cover
Contact Name
Noviati
Contact Email
noviati.novy@gmail.com
Phone
+6287866159980
Journal Mail Official
noviati.novy@gmail.com
Editorial Address
Jl. Jend. A.H. Nasution No G-37
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
ISSN : -     EISSN : 28093151     DOI : DOI : https://doi.org/10.54883/jikmw
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya (JIKMW) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) universitas Mandala Waluya. Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya (JIKMW) terbit setiap 6 Bulan yaitu Juni dan Desember. Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya (JIKMW) merupakan Open Journal System yang yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik dalam bidang Kesehatan. Bidang kajian ilmu yang masuk dalam ruang lingkup yaitu Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Farmasi, Teknologi Laboratorium Medis, Teknologi Elektro Medis, Psikologi
Articles 126 Documents
Analisis Higiene Sanitasi Pada Pedagang Bakso Dan Identifikasi Boraks Pada Bakso Di Kecamatan Medan Tuntungan Nasution, Dinda Azria; Ashar, Yulia Khairina
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1333

Abstract

Masih adanya pedagang yang menggunakan Bahan Tambahan Pangan yang tidak diizinkan oleh Permenkes No 2 Tahun 2023 yaitu boraks. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 239/Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya salah satunya seperti boraks, dosis fatal untuk dewasa berkisar 15-20 gr sedangkan untuk anak-anak berkisar 3-6 gr, yang memiliki potensi risiko yang dapat ditimbulkan, bila tertelan senyawa ini dapat menyebabkan efek negatif pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis higiene sanitasi pedagang bakso dan mengidentifikasi kandungan boraks pada bakso di Kecamatan Medan Tuntungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei yang bersifat deskriptif dan pengujian boraks dilakukan  dengan uji kualitatif menggunakan test kit borax di Laboratorium Kesehatan Lingkungan UINSU. Populasi penelitian adalah 30 pedagang  bakso dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  17 pedagang ( 56,7%) belum memenuhi syarat, dan 13 pedagang (43,3%) sudah memenuhi syarat, maka penerapan higiene dan sanitasi makanan bakso di Kecamatan Medan Tuntungan masih tergolong rendah dan belum memenuhi syarat yang ditetapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masih terdapat praktik higiene sanitasi dan zat berbahaya yang berisiko terhadap kesehatan konsumen.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Putus Berobat (Loss to Follow Up) Pada Pasien TB Resistan Obat di UPTD RS Khusus Paru Provinsi Sumatera Utara Tahun 2021-2024 Siti Khodizah Harahap; Romiza Arika
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1341

Abstract

Tuberkulosis resisten obat (TB RO) merupakan salah satu tantangan terbesar dalam upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Pengobatan TB RO memerlukan durasi yang panjang, kombinasi obat dengan efek samping berat, serta kepatuhan pasien yang tinggi. Namun, tingkat putus berobat (loss to follow up) pada pasien TB RO masih tinggi dan menjadi hambatan serius dalam keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TB RO di UPTD RS Khusus Paru Provinsi Sumatera Utara selama periode 2021–2024. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan case control, melibatkan dua kelompok responden, yaitu pasien yang putus berobat dan pasien yang menyelesaikan pengobatan. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian putus berobat sebesar 28,9%. Faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian putus berobat adalah usia, pendidikan, status pekerjaan, riwayat diabetes mellitus dan kategori panduan OAT. Sementara itu, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, dan wilayah fasyankes tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil ini menegaskan pentingnya strategi pemantauan dan intervensi yang lebih intensif terhadap kelompok pasien berisiko tinggi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan TB RO.
Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Wilayah Kerja Puskesmas Sipori-Pori Tanjungbalai Ade Fitri Zupi Saragih; Nofi Susanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1342

