cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 309 Documents
Penerapan teknik buteyko breathing exercise terhadap pernapasan SPO2 pada klien bronkopneumonia dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif Dalimunthe, Najamudin; Trismiyana, Eka; Djamaludin, Djunizar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.1285

Abstract

Background: Pneumonia remains the fifth leading cause of death worldwide. Indonesia accounts for 28 deaths per 100,000 people annually. Most confirmed cases are in adults aged 45-65 years (18%) and children aged 0-4 years (14.4%). Data from South Lampung in 2022 showed 972 cases of pneumonia. Purpose: To provide geriatric nursing care to clients with bronchopneumonia who experience ineffective breathing patterns, using the Buteyko breathing exercise technique. Method: This descriptive case study design involved two subjects, each with an ineffective breathing pattern. The study was conducted at the Branti Raya Natar Community Health Center in South Lampung. Patients received non-pharmacological nursing care with Buteyko breathing exercises, performed three times daily (morning, afternoon, and evening) for four weeks. Results: Nursing management of ineffective breathing patterns with the application of Buteyko breathing exercise techniques that the author carried out for 3 days on bronchopneumonia patients with ineffective breathing patterns in both clients was resolved, as evidenced by the normal breathing frequency of clients Mr. K and Mr. S and during the second procedure the clients were cooperative. Conclusion: There is an effect of the application of the Buteyko breathing exercise technique in reducing the breathing frequency in bronchopneumonia patients.   Keywords: Bronchopneumonia; Buteyko Breathing Exercise; Ineffective Breathing Pattern.   Pendahuluan: Pneumonia saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian yang menempati nomor lima di dunia. Terdapat 28 kematian per 100.000 penduduk di Indonesia setiap tahunnya. Sebagian besar di antara kasus terkonfirmasi adalah orang dewasa usia 45-65 tahun (18%) dan anak-anak usia 0-4 tahun (14.4%). Data di Lampung Selatan tahun 2022 mendapatkan data pneumonia sebanyak 972 kasus. Tujuan: Untuk melakukan asuhan keperawatan gerontik pada klien bronkopneumonia dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif dengan penerapan teknik buteyko breathing exercise. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus menggunakan 2 subjek yaitu orang yang mengalami masalah keperawatan pola nafas tidak efektif. Tempat penelitian dilaksanakan di Wilayah Puskesmas Branti Raya Natar Lampung Selatan. Pasien diberikan asuhan keperawatan terapi non farmakologi dengan latihan pernapasan buteyko dilaksanakan 3 kali sehari (pagi, siang, dan malam) selama 4 minggu. Hasil: Pengelolaan keperawatan pola nafas tidak efektif dengan  penerapan  tindakan  keperawatan teknik buteyko breathing exercise yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  pada pasien bronkopneumonia dengan masalah pola nafas tidak efektif kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  Tn. K dan Tn. S frekuensi nafasnya normal dan selama tindakan kedua klien kooperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan teknik buteyko breathing exercise untuk mengurangi frekuensi nafas pada pasien bronkopneumonia.   Kata Kunci     : Bronkopneumonia; Buteyko Breathing Exercise; Pola Nafas Tidak Efektif.
Penerapan active cycle of breathing technique terhadap pernapasan SPO2 pada pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif Sumarni, Sumarni; Chrisanto, Eka Yudha; Hermawan, Dessy
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.1287

