cover
Contact Name
Armanto Makmun
Contact Email
armanto.makmun@umi.ac.id
Phone
+6281312119884
Journal Mail Official
fmj@umi.ac.id
Editorial Address
Jln. Urip Sumoharjo KM.05, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Fakumi Medical Journal
ISSN : -     EISSN : 28089146     DOI : https://doi.org/10.33096/fmj.v4i1
Core Subject : Health, Science,
FAKUMI MEDICAL JOURNAL is a peer-reviewed, open-access journal that publishes original research articles, review articles, and interesting case reports. FAKUMI MEDICAL JOURNAL work in the field of health in a broad sense such as public health, nursing, midwifery, medicine, pharmacy, health psychology, nutrition, health technology, health analysis, health information systems, medical records and so on.
Articles 326 Documents
Hubungan Aktivitas Fisik Dan Sedentary Lifestyle Dengan Status Gizi Mahasiswa Program Profesi Dokter Angkatan 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Adibah Afriastini Wenni; Hermiaty Nasruddin; Lilian Triana Limoa; Armanto Makmun; Hasliyawati Hasan
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 6 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i6.251

Abstract

Pendahuluan: Saat ini gaya hidup dan perilaku yang membahayakan banyak terjadi di masyarakat kita, salah satunya yaitu sedentary lifestyle atau perilaku menetap yang ditandai dengan kurangya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang misalnya pada kalangan mahasiswa. Mahasiswa saat ini sangat bergantung dengan teknologi yang ada, segala hal dapat menjadi mudah tanpa perlu banyak bergerak. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan antara aktivitas fisik dan sedentary lifestyle dengan status gizi pada Mahasiswa Program Profesi Dokter angkatan 2017 di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Metode: Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup keilmuan gizi masyarakat dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Program Profesi Dokter angkatan 2017 di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Hasil: Total jumlah aktivitas fisik pada semua responden penelitian adalah 12 responden (12,2%) untuk status gizi underweight, 51 responden (52,0) untuk status gizi normal, 16 responden (16,3) untuk status gizi overweight, 10 responden (10,2) untuk status gizi obesitas 1, 9 responden (9,1) untuk status gizi obesitas 2. Total jumlah sedentary lifestyle pada semua responden penelitian ini adalah 12 responden (12,2%) untuk status gizi underweight, 51 responden (52,0%) untuk status gizi normal, 16 responden (16,3%) untuk status gizi overweight, 10 responden (10,2%) untuk status gizi obesitas 1, 9 responden (9,1%) untuk status gizi obesitas 2. Kesimpulan: Terdapat 98 orang mahasiswa program profesi dokter FK UMI 2017 yang ikut serta dalam penelitian ini. Mayoritas mahasiswa program profesi dokter FK UMI 2017 memiliki tingkat aktivitas fisik sedang dan sedentary lifestyle sedang.Tidak terdapat hubungan pada aktivitas fisik dan status gizi, juga tingkat sedentary lifestyle dengan status gizi pada penelitian ini. Kata kunci: Aktivitas fisik, Sedentary Lifestyle, Mahasiswa Profesi FK UMI 2017.
Hubungan Lama dan Posisi Duduk dengan Kejadian Low Back Pain (LBP) pada Mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2019 Nurul Annisa Amin; Achmad Harun Muchsin; Nur Fadhillah Khalid; Andi Dhedie Prasatia Sam; Rahmawati
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 4 (2023): April
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i4.252

