cover
Contact Name
Iwan Kurnia
Contact Email
indonesiastt@gmail.com
Phone
+6285888631242
Journal Mail Official
indonesiastt@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta d.a. Ebenhaezer Building Jalan Setiabudi Selatan No.1 Setia Budi Jakarta Selatan, DKI Jakarta Raya
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Religious
ISSN : -     EISSN : 28278984     DOI : https://doi.org/10.46362/ijr
Indonesian Journal of Religious (e-ISSN: 2827-8984) has the perspectives of humanities and social sciences. This journal also has programs aimed at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Religious Studies and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Religious. The two were linked: the sacred texts showed that religion was, as well as a set of religious tenets, a way of approaching the practical political, economic, social, and cultural challenges of life. So, this journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences. IJR, published twice a year (April and October), always places religion in the central focus of academic inquiry and invites any discussions as the aim and scopes.
Articles 45 Documents
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pembentukan Karakter Siswa Menurut H.A.R. Tilaar Anderson Ndolu; Malau, Maya; Manik, Novida Dwici Yuanri; Iswahyudi, Iswahyudi
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 1 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.1 (April 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i1.14

Abstract

Christian religious education has a goal, namely, to enable people to live as Christians, namely, to live according to the Christian faith. The role of Christian religious educators is to lead people out of darkness into the Kingdom of God in Jesus. In the scriptures we find a vision of God's own plan for all mankind and creation, greetings to which Jesus the great teacher teaches His good news. It is hoped that Christian religious education teachers can carry out their duties with a sense of responsibility in accordance with educational goals and create a generation that has noble character, is responsible and has the character of Christ. The role of this Christian religious education teacher also raises a big theme in character education written by the nation's educator H.A.R. Tilaar who provides character education to strengthen the character of local culture. The purpose of this study was to determine the extent of the role of Christian religious education teachers in shaping the character of students according to H.A.R. Tilaar. Christian teachers form good characters to live in God. Living in God is not just an outward appearance, but living in God through living characters, works and thoughts that lead to God's words. The implication of a character who loves God is directly related to the character-building role of Christian education.   Pendidikan agama Kristen memiliki tujuan yaitu untuk memampukan orang-orang hidup sebagai umat Kristen, yakni hidup sesuai iman Kristen. Peran pendidik agama Kristen adalah untuk menuntun orang-orang keluar dari kegelapan menuju Kerajaan Allah di dalam Yesus. Dalam kitab suci kita mendapatkan visi rencana Allah sendiri bagi seluruh manusia dan ciptaan, salam kesinambungannya Yesus sang guru agung mengajarkan kabar baik-Nya. Diharapkan guru pendidikan agama Kristen mampu melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sesuai dengan tujuan pendidikan dan menciptakan generasi yang berakhlak mulia, bertanggungjawab dan memiliki karakter Kristus. Peran guru pendidikan agama Kristen ini juga mengangkat tema besar dalam pendidikan karakter yang dituliskan oleh pendidik bangsa H.A.R. Tilaar yang memberikan pendidikan karakter menguatkan karakter budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peran guru pendidikan agama Kristen dalam pembentukan karakter peserta didik menurut H.A.R. Tilaar. Guru Kristen membentuk karakter yang baik untuk hidup dalam Tuhan. Hidup dalam Tuhan bukan hanya sekadar penampakan luar, tetapi hidup dalam Tuhan melalui karakter hidup, karya serta pemikiran yang mengarah pada firman Tuhan. Implikasi dari karakter yang mengasihi Tuhan secara langsung terkait pada peran membangun karakter dari pendidikan Kristen.
Pengaruh Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara Dan Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Karakter Anak Di Sekolah Yoser Yoli Wallangara; Manik, Novida Dwici Yuanri; Rismawati, Netti; Jayadi, Lionarto Erson
Indonesian Journal of Religious Vol. 6 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Religious, Vol.6, No.1 (April 2023)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v6i1.16