Abstract

 Background: Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a lung disease characterized by persistent, generally progressive, respiratory symptoms and airflow limitation associated with an excessive chronic inflammatory response in the airways and lung parenchyma due to noxious gases or particles. Purpose: To help improve the respiratory condition of COPD patients, one of which is active cycle of breathing technique (ACBT) breathing exercises, in providing geriatric nursing care to COPD clients with ineffective breathing patterns. Method: This descriptive study, using a case study design, used two subjects with ineffective breathing patterns. The Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) was applied twice daily for 15-20 minutes per day for three days. Results: The author managed the ineffective breathing patterns with the active cycle of breathing technique (ACBT) nursing interventions for three days in COPD patients. The ineffective breathing patterns of both clients were resolved, as evidenced by the normal respiratory rate of Mrs. H and Mr. S, and their cooperative behavior during the intervention. Conclusion: There is an effect of applying the active cycle of breathing technique (ACBT) to reduce the respiratory rate in COPD patients.   Keywords: Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT); COPD; Ineffective Breathing Pattern.   Pendahuluan: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru dengan adanya gejala pernafasan dan keterbatasan aliran udara yang persisten dan umumnya bersifat progresif yang berhubungan dengan respon inflamasi kronik yang berlebihan pada saluran nafas dan parenkim paru akibat gas atau partikel berbahaya. Tujuan: Untuk membantu meningkatkan kondisi pernafasan pasien PPOK salah satunya latihan pernapasan active cycle of breathing Technique (ACBT) dalam melakukan asuhan keperawatan gerontik pada klien PPOK dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif dengan penerapan active cycle of breathing technique. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus menggunakan 2 orang sebagai subjek dengan masalah keperawatan pola nafas tidak efektif. Penerapan Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT) untuk kelompok intervensi adalah 2 kali sehari selama 15-20 menit perhari selama 3 hari.  Hasil: Pengelolaan keperawatan pola nafas tidak efektif dengan  penerapan  tindakan  keperawatan active cycle of breathing Technique (ACBT) yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  pada pasien PPOK,  dimana masalah pola nafas tidak efektif  kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  Ny.H dan Tn. S frekuensi nafasnya normal dan selama tindakan kedua klien kooperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan active cycle of breathing Technique (ACBT) untuk mengurangi frekuensi nafas pada pasien PPOK.   Kata Kunci:  Active Cycle Of Breathing Technique (ACBT); Pola Nafas Tidak Efektif; PPOK.
Pengaruh cryotherapy oral terhadap kejadian mukositis akibat kemoterapi pada pasien kanker di ruang kemoterapi Lisnawati, Ketut; Sanjiwani, Anak Agung Sri; Dewi, Ni Luh Putu Thrisna; Wati, Ni Made Nopita
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.1455

Abstract

Background: Mucositis is one of the most common complications experienced by cancer patients undergoing chemotherapy. Effective management strategies are needed to reduce the severity of mucositis and improve patient quality of life. Purpose: To determine the effect of Oral Cryotherapy in reducing chemotherapy-induced mucositis in cancer patients. Method: A quasi-experimental design with a pre-post-test approach with a control group was used. The sampling technique used was purposive sampling, involving 34 participants: 17 in the intervention group and 17 in the control group. Mucositis severity was measured using the Oral Assessment Guide (OAG). Data analysis was performed using the non-parametric Mann-Whitney test. Results: Oral Cryotherapy was significantly effective in reducing the severity of chemotherapy-induced mucositis in cancer patients (p = 0.00; α = 0.05). Conclusion: Oral cryotherapy is an effective non-pharmacological intervention for reducing chemotherapy-induced mucositis in cancer patients and can therefore be considered as part of supportive care in oncology nursing practice.   Keywords: Chemotherapy; Mucositis; Oral cryotherapy.   Pendahuluan: Mukositis merupakan salah satu komplikasi yang paling sering dialami pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Strategi penatalaksanaan yang efektif diperlukan untuk menurunkan tingkat keparahan mukositis serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Cryoterapi Oral dalam menurunkan mukositis akibat kemoterapi pada pasien kanker. Metode: Desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pre–post-test with control group. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan melibatkan 34 partisipan yang terdiri dari 17 orang pada kelompok intervensi dan 17 orang pada kelompok kontrol. Tingkat keparahan mukositis diukur menggunakan instrumen Oral Assessment Guide (OAG). Analisis data dilakukan dengan uji non-parametrik Mann–Whitney. Hasil: Cryoterapi Oral efektif secara signifikan dalam menurunkan tingkat keparahan mukositis akibat kemoterapi pada pasien kanker (p = 0,00; α = 0,05). Simpulan: Cryoterapi Oral merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif untuk menurunkan mukositis akibat kemoterapi pada pasien kanker, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perawatan suportif dalam praktik keperawatan onkologi.   Kata Kunci : Cryoterapi Oral; Kemoterapi; Mukositis.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian peningkatan kadar gula darah pada pasien TBC (tuberkulosis) Elsa, Aprina; Antoro, Budi; Sari, Nova Nurwinda
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.1512

