cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 186 Documents
MUSIKALITAS SRANDUL SEBAGAI IDE KOMPOSISI KARAWITAN GADUL DULUK Ngatmin, Ngatmin; Suneko, Anon; Ardana, I Ketut
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10719

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengolah musikalitas yang ada pada kesenian srandul yang dimana menggambarkan tokoh  Si Dadungawuk melalui sebuah gadangan yang diwujudkan melalui karya komposisi karawitan “Gadul Duluk”. Untuk itu, guna dapat mewujudkannya maka dalam mengolah musikalitas tersebut,menggunakan medium tradisi dan ideom baru. Selain itu, dalam penelitiannya menggunakan metode Practice as Research through Performance (Praktik sebagai penelitian dalam pertunjukan) dan menggunakan pendekatan studi kasus. Kemudian, tahapan perwujudan karya komposisi karawitan yang terbagi dalam pra garap (observasi, studi pustaka, analisis sumber terkait, wawancara, diskografi, konteks musikal), garap (instrumen musikal, tafsir garap, presentasi musikal), dan pasca garap. Proses penggambaran sebuah tokoh si DadungAwuk dapat diwujudkan melalui musikalitas yang ada pada kesenian srandul yaitu gadangan. Gadangan merupakan sebuah parikan jawa atau pantun jawa yang memiliki fungsi untuk menggambarkan, menjelaskan, mengatur dalam sebuah sajian kesenian srandul tersebut. Ada 3 jenis gadangan yang khas dan hanya ditemui pada kesenian srandul. Adapun informasi tersebut diperoleh dari hasil wawancara, serta dengan melihat langsung kesenian srandul ketika dipentaskan. Adapun manfaat dari proses penelitian ini adalah memperkenalkan sebuah kesenian tradisional kepada khalayak umum yang ada disekitar penulis. Hasilnya, proses penggambaran tokoh Si DadungAwuk dapat dilakukan melalui gadangan-gadangan yang kemudian diolah kembali sesuai dengan kebutuhan menggunakan  pendekatan konsep garap yaitu prabot garap (teknik, pola, irama, laras, pathet, konversi, dan dinamik). SRANDUL'S MUSICUALITY AS A GADUL DULUK KARAWITAN COMPOSITION IDEASThe purpose of this research is to process the existing musicality in srandul art which describes the character of Si Dadungawuk through a gadangan that is realized through the musical composition work "Gadul Duluk". For this reason, in order to realize it, in processing the musicality, using the medium of tradition and new ideas. In addition, the research uses the Practice as Research through Performance method and uses a case study approach. Then, the stages of realization of the musical composition work are divided into pre-work (observation, literature study, analysis of related sources, interviews, discography, musical context), work (musical instruments, interpretation of work, musical presentation), and post-work. The process of depicting a character of DadungAwuk can be realized through the musicality in srandul art, namely gadangan. Gadangan is a Javanese parikan or Javanese rhyme that has a function to describe, explain, and organize in a srandul art performance. There are 3 types of gadangan that are unique and only found in srandul art. The information was obtained from interviews, as well as by seeing srandul art directly when it was performed. The benefit of this research process is to introduce a traditional art to the general public around the author. As a result, the process of depicting the character of Si DadungAwuk can be done through gadangan-gadan.
