cover
Contact Name
Dony Ahmad Ramadhani
Contact Email
redaksialmuhith@gmail.com
Phone
+6285347523062
Journal Mail Official
almuhith@stiq-amuntai.ac.id
Editorial Address
Jl. Rakha Pakapuran Rt. III. Komplek Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara
Location
Kab. hulu sungai utara,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Muhith : Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits
ISSN : 29634016     EISSN : 29634024     DOI : http://dx.doi.org/10.35931/AMH
Focus and Scope Jurnal Al-Muhith Jurnal Ilmu Quran dan Hadits adalah Tafsir Quran Exegesis Ilmu Hadits Hadith Studies Studi Al-Quran dan Kontekstualisasi Quranic Studies and Contextualization Metode Penafsiran dalam Tradisi Islam Methods of Interpretation in Islamic Tradition Sejarah Kebudayaan Islam History of Islamic Civilization Perbandingan Agama Comparative Religion Hermeneutika Islam Islamic Hermeneutics Filologi Qurani Quranic Philology Etika Islam Islamic Ethics Studi tentang Sunnah Nabi Studies on the Prophets Tradition
Articles 90 Documents
Efektifitas Kurma Bagi Kesehatan Lambung: Studi Takhrij dan Sharh Hadis Wiwik Halwiyah; Kurbiyah Kurbiyah; Nurul Millah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6333

Abstract

Kurma merupakan buah yang sangat disukai oleh Rasulullah, tumbuh di daerah kering yang beriklim subtropis terutama di daerah-daerah Timur Tengah, kurma disebut beberapa kali di dalam al-Qur’an dan juga hadis diantaranya yaitu dalam Q.S Maryam ayat 25-26, sebagai buah yang sangat disukai Rasulullah, tentunya kurma memiliki manfaat bagi kesehatan dan berbanding lurus dengan teori sains. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis: deskriptif analisis, dengan menganalisa hadis melalui studi takhrij dan sharh hadis. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hadis tentang kurma, beserta takhrij, sharh, relevansinya dengan sains serta bukti empirisnya sehingga pada akhirnya akan ditemukan bahwa hadis bukanlah jejak sejarah, ia akan bermanfaat sampai akhir zaman. Setelah melakukan penelitian ini, penulis menemukan bahwa kurma mengandung beberapa unsur dan vitamin yang berguna bagi kesehatan, terutama bagi kesehatan lambung, ia memiliki khasiat untuk mengembalikan stamina serta menjaga imun agar tidak mudah sakit.
Analisis Metodologi Ulumul Hadis dalam Menjawab Keraguan Kelompok Inkarus Sunnah terhadap Otentisitas Hadis Miftahul Firdaus; Abdul Matin Bin Salman
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.5818

Abstract

Hadis yang merupakan pedoman hidup kedua bagi umat Islam setelah al-Qur’an memiliki periwayatan dan penulisan yang jauh berbeda dengan Al-Qur’an. Periwayatan hadis sebagian dilakukan secara mutawatir dan sebagian lagi secara Ah}a>d. Dengan demikian, diperlukan pengkajian dan penelitian lebih lanjut serta mendalam terhadap sanad maupun matan hadis dengan metode-metode tertentu sehingga bisa dipastikan otentisitas hadis benar-benar berasal dari Nabi SAW. Penelitian hadis sebagai negasi otentisitas hadis merupakan hal yang penting. Namun saat ini, banyak pemikir muslim menghadapi banyak tantangan terhadap gagasan Islam klasik tentang persoalan otentisitas hadis. Ada celah keraguan yang dilontarkan oleh kelompok Inkarus Sunnah yang skeptis bahkan menolak otentisitas hadis. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis metodologi ulumul hadis dan menjawab keraguan kelompok inkarus sunnah terkait otentisitas hadits. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (libary research). Data diperoleh dari kitab-kitab hadis klasik dan dianalisis secara deskriptif-analitis untuk memahami konsep otentisitas hadis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua hadis itu otentik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hadis dinyatakan otentik apabila hadis tersebut terbukti shahih secara sanad dan juga shahih secara matannya.
Implementasi Nilai Mubadalah dalam Pembelajaran Hadits: Studi di MAN 1 Kulon Progo Ridwan Faqih Sihono; Marhumah Marhumah; Adam Hadi
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.5918