Abstract

Background: Tuberculosis (TBC) is a contagious infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis, which primarily affects the lungs but can also impact body metabolism, including increasing blood glucose levels. Factors such as age, duration of medication, and nutritional status are suspected to contribute to this condition. Purpose: To identify the factors associated with increased blood glucose levels in TBC patients at Way Halim Community Health Center, Bandar Lampung, in 2025. Method: This research employed a quantitative approach with a descriptive analytic design and Chi-Square test analysis, involving 51 respondents. Results: Data were collected through observation and medical documentation. The results showed that the majority of respondents were over ≥ 45 years old (64.7%), had a medication history of more than ≥2 (66.7%), and experienced elevated blood glucose levels ≥140 mg/dL (46.8%). There were significant associations between age (p=0.003), duration of medication (p=0.007), and body mass index (p=0.032) with increased blood glucose levels in TBC patients. Conclusion: The study concludes that advanced age, prolonged medication use, and excessive nutritional status are significantly associated with elevated blood glucose levels. Therefore, TBC management should consider metabolic factors to prevent further complications.   Keywords: Age; Blood Glucose Levels; Body Mass Index; Treatment Duration; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah. Faktor usia, lama minum obat, dan status gizi diduga turut berperan dalam kondisi tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian peningkatan kadar gula darah pada pasien TBC di Puskesmas Way Halim Kota Bandar Lampung tahun 2025. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik dan teknik analisis uji Chi-Square, melibatkan 51 responden dengan data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi medis. Hasil: Mayoritas responden berusia ≥ 45 tahun (64.7%), memiliki riwayat minum obat  ≥ 2 bulan (66.7%), dan mengalami peningkatan kadar gula darah ≥ 140 mg/dL (46.8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0.003), lama minum obat (p=0.007), dan indeks massa tubuh (p=0.032) dengan peningkatan kadar gula darah pada pasien TBC. Simpulan: Faktor usia lanjut, lamanya konsumsi obat, dan status gizi berlebih berhubungan signifikan dengan peningkatan kadar gula darah, sehingga penanganan TBC perlu mempertimbangkan faktor-faktor metabolik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.   Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh; Kadar Gula Darah; Lama Pengobatan; Usia.
Hubungan pekerjaan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis Rukmana, Nova Mega; Aziza, Nurul; Liana, Safa
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.1594

