cover
Contact Name
Dony Ahmad Ramadhani
Contact Email
redaksialmuhith@gmail.com
Phone
+6285347523062
Journal Mail Official
almuhith@stiq-amuntai.ac.id
Editorial Address
Jl. Rakha Pakapuran Rt. III. Komplek Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara
Location
Kab. hulu sungai utara,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Muhith : Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits
ISSN : 29634016     EISSN : 29634024     DOI : http://dx.doi.org/10.35931/AMH
Focus and Scope Jurnal Al-Muhith Jurnal Ilmu Quran dan Hadits adalah Tafsir Quran Exegesis Ilmu Hadits Hadith Studies Studi Al-Quran dan Kontekstualisasi Quranic Studies and Contextualization Metode Penafsiran dalam Tradisi Islam Methods of Interpretation in Islamic Tradition Sejarah Kebudayaan Islam History of Islamic Civilization Perbandingan Agama Comparative Religion Hermeneutika Islam Islamic Hermeneutics Filologi Qurani Quranic Philology Etika Islam Islamic Ethics Studi tentang Sunnah Nabi Studies on the Prophets Tradition
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)" : 15 Documents clear
Menguak Rahasia Tafsir Falsafi: Sejarah, Metode dan Tokoh-Tokoh Berpengaruh Dasuki, Akhmad; Sihab, Muhamad Rulyawan; Maulana, Rifky
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5382

Abstract

Penafsiran Al-Qur’an merupakan usaha intelektual yang dilakukan oleh para mufassir sesuai dengan kapasitas keilmuannya. Salah satu corak penafsiran yang menonjol dan kontroversial dalam khazanah tafsir adalah tafsir falsafi, yakni pendekatan yang memadukan filsafat, logika, dan rasionalitas dalam memahami ayat-ayat suci. Tafsir ini berkembang pesat pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ikhwan al-Shafa. Meski mendapat penolakan dari sejumlah ulama karena dianggap menyimpang dari makna asli wahyu, tafsir falsafi tetap bertahan dan berkontribusi besar terhadap dinamika pemikiran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji latar belakang munculnya tafsir falsafi, sumber dan metode penafsirannya, serta tokoh-tokoh penting beserta karya-karya mereka. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif deskriptif, yang mengandalkan literatur-literatur ilmiah tanpa unsur plagiarisme. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tafsir falsafi merupakan jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas yang memperkaya pemahaman terhadap Al-Qur’an, meskipun tetap menyisakan ruang perdebatan di kalangan umat Islam.
Takhrij Hadist Hubungan Suami Istri Serta Kritik Sanad dan Matan Fatimah, Fatimah; Rofiqi, M. Aufi; Rambe, Baringin Al Arif; Rahman, Rahman
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5360

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan hubungan suami istri yang di kaji melalui hadist-hadist. Salah satu hadist yang menjadi dasar permasalahan ini adalah hadist yang berbunyi : “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu sang istri menolak, kemudian suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya (istri) sampai pagi.” Menjadi sorotan utamanya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menelusuri keabsahan hadist, menelaah kandungan dan pendapat para ulama serta memberikan pemahaman yang kompherensif tentang hubungan suami istri menurut hadist dan fikih islam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kajian penelitian yaitu hubungan suami istri. Kajian ini menggunakan Takhrij Bi Al-Lafdzi (Berdasarkan Lafadz) dan Takhrij Bil Maudhu'i (Berdasarkan Tema). Selain menggunakan takhrij juga menggunakan metode kritik sanad dan penilaian hadist. Hasilnya bahwa hadist tersebut memiliki sanad yang sahih berdasarkan penilaian ulama hadist, khususnya dalam riwayat Abu Dawud. Namun dalam matan (isi), hadist ini perlu dipahami secara kontekstual, tidak semata-mata secara tekstual. Hadist menunjukkan bahwa hak dan kewajiban suami istri harus dijalankan dengan prinsip saling menghormati, pengertian, dan keadilan, karena pada dasarnya islam tidak pernah mengajarkan untuk memaksakan kehendak dan tidak untuk memaksa. Walaupun dalam hadist hadist menyebut laknat malaikat, dalam penerapannya tentunya harus dilihat juga konteks maqashid syariah, yaitu menjaga keharmonisan rumah tangga dan menjunjung tinggi nilai kasih sayang, keadilan, serta etika dalam hubungan suami istri.
Metode Tahlili dalam Hadis: Teori dan Aplikasi Rahman, M. Rifqi; Hudaya, Hairul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5364

