cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 186 Documents
Interkultural dalam Pertunjukan Teater Tubuh Ketiga Sutradara Yudi Ahmad Tajudin, & Teater Garasi Yogyakarta Arhan, Zaki Daris; Lephen, Purwanto; Sahid, Nur
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10711

Abstract

Pertunjukan Tubuh Ketiga oleh Teater Garasi Yogyakarta dipentaskan di Yogyakarta dan Jakarta, Indonesia. Pertunjukan Tubuh Ketiga diproses melalui riset di Indramayu, Jawa Barat.  Pada Tubuh Ketiga memuat proses interkultural antara modern-tradisi, lokal-global, hingga sakral profan. Kajian interkultural berkaitan fenomena sosial-budaya juga ekonomi yang menimbulkan masalah sosial di dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur teater dan hubungan pertunjukan Tubuh Ketiga karya sutradara Yudi Ahmad Tajudin Teater Garasi Yogyakarta dengan kondisi sosial masyarakatnya. Pertunjukan Tubuh Ketiga merupakan bentuk interkultur yang ada dalam masyarakat berwujud karya seni yang bersifat elaborasi tanpa menggerus sosial yang ada dalam masyarakatnya. Pertunjukan Tubuh Ketiga sebagai metafora yang menangkap fenomena sosial masyarakat Indramayu yang saling menguatkan dan menjaga keberadaannya. Hanya, kajian interkultural belum dapat menganalisis kontribusi ekonomi dari buruh migran, petani, buruh industry, hingga pekerja kreatif atau pekerja bebas terhadap penguatan Tarling-Dangdut sebagai produk interkultural.Interculturalism in Theater Performance of Tubuh Ketiga Directed by Yudi Ahmad Tajudin & Teater Garasi, YogyakartaThe Third Body performance by Teater Garasi Yogyakarta was staged in Yogyakarta and Jakarta, Indonesia. The Third Body performance was processed through research in Indramayu, West Java.  The Third Body contains intercultural processes between modern and tradition, local and global, to the profane sacred. Intercultural studies are related to socio-cultural and economic phenomena that cause social problems in society. This study aims to analyze the elements of theater and the relationship between the performance of the Third Body by director Yudi Ahmad Tajudin Teater Garasi Yogyakarta and its community's social conditions. Third Body performance is a form of intercultural that exists in society in the form of works of art that are elaborations without eroding the social that exists in the community. The Third Body performance as a metaphor that captures the social phenomenon of the Indramayu community that strengthens each other and maintains their existence. However, intercultural studies have not been able to analyze the economic contribution of migrant workers, farmers, industrial workers, creative workers, or free workers to the strengthening of Tarling-Dangdut as an intercultural product.
Pemanfaatan Aplikasi Zoom meeting Sebagai Media Pelatihan Paduan Suara Secara Daring Di Capriccioso Children Choir Lippo Karawaci Tangerang Anastasya Wilma Lilipory; Suryati Suryati; Reza Ginandha Sakti
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pelatihan paduan suara mengalami tantangan ketika diberlakukannya   PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk menekan angka kenaikan covid dimasa pandemik covid-19. Agar proses pelatihan tetap terselenggara,   maka seluruh proses yang biasanya dilakukan secara luring berpindah secara daring. Capriccisso Children Choir yang merupakan paduan suara anak yang terletak di Lippo Karawaci, Tangerang juga terkena dampak yang sama. Wadah yang dipilih Capriccioso Children Choir sebagai media pelatihan yaitu aplikasi Zoom Meeting. Aplikasi zoom meeting digunakan sebagai media pelatihan dikarenakan terdapat fiur-fitur yang dapat mendukung proses pelatihan.  Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan proses pelatihan paduan suara dengan menggunakan zoom meeting serta  menganalisis hasil yang didapat pada pelatihan  pelatihannya.  Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan objek penelitian Capriccioso Children Choir dan sampel penelitian yaitu salah satu kelas pada paduan suara ini yaitu kelas bluebird yang beranggotakan anak dengan usia 6-9 tahun. Hasil dari penelitian ini yaitu   pelatih dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan materi pelatihan. Penyampaian materi yang dilatih seperti Sikap Badan, Teknik Vokal Dasar, Materi Lagu dan Materi Teori Musik Dasar, memanfaatkan berbagai fitur yang ada pada zoom meeting  seperti, share screen, share sound dan Breakout Room. Kreatifitas pelatih ditunjukan dengan memaksimalkan fitur-fitur yang tesedia pada zoom meeting  untuk menyampaikan materi pelatihan. Zoom Meeting Application Utilization as Online Choir Training Media at Capriccioso Children Choir Lippo Karawaci TangerangThe choir training process experienced challenges when the PPKM (Enforcement of Restrictions on Community Activities) was enforced to reduce the number of covid increases during the covid-19 pandemic. In order for the training process to continue, all processes that are usually carried out offline are moved online. Capriccisso Children Choir, a children's choir located in Lippo Karawaci, Tangerang, was also affected. The container chosen by Capriccioso Children Choir as a training medium is the Zoom Meeting application. The zoom meeting application is used as a training medium because there are features that can support the training process.  The purpose of this research was conducted to describe the choir training process using zoom meeting  and analyze the results obtained in the training training.  The method used in this research is a qualitative method with the object of research Capriccioso Children Choir and the research sampel is one of the classes in this choir, namely the bluebird class consisting of children aged 6-9 years. The results of this study are that trainers are required to be creative in delivering training materials. The delivery of training materials such as Body Attitude, Basic Vocal Techniques, Song Material and Basic Music Theory Material, utilizes various features in zoom meeting  such as, share screen, share sound and Breakout Room. The creativity of the trainer is shown by maximizing the features available on zoom meeting  to deliver training material. 
Teknik Vocalizing untuk Meningkatkan Intonasi Bernyanyi Anak Usia 12 Tahun di GIA Puri Anjasmoro Semarang Lupita, Lupita; Ismudiati, Endang; Widodo, Tri Wahyu
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12077

