cover
Contact Name
Dony Ahmad Ramadhani
Contact Email
redaksialmuhith@gmail.com
Phone
+6285347523062
Journal Mail Official
almuhith@stiq-amuntai.ac.id
Editorial Address
Jl. Rakha Pakapuran Rt. III. Komplek Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara
Location
Kab. hulu sungai utara,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Muhith : Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits
ISSN : 29634016     EISSN : 29634024     DOI : http://dx.doi.org/10.35931/AMH
Focus and Scope Jurnal Al-Muhith Jurnal Ilmu Quran dan Hadits adalah Tafsir Quran Exegesis Ilmu Hadits Hadith Studies Studi Al-Quran dan Kontekstualisasi Quranic Studies and Contextualization Metode Penafsiran dalam Tradisi Islam Methods of Interpretation in Islamic Tradition Sejarah Kebudayaan Islam History of Islamic Civilization Perbandingan Agama Comparative Religion Hermeneutika Islam Islamic Hermeneutics Filologi Qurani Quranic Philology Etika Islam Islamic Ethics Studi tentang Sunnah Nabi Studies on the Prophets Tradition
Articles 60 Documents
الحديث المختلف بين الترجيح والجمع والنسخ Rusydi, Akhmad; Mahmudin, Mahmudin; Subehan, Ahmad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 3, No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v3i2.4283

Abstract

إن علم مختلف الحديث من أهم العلوم الشرعية؛ إذ لا يمكن فهم الحديث النبوي الشريف واستنباط الأحكام الشرعية منه إلا بمعرفة علم مختلف الحديث، وقد اتفقت كلمة علماء الحديث الذين صنفوا في علم مصطلح الحديث على التنبيه على هذه الأهمية ، وقال الإمام النووي في التقريب قال: "هذا فنٌ من أهمِّ الأنواع، ويضطرُّ إلى معرفته جميع العلماء من الطوائف" وهذا المقال محاولة  للتعريف بعلم مختلف الحديث وبعض من صنف فيه، وهذا أوان الشروع في المقصود فأقول وبالله التوفيق والعون والسداد .فمنهج كتابة هذه المقالة البسيطة هو المنهج الكيفي، ويعد هذه المقالة من البحث المكتيبي حيث يقرأ الكاتب الكتب المتعلقة بهذا الموضوع ويقارن المعلومات فيها بعد استيعاهبا وتعمقها. وقد استنبط الكاتب من خلال هذه المقالة أن معرفة علوم الحديث أمر مهم على جميع طلبة العلم، ومختلف الحديث من حيث العمل وقبولهما أو أحدهما، فإنه ينقسمان قسمين، وهما ما يمكن الجمع بينهما، وما لا يمكن الجمع. إذا وجدنا حديثين متعارضين ولم نستطع الجمع بينهما، ففي هذه الحالة طريقتان، وهما النسخ والترجيح. وأما أنواع مختلف الحديث من حيث مخالفه ينقسم  أقساما منها حديث يخالف الأية القرآنية، حديث يخالف حديثا آخر، حديث يخالف الإجماع ، حديث يخالف القياس ، حديث يخالف العقل.
Penerapan Afirmasi Positif Pada Sarjana Penghafal Qur’an dalam Membangun Motivasi Belajar Rahman, Sandy Aulia; Hidayat, Taufik
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.4705

Abstract

Motivasi belajar merupakan salah satu faktor kunci dalam keberhasilan akademik, terutama bagi mahasiswa yang menjalani program penghafalan Al-Qur'an. Namun, mahasiswa penghafal Qur'an sering menghadapi berbagai tantangan, seperti kejenuhan belajar, tekanan target hafalan, dan minimnya dukungan psikologis, yang dapat berdampak pada penurunan semangat belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan afirmasi positif dalam membangun motivasi belajar di kalangan sarjana penghafal Qur'an di STIQ Amuntai. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afirmasi positif, berupa kata-kata motivasi berbasis nilai-nilai Islam, efektif dalam meningkatkan semangat belajar dan ketahanan mental mahasiswa. Pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa mengatasi kejenuhan dalam proses pembelajaran, tetapi juga memperkuat koneksi spiritual mereka dengan Al-Qur'an sebagai sumber inspirasi utama. Selain itu, dukungan dari dosen dan lingkungan pembelajaran yang kondusif turut memperkuat efektivitas penerapan afirmasi positif. Penelitian ini menunjukkan bahwa afirmasi positif dapat menjadi salah satu cara yang sederhana tetapi bermanfaat untuk meningkatkan semangat belajar mahasiswa penghafal Qur'an, sehingga dapat diterapkan lebih luas di lingkungan pendidikan Islam.
Pendidikan Toleransi dalam Perspektif Al-Qur’an: Analisis Implementasi pada Tri Pusat Pendidikan Asfa, Muhammad Najib; Basir, Abd.
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.4532

