cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 309 Documents
Hubungan pengetahuan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir pada siswa siswi Indriana, Dwi Liza; Trismiyana, Eka; Romayati, Umi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1450

Abstract

Background: A pre-survey conducted by researchers on 10 students found that approximately 7 (70%) still lacked knowledge and preparedness for potential flooding in their neighborhood. Furthermore, it was discovered that SDN 2 Rajabasa does not hold disaster preparedness classes or training. It appears there are still issues with flood preparedness behavior. Purpose: It is known that there is a relationship between knowledge and preparedness in facing flood disasters among students. Method: The type of quantitative research is a cross-sectional approach. The population used is all 5th grade students, namely 94 respondents and the number of samples is 94 respondents with a total sampling technique with a correlation test is the Chi-square test. Result: Of the 94 respondents, the results showed that the majority of knowledge levels were in the good category, namely 58 people (61.7%), while the majority of preparedness levels were in the very ready category, namely 49 people (52.1%). After conducting statistical tests using chi-square, a p-value of 0.000 (p<0.05) was obtained. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and preparedness for flooding among students at SDN 2 Rajabasa Bandar Lampung. It is hoped that the school and teachers will not only implement or explain the theory but also implement it practically through flood disaster training.   Keywords: Knowledge, flood disaster preparedness, elementary school children   Pendahuluan: Hasil pre survey yang dilakukan peneliti pada 10 siswa di didapatkan bahwa, sekitar 7 anak (70%) masih memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan yang kurang untuk menghadapi bencana banjir yang akan terjadi di lingkungan mereka. Selain itu, diketahui bahwa SDN 2 Rajabasa tidak mengadakan kelas atau pelatihan kesiapsiagaan bencana. Sepertinya masih ada masalah dengan perilaku kesiapsiagaan untuk bencana banjir. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir pada siswa. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan seluruh siswa kelas 5 yaitu 94 responden dan jumlah sampel 94 responden dengan teknik total sampling dengan uji korelasi adalah uji Chi-square. Hasil: Sebanyak 94 responden diperoleh hasil, untuk tingkat pengetahuan mayoritas berada pada kategori baik yaitu sebanyak 58 orang (61.7%), sedangkan tingkat kesiapsiagaan mayoritas berada pada kategori sangat siap, yaitu sebanyak 49 orang (52.1%). Setelah dilakukan uji statistik menggunakan chi-square diperoleh nilai p-value sebesar 0.000 (p<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir pada siswa siswi SDN 2 Rajabasa Bandar Lampung. Diharapkan pihak sekolah maupun guru bukan hanya menerapkan atau menjelaskan secara teoritis tetapi juga harus diterapkan secara praktik melalui pelatihan mengenai bencana banjir.   Kata Kunci: Anak Sekolah Dasar; Pengetahuan; Kesiapsiagaan Bencana Banjir.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada anak buah kapal (ABK) Aspawi, Asril; Djamaluddin, Abikusno; Rukmana, Nova Mega
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1468