Abstract

Ki Hadjar Dewantara is a bearer or originator of character education. In the field of education he is known as the father, the great teacher in the field of education at that time. His name is remembered until now, because his movement brought the Indonesian nation. National education refers to his name. The method used is descriptive and comparative analysis techniques. In the results of Ki Hadjar Dewantara's research, it was found that there is a close relationship in character but focuses on a good personality and upholds good values ​​or attitudes to the Indonesian nation. and a high sense of love for the Indonesian nation, and has a distinctive culture, and has a high personality and leads the Indonesian nation. and as the Father of Indonesian National Education Ki Hadjar Dewantara. This shows that the school as a formal educational institution has a fairly heavy load in carrying out the educational mission. In relation to character education, the Indonesian people really need quality human resources (human resources) to support the implementation of development programs properly. quality education is needed, which can support the achievement of the nation's ideals of having quality resources. This is related to the formation of the character of students so that they are able to compete, be ethical, have morals, be polite and interact with the community. Education that is urgently needed today is education that can integrate character education with education that can optimize the development of all dimensions of children (cognitive, physical, socio-emotional, creativity, and spiritual).   Ki Hadjar Dewantara adalah  seorang pengusung atau pencetus tentang pendidikan karakter. Di dalam bidang pendidikan dia dikenal sebagai Bapak, Guru Besar di bidang pendidikan pada jamannya. Namanya dikenang sehingga saat sekarang ini, karena pergerakannya membawa Banggsa Indonesia. pendidikan Nasional merujuk pada Namanya. Metode yang digunakan teknik analisis deskriptif dan kompratif. Dalam hasil penelitian Ki Hadjar Dewantara di temukan yang namanya pertalian erat dalam karakter melainkan berfokus pada kepribadian yang baik dan Menjunjung tinggi nilai atau sikap yang baik pada Bangsa Indonesia. dan rasa cintainya yang tinggi pada Bangsa Indonesia, serta memiliki budaya yang khas, Dan memiliki kepribadian yang tinggi dan mengantar bangsa Indonesia. dan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal mempunyai suatu muatan beban yang cukup berat dalam melaksanakan misi pendidikan tersebut. Kaitaannya dengan pendidikan karakter, bangsa Indonesia sangat memerlukan SDM (sumber daya manusia) yang bermutu untuk mendukung terlaksananya program pembangunan dengan baik. dibutuhkan pendidikan yang berkualitas, yang dapat mendukung tercapainya cita-cita bangsa dalam memiliki sumber daya yang bermutu, Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak (kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual).
Menyingkap Perbedaan Mendasar: Evangelikalisme Dan Fundamentalisme – Tidak Serupa Meskipun Terkait Timotius, Timotius; Sni, Ofriana; Susanto, Johanes Lilik; Bintoro, Wahyu; Dewi, Setia
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.23

Abstract

This writing explains the frequent misunderstanding that many evangelical figures who still like to call themselves Fundamentals, are unable to distinguish between the Evangelical and Fundamentalist movements to seem to be the same as the Fundamentalistic. Evangelical movements are different from fundamentalist movements. These evangelicals have emerged since the early 20th century as a reaction to the rejection of Modern/Liberal Theology. Fundamentalism is a movement that emphasizes the preservation of the truth of doctrine and beliefs that are considered fundamental to religion. Fundamentalists believe that religious teachings should be preserved in their original form and should not undergo adaptation or reinterpretation. They tend to be skeptical of social and cultural changes that are considered contrary to their religious beliefs and principles. Fundamentalism is often identified with a rigid attitude and rejection of modernist approaches in theology and religious life. In this article, the author uses the qualitative method of literary research as a reference in describing the problems studied. The outcome of the authors would show that the Evangelical is not the same as the fundamentalist so the equation caused by the lack of understanding of the Evangelistic can be explained.   Tulisan ini untuk menjelaskan akan kesalahpahaman yang sering terjadi dimana banyak tokoh Evangelikal masih suka menyebut dirinya sendiri Fundamentalis, mereka tidak bisa membedakan antara gerakan Evangelikal dan Fundamentalis sehingga seolah-olah gerakan Evangelikal sama dengan Fundamentalis. Padahal gerakan Evangelikal berbeda dengan Fundamentalis. Kaum Evangelical ini muncul sejak awal abad ke-20 sebagai reaksi penolakan terhadap Teologi Modern/Liberal. Sedangkan Fundamentalisme adalah gerakan yang menekankan pemeliharaan kebenaran doktrin dan keyakinan yang dianggap mendasar (fundamental) bagi agama. Para fundamentalis percaya bahwa ajaran-ajaran agama harus dijaga dalam bentuk aslinya dan tidak boleh mengalami penyesuaian atau reinterpretasi. Mereka cenderung bersikap skeptis terhadap perubahan sosial dan budaya yang dianggap bertentangan dengan keyakinan dan prinsip-prinsip agama mereka. Fundamentalisme sering kali diidentifikasi dengan sikap yang kaku dan penolakan terhadap pendekatan modernis dalam teologi dan kehidupan beragama. Dalam artikel ini,  penulis memakai metode kualitatif yaitu penelitian literatur  sebagai  acuan dalam  mendeskripsikan masalah yang  dikaji. Hasil akhir penulis akan menunjukkan bahwa Evangelikal tidak sama dengan fundamentalis sehingga penyamaan yang disebabkan oleh kurang mengertinya tentang Evangelikal bisa dijelaskan.
Peran Administrasi Dan Manajemen Dalam Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah Dasar Tan, Juan Ananta; Agata, Krinanda; Sabadnugroho, Samuel; Liantoro, Liantoro; Soenjaya, Lindawaty
Indonesian Journal of Religious Vol. 6 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Religious, Vol.6, No.1 (April 2023)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v6i1.25

