cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 188 Documents
TANTANGAN DAN SOLUSI DALAM MEMPELAJARI TEKNIK TREMOLO: PERSPEKTIF MAHASISWA GITAR KLASIK TINGKAT LANJUT PERGURUAN TINGGI SENI Simbolon, Hadri Saprian; Indrawan, Andre; Legowo, Adityo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16180

Abstract

Teknik tremolo merupakan salah satu teknik lanjutan dalam permainan gitar klasik yang melibatkan pola pengulangan nada secara cepat dan berkesinambungan menggunakan kombinasi jari p (ibu jari), a (jari manis), m (jari tengah), dan i (jari telunjuk). Teknik ini tidak hanya menuntut kecepatan dan koordinasi jari, tetapi juga ketelitian dalam menjaga konsistensi ritme, kestabilan dinamika, serta kualitas warna suara yang merata dan musikal. Bagi mahasiswa tingkat lanjut di perguruan tinggi seni, teknik tremolo sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi mahasiswa dalam menguasai teknik tremolo, serta mengeksplorasi solusi dan pendekatan yang digunakan untuk mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif, yang dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa strategi efektif yang diterapkan oleh mahasiswa meliputi latihan secara perlahan dan bertahap, penggunaan metronom untuk menjaga tempo yang stabil, serta latihan penguatan otot jari untuk meningkatkan kontrol dan ketahanan.Kata kunci: Tremolo, Gitar Klasik, Tantangan, Solusi.AbstractTremolo technique is an advanced method in classical guitar performance that involves the rapid and continuous repetition of notes using a combination of the thumb (p), ring finger (a), middle finger (m), and index finger (i). This technique not only demands speed and finger coordination but also precision in maintaining rhythmic consistency, dynamic stability, and a balanced and musical tone quality. For advanced-level university students in arts programs, mastering the tremolo technique often presents a unique challenge in the learning process. This study aims to identify the various obstacles faced by students in mastering tremolo technique and to explore the solutions and approaches used to overcome them. A qualitative case study method was employed through direct observation and in-depth interviews with participants. The results show that effective strategies implemented by students include practicing slowly and gradually, using a metronome to maintain a steady tempo, and engaging in finger muscle strengthening exercises to enhance control and endurance.Keywords: Tremolo, Classical Guitar, Challenges, Solutions. 
Penerapan Gaya Improvisasi Blues Pada Musik Jazz Fusion (Studi Kasus: Lagu "King Twang" Karya Vital Tech Tones) Rony, Yesyua Nissi; Utomo, Antonius Ragipta; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16026

Abstract

 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil penerapan gaya improvisasi musik blues dalam konteks musik jazz fusion, dengan fokus pada penggunaan teknik Albert King’s Bend pada gitar elektrik. Teknik ini dikenal luas dalam permainan blues karena kemampuannya menghasilkan karakter bunyi yang khas, dan biasanya digunakan untuk memperkuat identitas frasa musik. Lagu “King Twang” karya grup band Vital Tech Tones dipilih sebagai objek studi karena menyajikan struktur komposisi jazz fusion yang kompleks, namun tetap terbuka terhadap pendekatan improvisasi dari genre lain. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, melalui observasi, transkripsi improvisasi gitar, dan wawancara dengan beberapa gitaris berpengalaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknik Albert King’s Bend dapat diterapkan secara efektif dalam jazz fusion tanpa mengganggu struktur musikal dari komposisi. Penerapan teknik ini terbukti mampu memperkaya struktur frasa improvisasi, memberikan karakter kontras antar bagian, serta mencerminkan pemahaman pemain terhadap fleksibilitas gaya dalam musik lintas genre. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan pendekatan improvisasi gitar modern, serta membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut dalam penyatuan teknik tradisional dengan konteks musikal yang lebih kompleks.                                                                          Kata kunci: improvisasi gitar, blues, jazz fusion, Albert King’s Bend.             ABSTRACTThis study aims to examine the application of blues improvisational style within the context of jazz fusion music, with a particular focus on the use of the Albert King’s Bend technique on electric guitar. Widely recognized in blues performance, this technique creates a distinctive tone by emphasizing string bending, typically used to enhance the identity of musical phrases. The song “King Twang” by the band group Vital Tech Tones was chosen as the case study due to its complex jazz fusion composition, which still allows room for improvisational approaches from other genres. A qualitative research method was employed through observation, transcription of guitar improvisation, and interviews with experienced guitarists. The analysis reveals that Albert King’s Bend can be effectively applied in jazz fusion without disrupting the musical structure of the composition. The technique proves to enrich the structure of improvisational phrases, introduce contrast between sections, and reflect the player’s understanding of stylistic flexibility in cross-genre music. This research contributes to the development of modern guitar improvisation approaches and offers further opportunities for exploration in blending traditional techniques within more complex musical contexts.Keywords: guitar improvisation, blues, jazz fusion, Albert King’s Bend.                                                                           
INTERTEKSTUALITAS TEKNIK BATTERY DAN DRUM SET PADA ‘MY FAVORITE THINGS’ VERSI DOMI & JD BECK Taufik, Ababil Thufail; Akbar, Mohamad Alfiah; Latif, Bakhrudin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16248

