cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building, 2nd floor, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Gurun Aua St, Kubang Putih, Banuhampu, Agam - West Sumatra - Indonesia Tel. 0752 33136 | Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
SURAU : Journal of Islamic Education
ISSN : -     EISSN : 30310962     DOI : 10.30983/surau
Core Subject : Education,
Surau Journal welcome papers from academicians on thoughts, concepts and theories of learning, implementation of learning, and learning outcomes of Islamic Religious Education. Journal Scope: Islamic Religious Education concepts and materials Islamic Religious Education Curriculum Islamic Religious Education Methods Islamic Religious Education Tools and Media Educators and Learners Evaluation of Islamic Religious Education Islamic Religious Education Institution Islamic Religious Education Innovation Islamic Education Thought History of Islamic Education
Articles 86 Documents
Pemikiran Pendidikan Islam Ahmad Dahlan: Menjawab Tantangan Religiusitas Pendidikan Era Society 5.0 Yasmansyah, Yasmansyah
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i1.6370

Abstract

Abstract The purpose of writing this article is to describe the relevance of KH Ahmad Dahlan's thoughts on Islamic Religious Education in the 5.0 era. This research is qualitative research, data sources are obtained by conducting library research. This research includes biographical research, because it tries to conclude, analyze and make interpretations about the thoughts of figures. The purpose of this research is to find out the biography and thoughts of KH. Ahmad Dahlan on Islamic education in Indonesia. From the results and discussion it can be concluded that according to KH Ahmad Dahlan, Islamic education is a formulation of the goals of Islam so that Islamic education should be directed at efforts to form human beings who are virtuous, pious in religion, broad views and understand the problems of science. This means that Islamic religious education is an effort to foster human morals, have taqa and as a caliph on this earth. To realize this, KH Ahmad Dahlan did tajdid which combined general science and Islamic religious knowledge.AbstrakTujuan penulisan artikel ini untuk menggambarkan tentang relevansi pemikiran KH Ahmad Dahlan tentang Pendidikan Agama Islam di era 5.0. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sumber data diperoleh dengan melakukan penelitian pustaka (library research) Penelitian ini termasuk penelitian biografi, karena berusaha menyimpulkan, menganalisis dan membuat interpretasi mengenai pemikiran tokoh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biografi dan pemikiran KH. Ahmad Dahlan terhadappendidikan Islam di Indonesia. Dari Hasil dan pembahasan  dapat disimpulkan bahwa menurut KH Ahmad Dahlan Pendidikan Islam merupakan rumusan dari tujuan agama Islam sehingga hendaknya pendidikan Islam di arahkan pada usaha membentuk manusia yang berbudi luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu pengetahuan. Hal ini bermakna bahwa pendidikan agama Islam merupakan upaya pembinaan akhlak  manusia, bertaqa dan sebagai khalifah di muka bumi ini. Untuk mewujudkan itu KH Ahmad Dahlan melakukan tajdid yang memadukan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama Islam.
Evaluasi Program Pesantren Ramah Anak Model CIPP di Provinsi Sumatera Barat Natsir, Albert; Zulmuqim, Zulmuqim
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i1.6375

