cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 188 Documents
Penggunaan Gubahan Lagu Sebagai Strategi Menghafal Materi Rantai Makanan Siswa Sekolah Dasar Pratama, Laurensius Handy Setya; Ismudiati, Endang; Ramafisela, Lingga
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13493

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui serta mendeskripsikan proses penggunaan gubahan lagu sebagai strategi menghafal materi rantai makananan bagi siswa kelas VC SD Negeri Jurug Sewon Bantul. Kemampuan mengingat dan menghafal merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar dan prestasi peserta didik di kelas yang diukur berdasarkan penguasaan materi pelajaran dalam hal teori. Namun tidak semua peserta didik memiliki kemampuan mengingat dan menghafal yang baik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni, obeservasi, wawancara, dokumentasi, dan trianggulasi data. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat tiga tahapan dalam proses penggunaan gubahan lagu sebagai startegi menghafal materi rantai makanan bagi siswa kelas VC SD Negeri Jurug Sewon Bantul. Tiga tahapan tersebut antara lain, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Melalui ketiga tahapan tersebut, penggunaan gubahan lagu juga dapat mempermudah peserta didik dalam melakukan hafalan, memaksimalkan kinerja memori jangka pendek, meningkatkan antusias peserta didik saat proses pembelajaran, serta menjadikan interaksi antara peserta didikk dan guru menjadi lebih aktif.
Siku-siku: Koreografi berdasarkan Kegelisahan Tanaya, I Made Agus Tresna; Dana, I Wayan; Subawa, Y
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13094

Abstract

Karya tari Siku-Siku merupakan bentuk refleksi diri dari satu perjalanan kehidupan pengkarya. Terinspirasi dari pengalaman pribadi pengkarya yang mengalami kegelisahan dalam tatanan pembangunan suatu rumah di Bali. Hal ini berawal dari adanya bangunan rumah pengkarya yang berada di kota dan desa yang memiliki perbedaan tatanan Asta Kosala Kosali. Selain itu, adanya penolakan dari seorang Mangku (orang suci) pada saat mengupacarai rumah pengkarya yang berada di kota menimbulkan pertanyaan dalam diri pengkarya. Proses penciptaan karya tari Siku-siku mengacu pada metode penciptaan yang dijelaskan oleh Hawkins, yang meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Karya tari Siku-Siku menggunakan pengembangan motif gerak tari Bali serta dipadukan dengan bentuk ukuran rumah yang terdapat dalam tatanan Asta Kosala Kosali, sehingga muncul motif gerak sikut pada karya ini. Motif gerak sikut pengkarya pilih sebagai gerak inti dikarenakan dalam motif gerak tersebut meliputi bentuk pengukuran rumah yang ada di dalam tatanan Asta Kosala Kosali. Pada proses pencarian jawaban mengenai kegelisahan pengkarya yang dialami, pengkarya mendapatkan satu jawaban pasti yaitu Desa Kala Patra dalam pembangunan rumah di Bali. Konsep Desa Kala Patra menjadi titik terang dari proses perjalanan penciptaan karya tari Siku-siku, selain itu karya tari ini menjadi media ungkap yang tepat untuk menyampaikan keluh kesah dalam proses mencari jawaban. Siku-siku: Choreography based on AnxietyThe Siku-Siku dance work is a form of self-reflection from the artist's life journey. Inspired by the personal experience of the creator who experienced anxiety during the construction of a house in Bali. This started with the existence of craftsman's houses in cities and villages that had different Asta Kosala Kosali. Apart from that, the rejection from the Mangku (saint) when performing a ceremony on the artist's house in the city raised questions within the artist. The process of creating the Siku-Siku dance work refers to the method described by Hawkins, which includes exploration, improvisation, composition, evaluation. The Siku-Siku dance work uses the development of Balinese dance movement motifs and combines them with elbow shapes in the Asta Kosala Kosali arrangement, so that the elbow movement motif appears in this work. The artist chose the elbow movement motif as the core movement because the movement motif includes the form of measuring the house in the Asta Kosala Kosali arrangement. In the process of searching for answers regarding the anxiety the creator was experiencing, the creator got one definite answer, namely Kala Patra Village in building houses in Bali. The concept of Kala Patra Village is a bright spot in the process of creating the Siku-Siku dance work, apart from that, this dance work is a medium for expressing complaints in the process of searching for answers.
Bentuk Penyajian Kesenian Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara di Kaliwanglu, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Ramadhanti, Yasni; Supriyanti, Supriyanti; Astuti, Budi
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.11908