Abstract

Vocalizing memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan olah vokal. Implementasi teknik vocalizing diperlukan bagi seseorang yang ingin memiliki suara merdu dan indah, terkhusus pada lingkup warga gereja yang tergabung dalam pelayan ibadah pujian dan penyembahan yan pemimpin pujian saat ibadah berlangsung. Penelitian ini berfokus mengidentifikasi proses penerapan teknik vocalizing untuk meningkatkan keterampilan intonasi vokal dan mendeskripsikan hasil penerapan teknik vocalizing pada intonasi vokal anak usia 12 tahun di GIA Puri Anjasmoro Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif pendekatan Tindakan Kelas Partisipan untuk mendalami proses penerapan vocalizing dalam meningkatkan intonasi bernyanyi anak usia 12 tahun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak dapat menggunakan pernapasan diafragma dengan baik dan benar, meningkatnya kemampuan intonasi anak dalam membedakan tinggi dan rendah nada dan menjaga stabilitas suara saat bernyanyi, mampu memanfaatkan ruang resonansi kepala secara optimal, artikulasi terdengar dengan jelas dan dapat menyanyikan lagu “Jawaban Hidupku'' dengan frase yang sempurna. Kelemahan pada penelitian ini adalah penelitian dilaksanakan dengan waktu yang terbatas sehingga hasil penerapan teknik vocalizing belum diterapkan secara maksimal. Kelebihan dari penelitian ini adalah dalam waktu yang terbatas, anak-anak dapat menyanyikan lagu “Jawaban Hidupku” dengan teknik vokal yang tepat. Penerapan vocalizing untuk meningkatkan kemampuan intonasi bernyanyi anak usia 12 tahun merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas suara anak dalam bernyanyi menjadi lebih baik.Vocalizing Technique to Improve Singing Intonation of 12-Year-Old Children at GIA Puri Anjasmoro SemarangVocalizing is linked to vocal exercises. Implementing vocalizing techniques is necessary for someone who wants a melodious and beautiful voice, especially for those serving in praise and worship who are the praise leaders during the service. This research focuses on identifying the process of applying vocalizing techniques to improve vocal intonation skills and describing the results on the vocal intonation of 12-year-old children at GIA Puri Anjasmoro Semarang. The method used in this research is qualitative with a Participatory Action Research approach to delve into applying vocalizing in improving the singing intonation of 12-year-old children. The results of this study show that children can use diaphragmatic breathing correctly, improve the ability to distinguish high and low tones and maintain the stability of the sound, able to utilize the resonance space optimally, clear articulation is heard and can sing the song “Jawaban Hidupku” with a perfect phrase. The weaknes of this study is that the research was conducted in a limited time, so the results of the application ov vocalizing techniques have not been maximally implemented. The advantage of his study is that in a limited time, children can sing the song “Jawaban Hidupku” with the correct vocal technique  The application of vocalizing to improve the intonation singing ability of 12-year-old children is one solution to improve the quality of children’s voices. 
PENERAPAN TEKNIK VOKAL BELTING PADA LAGU KISAH SEMPURNA KARYA MAHALINI RAHARJA Gustin Tri Midde Pardede; Agnes Tika Setiarini; Suryati Suryati