Abstract

Effective teachers in primary schools face difficulties due to a lack of responsibility and a lack of application of Christian values, which serve as the foundation for their leadership. The role of administration and management in Christian Religious Education (CRE) in primary schools is very important in fostering the spiritual and moral development of students. This abstract explores the important functions played by administrators and managers in facilitating PAK programs and ensuring their effectiveness in the basic education environment. Administrators and managers collaborate to design a PAK curriculum that aligns with the mission and values of the educational institution, while meeting the needs and expectations of students and their families. This includes selecting appropriate textbooks, teaching materials, and resources. Selecting qualified educators and providing them with ongoing training and support is an important administrative function. Teachers who are skilled and experienced in Christian theology and pedagogical strategies can provide meaningful religious education for students. The role of administration and management in Christian religious education in primary schools is multifaceted and is very important for student development in an educational context.   Tantangan guru yang efektif di sekolah dasar terletak pada tidak adanya akuntabilitas dan kurangnya penerapan nilai-nilai kristiani, yang memandu kepemimpinan guru di sekolah dasar. Peran administrasi dan manajemen dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah dasar sangat penting dalam membina perkembangan spiritual dan moral para siswa. Abstrak ini mengeksplorasi fungsi-fungsi penting yang dimainkan oleh para administrator dan manajer dalam memfasilitasi program-program PAK dan memastikan keefektifannya di lingkungan pendidikan dasar. Administrator dan manajer berkolaborasi untuk merancang kurikulum PAK yang selaras dengan misi dan nilai-nilai lembaga pendidikan, sekaligus memenuhi kebutuhan dan harapan siswa dan keluarga mereka. Hal ini termasuk memilih buku pelajaran, bahan ajar, dan sumber daya yang sesuai. Memilih pendidik yang berkualitas dan memberi mereka pelatihan dan dukungan yang berkelanjutan adalah fungsi administrasi yang penting. Guru-guru yang terampil dan berpengalaman dalam teologi Kristen dan strategi pedagogis dapat memberikan pendidikan agama yang bermakna bagi para siswa. Peran administrasi dan manajemen dalam Pendidikan Agama Kristen di sekolah dasar memiliki banyak segi dan sangat penting bagi perkembangan siswa dalam konteks pendidikan.
Manajemen Pembelajaran Dalam Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Halawa, Solingkari; Sni, Seoni; Zendato, Petrus Damai; Tanasyah, Yusak
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.26

Abstract

Learning management is an important thing in the process of teaching and learning activities, learning management influences student achievement in academic and non-academic activities. The purpose of this study is based on learning management to improve early childhood cognitive abilities by using the storytelling method and the question-and-answer method. This type of research is the bibliography, the data collected in this study are two types of data, namely primary data, and secondary data. Data obtained from library research (library). The data collection technique used by this researcher is a literature study. The data analysis technique in this study used qualitative analysis techniques in a deductive way. The research results obtained that the storytelling method and the questioning method play an important role in improving the cognitive development of early childhood which can make it easier for children to carry out teaching and learning activities.    Manajemen pembelajaran merupakan hal penting dalam proses kegiatan belajar mengajar, manajemen pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi peserta didik dalam kegiatan Akademik dan non akademik. Tujuan penelitian ini Berdasarkan manajemen pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini dengan menggunakan metode bercerita dan metode Tanya jawab, Jenis penelitian ini adalah bibliografi, data yang dikumpulkan dalam studi ini adalah dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data diperoleh dari riset kepustakaan (library). Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti ini adalah studi kepustakaan. Teknik analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan teknik analisa kualitatif dengan cara deduktif. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa metode bercerita dan metode bertanya sangat berperan penting dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak usia dini dapat memudahkan anak dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
"Abba Father”, Jesus' Call to God in the Biblical Theological Perspective of Psalm 89:26 Gulo, Arifman; Putrawan, Bobby Kurnia
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.27