Abstract

Background: Factors that can determine a person's exposure to disease/health behavior. A theoretical framework known as the Health Belief Model (HBM) is a concept used to examine factors that influence individuals in taking health actions, including tuberculosis prevention measures by TB patients. Purpose: To explore the relationship between occupation and tuberculosis prevention behavior. Method: The research design used was a quantitative study with an analytical cross-sectional method. The subjects in this study were 78 pulmonary TB patients registered in medical records in the Kedaton Community Health Center (Puskesmas) working area during the period January–June 2025. The sample selection used a total sampling method because the available population size was less than 100 respondents. Analysis was conducted using a chi-square test. Results: Of the 6 respondents who work as civil servants/ASN, there are 4 respondents (66.7%) who have good TB transmission prevention behavior, while of the 22 respondents who do not have jobs, 15 respondents (68.2%) have poor TB transmission prevention behavior. Based on the results of statistical tests, a p-value of 0.000 or p-value <0.05 was obtained. Conclusion: There is a relationship between occupation and tuberculosis prevention behavior with a p-value <0.05. Suggestion: These findings can be used as consideration by the Kedaton Community Health Center for evaluation and to help assess the extent of occupational influence in this context.   Keywords: Occupation; TB Transmission Prevention Behavior   Pendahuluan: Faktor yang dapat menentukan seseorang terpapar penyakit/perilaku kesehatan seseorang. Sebuah kerangka teori yang dikenal sebagai Health Belief Model (HBM) merupakan konsep yang dipakai untuk menelaah faktor yang memengaruhi individu dalam melakukan tindakan kesehatan, termasuk langkah pencegahan penyakit tuberkulosis oleh pasien TB. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan pekerjaan terhadap perilaku pencegahan penularan tuberkulosis. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kuantitatif dengan metode cross-sectional yang bersifat analitis. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien TB Paru yang tercatat dalam rekam medis di wilayah kerja Puskesmas Kedaton pada periode Januari–Juni 2025 berjumlah 78 orang. Pemilihan sampel memakai metode total sampling karena jumlah populasi yang tersedia dibawah 100 responden. Analisis dilakukan melalui uji chi-square. Hasil: Sebanyak 6 responden yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS/ASN, terdapat 4 responden (66.7%) yang mempunyai perilaku pencegahan penularan TB yang baik, sedangkan dari 22 responden yang tidak mempunyai pekerjaan, dan 15 responden (68.2%) yang mempunyai perilaku pencegahan penularan TB yang kurang. Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,000 atau p-value<0.05. Simpulan: Ada keterkaitan pekerjaan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis dengan nilai p-value<0.05. Saran: Temuan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pihak Puskesmas Kedaton untuk evaluasi sekaligus membantu menilai sejauh mana pekerjaan berpengaruh dalam konteks tersebut.   Kata Kunci: Pekerjaan; Perilaku Pencegahan Penularan TB.
Efektivitas ultrasound dan core stability exercise terhadap derajat nyeri pada pasien low back pain Meisatama, Herta; Lathifa, Witri; Imam, Khairul; Salsabil, Husna Arwa
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1324

Abstract

Background: Low Back Pain (LBP) is one of the most prevalent musculoskeletal disorders, affecting functional ability and quality of life. Ultrasound therapy and core stability exercises are commonly used interventions for LBP, yet limited local studies have evaluated the effectiveness of their combination. Purpose: To determine the effectiveness of combining ultrasound therapy and core stability exercises in reducing pain intensity among LBP patients. Method: This quasi-experimental study used a pre-test and post-test control group design. Thirty LBP patients were divided into two groups: experimental (ultrasound + core stability exercise) and control (ultrasound only). Interventions were administered twice a week for 4 weeks. Pain intensity was measured using the Visual Analog Scale (VAS). Statistical analysis included paired t-tests and independent t-tests with a significance level of α = 0.05. Results: Both groups experienced a significant reduction in pain (p < 0.001), but the experimental group showed a significantly greater decrease in pain intensity compared to the control group (mean VAS reduction: 4.3 vs 2.1; p < 0.001). Conclusion: The combination of ultrasound therapy and core stability exercise is more effective in reducing pain levels in LBP patients than ultrasound therapy alone. A multimodal approach is recommended for optimal LBP pain management.   Keywords: Core Stability Exercise; Low Back Pain; Pain; Physiotherapy; Ultrasound.   Pendahuluan: Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal dengan prevalensi tinggi yang berdampak pada fungsi dan kualitas hidup. Terapi ultrasound dan latihan core stability merupakan dua intervensi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan LBP, namun masih terbatas penelitian lokal yang mengevaluasi efektivitas kombinasinya. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi terapi ultrasound dan core stability exercise terhadap penurunan derajat nyeri pada pasien LBP. Metode: Penelitian dengan desain quasi-eksperimental menggunakan pendekatan pre-post test dan kelompok kontrol. Sebanyak 30 pasien LBP dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen (ultrasound serta core stability exercise) dan kelompok kontrol (ultrasound). Intervensi dilakukan 2 kali per minggu selama 4 minggu. Pengukuran derajat nyeri dilakukan dengan Visual Analog Scale (VAS). Analisis statistik menggunakan uji paired t-test dan independent t-test dengan α = 0,05. Hasil: Terdapat penurunan derajat nyeri yang signifikan pada kedua kelompok (p < 0.001), namun kelompok eksperimen menunjukkan penurunan nyeri yang lebih besar secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol (rata-rata penurunan VAS: 4.3 vs 2.1; p < 0.001). Simpulan: Kombinasi terapi ultrasound dan core stability exercise lebih efektif dalam menurunkan derajat nyeri pada pasien LBP dibandingkan terapi ultrasound saja. Pendekatan multimodal ini direkomendasikan untuk manajemen nyeri LBP secara optimal.   Kata Kunci: Core Stability Exercise; Fisioterapi; Low Back Pain; Nyeri; Ultrasound.
Efektifitas terapi tiup balon terhadap keperawatan pada pasien dengan asma Nadira, Khoirul; Novikasari, Linawati; Setiawati, Setiawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1225

