RO dapat meningkatkan risiko anemia, yang salah satunya ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan setelah pengobatan pada pasien TB RO. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih pada Oktober 2024-Mei 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder pasien TB RO di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yang melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin pada sebelum dan setelah konsumsi obat Linezolid selama 3 bulan pada periode 2023-2024 sejumlah 35 pasien dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Analisis statistika yang digunakan adalah uji T-dependen. Hasil penelitian menunjukkan proporsi pasien TB RO berdasarkan jenis kelamin adalah 20 (57,1%) pasien laki-laki dan 15 (42,9%) pasien perempuan. Berdasarkan usia, terdapat 3 (8,6%) pasien remaja (10-18 tahun), 27 (77,1%) pasien dewasa (19-59 tahun), dan 5 (14,3%) pasien lansia (≥60 tahun). Rerata kadar hemoglobin turun dari 12,2 g/dL sebelum pengobatan menjadi 10,5 g/dL setelah pengobatan. Terdapat perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan setelah pengobatan pada pasien TB RO dengan nilai p <0,001. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pasien, institusi pendidikan, dan peneliti dalam memahami dan menindaklanjuti efek samping pengobatan terhadap hemoglobin pada pasien TB RO.
Analisis Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue hadianti, elsa; Indah Sri Wahyuningsih
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3439

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) has become an increasingly serious public health issue, with the number of patients continuously increasing year by year and its spread becoming more widespread. To break the chain of transmission, DHF prevention strategies play a crucial role. Currently, low community participation in DHF prevention programs through the 3M Plus approach remains a major obstacle, caused by several factors including predisposing factors such as knowledge, attitudes, beliefs, and values; enabling factors such as physical environmental conditions and availability of facilities and infrastructure; and reinforcing factors in the form of healthcare workers' roles. This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes with DHF prevention behavior. The research was conducted using an analytical approach with a cross-sectional design. The research population consisted of all household heads who permanently reside in RT 03 RW 01 Alam Jaya Village, totaling 76 respondents. The sampling technique applied was total sampling namely 76 respondents. Data analysis used the chi-square test with a significance level of 5%. Based on research findings, no relationship was found between knowledge and DHF prevention behavior (p-value = 0.659) nor between attitudes and DHF prevention behavior (p-value = 0.846). The main conclusion of this study states that there is no correlation between knowledge and attitudes with DHF prevention behavior. Therefore, it is recommended that future research explore other factors that influence DHF prevention behavior.
Stimulasi Pengeluaran Kolostrum Melalui Pijat Oksitosin Nisa, Farihatun
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3440

Abstract

Latar Belakang Masih rendahnya angka kecukupan ASI eksklusif  menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus. Hal ini perlu penanganan dengan melaksanakan pemberian ASI secara dini sejak bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat membutuhkan ASI yang pertama kali keluar biasanya lebih kental dan kekuningan, yang disebut kolostrum. Faktor yang berpengaruh terhadap lambatnya pengeluaran kolostrum antara lain: cara persalinan, lamanya persalinan, sakit yang dialami saat persalinan, dan keletihan setelah persalinan.Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat merangsang pengeluaran hormon oksitosin dan memperlancar pengeluaran kolostrum yaitu dengan tindakan pijat oksitosin. Tujuan Pijat oksitosin ini dapat membuat ibu menjadi rileks, sehingga akan memberikan kenyamanan pada bayi yang akan disusuinya. Metode Penelitian Desain penelitian menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan pendekatan nonequivalent control group design. Data dianalisis dengan uji wilcoxon match pair test dan uji mann-withney. Cara pengambilan sampel denganpurposive sampling, dengan jumlah sampel 40 responden. Hasil Penelitian Pijat oksitosin meningkatkan rerata pengeluaran kolostrumpada kelompok intervensi (P value 0,000) dan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok kontrol (P value 0,000) pada Ibu secara signifikan. Simpulan Pijat oksitosin dapat meningkatkan pengeluaran kolostrum pada ibu sectio caesarea. Saran Diharapkan agar pijat oksitosin dapat dijadikan salah satu intervensi dalam asuhan keperawatan pada ibu nifas post sectio caesarea di ruang post partum dan diaplikasikan dalam hal mengedukasi ibu dan keluarga sebelummemberikan ASI pada bayinya.
Dukungan Keluarga dan Kecemasan Pada Klien Diabetes Melitus Arma Vica Hulandari; Dwi Retno Sulistyaningsih
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3449