Abstract

AbstractThis study describes the results of the evaluation of the child-friendly pesantren programme in West Sumatra Province. The model used is CIPP with Mixed Method. Data collection techniques used questionnaires, observation sheets, interviews, concept mastery tests and child-friendly pesantren guidelines. Data analysis and programme evaluation procedures are described in this article.  The results of the context evaluation showed that violence, discrimination and harassment still occur in most Islamic boarding schools in West Sumatra province. The results of the input evaluation showed that the child-friendly pesantren program guidelines issued by the Ministry of Religious Affairs, the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection of the Republic of Indonesia have not been optimally socialised and the pesantren leaders, board of asatidz, santri and the community are aware of the child-friendly pesantren program but do not understand the concept, guidelines and technical instructions for child-friendly pesantren. The results of the process evaluation, namely monitoring designed to reveal the strengths and weaknesses of the implementation of the child-friendly pesantren programme, have not been optimal. Not all pesantren have a child-friendly pesantren development team. For pesantren that already have a child-friendly pesantren team, the team members do not have relevant competencies. The evaluation of products or outputs and outcomes designed to assess programme outcomes and programme sustainability shows that the child-friendly pesantren programme launched and developed by the government and Islamic boarding schools has not run as expected.AbstrakPenelitian ini menjelaskan tentang hasil evaluasiprogram pesantren ramah anak di Provinsi Sumatera Barat.Model yang digunakanCIPP dengan metode Mixed Method. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, lembar observasi, wawancara, tespenguasaan konsep dan pedoman pesantren ramah anak. Analisis data dan prosedur evaluasi program dijelaskan dalam artikel ini.  Sampel penelitian adalah 23 pondok pesantren yang tersebar di 12 kabupaten kota di Provinsi Sumatera Barat.Hasil evaluasi konteks menunjukkan bahwa masih terjadi kekerasan, diskriminasi dan pelecehan di rata rata pondok pesantren di provinsi Sumatera Barat. Hasil evaluasi input  menunjukkan bahwa pedoman program pesantren ramah anak yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia belum optimal disosialisasikan dan pimpinan pesantren,dewan asatidz,santri dan masyarakat mengetahui adanya program pesantren ramah anak tetapi belum memahami konsep, panduan dan petunjuk teknis pesantren ramah anak. Hasil evaluasi proses, yaitu monitoring yang dirancang untuk mengungkap kekuatan dan kelemahan pelaksanaan program pesantren ramah anak belum optimal. Belum semua pondok pesantren memiliki tim pengembang pesantren ramah anak. Bagi pesantren yang telah memiliki tim pesantren ramah anak, anggota tim belum memiliki kompetensi yang relevan. Evaluasi produk atau keluaran dan hasil yang dirancang untuk menilai hasil programdan keberlanjutan program menunjukkan bahwa program pesantren ramah anak yang diluncurkan dan dikembangan oleh pemerintah dan pondok pesantren belum berjalan seperti yang diharapkan.
Lembaga Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah di Indonesia (Kajian Historis Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam) Ariza, Hidra
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/.v1i1.6697

Abstract

Abstract The rapid development of Islam in Indonesia since its inception until now, cannot be separated from the role of Islamic educational institutions. When viewed from the early entry of Islam into Indonesia, Islamic educational institutions experienced several changes in name and form, which were the result of changes in the social conditions of society and developments in science and technology. Starting from Islamic education which is still patterned as Hindu education to the establishment of technology-based Islamic education institutions at this time. Among the classical Islamic educational institutions that still exist today include surau, pesantren, meunasah, Islamic tertiary institutions, etc. There are some Islamic educational institutions whose existence is no longer found, some are still standing but have experienced a decline in function, some have managed to survive by adapting to the demands of the times. One of the classical Islamic educational institutions that is able to develop according to the times is the pesantren. Evidenced by the existence of Islamic boarding schools with various special sciences that are integrated with the values of Islamic education. This article was written using the library research method which utilizes various scientific literature to obtain the necessary data. AbstrakPesatnya perkembangan Islam di Indonesia sejak awal masuknya hingga saat ini, tidak terlepas dari peran lembaga pendidikan Islam. Jika dilihat dari awal masuknya Islam ke Indonesia, lembaga pendidikan Islam mengalami beberapa perubahan nama dan bentuk, yang merupakan akibat dari perubahan keadaan social masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mulai dari pendidikan Islam yang masih bercorak pendidikan Hindu hingga berdirinya lembaga pendidikan Islam yang berbasis teknologi pada saat ini. Diantara lembaga pendidikan Islam klasik yang masih eksis bertahan hingga saat ini diantaranya adalah surau, pesantren, meunasah, perguruan tinggi Islam, dll. Ada sebagian lembaga pendidikan Islam yang sudah tidak ditemui lagi eksistensinya, ada yang masih berdiri namun mengalami penurunan fungsi, ada yang berhasil bertahan dengan menyesuaikan tuntutan zaman. Salah satu lembaga pendidikan Islam klasik yang mampu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman adalah pesantren. Terbukti dengan adanya pesantren dengan berbagai keilmuan khusus yang diintegrasikan dengan nilai-nilai pendidikan Islam.  Artikel ini ditulis dengan memakai metode library research yang memanfaatkan berbagai literatur ilmiah untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Sorotan Fundamentalisme Islam Terhadap Kepala Sekolah Perempuan Susilawati, Susilawati; Danil, Ilham
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i1.6770