Abstract

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya kekurangan dalam penerapan metode tahlili dalam mengkaji hadis secara mendalam. Metode tahlili sejatinya memberikan peluang untuk memahami hadis secara komprehensif, baik dari segi matan maupun sanad, serta dalam konteks sosial-historisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan metode tahlili dalam memahami hadis serta mengaplikasikannya pada hadis “Ayyuma rajulin qala li akhihi ya kafir, fa qad ba’a biha ahaduhuma.” Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur. Sumber data berasal dari kitab-kitab hadis, kitab syarh, buku-buku akademik, serta artikel jurnal yang relevan. Hasil penelitian menyimpulkan dua hal utama. Pertama, metode tahlili merupakan pendekatan yang mengkaji hadis dari aspek riwayah dan dirayah, serta mengaitkannya dengan disiplin ilmu lain seperti fikih, ushul fiqh, dan akidah. Kedua, hadis yang diteliti dapat dijadikan sebagai hujjah atau dasar hukum dalam beragama.
Konsep Waktu dalam Al-Qur’an dan Tantangannya Terhadap Budaya ‘Scrolling’ Generasi Muda Fatih, Muhammad; Bashori, Bashori
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep waktu dalam Al-Qur’an dan relevansinya dalam merespons tantangan budaya scrolling yang marak di kalangan generasi muda. Dalam konteks digital saat ini, fenomena scrolling tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku, tetapi juga menunjukkan pergeseran mendalam dalam kesadaran akan makna waktu, produktivitas, dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-kritis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep waktu serta dikaji secara kontekstual melalui perspektif tafsir, spiritualitas Islam, dan fenomena budaya digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dalam Al-Qur’an dimaknai sebagai entitas sakral yang menuntut kesadaran, tanggung jawab moral, dan orientasi ruhani, yang sangat kontras dengan praktik scrolling yang bersifat instan, dangkal, dan melahirkan kelalaian (ghaflah). Budaya scrolling cenderung menciptakan disorientasi waktu, mengikis makna keberadaan, dan melemahkan nilai-nilai profetik. Oleh karena itu, perlu adanya rekonstruksi kesadaran waktu Qur’ani di era digital melalui pendidikan spiritual, pengembangan teknologi yang etis, serta keterlibatan institusional dalam menanamkan nilai waktu sebagai amanah ilahiah. Penelitian ini memberikan kontribusi awal dalam membuka wacana etika digital berbasis spiritualitas Islam dan mengusulkan arah pengembangan riset multidisipliner untuk merespons transformasi digital secara lebih komprehensif.
Makna Tekstual Dan Kontekstual Qs. Ar Rahman 55: 1-3 dan Qs. Al Anfaal 8: 46 Tentang Syukur dan Sabar Darmawi, Darmawi; Mawardi, Mawardi; Hidayat, Husni; Ismail, M. Syukri
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5037

Abstract

Makna tekstual mengacu pada interpretasi literal ayat-ayat tersebut, sementara makna kontekstual mempertimbangkan latar belakang historis dan situasional di sekitar penurunan ayat tersebut. Dalam Qs. Ar-Rahman ayat 1-3, ayat-ayat tersebut menyoroti keajaiban ciptaan Allah yang meliputi penciptaan langit, bumi, dan segala sesuatu di antaranya, serta rahmat-Nya yang meluas kepada semua makhluk. Dari segi kontekstual, ayat-ayat ini menggambarkan kebesaran dan rahmat Allah yang berkuasa atas alam semesta, serta sebagai seruan kepada manusia untuk mengenali dan bersyukur kepada-Nya. Di sisi lain, Qs. Al-Anfal ayat 46 menekankan pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta memerintahkan umat Islam untuk bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian dan konflik. Secara kontekstual, ayat ini terkait dengan konteks perang Badar dan memberikan arahan kepada kaum Muslimin dalam menghadapi tantangan dengan keberanian dan kepatuhan kepada ajaran agama. Dengan memahami baik makna tekstual maupun kontekstual dari ayat-ayat ini, umat Islam dapat mendapatkan petunjuk dan inspirasi dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari sesuai dengan ajaran Al-Qur'an.
Hermeneutika Humanistik Al Qur’an: Stoikisme dalam Tafsir Empatik dan Kontekstual Fatimah, Fatimah; Insi, Sajidan; Jamal, Khairunnas; Hakim, Lukmanul; S, Mochammad Novendri
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5383