Abstract

Low back pain (LBP) is pain that is felt in the lower back due to various reasons. The sitting position is a good position in carrying out activities such as studying, especially when attending lectures. Medical students are very synonymous with lecture activities in a sitting position for a long time. To determine the relationship between sitting position and sitting duration with the incidence of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Indonesian Muslim University class of 2019. This research is an observational analytic study with a cross-sectional approach using a total sampling method of 154 subjects. Based on the results of the analysis of the relationship between sitting position and the incidence of low back pain, it can be seen that the p value = 0.004 obtained the results of 95 people (61.7%) who experienced a reclining sitting position and based on the results of the analysis of long sitting with the incidence of low back pain, it can be seen that the value p value = 0.040 results obtained as many as 91 subjects (59.1%) who sat for > 4 hours. There is a relationship between length of time and sitting position with the incidence of low back pain in students of the Faculty of Medicine, Indonesian Muslim University Class of 2019
Karakteristik Konjungtivitis di Klinik Jec Orbita Periode Januari 2022 - Juni 2022 Andi Fitri Nurul; Febie Irsandy Syahruddin; Sri Irmandha Kusumawardhani; Nur Aulia; Nurul Fadilah Ali Polanunu
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 12 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i12.255

Abstract

Konjungtivitis adalah radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri), iritasi atau reaksi alergi. Konjungtivitis merupakan penyakit mata paling umum di dunia dan bervariasi dari hiperemia ringan dengan mata berair hingga konjungtivitis berat dengan sekret purulen kental. Pada 45% kunjungan di departemen penyakit mata di Amerika serikat, 30% adalah keluhan konjungtivitis akibat bakteri dan virus, dan 15% adalah keluhan konjungtivitis alergi. Insidensi konjungtivitis di Indonesia saat ini menduduki tempat kedua (9,7%) dari 10 penyakit mata utama. Berdasarkan penyebabnya, konjungtivitis dibagi menjadi konjungtivitis infeksi dan non- infeksi. Pada konjungtivitis infeksi, penyebab tersering adalah virus dan bakteri, sedangkan pada kelompok non-infeksi disebabkan oleh alergi, reaksi toksik, dan inflamasi sekunder lainnya. Konjungtivitis juga dapat dikelompokkan berdasarkan waktu yaitu akut dan kronik. Pada kondisi akut, gejala terjadi hingga empat minggu, sedangkan pada konjungtivitis kronik, gejala lebih dari empat minggu. Penyebaran virus umumnya terjadi melalui tangan, peralatan mandi yang digunakan bersama, bantal kepala yang digunakan bersama atau kontak dengan alat pemeriksaan mata yang terkontaminasi.
Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pasien Rawat Jalan Penderita Jantung Koroner di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2021 Sarima Safitri; Ali Aspar Mappahya; Nurhikmawati; Wisudawan; Asrini Safitri
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 8 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i8.257

Abstract

Perkembangan plak aterosklerotik di dalam arteri koroner dapat menyebabkan penyumbatan aliran darah, menghasilkan iskemia, yang dapat bersifat akut atau kronis. Salah satu indikator aterosklerosis pada pembuluh darah adalah Hiperkolesterolemia. Hiperkolesterolemia ialah total kolesterol didalam darah dengan kadar kolesterolnya yang tinggi yakni ≥ 200 mg/dl. Terbukti bahwasanya tingginya kadar kolesterol berkaitan terhadap peningkatannya risiko penyakit jantung koroner. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya hiperkolesterolemia terhadap pasien rawat jalan yang menderita penyakit jantung koroner pada RS Ibnu Sina Makassar. Penelitian ini bersifat analitik desain Cross Sectional yang menggunakan data sekunder. Pasien dengan penyakit jantung koroner yang melakukan kunjungan ke poli jantung RS Ibnu Sina Makassar pada tahun 2021 ialah populasi didalam kegiatan penelitian ini. Pengambilan sampel dengan teknik total sampilng. Didapatkan total responden sebanyak 30 responden dengan presentasi kejadian hiperkolesterolemia didapatkan responden yang hiperkolestrolemia sebanyak 22 (73,3%) responden dan normal sebanyak 8 (26,7%) responden. Dan berdasarkan analisis faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian hiperkolesterolemia yaitu faktor usia dengan P-Value 0,001 (<0,05) serta riwayat penyakit kronis dengan P-Value 0,014 (<0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia dengan faktor yang paling berpengaruh yaitu usia dan riwayat penyakit kronis.
Hubungan Pengetahuan Sikap dan Perilaku Vaginal hygiene terhadap Kejadian Fluor albus pada Siswi SMAN 17 Makassar Risna Sri Wahyuni M; Wisudawan; Dahliah AZ; Prema Hapsari; Arina Fathiyyah Arifin
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 4 (2023): April
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i4.260