Abstract

Implementasi nilai Mubadalah dalam pembelajaran Hadits adalah menghadirkan kesalingan, keadilan, dan penghormatan gender dalam pemilihan materi, metode, dan interaksi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana guru menerapkan perspektif Mubadalah dalam pembelajaran Hadits di MAN 1 Kulon Progo, dengan fokus pada nilai kesalingan, keadilan, serta penghormatan antara laki-laki dan perempuan. Secara khusus, penelitian ini menganalisis implementasi nilai Mubadalah dalam perencanaan pembelajaran, strategi pengajaran, dan respons siswa serta lingkungan sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam kepada Guru Hadits MAN 1 Kulon Progo. . Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berhasil menerapkan prinsip Mubadalah melalui pemilihan hadits yang relevan, penggunaan bahasa yang inklusif, serta penekanan pada penghormatan antar-gender dalam proses pembelajaran. Siswa merespons secara positif dengan menunjukkan peningkatan sikap saling menghargai, keterbukaan, dan pemahaman keagamaan yang lebih humanis. Lingkungan sekolah dan pihak madrasah juga memberikan dukungan melalui kebijakan yang mendorong moderasi beragama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Mubadalah efektif dalam menciptakan suasana belajar yang inklusif dan kontekstual, serta berpotensi menjadi model bagi madrasah lain.
Rekonstruksi Citra Pesantren di Media Elektronik: “Kajian Apologetik Al-Ghazali dan Al-Attas atas Distorsi Adab dan Prinsip Tabayyun (Qs. Al-Hujurat:6)” Aorta Abdillah Alaa; Nasrulloh Nasrulloh
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6298

Abstract

Maraknya pemberitaan dan konten media elektronik yang menampilkan pesantren secara bias termasuk program Xpose Uncensored di Trans7 telah memperkuat stereotip negatif dan menimbulkan distorsi adab dalam ruang publik digital. Representasi yang cenderung sensasional ini memutus konteks pesantren sebagai institusi pendidikan Islam bersejarah yang menggabungkan transmisi ilmu, pembentukan akhlak, dan pembinaan spiritual. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi citra pesantren melalui pendekatan apologetik berbasis pemikiran al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, dua tokoh yang menekankan pentingnya adab dan verifikasi informasi (tabayyun) sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Ḥujurat:6. Menggunakan metode kualitatif deskriptif–analitis, penelitian ini menelaah konten media, literatur klasik, serta respons masyarakat sebagai data komparatif. Berbeda dari penelitian terdahulu yang lebih berfokus pada kasus-kasus individual atau pendekatan sosiologis, studi ini menawarkan integrasi antara konsep adab, etika informasi, dan kritik media dalam bingkai epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distorsi media terhadap pesantren berakar pada lemahnya tabayyun publik dan hilangnya kerangka adab dalam produksi maupun konsumsi informasi. Melalui pendekatan apologetik, citra pesantren dapat direstorasi ke posisi proporsional sebagai pusat pembinaan moral, intelektual, dan sosial yang memiliki kontribusi signifikan bagi peradaban Islam.
Praktik Syura Tradisi Batagak Penghulu Adat Minangkabau Perspektif Living Qur’an Muhammad Ilham; Nasrulloh Nasrulloh
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6313