Abstract

Pendidikan toleransi adalah fondasi penting untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat yang majemuk. Namun, laporan survei SETARA Institute (2023) mengungkap bahwa meskipun 70,2% siswa SMA memiliki sikap toleran, terdapat 24,2% yang masuk kategori intoleran pasif, 5% intoleran aktif, dan 0,6% berpotensi terpapar radikalisme. Selain itu, 33% siswa mendukung tindakan membela agama hingga mati, dan 56,3% menyetujui syariat Islam sebagai landasan negara. Fakta ini menunjukkan adanya ancaman nyata terhadap nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman. Islam, melalui Al-Qur'an, memberikan panduan komprehensif mengenai toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial. Artikel ini mengkaji konsep pendidikan toleransi dalam Al-Qur'an melalui analisis ayat-ayat Al-Hujurat ayat 13, Al-Baqarah ayat 256, Surah Al-Kafirun, dan Al-Maidah ayat 8. Fokus utamanya adalah implementasi nilai-nilai tersebut dalam Tri Pusat Pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat, sebagai strategi pendidikan holistik. Dengan metode studi literatur dan pendekatan tafsir tematik, kajian ini menunjukkan bahwa sinergi Tri Pusat Pendidikan berbasis nilai Qur'ani dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi ancaman intoleransi serta membangun generasi yang inklusif, berkeadaban, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Hasil penelitian adalah Pendidikan toleransi memerlukan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga menanamkan toleransi sejak dini melalui keteladanan, sementara sekolah mengintegrasikan nilai-nilai Qur'ani dalam kurikulum dan menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan. Masyarakat memperkuat nilai ini melalui kegiatan sosial. Dengan pendekatan ini, pendidikan toleransi berbasis Al-Qur'an dapat membentuk generasi yang memahami dan menerapkan nilai keberagaman dalam kehidupan.
Nilai-Nilai Pendidikan dalam Sejarah Pewahyuan Al-Qur’an: Studi Literatur Kualitatif Berbasis Tafsir Tarbawi Ulhaq, Muhammad Miftah; Arjuna, Arjuna; Karman, Karman; Muslih, Hafid
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.4672

Abstract

Penelitian ini menganalisis nilai-nilai pendidikan dalam sejarah pewahyuan Al-Qur'an melalui perspektif tafsir tarbawi. Fokus utama kajian adalah bagaimana proses pewahyuan secara bertahap dalam konteks Makkiyah dan Madaniyah menyajikan model pendidikan progresif yang relevan untuk pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, melibatkan lima kitab tafsir utama, seperti Tafsir Al-Munir dan Tafsir Al-Azhar, serta lima belas artikel jurnal relevan dalam lima tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti tauhid, sabar, musyawarah, dan keadilan terkandung dalam pola pewahyuan yang bertahap, menawarkan model pendidikan yang holistik dan fleksibel. Pendekatan tafsir tarbawi mengungkap dimensi edukatif dari ayat-ayat Al-Qur'an dengan menghubungkannya pada konteks pendidikan modern. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk terbatasnya kajian empiris dan cakupan konteks sosial-budaya kontemporer. Penelitian lanjutan yang lebih interdisipliner dan empiris diperlukan untuk menggali penerapan nilai-nilai ini dalam konteks pendidikan formal dan nonformal. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan kurikulum pendidikan Islam berbasis nilai Al-Qur'an yang lebih relevan dan aplikatif.
Makna Kata Manna Wa Salwa dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 57 (Studi Komparatif Tafsir Klasik dan Kontemporer) Ridhani, Muhammad Rifqi; Dasuki, Akhmad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5092