Abstract

Background: Asthma is a chronic, non-communicable disease characterized by recurrent attacks. Hypersensitivity results from a chronic inflammatory disease of the respiratory tract called asthma. Balloon therapy is a simple exercise that increases lung capacity by a certain amount each day. Purpose: To report on nursing care for children with asthma using balloon therapy. Method: This study used a qualitative descriptive approach conducted in the Kemiling sub-district of Bandar Lampung City in 2025. The research design used a descriptive research approach and a nursing care case study approach, including assessment, nursing diagnosis, planning, implementation, and evaluation. This case study describes the application of balloon therapy to children with asthma by Pediatric Nursing Care to reduce shortness of breath. Results: The intervention was administered for 3 days by measuring the respiratory rate and oxygen saturation after the intervention. On the first day, An. S's RR: 25x/m SpO2: 96% and An. O's RR: 24x/m SpO2: 97%. On the second day, An. S RR: 23x/m SpO2: 97% and in An. O RR: 22x/m SpO2: 98%. On the third day An. S RR: 22x/m SpO2: 98% and in An. O RR: 20x/m SpO2: 99%. Conclusion: Balloon blowing therapy can effectively reduce respiratory rate and increase oxygen saturation levels in children with asthma.   Keywords: Asthma; Balloon Blowing Therapy; Shortness of Breath.   Pendahuluan:  Asma  adalah  penyakit  kronis  tidak  menular  yang  ditandai dengan serangan berulang. Hipersensitivitas merupakan akibat dari penyakit peradangan kronis pada saluran  pernapasan  yang disebut  asma. Terapi balon adalah latihan sederhana yang membuat kapasitas paru-paru meningkat dalam jumlah tertentu setiap hari. Tujuan: Untuk membuat laporan asuhan keperawatan pada anak dengan asma menggunakan terapi tiup balon Metode: Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilakukan di kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung Tahun 2025. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif dan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Studi kasus ini penerapan terapi meniup balon pada anak dengan asma oleh Asuhan Keperawatan Anak untuk menurunkan sesak nafas. Hasil: Intervensi diberikan selama 3 hari dengan mengukur respirasi rate dan saturasi oksigen setelah intervensi. Pada hari pertama An. S RR : 25x/m SpO2 : 96% dan pada An. O RR : 24x/m SpO2 : 97%. Pada hari kedua An. S RR : 23x/m SpO2 : 97% dan pada An. O RR : 22x/m SpO2 : 98%. Pada hari ketiga An. S RR : 22x/m SpO2 : 98% dan pada An. O RR : 20x/m SpO2 : 99%. Simpulan: Terapi ballon blowing efektif dapat menurunkan tingkat respirasi rate dan meningkatkan kadar saturasi oksigen pada anak dengan asma.   Kata Kunci : Asma; Sesak Nafas; Terapi Meniup Balon.
Pengaruh pemberian kompres hangat dengan jahe terhadap nyeri kepala pada pasien hipertensi Fitria, Febri; Herawati, Vitri Dyah; Widiyono, Widiyono
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1237