Abstract

We have been accepted as sons by the redemption of Jesus Christ, so that we may call God the Father. Therefore, let us live truly as children of God; live well and truly. For we want to touch his heart, call him by the name he loves. Call him Abba, Call Him Father. Of all his names, Abba The Father is Jesus ' call to God. We know that Jesus loved this name because it is the name that is most often used. When Jesus was on earth, he called God” Father " several times. In the prayer of victory on the cross, Jesus cried out with a loud voice; "Father, into your hands I commit my life” (Luke 23:46). God loves to be called Father. Jesus taught us to begin prayer with the words “Our Father”. Perfect love speaks of God's love. Since Jesus called God Abba, the love that can eliminate fear is the love of the Father. Agape love is perfect love, and that is the love of the father. He cares about us, he cares about us. Jesus cried Abba, O Father, so that we Christians who are given strength and salvation by-yes, can cry Abba, Father. We call him Abba, the Father because he is our Father, he cares for us, and He understands us. Perfect love exists only in the father and is able to eliminate all worries. If the Father loves Jesus as his son, the Father in heaven also loves us as his children as Christians who believe in the truth and the way of eternal salvation. For this reason, the author chose the title: "Abba Father", Jesus ‘call to God in the perspective of Biblical Theology from the book of Psalms 89:26, he will also cry out to me: 'My Father You Are God and my rock my salvation.’
Model Pendidikan Agama Kristen dalam Mengembangkan Masyarakat Majemuk di Indonesia Manalu, Immanuel Lando; Iswahyudi, Iswahyudi; Valentina, Lista; Bintoro, Wahyu; Pasaribu, Damaria
Indonesian Journal of Religious Vol. 6 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Religious, Vol.6, No.1 (April 2023)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v6i1.29

Abstract

A Christian education model that aims to develop a pluralistic society in Indonesia characterized by inclusivity, interfaith dialogue, and ethical values. In the context of a plural and pluralistic Indonesia, this model emphasizes interfaith dialogue and understanding, fosters respect for religious and cultural diversity, promotes ethical values and social justice, and encourages active involvement in community service. By applying this model, Christian religious education can play an important role in fostering a society where individuals from different backgrounds can coexist harmoniously, value diversity, and contribute to the common good. The proposed model offers a framework for educators, policymakers, and religious leaders to develop effective strategies and initiatives that promote understanding, respect, and cooperation among different religious and cultural communities in Indonesia. Therefore, the development of an inclusive and multicultural PAK model is the right approach in fostering mutual acceptance of each other in the context of a pluralistic society. This research uses a literature review method that refers to a theory in literature sourced from articles, books, and other scientific works.   Model Pendidikan Agama Kristen yang bertujuan untuk mengembangkan masyarakat majemuk di Indonesia yang bercirikan inklusivitas, dialog antar agama, dan nilai-nilai etis. Dalam konteks Indonesia yang majemuk dan majemuk, model ini menekankan dialog dan pemahaman antar agama, menumbuhkan rasa hormat terhadap keragaman agama dan budaya, mengedepankan nilai-nilai etika dan keadilan sosial, serta mendorong keterlibatan aktif dalam pelayanan masyarakat. Dengan menerapkan model ini, Pendidikan Agama Kristen dapat memainkan peran penting dalam membina masyarakat di mana individu dari berbagai latar belakang dapat hidup berdampingan secara harmonis, menghargai keragaman, dan berkontribusi pada kebaikan bersama. Model yang diusulkan menawarkan kerangka kerja bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan pemimpin agama untuk mengembangkan strategi dan inisiatif yang efektif yang mempromosikan pemahaman, rasa hormat, dan kerja sama di antara komunitas agama dan budaya yang berbeda di Indonesia. Maka dari itu, pengembangan model PAK yang inklusif dan multikultural menjadi pendekatan yang tepat dalam membina sikap saling menerima satu sama lain dalam konteks masyarakat majemuk. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka yang merujuk kepada sebuah teori secara literatur yang bersumber dari artikel-artikel, buku-buku, dan karya ilmiah lainnya.
Strategi Pendidikan Agama Kristen Dalam Masyarakat Majemuk Di Sekolah Ratu, Artika; Tanasyah, Yusak; Zusanna, Dian Paskarina; Sari, Anita Irama
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.30