Abstract

Pada penelitian ini menganalisis bagaimana bentuk penyajian kesenian Jaranan Sentherewe pada Sanggar Kenya Mayangkara menggunakan pendekatan koreografi dengan menggunakan sumber acuan dari buku Y. Sumandiyo Hadi yang berjudul Kajian Tari: Teks dan Konteks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara dibagi menjadi sembilan bagian berdasarkan alur cerita, bagian pra acara yaitu bagian do’a dan sesaji, maju pambuka, buko mlebet, kiprahan celeng, dangdutan pertama, jogedan pertama, jogedan kedua, dangdutan kedua, perangan, dan ndadi. Pada Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara ditarikan Sembilan penari dengan gerak rampak, sigrak, dan tegas serta diiringi oleh Iringan gamelan laras pelog dengan pola iringan langgam dan lancaran yang dipadukan dengan dangdutan dan campursari.  Analisis penari putri dalam Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara memiliki karakter kuat dan tegas dengan postur tubuh yang proposional. Analisis ruang berkaitan level, pola lantai, dan arah hadap bervariasi. Analisis waktu meliputi tempo, ritme, dan durasi yang menjadi penentu lamanya pertunjukan berlangsung. Berdasarkan sumber acuan, Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara dianalisis secara teks meliputi analisis bentuk gerak, teknik gerak, gaya gerak, penari, struktur keruangan, struktur waktu dan analisis konteks meliputi konteks kepercayaan, nilai pendidikan, dan pariwisata. Gaya yang muncul kemudian menjadi karya jaranan kreasi yang menggunakan teknik dasar gerak tubuh, tangan, kaki, kepala khas Jawa Timuran yang memadukan gerak Jatilan Yogyakarta. Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara merupakan salah satu bentuk karya seni Jaranan Sentherewe kreasi yang muncul dari gagasan masyarakat yang memiliki ciri khas bentuk dan gaya penampilan yang spesifik.
Metode Pelatihan Instrumen Baritone Horn Anggota Baru Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta Patmawati, Patmawati; Kaestri, Veronica Yoni; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12463

Abstract

Penelitian ini menitik beratkan pada metode pelatihan anggota baru instrumen baritone horn Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saraswati Drum Corps merupakan salah satu bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa dibawah Institusi Pendidikan yaitu Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pelatihan yang digunakan dalam pelatihan beserta hasilnya. Objek penelitian adalah delapan anggota baru yang tidak semua merupakan mahasiswa musik namun dari mahasiswa Fakultas Seni Rupa, anggota umum dari Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode demonstrasi. Metode demontrasi dalam pelatihan tersebut adalah pelatih memberikan contoh kemudian ditirukan. Dalam metode demontstrasi selain memberikan contoh juga menerapkan ceramah dan tanya jawab dalam proses pelatihan. Hasil dari pelatihan mengunakan metode demontrasi adalah pemain dapat fokus dalam pelatihan dan dapat memainkan karya musik dalam suatu pementasan.Kata kunci: Metode Pelatihan, Baritone Horn, Saraswati Drum CorpsThis research focuses on the training method of new members of the baritone horn instrument Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saraswati Drum Corps is one of the Student Activity Units under the Educational Institution, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This research aims to find out the training methods used in the training and the results. The object of the research are eight new members who are not all music students but from students of the Faculty of Fine Arts, general members from junior high school and high school. The method used is descriptive qualitative method. The results of this study can be concluded that the method used in this training is the demonstration method. The demonstration method in the training is that the trainer gives an example and then imitates it. In addition to giving examples, the demonstration method also applies lectures and questions and answers in the training process. The result of the training using the demonstration method is that players can focus on training and can play music in a performance.Keywords: Training method, Baritone horn, Saraswati drum corps
Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Musik Kolintang Di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya Lingga, Cadenza Symphonia; Yunita, Ayu Tresna; Adzkia, Sagaf Faozata
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.12943