Abstract

Salah satu masalah kesehatan reproduksi yang paling sering terjadi di kalangan wanita dan remaja adalah keputihan, 60% pada remaja usia 15-22 tahun dan 40% pada wanita usia 23-45 tahun. Organ reproduksi merupakan komponen yang penting yang sensitive terhadap suatu penyakit sehingga wanita harus memperhatikan kebersihan perseorangan atau personal hygiene. Sikap dan pengetahuan yang kurang tentang vaginal hygiene seperti perilaku buruk saat buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK), membersihkannya dengan air yang tidak bersih dan salah arah saat membersihkannya, memakai pembersih secara berlebihan, memakai celana dalam yang ketat, tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, dan jarang mengganti pembalut. Hal tersebut merupakan pencetus terjadinya keputihan. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku vaginal hygiene terhadap kejadian Fluor albus pada Siswi SMAN 17 Makassar. Pada penelitian ini menggunakan metode Purposive sampling dengan melakukan pengambilan sampel non-probability sampling. Berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner. Dari 110 Responden didapatkan sebanyak 89 orang (81%) mengalami keputihan fisiologis dan 21 orang (19%) lainnya mengalami keputihan patologis. Berdasarkan hasil analisa statistik dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai P value untuk Pengetahuan adalah p 0.687, nilai P value untuk Sikap adalah p 0.847 dan nilai P value untuk Perilaku adalah p 0.137. Nilai tersebut lebih besar dari nilai P value 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku vaginal hygiene terhadap kejadian Fluor pada Siswi SMAN 17 Makassar.
Hubungan Status Gravida Ibu dengan Kejadian Preeklampsia dan Eklampsia Andi Anita Nur Fadhilah Rahman; M. Hamsah; Romy Hefta Mulya; Nasrudin Andi Mappaware; Andi adil
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.261

Abstract

Preeklampsia adalah penyakit dengan gejala klinis berupa hipertensi dan proteinuria yang timbul karena kehamilan akibat vasospasme dan aktivasi endotel saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Preeklampsia dan eklampsia merupakan kesatuan penyakit, yakni yang langsung disebabkan oleh kehamilan, walaupun belum jelas bagaimana hal ini terjadi, banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia (multiple causation). Mengetahui hubungan status gravida ibu dengan kejadian preeklampsia dan eklampsia di RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Cabang Makassar dan RS Bhayangkara Makassar Tahun 2019-2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan di RSIA Sitti Khadijah I Muhammadiyah Cabang Makassar dan RS Bhayangkara Makassar tahun 2019-2021 dengan melihat tabel rekapitulasi hasil pengamatan rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian ini berusia 20-35 tahun (71,0%), ibu dengan primigravida 162 orang (55,3%). Pasien yang di diagnosis preeklampsia berat sebanyak 213 orang (72,7%), preeklampsia sebanyak 75 orang (25,6%), dan eklampsia sebanyak 5 orang (1,7%) sepanjang tahun 2019-2021. Mayoritas pasien mengalami obesitas dengan jumlah 191 orang (65,2%), dan riwayat penyakit lain terbanyak menderita hipertensi kronik sebanyak 96 orang (32,8%), sedangkan pasien yang memiliki riwayat penyakit preeklampsia sebelumnya sebanyak 18 orang (6,1%), yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus sebanyak 5 orang (1,7%), dan tidak ada yang memiliki riwayat penyakit ginjal sepanjang periode 2019-2021. Ibu hamil dengan risiko preeklampsia dan eklampsia terbanyak berada pada kelompok usia produktif dan kelompok obesitas dan tidak terdapat hubungan antara status gravida ibu dengan kejadian preeklampsia dan eklampsia
Efek konsumsi kurma ajwa (phoenix dactylifera L) terhadap kadar glukosa darah Riski febrianti
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.268