Abstract

Background: Casual sex is a major risk factor for the transmission of sexually transmitted diseases (STDs), including HIV/AIDS, especially among migrant workers such as crew members (ABK). HIV/AIDS cases in Indonesia are also showing an increasing trend. Purpose: This study aims to determine the relationship between knowledge, attitudes, social support, and the work environment with casual sex. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach and a sample of 68 crew members. The study was conducted among crew members at Bakauheni Port, within the working area of ​​the Class I Panjang Health Quarantine Center in 2025. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test. Results: The Chi-Square test showed that knowledge (p=0.002; OR=2) and attitudes (p=0.019; OR=2.35) were significantly associated with casual sex. Social support (p=0.366; OR=0.81) and the work environment (p=0.861; OR=0.92) were not significantly associated. Conclusion: Improving education, such as implementing peer education and displaying posters about the dangers of promiscuous sexual behavior on ships, is crucial in preventing promiscuous sexual behavior among seafarers.   Keywords: Attitude; Seafarers; Environment; Knowledge; Promiscuous Sexual Behavior; Social Support; Work.   Pendahuluan: Perilaku seks bebas merupakan salah satu faktor risiko utama dalam penularan penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, terutama pada kelompok pekerja migran seperti Anak Buah Kapal (ABK). Kasus HIV/AIDS di Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan. Tujua: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, dukungan sosial, dan lingkungan kerja dengan perilaku seks bebas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan sampel sebanyak 68 ABK. Penelitian dilakukan pada ABK di Pelabuhan Bakauheni, wilayah kerja Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Panjang Tahun 2025. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan bahwa pengetahuan (p=0,002; OR=2) dan sikap (p=0,019; OR=2,35) berhubungan signifikan dengan perilaku seks bebas. Sedangkan dukungan sosial (p=0,366; OR=0,81) dan lingkungan kerja (p=0,861; OR=0,92) tidak berhubungan. Simpulan: Peningkatan edukasi seperti penerapan peer education dan pemasangan poster tentang bahaya perilaku seks bebas di kapal sangat penting dalam pencegahan perilaku seks bebas pada ABK.   Kata Kunci: ABK; Dukungan Sosial; Lingkungan; Pengetahuan; Perilaku Seks Bebas; Sikap; Kerja.
Efektivitas pemberian rebusan daun salam pada lansia dengan hipertensi dalam menurunkan tekanan darah Prayogo, Idfy Dwi; Rianty, Dian Asih; Winarno, Rudi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1586

Abstract

Background: Based on the results of the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of hypertension was 34.1%. In addition to pharmacological therapy, there are non-pharmacological therapies, better known as traditional (herbal) remedies, such as bay leaf decoction (Syzygium polyanthum), a plant that can be used as a remedy for various diseases, one of which is hypertension. Purpose: To describe family nursing care using bay leaf decoction to reduce blood pressure in elderly people with hypertension. Method: This descriptive study design used a case study approach. Family nursing care included assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Blood pressure measurements were taken before the intervention. Following the intervention, bay leaf decoction was administered twice daily for 3 days, and blood pressure measurements were repeated. Results: Before the intervention, Mrs. A's blood pressure was 170/100 mmHg and Mrs. S's was 150/90 mmHg. After the intervention, Mrs. A's blood pressure decreased to 150/80 mmHg and Mrs. S to 130/85 mmHg. Conclusion: There was a significant reduction in blood pressure by regularly drinking boiled bay leaves for 3 days.   Keywords: Bay Leaves; Elderly; Hypertension.   Pendahuluan: Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi hipertensi adalah 34,1%. Selain terapi farmakologi ada terapi non farmakologi atau yang lebih dikenal dengan pengobatan tradisional (herbal) seperti rebusan daun  salam  (syzygium polyanthum)  sebagai  salah  satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit salah satunya adalah penyakit hipertensi. Tujuan: Untuk menggambarkan asuhan keperawatan keluarga dengan pemberian rebusan daun salam untuk penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian menggunakan pendekatan studi kasus asuhan keperawatan keluarga meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, pelaksanaan, dan evaluasi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum intervensi, selanjutnya diberikan intervensi rebusan daun salam sebanyak 2x/hari selama 3 hari dan dilakukan pengukuran tekanan darah kembali. Hasil: Sebelum dilakukan intervensi tekanan darah Ny. A adalah 170/100 mmHg dan pada Ny. S adalah 150/90 mmHg. Setelah dilakukan intervensi pada Ny. A menjadi 150/80 dan Ny. S menjadi 130/85 mmHg Simpulan: Terdapat penurunan yang signifikan tekanan darah dengan meminum rebusan daun salam secara rutin selama 3 hari.   Kata Kunci : Daun Salam; Hipertensi; Lansia.
Implementasi modifikasi emergency severity index (ESI) terhadap outcome tatalaksana pasien dengan hipertensi emergensi Ardiansyah, Diki; Badrujamaludin, Asep; Fadhilah, Najwa Hilmia; Ardianto, M. Dwi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1602