“UNGKAP RASA” Komposisi Paduan Suara Dengan Gaya Resitatif Rahman, Fauzan Nur; Christinus, Kristiyanto; Suprayitno, Joko
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10419

Abstract

“Ungkap Rasa” adalah sebuah komposisi yang bersumber dari teks berisi ungkapan sebuah rasa di hati atau disebut curahan isi hati. Komposisi ini dibuat menggunakan konsep gaya resitatif, dengan format paduan suara. Penelitian ini bermaksud untuk mentransformasikan teks berisi curahan isi hati melalui medium bunyi menggunakan konsep gaya resitatif ke dalam karya “Ungkap Rasa”, dan mengetahui cara implementasi gaya resitatif ke dalam format paduan suara. Metode yang dilakukan penulis dalam proses penciptaan karya ini adalah tahap persiapan, perumusan ide penciptaan, penyusunan konsep, tahap observasi, tahap eksplorasi, evaluasi dan finishing. Penelitian ini menunjukan bahwa proses yang dilakukan untuk mentransformasi teks curahan isi hati ke dalam medium bunyi menggunakan konsep gaya resitatif adalah dengan mengeksplorasi hubungan antara kata dan unsur musik seperti intonasi dengan mempertimbangkan serta menyesuaikan penekanan kata atau kalimat. Salah satu cara implementasi gaya resitatif yang digunakan ke dalam format paduan suara adalah dengan eksplorasi penggunaan nonsense syllables atau kata – kata yang tidak masuk akal atau tanpa makna.Kata kunci: resitatif, paduan suara, transformasi, nonsense syllables"UNGKAP RASA" Choral Composition with Recitative StyleABSTRACT "Ungkap Rasa" is a composition that comes from a text containing the expression of a feeling in the heart or called the outpouring of the heart. This composition is made using the concept of recitative style, with a choir format. This research intends to transform the text containing the outpouring of the heart through the medium of sound using the concept of recitative style into the work "Ungkap Rasa", and find out how to implement the recitative style into the choir format. The method used by the author in the process of creating this work is the preparation stage, formulation of the idea of creation, conceptualization, observation stage, exploration stage, evaluation and finishing. This research shows that the process of transforming the heartfelt text into the medium of sound using the concept of recitative style is to explore the relationship between words and musical elements such as intonation by considering and adjusting the emphasis of words or sentences. One way of implementing the recitative style used into the choral format is by exploring the use of nonsense syllables or words that do not make sense or without meaning.Keywords: recitative, Choir, transformation, nonsense syllables
Warming Up Dan Pelatihan Pola Ritme Sebagai Upaya Meningkatkan Ketrampilan Bermain Instrumen Perkusi Pada Kelompok Drum Ban Di SD Bantul Warung Jontro Perta Ginting
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai proses warming up dan pelatihan pola ritme pada kelompok drum band di SD Bantul Warung. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh siswa yang mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan kekuatan pukulan antara tangan kanan dan tangan kiri. Hal tersebut menjadi daya tarik dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses warming up dan latihan pola ritme dalam meningkatkan keterampilan bermain instrumen perkusi pada kelompok drum band di SD Bantul Warung. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini melibatkan 4 siswa bass drum, 6 siswa snare drum, 1 siswa tom-tom dan 6 siswa glockenspiel. Batasan masalah dalam penelitian ini hanya terfokus untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam bermain instrumen perkusi. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warming up dan pelatihan pola ritme dapat dijadikan sebagai upaya menyelesaikan permasalahan keseimbangan tangan kanan dan tangan kiri pada pemain instrumen perkusi.
Cengkok Sindhenan Pada Parikan Karawitan Tari Topeng Lengger Wonosobo Versi Ngadini Grup Sinar Budaya Klowoh Wonosobo Mellinia Nurlaela Milinium; Sutrisni Sutrisni; Bayu Wijayanto