Abstract

ABSTRACTBackground: Ajwa dates (Phoenix Dactylifer L.) have many therapeutic potentials, including cell strengthening, anti-mutagenic, antidiabetic, antibacterial, antifungal, antitumor, neuroprotective, and gastroprotective properties. Ajwa dates as an antidiabetic agent, has phytochemical content such as phenolic acids possessed by Ajwa dates can inhibit α-amylase and α-glucosidase so as to reduce blood sugar levels in the body. flavonoids act as antidiabetic agents through their effects as antioxidants by reducing oxidative stress and maintaining liver and kidney function.Objective : To determine the effect of consumption of Ajwa dates (PhoenixDactylifera L.) on blood sugar levels during pregnancy in pregnant women at risk of preeclampsia. Methods : This study uses search databases used in PubMed, Science Direct, and Google Scholar. The keywords used in the initial search for articles were ajwa dates, Phoenix Dactylifera L, Antidiabetic, Blood glucose obtained as many as 3,820 articles. In the end, only 6 articles were used in accordance with the analysis of objectives, topic suitability, inclusion and exclusion criteria, research methods, samples, research ethics, and limitations.Results: The results showed that from all the literature used, the majority showed a decrease when giving ajwa dates to reduce blood glucose levels. Giving ajwa dates can reduce blood glucose levels because the phytochemical content in ajwa dates is very effective in raising blood glucose levels.Conclusion : There is an effect of giving ajwa dates on lowering blood glucose levels. Ajwa dates contain complex carbohydrates, beneficial phytochemicals, sterols, healthy fatty acids, carotene, and flavonoids which have many medicinal activities, one of which is antihyperglycemic or antidiabetic benefits that can reduce blood glucose levels.Keywords: Ajwa Date, Phoenix Dactylifera L, Blood Glucose.
Analisis Karakteristik dan Pola Pemberian MPASI Anak Usia 6-24 Bulan di Puskesmas Soroako Aulia Putri Apriliani; Djauhariah Arifuddin; Nesyana Nurmadilla; Fadli Ananda; Irmayanti Haidir Bima
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.270

Abstract

Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah makanan padat, semi padat dan makanan lunak (disiapkan secara lokal ataupun diproduksi secara komersial) yang diberikan kepada anak-anak usia 6-23 bulan untuk melengkapi ASI. Untuk mengetahui karakteristik dan pola pemberian MPASI pada anak usia 6-24 bulan. Metode penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan 59 persen anak diberikan MPASI lokal, 3 persen MPASI pabrikan dan 38 persen MPASI gabungan. Pada usia pemberian MPASI sebanyak 86 persen tepat. Pemberian tekstur MPASI usia 6-8 bulan 95 persen tepat, usia 9-11 bulan 60 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 90 persen tepat. Pemberian porsi MPASI usia 6-8 bulan semua ibu memberikan MPASI secara tepat, usia 9-11 bulan 97 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 46 persen tepat. Pemberian frekuensi MPASI usia 6-8 bulan 99 persen tepat, usia 9-11 bulan 98 persen tepat, dan usia 12-23 bulan 97 persen tepat. Pemberian frekuensi makan selingan usia 6-23 bulan 73 persen tepat. Pemberian MPASI secara aman dan higienis 99 persen diberikan secara aman dan higienis. Pola pemberian MPASI pada wilayah kerja Puskesmas Soroako secara keseluruhan diberikan sesuai anjuran, namun pemberian tekstur MPASI usia 9-11 bulan dan porsi MPASI usia 12-23 bulan banyak yang tidak tepat.
Hubungan MP-Asi dengan Mikrobiota Usus Anak Usia 2-5 Tahun di Sanrobone Takalar Indhi Aulia Tasya Indy; Nesyana Nurmadilla; Hasta Handayani Idrus; Rachmat Faisal Syamsu; Yusriani Mangarengi
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 9 (2023): September
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i9.273