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknik vokal merupakan suatu cara untuk memproduksi suara yang baik dan efisien, sehingga suara yang keluar dapat terdengar dengan jelas, indah, merdu, nyaring dan tentu memiliki nilai teknik dalam bernyanyi. Beberapa macam teknik dasar vokal meliputi intonasi, resonansi, pernapasan, interpretasi, serta teknik pengembangan seperti head, cheest, mix voice, interpretasi, dinamika dan salah satunya teknik vokal belting. Teknik belting adalah cara memproduksi suara saat bernyanyi dengan resonansi yang tepat dan menghasilkan suara seperti berteriak dengan tegas dan lantang. Penerapan teknik belting pada lagu Kisah Sempurna termasuk cara yang tepat dan efektif dalam proses belajar atau mengembangkan teknik vokal yang baik. Keberhasilan lagu Kisah Sempurna sangat banyak diminati publik, terbukti dengan jumlah penayangan jutaan lebih di media sosial dan Mahalini berhasil mengeksekusi dengan teknik vokal yang tepat yang menjadi arahan bagi para penyanyi untuk dipelajari.Teori ini dapat menjadi landasan untuk mengetahui dan membentuk teknik vokal belting yang benar. Proses eksplorasi yang dilakukan dengan mencari referensi tentang vokal belting, melatih pernapasan hal yang paling utama, melatih resonansi yang diantaranya head, chest, dan mix voice juga mengetahui ciri dan karakterisitik belting untuk mendapatkan hasil power vokal yang maksimal. Kesimpulan yang dihasilkan, penerapan teknik vokal belting memiliki ketertarikan yang sangat efektif untuk menambah wawasan dalam bernyanyi, berbagai pengetahuan seperti latihan yang diperlukan, menguasai konsep teknik vokal belting, tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum melakukan teknik belting, dan memahami konsekuensi ketika tidak melakukan teknik vokal belting dengan baik dan benar.Kata Kunci: teknik vokal, belting, Kisah SempurnaApplication Of Vocal Belting Techniques To Songs Mahalini Raharja "Kisah Sempurna".Vocal technique is a way to produce  a good and efficient sound, so that the sound  that comes out  can  be heard  clearly, beautifully, melodiously, loudly and of course has the value of technique in singing. Some basic vocal techniques include intonation, resonance, breathing, interpretation, as well as development techniques such as head, cheest, mix voice, interpretation, dynamics and false the only vocal belting technique. The belting technique   is a way of producing sounds when singing with  the right  resonance and   producing  sounds such as shouting firmly and loudly. The application of   belting techniques to Kisah Sempurna songs is an appropriate  and effective  way  in  the process of learning  or  developing good  vocal    techniques.    The success of the   song  Kisah Sempurna  is in great   demand by the   public, as evidenced  by the   number  of views of  millions  more  on social media   and Mahalini  successfully  executing  with  the  technique of  proper   vocals  that become a   direction  for  the singers  to  learn.    This theory    can  be the   basis  for  knowing  and shaping  the correct  vocal  belting  technique.  Proses   exploration is done  by  finding  references  to    vocal belting, training   breathing the most important  thing, training  resonance  which includes head,  chest, and mix voice  also  knows   the characteristics   and characteristics of  belting  to  get maximum  vocal power results. In conclusion produced, the application of  vocal  belting  techniques  has  a very effective  interest in adding insight in singing, various knowledge  such as  necessary exercises, mastering  concepts  Vocal   belting technique, the stages performed  before performing the belting technique,  and understand the   consequences  when  not  performing    the vocal belting  technique properly and correctly.  Keywords: vocal technique, belting, Kisah Sempurna
PENGARUH RITMIS PADA GENRE PROGRESSIVE ROCK TERHADAP AKSI PANGGUNG: STUDI KASUS PADA PEMAIN BASS Tama, Rajasa Satria; Prasetyo, Agoeng; Prakosa, Mardian Bagus
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10357