Abstract

Pendidikan karakter memiliki peran penting dan menjadi prioritas untuk membentuk karakter anak dalam dunia pendidikan yang sekaligus menjadi objek formal dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada ekstrakurikuler musik kolintang di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya melalui observasi, wawancara dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Merujuk pada hasil penelitian yang telah ditemukan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam pembelajaran ekstrakurikuler musik kolintang di SD Negeri Rungkut Kidul II Surabaya yaitu meliputi aspek rasa cinta tanah air, kerja sama, kesabaran, disiplin, tanggung jawab, mandiri, dan komunikatif. Implementasi nilai-nilai pendidikan karakter tersebut tidak terlepas dari kurikulum dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta proses penanaman nilai pendidikan karakter yang dilakukan melalui tahap pendahuluan yang terdapat nilai disiplin dalam penegasan-penegasan guru terhadap siswa untuk dapat menyimak secara saksama, tahap inti yang terdapat nilai kerja sama, rasa cinta tanah air, kesabaran, komunikatif, dan mandiri dalam proses siswa berlatih memainkan kolintang, serta tahap evaluasi yang terdapat nilai bertanggung jawab dalam penggunaan alat musik kolintang.
Potensi Non-Fungible Token (NFT) Dalam Industri Musik Di Era Digital Saputera, Alex Januar; Akbar, Mohamad Alfiah; Jayantoro, Setyawan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12090

Abstract

Pada era digital musisi mendistribusikan musiknya pada layanan streaming musik. Namun musisi belum cukup puas terhadap pendapatan royalti yang dibagikan dari layanan tersebut, karena terlalu kecil dan permasalahan royalti yang dianggap kurang transparan. Kemunculan Non-Fungible Token (NFT) dianggap oleh sebagian musisi dapat memecahkan persoalan royalti dan transparansi dalam industri musik, serta menghilangkan pihak ketiga seperti label dan agregator. Selain itu Non-Fungible Token (NFT) memberi banyak potensi dalam industri musik di era WEB 3.0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi NFT dalam industri musik pada era digital. Subjek dalam penelitian ini adalah pelaku industri musik yang sudah mengadopsi NFT. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini NFT dapat memecahkan persoalan royalti, transparansi, dan melengkapi distribusi sebelumnya. Adopsi NFT dalam industri musik juga memberi banyak peluang dan potensi yang berhubungan dengan WEB 3.0, seperti pengarsipan, sistem tiket, utilitas, GameFi, kolaborasi antar seniman dan sebagai lisensi musik. Namun juga terdapat tantangan dan kedala yang menghambat NFT di adopsi sepenuhnya dalam industri musik.Kata kunci: Industri Musik, Non-Fungible Token (NFT), Era DigitalIn the digital era, musicians distribute their music on streaming services. However, musicians are not quite satisfied with the royalty income distributed from these services, because it is too small and the royalty problem is considered less transparent. The emergence of Non-Fungible Tokens (NFT) is considered by some musicians to solve the problem of royalties and transparency in the music industry, and eliminate third parties such as labels and aggregators. In addition, Non-Fungible Tokens (NFTs) provide a lot of potential in music industry especially in the WEB 3.0 era. This study aims to determine the potential of NFTs in the music industry in the digital era. The subjects in this study are music industry players who have adopted NFTs. The research method used is qualitative research with a phenomenological approach, data collection techniques carried out by observation, conducting interviews, and documentation. Results shows that NFTs can solve the problem of royalties, transparency, and complement the previous distribution. The adoption of NFTs in the music industry also provides many opportunities and potentials related to WEB 3.0, such as archiving, ticketing systems, utilities, GameFi, collaboration between artists and as a music license. However, there are also challenges and obstacles that prevent NFTs from being fully adopted in the music industry.Keywords: Music Industry, Non-Fungible Token (NFT), Digital Era
Fungsi Tari Wura Bongi Monca di Desa Karumbu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat Dayantri, Rima; Winarti, Tutik; Supriyanti, Supriyanti
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13050

