cover
Contact Name
Amaq Fadholly
Contact Email
Amaqfadholly@apps.ipb.ac.id
Phone
+6285784750924
Journal Mail Official
jvetbiomed@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jalan Agatis Kampus IPB Dramaga, Bogor, 16680, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Veteriner dan Biomedis
ISSN : -     EISSN : 29872257     DOI : https://doi.org/10.29244/jvetbiomed
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Veteriner dan Biomedis bertujuan untuk menerbitkan dan menyebarluaskan kajian ilmiah hasil penelitian, pemikiran, dan kajian analisis-kritis mengenai penelitian bidang ilmu kedokteran hewan dan ilmu biomedis. Jurnal Veteriner dan Biomedis menerima artikel ilmiah dengan ruang lingkup penelitian di bidang Kedokteran Dasar Veteriner, Reproduksi Veteriner, Kesehatan Masayarakat Veteriner, Klinik Veteriner, Mikrobiologi Medis, Biologi Molekular, Biomedis, dan topik kajian lainnya yang relevan.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2025): Maret" : 9 Documents clear
Identification of Colisepticemia in Broiler Chicken in Tabanan, Bali Devira, Dinda; Ketut Tono Pasek Gelgel; I Ketut Berata
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.1-8.

Abstract

Colisepticemia is a condition where Escherichia coli and its toxins have spread to tissues or organs that can cause organ damage or inflammation. Colisepticemia is a sign of acute colibacillosis in poultry which can result in death and in its subacute form is characterized by pericarditis, airsacculitis and perihepatitis. The incidence of colibacillosis in poultry can result in economic losses due to reduced production, increased medical costs, and even death. The aim of this study was to establish a diagnosis of the death of 15 days old broiler chicken. Based on the necropsy results, characteristic anatomical pathology was found in the form of fibrin membranes on the heart and liver, as well as lesions on other organs. Identification and isolation of bacteria in the laboratory using samples from the heart, liver and intestines showed positive results for Escherichia coli. Parasitological examination using feces did not reveal any parasitic agents involved in this case. Based on clinical symptoms, anatomical pathology examination, histopathology, culture and identification of bacteria, it can be concluded that the cause of chicken death was colisepticemia caused by Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC).
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Salmonella sp. pada Ayam Broiler Loe, Fhady Risckhy; Putra Nugroho, Mega Perkasa; Tangkonda, Elisabet; Gelolodo, Maria Aega; Sanam, Maxs Urias Ebenhaizar
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.9-15.

Abstract

Salmonella sp. is one of the dangerous pathogens that causes salmonellosis in humans and animals. Salmonella sp. bacteria. usually inhabit the intestines of most animal species, but are also found in the environment. Salmonella sp. can survive for long periods of time, allowing bacteria to move from one place to another through equipment, including contaminated feed. This case report aims to determine the technique and interpretation of the results of each laboratory test in identifying Salmonella sp. Which is obtained through swabbing the chicken's cloaca. The testing stages include sampling, laboratory testing, and identification of test results. Sampling was carried out at the Naikoten I Inpres Market, Kupang City and laboratory testing was carried out at the Bacteriology Laboratory of the Veterinary Medicine Study Program, Nusa Cendana University. The isolation results found Salmonella sp. SSA media is black, because Salmonella produces hydrogen sulfide (H2S). The results of gram staining showed that the bacteria were in the form of cocobacillus and were gram negative. Biochemical testing of Salmonella sp. is negative in the Indol test, produces H2S, is non-motile, and catalase positive.
Efektivitas Infusa Getah Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Sebagai Antidiare pada Mencit (Mus musculus) Alvina Gitacahyani Ardiana; Aulia Andri Mustika; Aryani Sismin Satyaningtijas; Lina Novianti Sutardi
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.16-22.