Abstract

Data yang diperoleh dari Puskesmas Sipori-Pori Kota Tanjungbalai pada tahun 2024, menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus di wilayah tersebut mencapai 3916 jumlah jiwa dengan total populasi jumlah penduduk usia produktif sebanyak 11.739 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan DMT2 di wilayah kerja Puskesmas Sipori-Pori, Kota Tanjungbalai. Metode yang digunakan adalah studi kasus-kontrol (retrospektif), data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis univariat, bivariat menggunakan Uji Chi-Square dan multivariat. Sampel terdiri dari 62 kelompok kasus dan 62 kelompok kasus yang telah menjalani pengobatan dan berdomisili di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian DMT2 meliputi usia (OR = 21,460; p = 0,000; 95% CI: 6,910–66,644), jenis kelamin (OR = 2,531; p = 0,019; 95% CI:1,223–5,236), riwayat keluarga (OR = 34,138; p = 0,000; 95% CI: 7,659–152,161) dan kurangnya aktivitas fisik (OR = 4,634; p = 0,002; 95% CI: 1,810–11,866). Sementara itu, obesitas (p = 0,296) dan kebiasaan merokok (p = 0,189) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang paling dominan memengaruhi kejadian DMT2 adalah riwayat keluarga (OR= 37,764), diikuti oleh usia (OR = 16,899) dan kurang aktivitas fisik (OR = 6,546). Oleh karena itu, puskesmas perlu meningkatkan upaya skrining dini bagi kelompok berisiko tinggi berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga melalui penyebaran informasi dan edukasi kepada kelompok masyarakat yang berisiko.
Determinan Perilaku Pencarian Pengobatan Pada Lelaki Seks Lelaki Di UPT Puskesmas Teladan Kota Medan Zamharira Riska; Putra Apriadi Siregar
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1343

Abstract

Fenomena LGBT di berbagai belahan dunia menunjukkan dinamika yang beragam, dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, hukum, dan politik di masing- masing negara. Berdasarkan hasil laporan kerja UPT Puskesmas Teladan Kota Medan tahun 2023–2024, tercatat sebanyak 178 orang LSL yang menjalani tes HIV, dengan 32 di antaranya terkonfirmasi positif terinfeksi HIV. Sementara itu, pada tahun 2024 jumlahnya meningkat signifikan menjadi 433 orang yang menjalani pemeriksaan, dan sebanyak 63 orang di antaranya diketahui terinfeksi HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi pola pencarian pengobatan oleh LSL di  UPT Puskesmas Teladan Kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaaat, efikasi diri, isyarat untuk bertindak, dan demografis dan sosial psikologi dengan perilaku pencarian pengobatan pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) di UPT Puskesmas Teladan Medan, serta terdapat hubungan antara persepsi hambatan dengan perilaku pencarian pengobatan pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) di UPT Puskesmas Teladan Medan.
Peran Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di UPTD SDN 4 Jeumpa Zulhani; Zuhrina Aidha
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1344

Abstract

Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) berperan penting dalam membentuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak usia dini. Namun, implementasinya belum merata dan hasilnya belum terukur secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran UKS dalam meningkatkan PHBS siswa di UPTD SDN 4 Jeumpa. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 70 siswa kelas 6 dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan UKS di sekolah tergolong baik, ditandai dengan tersedianya fasilitas kesehatan dasar dan keterlibatan guru. Perilaku PHBS siswa tergolong baik hingga cukup, dengan indikator tertinggi pada perilaku mencuci tangan (74,3%) dan konsumsi makanan sehat (67,1%). Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pelaksanaan UKS dengan perilaku membuang sampah (p = 0,009), mencuci tangan (p = 0,004), konsumsi makanan sehat (p = 0,013), dan personal hygiene (p = 0,014). Kesimpulannya, UKS berperan signifikan dalam meningkatkan PHBS siswa sekolah dasar. Disarankan agar pelaksanaan UKS diperkuat secara berkelanjutan dan merata agar dampaknya lebih optimal bagi seluruh warga sekolah.
Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12-59 Bulan Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kutambaru Kutacane Syalsabila Sifa; Eliska
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1345

