cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 306 Documents
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien prolanis Oktavio, Irda Angelica; Suwito, Suwito; Aryastuti, Nurul; Sari, Fitri Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1325

Abstract

Background: The number of hypertension cases at the Gisting Community Health Center in 2024 was 1.164 people with hypertension. Of these, 120 individuals with hypertension were also participating in the chronic disease management program (Prolanis). Purpose: To determine factors associated with the occurrence of uncontrolled hypertension in Prolanis patients at the Gisting Community Health Center in 2024. Method: This was a quantitative analytical study with a cross-sectional design. The sample consisted of 120 hypertensive patients participating in the Prolanis program at the Gisting Community Health Center in 2024. Data collection was conducted using a questionnaire. Data analysis was conducted using the chi-square test and logistic regression. Results: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension with p value: 0.198; there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension with p value: 0.236; there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension with p value: 0.000; OR: 14.760; there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension with p value: 0.0.000; OR: 17.862; there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension with p value: 0.022; OR: 2.799; there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension with p value: 0.062; the most dominant factor is routine check-ups with OR value: 8.362. Conclusion: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension, there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension, there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension, there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension, there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension, there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension, and the most dominant factor is routine check-ups.   Keywords: Uncontrolled Hypertension; Prolantis.   Pendahuluan: Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Gisting pada tahun 2024 yaitu sebanyak 1.164 orang yang terkena hipertensi. Didapatkan sejumlah 120 orang yang memiliki penyakit hipertensi juga mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah penderita hipertensi yang mengikuti program Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024 sebanyak 120 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistic. Hasil: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.198; tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.236; ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 14.760; ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 17.862; ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.022; OR: 2.799; tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.062; faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin dengan nilai OR: 8.362. Simpulan: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol, dan faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin.   Kata Kunci: Hipertensi Tidak Terkontrol; Prolanis.
Penanganan pasien gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan Rahmawati, Yulia Dwi; Riyanto, Slamet
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1331

Abstract

Background: Mental disorders are a serious mental health problem with widespread impacts on both individuals and society. One clinical manifestation frequently found in people with mental disorders is the risk of violent behavior, which can harm themselves and others. Purpose: To provide an overview of psychiatric nursing care for patients at risk of violent behavior. Method: This study used a case study method for one patient with a primary nursing diagnosis of risk of violent behavior. Nursing care was provided over three days, from assessment to evaluation. Results: After providing nursing care, the final stage was an evaluation, which showed that the patient experienced gradual improvement in emotional control and demonstrated cooperation in therapy. Conclusion: There was an increase in the patient's self-control, as indicated by a decrease in self-harm behavior, use of loud voices, and increased medication compliance.   Keywords: Mental Health Nursing Care; Risk of Violent Behavior.   Pendahuluan: Gangguan jiwa, merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang serius dan berdampak luas, baik bagi individu maupun masyarakat. Salah satu manifestasi klinis yang kerap ditemukan pada penderita gangguan jiwa adalah risiko perilaku kekerasan, yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Tujuan: Untuk memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Metode: Penelitian menggunakan metode studi kasus terhadap satu pasien dengan diagnosa keperawatan utama risiko perilaku kekerasan. Asuhan keperawatan dilakukan selama tiga hari, mulai dari tahap pengkajian hingga evaluasi. Hasil: Setelah pemberian asuhan keperawatan, tahap terakhir adalah evaluasi yang menunjukkan bahwa pasien mengalami perbaikan bertahap dalam mengontrol emosi, dan menunjukkan kooperatif dalam menjalani terapi. Simpulan: Terdapat peningkatan kontrol diri pasien yang ditandai dengan penurunan perilaku menyakiti diri, penggunaan suara keras, dan meningkatnya kepatuhan minum obat.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Jiwa; Risiko Perilaku Kekerasan.
Pengaruh pemberian fluid warmer pada infus terhadap suhu tubuh pada pasien dengan anestesi spinal Mulyani, Tri; Sutrisno, Sutrisno; Indriyati, Indriyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1338