Abstract

Frasa Manna wa Salwa dalam Q.S. al-Baqarah [2]:57 bukan sekadar kisah historis tentang rezeki langit yang dikaruniakan kepada Bani Israil, melainkan menjadi simpul penting dalam wacana tafsir lintas zaman yang memperlihatkan dinamika pergeseran makna dari literalitas ke simbolisme kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi makna Manna wa Salwa dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, serta menggali relevansinya dalam kehidupan modern melalui pendekatan komparatif. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap tafsir Ibn Katsir, al-Qurtubi, al-Munir, dan al-Misbah. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan menekankan analisis terhadap kecenderungan metodologis dan interpretatif dari masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik umumnya menekankan aspek tekstual dan historis, di mana manna dimaknai sebagai zat manis alami seperti madu atau getah pohon, dan salwa sebagai burung puyuh yang dagingnya dapat dikonsumsi. Sebaliknya, tafsir kontemporer membuka ruang interpretasi yang lebih fungsional, di mana keduanya tidak hanya dipahami sebagai objek fisik semata, tetapi juga sebagai simbol dari rezeki ilahi yang bergizi dan menunjang daya tahan fisik manusia. Riset ini mengembangkan dimensi kontekstual bahwa manna di era sekarang dapat dipadankan dengan makanan bergizi tinggi seperti kurma, madu, atau suplemen alami, sementara salwa dapat dimaknai sebagai protein hewani seperti ayam, bebek, atau ikan yang kaya akan nutrisi.
Implementasi Nagham dalam Seni Tilawah Al-Qur’an di Pesantren Al-Muhsinin Kec. Rimba Melintang Fatimah, Fatimah; Nur, Afrizal
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5168

Abstract

Latar belakang penelitian ini muncul dari kebutuhan untuk mengembangkan metode efektif dalam pembelajaran seni tilawah Al-Qur'an, terutama penggunaan nagham sebagai teknik memperindah bacaan. Di Pesantren Al-Muhsinin, kegiatan seni tilawah menjadi salah satu program unggulan yang tidak hanya ditujukan untuk kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), tetapi juga sebagai sarana mendekatkan santri dengan Al-Qur'an secara spiritual dan emosional. Namun, sebagian santri masih mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan nagham, terutama pemula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran nagham serta bagaimana implementasinya dalam praktik tilawah Al-Qur'an di pondok pesantren tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode halaqah sangat efektif dalam mengajarkan seni tilawah. Metode ini memperkuat hubungan antara guru dan santri, mempermudah penyampaian materi, dan menciptakan lingkungan belajar yang harmonis. Implementasi nagham terbukti meningkatkan kualitas bacaan, kepercayaan diri, serta semangat santri dalam berlatih. Selain itu, pembelajaran nagham juga memberikan dampak sosial positif, di mana santri yang mahir menjadi teladan di masyarakat dan berperan sebagai pengajar tilawah di lingkungannya. Keseluruhan proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni tilawah berbasis nagham dapat dijadikan model pembinaan keagamaan yang efektif.
Kesehatan Mental dan Self-Healing dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqasidi Zakiah, Nor
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.4982

Abstract

Kesehatan mental merupakan aspek fundamental dalam kesejahteraan manusia, yang secara langsung memengaruhi kualitas hidup individu serta stabilitas sosial secara kolektif. Dalam ajaran Islam, berbagai bentuk ibadah seperti doa, dzikir, shalat, dan puasa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan mental dan spiritual seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep self-healing dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī, dengan menyoroti relevansinya terhadap praktik terapi psikologis modern. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang merujuk pada karya tafsir Ibnu ‘Āsyūr, Sayyid Qutb, dan Rasyid Riḍā. Hasil Analisis tematik ayat-ayat terkait, menunjukkan bahwa self-healing Islami berakar pada maqāşid asy-syari’ah, khususnya ḥifẓ al-nafs and ḥifẓ al-‘aql. Praktik ibadah dalam Islam memiliki korelasi dengan pendekatan terapi modern seperti MBT, CBT, dan Self-Regulation Therapy. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan tafsir maqāşidī dan psikologi, serta menawarkan pendekatan spiritual Islam dalam terapi mental.
Materi Pendidikan Islam dalam Perspektif Hadis Dewi, Cut; Azhima, Fauzan; Ariani, Safrina
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5097