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi berjudul “Cengkok Sindhenan Pada Parikan Karawitan Tari Topeng Lengger Wonosobo Versi Ngadini Grup Sinar Budaya Klowoh Wonosobo”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk penyajian parikan dengan garap sindhenan dan mengetahui cengkok sindhenan parikan pada iringan karawitan Tari Topeng Lengger Wonosobo versi Ngadini. Ngadini adalah sindhen Tari Lengger yang senior dan masih aktif sering pentas dengan Grup kesenian Tari Lengger yang berada di Wonosobo maupun luar wilayah Wonosobo.Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dan menggunakan metode kualitatif dengan mengacu pada wawancara, observasi, diskografi dan studi pustaka. Analisis terfokus pada tekstual lagu dan cakepan dalam konteks pertunjukan lengger untuk mengidentifikasi ciri-ciri dan pola yang khas sebagai gaya penyajian parikan.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa cengkok sindhenan pada parikan krawitan Tari Topeng Lengger Wonosobo versi Ngadini. Cengkok Ngadini terkesan lugu lebih banyak menggunakan gregel atau akseuntasi, hal ini merupakan ciri khas sindhenan Ngadini yang dipertegas dengan dialek parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. Ngadini sering menambahkan wangsalan maupun abon-abon, hal ini dimaksudkan agar sindhenan terkesan tidak monoton. Cengkok Sindhenan On Parikan Karawitan Lengger Mask Dance Wonosobo Version Of Ngadini Klowoh Cultural Light Group WonosoboThe thesis entitled “Cengkok Sindhenan on Parikan Karawitan, Lengger Wonosobo Mask Dance, Ngadini Version of the Sinar Budaya Klowoh Group, Wonosobo”. This study aims to find out how the parikan is presented by working on sindhenan and knowing the crooked sindhenan parikan in the karawitan accompaniment of Ngadini's version of the Mask Lengger Wonosobo dance. Ngadini is a senior Lengger dance singer who is still active and often performs with the Lengger dance art group in Wonosobo and outside the Wonosobo area.This research is descriptive analysis in nature and uses qualitative methods with reference to interviews, observation, discography and literature study. The analysis focuses on the textual song and cakepan in the context of the lengger performance to identify the distinctive features and patterns as the style of parikan presentation.The results of this study indicate that the crooked sindhenan of the Ngadini version of the Krawitan Mask Dance Lengger Wonosobo parikan. Cengkok Ngadini seems naïve to use more gregel or accents, this is a characteristic of Ngadini's sindhenan which is emphasized by the parikan dialect of the Wonosobo Lengger Mask Dance. Ngadini often adds wangsalan or shredded floss, this is so that sindhenan doesn't seem monotonous.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NASKAH DRAMA UTANG KARYA SANTO ANGSA Biantono, Alexsander Johan Chris; Iswantara, Nur; Octavianingrum, Dilla
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10573

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter pada naskah drama Utang karya Santo Angsa. Pendidikan karakter menjadi pembelajaran penting dalam mengembangkan potensi dan penanaman akhlak pada peserta didik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal mendasar yang harus dimiliki setiap insan dalam menumbuhkan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui pembiasaan atas hal-hal baik yang diajarkan dari kecil oleh orang tua, tenaga pengajar, maupun pengalaman yang dialami. Pengalaman terhadap hal-hal yang dilihat dan dirasakan dari suatu peristiwa pergelaran hiburan juga dapat menjadi rangsangan individu untuk dapat menghayatinya sebagai perenungan dalam diri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui teknik analisis struktural dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan teknik baca-catat dan analisis isi. Metode ini memberikan fokus penelitian pada penafsiran isi pesan yang terkandung dalam naskah drama Utang karya Santo Angsa. Naskah drama Utang karya Santo Angsa memiliki nilai-nilai pendidikan karakter jujur, religius, toleransi dan kerja keras. Oleh karena itu Naskah drama Utang dapat dipilih menjadi bahan ajaran yang positif bagi kehidupan sehari-hari. Kata kunci: nilai pendidikan karakter, naskah drama, utang, deskriptifThis study aims to determine the values of character education in the drama script Debt by Santo Angsa. Character education becomes