Abstract

Background: Perioperative hypothermia is a common complication in patients undergoing spinal anesthesia, with a core body temperature below 36°C. This condition can cause various serious consequences, such as nervous system disorders, decreased blood pressure, and even death. Purpose: To determine the effect of intravenous fluid warmers on body temperature in patients undergoing spinal anesthesia. Method: This quantitative, pre-experimental study used a one-group pretest and posttest design. The sample consisted of 48 patients selected using purposive sampling. The intervention consisted of warm intravenous fluids using a fluid warmer (ANIMEC). Body temperature was measured before and after the intervention using a thermometer. Results: The study showed that before the intervention, the majority of participants experienced mild hypothermia (33°C–35.9°C) (35 participants (72.9%) and moderate hypothermia (30°C–32.9°C) (13 participants (27.1%). After administration of a fluid warmer, there was a significant increase in body temperature, with a mean final temperature of 36.60°C (SD=0.3155). The Wilcoxon Signed-Rank Test showed a p-value of 0.001 <0.05. Conclusion: The administration of a fluid warmer during infusion has an effect on the body temperature of spinal anesthesia patients.   Keywords: Body Temperature; Fluid Warmer; Hypothermia; Perioperative; Spinal Anesthesia.   Pendahuluan: Hipotermia perioperatif merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca anestesi spinal, dengan suhu inti tubuh di bawah 36°C. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai dampak serius, seperti gangguan sistem saraf, penurunan tekanan darah, hingga kematian. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian fluid warmer pada infus terhadap suhu tubuh pasien dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan jenis pre eksperimental menggunakan one group pretest and posttest design. Sampel terdiri dari 48 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi berupa pemberian cairan infus hangat menggunakan fluid warmer (ANIMEC). Suhu tubuh diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan termometer. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, mayoritas partisipan mengalami hipotermia ringan (33°C–35,9°C) sebanyak 35 orang (72,9%) dan hipotermia sedang (30°C–32,9°C) sebanyak 13 orang (27,1%). Setelah pemberian fluid warmer, terjadi peningkatan suhu tubuh yang signifikan, dengan rata-rata suhu akhir 36,60°C (SD=0,3155). Uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan (p value 0,001 < 0,05. Simpulan: Pemberian fluid warmer pada infus berpengaruh terhadap suhu tubuh pasien anestesi spinal.   Kata Kunci: Anestesi Spinal; Fluid Warmer; Hipotermia; Perioperatif; Suhu Tubuh.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis Purnama, Ade Sinta; Irianto, Torry Duet; Nuryani, Dina Dwi; Samino, Samino; Amirus, Khoidar
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1349