Abstract

Background: Hypertensive crises account for 27.5% of all emergency cases, with 1-2 cases per 100,000 patients considered a hypertensive emergency. Blood pressure >180/120 mmHg requires a gradual reduction of >10-15% within the first hour, reaching 160/100 mmHg within 2-6 hours to prevent breathless hyperfusion in target organs. Therefore, a rapid response time is required to prevent target organ damage. Implementing the modified Emergency Severity Index (ESI) accelerates the response time through assessment and categorization of emergency room patients. Purpose: To understand the impact of the implementation of the modified Emergency Severity Index (ESI) on the outcomes of nursing care for hypertensive emergency patients. Method: This case report study included patients with blood pressure >180/120 mmHg and evidence of target organ damage. The ESI Emergency Department triage assessment form from Cibabat Regional Hospital was used as a research instrument to assess the implementation of ESI on the outcomes of hypertensive emergency patient management. Nursing care began upon patient arrival in the Emergency Department and lasted for 6 hours. Results: Conclusion: Accurate response time supports the success of nursing care for hypertensive emergency patients. Understanding the ESI triage process, and teamwork are essential to achieving the stated objectives.   Keywords: Nursing Care; Emergency Severity Index (ESI); Hypertensive Emergency; Implementation; Response Time.   Pendahuluan: Krisis hipertensi mengambil 27.5% keseluruhan kasus emergensi 1-2 kasus per 100.000 pasien. Kondisi tekanan darah >180/120 mmHg memerlukan penurunan tekanan darah bertahap >10-15% dalam 1 jam pertama dan 160/100 mmHg dalam 2-6 jam untuk mencegah breakthrough hyperfusion pada organ target. Sehingga diperlukan response time yang cepat untuk mencegah kerusakan organ. Target implementasi modifikasi Emergency Severity Index (ESI) memberikan percepatan response time melalui pengkajian kondisi dan pengkategorian pasien IGD. Tujuan: Untuk memahami gambaran implementasi modifikasi Emergency Severity Index (ESI) terhadap outcome tatalaksana asuhan keperawatan pasien hipertensi emergensi. Metode: Penelitian case report atau studi kasus dengan kriteria inklusi pasien tekanan >180/120 mmHg disertai dengan adanya bukti kerusakan organ target. Form asesmen triase UGD ESI RSUD Cibabat digunakan sebagai instrumen penelitian. Hasil: Asuhan keperawatan yang diberikan memperoleh hasil bahwa kesadaran meningkat delirium GCS 10 (E3 V2 M5), tekanan darah membaik 152/107 mmHg, pola nafas regular, RR 24x/menit, penggunaan otot bantu nafas menurun, dan kedalaman nafas membaik. Masalah ketidakseimbangan kadar glukosa darah tidak teratasi dikarenakan pasien tidak melakukan implementasi dan dirujuk ke rumah sakit lain untuk menerima perawatan intensif. Simpulan: Adanya ketepatan respon time yang menunjang keberhasilan asuhan keperawatan pasien hipertensi emergensi dalam proses pemahaman proses triase ESI dan kerjasama tim.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Emergency Severity Index (ESI); Hipertensi Emergensi; Implementasi; Response Time.
Hubungan konsumsi protein harian dan status gizi dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen pada siswa sekolah dasar Sutrio, Sutrio; Rahmadi, Antun; Purnomowati, RR. Ratnasari Dyah; Sumardilah, Dewi Sri; Mulyani, Roza
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1607