Abstract

Penelitian ini menganalisis integrasi nilai syura Qur’ani dalam mekanisme musyawarah adat Minangkabau pada tradisi batagak penghulu dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka yang diperkaya oleh wawancara terhadap narasumber adat. Latar belakang penelitian berangkat dari pentingnya memahami bagaimana nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam praktik sosial masyarakat lokal, khususnya melalui prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Tujuannya adalah menelaah bagaimana nilai syura’ diresepsi, diinterpretasi, dan diimplementasikan dalam proses pengangkatan penghulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan batagak penghulu mulai dari musyawarah kaum hingga konsensus nagari selaras dengan prinsip Qur’ani mengenai musyawarah, moralitas, dan legitimasi kepemimpinan sebagaimana tercermin dalam QS. 42:38, 3:159, 49:13, dan 4:59. Proses musyawarah tersebut memperlihatkan internalisasi nilai syura’ yang dijalankan secara turun-temurun dan terus direproduksi dalam konteks budaya yang dinamis. Kesimpulannya, tradisi batagak penghulu tidak hanya kompatibel dengan nilai Al-Qur’an, tetapi juga merepresentasikan bentuk living qur’an yang memadukan adat, agama, dan praktik sosial secara harmonis dalam menguatkan legitimasi kepemimpinan dan kohesi sosial di tengah dinamika masyarakat Minangkabau kontemporer serta menjaga keberlanjutan nilai-nilai kolektif.
Studi Komprehensif Pendidikan Anak dalam Hadis dengan Penelaahan Terhadap Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Lutfiani Astutik; Suyudi Suyudi
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.5970

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif konsep pendidikan anak dalam hadis serta menelaah peran dan tanggung jawab orang tua dalam pembentukan karakter anak. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana hadis memandang pendidikan anak dan sejauh mana orang tua diposisikan sebagai pendidik utama dalam membangun akhlak dan kepribadian anak. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan deskriptif-analitis. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari kitab-kitab hadis, buku pendidikan Islam, serta karya ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan cara menelusuri, mengumpulkan, membaca, dan mengkaji sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan pendidikan anak dan tanggung jawab orang tua dalam perspektif hadis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis isi untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak sejak usia dini, dengan menempatkan orang tua sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab utama dalam membentuk karakter, akhlak, dan kepribadian anak. Pendidikan yang dilakukan secara konsisten dalam lingkungan keluarga terbukti memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak yang berakhlak mulia.
Konteks dan Dinamika Tafsir Surah Al-Fil: dari Riwayat Hingga Relevansi di Era Modern Muhammad Muslich Aljabbar
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.5968

Abstract

Penelitian ini menelaah konteks historis, dinamika penafsiran, serta relevansi nilai-nilai surah al-Fil dalam kehidupan modern. Surah makiyah ini dikenal memiliki historis yang berkaitan dengan peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah. Historis tersebut seakan-akan menjadikan surah ini dipahami semata sebagai narasi masa lalu yang statis. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menghadirkan pembacaan yang lebih kontekstual dengan menelusuri riwayat, tafsir klasik hingga modern, serta relevansi pesan yang dikandungnya pada kehidupan sehari-hari. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini merujuk pada Al-Qur’an, kitab tafsir, buku, dan artikel jurnal. Analisis dilakukan melalui kajian ‘Ulum al-Qur’an, penelusuran konteks sejarah, telaah pandangan mufasir, dan penarikan nilai-nilai dalam konteks kekinian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat riwayat pasti yang menegaskan peristiwa sebab turunnya surah, namun sejumlah riwayat menjelaskan konteks historisnya. Penafsiran mufasir dari tiga periode: klasik (Ibn ‘Abbas), pertengahan (Al-Ṭabari), dan modern (Sayyid Quṭb) menunjukkan kesinambungan penafsiran makna dengan beberapa tambahan berbeda, terutama gaya retoris ayat pertama, pemaknaan lafaz ababil, serta sikap terhadap takwil modern. Adapun relevansi surah al-Fil pada masa kini mencakup ajakan refleksi sejarah, peringatan terhadap tipu daya, pentingnya solidaritas, serta kesadaran bahwa ambisi berbasis kesombongan pada akhirnya akan berujung kehancuran. Temuan ini menegaskan bahwa pesan surah al-Fil tetap hidup dan signifikan dalam menghadapi dinamika zaman.
Interpretasi Ayat Jilbab (Qs. An-Nur 31 & Qs. Al-Ahzab 59) Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Muhammad Falihul Anam
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.5930