Abstract

Tulisan ini mengupas fungsi Tari Wura Bongi Monca di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tari Wura Bongi Monca adalah tarian penyambutan tamu, tarian selingan di tengah dan akhir acara, dan tarian hiburan untuk memeriahkan acara. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi tari. Tipologi fungsi tari dirumuskan dalam enam kategori, yaitu tari sebagai refleksi dan legitimasi tatanan sosial, wahana ekspresi ritual sekuler dan keagamaan, hiburan sosial atau kegiatan rekreasi, saluran atau pelepasan spiritual, pencerminan nilai estetis atau suatu kegiatan estetis itu sendiri, dan sebagai pencerminan pola kegiatan ekonomi untuk menunjang kehidupan. Penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi tari Wura Bongi Monca sebagai bagian penting dalam memenuhi kebutuhan kesenian untuk hiburan, cerminan nilai estetis, cerminan pola kegiatan ekonomi, refleksi, wahana ekspresi ritual dan keagamaan, dan sebagai saluran pelepasan spritual. The Function of the Wura Bongi Monca Dance in Karumbu Village, Langgudu Subdistrict, Bima Regency, West Nusa Tenggara.This paper examines the functions of the Wura Bongi Monca Dance in Karumbu Village, Langgudu Subdistrict, Bima Regency, West Nusa Tenggara. The Wura Bongi Monca Dance serves as a welcoming dance for guests, an interlude performance during and at the end of events, and as entertainment to enliven festivities. This study adopts an anthropological approach to dance. The typology of dance functions is categorized into six areas: dance as a reflection and legitimization of social order, a medium for secular and religious ritual expression, social entertainment or recreational activity, a channel for spiritual release, a reflection of aesthetic values or aesthetic activity itself, and as a reflection of economic activities supporting livelihoods. The study demonstrates that the Wura Bongi Monca Dance plays a crucial role in fulfilling artistic needs for entertainment, reflecting aesthetic values, economic activity patterns, and social order, serving as a medium for ritual and religious expression, and as a channel for spiritual release.
Analisis Bentuk dan Makna Lirik Lagu Kekuatan Serta Penghiburan Karya Caroline Sandell Berg Sormin, Regen Aprianto; Pasaribu, Rianti Mardalena; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.13673

Abstract

AbastrakArtikel ini meninjau karya lagu berjudul Kekuatan serta Penghiburan dari dimensi musikologis pada unsur musiknya serta turut menyentuh wilayah linguistik pada tahapan peninjauan terhadap lirik lagunya. Penulis melibatkan analisis struktural untuk mengetahui bentuk lagu yang digunakan oleh sang penggubah karya, begitu juga melibatkan kaca mata linguistik yakni semiotika untuk membedah makna yang terkandung dalam lagu Kekuatan serta Penghiburan yang diciptakan oleh Caroline Sandel Berg. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan langkah pengumpulan data meliputi studi pustaka, studi lapangan, dokumenasi, wawancara, analisis skor, dan interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian, lagu Kekuatan serta Penghiburan yang dianalisis menggunakan bentuk three part song form. Hasil telaah semiotika menunjukan bahwa lagu ini bermakna sebagai pelipur lara bagi umat yang sedang berduka. Selain itu, lagu ini turut mengajak umat-Nya untuk percaya bahwa sukacita akan datang setelah duka cita berlalu.Kata kunci: Analisis Bentuk, Kekuatan serta Peghiburan, Musikologi, SemiotikaAnalysis of Form and Meaning of Song Lyrics ‘Kekuatan Serta Penghiburan’ by Caroline Sandell BergThis article analyses the song "Kekuatan serta Penghiburan" (Strength and Comfort) from a musicological perspective. The author employs structural analysis to determine the song form used by the composer, Caroline Sandell Berg. Additionally, a semiotic lens is applied to delve into the meaning embedded within this hymn. This research utilizes a qualitative descriptive approach, with data collection methods including literature review, field study, documentation, interviews, score analysis, and data interpretation. Based on the research findings, "Kekuatan serta Penghiburan" is structured in a three-part song form. Semiotic analysis reveals that the song serves as a source of solace for those who are grieving. Furthermore, it encourages listeners to believe in the promise of joy following sorrow.Keywords: Form analysis, Kekuatan serta Penghiburan, Musicology, Semiotics  
Workaholic sebagai Inspirasi Penciptaan Skenario Film Pendek Haru Biru Zuhri, Wan Luthfia Nur; Yuliadi, Koes; Dhani, Kurnia Rahmad
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12533