Abstract

Abstract The creation of Siti Hawa from the ribs of the prophet Adam is a sign that women are physically weaker than men. Therefore also the background so that they often get unfair treatment or discrimination. But over time, the signal has faded, especially in Indonesia. This fact is inseparable from the services of a female emancipation warrior, RA Kartini. Today many women are as successful as men. No longer can the number of those who hold the reins of leadership be counted, one of them being the headmaster in various educational institutions, ranging from the lowest level of education to tertiary education. Whereas leadership positions in the education sector are very urgent and determine whether or not the vision, mission and goals of education are achieved or not. An in-depth study of opinions which states that "actually women have the same potential as those of men". No matter how great a woman is, she can't be released as a housewife. AbstrakTerciptanya Siti Hawa dari tulang rusuk nabi Adam merupakan satu isyarat bahwa kaum perempuan itu lebih lemah fisiknya dibanding kaum pria. Oleh karena itu pulalah yang menjadi latar sehingga mereka sering mendapat perlakuan tidak adil alias diskriminasi. Namun seiring berjalannya waktu, isyarat itu telah pudar, khususnya di Indonesia. Kenyataan ini tak lepas dari jasa seorang pejuang emansipasi wanita, RA Kartini. Hari ini banyak sudah kaum perempuan yang berhasil seperti kaum laki-laki. Tak lagi dapat dihitung jumlah mereka yang memegang tampuk-tampuk kepemimpinan, salah satunya menjadi kepala sekolah di berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat pendidikan terendah sampai perguruan tinggi. Padahal jabatan kepemimpinan di sektor pendidikan sangat urgen dan menentukan tercapai atau tidaknya visi, misi dan sasaran pendidikan. Perlu kajian mendalam tentang pendapat yang menyatakan bahwa “sebenarnya perempuan memiliki potensi yang sama sebagaimana yang dimiliki oleh laki-laki”. Karena sehebat apapun seorang perempuan, titel sebagai ibu rumahtangga tak dapat ia lepaskan.
Implementasi Bahasa Inggris dengan Direct Method untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Agama Islam Pada Santri Al-Hidayah Jorong Marambuang Trisno, Bambang; Syawaluddin, Syawaluddin
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/.v1i1.6846

Abstract

Abstract Motivation plays a significant role in education, as it encourages students to be diligent, industrious, enthusiastic in their learning, and to become individuals of high quality. However, at MDA Al-hidayah in Jorong Marambuang, there are still some students who lack enthusiasm and are somewhat lazy in their pursuit of Islamic education. This study aims to describe the importance of using the direct method to enhance the motivation of MDA Alhidayah Jorong Marambuang's students in learning Islamic religion. The research method employed is qualitative descriptive. The findings of this study illustrate that the implementation of the direct method has a significant positive impact on enhancing the motivation of the students. In this research, the students displayed increased enthusiasm, diligence, and zeal in studying Islam. The direct method appears to be successful in igniting their interest in religious education and encouraging them to be more dedicated in their pursuit of understanding Islam. These findings make a significant contribution in the context of religious education and the development of effective teaching methods. AbstrakMotivasi sangat berperan dalam pendidikan, dengan motivasi peserta didik akan tekun, rajin, bersemangat dalam belajar serta menjadi orang yang berkualitas. Namun pada MDA Al-hidayah Jorong Marambuangmasih ada santri yang malas-malasan serta kurang bersemangat dalam mempelajari agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang seberapa penting penggunaan metode langsung (direct method) untuk meningkatkan motivasi belajar Agama Islam santri di MDA Alhidayah Jorong Marambuang. Metode yang digunakan adah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa penerapan metode langsung (direct method) memiliki dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar para santri. Dalam penelitian ini, para santri menunjukkan peningkatan dalam antusiasme, ketekunan, dan semangat mereka dalam mempelajari agama Islam. Metode langsung ini tampaknya berhasil membangkitkan minat mereka dalam pembelajaran agama dan mendorong mereka untuk lebih berdedikasi dalam mengejar pemahaman agama Islam. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam konteks pendidikan agama dan pengembangan metode pengajaran yang efektif.
Pengaruh Pemberian Reward dan Punishment Terhadap Disiplin Belajar PAI Siswa SMK Negeri 1 Baso Yeri, Saiful; Darmiwanti, Darmiwanti
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i1.6883