important learning in developing potential and inculcating morals in students. Thus it can be said that education is a fundamental thing that must be owned by every human being in growing character. The values of character education can be instilled through habituation of good things taught from childhood by parents, teaching staff, and experiences. Experience of things that are seen and felt from an entertainment performance event can also be an individual stimulus to be able to live it as a self-reflection. The research method used is qualitative research. Data obtained through structural analysis techniques and interviews. The data obtained were then analyzed using note-taking and content analysis techniques. This method provides a research focus on the interpretation of the message contained in the play Debt by Santo Angsa. The drama script Debt by Santo Angsa has character education values of honesty, religion, tolerance and hard work. Therefore, the drama script Debt can be chosen as positive teaching material for everyday life.Keywords: value of character education, dramatic script, utang, descriptive
Penyajian Iringan Wayang Othok Obrol Lakon Prasetya Adipati Karno oleh Ki Subandi dalam Pakeliran Gaya Kedu Selokromo Utari, Puput Sri; Suhardjono, Suhardjono; Sutrisni, Sutrisni
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10722

Abstract

Penelitian ini berjudul “Penyajian Iringan Wayang Othok Obrol Lakon Prasetya Adipati Karno oleh Ki Subandi dalam Pakeliran Gaya Kedu Selokromo”. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan struktur garap dalam karawitan iringan Wayang Othok Obrol. Fokus pembahasan penelitian meliputi bentuk dan fungsi gending, struktur adegan dan sajian gending, serta garap penyajian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wayang Othok Obrol merupakan bentuk pertunjukan wayang kulit yang termasuk dalam jenis pakeliran padat. Pertunjukan Wayang Othok Obrol lakon Prasetya Adipati Karno terbagi menjadi tiga (3) bentuk adegan yang terdiri dari jejer, adegan, dan strat. Iringan yang digunakan memiliki bentuk gending yang berbeda dengan bentuk gending pada umumnya. Hal tersebut terlihat dari tabuhan kolotomik yang terdiri dari ketuk, kenong, dan kempul. Iringan Wayang Othok Obrol terdiri dari gending khusus dan lagu glenukan. Gending khusus merupakan gending yang sudah dibakukan untuk mengiringi pertunjukannya. Gending tersebut terdiri dari Ayak obrol, Srepeg obrol, gending Kasatriyan dan Sampak titir. Adapun Glenukan merupakan bentuk iringan yang berfungsi sebagai pembentuk suasana adegan dalam pertunjukan Wayang Othok Obrol.Presentation of the Wayang Othok Obrol Accompaniment of the Prasetya Adipati Karno play by Ki Subandi in the Kedu Selokromo Style PakeliranThis study is entitled "Presentation of the Othok Obrol Wayang Accompaniment of the Prasetya Adipati Karno Play by Ki Subandi in the Kedu Selokromo Style Pakeliran". The purpose of this research is to describe the form and structure of the work on the musical accompaniment of Wayang Othok Obrol. The focus of the research discussion includes the form and function of the piece, the structure of the scene and presentation of the piece, as well as the work on the presentation. The research method used in this research is descriptive analysis method, which is carried out by means of literature studies, interviews, observation, and documentation. Wayang Othok Obrol is a form of wayang kulit performance which is included in the solid type of puppetry. The performance of the Wayang Othok Obrol play by Prasetya Adipati Karno is divided into three (3) forms of scenes consisting of sequences, scenes and strat. The accompaniment used has a form that is different from the form of music in general. This can be seen from the colotomic wasp which consists of tap, kenong, and kempul. The accompaniment of the Wayang Othok Obrol consists of special renditions and glenukan songs. Special gending is a gending that has been standardized to accompany the performance. The pieces consist of Ayak obrol, Srepeg obrol, Kasatriyan and Sampak titir songs. The Glenukan is a form of accompaniment that functions as a setting for the atmosphere of the scene in the Wayang Othok Obrol performance.