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi konsep qada dan qadar serta ajaran kesabaran dalam Al-Qur'an sebagai respons terhadap tantangan psikologis kontemporer, melalui lensa hermeneutika humanistik. Pendekatan ini menekankan pemahaman kontekstual dan subjektivitas teks keagamaan. Dengan menganalisis ayat-ayat dalam Al-Qur'an, studi ini berargumen bahwa Al-Qur'an menawarkan kerangka kerja komprehensif bagi individu untuk mengelola stres dan meningkatkan ketahanan mental. Analisis menyoroti keselarasan konsep dikotomi kendali pada filsafat stoikisme dalam Islam dalam al-Qur’an (QS al-Ra’d: 11), di mana manusia didorong berikhtiar atas hal yang terkendali, sembari bertawakal pada hasil di luar kendali. Ajaran kesabaran dalam Al-Qur'an (QS al-Baqarah: 155-156) digali sebagai strategi mengelola emosi negatif, sejalan dengan prinsip Stoik "hidup bebas dari emosi negatif". Hasil penelitian menunjukkan tafsir Qur’ani yang humanistik dan kontekstual memperkaya pemahaman ayat suci dan menawarkan solusi praktis spiritual bagi individu menghadapi tekanan hidup. Studi ini menegaskan Al-Qur'an, melalui interpretasi empatik, dapat menjadi panduan relevan membangun ketahanan batin dan mencapai kesejahteraan psikologis.
Kemiskinan dalam Al-Qur'an: Perspektif Spiritual dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Konteks Sosial Kontemporer Nurlaila, Siti; Al Ayubi, Sholahuddin; Zahra, Siska Adelia; Soimah, Jahrotu; Nabila, Putri Hudani
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5333

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari masalah kemiskinan dari sudut pandang Al-Qur'an, dengan menekankan dua aspek utama: spiritualitas dan pemberdayaan ekonomi dalam konteks sosial kontemporer yang dinamis. Fokus penelitian terletak pada pemahaman yang menyeluruh tentang konsep kemiskinan dalam Al-Qur'an dan implementasinya sebagai tanggapan terhadap masalah struktural dan moral yang melampaui dimensi ekonomi semata. Secara metodologis penelitian ini menerapkan metode kualitatif berbasis studi literatur dengan teknik tafsir tekstual untuk ayat-ayat yang relevan. Selain itu, hasil empiris tentang pemberdayaan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam dikuatkan melalui kajian komparatif. Studi ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an melihat kemiskinan sebagai fenomena yang memiliki berbagai aspek: ekonomi, sosial, dan spiritual. Upaya penanggulangannya tidak hanya melalui pendekatan karitatif jangka pendek, tetapi melalui transformasi struktural berbasis keadilan distributif. Nilai-nilai etis seperti "adl", yang berarti keadilan, ta‘awun, dan iḥsan yang berarti kebaikan berkelanjutan, mendorong instrumen redistribusi kekayaan seperti zakat, infak, dan sedekah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memasukkan nilai spiritual ke dalam kebijakan sosial-ekonomi adalah cara penting untuk membangun sistem keadilan yang berkelanjutan. Penelitian ini juga menyarankan untuk membangun model pemberdayaan ekonomi yang kontekstual dan aplikatif, tetap berpegang pada prinsip-prinsip Qur'ani yang universal dan transformatif.
Peran Penguasaan Ilmu Nahwu Terhadap Kemampuan Waqaf dan Ibtidā dalam Membaca Al-Qur’an Bahri, Samsul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5400