Abstract

Diabetes melitus is a degenerative disease that increase every year and it is at risk of having serious complications that can cause anxiety. Family support is an important factor when a person had a healthy problem as a preventive effort to reduce anxiety. This research purpose to know the relation between family support and anxiety to the patients with diabetes melitus. This research applies cross sectional design. The populations in this research are patients with diabetes melitus at periuk jaya primary health center. The sampling technique used total sampling according to inclusion criteria as many as 43 respondents. The data were collected by using questionnaires. Analyzed by chi square. The result of the research showed that a small percentage of people with diabetes melitus who had anxiety were 2 people (4.7%) and those who did not get family support were 18 people (41,9%). Statistic test result with significance P=0.169, showed that P-value is bigger than 0.05 (0.169>0.05). In conclution the result showed that family support is not related with anxiety on patients with diabetes miletus. The significance result of this research showed that family support did not affect anxiety. It becomes a basic that family support is not one of the factors that affect anxiety. Therefore, hopefully health workers can pay attention to psychosocial needs, especially to the patients with diabetes melitus. Key words: Anxiety, Family support, Diabetes melitus. Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif yang mengalami peningkatan setiap tahunnya dan beresiko memiliki komplikasi serius sehingga bisa menimbulkan kecemasan. Dukungan keluarga merupakan faktor penting ketika seseorang mengalami masalah kesehatan, sebagai upaya preventif untuk mengurangi cemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan pada klien diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini klien diabetes melitus di Puskesmas Periuk Jaya. Teknik sampling menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 43 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa dilakukan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian sebagian kecil klien diabetes melitus yang mengalami kecemasan yaitu 2 orang (4.7%) dan yang tidak memiliki dukungan keluarga yaitu 18 orang (41.9%). Hasil uji statistik diperoleh dengan nilai signifikasi p-0.169, yang menunjukkan nilai p-value lebih besar dari 0.05 (0.169 > 0.05). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan pada klien diabetes melitus. Hasil yang signifikasi penelitian ini menunjukkan dukungan keluarga tidak mempengaruhi kecemasan. Ini menjadi dasar bahwa dukungan keluarga adalah bukan salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan. Dengan ini, diharapkan petugas kesehatan dapat memperhatikan kebutuhan tentang psikososial khususnya pada klien diabetes melitus. Kata kunci: Kecemasan, Dukungan keluarga, Diabetes melitus.
ROLE OF AMH, FSH, ANDROGEN AND ESTRADIOL AS MARKER OF PCOS FOLLICULOGENESIS: NARATIVE REVIEW Erna Yovi Kurniawati; Noor Pramono
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3451

Abstract

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) poses a significant challenge in reproductive medicine due to its complex aetiology involving hormonal dysregulation, metabolic perturbations, and genetic predispositions. Central to PCOS pathogenesis is the disruption of folliculogenesis, the process vital for female reproductive health, characterized by the formation of numerous small antral follicles that fail to mature properly. This narrative review explores the roles of Anti-Müllerian Hormone (AMH), Follicle-Stimulating Hormone (FSH), androgens, and oestradiol as markers of PCOS folliculogenesis. AMH, prominently produced by granulosa cells, exhibits elevated levels in PCOS, contributing to excessive follicular recruitment and persistence. Dysregulation of FSH, androgen, and oestradiol further complicates follicular development, exacerbating PCOS-related abnormalities. Understanding the interplay between these markers is crucial for diagnosing and managing PCOS. However, challenges persist, including the lack of standardized serum AMH thresholds and technical limitations in testing methodologies. Further research is warranted to establish these thresholds and refine diagnostic approaches. Moreover, insights into hormonal mechanisms in PCOS folliculogenesis hold promise for developing targeted therapies to alleviate its impact on reproductive health.
Analisis Kualitatif Pemanfaatan Tanaman Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) sebagai Inovasi Spray Anti Nyamuk Ramah Lingkungan Aditya, Aditya Pratama Putra; Amalia Farras Zain; Amar Al Hakim; Arif Widatama; Athira Khanaya Hud; Imam Khusaini Satrio; Selvany Asti Aprianti; Sevy Maulida Hasan
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3453

