cover
Contact Name
Manneke Budiman
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
SUSASTRA: jurnal Ilmu Susastra dan Budaya diterbitkan oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Grha STR, Jalan Ampera Raya nomor 11, Telepon (021) 7813708, Jakarta Selatan 12550
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Susastra : Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya
ISSN : 2580636X     EISSN : 2580636X     DOI : https://doi.org/10.51817/susastra
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (2580-636X) is a journal aiming to publish articles about literature and culture. SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya accepts articles from authors of national or international institutions, accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere not being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication. Submissions are open year-around. Articles published in SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya must be a requirement determined by the Editoria Board. Editorial the board has the right to change editorials and systematics without changing the substance of the recording from the author.
Articles 107 Documents
KRITIK EKOLOGIS DALAM LAGU DAERAH BIMA KARYA CUCU MALINGI: KAJIAN EKOKRITIK DAN CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS Ifan, Muhammad; Sulistiana, Evi; Iryani, Evi; Taufiq, Ahmad
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.250

Abstract

Environmental degradation, including deforestation, wildlife extinction, and ecological disasters, constitutes a serious issue that necessitates interdisciplinary attention. This study examines ecological criticism represented in the traditional Bima song “Nggahi Rawi Pahu” by Cucu Malingi through the lens of ecocriticism and Critical Discourse Analysis (CDA). The analytical framework combines Greg Garrard’s ecocritical concepts (apocalypse, pollution, and animals) with Teun A. van Dijk’s AWK model (text structure, social cognition, and sociocultural context) to investigate the song lyrics as a medium of critique against environmental exploitation. The findings indicate that the lyrics construct a narrative of ecological damage through the use of symbolism, repetition, and metaphor, which illustrate deforestation, the extinction of wildlife, and flooding as direct consequences of human activity. Furthermore, the discourse strategies employed in the text foster collective ecological awareness and ideological resistance to environmental destruction by grounding the message in local cultural knowledge. This study highlights the role of traditional songs not merely as cultural expressions, but also as vehicles for ecological critique and public consciousness-raising.Keywords: Ecological Criticism, Critical Discourse Analysis, Traditional Song, Bima, Environmental Degradation AbstrakKerusakan lingkungan seperti deforestasi, kepunahan satwa, dan bencana ekologis menjadi persoalan yang memerlukan perhatian lintas disiplin. Penelitian ini menganalisis kritik ekologis yang direpresentasikan dalam lagu daerah Bima berjudul “Nggahi Rawi Pahu” karya Cucu Malingi dengan menggunakan pendekatan ekokritik dan critical discourse analysis (CDA). Pendekatan ekokritik Greg Garrard (apocalypse, pollution, dan animals) serta model AWK Teun A. van Dijk (struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosiokultural) digunakan untuk mengkaji lirik lagu sebagai bentuk kritik terhadap eksploitasi lingkungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik lagu membentuk narasi kerusakan ekologis melalui simbolisme, repetisi, dan metafora yang menggambarkan penggundulan hutan, punahnya satwa, dan banjir sebagai dampak langsung aktivitas manusia. Selain itu, strategi wacana dalam teks membangun kesadaran ekologis kolektif dan resistensi ideologis terhadap kerusakan lingkungan dengan mengandalkan pengetahuan budaya lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa lagu tradisional tidak hanya sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai medium kritik ekologis dan penyadaran publik.Kata kunci: Kritik Ekologis, Analisis Wacana Kritis, Lagu Tradisional, Bima, Kerusakan Lingkungan 
ANOMALI BRAINROT: TAFSIR BUDAYA ATAS TUBUH, HASRAT, DAN KEKERASAN SIMBOLIK DI ERA DIGITAL Maknun, Moch Lukluil; Muzayanah, Umi; Santoso, Arif Gunawan
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.242

