cover
Contact Name
-
Contact Email
journal@mail.unnes.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Sekaran Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Biologi
ISSN : 20868286     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Prosiding Seminar Nasional Biologi, terbitan ini berisi artikel bidang ilmu Biologi diterbitkan secara berkala 12 bulanan.
Articles 209 Documents
ANALISIS NUTRISI PAKAN YANG MENGANDUNG MAGGOT (Hermetia illucens) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN MENCIT Devita Alifa Setyani; Priyantini Widiyaningrum
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung ikan merupakan sumber protein yang umum digunakan dalam formulasi pakan, namun ketersediaannya terbatas dan harganya tinggi sehingga diperlukan bahan baku alternatif. Tepung larva Hermetia illucens (maggot) memiliki kandungan protein 28–45% dan berpotensi menggantikan tepung ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan nutrisi pakan yang mengandung tepung larva H. illucens serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan mencit berdasarkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan Feed Conversion Ratio (FCR). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua perlakuan, yaitu P0 (pakan kontrol dengan 15% tepung ikan) dan P1 (pakan dengan 15% tepung ikan yang sepenuhnya digantikan tepung larva H. illucens). Sebanyak 28 mencit jantan Swiss berumur 14 hari digunakan sebagai hewan uji, setelah aklimasi 7 hari dan dipelihara 28 hari. Data konsumsi pakan dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney, pertambahan bobot badan menggunakan Independent Samples T-test, dan FCR secara deskriptif. Hasil menunjukkan pakan P1 memiliki kandungan protein 20,53% dan serat kasar 6,90%, lebih tinggi dibandingkan P0 (protein 19,99% dan serat kasar 6,55%). Pemberian pakan yang mengandung tepung larva H. illucens tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan (p > 0,05). Secara deskriptif, nilai FCR P0 sebesar 5,93 lebih rendah dibandingkan P1 sebesar 6,44. Tepung larva H. illucens berpotensi menjadi bahan pakan alternatif pengganti tepung ikan.
EFEKTIVITAS VARIASI DOSIS EKSTRAK DAUN KATUK TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT PADA TIKUS HIPERGLIKEMIA Imertania Ratna Wulandari; Wulan Christijanti
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperglikemia dapat meningkatkan stres oksidatif yang berpotensi menyebabkan kerusakan sel hati dan peningkatan kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). Daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) mengandung flavonoid dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan sehingga berpotensi melindungi sel hati dari kerusakan akibat hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi dosis ekstrak daun katuk terhadap kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih jantan hiperglikemia. Tikus Wistar jantan diinduksi aloksan monohidrat dan dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kontrol normal (K), kontrol hiperglikemia (KD), kontrol vitamin E (T1), serta ekstrak daun katuk dosis 200, 400, dan 600 mg/kgBB (T2, T3, T4). Kondisi hiperglikemia ditetapkan berdasarkan kadar glukosa darah ≥150 mg/dL setelah tiga hari pascainduksi. Ekstrak diberikan secara oral selama 30 hari dan kadar SGOT serta SGPT diukur secara enzimatik kolorimetri. Hasil menunjukkan kadar SGOT dan SGPT tertinggi pada kelompok hiperglikemia, yaitu 76,71 dan 37,00 U/L. Peningkatan dosis ekstrak menurunkan kadar SGOT dan SGPT, dengan kadar terendah pada dosis 600 mg/kgBB, yaitu 38,35 dan 19,42 U/L. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk berpotensi membantu menjaga fungsi hati pada kondisi hiperglikemia.