Abstract

Asupan makanan pada bayi sangat mempengaruhi gambaran microbiota serta konsistensi tinja terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi balita terhadap jumlah bakteria Escheria colli pada feces balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Riwayat Pemberian MP- ASI dengan Mikrobiota Usus Escherichia coli Usia 2-5 tahun di Kecamatan Sanrobone Takalar. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dan dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Sanrobone Takalar dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UMMI. Sample pada penelitian ini adalah 30 balita berusia 2-5 tahun yang dipilih berdasarkan kriteri tanpa randomisasi. Pengujian dilakukan menggunakan metode pengamatan langsung di bawah mikroskop dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan coloni forming unit. Sebagian besar (25 orang) balita sudah mendapatkan MPASI sesui tekstur. Jumalh balita yang mendapatkan MPASI sesuai dengan frekuensi seharusnya 15 orang, sama dengan jumlah balita yang mendapat MPASI tidak sesuai tekstur. Lebih banyak balita yang mendapat MPASI dengan porsi tepat (22 balita) dibandingkan yang tidak sesuai. Sebanyak 25 balita mendapat MPASI yang variative. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa keteparan waktu awal pemberian (0,007) dan Ketepatan tekstur (0,001) mempengaruhi jumlah koloni E.coli secara significant. Porsi, Frekuensi MPASI, dan variasi menu MPASI tidak mempengaruhi koloni E.coli secara signifikan. Pemberian MPASI memiliki pengaruh terhadap jumlah koloni E.coli.
Karakteristik Penderita Reaksi Kusta yang Dirawat Inap Pada RSUP Dr.Tadjuddin Chalid Makassar natasya widiyana putri; Hasta Handayani Idrus; Syarifuddin Rauf; Sri Vitayani; Dahlia
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 3 No. 7 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v3i7.274

Abstract

Penyakit kusta menyerang saraf tepi dan kulit disebabkan oleh Myobacterium leprae. Reaksi kusta dibagi menjadi 2 yaitu reaksi kusta tipe 1 (reaksi reversal) dan 2 (eritema nodusum leprosum). Masih terdapat wilayah di Indonesia yang belum mencapai status eliminasi kusta khususnya Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita reaksi Kusta tipe 1 dan tipe 2 yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Tadjuddin Chalid Makassar tahun 2021-2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif cross sectional desain. Sampel dari data rekam medis pasien terdiagnosa kusta dari bagian Rekam Medis RSUP Dr.Tadjuddin Chalid Makassar periode januari 2021 – desember 2022 dengan teknik total sampling digunakan pada penelitian. Hasil penelitian didapatkan 43 data memenuhi kriteria inklusi. Perbandingan pasien laki-laki dan perempuan pada reaksi Kusta tipe 2 didominasi oleh laki-laki yaitu dengan perbandingan 7:3, kelompok usia terbanyak dewasa (20-60 tahun) 85% kasus, dengan gejala peradangan kulit dan kondisi umum (demam) pada 80% kasus serta terapi diberikan adalah Kortikosteroid dan MDT pada 40% kasus. Sedangkan Kusta tipe 1, didominasi oleh pasien perempuan dengan perbandingan 2:1. Kelompok usia terbanyak dewasa (20-60 tahun) 66,7% kasus, gejala peradangan pada kulit dan peradangan pada sendi 100% kasus dengan terapi diberikan kortikosteroid dan MDT pada 100%. Reaksi kusta tipe 1 banyak diderita pada perempuan, gejala terbanyak yaitu peradangan kulit dan kondisi umum demam dan tipe 2 banyak pada laki-laki, gejala peradangan kulit dan peradangan pada sendi. Berdasarkan usia terbanyak pada kedua tipe reaksi yaitu usia 20-60 tahun. Terapi pada kedua tipe reaksi menggunakan Kortikosteroid dan MDT. Kata kunci: Kusta; Myobacterium Leprae; reaksi reversal; eritema nodusum leprosum