Abstract

  AbstractThe Anomali Brainrot phenomena on social media tergeting generation Z and Alpha in early 2025 raises serious concern. Despite apperaring as a platform for entertainment and creative expression, this phenomenon conceals threats to young individuals -ranging from esyptoms of psychological disordes to tendencies toward subversive behavior. Employing a systematic review of web-based literacy sources and scholarly journal articles, this study applies metadata analysis to describe brainrot as a sociocultural anomaly. Concepts such as discourse deconstruction, power relations, play of meaning, hyperreality, and identity representation are used to frame and interpret the findings. The analysis supports the hypothesis that brainrot represents a significant threat in the posthumanist era. A collective awareness involving parents, educational institutions, and govermental agencies is essential to respond to this phenomenon wiselt and responsibly.Keywords: posthumanism, hyperreality, anomaly, brainrot, culture  AbstrakFenomena Anomali Brainrot di media sosial yang menyasar generasi Z dan Alpha di semester pertama 2025 mengkhawatirkan. Tampilan yang seolah hiburan dan wadah kreativitas nyatanya menyimpan ancaman bagi anak baik dari sebuah simptom penyakit psikologis hingga mengarah pada tindakan subversif. Menggunakan metode kajian literasi web dan artikel jurnal, kajian ini melakukan pembacaan sistematis dengan prinsip kerja analisis metadata untuk mendeksripsikan fenomena brainrot sebagai anomali sosial budaya. Konsep dekonstruksi wacana, relasi kuasa, permainan makna, hiperrealitas, dan representasi identitas digunakan untuk mendiskusikan dan menganalisis temuan. Hasil analisis menguatkan hipotesis bahwa anomali brainrot ini merupakan ancaman di era post humanisme. Diperlukan kesadaran bersama untuk dapat menyikapinya dengan bijak baik dari orangtua, instansi pendidikan, hingga pemerintah.Kata Kunci: post humanisme, hiperrealitas, anomali, brainrot, budaya 
REPRESENTASI FEMINISME PADA FILM WOMEN FORM ROTE ISLAND Arrosyid, M. Abdul Khalim; Hasanudin, Cahyo; Sutrimah, Sutrimah
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.230

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi feminisme dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Film sebagai media visual memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai sosial dan budaya, termasuk isu kesetaraan gender dalam masyarakat patriarkal. Dalam kajian ini, peneliti menganalisis narasi, karakter, dan konflik dalam film melalui lima konsep utama feminisme Simone de Beauvoir, yaitu The Second Sex, dikotomi Self-Other, perempuan tidak dilahirkan tetapi dibentuk, transendensi dan imanensi, serta kritik terhadap mitos perempuan sebagai makhluk pasif. Data dikumpulkan melalui teknik simak-catat dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini secara kuat merepresentasikan ketertindasan sekaligus perjuangan perempuan dalam menghadapi struktur sosial yang menempatkan mereka sebagai objek. Tokoh-tokoh perempuan dalam film memperlihatkan bentuk perlawanan terhadap sistem yang mengekang, sehingga film ini tidak hanya menyoroti ketimpangan gender, tetapi juga mengangkat suara dan eksistensi perempuan sebagai subjek yang utuh.Keywords: Reprsentasi feminisme, film, simone de beauvoir AbstractThis research aims to examine the representation of feminism in the film Women from Rote Island using a descriptive qualitative approach. Film as a visual medium has an important role in conveying social and cultural values, including the issue of gender equality in a patriarchal society. In this study, researchers analyzed the narrative, characters, and conflicts in the film through five main concepts of Simone de Beauvoir's feminism, namely The Second Sex, Self-Other dichotomy, women are not born but formed, transcendence and immanence, and criticism of the myth of women as passive beings. The data was collected through the listening-recording technique and analyzed using the Miles and Huberman model. The results showed that the film strongly represents the oppression as well as the struggle of women in facing the social structure that places them as objects. The female characters in the film show a form of resistance to the restrictive system, so that this film not only highlights gender inequality, but also raises the voice and existence of women as full subjects.Kata kunci: Reprsentasi feminism, film, simone de beauvoir
FAKTOR RISIKO PENYEBAB GANGGUAN MENTAL DALAM NOVEL LEBIH SENYAP DARI BISIKAN KARYA ANDINA DWIFATMA Kurniati, Mulia
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.240