Abstract

Background: Dental caries is a common oral health problem in school-aged children, particularly in the lower permanent first molars, which are susceptible to decay. Daily protein intake is thought to play a crucial role in dental health because protein contributes to the formation of hard dental tissue and saliva acts as a natural defense against caries. Purpose: To analyze the relationship between daily protein consumption and nutritional status and the incidence of caries in the lower permanent first molars in elementary school students. Method: A cross-sectional study design was used, involving 150 fourth- and fifth-grade students selected using total sampling. Nutritional status was determined based on Body Mass Index for Age (BMI/A). Caries examinations were performed clinically by dental health professionals. Data were analyzed bivariately using the Chi-Square test. Results: 67.6% of children with insufficient daily protein intake experienced caries, compared with 36.8% in the adequate intake group (p = 0.001; OR = 3.57). Meanwhile, 62.5% of children with abnormal nutritional status experienced caries compared to 50% of children with normal nutrition, but this relationship was not statistically significant (p = 0.24; OR = 1.67). Conclusion: There is a significant association between daily protein consumption and the incidence of caries in the lower first permanent molars.   Keywords: Dental Caries; Nutritional Status; Permanent Molars; Protein Intake; School Children.   Pendahuluan: Karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang umum pada anak usia sekolah, khususnya pada gigi molar pertama bawah permanen yang rentan mengalami kerusakan. Asupan protein harian diduga berperan penting dalam kesehatan gigi karena protein berkontribusi pada pembentukan jaringan keras gigi dan fungsi saliva sebagai pertahanan alami terhadap karies. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara konsumsi protein harian dan status gizi dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen pada siswa sekolah dasar. Metode: Desain penelitian cross-sectional dengan sampel 150 siswa kelas 4 dan 5 yang dipilih secara total sampling. Status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh per umur (IMT/U). Pemeriksaan karies dilakukan secara klinis oleh tenaga kesehatan gigi. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebanyak 67.6% anak dengan asupan protein harian kurang mengalami karies, dibandingkan dengan 36.8% pada kelompok asupan cukup (p = 0.001; OR = 3.57). Sementara itu, 62.5% anak dengan status gizi tidak normal mengalami karies dibandingkan 50% anak dengan gizi normal, namun hubungan ini tidak signifikan secara statistik (p = 0.24; OR = 1.67). Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara konsumsi protein harian dengan kejadian karies gigi molar pertama bawah permanen.   Kata Kunci: Anak Sekolah; Asupan Protein; Gigi Molar Permanen; Karies gigi;  Status gizi.
Kajian ikan sarden (sardinella sp) dengan suplementasi bayam merah (amaranthus tricolor I) sebagai makanan tambahan asupan kalsium Putri, Sefanadia; Sejati, Nawasari Indah Putri; Ayu, Riska Nur Suci; Wahyuni, Endang Sri; Muliani, Usdeka; Cantika, Ervina
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1636