Abstract

Kemampuan waqaf (berhenti) dan ibtidā (memulai) dalam membaca al-Qur’an sangat penting bagi seorang qari. Ilmu nahwu berperan erat karena membantu memahami struktur kalimat, menentukan tempat berhenti dan memulai yang tepat, serta mengidentifikasi kata kunci penanda akhir kalimat. Kesalahan dalam waqaf dan ibtidā dapat merusak makna ayat, sehingga penguasaan ilmu nahwu mutlak diperlukan untuk menjaga ketepatan bacaan al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan urgensi penguasaan ilmu nahwu dalam meningkatkan kemampuan waqaf dan ibtidā ketika membaca al-Qur’an, serta menegaskan perannya dalam menjaga keutuhan makna ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual yang berfokus pada kajian literatur, meliputi kitab, buku, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan tema. Sumber utama penelitian adalah kitab-kitab nahwu dan tajwid.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waqaf dan ibtidā memiliki pengaruh besar terhadap makna ayat-ayat al-Qur’an. Kesalahan dalam berhenti atau memulai bacaan dapat mengubah makna yang dimaksudkan. Oleh karena itu, penguasaan ilmu nahwu sangat penting untuk meningkatkan kemampuan waqaf dan ibtidā. Ilmu nahwu membantu memahami struktur kalimat, hubungan antar kata, serta konteks ayat, sehingga bacaan al-Qur’an dapat dilakukan dengan tepat dan benar. Dengan demikian, penguasaan ilmu nahwu menjadi faktor kunci dalam memperbaiki kualitas bacaan al-Qur’an serta menjaga kemurnian maknanya.
Revitalisasi Hadis Tentang Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Merespons Krisis Pendidikan Islam Kontemporer di Indonesia Sunarsi, Sunarsi; Ahmad, La Ode Ismail; Sakka, Abdul Rahman
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5396

Abstract

Fenomena menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, meskipun di tengah kemajuan teknologi informasi, menunjukkan adanya paradoks yang serius, khususnya dalam masyarakat Muslim yang semestinya menjadikan ilmu sebagai landasan utama kehidupan. Artikel ini mengkaji urgensi menuntut ilmu dalam perspektif hadis dengan fokus pada hadis riwayat Ibnu Majah: “Ṭalab al-’ilm farīḍah ‘alā kulli muslim”, serta relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan takhrij al-ḥadīs untuk menelusuri hadis, serta interpretasi kontekstual yang mengaitkan substansi hadis dengan realitas pendidikan modern. Meskipun hadis tersebut tergolong ḍa’īf, mayoritas ulama membolehkan pengamalannya dalam konteks fadhā’il al-a’māl. Temuan menunjukkan bahwa hadis ini tetap relevan sebagai landasan motivasional untuk membentuk kultur belajar yang kuat. Artikel ini juga menawarkan model integratif antara nilai-nilai spiritual dan tuntutan modernitas dalam sistem pendidikan Islam Indonesia. Dengan pendekatan normatif-aplikatif, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang kontekstual, adaptif, dan berakar pada nilai-nilai profetik.
Kuriositas dalam Al-Qur’an: Studi Qur’an Tematik dengan Pendekatan Grounded Theory Rohmah, Siti; Anwar, Endang Saeful; Luthfi, Hikmatul; Alif, Muhammad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5403

Abstract

Salah satu komponen penting dalam pencarian ilmu adalah rasa ingin tahu, yang terkadang dikenal sebagai keinginan untuk belajar. Gagasan bahwa manusia terdorong untuk bertanya, berpikir, mengamati, dan mencari pemahaman benar-benar hadir dalam banyak kisah Al-Qur'an, meskipun hal itu jarang menjadi subjek studi tafsir Al-Qur'an. Melalui pendekatan tematik (maud'i) dengan menggunakan metodologi Grounded theory, studi ini meneliti berbagai cara rasa ingin tahu diekspresikan dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi arahan untuk berpikir, membaca, dan bertanya, serta peristiwa yang memiliki makna pencarian, seperti kisah para malaikat dan Nabi Adam, perenungan tentang penciptaan, dan perjalanan spiritual Nabi Musa dengan Khidr, merupakan sumber data utama. Prosedur analisis terdiri dari tiga fase: pengkodean terbuka, pengkodean aksial, dan pengkodean selektif. Menurut studi ini, ada tujuh bentuk utama rasa ingin tahu dalam Al-Qur'an: eksistensial, observasional, empiris, ilmiah, akademis, spiritual, dan ketekunan optimis. Menurut penemuan ini, Al-Qur'an tidak hanya memberikan arahan normatif, tetapi juga mengilhami manusia untuk secara aktif mencari makna melalui akal, indra, dan dimensi spiritual. Rasa ingin tahu dalam Al-Qur'an bukanlah indikasi kebingungan; sebaliknya, itu adalah cara untuk memperoleh pengetahuan, keimanan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.

Page 1 of 2 | Total Record : 15