PERUBAHAN KADAR GLUKOSA PADA TIKUS JANTAN HIPERGLIKEMI YANG DIBERI EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus androgynus) Muhammad Faizul Muna; Wulan Christijanti
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperglikemia merupakan kondisi peningkatan kadar glukosa darah di atas 120 mg/dL yang dapat menyebabkan gangguan metabolisme dan kerusakan sel akibat stres oksidatif. Daun katuk (Sauropus androgynus) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antihiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kadar glukosa darah tikus putih jantan hiperglikemia setelah pemberian ekstrak daun katuk pada berbagai dosis. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan desain posttest-only control group design yang melibatkan 30 ekor tikus Wistar jantan dalam enam kelompok, yaitu kelompok normal, kontrol negatif yang diinduksi aloksan 125 mg/kgBB, kontrol positif yang diberi vitamin E 300 mg/kgBB, serta tiga kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun katuk dengan dosis 200, 400, dan 600 mg/kgBB. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan uji lanjut Dunn dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan penurunan rerata kadar glukosa darah pada seluruh kelompok hingga akhir perlakuan. Kelompok dosis 400 mg/kgBB menunjukkan rerata kadar glukosa terendah, yaitu 92,60 ± 8,62 mg/dL, mendekati kelompok kontrol normal. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk berpotensi menurunkan kadar glukosa darah tikus hiperglikemia serta dapat menjadi dasar pengembangan penelitian bahan alam sebagai kandidat pendukung pengelolaan gangguan metabolik.
EFEK SINERGITAS NANO-KITOSAN DAN ASTAXANTHIN PADA KADAR ENZIM SGPT DAN SGOT TIKUS YANG DIPAPAR FORMALIN Ambar Wati; Aditiya Marianti; Wulan Christijati
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam kesehatan masyarakat, tetapi penyalahgunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan ilegal masih ditemukan. Paparan formalin dapat menyebabkan kerusakan hati melalui peningkatan radikal bebas dan stres oksidatif. Astaxanthin memiliki aktivitas antioksidan, sedangkan nano-kitosan berpotensi meningkatkan efektivitas penghantaran astaxanthin. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek sinergitas nano-kitosan dan astaxanthin terhadap kadar SGPT dan SGOT tikus yang dipapar formalin. Penelitian eksperimental ini menggunakan 24 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu K− (kontrol normal), K+ (formalin 100 mg/kg BB), P1 (nano-kitosan 64 mg/kg BB), P2 (astaxanthin 75 mg/kg BB), P3 (kombinasi nano-kitosan dan astaxanthin masing-masing 50 mg/kg BB), serta P4 (kombinasi nano-kitosan 50 mg/kg BB dan astaxanthin 75 mg/kg BB). Formalin diberikan secara oral, sedangkan perlakuan diberikan empat jam setelah induksi selama 21 hari. Kadar SGPT dan SGOT dianalisis menggunakan One way ANOVA dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa nano-kitosan cenderung menurunkan kadar SGPT dan SGOT, tetapi penurunannya tidak signifikan secara statistik. Astaxanthin tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap SGOT dan SGPT. Kombinasi kedua bahan juga tidak menurunkan kadar SGPT dan SGOT secara signifikan. Dengan demikian, kombinasi nano-kitosan dan astaxanthin belum menunjukkan efek sinergis. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai potensi kombinasi kedua bahan dalam mendukung pemulihan fungsi hati akibat paparan formalin.
METAGENOMIK FUNGSIONAL: KERAGAMAN GEN AMILASE DARI Axis kuhlii DAN RANCANGAN SELEKSI PROTEIN REKOMBINANNYA Arief Muammar; Arnetta Tiara; Endah Retnaningrum
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metagenomik fungsional terbukti efektif dalam menemukan enzim baru langsung dari sampel lingkungan tanpa bergantung pada kultur mikroba. Penelitian sebelumnya berhasil mengidentifikasi delapan enzim selulase aktif (lima endoglukanase dan tiga ß-glukosidase) dari feses Axis kuhlii menggunakan workflow cepat berbasis multiplex PCR, Rolling Circle Amplification (RCA), dan ekspresi langsung pada Komagataella phaffii. Penelitian ini melanjutkan pendekatan tersebut dengan fokus pada skrining amilase dari metagenom feses A. kuhlii. Tahapan meliputi multiplex PCR, rekombinasi ke vektor pPICZaA dengan Gibson Assembly, RCA, transformasi ke K. phaffii, serta analisis karakter enzim. Hasil yang diperoleh dari penelitian selanjutnya menunjukkan adanya keragaman gen amilase pada sampel feses A. kuhlii serta rancangan plasmid rekombinan dengan insert berupa amilase terpilih. Luaran ini diharapkan dapat memberikan langkah awal untuk menghasilkan kandidat amilase fungsional baru yang berpotensi sebagai biokatalis industri sekaligus mendukung konservasi keanekaragaman hayati.