Abstract

AbstractGiving prizes and Punishment is a way to increase learning discipline, this research how big  the influence of givng prizes and Punishment is on the PAI learning discipline of students at SMK Negeri 1 baso. The type of research with descriptive coreelative research methods. The data collelection technique in this research used a questionnaire. The research subjects werw 60 students of SMK Negeri 1 Baso. The results of this research are as follows: the score for giving gifts was 79,28 in the high category, the score for giving Punishment  was 78,22 un the high category dan the learning discipline score was 81,89 in the very high category, while the score for the influence of giving gifts on learning discipline was 0,652 in the strong category, the influence score giving Punishment for discipline is 0,498 in the sufficient category and the score for the influence of giving gitfs and Punishment for learning disciplne is 0,665 in the strong category. This research concludes that discipline can be realized in the learning process by applying the method  of giving gifts and giving Punishment, and the suggestion that can be made is that teachers are expected to be more innovative and creative ib creating and implementing giving gifts and Punishment. Students are expected to remain disciplined and study hard. AbstrakPemberian Reward dan punishment merupakan cara untuk meningkatkan kedisiplinan belajar, penelitian ini membahas tentang seberapa besar pengaruh pemberian Reward dan Punishment terhadap disiplin belajar PAI siswa SMK Negeri 1 Baso, jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif korelatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Subjek penelitian adalah 60 siswa SMK Negeri 1 Baso. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: skor untuk pemberian  reward sebesar79,28 pada kategori tinggi, skor pemberian punishment sebesar 78,22 pada kategori tinggi dan skor disiplin belajar sebesar 81,89 pada kategori sangat tinggi, sedangkan skor pengaruh pemberian reward terhadap disiplin belajar sebesar 0,652 pada kategori kuat, skor pengaruh pemberian konseksuensi terhadap disiplin sebesar 0,498 pada kategori cukup dan skor pengaruh pemberian reward dan konseksuensi terhadap disiplin belajar sebesar 0,665 pada kategori kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedisiplinan dapat terwujud pada proses pembelajaran dengan menerapkan metode pemberian reward dan pemberian punishment, dan saran yang dapat di sampaikan adalah guru diharapkan lebih inovatif dan kreatif menciptakan dan menerapkan pemberian reward dan konseksuensi. Bagi siswa diharapkan tetap disiplin dan giat giat belajar
Kompetensi Memesona Bagi Calon Guru Pendidikan Agama Islam Pada Abad 21 Guna Merangkul Generasi Z Yusnem, Fetriade; Iltavia, Iltavia; Rahmi, Fathur
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/.v1i1.6889

Abstract

Abstract The transformation of the world of education which is rapidly changing with the times requires an educator who has outstanding competencies to be able to embrace generation Z in the 21st century. This research discusses the analysis of teacher competencies that are attractive for the 21st century for prospective educators at UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. This research aims to measure the competence of teachers in the 21st century as a preparation for educators to teach in schools for the future. The type of research used is qualitative research with descriptive analysis research methods. The data collection technique in this research uses a charming competency test using Google Form. The research subjects were 104 FTIK students of the Islamic Religious Education Study Program at UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. The results of this research are as follows: the score for the sub-topic of nationalism, authoritative attitude is 37 in the poor category; the score for the sub-topic of patriotism and discipline was 52.9 in the quite good category; the score for the sub-topic appreciates a difference of 58.7 in the quite good category; the score for the sub-topic of prioritizing common interests, maintaining Indonesia's natural wealth and community attitudes was 93.3 in the very good category; the score for the sub-topic of appreciating the cultural riches of other nations was 27.9 in the poor category; the score for the assertive attitude sub-topic was 32.7 in the poor category; the score for the sub-topic attitude of full soul calling was 64.4 in the good category; the score for the wholehearted attitude sub-topic was 67.35 in the good category; The score for the sub-topic of generosity was 57.36 in the quite good category. The conclusion of this research is that the average competence of prospective educators is only 59.08%. If this is left unchecked, it will not only have an impact on educators but will also make it difficult for teachers to accommodate students at school.AbstrakTransformasi dunia pendidikan yang cepat berubah mengikuti zaman memerlukan seorang pendidik yang memiliki kompetensi memesona agar dapat merangkul generasi Z di abad 21. Penelitian ini membahas tentang analisis kompetensi guru yang memesona abad 21 bagi calon pendidik UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kompetensi guru yang memesona abad 21 sebagai persiapan calon pendidik mengajar di sekolah untuk masa yang akan datang. Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif dengan metode peneitian deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes kompetensi memesona menggunakan google form. Subjek penelitian adalah 104 mahasiswa FTIK Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: skor untuk sub topik nasionalisme, sikap berwibawa sebesar 37 pada kategori kurang baik; skor untuk sub topik patriotisme, sikap disiplin sebesar 52,9 pada kategori cukup baik; skor untuk sub topik menghargai perbedaan sebesar 58,7 pada kategori cukup baik; skor untuk sub topik mengutamakan kepentingan bersama, mempertahankan kekayaan alam Indonesia serta sikap samapta sebesar 93,3 pada kategori sangat baik; skor untuk sub topik mengapresiasi kekayaan budaya bangsa lain sebesar 27,9 pada kategori kurang baik; skor untuk sub topik sikap tegas sebesar 32,7 pada kategori kurang baik; skor untuk sub topik sikap penuh panggilan jiwa sebesar 64,4 pada kategori baik; skor untuk sub topik sikap kesepenuhhatian sebesar 67,35 pada kategori baik; skor untuk sub topik kemurahhatian sebesar 57,36 pada kategori cukup baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rata-rata kompetensi memesona yang dimiliki calon pendidik hanya sebesar 59,08 %. Apabila hal ini dibiarkan, tidak hanya berdampak kepada pendidik saja tetapi juga berdampak kepada sulitnya guru untuk membersamai siswa di sekolah.
Kepemimpinan Perempuan dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan di Pondok Pesantren Wahyuni, Sri Intan; Dwi Lestari, Mega Cahya Dwi Lestari; Sartika, Diana Sartika; Sulasmi, Sulasmi
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i2.7070