Abstract

Christian religious education requires a strategy. Christian Education is the education of Christian teachings that emphasize aspects of knowledge, attitudes, values, and even skills based on the Christian faith itself. With the strategy amid Christian Education, Christian Education can achieve the goals that should be implemented, especially among plural communities. A plural society is a society consisting of two or more elements that live independently without any renewal of each other in political unity. To make a Christian Education strategy in a plural society itself, we must know how the life of the plural society is first, after that we realize the Christian Education. Just as we can learn from the Lord Jesus' teaching about preaching the gospel in crowds. While doing the ministry, Jesus encountered various people with different characters. Not a few of them liked the teaching that Jesus preached, there were even some people who rejected the teaching and did not like Jesus, but despite the many challenges that Jesus experienced while doing the ministry, it did not prevent him from continuing to bind the gospel in various places. Finally, this study explains how to teach Christian Education in a pluralistic society by imitating the way Jesus did as mandated in Matthew 28:16-20.   Pendidikan Agama Kristen memerlukan yang namanya strategi. Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan ajaran-ajaran kekristenan yang menekankan pada aspek pengetahuan, sikap dan nilai-nilai bahkan keterampilan yang berdasarkan kepada iman Kristen itu sendiri. Dengan adanya strategi ditengah Penddidikan Agama Kristen tersebut membuat Pendidikan Agama Kristen tersebut dapat mencapai tujuan yang seharusnya terlaksanakan, terutama di kalangan masyarakat majemuk. Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa adanya pembaruan satu sama lain dalam kesatuan politik. Untuk membuat strategi Pendidikan Agama Kristen dalam masyarakat majemuk itu sendiri, kita harus mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat majemuk tersebut terlebih dahulu, setelah itu barulah kita merealisasikan Pendidikan Agama Kristen. Seperti halnya kita dapat belajar dari pengajaran Tuhan Yesus tentang memberitakan Injil ditengah orang banyak. Ketika melakukan pelayanan Yesus menjumpai berbagai orang dengan karakter yang berbeda-beda. Tidak sedikit dari mereka yang suka akan pengajaran yang Yesus sampaikan, bahkan terdapat sebagian orang juga yang menolak akan ajaran itu, dan tidak suka kepada Yesus, namun meskipun banyak sekali tantangan yang Yesus alami ketika melakukan pelayanan, hal itu tidak menghambatnya untuk terus memberikatan Injil di berbagai tempat. Akhirnya penelitian ini menjelaskan bagaimana melakukan pengajaran Pendidikan Agama Kristen ditengah masyarakat majemuk dengan mencontoh cara yang Yesus lakukan seperti diamanatkan dalam Injil Matius 28:16-20.
Katekismus Heidelberg: Sebuah Eksposisi Atas Pertanyaan Pertama khususnya kata “Penghiburan” Timotius, Timotius; Putrawan, Bobby Kurnia
Indonesian Journal of Religious Vol. 6 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Religious, Vol.6, No.1 (April 2023)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v6i1.31