Abstract

Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki risiko tinggi terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD). Pengendalian nyamuk banyak bergantung pada insektisida kimia yang efektif berisiko terhadap kesehatan manusia dan mencemari lingkungan, sehingga diperlukan adanya alternatif alami yang aman dan berkelanjutan. Tanaman serai wangi (Cymbopogon nardus L.) mengandung senyawa aktif sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang berpotensi sebagai bahan dasar spray anti nyamuk ramah lingkungan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi literatur (library research) yang berfokus pada analisis berbagai sumber ilmiah terkait kandungan kimia, efektivitas, dan manfaat ekologis serai wangi. Hasil kajian menunjukkan bahwa minyak atsiri serai wangi memiliki daya tolak nyamuk tinggi, aman digunakan, serta mendukung prinsip keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, serai wangi berpotensi dikembangkan sebagai inovasi produk alami pengusir nyamuk yang efektif dan ramah lingkungan.
Pengembangan dan Evaluasi Efek Antioksidan serta Peningkatan Energi dari Minuman Cokelat Berbasis Ekstrak Tart Cherry pada Atlet Muda Athirah Khanayah Hud; Aditya Pratama Putra; Selvany Asti Aprianti; Arif Widatama
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3456

Abstract

This study developed and evaluated the effects of a tart cherry extract-based chocolate drink on young athletes. The background addresses the high oxidative stress and fatigue hindering athletic recovery. Using a double-blind, randomized controlled trial, 30 young athletes were divided into an intervention group (consuming the tart cherry chocolate drink) and a control group (placebo) for 14 days during intensive training. Parameters measured included total antioxidant capacity (TAC), malondialdehyde (MDA) levels, rating of perceived exertion (RPE), and recovery time. Results indicated that the intervention group showed a significant increase in TAC and a decrease in MDA levels compared to the control. Furthermore, the intervention group reported lower RPE scores and faster recovery times post-exercise. It was concluded that the tart cherry-based chocolate drink effectively enhances antioxidant status, reduces oxidative stress, and supports energy recovery in young athletes, positioning it as a promising functional nutritional supplement.
STATUS GIZI MERUPAKAN FAKTOR PALING UTAMA DALAM PROSES PENYEMBUHAN LUKA POST SECTIO CAESAREA Siti Alba Yuliana; Sri wahyuni
An-Najat Vol. 3 No. 4 (2025): November: An-Najat : Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v3i4.3457

Abstract

Latar belakang : Tingginya angka kejadian sectio caesarea dari tahun ke tahun di berbagai rumah sakit diseluruh Indonesia. Menurut data RISKESDAS (2013) proporsi persalinan dengan Sectio Caesarea mencapai 78,8% sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang mencapai 42% pada tahun 2016. Luka sectio caesarea dapat sembuh dan juga dapat terjadi infeksi. Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Data dari Depkes RI (2009) infeksi luka operasi mencapai 11%. Infeksi setelah operasi persalinan masih tetap mengancam sehingga perawatan setelah operasi memerlukan perhatian untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian. Tujuan :Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka post Sectio Caesarea hari ke-3. Metode : Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu post Sectio Cesarea hari ke-3. Dengan jumlah populasi 90 orang dengan besar sample 52 responden dengan teknik pengambilan data menggunakan kuota sampling. Pengumpulan data responden adalah data primer dengan menggunakan alat ukur kuesioner dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi binary logistik Hasil penelitian : Hasil uji regresi binary logistik untuk pengetahuan dengan nilai sig = 0,830 (p > 0,05), status gizi sig 0,008 (p<0,05), pendapatan sig 0,661 (p>0,05), pendidikan sig 0,058 (p>0,05), pekerjaan sig 0,996 (p>0,05), tradisi sig 0,894 (p>0,05). Simpulan : Hasil ini juga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan proses penyembuhan luka post Sectio Caesarea hari ke-3. Sedangkan untuk pengetahuan, pendapatan, pekerjaan, dan tradisi tidak menunjukkan ada hubungan yang signifikan terhadap proses penyembuhan luka post Sectio Cesarea hari ke-3