Abstract

Getah gambir sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengatasi berbagai penyakit, salah satunya adalah diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas getah gambir sebagai antidiare dengan menggunakan metode proteksi intestinal yang dilihat dari parameter frekuensi, konsistensi, dan durasi. Penelitian ini juga bertujuan menentukan konsentrasi yang paling efektif dalam memberikan efek antidiare pada mencit dan mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam getah gambir dengan uji fitokimia. Hewan coba dalam penelitian ini menggunakan mencit sebanyak 30 ekor dengan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok perlakuan terdiri atas kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan tiga kelompok perlakuan yang diberi infusa getah gambir dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 100% secara oral. Parameter yang dinilai dalam metode proteksi intestinal adalah frekuensi defekasi, konsistensi feses, dan durasi diare. Hasil penelitian menunjukkan getah gambir memiliki metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antidiare seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin pada uji fitokimia. Hasil dari metode proteksi intestinal menunjukkan kelompok perlakuan infusa getah gambir konsentrasi 25%, 50%, dan 100% terbukti mampu menurunkan frekuensi defekasi, memperbaiki konsistensi, dan mempersingkat waktu diare. Kelompok konsentrasi 25% dan 50% menunjukkan aktivitas antidiare lebih baik daripada konsentrasi 100%
Canine Atopic Dermatitis (CAD) di Rumah Sakit Hewan Pendidikan IPB University Prasetyo, Bayu Febram; Firdausi, Zalfaa Nurr; Rahmadani, Satria Tegar; Fadia, Sindy Siti; Adinda, Nada; Amanda, Marsha; Zheng, Lee Xiang; Natawiria, Maria Stella Linda
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.23-29.

Abstract

Canine Atopic Dermatitis (CAD) adalah penyakit kulit kronis yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Studi kasus ini membahas penanganan seekor anjing Siberian Husky berusia 7 tahun yang didiagnosis dengan CAD di Rumah Sakit Hewan Pendidikan IPB University. Gejala utama yang dialami meliputi pruritus, eritema, dan lesi kulit yang disebabkan oleh infeksi sekunder. Terapi yang diberikan termasuk penggunaan prednisolon sebagai antiinflamasi, Transfer Factor untuk mendukung sistem imun, dan produk topikal seperti Allerdone untuk mengatasi gatal. Selain itu, sampo antibakteri dan antijamur, serta suplemen kulit Coatex, diberikan untuk mengelola kondisi kulit. Edukasi terhadap pemilik mengenai pengelolaan jangka panjang sangat penting untuk menjaga kualitas hidup anjing dan mengurangi beban psikologis serta finansial pemilik. Studi ini menekankan pentingnya pendekatan terapi multimodal dalam menangani CAD.
Efektivitas Infusa Jintan Putih (Cuminum cyminum) sebagai Antidiare pada Mencit (Mus musculus) Fadiela Salima Putri; Aulia Andi Mustika; Rini Madyastuti Purwono; Lina Novianti Sutardi
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.44-50.

Abstract

Jintan putih (Cuminum cyminum) merupakan tanaman yang sudah sejak lama dikonsumsi sebagai bahan masakan dan obat, namun belum terdapat penelitian terkait manfaat jintan putih sebagai antidiare. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas infusa jintan putih sebagai antidiare dan menentukan konsentrasi yang memiliki efek antidiare paling efektif. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui kandungan metabolit sekunder pada jintan putih melalui penapisan fitokimia. Pengujian antidiare dilakukan dengan menggunakan metode proteksi intestinal dengan pemberian sediaan secara peroral. Parameter yang diamati pada metode proteksi intestinal yaitu frekuensi defekasi, konsistensi feses, dan durasi diare. Penelitian ini menggunakan 30 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok terdiri dari kelompok kontrol negatif (Tween-80 [1%]), kontrol positif (Loperamide HCl), dan tiga kelompok perlakuan infusa jintan putih dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 100%. Konsentrasi 25% merupakan konsentrasi jintan putih yang paling efektif, karena menghasilkan durasi diare paling pendek dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Penapisan fitokimia infusa jintan putih menunjukkan bahwa terdapat senyawa metabolit sekunder meliputi alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, dengan tanin sebagai senyawa yang paling berpotensi sebagai antidiare.
Penanganan Kasus Cystitis Hemoragik pada Kucing Mix Persian di Klinik Hewan Awal Care Ramadani, Amanda Haristia Ramadani; Mirjawal; Tiara Widyaputri; Mira Fatmawati; Andreas Bandang Hardian
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.30-35.

Abstract

Hemorrhagic Cystitis is an inflammation accompanied by bleeding that occurs in the urinary bladder characterized by thickening of the urinary bladder wall and has clinical symptoms of hematuria or urine with blood, dysuria, abdominal distension and pain when palpated in the abdominal area. Patients with symptoms of weakness, loss of appetite and vomiting. An examination was carried out by a doctor and a pain response was found in the abdomen, after further observation by palpation, an enlarged VU was felt and hematuria was present. The results of the Ultrasonography examination found a thickening of the urinary bladder wall, then a microscopic examination of native urine found red blood cells. Hematology results showed an increase in parameters in leukocytes, and granulocytes and a decrease in platelets indicating acute infection and also bleeding or acute inflammation. A blood chemistry examination showed an increase in BUN and Creatinine levels caused by post-renal Azotemia. The results of the signaling and anamnesis were associated with the results of the supporting examination of the chika cat diagnosed with Hemorrhagic Cystitis and cystotomy treatment was performed. Treatment and handling are done after cystotomy surgery with treatment in the form of antibiotics as causative therapy, musculorelaxants and anti-fibrinolytics as symptomatic therapy, and multivitamins as supportive therapy. Handling is done by giving special diet feed, catheterization, and laser therapy on post-operative wounds.
Penanganan Kasus Pyometra Pada Kucing Betina dengan Metode Ovariohysterectomy di Petologi Veterinary Center Adila, Nirmala Sekar; Sutarso; Habib Syaiful Arif Tuska; Fidi Nur Aini Eka Puji Dameanti; Ricadonna Raissa
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.58-63.