Abstract

Background: Sardines and red spinach are sources of calcium and omega-3 fatty acids with potential to help prevent osteoporosis. Kekian, a traditional Chinese snack made from protein and vegetables, can serve as a functional alternative. Purpose: To evaluate the organoleptic characteristics and calcium content of kekian made with sardine and red spinach additions. Method: The study was conducted using an experimental design using four formulations of red spinach addition (10%, 15%, 20%, and 25%). Organoleptic tests (color, aroma, taste, texture, and overall acceptability) were conducted by 75 semi-trained panelists using a 5-point hedonic scale, and data were analyzed univariately. Results: Formulation F4 (25% red spinach, fried) was the most preferred by panelists. One piece of kekian (50 g) contained 155.12 kcal energy, 7.9 g protein, 11 g fat, 7.1 g carbohydrate, and 24.9 mg calcium (ICP-OES). The food cost for eight pieces was IDR 23,292, yielding an optimal selling price of IDR 7,500 per piece. Conclusion: Sardine kekian with 25% red spinach and frying produced a preferred snack that delivers adequate macronutrients and minerals. Further development is recommended to include additional fortification, the use of lime juice and scallion on the sardine prior to filleting, the addition of carrot for improved appearance, and shelf-life studies for frozen-food applications.   Keywords: Kekian; Red Spinach; Sardine; Snack.   Pendahuluan: Ikan sarden dan bayam merah merupakan sumber kalsium dan asam lemak omega-3 yang berpotensi untuk mencegah osteoporosis. Kekian, makanan khas Tionghoa berbahan dasar protein dan sayuran, dapat dijadikan alternatif selingan fungsional. Tujuan: Untuk mengevaluasi karakteristik organoleptik dan kandungan kalsium pada kekian berbahan dasar ikan sarden dengan penambahan bayam merah. Metode: Penelitian dilakukan dengan  desain eksperimen menggunakan empat formulasi penambahan bayam merah (10%, 15%, 20%, 25%). Uji organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, penerimaan keseluruhan) dilakukan oleh 75 panelis semi-terlatih menggunakan skala hedonik 5 poin dan data dianalisis secara univariat. Hasil: Formulasi F4 (25% bayam merah, metode goreng) paling disukai panelis. Satu buah kekian (50 g) mengandung 155,12 kkal energi, 7,9 g protein, 11 g lemak, 7,1 g karbohidrat, dan 24,9 mg kalsium (ICP-OES). Food cost delapan buah sebesar Rp 23.292, sehingga harga jual optimal per buah adalah Rp 7.500. Simpulan: Kekian ikan sarden dengan penambahan 25% bayam merah dan pengolahan goreng menghasilkan produk selingan yang disukai panelis serta menyediakan makronutrien dan mineral memadai. Pengembangan selanjutnya direkomendasikan dengan fortifikasi tambahan, penambahan air jeruk nipis, daun bawang, dan wortel, serta uji masa simpan untuk produk frozen food.   Kata kunci: Bayam merah; Ikan sarden; Kekian; Snack.
Efektivitas penggunaan antibiotik dalam mengobati infeksi bakteri pseudomonas sp pada pasien dengan luka operasi Justeen, Anabelle Elfrida; Sjahriani, Tessa; Dharmawan, Akhmad Kheru; Syukri, Dwi Marlina
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1693

Abstract

Background: Surgical Site Infection (SSI) is typically characterized by the discharge of pus, the presence of an inflammatory process, swelling, pain, and a sensation of heat around the wound area. The occurrence of SSI is influenced by various factors, including the type of surgery related to the level of surgical contamination, comorbidities such as age, sex, preoperative body temperature, duration of surgery, and underlying diseases. Purpose: To identify the types of antibiotics used and to evaluate the effectiveness of antibiotic therapy in treating bacterial infections in patients with surgical wounds. Method: This study is a cross-sectional research using a retrospective approach. Results: A total of 80 patients, all of whom were female, were included in this study. With a P-value of 0,004, 28 patients were found to be sensitive to Aminoglycoside antibiotics, while 13 patients were sensitive to Fluroquinolones. Conclusion: There is a fairly strong association between the type of drug and the effectiveness of the administered antibiotic therapy   Keywords: Aminoglycosides; Fluroquinolones; Surgical Site Infection (SSI).   Pendahuluan: Infeksi Luka Operasi (ILO)  ciri biasanya yaitu meliputi keluarnya pus, adanya proses inflamasi, pembengkakan, nyeri, serta sensasi panas pada area luka. Kejadian ILO terpengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jenis operasi yang berkaitan dengan tingkat kontaminasi bedah, komorbiditas seperti usia, jenis kelamin, suhu tubuh pra operasi, durasi operasi, dan penyakit penyerta. Tujuan: Untuk mengetahui jenis antibiotik yang digunakan dan efektivitas penggunaan antibiotik dalam mengobati infeksi bakteri pada pasien dengan luka operasi Metode: Penelitian cross sectional melalui teknik retrospektif. Hasil: Total 80 pasien dengan jenis kelamin keseluruhan yaitu perempuan. Dengan nilai P value  0,004 , pasien yang sensitif terhadap antibiotik Aminoglikosida terdapat 28 pasien sedangkan 13 pasien sensitif terhadap Fluorokuinolon. Simpulan: Terdapat hubungan yang cukup kuat hubungan antara jenis obat dan efektivitas penggunaan antibiotik yang diberikan.   Kata Kunci: Aminoglikosida; Fluoroquinolone; Infeksi Luka Operasi (ILO)
Hubungan motivasi kerja dengan kinerja karyawan di ruang operasi dan pemeliharaan (op) Hertanto, Ridho Bagas; Rukmana, Nova Mega; Novariana, Nana
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1694