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Data Pelayanan Kesehatan tahun 2021 mencatat bahwa sebanyak 25.733 anak di Kabupaten Aceh Tenggara tergolong dalam kategori berisiko mengalami stunting, sedangkan 4.743 anak lainnya tidak termasuk dalam kelompok risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 12–59 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutambaru Kutacane. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi penelitian mencakup 1.139 ibu yang memiliki balita, dan sampel berjumlah 92 responden dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner serta pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting (p < 0,05) pada empat indikator: praktik pemberian makan (p = 0,000), rangsangan psikososial (p = 0,025), pemanfaatan pelayanan kesehatan (p = 0,005), serta hygiene dan sanitasi lingkungan (p = 0,019). Balita dengan pola asuh kurang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dibandingkan kategori baik. Meski demikian, stunting tetap ditemukan pada balita dengan pola asuh baik, diduga akibat faktor lain seperti infeksi berulang, berat lahir rendah, dan kondisi sosial ekonomi. Sebaliknya, terdapat balita tidak stunting pada kategori pola asuh kurang atau cukup, kemungkinan karena faktor protektif seperti ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan ketersediaan pangan bergizi. Sehingga, pola asuh ibu terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian stunting.
Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Prediabetes Berdasarkan Skrining Di UPT Puskesmas Sentosa Baru dan UPT Puskesmas Medan Area Selatan Syahla Shatira Ulfa; Nofi Susanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1346

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyebab kematian keempat tertinggi di dunia, dengan angka kematian mencapai 1,6 juta jiwa setiap tahun. Sekitar 90% penderita diabetes di dunia merupakan tipe diabetes melitus. Di Kota Medan, pada tahun 2024, tercatat 41.925 kasus prediabetes menurut data ASIK Dinas Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko prediabetes serta hubungan linear antar variabel berdasarkan hasil skrining di UPT Puskesmas Sentosa Baru dan Medan Area Selatan. Desain penelitian ini menggunakan retrospektif dengan jumlah sampel 56 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tekanan darah memiliki hubungan signifikan dengan kejadian prediabetes yakni memiliki peluang 10,684 kali lebih besar (p=0,019; 95% CI 1,215–93,920), dan indeks massa tubuh sebesar 1,500 kali (p=0,001; 95% CI 1,130–1,990). Sebaliknya, jenis kelamin (p=0,602) dan lingkar perut (p=0,200) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil multivariat menunjukkan tekanan darah sebagai faktor paling berpengaruh dengan Exp.B 21,000 kali, sedangkan indeks massa tubuh menjadi faktor perancu dengan Exp.B sangat tinggi sebesar 1162884746 kali. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hanya tekanan darah dan indeks massa tubuh yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian prediabetes dengan tekanan darah menjadi faktor yang paling berpengaruh. Sementara itu, jenis kelamin dan lingkar perut tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Pengaruh Shift Kerja Terhadap Stres Kerja Pada Perawat  Rumah Sakit Islam Malahayati Kecamatan Medan Petisah Fauzan Asyqarullah Ginting; Salianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1347