Abstract

Abstract Indonesia, which has the largest Muslim population in the world, is half female. The Constitution of the Republic of Indonesia provides equal space for men and women in education. However, the principle of gender equality in Islam is sometimes ignored, and unfair treatment is legitimised by interpretations of religious texts. In fact, leadership in Islam does not distinguish between men and women; however, in the pesantren environment, female leaders are still considered taboo by the local community. The symbol of gender segregation in pesantren is manifested in the strict segregation between male and female santri. Male dormitories are often placed more prominently, while female dormitories are often placed at the back and closed. The leadership of pesantren is generally male, which affects the management of education and the division of roles in it. Women are considered to have a role in the domestic sphere and do not have the same role as men in the public sphere. In addition, the leadership of pesantren tends to be passed down from generation to generation to sons, excluding daughters even though they have the same abilities. Female caregivers in pesantren are only considered as successors, while the power over leaders in pesantren is traditionally only owned by boys. These difficulties hinder women's leadership potential in the pesantren environment, resulting in a gap in the provision of rights and opportunities between men and women in the religious context.AbstrakIndonesia, yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, separuhnya adalah perempuan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia memberikan ruang yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam dunia pendidikan. Namun, prinsip kesetaraan gender dalam Islam terkadang diabaikan, dan perlakuan tidak adil dilegitimasi oleh penafsiran teks agama. Faktanya, kepemimpinan dalam Islam  tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan; Namun di lingkungan pesantren, pemimpin perempuan masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat. Simbol segregasi gender di pesantren diwujudkan dalam segregasi yang tegas antara santri laki-laki dan santri perempuan. Asrama laki-laki seringkali ditempatkan lebih menonjol, sedangkan asrama perempuan sering ditempatkan  di bagian belakang dan tertutup. Kepemimpinan pesantren pada umumnya adalah laki-laki, hal ini mempengaruhi pengelolaan pendidikan dan pembagian peran di dalamnya. Perempuan dianggap mempunyai peran di ranah domestik dan tidak mempunyai peran yang sama dengan laki-laki di ranah publik. Selain itu, kepemimpinan pesantren cenderung diwariskan dari generasi ke generasi kepada anak laki-laki, tidak termasuk anak perempuan meskipun mereka memiliki kemampuan yang sama. Pengasuh perempuan di pesantren hanya dianggap sebagai penerus, sedangkan kekuasaan atas pemimpin di pesantren secara tradisional hanya dimiliki oleh anak laki-laki. Kesulitan-kesulitan tersebut menghambat potensi kepemimpinan perempuan di lingkungan pesantren sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pemberian hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks agama..
Layanan Konseling Perorangan: Analisis Tingkat Kepuasan Kerja Guru TPQ dan Implementasinya dalam Bimbingan Konseling Sari, Azmatul Khairiah; Fauzi, Ismet
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i2.7202