Abstract

Pyometra merupakan infeksi serius pada uterus yang sering dialami oleh kucing betina yang tidak disterilisasi. Penyebab utama penyakit ini adalah pengaruh hormon progesteron dan infeksi bakteri. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, hematologi, dan ultrasonografi. Pemeriksaan ultrasonografi pada kasus ini menunjukkan adanya penebalan dinding uterus serta akumulasi cairan pus di lumen uterus. Penanganan pada seekor kucing domestic betina berusia 10 bulan di Petologi Veterinary Center dilakukan melalui prosedur ovariohysterectomy. Tahap awal melibatkan persiapan pre-operasi, termasuk pemberian anestesi propofol, pemasangan endotracheal tube, dan sterilisasi area insisi. Selama operasi, uterus dan ovarium yang terinfeksi diangkat, diikuti dengan ligasi pembuluh darah menggunakan benang monofilament untuk mencegah perdarahan. Pasca operasi, pasien menerima perawatan intensif berupa pengobatan antibiotik (amoxiclav) untuk mengendalikan infeksi, analgesik (meloxicam dan tramadol) untuk mengurangi rasa sakit, serta perawatan luka secara berkala. Hasil evaluasi menunjukkan pemulihan yang baik tanpa komplikasi, mengonfirmasi bahwa ovariohysterectomy adalah metode yang efektif untuk menangani pyometra dan mencegah kekambuhan. Edukasi kepada pemilik hewan mengenai pentingnya sterilisasi dan kebersihan lingkungan sangat diperlukan untuk mengurangi risiko penyakit ini di masa depan. Studi ini memperkuat pentingnya kombinasi prosedur bedah dan terapi suportif dalam keberhasilan penyembuhan penyakit pyometra pada kucing.
Diagnosis dan Penanganan Stillbirth akibat Distokia Fetomaternal pada Kucing Domestik di Klinik Hewan KHJ Solo Bestari, Ade; Icha Yung; Tiara Widyaputri; Ricadonna Raissa; Handayu Untari
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.36-43.

Abstract

Seekor kucing betina domestik short hair berumur 1 tahun datang ke Klinik Hewan Jogja, Solo dengan keluhan kesulitan melahirkan. Pada pemeriksaan fisik diketahui terdapat fetus yang sudah mati tersangkut di saluran kelahiran, kucing tidak bisa melahirkan fetus lain yang tersisa, dan kucing mengalami dehidrasi. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya 3 fetus di dalam uterus dengan kondisi tidak hidup dan cairan amnion yang keruh. Pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya leukositosis, granulositosis, monositosis, eosinopenia, penurunan nilai MCV, dan peningkatan nilai MCHC. Penanganan kasus ini adalah sectio caesar dan ovariohisterektomi dengan anestesi umum untuk menyelamatkan induk. Premedikasi yang digunakan adalah atropin sulfat 0,6 ml SC dan petidine 0,2 ml IV. Anestesi yang diberikan adalah propofol 0,2 ml IV. Perawatan pascaoperasi dengan terapi injeksi antibiotik ceftriaxone 0,8 ml IV, analgesik pethidine 0,2 ml IV, agen hemostatik asam traneksamat 0,8 ml IV, multivitamin Injektivit B-Plex 0,2 ml SC, dan ChannaFit 1 ml PO q 12h selama 5 hari. Pengobatan topikal diberikan salep gentamicin dengan kandungan antibiotik q24h selama 5 hari. Kucing Omeng dinyatakan sembuh setelah 5 hari pengobatan dengan luka jahitan yang sepenuhnya menyatu dan mengering.
Pengamatan Gejala Klinis Penggunaan Pilokarpin dan Atropin pada Mencit Fadholly, Amaq
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.3.1.64-68.

Abstract

Abstrak

Page 1 of 1 | Total Record : 9