Metode Pembelajaran Tari Burung di Sanggar Wiraga Apuletan Yogyakarta Ardini Rulzanifa Hasibuan; Gandung Djatmiko; Sarjiwo Sarjiwo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode pembelajaran adalah sebuah proses sistematis dan teratur. Metode pembelajaran adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pembelajaran yang digunakan di Sanggar Wiraga Apuletan Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah pendiri sanggar, pengajar, pencipta iringan, peserta didik, dan orangtua peserta didik. Objek penelitian ini adalah tari Burung. Latar pada penelitian ini adalah Sanggar Wiraga Apuletan Yogyakarta. Teknik validasi data menggunakan triangulasi Teknik, sumber, dan waktu. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa proses pembelajaran tari Burung di Sanggar Wiraga Apuletan menggunakan 5 metode, (1) Ceramah (2) Latihan (3) Demonstrasi (4) Imitasi (5) Penugasan. Penggunaan metode tersebut sangat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran, karena peserta didik dapat memahami dengan cepat serta dapat menarikan tarian dengan baik.Kata kunci: Metode Pembelajaran, Tari Burung, Sanggar Wiraga Apuletan, Pembelajaran TariThe Learning Method of Burung Dance at The Wiraga Apuletan Studio YogyakartaThe learning method is a systematic and orderly process. The learning method are one of the most crucial elements in the success of a learning process. This research is intended to describe the learning method used in the Wiraga Apuletan Studio Yogyakarta. This research is descriptive research. Data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. The subjects of this study were the founders of the studios, teachers, accompaniment creators, students, and parents of students. Data validation techniques using triangulation techniques, sources, and time. Data analysis techniques consist of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study concluded that the Burung Dance at the Wiraga Apuletan Studio used 5 methods, (1) Lectures (2) Exercises (3) Demonstrations (4) Imitation (5) Assignments. The use of this method really helps students in the learning process, because students can understand quickly and can dance well.Keywords: Learning Methods, Burung Dance, Wiraga Apuletan, Studio Yogyakarta, Dance Learning
Aplikasi Reduksi Dalam Aransemen Untuk Combo Band Pada Karya “Ride of the Valkyries” Ciptaan Richard Wagner Rivaldi, Fandy Septiawan; Prasetyo, R Agoeng; Prakosa, Mardian Bagus
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12050

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aplikasi reduksi dalam proses aransemen; dan memaparkan aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan agar dapat dikembangkan dalam proses aransemen karya, reduksi dilakukan untuk meringkas format orkestra dari karya “Ride of the Valkyries” milik Richard Wagner ke dalam format combo band. Pada umumnya, reduksi sering diaplikasikan untuk “meringkas” iringan dalam sebuah komposisi, penggunaannya secara umum diaplikasikan pada karya format besar (orkestra) yang ditujukan ke dalam format yang lebih kecil (chamber, duo, dll.). Namun dalam penelitian ini, peneliti memilih aplikasi reduksi dalam aransemen untuk format combo band. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dalam hal ini, aplikasi reduksi dalam aransemen karya “Ride of the Valkyries” dengan format orkestra menuju format combo band merupakan kasus diteliti. Hasil dari penelitian ini menunjukkan reduksi berfokus mencari gagasan ide pokok karya; Pengembangan dalam proses aransemen melibatkan penggunaan mixed meter, re-harmonisasi, dan pengembangan motif; Aransemen disusun dalam style Funk Progressive Rock dengan tujuan menghadirkan keakraban suara yang relevan untuk pendengar era digital. Penulis menggunakan beberapa pedoman dalam mengumpulkan data seperti penelusuran situs-situs internet terkait informasi reduksi, informasi karya dan komposer, juga buku yang berhubungan dengan komposisi dan aransemen. Aplikasi reduksi dalam aransemen diawali dengan analisis karya dan mengumpulkan pengetahuan meliputi pendekatan reduksi untuk mengambil material-material yang diolah pada proses aransemen dengan pengembanganide ‘transformasi’ ke dalam format combo band, aransemen dipimpin oleh gitar elektrik. Proses ini mendukung aplikasi reduksi karya “Ride of the Valkyries” dari format orkestra ke dalam format combo band sehingga dalam aransemen gagasan ide pokok dari Richard Wagner dalam karya tetap hadir.