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a public health problem. Community behavioral factors such as smoking, contact with TB patients, and not opening windows are suspected to contribute to the high incidence of TB. Controlling TB risk factors is one of the Indonesian government's strategies in developing a strategic plan to end TB. Therefore, monitoring risk factors in the community is crucial to inform policymakers in developing prevention programs. Purpose: To analyze the relationship between TB incidence factors. Method: This quantitative study used a case-control design. The sampling technique used purposive sampling, resulting in a sample of 120 respondents divided into 60 case groups and 90 control groups. Data analysis used the chi-square test and multiple logistic regression. Results: There was a significant association between smoking behavior (p=0.000; OR=5.500), contact with TB patients (p=0.000; OR=29.571), and not opening windows (p=0.000; OR=3.754) and TB incidence. Contact behavior with TB patients (p=0.000; OR=24.665) was the most dominant factor influencing tuberculosis incidence. Conclusion: There is a relationship between smoking behavior, contact with TB patients, and not opening windows and TB incidence.   Keywords: Contact with TB Patients; Opening Windows; Smoking Behavior; Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Faktor perilaku hidup masyarakat seperti merokok, kontak dengan penderita TB, serta tidak membuka jendela rumah diduga berperan dalam tingginya kejadian TB. Salah satu strategis pemerintah Indonesia dalam mengembangkan rencana strategis untuk mengakhiri TB adalah mengendalikan faktor risiko TB, sehingga pemantauan faktor risiko di masyarakat sangat penting untuk memberi informasi kepada para pembuat kebijakan untuk pengembangan program pencegahan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara Faktor kejadian TB. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan case control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga sampel diperoleh sebanyak 120 responden yang dibagi menjadi kelompok kasus sebanyak 60 responden dan kelompok kontrol sebanyak 90 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Ada hubungan signifikan antara perilaku merokok (p=0.000; OR=5.500), kontak dengan penderita TB (p=0.000; OR=29.571), serta tidak membuka jendela (p=0.000; OR=3.754) terhadap kejadian TB. Perilaku Kontak dengan penderita TB dengan nilai (p=0.000; OR=24.665) merupakan faktor yang paling dominan yang dapat mempengaruhi kejadian tuberculosis Simpulan: Ada hubungan perilaku merokok, kontak dengan penderita TB, dan tidak membuka jendela terhadap kejadian TB. Kata Kunci: Kontak Penderita TB; Membuka Jendela; Perilaku Merokok; Tuberkulosis.
Hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian demam berdarah dengue Khoisiah, Hidayatul; Sani, Nopi; Sudiadnyani, Niputu; Hermawan, Dessy
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1355

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus through the bite of the Aedes aegypti mosquito. DHF remains a public health problem in Indonesia. Several factors, such as age and gender, are suspected to influence DHF incidence. Purpose: To determine the relationship between age and gender and DHF incidence. Method: This quantitative analytical study used a cross-sectional approach conducted on 279 respondents. Data analysis was performed using univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Chi-Square test to examine the relationship between variables. Results: There was a significant relationship between age and DHF incidence (p = 0.013). Furthermore, most DHF cases were found in the 15-45 age group. Gender also showed a significant relationship with DHF incidence (p = 0.02), with males experiencing more DHF than females. Conclusion: There is a significant relationship between age and gender and DHF incidence.   Keywords: Age; Chi-square; Dengue Hemorrhagic Fever; Epidemiology; Gender.   Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kejadian DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Beberapa faktor seperti usia dan jenis kelamin diduga berpengaruh terhadap kejadian DBD. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian DBD. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 279. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian DBD (p=0.013). Selain itu sebagian besar kejadian DBD ditemukan pada kelompok usia 15-45 tahun. Jenis kelamin juga menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian DBD (p=0.002) dengan laki-laki lebih banyak mengalami DBD dibandingkan perempuan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian DBD.   Kata Kunci: Chi-square; Demam Berdarah Dengue; Epidemiologi; Jenis Kelamin; Usia.
Hubungan pengetahuan dan sikap dengan konsumsi sugar sweetened beverages (SsBs) pada remaja Azzahra, Mareta; Adyas, Atikah; Kustiani, Ai
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1363

Abstract

Background: Adolescents are an age group vulnerable to the influence of unhealthy consumption patterns, one of which is the consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs). Excessive consumption of SSBs can increase the risk of non-communicable diseases such as obesity and diabetes. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes with SSBs consumption in adolescents. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach. The sample in this study was 149 10th-grade students selected using a total sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test. Results: Univariate analysis data showed that most respondents had good knowledge (77.9%) and a good attitude (65.1%), as well as a low frequency of SSB consumption (52.3%). The statistical test results showed a p-value of 0.075 for the knowledge-consumption variable and a p-value of 0.002 for the attitude-consumption variable. Conclusion: There is no significant relationship between knowledge and SSB consumption (p=0.075), but there is a significant relationship between attitude and SSB consumption (p=0.002).   Keywords: Attitude; Knowledge; ; Sweetened Beverages; Teenager.   Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap pengaruh pola konsumsi yang kurang sehat, salah satunya adalah konsumsi minuman berpemanis (sugar sweetened beverages/SSBs). Konsumsi SSBs secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas dan diabetes. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan konsumsi SSBs pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 149 siswa kelas X yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Data hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik (77,9) dan sikap yang baik (65,1%), serta frekuensi konsumsi SSBs yang rendah (52,3%). Hasil uji statistik menunjukkan p value 0.075 pada variabel pengetahuan dengan konsumsi dan p value pada variabel sikap dengan konsumsi sebesar 0.002. Simpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan konsumsi SSBs (p=0,075), tetapi ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan konsumsi SSBs (p=0,002).   Kata Kunci: Minuman Berpemanis; Pengetahuan; Remaja; Sikap.
Pengaruh booklet pertolongan pertama cedera olahraga terhadap pengetahuan tentang perawatan cedera olahraga pada siswa Nurlita, Ela; Trismiyana, Eka; Rianty, Dian Asih; Keswara, Umi Romayati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1391