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memahami hubungan ritme dan aksi panggung seorang bassis pada genre musik progressive rock. Pada umumnya aksi panggung merupakan aspek visual yang sangat diperhatikan dalam dunia pertunjukkan, bahkan aksi panggung ini menjadi bagian dari karakteristik musisi itu sendiri. Penelitian ini akan membahas lebih mendalam hal-hal yang berkaitan dengan respon seorang bassis progressive rock terhadap ritme musik yang dibawakannya ketika berada di atas panggung, dengan menggunakan metode kualitatif. Penulis melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang berpengalaman dan kompeten dibidang musik, melakukan observasi melalui media audio dan audiovisual, serta membaca berbagai artikel, buku, jurnal maupun media online sebagai referensi tambahan yang menguatkan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa aksi panggung pemain bass berhubungan dengan ritme. Pola-pola ritme ini direspon oleh tubuh dan menghasilkan gerakan mikro maupun makro yang berhubungan dengan aspek visual pada suatu pertunjukkan. Tingkat kesesuaian antara ritme dan aksi panggung mempengaruhi persepsi penonton terhadap makna lagu. Pola ritme yang kompleks pada progressive rock membuat pemain bass tidak banyak bergerak, hanya ekspresi dan gerak tubuh yang selaras dengan ritme yang menjadi aksi panggungnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ritme sangat mempengaruhi aksi panggung seorang pemain bass progressive rock. Pemain bass tidak bergerak sesukanya, tetapi bergerak karena mengikuti ritme musik sesuai pola ritme dari komposisinya. Respon pemain bass terhadap musik pada akhirnya memperjelas makna lagu, sehingga mengena pada emosi penonton.
Penerapan Metode Pembelajaran Pada Instrumen Keyboard Tingkat Dasar Di Sanggar Seni Notoyudan Bertus, Ane Yosephin; Pasaribu, Rianti Mardalena; Kaestri, Veronica Yoni
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10815

Abstract

Metode pembelajaran keyboard diartikan sebagai cara atau metode yang digunakan pengajar untuk mengajar memainkan keyboard pada peserta didik untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran keyboard di Sanggar Seni Notoyudan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif di mana peneliti sebagai instrumen kunci dalam pelaksanaan penelitian. Pengamatan dan pengumpulan data – data yang relevan membantu penulis dalam menjawab rumusan masalah. Pembelajaran keyboard tingkat dasar di Sanggar Seni Notoyudan menggunakan metode pembelajaran demonstrasi. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, peneliti melihat adanya kolaborasi mengenai penggunaan strategi pembelajaran langsung dengan metode demonstrasi dalam pembelajaran keyboard tingakt dasar di Sanggar Seni Notoyudan. Pembelajaran keyboard menggunakan metode demonstrasi memberikan dampak positif bagi peserta didik. Anak menjadi lebih mudah dalam menerima pembelajaran dan menjadi lebih berani memainkan keyboard dalam sebuah lagu.
“The Glasses of a Child”: Komposisi Musik Berdasarkan Interpretasi Novel “Di Tanah Lada” Dalam Format Choir Putri, Aghib; Laksono, Kardi; Sutaryo, Haris Natanael
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10340