Abstract

Background: Hypertension is an increase in blood pressure, impairing brain and organ perfusion. This increase in blood pressure results in symptoms such as headaches, which require appropriate management. Headaches in hypertensive patients, if left untreated, can lead to sleep disturbances, anxiety, emotional instability, and even affect the patient's quality of life. Purpose: To address headaches in hypertensive patients. Method: The study was conducted at Dr. Soehadi Prijonegoro Regional Hospital in Sragen using a quantitative approach with a pre-experimental design. A one-group pretest-posttest was used. The population in this study were 27 hypertensive patients in the Melati Room, using the Isaac formula and the Isaac and Michael formula. The measurement tool used in this study was the NRS Pain Scale observation sheet. Data were analyzed using univariate analysis, normality testing using the Shapiro-Wilk test, and bivariate testing using the Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test yielded a ρ-value of 0.000 (ρ<0.05), indicating that warm compresses with ginger have an effect on headache intensity in hypertensive patients. Conclusion: There is an effect of warm compresses with ginger on pain intensity in hypertensive patients.   Keywords: Headache; Hypertension; Warm Compresses with Ginger.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah pada perfusi jaringan otak dan organ.  Peningkatan tekanan darah mengakibatkan gejala salah satunya nyeri kepala yang membutuhkan penatalaksanaan yang benar. Nyeri kepala pada pasien hipertensi apabila tidak ditangani dapat mengakibatkan gangguan tidur, cemas, emosional yang tidak stabil hingga mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Untuk mengatasi nyeri kepala pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian dilakukan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen menggunakan pendekatan  kuantitatif dengan rancangan pre eksperimen. Menggunakan One group pretest-post test.  Populasi pada penelitian ini adalah penderita hipertensi di ruang melati sebanyak 27 responden dengan rumus issac & rumus Isaac dan Michael. Alat ukur yang digunakan penelitian ini adalah lembar observasi Skala Nyeri NRS, analisis data menggunakan analisis univariat, uji normalitas menggunakan uji Shapiro wilk, dan uji bivariat menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil: Uji Wilcoxon diperoleh hasil ρ-value 0,000 (ρ<0,05) yang berarti kompres hangat dengan jahe  berpengaruh terhadap intensitas nyeri kepala pada pasien hipertensi Simpulan: Ada pengaruh pemberian kompres hangat dengan jahe terhadap intensitas nyeri kepada pada pasien hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Kompres Hangat dengan Jahe; Nyeri Kepala.
Penanganan pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri Dewi, Salsabilla Mega Muliana; Riyanto, Slamet
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1314