KARAKTERISTIK VIRGIN COCONUT OLI (VCO) HASIL FERMENTASI DENGAN RAGI TAPE, RAGI TEMPE dan RAGI ROTI Agustina Varia Suryaningsih Basompe; Rani Mariana Isu; Yodi Y.J. Karibera; Rizkika Handayani; Sri Kasmiyati; Vincentia Irene Meitiniarti
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diproduksi melalui proses fermentasi santan, menggunakan berbagai jenis starter, namun starter yang digunakan perlu mempertimbangkan rendemen sekaligus mutu minyak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh starter terhadap rendemen, karakter fisikokimia, aktivitas antioksidan, dan penerimaan sensori VCO. Dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu, tanpa ragi, ragi tape, ragi tempe, dan ragi roti dengan masing-masing tiga ulangan. Hasil rendemen, kadar air, bilangan iod, bilangan peroksida dan aktivitas antiokisdan menggunakan metode DPPH dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf 5%, sedangkan untuk uji sensori dinilai secara deskriptif yang mengacu pada warna, aroma, dan rasa. Jenis starter berpengaruh nyata terhadap kelima parameter yang dianalisis (p<0,05). VCO-Tp menghasilkan rendeman tertinggi (28,80%) dan berbeda nyata dari perlakuan VCO-K (24,80%), tetapi tidak berbeda nyata dari perlakuan VCO-F maupun VCO-Tmp dengan nilai masing-masing (26,80%). VCO-F menghasilkan kadar air (0,002%) dan bilangan peroksida (0,52 mq/kg) terendah, keduanya berbeda nyata dari perlakuan lain. VCO-Tp menghasilkan IC₅₀ terendah (70,357 ppm), tetapi nilainya tidak berbeda nyata dari VCO-Tmp maupun VCO-K. Dari segi warna, aroma, dan rasa keseluruhan perlakuan sesuaikan dengan Standar Mutu SNI 7381:2008 dengan mengacuh pada standar uji hedonik. Dengan demikian, pemilihan starter fermentasi VCO perlu disesuaikan dengan prioritas rendemen, mutu fisikokimia, dan penerimaan sensori produk. Berdasarka Standar Mutu SNI 7381:2008
STUDI IN SILICO SENYAWA ANTIINFLAMASI DARI Centella asiatica MEMODULASI NLR PATHWAY SEBAGAI KANDIDAT TERAPI MULTIPLE SCLEROSIS Muhammad Abdul Wahab; Nugrahaningsih WH
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multiple sclerosis merupakan penyakit autoimun neurodegeneratif yang ditandai oleh inflamasi kronis, demielinasi, dan kerusakan sistem saraf pusat. Aktivasi jalur NOD-like receptor (NLR) diketahui berperan penting dalam perkembangan neuroinflamasi yang mendasari progresivitas penyakit. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi aktivitas senyawa antiinflamasi Centella asiatica sebagai kandidat terapi multiple sclerosis melalui modulasi protein target pada jalur NLR dengan pendekatan in silico. Analisis dilakukan terhadap 15 senyawa aktif Centella asiatica yang didocking dengan protein Mitogen-Activated Protein Kinase 3 (MAPK3), Interleukin-6 (IL-6), Serine/Threonine-Protein Kinase N1 (PKN1), Protein Kinase C Delta Type Regulatory Subunit (PRKCD), Tyrosine Kinase 2 (TYK2), dan Janus Kinase 1 (JAK1). Hasil meliputi nilai binding affinity, karakteristik interaksi protein-ligan, serta prediksi farmakokinetika Blood–Brain Barrier (BBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa oleanolic acid, ursolic acid, dan betulonic acid memiliki afinitas pengikatan tertinggi terhadap MAPK3, dengan nilai afinitas pengikatan berturut-turut sebesar −8,8; −8,7; dan −8,6 kcal/mol. Asiatic acid menunjukkan afinitas yang baik terhadap IL-6 (−7,1 kcal/mol), sedangkan quercetin dan chlorogenic acid berinteraksi cukup kuat dengan PKN1 dan PRKCD. Analisis interaksi mengungkapkan bahwa kompleks MAPK3–oleanolic acid menghasilkan interaksi yang paling stabil melalui ikatan hidrogen yang kuat dan beberapa interaksi hidrofobik. Prediksi BBB menunjukkan bahwa geraniol, linalool, limonene, β-caryophyllene, chlorogenic acid, dan isovitexin memiliki peluang penetrasi ke sistem saraf pusat yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa senyawa aktif Centella asiatica memiliki kemampuan untuk menargetkan beberapa regulator utama neuroinflamasi secara simultan, sehingga berpotensi menjadi kandidat terapeutik baru dalam pengembangan terapi multiple sclerosis berbasis bahan alam.