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi teknik permainan drum set dan section battery dalam sebuah pertunjukan musik yang utuh, dengan menggunakan karya “My Favorite Things” versi MonoNeon, DOMi, dan JD Beck sebagai objek interpretasi utama. Fokus penelitian ini adalah bagaimana teknik rudiment dari section battery yang berasal dari tradisi marching band diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam permainan drum set melalui pendekatan intertekstualitas. Permainan drum set tersebut berkembang dalam format combo yang berakar pada tradisi musik jazz. Oleh karena itu, penelitian ini juga mengkaji bagaimana interaksi teknik antara dua tradisi yang berbeda tersebut membentuk suatu interpretasi musikal yang baru. Penelitian ini didasarkan pada teori intertekstualitas dan teori improvisasi, yang digunakan untuk memahami bagaimana dialog musikal antara dua pendekatan perkusi dapat menciptakan struktur ritmik yang inovatif dan ekspresif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi audio-visual, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik rudiment seperti single stroke, double stroke roll, 5-stroke roll, dan paradiddle-diddle dapat diadaptasi dalam permainan drum set melalui pendekatan improvisatif yang fleksibel. Proses kolaborasi dengan section battery menghasilkan bentuk permainan kolektif seperti call and response, split rudiment, serta unison ritmik, yang menciptakan lapisan musikal baru. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi teknik dari dua tradisi yang berbeda ini tidak hanya menghasilkan kompleksitas ritmik, tetapi juga memperkuat daya visual dalam pertunjukan, khususnya pada resital tugas akhir yang menempatkan section battery secara aktif di pertengahan karya.Kata kunci: intertekstualitas, drum set, section battery, improvisas, jazz fusionThis study aims to explore the integration of drum set and section battery techniques within a cohesive musical performance, using the rendition of “My Favorite Things” by MonoNeon, DOMi, and JD Beck as the main object of interpretation. The focus of this research is on how rudimental techniques from the section battery, rooted in the marching band tradition, are adapted and integrated into drum set performance through an intertextual approach. The drum set performance develops within the combo format, which is grounded in the tradition of jazz music. Therefore, this study also examines how the technical interaction between these two musical traditions creates a new form of musical interpretation. The research is grounded in the theories of intertextuality and improvisation, and it employs a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, audio-visual documentation, and literature review. The findings show that rudimental techniques such as single stroke, double stroke roll, 5-stroke roll, and paradiddle-diddle can be adapted into drum set performance through a flexible improvisational approach. The collaborative process with the section battery resulted in collective playing forms such as call and response, split rudiment, and rhythmic unison, which created new musical layers. This study demonstrates that integrating techniques from twodifferent traditions not only results in rhythmic complexity but also enhances the visual and expressive dimensions of contemporary musical performance.Keywords: intertextuality, drum set, section battery improvisatation, jazz fusion
Reinterprestasi Teknik Slide Derek Trucks Dalam Lagu “Sahib Teri Bandi” Menggunakan Tools Aluminium Slide Melalui Gitar Resonator Waskita, Angga Yuda; Wardani, Indra Kusuma; Utomo, Antonius Ragipta
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16183