Abstract

Agama Islam mewajibkan bagi para penganutnya agar berpakaian sesuai dengan syar’i yaitu menutup aurat. Memperlihatkan aurat dapat menimbulkan dampak negatif bagi yang menampakkan serta bagi yang melihatnya. Salah satu problematika yang sampai sekarang masih diperdebatkan ialah persoalan jilbab bagi perempuan. Telah banyak pendapat mufassir dan ulama yang menjelaskan tentang jilbab, hal ini membuktikan bahwa bagi kaum Muslimah, jilbab sangat penting sehingga membutuhkan penjelasan yang signifikan. Beberapa pendapat yang dipaparkan oleh para mufassir tentang kewajiban berjilbab dalam Qs. An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59 pendapat yang bertentangan dengan masyarakat dan kebanyakan ulama lain yaitu pendapat yang diutarakan oleh mufassir ter-masyhur dari Indonesia yakni Muhammad Quraish Shihab yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib untuk kaum Muslimah. Didalam kitab tafsirnya Al-Mishbah, ia tidak menuntut kaum Muslimah untuk memakai jilbab namun bukan berarti ia membolehkan untuk tidak berjilbab.
Awhanul Buyut dalam Al-Qur’an Analisis Semiotika Roland Barthes Saparudin Arianur; Muhammad Rayya Akmal; Marwa Marwa; Desi Erawati; Saipulah Saipulah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6309

Abstract

Penelitian ini mengkaji simbol Awhanul Buyut (rumah laba-laba) dalam QS. al-‘Ankabut ayat 41 melalui pendekatan semiotika Roland Barthes yang diintegrasikan dengan tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Kajian ini bertujuan menyingkap struktur makna simbolik dalam ayat tersebut, yang menggambarkan rapuhnya kebergantungan manusia kepada selain Allah, serta relevansinya dengan realitas sosial dan sains modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan analisis semiotik tiga lapis makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk menelusuri pesan teologis, moral, dan ideologis yang terkandung dalam teks Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, Awhanul Buyut merepresentasikan struktur fisik yang lemah; pada tingkat konotasi, simbol ini menggambarkan kerapuhan sistem sosial dan spiritual manusia; sedangkan pada tingkat mitos, ia mengungkap ilusi keamanan modern yang dibangun atas dasar materialisme dan kebergantungan duniawi. Integrasi dengan tafsir Al-Mishbah serta pendekatan epistemologis Bayani, Burhani, dan Irfani memperlihatkan bahwa simbolisme Al-Qur’an tidak hanya mengandung makna teologis, tetapi juga refleksi kritis terhadap kondisi eksistensial manusia modern. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan relevansi semiotika Barthes dalam memperkaya pembacaan tafsir Al-Qur’an secara interdisipliner dan kontekstual.
Living Hadis Persaudaraan: Aktualisasi Ukhuwah Islamiyah Santri dalam Kehidupan di Pesantren As-Sakinah Yogyakarta Muhammad Farij Al-Kahfi; Havid Nur Solikhin; Marhumah Marhumah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana nilai-nilai ukhuwah islamiyah diimplementasikan dalam kehidupan santri di Pesantren As-Sakinah Yogyakarta. Fokus kajian diarahkan pada praktik living hadis ukhuwah yang berkembang dalam keseharian santri melalui sistem pendidikan khas pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi. Data dikumpulkam melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan ustadz dan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai ukhuwah islamamiyah tidak muncul secara spontan, namun terbentuk melalui proses pembiasaan, keteladanan dan interaksi sosial yang intens di lingkungan pesantren. Nilai-nilai seperti tolong menolong, ketaatan kepada ustadz, dan kepedulian sosial antar santri menjadi wujud nyata dari internalisasi hadis tentang persaudaraan. Selain itu, ditemukan juga dimensi ukhuwah wathaniyah yang tampak dalam rasa tanggung jawab kolektif dan semangat gotong royong yang tumbuh di antara santri dalam menjaga kebersihan dan ketertiban asrama. Dengan demikian, pesantren As-Sakinah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter sosial dan moral yang berakar pada nilai-nilai islam dan tradisi living hadis.