“MOONG MILIH” MONGGANG SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KOMPOSISI KARAWITAN Reinardus Banyu Tegar; Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Marsudi Marsudi
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monggang merupakan salah satu gending pakurmatan yang disajikan dalam upacara atau ritual tertentu. Salah satu kegunaan pada sajian gending monggang digunakan untuk penobatan raja, kematian raja, kedatangan tamu penting dan masih banyak lainya. Pada penyajiannya, gending monggang disajikan dengan irama lancar dan irama dadi. Nada yang dimiliki gamelan monggang berjumlah tida dengan laras slendro kagok.Konsep penciptaan karya komposisi karawitan MOONG MILIH  terinspirasi dari salah satu gending pakurmatan yaitu gending monggang. Gending monggang memiliki ciri khas atau keunikan yaitu hanya menggunakan tiga nada dalam sajian komposisinya. Karakter yang keras dan monoton pada gending monggang menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis untuk mengembangkan dan mengeksplor pada proses penciptaan karya komposisi monggang. Karakter musikal gamelan monggang yang sora atau keras kemudian dipresentasikan ke dalam sebuah komposisi karawitan.Penciptaan terdiri dari tiga tahapan, yaitu pra garap yang terdiri dari studi pustaka, wawancara, dan diskografi. Tahap kedua yaitu garap yang terdiri dari rangsangan awal, pemunculan ide, tafsir garap, instrumensasi, eksplorasi, dan presentasi musikal. Tahapan yang ketiga yaitu pasca garap. Hasil dari penciptaan ini  yaitu mewujudkan komposisi karawitan yang terinspirasi dari unsur musikal monggang khususnya pada upacara kematian. “MOONG MILIH” MONGGANG AS A COMPOSITION CREATING IDEAS KARAWITANMonggang is one of the pekarmatan pieces which is presented in certain ceremonies or rituals. One of the uses of the gending monggang dish is used for the coronation of kings, the death of kings, the arrival of important guests and many others. At the presentation, gending monggang is presented with smooth rhythms and dadi rhythms. The tone of the gamelan monggang is different from the slendro cagok tunings.The concept of creating the MOONG MILIH karawitan composition was inspired by one of the Pakurmatan pieces, namely the Monggang piece. Gending monggang has a characteristic or uniqueness, namely that it only uses three tones in its composition. The harsh and monotonous character of the Monggang gending is the main attraction for the writer to develop and explore the process of creating monggang compositions. The musical character of the loud or sora monggang gamelan is then presented in a karawitan composition.Creation consists of three stages, namely pre-work which consists of literature study, interviews, and discography. The second stage is working on which consists of initial stimulation, idea generation, interpretation of work on, instrumentation, exploration, and musical presentation. The third stage is post-cultivation. The result of this creation is to create karawitan compositions that are inspired by the musical elements of monggang, especially at funerals.
Metode Pembelajaran Tutor Sebaya pada Section Color Guard di UKM Marching Band Mangemba, Moh Yudha; Probosini, Agustina Ratri; Simamora, Roy Martin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10538

Abstract

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Drum Corps Saraswati merupakan UKM marching band yang dimiliki oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan section color guard merupakan salah satu divisi di marching band tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran tutor sebaya pada section color guard di UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, dengan objek penelitian penerapan metode pembelajaran tutor sebaya pada section color guard di UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta, juga subjek penelitian ini ialah pelatih section color guard, kelompok ahli, dan kelompok anggota. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dengan beberapa narasumber, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif yang disajikan dengan teks bersifat naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran tutor sebaya pada section color guard di UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta berjalan, namun terdapat beberapa langkah yang dilewatkan oleh pelatih seperti tidak diberikannya konsep garapan secara utuh dan permasalahan terkait penguasaan materi dasar, untuk itu dibutuhkannya pemberian materi dasar yang menyeluruh dengan menggunakan penerapan metode pembelajaran khususnya untuk anggota. The Drum Corps Saraswati Student Activity Unit (UKM) is a marching band UKM owned by the Yogyakarta Art Institute and the color guard section is one of the divisions in the marching band. This study aims to describe the application of the peer tutoring method to the color guard section at UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta. This study uses a qualitative approach with a case study type of research, with the research object of applying the peer tutor learning method to the color guard section at UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta, also the subjects of this research are section color guard trainers, expert groups, and member groups. Data was collected through observation techniques, interviews with several sources, and documentation. Data analysis used qualitative analysis presented in narrative text. The results showed that the application of the peer tutor learning method to the color guard section at UKM Drum Corps Saraswati ISI Yogyakarta was running, but there were several steps that were missed by the trainers such as not giving the complete concept of work and problems related to mastery of basic material, for this reason it is necessary to provide comprehensive basic material using the application of learning methods especially for members.

Page 2 of 19 | Total Record : 186