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Reinterpretasi Teknik Slide Derek Trucks dalam Lagu “ Sahib Teri Bandi” Menggunakan Tools Aluminium Slide melalui Gitar Resonator. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik teknik slide dengan menggunakan tools aluminium slide melalui gitar resonator sebagai bentuk reinterpretasi artistik terhadap permainan Derek Trucks dalam lagu “Sahib Teri Bandi”. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain Practice as Research (PaR), di mana praktik musikal, refleksi diri, dokumentasi, refleksi pengalaman resital, dan analisis sonic menjadi bagian integral dari proses penelitian. Proses reinterpretasi dilakukan melalui eksperimen penggunaan berbagai jenis tools slide (glass, brass, aluminium), serta perbandingan karakteristik spektrum frekuensi antara permainan Derek Trucks dan hasil eksplorasi penulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tools aluminium slide melalui gitar resonator menghasilkan karakter sonic yang lebih terang (bright), kasar (harsh), dan dinamis, berbeda dengan tone hangat (warm) yang dihasilkan glass slide pada gitar elektrik. Pemilihan gitar resonator tri-cone yang dimodifikasi dengan pickup humbucker juga membuka kemungkinan ekspresi baru, baik dalam hal sustain, artikulasi, maupun resonansi. Selain itu, idiom musik Bali seperti pelog dan slendro turut diintegrasikan dalam improvisasi sebagai bentuk penegasan identitas musikal penulis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reinterpretasi bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga refleksi estetis dan kultural. Melalui pendekatan Practice as Research, praktik musikal menjadi sarana penciptaan pengetahuan baru yang kontekstual, personal, dan ekspresif.Kata kunci: Reinterprestasi, Teknik Slide, Derek Trucks, Gitar Resonator, Akuminium Slide, Practice as ResearchABSTRACT This research is titled Reinterpretation of Derek Trucks’ Slide Technique in the Song “ Sahib Teri Bandi” Using an Aluminum Slide Tool through a Resonator Guitar. The aim of this study is to explore the characteristics of the slide technique using an aluminum slide tool through a resonator guitar as an artistic reinterpretation of Derek Trucks' performance in the song “Sahib Teri Bandi”. The research applies a qualitative approach using the Practice as Research(PaR) framework, where musical practice, self-reflection, documentation, recital experience reflection, and sonic analysis serve as integral components of the research process. The reinterpretation process was carried out through experiments involving various types of slide tools (glass, brass, aluminum), as well as frequency spectrum comparisons between Derek Trucks’ performance and the author's own explorations. The results show that using an aluminum slide tool through a resonator guitar produces a sonic character that is brighter, harsher, and more dynamic—distinct from the warm tone produced by a glass slide on an electric guitar. The use of a tri-cone resonator guitar modified with a humbucker pickup also opens new expressive possibilities in terms of sustain, articulation, and resonance. Additionally, Balinese musical idioms such as pelog and slendro are integrated into the improvisation as a means of affirming the author's musical identity. This research concludes that reinterpretation is not merely a technical matter, but also an aesthetic and cultural reflection. Through the Practice as Research approach, musical practice becomes a means of generating new knowledge that is contextual, personal, andexpressive.Keywords: Reinterpretation, slide technique, Derek Trucks, resonator guitar, aluminum slide, Practice as Research. 
Konflik Batin Lansia Pascakematian Pasangan Hidup sebagai Inspirasi Penciptaan Skenario Kar Sayyidah, Nur; Nugraeni, Elara Karla; Dhani, Kurnia Rahmad
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.17613