Abstract

Shift kerja merupakan sistem penjadwalan yang penting untuk menjaga keberlangsungan pelayanan rumah sakit selama 24 jam, namun berpotensi menimbulkan stres kerja pada perawat. Berdasarkan wawancara dengan lima perawat yang bertugas secara bergiliran di ketiga shift tersebut, empat di antaranya mengaku mengalami gangguan awal yang mengarah pada gejala stres psikologis. Gejala tersebut meliputi lekas marah, mudah bosan, sulit berkonsentrasi, serta keluhan fisik seperti sakit kepala dan kelelahan yang lebih sering muncul setelah menjalani shift malam. Shift malam khususnya dianggap paling membebani karena mengganggu ritme sirkadian, waktu istirahat, dan kualitas tidur, serta menurunkan energi dan semangat kerja keesokan harinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh shift kerja terhadap tingkat stres kerja perawat di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 67 perawat diperoleh melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang menilai aspek stres fisiologis, psikologis, dan perilaku, kemudian dianalisis dengan uji ANOVA satu arah serta dilanjutkan Post Hoc LSD dan Games-Howell. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan tingkat stres kerja berdasarkan shift kerja (p = 0,015). Berbeda dengan anggapan umum yang menempatkan shift malam sebagai penyebab stres tertinggi, penelitian ini menemukan bahwa shift pagi dan siang justru memiliki rata-rata skor stres lebih tinggi dibandingkan shift malam. Distribusi tingkat stres menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang (47,76%), diikuti stres berat (37,31%), dan stres ringan (14,93%). Kesimpulannya, shift kerja terbukti berpengaruh terhadap stres kerja perawat, namun tidak selalu shift malam yang menimbulkan tekanan tertinggi. Hasil penelitian ini menegaskan perlunya perhatian manajemen rumah sakit dalam mengatur jadwal kerja agar beban kerja perawat lebih seimbang, sehingga kesejahteraan tenaga kesehatan dan mutu pelayanan tetap terjaga.
Epidemiologi Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Intan Kusumawati; Nofi Susanti; Jufri Naldo
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1348

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh virus arboviral melalui dua jenis spesies nyamuk yaitu, Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Kecamatan Tanjung morawa memiliki 2 Puskesmas, Puskesmas Tanjung Morawa dan Puskesmas Dalu Sepuluh. Dari 2 Puskesmas ini kasus demam berdarah Dengue tertinggi ada pada Puskesmas Tanjung Morawa sebesar 80 kasus karena Puskesmas Tanjung Morawa adalah Puskesmas yang memiliki kasus tertinggi Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Deli Serdang tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui epidemiologi kejadian demam berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada responden secara langsung dengan pendekatan Case control. Analisa data menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p-value 1,000), dan tidak ada hubungan antara penggunaan obat nyamuk dengan kejadian DBD (p-value 0,459). Ada hubungan antara sikap dengan kejadian DBD (p-value 0,005), Ada hubungan antara PSN dan 3M Plus dengan kejadian DBD (p-value 0,016), Ada hubungan antara menggantung pakaian dengan kejadian DBD (p-value 0,015), Ada hubungan antara Angka Bebas Jentik dengan kejadian DBD (p-value 0,019).
Hubungan Kualitas Tidur Terhadap Stres Kerja Perawat Inap Di Rumah Sakit Umum Haji Medan Ummi Kalsum Nasution; Delfriana Ayu A
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jikmw.v5i2.1349

Abstract

Perawat yang bekerja dalam sistem shift, terutama perawat yang bekerja dirawat inap sering mengalami gangguan tidur yang berisiko menyebabkan stres kerja. Hasil riset Health and Safety Executive mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan merupakan kelompok dengan tingkat stres tinggi dengan prevalensi 2.500 kasus per 100.000 orang. Kualitas tidur yang buruk berdampak negatif terhadap konsentrasi perawat, kesehatan mental, dan mempengaruhi kinerja perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan total populasi yakni seluruh perawat yang bekerja di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Medan sebanyak 77. Sampel yang diambil sebanyak 77 responden dengan menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur dan Job Stres Scale (JSS) untuk menghitung stres kerja pada perawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas tidur dengan stres kerja pada perawat rawat inap dengan p-value <0,05. Secara khusus aspek efisiensi tidur, durasi tidur dan kepuasan tidur memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Sistem shift di Rumah Sakit diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan perawat melalui kualitas tidur untuk mengurangi stres kerja. Dalam islam menjaga kualitas tidur termasuk cara menjaga amanah tubuh sesuai dengan maqasid syariah menjaga akal dan jiwa.

Page 11 of 13 | Total Record : 126