Abstract

Background: Self-care deficit is the inability of an individual to perform one or more self-care activities, such as bathing, dressing, eating, or grooming, independently. This condition can be caused by physical, cognitive, or emotional disorders and requires appropriate nursing interventions to improve patient independence. Purpose: To improve patient independence in optimally performing personal hygiene activities. Method: This was a case study of one patient experiencing a self-care deficit at Wisma Srikandi, Grhasia Mental Hospital, Yogyakarta, in 2025. Data collection techniques included interviews, observation, documentation review (medical records and nursing care notes), and mental status assessment. Results: Consistent implementation of nursing interventions demonstrated an increase in the patient's level of independence in performing personal hygiene activities. These results indicate that a standards-based nursing care approach can help patients redevelop basic self-care skills. Conclusion: Consistent nursing interventions can improve patient independence in personal hygiene activities. This approach helps gradually restore basic self-care skills.   Keywords: Mental Health Nursing Care; Self-Care Deficit.   Pendahuluan: Defisit perawatan diri merupakan ketidakmampuan individu untuk melakukan satu atau lebih aktivitas perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, makan, atau berhias, secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan fisik, kognitif, atau emosional, dan memerlukan intervensi keperawatan yang tepat untuk meningkatkan kemandirian pasien. Tujuan: Untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam menjalankan aktivitas kebersihan diri (personal hygiene) secara optimal. Metode: Penelitian studi kasus dengan subjek satu orang pasien yang mengalami defisit perawatan diri di Wisma Srikandi RSJ Grhasia Yogyakarta pada tahun 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi (rekam medis dan catatan asuhan keperawatan), serta pengkajian status mental. Hasil: Penerapan Penerapan intervensi keperawatan secara konsisten menunjukkan adanya peningkatan tingkat kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas kebersihan diri. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan asuhan keperawatan berbasis standar dapat membantu pasien mengembangkan kembali kemampuan dasar dalam perawatan diri. Simpulan: Intervensi keperawatan yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan kemandirian pasien dalam aktivitas kebersihan diri. Pendekatan ini membantu memulihkan kemampuan dasar perawatan diri secara bertahap.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Jiwa;  Defisit Keperawatan Diri.  
Penerapan water tepid sponge terhadap suhu pada pasien dengue hemorrhagic fever dengan masalah hipertermia Fitria, Yanti; Chrisanto, Eka Yudha; Kurniasih, Dennti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1318

Abstract

Background: Hyperthermia is a primary symptom found in all DHF patients. The duration of hyperthermia before treatment ranges from 2-7 days. Hyperthermia can be managed through non-pharmacological approaches, one of which is Water Tepid Sponge. Therefore, hyperthermia can be treated appropriately using comprehensive nursing care to lower the temperature to normal. Purpose: To provide nursing care to a client with dengue hemorrhagic fever who has hyperthermia, using the water tepid sponge technique. Method: This study used a descriptive research design with a case study design. The subjects were two individuals experiencing hyperthermia. This study was conducted in January 2025. The water temperature used in the compresses was between 350-370C, or lukewarm, and can be performed in approximately 15-20 minutes per session. Results: The author implemented water tepid sponge nursing care for three days in a patient with dengue hemorrhagic fever. The hyperthermia problems of both clients were resolved, as evidenced by Mrs. H and Mrs. S's body temperature was normal and the client was cooperative during both procedures. Conclusion: The application of water tepid sponges was effective in reducing hyperthermia in patients with dengue hemorrhagic fever.   Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Hyperthermia; Water Tepid Sponge.   Pendahuluan: Hipertermia sebagai gejala utama terdapat pada semua penderita DHF. Lama hipertermia sebelum dirawat berkisar antara 2-7 hari. Mengatasi hipertermia melalui non farmakologi yang salah satunya adalah Water Tepid Sponge. Sehingga masalah hipertermi mendapat intervensi yang tepat dengan menggunakan asuhan keperawatan yang lengkap untuk menurunkan suhu menjadi normal. Tujuan: Untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengue hemorrhagic fever dengan masalah keperawatan hipertermia dengan penerapan teknik water tepid sponge. Metode: Penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subjek yang digunakan 2 orang yang mengalami masalah keperawatan hipertermia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2025. Suhu untuk air yang digunakan dalam kompres antara 350 -370C atau hangat hangat kuku, untuk pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15-20 menit dalam 1 kali pelaksanaan. Hasil: Pengelolaan keperawatan hipertermia dengan  penerapan  tindakan  keperawatan water tepid sponge yang  penulis  lakukan  selama  3  hari  pada pasien dengue hemorrhagic fever.  Permasalah hipertermia kedua  klien  teratasi  semua  dibuktikan  dengan klien  Ny.H dan Ny. S suhu tubuhnya normal dan selama tindakan kedua klien kooperatif. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan water tepid sponge untuk mengurangi hipertermia pada pasien dengue hemorrhagic fever.   Kata Kunci: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Hipertermia; Water Tepid Sponge.