Abstract

Haru Biru adalah karya naskah skenario yang diangkat dari fenomena orang-orang workaholic. Workaholisme sebagai sumber ide penciptaan karya diangkat berdasarkan semakin banyaknya orang yang gila kerja hingga mengabaikan kehidupan dan kesehatan pribadi maupun kehidupa sosialnya. Penulisan naskah skenario ini menggunakan pendekatan struktur tiga babak sebagai kerangka teoritik dalam pengembangan narasi. Naskah ini bercerita tentang tokoh bernama Biru yang gila kerja hingga jatuh sakit dan tidak dapat melanjutkan karirnya, hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri karena depresi. Proses penulisan ini menghasilkan satu naskah film pendek lengkap yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk film pendek yang terdiri dari total 15 scene dengan 8 halaman dengan durasi 15 menit. Workaholic as Inspiration for Creating the Scenario for the Short Film Haru BiruHaru Biru is a screenplay that explores the phenomenon of workaholism. The story is inspired by the increasing number of people obsessed with work that neglect their personal and social lives. The screenplay uses a three-act structure as a theoretical framework for narrative development. The script tells the story of a character named Biru, who is a workaholic and eventually falls ill and is unable to continue his career, leading him to choose suicide due to depression. The writing resulted in 15 scenes and an eight-page script, then adapted into a 15-minute short film.
Fungsi Tari Gunungsari Kalibagoran di Masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas Suryaningsih, Suryaningsih; Winahyuningsih, M. Heni; Anggraeni, Agustin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13660

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan fungsi tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Tari Gunungsari Kalibagoran adalah tari tradisional tunggal putri gaya banyumasan. Penelitian terkait fungsi tari ini mencakup tiga elemen pokok yakni objek tari Gunungsari Kalibagoran, masyarakat Kalibagor, dan teori fungsi. Persoalan fungsi diselesaikan dengan teori Robert K. Merton yang menyatakan fungsi ke dalam dua kategori yaitu fungsi manifest yakni akibat atau konsekuensi positif yang tampak dan fungsi latent yakni akibat atau konsekuensi positif yang tersembunyi. Fungsi latent walaupun tersembunyi namun terus mengikuti dan suatu saat dapat muncul dan menjadi penjaga keutuhan dalam suatu masyarakat. Merton tidak menyebutkan secara spesifik fungsi tari, maka dalam penelitian ini teori fungsi Merton dibantu oleh konsep Kraus untuk memudahkan kategorisasi fungsi tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi manifest dalam tari Gunungsari Kalibagoran ialah bentuk tarinya, berfungsi sebagai hiburan, dan berfungsi sebagai pekerjaan. Fungsi latent atau fungsi yang tersembunyi dalam tari tersebut yakni fungsi konseptual (nilai sosial, nilai historis, nilai kesuburan, dan nilai estetis), fungsi kontinyuitas atau keberlangsungan tari, fungsi pemelihara sistem kelas sosial, serta fungsi penguat identitas bagi masyarakat Banyumas.The Function of the Gunungsari Kalibagoran Dance in the Community of Kalibagor Village, Kalibagor District, Banyumas RegencyThis article describes the functions of the Gunungsari Kalibagoran dance within the community of Kalibagor Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency. The Gunungsari Kalibagoran dance is a traditional solo female dance in the Banyumasan style. The research on the functions of this dance encompasses three key elements: the dance as an object, the Kalibagor community, and functional theory. The issue of function is analyzed using Robert K. Merton's theory, which categorizes functions into two types: manifest functions, which are visible positive outcomes, and latent functions, which are hidden positive outcomes. Latent functions, although concealed, persist and may emerge to serve as a unifying force within society. Since Merton does not explicitly address dance functions, this research integrates Merton's functional theory with Kraus's concepts to categorize dance functions. The findings reveal that the manifest functions of the Gunungsari Kalibagoran dance include its form, its role as entertainment, and its economic function as a livelihood. The latent functions of the dance include conceptual functions (social, historical, fertility, and aesthetic values), the continuity of the dance tradition, its role in maintaining the social class system, and its reinforcement of Banyumas's communal identity.