Abstract

Studi penciptaan karya ini berangkat dari pengalaman empiris penulis mengenai pergulatan batin neneknya setelah kehilangan suami, yang terkait dengan fenomena late-life crisis dan grief dream. Penciptaan skenario film menggunakan pendekatan empiris (observasi dan wawancara) yang diolah dengan struktur naratif miniplot Robert McKee. Teori eksistensialisme Sartre (konsep l'autre) dan pendekatan estetika realisme magis diintegrasikan untuk membangun konflik dan kedalaman karakter. Hasil penelitian penciptaan ini menunjukkan bahwa pengalaman empiris lansia yang berduka dapat diolah dengan apik menjadi narasi sinematik yang kaya makna, merepresentasikan kompleksitas emosi, pencarian makna, dan proses penyembuhan psikologis lansia. Skenario Kar tidak hanya menjadi refleksi personal, tetapi juga menawarkan perspektif baru mengenai pentingnya dukungan sosial dan pemaknaan ulang identitas bagi lansia pasca kehilangan pasangan. The Inner Conflict of the Elderly in the Aftermath of Spousal Death: A Creative Foundation for the Screenplay KarThis creation study originates from the author's empirical experience of witnessing his grandmother's inner turmoil following the sudden loss of her husband, which is related to the phenomena of late-life crisis and grief dream. The film scenario was developed using an empirical approach (through observation and interviews), which was then processed using Robert McKee's miniplot narrative structure. Sartre's existentialist theory (the concept of the Other) and the aesthetic approach of magical realism are integrated to build character conflict and depth. The results of this creative research demonstrate that the empirical experiences of grieving elderly individuals can be effectively crafted into a meaningful cinematic narrative, representing emotional complexity, the search for meaning, and the process of psychological healing in the elderly. The screenplay Kar not only serves as a personal reflection but also offers a new perspective on the importance of social support and the redefinition of self-identity for the elderly after the loss of a life partner.
Eksistensi Orkes Keroncong Tresnawara di Yogyakarta Purba, Ravi Tesalonika; Purba, Ezra Deardo; Adi Nugroho, Titis Setyono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.10870

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena musik keroncong yang ada di Yogyakarta. Dalam perkembangannya musik keroncong sampai pada tiga bentuk pakem yaitu keroncong asli, langgam, dan stambul dengan bentuk formasi umum yaitu flute, biola, cak (banyo), cuk (ukulele), gitar, cello, dan bass. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi Orkes Keroncong Tresnawara di Yogyakarta ditinjau dari aspek musikal dan non-musikal dengan beberapa faktor didalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberi manfaat praktis yaitu agar masyarakat umum dapat lebih mengenal serta ikut dalam melestarikan musik keroncong dan manfaat teoritis yaitu dapat menjadi ilmu pengetahuan, referensi, atau acuan dalam melakukan penelitian sejenis berikutnya. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dari Sugiyono dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, pengolahan data dan analisis data. Penelitian ini menggunakan konsep eksistensi dan kreativitas sebagai landasan teorinya. Pembahasan dalam penelitian ini diperoleh dari data verbatim hasil wawancara terpusat pada narasumber yang kemudian dikembangkan menjadi karya tulis berupa paragraf-paragraf agar lebih mudah untuk dipahami. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Orkes Keroncong Tresnawara berhasil untuk tetap eksis di Yogyakarta karena didukung oleh dua aspek, yaitu aspek musikal yang meliputi permainan instrumen, pembawaan vokal, dan perluasan instrumen juga disertai dengan aspek non-musikal yang meliputi visual pemain musik dan manajemen kelompok.Kata kunci: Eksistensi, Orkes Keroncong Tresnawara, Musikal non-musikal.
Pemeranan Tokoh Clara dalam Naskah Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) Karya Seno Gumira Ajidarma Sari, Intan Permata; Sumarno, Rano; Wibono, Joanes Catur
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12558