PROGRAM EKONOMI SIRKULAR TEMPE BERBASIS KOMUNITAS Siti Harnina Bintari; Ely Rudyatmi; Saiful Ridlo; Wiwi Isnaeni; Endah Peniati; Eko Farida; Nyimas Evinda Yunierra; Nayla Leonita Julianda; Futihatir Rohmah
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inisiatif pangan berbasis masyarakat, seperti industri tempe berbasis ekonomi sirkular, sering dievaluasi menggunakan indikator tunggal yang mengabaikan keterkaitan antara kemampuan individu dan konteks pendukung. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi profil multidimensi kemampuan-konteks dalam program pemberdayaan masyarakat pada industri tempe berbasis ekonomi sirkular di Sumurrejo, Jawa Tengah, Indonesia, serta mengidentifikasi aspek yang berkaitan dengan persepsi keberhasilan program. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan analisis data sekunder dari instrumen evaluasi administratif yang terdiri atas 80 item dalam delapan domain, melibatkan 79 responden. Analisis meliputi statistik deskriptif, estimasi konsistensi internal, korelasi peringkat Spearman, analisis komponen utama eksploratori, dan regresi multivariat yang tahan terhadap heteroskedastisitas. Hasil menunjukkan profil kemampuan-konteks yang positif tetapi tidak merata, dengan skor rata-rata berkisar antara 3,78 pada keterampilan praktis dan 4,44 pada akses terhadap layanan publik. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemudahan akses kelembagaan lebih tinggi dibandingkan kemampuan praktis yang dirasakan peserta. Analisis bivariat menunjukkan bahwa keterampilan memiliki korelasi terkuat dengan peningkatan kesehatan yang dirasakan (ρ = 0,82). Analisis regresi menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan yang dirasakan (β = 0,52) dan akses terhadap layanan publik (β = 0,28) berhubungan positif dengan persepsi keberhasilan program secara keseluruhan. Pemetaan dimensi eksploratori turut memperlihatkan perbedaan antara kondisi kontekstual dan respons yang berorientasi pada kemampuan individu. Ketidakseimbangan tersebut menunjukkan bahwa akses institusional yang tinggi tidak otomatis menjamin penguasaan keterampilan praktis. Simpulannya bahwa intervensi mendatang perlu mengintegrasikan penguatan hubungan kelembagaan dengan praktik produksi terbimbing serta memverifikasi keberhasilan melalui indikator objektif lingkungan, kinerja usaha, dan penyelesaian layanan masyarakat untuk mendukung keberlanjutan industri tempe berbasis ekonomi sirkular secara inklusif.