Abstract

Background: Sports injuries are injuries usually limited to sudden tissue damage that occurs during exercise, such as sprains and tears of the soft tissue in the musculoskeletal system. These injuries can be caused by many things, one of which is overuse syndrome. In children aged 7-14, injuries are the leading cause of death, with rates ranging from 20% to 60%, with the highest rate of sports injuries in Mesuji Regency (14.98%) and the lowest in Tulang Bawang (2.61%). However, in South Lampung Regency, the rate is 9.23%. Students' knowledge of first aid for sports injuries is lacking. Purpose: To determine the effect of the sports injury first aid booklet on students' knowledge of sports injury care. Method: Quantitative research with an experimental design. The population in this study were 30 students who are members of the PMR SMP N 2 Katibung, with a sample of 20 respondents drawn using random sampling. Data analysis used the t-dependent statistical test. Results: The average knowledge before the booklet counseling was 45.25. After the booklet counseling, the mean was 74.75, with a statistical test result of p-value = 0.000 <α. Conclusion: There is an effect of health counseling on the influence of the sports injury first aid booklet on knowledge about sports injury treatment in students.   Keywords: Booklet; Knowledge; Sports Injury.   Pendahuluan: Cedera olahraga adalah cedera biasanya terbatas pada kerusakan jaringan secara tiba-tiba yang terjadi selama berolahraga seperti terkilir dan robeknya jaringan lunak pada sistem muskuloskeletal dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah overuse syndrome. Anak berusia 7-14 tahun, cedera menjadi penyebab utama kematian dengan angka berkisar antara 20% hingga 60% dengan angka tertinggi cedera olahraga berada di kabupaten Mesuji 14.98% dan angka terendah berada di Tulang Bawang 2.61%. Namun di kabupaten Lampung Selatan terdapat 9.23%. Kurangnya pengetahuan siswa siswi tentang pertolongan pertama cedera olahraga. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh booklet pertolongan pertama cedera olahraga terhadap pengetahuan tentang perawatan cedera olahraga pada siswa. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa siswi anggota PMR SMP N 2 Katibung sejumlah 30 orang dengan jumlah sampel sebanyak 20 responden yang diambil secara sample random sampling. Analisa data menggunakan uji statistik t-dependen. Hasil: Rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan dengan booklet dengan mean 45.25. Sesudah dilakukan penyuluhan dengan media booklet mean 74.75 dengan hasil uji statistik didapatkan p-value = 0.000< α. Simpulan: Adanya pengaruh penyuluhan kesehatan tentang Pengaruh booklet pertolongan pertama cedera olahraga terhadap pengetahuan tentang perawatan cedera olahraga pada siswa siswi.   Kata Kunci: Booklet; Cedera Olahraga; Pengetahuan.
Pengaruh pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal dalam meningkatkan self-esteem pada siswa Sinurat, Siti Farida; Furqoni, Prima Dian; Elliya, Rahma; Wahyudi, Wahid Tri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1398