Abstract

Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) karya Seno Gumira Ajidarma mengisahkan tentang tindakan rasisme dan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat etnis Tionghoa khususnya perempuan. Tragedi ini terjadi pada Mei 1998, dimana tragedi ini terdapat penjarahan, kekerasan, dan pemerkosaan terhadap masyarakat etnis Tionghoa yang dipicu oleh krisis moneter pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. Argumentasi utama dari penciptaan ini berdasar pada peristiwa kekerasan yang menimpa perempuan etnis Tionghoa pada Mei 1998. Penciptaan ini berfokus pada kronologi kejadian dan trauma yang dialami oleh tokoh bernama Clara yang diakibatkan oleh pemerkosaan. Penciptaan karakter tokoh Clara dengan menggunakan pendekatan akting representasi dan menggabungkan panggung teater dengan teknologi media berbentuk imersif. Playing the Character of Clara in the Script “Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After May 13-14, 1998)” by Seno Gumira AjidarmaThe text "Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After 13-14 May 1998)" by Seno Gumira Ajidarma tells the story of the human tragedy, racism and discrimination experienced by the ethnic Chinese community, especially women. This tragedy occurred in May 1998, where this tragedy involved looting, violence and fraud against the ethnic Chinese community which was triggered by the monetary crisis at the end of the New Order government. The main argument of this article is based on the violent incident that befell an ethnic Chinese woman in May 1998. The case in this article focuses on the chronology of events and the trauma experienced by a character named Clara which was caused by this human tragedy. The character creation of Clara uses a representational acting approach and combines the theater stage with immersive technological media.
Estetika Tari Burung Enggang Khas Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur Rahel, Astri; Supriyanti, Supriyanti; Hanjati, Bernadetta Sri
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13306

Abstract

Tulisan ini membahas estetika Tari Burung Enggang khas Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Tari Burung Enggang adalah tarian yang diciptakan untuk memuja nenek moyang yang berasal dari langit dan turun menyerupai Burung Enggang. Fungsi dari tari Burung Enggang awalnya sebagai tarian upacara dan tarian sakral, tetapi sekarang sebagai tarian hiburan. Penelitian ini menggunakan landasan pemikiran Djelantik, dengan pendekatan estetika dan analisis deskriptif analisis. Teori ini mengupas tentang kehidupan dan estetika dalam suku Dayak Kenyah dan tari Burung Enggang. Penelitian ini menggunakan konsep Djelantik yang menyebutkan ada tiga faktor munculnya estetika, wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Dari tiga faktor tersebut saling melengkapi satu sama lain sehingga terciptanya sebuah tarian yang memiliki estetika. Faktor tersebut juga membentuk satu tarian yang nantinya akan memunculkan estetika atau keindahan baik dari segi gerakan, busana tari, properti yang digunakan, dan alat musik untuk mengiringi tari Burung Enggang. Estetika yang terdapat di dalam tari Burung Enggang yaitu gerak tarian yang sederhana tapi masih bisa dinikmati, busana tari yang khas dengan manik-manik, motif, dan warna yang terdapat di busananya, penggunaan properti kirip menambah keindahan dari tari Burung Enggang, dan iringan musik untuk memunculkan suasana gembira. The Aesthetics of the Enggang Dance of the Dayak Kenyah Tribe in East KalimantanThis study explores the aesthetics of the Enggang Dance of the Dayak Kenyah Tribe in East Kalimantan. The Enggang Dance was created as a homage to ancestors believed to descend from the heavens and were embodied as hornbills. Initially, the Enggang Dance served as a ceremonial and sacred ritual; however, it has now transitioned into entertainment. The research employs Djelantik's theoretical framework, adopting an aesthetic approach and descriptive analysis. This theory delves into the life and aesthetics of the Dayak Kenyah tribe and the Enggang Dance. Djelantik's concept highlights three key factors that constitute aesthetics: form or appearance, content or essence, and presentation or performance. These three factors are interdependent, collectively shaping a dance with aesthetic value. These elements manifest in the dance movements, costumes, props, and musical accompaniment. The aesthetic appeal of the Enggang Dance lies in its simplicity, yet it remains enjoyable. The costumes are distinctive, adorned with intricate beadwork, motifs, and vibrant colours. Using the kirip prop enhances the visual appeal, while the accompanying music fosters a cheerful atmosphere.
Bentuk Penyajian Tari Sekapur Sirih di Sanggar Sekintang Dayo Jambi wati, anggun kartika
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.10701