Abstract

After getting married and having children, generally, women from the lower middle class become the ones with the most sources of stress. However, many women are forced to remain silent and compromise with their problems because society considers marital issues to be a disgrace, too domestic, and vulgar to be discussed. This causes many women to suffer from depression in silence because the causes of their mental health issues are often overlooked. With a literary psychology approach and Stuart's stress adaptation theory, this research aims to identify the risk factors causing mental disorders in the female protagonist of the novel "Lebih Senyap Dari Bisikan" by Andina Dwifatma. The method used in this research is the descriptive qualitative method. The research results show that the main character is vulnerable to mental disorders due to 1) unhealthy psychological conditions such as personality, trauma/past experiences, self-concept, psychological defenses, and moral values adhered to, and 2) unhealthy socio-cultural conditions, namely gender, social status, and local socio-cultural background.Keywords: Lebih Senyap dari Bisikan, Andina Dwifatma, psychology, womenABSTRAKSetelah menikah dan memiliki anak, umumnya perempuan kelas menengah ke bawah menjadi pihak yang paling banyak memiliki sumber stres. Namun tidak sedikit perempuan yang terpaksa bungkam dan berkompromi dengan masalahnya karena masyarakat menganggap masalah pernikahan adalah aib, terlalu domestik dan vulgar untuk diperbincangkan. Hal ini menyebabkan ada banyak perempuan yang mengalami depresi dalam diam karena penyebab mereka mengalami gangguan mental kurang diperhatikan. Dengan pendekatan psikologi sastra dan teori adaptasi stres milik Stuart, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko penyebab gangguan mental pada tokoh utama perempuan dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama rentan mengalami gangguan mental karena 1) kondisi psikologis yang tidak sehat yaitu kepribadian, trauma/ pengalaman masa lalu, konsep diri, pertahanan psikologis dan nilai moral yang dianut 2) kondisi sosial budaya yang tidak sehat, yaitu jenis kelamin, status sosial dan latar belakang sosial budaya setempatKata Kunci: Lebih Senyap dari Bisikan, Andina Dwifatma, psikologi, perempuan
ANTARA CITRA DAN TINDAKAN: KONTRADIKSI MORALITAS DALAM NOVEL PENDOSA YANG SALEH KARYA ROYYAN JULIAN Maghfiro, Nuzula; Krisnandini, Lintang Amita; Sari, Nita Puspita
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.221

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kontradiksi moralitas para tokoh dalam novel Pendosa yang Saleh karya Royyan Julian yang dinarasikan melalui tindakan dan dialog antartokoh. Penelitian ini mengaplikasikan teori sosiologi sastra dari Lucien Goldmann berupa strukturalisme genetik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis teks. Data penelitian berupa kutipan-kutipan yang dipilih dari novel Pendosa yang Saleh. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kontradiksi moralitas yang digambarkan melalui tokoh-tokoh berikut, yakni (1) Habib Umar yang melakukan tindak perzinahan dan perselingkuhan secara diam-diam yang tidak sejalan dengan citranya dan ajaran agama yang dianut; (2) Desi yang merupakan anak perempuan dari keluarga dengan ajaran agama yang kuat, tetapi menunjukkan sikap menentang pada orang tuanya dan meragukan ajaran agama yang disampaikan orang tuanya; (3) Mubarak yang memiliki orientasi seksual berupa pedofilia, yang mana bertentangan dengan citranya sebagai anak seorang kiai yang memiliki pemahaman agama yang mendalam. Kata kunci: Kontradiksi, moralitas, Pendosa yang Saleh, Royyan Julian, strukturalisme genetik AbstractThis research aims to reveal the contradictions of the characters’ morality in the novel Pendosa yang Saleh by Royyan Julian, narrated through the characters’ actions and dialogue. This research applies Lucien Goldmann's theory of literary sociology in the form of genetic structuralism. The method used in this research is a text analysis method. The research data are selected quotations from the novel Pendosa yang Saleh. The results of this study show the contradiction of morality described through the following characters, namely (1) Habib Umar who commits adultery and infidelity secretly which is not in line with his image and religious teachings; (2) Desi who is a daughter from a family with strong religious teachings, but shows a defiant attitude towards her parents and doubts the religious teachings conveyed by her parents; (3) Mubarak who has a sexual orientation in the form of pedophilia, which contradicts his image as the son of a kiai who has a deep religious understanding. Keywords: Contradiction, morality, Righteous Sinner, Royyan Julian, genetic structuralism
SISINDIRAN DALAM PROSESI SERAH TERIMA PENGANTIN ADAT SUNDA Darmawan, Arief; Kadyrov, Nurtilek
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.266