Abstract

Penelitian ini membahas materi pendidikan Islam dari perspektif hadis, sebagai sumber ajaran yang memberikan fondasi spiritual, intelektual, dan moral dalam sistem pendidikan Islam. Dalam konteks ini, hadis Nabi Muhammad SAW tidak hanya berfungsi sebagai penguat Al-Qur’an, tetapi juga sebagai panduan praktis dalam merancang materi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kepustakaan dengan analisis isi terhadap teks-teks hadis klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa materi pendidikan Islam yang berlandaskan hadis mencakup tiga aspek utama: tauhid, fiqih, dan tasawuf. Ketiganya memiliki peran signifikan dalam pembentukan karakter peserta didik yang berakhlak mulia, memiliki kedalaman spiritual, serta pemahaman agama yang utuh. Tauhid mengajarkan nilai keesaan Allah dan membentuk fondasi iman, fiqih memberikan pemahaman hukum syariat, sementara tasawuf menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kesadaran spiritual. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam kurikulum pendidikan Islam. Integrasi hadis dalam materi ajar bukan hanya memperkuat landasan normatif pendidikan, tetapi juga memperkaya metode dan tujuan pembelajaran agar lebih kontekstual dan aplikatif. Oleh karena itu, hasil penelitian ini penting untuk dijadikan referensi dalam pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan karakter Islami secara menyeluruh.
Tafsir Bi Ra’yi di Era Klasik dan Modern Maryana, Siska; Rumiatun, Heni; Syah, Pirman
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5159

Abstract

Sebagai pedoman al Quran harus dipahami secara benar dan tepat. Upaya untuk memahami al Quran telah dilakukan oleh umat manusia pada setiap zaman, terkhusus oleh setiap mufasir.Hal ini kemudian melahirkan metodologi tafsir al Quran yang terdiri dari berbagai jenis metode tafsir, mulai dari tafsir yang menggunakan metode penafsiran ada: metode ijmali ( metode global), metode tahlili (metode analisis), metode muqarin (metode perbandingan), metode maudhu’i (metode tematik) dan berdasarkan sumber pengetahuan ada dua yaitu tafsir bi al-ma’tsur (tafsir berdasarkan riwayat atau teks) dan tafsir bi ra’yi (tafsir berdasarkan opini atau penafsiran pribadi). Artikel ini membahas secara mendalam tentang tafsir bi ra’yi pada era klasik dan tafsir bi’ra’yi era modern. Pembahasan ini meliputi pengertian, tokoh-tokoh, kita-kitab yang dihasilkan serta perpedaan dan persamaan pada penafsiran bi ra’yi era kalsik dan modern.Untuk itu artikel ini menggunakan metode penelitian studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Tafsir klasik lebih terfokus pada kaidah-kaidah kebahasaan dan syariat secara fundamental, sementara tafsir modern berupaya lebih kontekstual dan relevan dengan isu-isu kontemporer, sembari tetap menjaga prinsip-prinsip dasar penafsiran dan nilai-nilai agama.
Penafsiran Ilmiah Ayat Al-Qur’an Tentang Gunung Sebagai Pasak: Perspektif Geologi pada Q.S. An-Naba’ Ayat 7 Azizah, Azizah; Loka, Dara Puspita; Febriani, Eka Nor; Mujahid, Ahmad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5031

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna ayat Al-Qur’an tentang gunung sebagai pasak (rawāsiya/awtād) dalam Q.S. An-Naba’ ayat 7 melalui pendekatan tafsir ilmiah dan perspektif geologi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjembatani pemahaman antara teks-teks keagamaan dengan temuan ilmiah modern, khususnya dalam ilmu kebumian. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik dan tafsir ilmiah, serta analisis data geologi terkini mengenai struktur dan fungsi gunung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran klasik memahami gunung sebagai penyeimbang bumi secara simbolik maupun fungsional. Sementara itu, kajian geologi modern menjelaskan bahwa gunung terbentuk melalui proses tektonik dan berperan dalam menstabilkan kerak bumi serta meredam gaya horizontal lempeng tektonik. Dengan demikian, istilah “pasak” yang digunakan dalam Al-Qur’an menunjukkan kesesuaian makna secara konseptual dengan fungsi geologis gunung dalam menopang kestabilan litosfer. Temuan ini menunjukkan adanya harmoni antara teks wahyu dan ilmu pengetahuan, serta membuka ruang dialog antara sains dan tafsir Al-Qur’an. Penelitian ini juga menegaskan bahwa pendekatan ilmiah terhadap ayat-ayat kauniyyah dapat memperkaya pemahaman keislaman secara rasional dan kontekstual.