Abstract

The Sekapur Sirih dance originates from Jambi, this dance is a dance to welcome honored guests who come to Jambi. The Sekapur Sirih dance is a group dance danced by 10 female dancers and 2 male dancers, in which 9 female dancers dance, 1 female carrying a cerano and 2 males carrying umbrellas and spears. The Sekapur Sirih dance is only shown at official events to welcome guests. The Sekapur Sirih dance is taken from the Jambi ivory custom of decorating and concocting Sirih.                There are many Sekapur sirih dances in Jambi, but there are many differences in the way they are performed, the music, even the costumes. The Sekapur Sirih dance at the Sekintang Dayo Studio has not changed at all, more precisely, there have been many developments from before, where the Sekapur Sirih dance at the Sekintang Dayo Studio was often performed when guests of honor came to Jambi.                To solve the problem, this study uses the approach of Y. Sumandiyo Hadi's book Text and Context Studies. The textual approach looks at dance from the form of presentation that can be seen from the performers, the theme, movement, accompaniment, make-up and clothing, the place of performance, while the contextual approach looks at the relationship between dance and the supporting community. This approach is to peel the problem. The accompaniment of the Sekapur Sirih Dance uses Jambi regional songs with musical instruments, namely Rebana, Accordeon, Tambourine, Guitar, Violin. The make-up used is beautiful makeup and uses typical Jambi clothing.
Keberadaan Alat Musik Tiup Barat dalam Penyajian Gondang Husip-Husip Oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta: Kajian Hibriditas Musikal Simamora, Boy Lamris I; Purba, Krismus; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13746

Abstract

Seiring perkembangan zaman, penyajian gondang sebagai musik tradisi suku Batak Toba tidak luput dari sentuhan modernitas. Salah satunya adalah keberadaan instrumen tiup Barat dalam penyajian satu repertoar musik tradisi Batak yang paling sering dimainkan dalam upacara adat, Gondang Husip-husip oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta. Parsaoran Etnik sebuah grup musik tradisi Batak yang berada di kota Yogyakarta hadir dengan konsep komposisi musik yang berbeda, membawakan komposisi musik yang unik dan inovatif. Penelitian ini mengkaji fenomena hibriditas musikal antara alat musik tiup Barat dalam penyajian Gondang Husip-husip oleh Parsaoran Etnik Yogyakarta, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan musikologi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan hibriditas musikal tersebut merupakan proses dinamis yang berlangsung dalam tiga tahap: introduksi dan adopsi, eksperimentasi dan penyesuaian, serta pemurnian dan internalisasi. Penyajian Gondang Husip-husip yang memiliki pola struktur lagu A B C C dibalut dengan perpaduan alat musik tiup Barat yang digunakan untuk melodisasi, harmonisai, timbre, penciptaan warna musik yang baru dan memperkaya ekspresi musikal. Hibridisasi ini menghasilkan komposisi dan karakteristik musik baru, seperti penggabungan harmoni Barat, penggunaan teknik improvisasi, perpaduan teknik permainan alat musik Barat dan tradisional Batak, adaptasi komposisi musik Gondang Husip-husip, serta nuansa musik yang lebih modern dan kontemporer. Hibriditas ini menunjukkan kemampuan tradisi musik Batak Toba untuk berkembang dan berinovasi di tengah gempuran modernisasi. Hibridisasi ini juga menghasilkan komposisi dan karakteristik musik baru yang memperkaya ekspresi musikal Gondang Husip-husip.