Abstract

Background: There has been a decline in the effectiveness of public services in the irrigation sector, characterized by delayed technical responses and suboptimal irrigation canal maintenance. The actual situation indicates a decline in employee performance triggered by a lack of motivation, incentives, training, and weak supervision. Purpose: To analyze the relationship between work motivation and employee performance at the Adipuro Irrigation Regional Technical Implementation Unit (UPTD), Central Lampung Regency. Method: A quantitative approach with a cross-sectional design. The population and sample were all 30 employees in the Operations and Maintenance (OP) division at the Adipuro Irrigation UPTD. Data were collected through questionnaires and analyzed using descriptive and inferential statistics, with the Chi-Square Test as the primary method for testing hypotheses. Results: The majority of respondents (60% or 18 people) reported a "Poor" level of work motivation. Meanwhile, employee performance was evenly distributed, with 50% of respondents reporting "Good" performance and 50% reporting "Poor" performance. Conclusion: There is a significant relationship between work motivation and the performance of operations and maintenance (OP) employees (p < 0.05). This means that the better the work motivation, the better the employee's performance level.   Keywords: Employee Performance; Work Motivation.   Pendahuluan: Terjadinya penurunan efektivitas pelayanan publik di sektor pengairan, yang ditandai dengan keterlambatan respons teknis dan pemeliharaan saluran irigasi yang tidak optimal. Kondisi faktual menunjukkan adanya indikasi penurunan kinerja pegawai yang dipicu oleh kurangnya motivasi, insentif, pelatihan, serta lemahnya pengawasan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja karyawan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengairan Adipuro, Kabupaten Lampung Tengah. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian adalah seluruh karyawan bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) di UPTD Pengairan Adipuro yang berjumlah 30 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, dengan Uji Chi-Square sebagai metode utama untuk menguji hipotesis. Hasil: Mayoritas responden (60% atau 18 orang) memiliki tingkat motivasi kerja yang "Kurang Baik". Sementara itu, kinerja karyawan terdistribusi merata, di mana 50% responden menunjukkan kinerja "Baik" dan 50% "Kurang Baik". Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi kerja dengan  kinerja karyawan operasi dan pemeliharaan (op) (p < 0.05). Artinya, semakin baik motivasi kerja semakin baik tingkat kinerja karyawan.   Kata Kunci: Kinerja Karyawan; Motivasi Kerja.
Hubungan pola makan, tingkat stres, dan konsumsi kopi dengan kejadian gastritis pada pasien di poli penyakit dalam Tatu, Muslima S.; Kadir, Sunarto; Abudi, Ramly
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1729