Abstract

Background: Self-esteem is a very important psychological aspect in adolescent development, especially in the digital era which is full of challenges and changes. In adolescence, individuals begin to form their self-identity, and self-esteem plays a central role in this process. Purpose: To determine the effect of Communication Skills Training on the Self-Esteem of students. Method: This research is a quantitative study using a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The research subjects were 21 tenth-grade students of SMK Persada Bandar Lampung, selected using the total sampling technique. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analysis with a dependent t-test. Results: The average Self-Esteem of students before receiving communication skills training is 19.05 with a standard deviation of 4.873, and after receiving communication skills training, it increased to a mean of 44.33 with a standard deviation of 7.631. The statistical test result shows a value of 0.000. Conclusion: There is a significant effect of communication skills training on enhancing self-esteem among students at SMK Persada Bandar Lampung in 2025. It is hoped that students can improve interpersonal communication well and appropriately to enhance their self-esteem.   Keywords: Communication Skills; : Self-Esteem; Training.   Pendahuluan: Self-esteem atau harga diri merupakan aspek psikologis yang sangat penting dalam perkembangan remaja, terutama di era digital yang penuh tantangan dan perubahan. Di masa remaja, individu mulai membentuk identitas diri mereka, dan self-esteem memainkan peran sentral dalam proses ini. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Pelatihan keterampilan komunikasi terhadap Self Esteem siswa siswi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain Pra Eksperimental menggunakan pendekatan One group Pretest-Posttest. Subjek penelitian adalah 21 siswa kelas X SMK Persada Bandar Lampung yang dipilih dengan teknik total sampling. Analisa data analisis univariate dan bivariate dengan Uji t-dependen. Hasil: Rata-rata Self-Esteem Pada Siswa sebelum diberikan pelatihan keterampilan komunikasi adalah 19,05 dengan standar deviasi 4.873 dan setelah diberikan pelatihan keterampilan komunikasi mengalami peningkatan dengan mean 44.33 dengan standar deviation 7,631. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value 0,000. Simpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan pelatihan keterampilan komunikasi dalam meningkatkan self-esteem pada siswa.   Kata Kunci: Harga Diri; Keterampilan Komunikasi; Pelatihan.
Pengembangan biskuit tinggi serat dengan substitusi tepung alpukat sebagai makanan selingan pada balita yang mengalami konstipasi Hervidea, Radella; Gladisia, Aura Dita; Astuti , Dewi Woro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1416

Abstract

Background: Constipation, commonly referred to as constipation, is a symptom characterized by hard stools that are difficult to pass. The high fiber content in avocados provides benefits for digestive health because their insoluble fiber and healthy fats aid bowel movements and form a soft gel to facilitate bowel movements and help maintain good stool consistency. Purpose: To determine the formulation and nutritional content of biscuits with avocado flour substitution. Method: The study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatment levels: 0%, 25%, 50%, and 75%, among 25 participants. Results: The nutritional content of biscuits with avocado flour substitution with the best formulation (F3) after proximate testing was 8.69% protein, 9.62% fat, 74.43% carbohydrate, 3.13% fiber, 3.91% water, and 3.34% ash. Conclusion: The best biscuit formulation with avocado flour substitute is F3, with a formulation of 50% teru flour + 50% avocado flour. Suggestion: When processing with avocados, it is recommended to use fruit with a lower water content, firm flesh, and perfect ripeness.   Keywords: Avocado Flour; Biscuits; Fiber.   Pendahuluan: Konstipasi atau biasa disebut sembelit merupakan suatu gejala yang ditandai dengan feses yang keras sehingga sulit dikeluarkan. Kandungan serat yang tinggi pada alpukat memberikan manfaat bagi kesehatan pencernaan karena seratnya yang tidak larut dan lemak baik membantu pergerakan usus serta membentuk gel yang lembut untuk memperlancar buang air besar dan membantu menjaga konsistensi feses yang baik. Tujuan: Untuk mengetahui formulasi dan kandungan gizi biskuit dengan substitusi tepung alpukat. Metode: Penelitian menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan yaitu 0%, 25%, 50%, dan 75% kepada 25 partisipan. Hasil: Kandungan gizi pada biskuit dengan substitusi tepung alpukat dengan formulasi terbaik (F3) setelah dilakukan uji proksimat diperoleh hasil protein 8.69%, lemak 9.62%, karbohidrat 74,43%, serat 3.13%, kadar air 3.91%, dan kadar abu 3.34%. Simpulan: Formulasi biskuit dengan substitusi tepung alpukat yang terbaik adalah F3 dengan formulasi 50% tepung terigu + 50% tepung alpukat. Saran: pengolahan menggunakan alpukat, disarankan menggunakan buah yang kadar airnya lebih rendah, daging buahnya padat, dan tingkat kematangannya sempurna.   Kata Kunci: Biskuit; Tepung Alpukat; Serat.
Pengaruh faktor risiko yang dapat dan tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 tanpa komplikasi Ansori, Ahmad; Irianto, Torry Duet; Amirus, Khoidar; Perdana, Agung Aji; Sari, Fitri Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1420