ANALISIS KANDUNGAN LOGAM FE PADA AIR, TANAH, DAN VEGETASI DI TAMAN WISATA SEJARAH SALATIGA Rizkika Handayani; Agustina Varia Suryaningsih Basompe; Rani Mariana Isu; Yodi Yuni Juwita Karibera; Sri Kasmiyati; Elizabeth Betty Elok Kristiani
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil observasi di mata air Taman Wisata Sejarah Kota Salatiga menunjukkan air berbau logam dan berendapan kuning, mengindikasikan tingginya kandungan zat besi (Fe). Resapan air bernutrisi besi berlebih ke tanah berpotensi menyumbat pori-pori tanah, memicu toksisitas yang merusak sistem perakaran, serta menyebabkan klorosis pada vegetasi sekitar. Penelitian ini bertujuan mengukur dan membandingkan kadar Fe pada media air, tanah, serta jaringan organ tumbuhan untuk menganalisis tingkat akumulasi, distribusi, dan dampaknya. Sampel air dan tanah diambil dari 4 titik lokasi, sedangkan sampel vegetasi mencakup lima jenis tumbuhan setempat: Eichhornia crassipes, Ludwigia octovalvis, Monochoria vaginalis, Pennisetum purpureum, dan Azolla pinnata. Pengukuran konsentrasi Fe menggunakan spektrofotometri UV-Vis melalui pembentukan kompleks Fe (II)–1,10-fenantrolin. Data dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu arah dan uji lanjut Tukey pada taraf 5% dengan perangkat lunak SAS versi 9.0. Hasil analisis menunjukkan rata-rata konsentrasi Fe pada air berkisar 0,05300–0,06400 mg/L, tanah 113,04–163,15 mg/g, dan jaringan tanaman 5,04–93,86 mg/g. Perbedaan konsentrasi Fe signifikan secara nyata pada kelompok tanah (F= 218,86; p< 0,0001) dan kombinasi organ-tanaman (F= 213,08; p< 0,0001), namun tidak berbeda nyata pada kelompok air (F= 0,90; p= 0,4622). Sampel tanah dekat mata air memiliki kadar Fe tertinggi, sementara bagian akar Monochoria vaginalis memiliki akumulasi Fe tertinggi dan berbeda nyata dari seluruh kelompok sampel vegetasi lainnya. Monochoria vaginalis berpotensi sebagai agen fitoremediasi alami untuk menyerap pencemaran besi. Selain itu, pengelolaan media tanah di kawasan wisata tersebut sangat diperlukan guna mencegah toksisitas yang mengganggu pertumbuhan vegetasi.
PLASMA NUTFAH DURIAN NUSANTARA: DARI PUSAT KERAGAMAN Durio DI KALIMANTAN HINGGA KEANEKARAGAMAN GENETIK Durio zibethinus DI INDONESIA Amin Retnoningsih
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 14 (2026)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu pusat sumber daya genetik durian di Asia Tenggara, dengan pola keanekaragaman yang berbeda antarwilayah. Makalah ini bertujuan mensintesis posisi Kalimantan dan Sumatra dalam biogeografi genus Durio, menelaah bukti keanekaragaman intraspesifik Durio zibethinus di Indonesia, serta merumuskan arah konservasi dan pemanfaatannya. Artikel disusun sebagai tinjauan konseptual berbasis literatur, dengan prioritas pada publikasi primer 2015–2026 dan beberapa rujukan taksonomi klasik yang masih relevan; publikasi penulis dan kolaborator digunakan sebagai bukti empiris dari Jawa Tengah dan Kalimantan Barat. Sintesis menunjukkan bahwa Borneo/Kalimantan merupakan pusat utama kekayaan spesies Durio dan Sumatra pusat penting berikutnya, sedangkan Jawa, Bali, dan banyak wilayah lain terutama menyimpan keanekaragaman tinggi di dalam D. zibethinus. Studi ISSR pada durian Gunungpati, Brongkol, Batang, serta Sanggau–Singkawang memperlihatkan polimorfisme tinggi dan alel spesifik pada sejumlah aksesi. Kemajuan genomik, plastom, dan resekuensing memperluas peluang autentikasi kultivar, filogeografi, penyusunan koleksi inti, dan pemuliaan presisi. Namun, alih fungsi lahan, hilangnya pohon tua, fragmentasi habitat, dan homogenisasi kultivar berpotensi mempercepat erosi genetik. Pengelolaan nasional perlu mengintegrasikan paspor aksesi, karakterisasi morfologi–molekuler, konservasi in situ/circa situ/ex situ, perlindungan pohon induk, perbenihan true-to-type, serta basis data terhubung. Kerangka ini dapat mengubah biodiversitas durian menjadi modal ilmiah, sumber pemuliaan, ketahanan produksi, dan manfaat ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan sumber daya genetiknya.