Abstract

Background: Gastritis is a health disorder related to the digestive process, especially the stomach. Frequently emptying the stomach can cause damage, as the stomach wall is compressed, causing abrasions and ulcers. These ulcers can lead to inflammation. Purpose: To determine the relationship between diet, stress levels, and coffee consumption and the incidence of gastritis in patients attending the internal medicine clinic. Method: This study was quantitative, with a cross-sectional approach. The population was 60 patients and the sample size was 52 patients, using a purposive sampling technique. Data were analyzed using the chi-square test. Results: Univariate testing revealed that the most common dietary pattern was poor (23 respondents (44.2%), the most common stress level was severe (16 respondents (30.8%), and the most common coffee consumption was poor (36 respondents (69.2%). Bivariate results showed an association between dietary patterns and the incidence of gastritis (p-value = 0.024 <0.005), stress levels with the incidence of gastritis (p-value = 0.001 <0.005), and coffee consumption with the incidence of gastritis (p-value = 0.000 <0.005). Conclusion: There is a relationship between dietary patterns, stress levels, and coffee consumption with the incidence of gastritis in patients in the internal medicine clinic.   Keywords: Coffee Consumption; Diet; Gastritis Incidence; Stress Level.   Pendahuluan: Gastritis merupakan gangguan kesehatan terkait proses pencernaan terutama lambung. Lambung bisa mengalami kerusakan jika sering kosong, karena lambung akan meremas hingga dinding lambung lecet dan luka, dengan adanya luka tersebut lambung akan mengalami proses inflamasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola makan, tingkat stres, dan konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis pada pasien di poli penyakit dalam. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif, pendekatan cross-sectional, populasi penelitian berjumlah 60 pasien, sampel penelitian berjumlah 52 pasien, menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data uji chi-square. Hasil: Pengujian univariat menunjukkan pola makan pasien terbanyak pola makan kurang 23 responden (44.2%), tingkat stres pasien terbanyak stres berat 16 responden (30.8%), konsumsi kopi terbanyak konsumsi kopi buruk 36 responden (69,2%). Hasil bivariat menunjukkan pola makan dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,024<0,005), tingkat stres dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,001<0,005), konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,000<0,005). Simpulan: Ada hubungan pola makan, tingkat stres dan konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis pada pasien di poli penyakit dalam.   Kata Kunci: Kejadian Gastritis; Konsumsi Kopi; Pola Makan; Tingkat Stres.  
Hubungan sistem pendokumentasian berbasis elektronik dengan kinerja perawat di instalasi rawat inap Noviani, Ratna Wulan Hardian; Masropah, Ai; Pasaribu, Keiko
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1759

Abstract

Background: The advancement of information technology in healthcare has driven the transition of nursing documentation systems from manual to electronic formats. Electronic documentation systems are considered more efficient and facilitate easier access to nursing data. Purpose: To determine the relationship between electronic nursing documentation systems and nurse performance in Inpatient Installation “A” Method: This research employed an analytical correlational design with a cross-sectional approach. The population consisted of 79 nurses selected using a total sampling technique. Data were collected using standardized questionnaires on electronic nursing documentation systems and nurse performance. Results: The results showed that most nurses rated the electronic documentation system as good (74.7%) and demonstrated good performance (72.2%). The Chi-Square test indicated a significant relationship between the electronic documentation system and nurse performance (p-value = 0.000). Conclusion: This study concludes that a well-implemented electronic documentation system can improve nurse performance.   Keywords: Electronic Nursing Documentation; Inpatient Installation; Nurses;  Nurse Performance.   Pendahuluan: Perkembangan teknologi informasi dalam dunia kesehatan mendorong perubahan sistem dokumentasi keperawatan dari bentuk manual menjadi elektronik. Sistem dokumentasi elektronik dinilai lebih efisien serta mempermudah akses data keperawatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan sistem pendokumentasian asuhan keperawatan berbasis elektronik dengan kinerja perawat di Instalasi Rawat Inap A RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 79 perawat dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner baku sistem pendokumentasian asuhan keperawatan berbasis elektronik dan kinerja perawat. Hasil: Sebagian besar perawat menilai sistem pendokumentasian asuhan keperawatan berbasis elektronik dalam kategori baik (74.7%) dengan kinerja perawat yang baik (72.2%). Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sistem pendokumentasian asuhan keperawatan berbasis elektronik dengan kinerja perawat (p-value=0.000). Simpulan: Sistem dokumentasi keperawatan elektronik yang diterapkan secara baik dapat meningkatkan kinerja perawat.   Kata Kunci: Dokumentasi Keperawatan Elektronik; Instalasi Rawat Inap; Kinerja Perawat; Perawat.