Abstract

Abstract Job satisfaction is an important thing to be achieved by people who are in the work phase. This is because job satisfaction will lead to the achievement of comfort in work and will also have an effect on the good results of the work. One profession that requires job satisfaction is TPQ teachers. TPQ teachers are educators who deliver their students to skills in religion and society. Therefore, he must have job satisfaction to deliver students to these skills. However, what happened in the field was that not many religious scholars were interested in becoming TPQ teachers. And there is an assumption that TPQ teachers in some areas are not so prosperous. And how job satisfaction TPQ teachers have had so far.  This research is classified as a type of descriptive research. Researchers distributed the instrument in the form of a google form to several TPQ teachers in the city of Bukittingi and found a research sample of 100 TPQ teachers selected with total sampling techniques. The data was processed using descriptive statistical analysis techniques. The results showed that the job satisfaction of TPQ teachers was generally in the satisfactory category. Based on the results of this study, services can be provided to improve job statisfaction. With individual counseling services, it is hoped that TPQ teachers' job satisfaction can be further increased. In the implementation of individual counseling, several professional techniques will be applied. AbstrakKepuasan kerja adalah hal yang penting untuk dicapai oleh orang yang berada di fase bekerja. Hal ini disebabkan karena kepuasan kerja akan mengantarkan pada tercapainya kenyamanan dalam bekerja dan juga akan berefek pada bagusnya hasil pekerjaan tersebut. Salah satu profesi yang memerlukan kepuasan kerja adalah guru TPQ. Guru TPQ adalah pendidik yang mengantarkan siswanya kepada keterampilan dalam beragama dan bermasyarakat. Maka dari itu ia harus memiliki kepuasan kerja untuk menghantarkan siswa pada keterampilan tersebut. Namun yang terjadi di lapangan tidak banyak sarjana agama yang tertarik untuk menjadi guru TPQ. Dan adanya anggapan bahwa guru TPQ di beberapa daerah tidak begitu sejahtera. Dan bagaimana kepuasan kerja yang dimiliki oleh guru TPQ selama ini. Penelitian ini tergolong pada jenis penelitian deskriptif. Peneliti menyebarkan instrument dalam bentuk google form kepada beberapa guru TPQ di kota Bukittingi dan didapati sampel penelitian sebanyak 100 guru TPQ yang dipilih dengan teknik total sampling. Data diolah menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja guru TPQ pada umumnya berada pada kategori memuaskan. Berdasarkan hasil penelitian ini layanan yang dapat diberikan untuk meningkatkan kepuasan kerja guru TPQ adalah pemberian layanan bimbingan konseling. Layanan yang dapat diberikan untuk meningkatkan kepuasan kerja guru TPQ adalah layanan konseling perorangan. Dengan layanan konseling perorangan diharapkan kepuasan kerja guru TPQ dapat lebih meningkat. Dalam pelaksanaan konseling perorangan pun akan diterapkan beberapa teknik professional.   
Pengembangan Instrumen Penilaian Praktek pada Materi PAI Praktek Sholat Wajib Sari, Rahmahidayati; Nengsi, Ayu Rahma
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 1 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v1i2.7320

Abstract

Abstract The aim for this research was carried out to create a product in the form of an assessment sheet for the practice of obligatory prayers. Research regarding the assessment and implementation of obligatory prayers for students has been conducted previously. However, this research was conducted to create a product in the form of an assessment sheet for elementary school students' mandatory prayer practice. The formulation of the research problem is whether the resulting product assessment sheet is suitable for use? To answer these research questions, researchers used the research method carried out, namely development research using the ADDIE development model. The feasibility seen by researchers here is in terms of construct validity and practicality of the assessment sheet. To assess construct validity and practicality, researchers asked for advice and recommendations from experts. The product assessment sheet produced in the research was assessed by experts. There are several inputs and suggestions from these experts which are used as a basis for making improvements to the product assessment sheet. After making improvements according to suggestions and input from experts, this product assessment instrument was declared feasible in terms of construct and practicality.AbstrakPenelitian ini dilakukan menciptakan sebuah produk berupa lembar penilaian praktek sholat wajib. Penelitian pengembangan bahan ajar dan pelaksanaan sholat wajib bagi siswa telah pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.  Namun penelitian ini dilakukan untuk menciptakan sebuah produk berupa lembar penilaian praktek sholat wajib siswa SD. Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah lembar penilaian produk yang dihasilkan telah layak untuk digunakan? Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Kelayakan yang dilihat oleh peneliti disini dari segi construct validity dan kepraktisan lembar penilaian. Untuk menilai construct validity dan kepraktisannya, peneliti meminta saran dan rekomendasi dari expert. Lembar penilaian produk yang dihasilkan pada penelitian dinilai oleh ahil/ expert. Ada beberapa masukan dan saran dari expert tersebut yang dijadikan sebagai dasar melakukan perbaikan pada lembar penilaian produk tersebut. Setelah melakukan perbaikan sesuai saran dan masukan dari expert maka instrument penilaian produk ini dinyatakan layak dari segi construct dan kepraktisannya.