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease with increasing prevalence globally and a major challenge to public health systems. Purpose: To determine the influence of modifiable risk factors (such as physical activity, diet, and obesity) and non-modifiable risk factors (age, sex, and heredity) on the incidence of uncomplicated T2DM. Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A purposive sampling technique was used, and 358 individuals met the inclusion criteria. Data were analyzed using the chi-square test and multivariate analysis using multiple logistic regression. Results: Most respondents did not experience type 2 diabetes (69.8%), were female (82.4%), were aged ≥41 years (79.6%), had no family history of type 2 diabetes (76.5%), were in the light physical activity group (60.6%), had a good diet (75.7%), and were not obese (73.7%). There was a relationship between age (p-value = 0.006), gender (p-value = 0.049), heredity (p-value = 0.027), physical activity (p-value = 0.000), diet (p-value = 0.000), and obesity (p-value = 0.000) with the occurrence of type 2 diabetes. The results of the multivariate analysis showed that physical activity was the dominant factor that could influence the occurrence of type 2 diabetes (OR = 4.26). Conclusion: Age, gender, heredity, physical activity, diet, and obesity are risk factors for type 2 diabetes.   Keywords: Age; Diet; Gender; Hereditary; Obesity; Physical Activity; Type 2 DM.   Pendahuluan: Diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronis yang mengalami peningkatan prevalensi secara global dan menjadi tantangan utama sistem kesehatan masyarakat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi (seperti aktivitas fisik, pola makan dan  obesitas) serta faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (usia, jenis kelamin, dan herediter) terhadap kejadian DM tipe 2 tanpa komplikasi. Metode: Penelitian dengan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Menggunakan  teknik purposive  sampling dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 358 orang. Analisa data menggunakan uji chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Sebagian besar responden tidak mengalami DM tipe 2 sebanyak (69,8%), berjenis kelamin perempuan (82,4%), kelompok usia ≥41 tahun (79,6%),  tidak memiliki riwayat keluarga DM tipe 2 (76,5%), kelompok dengan aktivitas fisik ringan (60,6%), memiliki pola makan baik (75,7%), dan tidak mengalami obesitas  (73,7%). Ada hubungan antara usia (p-value=0.006), jenis kelamin (p-value= 0.049), herediter (p-value=0.027), aktivitas fisik (p-value=0.000), pola makan (p-value=0.000) dan obesitas (p-value=0.000) terhadap terjadinya penyakit dm tipe 2. Hasil analisis multivariate aktivitas fisik merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit dm tipe 2 (OR=4.26). Simpulan: Usia, jenis kelamin, herediter, aktivitas fisik, pola makan, dan obesitas merupakan faktor resiko terhadap penyakit dm tipe 2.   Kata Kunci : Aktivitas Fisik; DM tipe 2; Herediter; Jenis Kelamin; Obesitas; Pola Makan;  Usia.