Abstract

Sisindiran merupakan puisi lama yang dilestarikan dalam budaya Sunda. Sisindiran biasanya digunakan sebagai alat penyampai amanat di prosesi serah terima pengantin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pemerolehan data dilakukan dengan metode simak, dengan teknik sadap, simak bebas libat cakap. Analisis data menggunakan metode padan, yang mencakup teknik dasar dan lanjutan serta analisis kontekstual yang mengaitkan data dengan situasi sosial yang relevan. Penelitian ini menganalisis 19 sisindiran dalam konteks pernikahan Sunda dari segi struktur, makna, dan aspek sosiolinguistik. Secara struktur, semua sisindiran berbentuk pantun berima a-b-a-b dengan rima sempurna maupun tak sempurna dan sampiran yang umumnya tidak terkait langsung dengan isi. Secara semantik, sisindiran mengandung makna litotes, hiperbolis, humor, ejekan, hingga sindiran vulgar. Secara sosiolinguistik, sisindiran mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang handap asor, someah ka semah, suka bercanda (ngabanyol), berbasa-basi (malapah gedang), hingga menggunakan humor jorang untuk mencairkan suasana. Sisindiran berfungsi sebagai ekspresi budaya yang mengandung nilai kesantunan dan keakraban dalam komunikasi. Keywords: sisindiran, pernikahan, adat Sunda AbstractSisindiran is a traditional form of poetry preserved in Sundanese culture. It is commonly used as a medium for conveying messages during the wedding handover ceremony. This study employs a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation methods, including elicitation, non-participant observation, and recording techniques. Data were analyzed using the padan method, which includes both basic and advanced techniques, along with contextual analysis that links the data to relevant social situations. The study analyzes 19 sisindiran used in Sundanese wedding contexts from the perspectives of structure, meaning, and sociolinguistic aspects. Structurally, all sisindiran follow the a-b-a-b rhyme scheme, featuring both perfect and imperfect rhymes, with sampiran (opening lines) typically unrelated in meaning to the isi (main lines). Semantically, the sisindiran convey messages of litotes, hyperbole, humor, teasing, and even vulgar innuendo. Sociolinguistically, they reflect key Sundanese cultural traits such as handap asor (humility), someah ka semah (hospitality), fondness for humor (ngabanyol), polite small talk (malapah gedang), and the use of mildly vulgar humor (jorang) to lighten the mood. Thus, sisindiran serve as a cultural expression rich in politeness and warmth in communication. Keywords: sisindiran, wedding, Sundanese culture
MEME FENOMENA TSUNDOKU PADA X: CULTURAL STUDIES C.BARKER DAN EMMA A JANE Pratiwi, Anjar
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.225

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kultural meme berisi fenomena tsundoku pada media sosial X atau Twitter. Tsundoku merupakan fenomena menimbun atau menumpuk buku terlebih dahulu, lantas kegiatan membaca buku ditunda atau dilaksanakan di kemudian waktu. Secara lebih spesifik, artikel ini berupaya menelusuri meme tsundoku dalam perspektif biologi, tubuh, dan budaya menurut Chris Barker dan Emma A. Jane dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan datanya adalah simak-catat berupa mengelompokkan dan mengidentifikasi data meme-meme pada media sosial X yang merujuk pada fenomena tsundoku. Lantas, dilakukan analisis data berdasarkan tiga alur kegiatan menurut MilesHuberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya paparan replikasi gagasan fenomena tsundoku melalui meme dalam media sosial X mampu menggeser perspektif tubuh terhadap sesuatu yang sifatnya berlebihan baik ke arah manfaat maupun kerugian. Melalui meme, gaya hidup konsumerisme dalam fenomena tsundoku menjadi suatu kewajaran. Di sisi lain, meme terkait fenomena tsundoku dapat menunjukkan dampak positif terhadap eksistensi tubuh lain, yakni ekosistem dan rutinitas yang baik, seperti tubuh anggota keluarga dapat ikut ‘hidup’ dengan adanya tumpukan buku ketika salah satu tubuh anggota mempunyai koleksi atau bahkan perpustakaan kecil di dalam rumah. Kata kunci: Tsundoku, Meme, Cultural Studies, X, Media Sosial AbstractThis article culturally examines memes containing the tsundoku phenomenon on social media X or Twitter. Tsundoku is the phenomenon of hoarding or accumulating books first, then reading books is postponed or carried out at a later time. More specifically, this article seeks to explore tsundoku memes in the perspective of biology, body, and culture according to Chris Barker and Emma A. Jane with a qualitative descriptive research method. The data collection technique is simak-catat in the form of categorizing and identifying meme data on social media X that refers to the tsundoku phenomenon. Then, data analysis was carried out based on three lines of activity according to Miles Huberman, namely data reduction, data presentation, and verification/conclusion drawing. The results show that the exposure of the replication of the idea of the tsundoku phenomenon through memes in social media X is able to shift the body's perspective towards something that is excessive both in the direction of benefits and disadvantages. Through memes, the lifestyle of consumerism in the tsundoku phenomenon becomes normalized. On the other hand, memes related to the tsundoku phenomenon can show a positive impact on the existence of other bodies, namely a good ecosystem and routine, such as the bodies of family members can come 'alive' with a pile of books when one of the body members has a collection or even a small library in the house. Keywords: Tsundoku, Meme, Cultural Studies, X, Social Media  

Page 11 of 11 | Total Record : 107