Abstract

“The Glasses of a Child” merupakan alih wahana dari sebuah novel yang berjudul “Di Tanah Lada” dalam format choir yang dibuat menjadi 3 movement. Penelitianbermaksud untuk menginterpretasikan suasana dan emosi dari novel yang diangkat ke dalam 3 movement dengan sudut pandang atau kacamata anak kecil. Hal tersebut berhubungan dengan perkembangan dan pola pikir anak-anak yang di angkat dari kasus suasana dan emosi pada novel ‘Di Tanah Lada’. Metode yang dilakukan penulis dalam membuat karya ini yaitu ide penciptaan, proses observasi, konsep dan perancangan, struktur dasar, pembuatan lirik dan pembuatan notasi. Penelitian ini menunjukan bahwa suasana dan emosi dari sudut pandang anak kecil mulai dari cara berpikir dan emosinyabisa di implementasikan menggunakan body percussion, lirik menggunakan bahasa anak kecil yang masih polos serta sederhana, dinamika, tempo, tonalitas, ritmis dan scat-singing atau teriakan.Kata kunci: The Glasses of a Child, Alih wahana, Choir, Movement, Interpretasi, Implementasi"The Glasses of a Child" is an adaptation of a novel titled 'Di Tanah Lada' into a choir format, comprising three movements. The researcher intends to interpret the moods and emotions of the novel through the perspective or lens of a young child. This is related to the development and thought patterns of children, derived from the context of the moods and emotions in the novel 'Di Tanah Lada'. The methods employed by the author in creating this piece include idea generation, observation process, conceptualization and design, basic structure, lyric writing, and notation creation. This study demonstrates that the moods and emotions, as seen through the eyes of a child, can be implemented using body percussion, lyrics in a childlike and simple language, dynamics, tempo, tonality, rhythm, and scat-singing or shouts.Keywords: The Glasses of a Child, Choir, Movement, Interpretation, Implemented
"Vilde Chaya" Komposisi Musik Program Naratif Dari Interpretasi Buku "Where The Wild Things Are" Dalam Format String Orchestra Yosefina Prastari Kristianingrum; Kristiyanto Christinus; Joko Suprayitno
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini fokus pada buku cerita bergambar anak “Where the Wild Things Are” karya dari Maurice Sendak. Unsur yang hendak dikaji dari karya tersebut adalah sudut pandang Maurice Sendak terhadap anak kecil dan kisah masa kecil Maurice Sendak serta interpretasi penulis terhadap buku “Where The Wild Things Are”. Unsur tersebut ditransformasikan ke dalam karya musik program naratif berjudul “Vilde Chaya” dalam format string orchestra. Untuk dapat mentransformasikan unsur-unsur tersebut dalam karya musik, maka dilakukan langkah-langkah elaborasi dengan melakukan pengkajian buku “Where The Wild Things Are”, emosi anak, dan juga terhadap wawancara Maurice Sendak dengan beberapa sumber yang mengandung unsur kisah pendek masa kecilnya dengan sudut pandangnya terhadap anak-anak. Hasil pengkajian tersebut dimasukan ke dalam karya “Vilde Chaya” sebagai unsur ekstramusikal utama yang menopang keseluruhan bentuk komposisi “Vilde Chaya”.Kata kunci: Musik program, orkes gesek, vilde chaya, emosi anak, where the wild things areThis research is focused on a children’s picture book “Where The Wild Things Are” by Maurice Sendak. The elements studied from this piece are Maurice Sendak’s perspective towards children, Maurice Sendak’s childhood story as well as the writer’s interpretation towards the book “Where The Wild Things Are”. These elements are transformed into a work of music program titled “Vilde Chaya” in a form of string orchestra. In order to transformed those elements into a musical piece, an elaboration methode were carried out by conducting a study on the book “Where The Wild Things Are”, children’s emotion, and also on Maurice Sendak’s interviews with several sources which contain his short childhood stories with his perspective of the childlren itself. The result of this study are included in the work “Vilde Chaya” as the main extramusical elements that supports the entire composition of “Vilde Chaya”.Keywords: program music, string orchestra, vilde chaya, children's emotion, where the wild things are
PENCIPTAAN NASKAH DRAMA TIGA WANITA TERINSPIRASI DARI FENOMENA GENERASI SANDWICH Septiyani, Ivanka Yenny; Kuardhani, Hirwan; Arisona, Nanang
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10594