Abstract

The Heidelberg Catechism’s opening question, with its emphasis on “consolation,” represents a profound theological and pastoral exploration of the human condition. It underscores the enduring quest for true comfort, rooted in faith in Jesus Christ, and offers solace and hope amid life’s uncertainties and the inevitability of death. Understanding the historical context, theological depth, and practical implications of this question enhances one’s appreciation for the enduring relevance of the Heidelberg Catechism in the Christian tradition. Further study and reflection on its teachings can enrich the spiritual journey of believers seeking lasting consolation in their faith. This article aims to explain that the first question in the Helderberg Catechism is Theocentric. This is because there are scholars who say that the Heidelberg Catechism is very people-centered because it starts with a question that seems to tend to emphasize human needs. The author uses the literature method in this study. The final result of this study the author will show that the Helderberg Catechism is Theocentric, not People-Centered because the first question in the Helderberg Catechism is based on the awareness that God is the true source of comfort so that Christians only want to seek true comfort from God.   Pertanyaan pembuka Katekismus Heidelberg, dengan penekanannya pada "penghiburan", mewakili sebuah eksplorasi teologis dan pastoral yang mendalam tentang kondisi manusia. Katekismus ini menggarisbawahi pencarian abadi akan penghiburan sejati, yang berakar pada iman kepada Yesus Kristus, dan menawarkan penghiburan serta pengharapan di tengah ketidakpastian hidup dan keniscayaan kematian. Memahami konteks historis, kedalaman teologis, dan implikasi praktis dari pertanyaan ini akan meningkatkan apresiasi seseorang terhadap relevansi abadi Katekismus Heidelberg dalam tradisi Kristen. Studi lebih lanjut dan refleksi atas ajaran-ajarannya dapat memperkaya perjalanan spiritual orang-orang percaya yang mencari penghiburan yang kekal dalam iman mereka. Artikel ini bertujuan menjelaskan bahwa pertanyaan pertama dalam Katekismus Helderberg bersifat Theosentris. Hal ini dikarenakan ada sarjana yang mengatakan bahwa Katekismus Heidelberg tersebut sangat people-centered karena memulainya dengan pertanyaan yang terkesan cenderung menekankan kebutuhan manusia. Penulis memakai metode literatur dalam penelitian ini. Hasil akhir dari penelitian ini penulis akan menunjukkan bahwa  Katekismus Helderberg bersifat Theosentris bukan People Centered karena pertanyaan pertama dalam Katekismus Helderberg didasarkan atas kesadaran bahwa Allah adalah sumber penghiburan sejati sehingga orang Kristen hanya mau mencari penghiburan sejati dari Allah.
Peran Pendidikan Agama Kristen Melawan Diskriminasi Di Masyarakat Majemuk Indonesia Barus, Rona Ganta; Rahayu, Khatrina Rintis Lintang; Tandana, Ester; Liantoro, Liantoro; Darmadi, Darmadi
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.32

Abstract

This article examines the role of Christian religious education in combating discrimination within a diverse Indonesian society. It explores the challenges posed by discrimination based on factors such as ethnicity, religion, and socio-economic status, and highlights the potential of Christian religious education to promote tolerance, respect, and inclusivity. The study investigates the principles and teachings of Christianity that emphasize equality, justice, and love for one's neighbor. It analyzes how Christian religious education can contribute to dismantling discriminatory attitudes and behaviors by instilling values of empathy, compassion, and acceptance. The article also discusses the importance of interfaith dialogue and collaboration in fostering understanding and breaking down barriers. Furthermore, it explores strategies for integrating Christian religious education within the Indonesian education system to address discrimination effectively. By nurturing a spirit of inclusivity and fostering respect for diversity, Christian religious education can play a vital role in creating a more harmonious and equitable society in Indonesia.   Artikel ini mengkaji peran pendidikan agama Kristen dalam memerangi diskriminasi dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Ini mengeksplorasi tantangan yang ditimbulkan oleh diskriminasi berdasarkan faktor-faktor seperti etnis, agama, dan status sosial-ekonomi, dan menyoroti potensi pendidikan agama Kristen untuk mempromosikan toleransi, rasa hormat, dan inklusivitas. Studi ini menyelidiki prinsip dan ajaran agama Kristen yang menekankan kesetaraan, keadilan, dan cinta sesama. Ini menganalisis bagaimana pendidikan agama Kristen dapat berkontribusi membongkar sikap dan perilaku diskriminatif dengan menanamkan nilai-nilai empati, kasih sayang, dan penerimaan. Artikel ini juga membahas pentingnya dialog dan kolaborasi antar agama dalam menumbuhkan pemahaman dan meruntuhkan sekat-sekat. Selain itu, bab ini mengeksplorasi strategi untuk mengintegrasikan pendidikan agama Kristen ke dalam sistem pendidikan Indonesia untuk mengatasi diskriminasi secara efektif. Dengan memupuk semangat inklusivitas dan menumbuhkan rasa hormat terhadap keberagaman, pendidikan agama Kristen dapat berperan penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih harmonis dan berkeadilan di Indonesia.