Abstract

Tiga Wanita adalah naskah lakon yang terinspirasi dari fenomena generasi sandwich. Penciptaan naskah lakon Tiga Wanita menggunakan teori dramaturgi. Kemudian didukung oleh teori dimensi karakter Lajos Egri dan teori struktur Kernodle. Penciptaan naskah lakon Tiga Wanita bertujuan untuk menghasilkan karya baru yang terinspirasi dari generasi sandwich. Penulis menggunakan metode Graham Wallas yang dimulai dengan mencari data-data serta informasi terkait generasi sandwich, pengolahan ide, membuat sinopsis, treatment, penulisan naskah lakon, reading, kemudian tahap pengujian dramatic reading sebelum penyempurnaan naskah.Hasilnya berupa naskah Tiga Wanita, mengisahkan tentang seorang wanita yang terkena dampak generasi sandwich. Menempatkan Lusi sebagai tokoh utama yang merupakan seorang wanita yang bekerja sebagai buruh pabrik harus menghidupi orang tua tunggal dan anak tunggalnya sendirian. Lusi juga korban pemerkosaan, kemudian anaknya dibully karena miskin. Melihat kesengsaraan dalam kehidupannya membuat Lusi gelap mata dan memilih untuk membunuh keluarganya dan dirinya sendiri. The Creation of the Drama Script Tiga Wanita Inspired by the Sandwich Generation PhenomenonTiga Wanita is a play script inspired by the sandwich generation phenomenon. The creation of the Three Women play script utilizes dramaturgy theory, supported by Lajos Egri's character dimension theory and Kernodle's structural theory. The creation of the Three Women play script aims to produce a new work inspired by the sandwich generation.The writer employs Graham Wallas' method, which begins by gathering data and information related to the sandwich generation, processing ideas, creating a synopsis, treatment, writing the play script, conducting readings, and then testing dramatic reading before refining the script.The result is the ‘Tiga Wanita’ script, which depicts the story of a woman affected by the sandwich generation. Lusi is portrayed as the main character, a factory worker who must support her elderly parents and her only child alone. Lusi is also a victim of rape, and her child is bullied due to their poverty. Witnessing the hardships in her life, Lusi becomes overwhelmed and chooses to kill her family and herself.
Garap Ricikan Gender Barung Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima Kendhangan Sarayuda Kusuma, Eka Julio Ferdian Adi; Raharja, Raharja; Suneko, Anon
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10669

Abstract

Gending Sawunggaling adalah gending yang terdapat dalam karawitan gaya Yogyakarta dan termasuk klasifikasi gending tengahan. Menurut penulis, Gending Sawunggaling adalah gending soran, sehingga penulis bertujuan untuk menyajikan Gending Sawunggaling dalam bentuk lirihan dan berfokus pada pembahasan garap ricikan gender barung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis yang mencakup analisis padhang ulihan dan pathet Gending Sawunggaling. Analisis garap Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima dilakukan menurut penafsiran penulis yang telah didiskusikan dengan narasumber. Setelah melakukan proses penafsiran cengkok gender terhadap notasi balungan Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima penulis menyimpulkan, bahwa garap gending tersebut terdapat sejumlah 15 cengkok genderan yang diterapkan. Adapun rinciannya, yaitu dualolo ageng, dualolo alit, rambatan, kuthuk kuning kempyung, jarik kawung, ora butuh, ela-elo, kuthuk kuning gembyang, tumurun ageng, nduduk alit, tuturan, puthut gelut, debyang-debyung, yo bapak, dan gantungan. Berpijak pada jenisnya, yaitu cengkok umum, cengkok khusus, cengkok tuturan, dan cengkok gantungan.Garap Ricikan Gender Barung Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima Kendhangan SarayudaGending Sawunggaling is a gending found in Yogyakarta style karawitan and is classified as a gending tengahan. According to the author, Gending Sawunggaling is a gending soran , so the author aims to present Gending Sawunggaling in lirihan form and focuses on the discussion of the ricikan gender barung. The approach used in this research is a qualitative approach with descriptive analysis method that includes analysis of padhang ulihan and pathet of Gending Sawunggaling. The analysis of garap Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima is done according to the author's interpretation that has been discussed with the sources. After interpreting the cengkok gender on the notes of Gending Sawunggaling Laras Pelog Pathet Lima, the author concludes that there are 15 cengkok genderan applied in the performance. The details are dualolo ageng, dualolo alit, rambatan, kuthuk kuning kempyung, jarik kawung, ora butuh, ela-elo, kuthuk kuning gembyang, tumurun ageng, nduduk alit, tuturan, puthut gelut, debyang-debyung, yo bapak, and gantungan. Based on the type, there are general cengkok, special cengkok, cengkok tuturan, and cengkok gantungan

Page 3 of 19 | Total Record : 186