cover
Contact Name
Dony Ahmad Ramadhani
Contact Email
redaksialmuhith@gmail.com
Phone
+6285347523062
Journal Mail Official
almuhith@stiq-amuntai.ac.id
Editorial Address
Jl. Rakha Pakapuran Rt. III. Komplek Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai. Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara
Location
Kab. hulu sungai utara,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Al-Muhith : Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits
ISSN : 29634016     EISSN : 29634024     DOI : http://dx.doi.org/10.35931/AMH
Focus and Scope Jurnal Al-Muhith Jurnal Ilmu Quran dan Hadits adalah Tafsir Quran Exegesis Ilmu Hadits Hadith Studies Studi Al-Quran dan Kontekstualisasi Quranic Studies and Contextualization Metode Penafsiran dalam Tradisi Islam Methods of Interpretation in Islamic Tradition Sejarah Kebudayaan Islam History of Islamic Civilization Perbandingan Agama Comparative Religion Hermeneutika Islam Islamic Hermeneutics Filologi Qurani Quranic Philology Etika Islam Islamic Ethics Studi tentang Sunnah Nabi Studies on the Prophets Tradition
Articles 77 Documents
Kajian Takhrij Hadis Tentang Zuhud dan Implikasinya Terhadap Fenomena Hustle Culture Sholihah, Fatiha Amila; Matin, Abdul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5770

Abstract

Perubahan sosial yang pesat akibat arus globalisasi dan kemajuan teknologi telah menciptakan tatanan kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif. Dinamika ini mengubah perspektif masyarakat terhadap nilai kerja dan definisi kesuksesan yang kemudian memunculkan fenomena hustle culture. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri kualitas hadis tentang zuhud, spesifik pada hadis riwayat Ibnu Majah no. 4102 serta mengaitkan nilai zuhud dengan fenomena hustle culture. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (libary research). Sumber data primer berasal dari kitab-kitab hadis, sedangkan sumber data sekunder berasal dari literatur pendukung seperti kitab takhrij, buku, dan artikel jurnal terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hadis riwayat Ibnu Majah no.4102 tentang zuhud berstatus ḥasan lighairihi dengan syawahid dari jalur periwayatan Abu Ya’la al-Khalili. Konsep zuhud dalam hadis ini memunyai beberapa implikasi terhadap fenomena hustle culture, di antaranya redefinisi terhadap tujuan kerja dan makna kesuksesan sejati, pemutus rantai kompetisi material dan pengakuan sosial, menghargai keseimbangan dan kesejahteraan diri.
Pendekatan Qawa‘Id Al Tafsir Terhadap Pola Soal dan Jawab dalam Al Qur’an Rif’ah, Lailatul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5787

Abstract

Kaidah pertanyaan (istifham) dan jawaban dalam Al-Qur'an merupakan bagian penting dari penelitian ini. Pertanyaan dalam Al-Qur'an tidak selalu bertujuan untuk mengumpulkan informasi; sebaliknya, mereka memiliki tujuan retorik, penegasan, pengingkaran, bahkan perintah. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Ayat-ayat yang mengandung pola pertanyaan dianalisis secara linguistik dan tafsir. Studi ini mengumpulkan data dari kitab tafsir klasik seperti al-Itqan fi "Ulum al-Qur'an" oleh al-Suyuṭi, Uṣul al-Tafsir wa Qawa‘iduhu oleh Khalid "Abd al-Raḥman, dan Qawa‘id al-Tafsir oleh Khalid al-Sabt. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai jenis pertanyaan yang ditemukan dalam Al-Qur'an dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian yaitu (1) istifham inkari yang bermakna pengingkaran, (2) pertanyaan yang mengandung perintah, (3) pertanyaan yang mengandung penegasan, serta (4) pertanyaan sebagai sarana pendidikan dan argumentasi. Pemahaman terhadap kaidah ini penting untuk menghindari kesalahan interpretasi dan memberikan pemaknaan yang lebih mendalam terhadap pesan ilahi.
Intregrasi Model Penafsiran Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits di Era Kontemporer dalam Lembaga Pendidikan Islam Gusli, Ramadhoni Aulia; Charles, Charles
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5669

Abstract

Penelitian ini berupaya mengintetgrasikan model penafsiran hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits di era kontemporer dalam Lembaga Pendidikan Islam. Model penafiran hermeneutika ini dipandang semakin relevan di era kontemporer dalam Lembaga Pendidikan Islam. Ketika wacana tafsir mudah tersebar secara cepat namun seringkali bersifat parsial, reduktif, bahkan dijadikan legitimasi untuk sikap ekstrem dan intoleran. Maka dari itu pentingnya penelitian ini dilakukan untuk melihat dan melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman pada saat sekarang ini. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan sumber data dari buku, jurnal yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Proses analisis dilakukan dengan menelaah, membandingkan, dan mengintegrasikan berbagai perspektif untuk membangun kerangka teori yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hermeneutika integratif dapat menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh, seimbang, dan kontekstual. Walaupun ada yang mendukung ataupun menolak hermeneutika ini dalam penerapan penafsiran Al-Qur’an dan hadits namun metode ini juga diperlukan untuk penafsiran kita suci umat Islam. Pendekatan ini membuka peluang bagi Al-Qur’an dan hadis untuk memberikan jawaban terhadap problem-problem kontemporer di Lembaga Pendidikan Islam. Dengan demikian, hermeneutika integratif tidak hanya bernilai teoretis dalam ranah akademik, tetapi juga memiliki fungsi praktis sebagai pedoman sosial yang mampu menjaga otoritas wahyu sekaligus relevan dengan dinamika global. Dengan adanya hermeneutika ini penafsiran Al-Qur’an dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam Lembaga Pendidikan Islam pada saat sekarang ini.
Analisis Pemaknaan Konsep Nasikh dan Mansukh dalam Qs. Al-Baqarah Ayat 106: Studi Komparatif Antara Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab Pramesti, Azzahra Maya; Matin, Abdul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5762

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengkaji dan membandingkan pemaknaan konsep nasikh dan mansukh pada Q.S Al-Baqarah ayat 106 berdasarkan dua corak tafsir; klasik diwakili oleh Ibnu Katsir, dan kontemporer oleh Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan analisis komparatif pada Tafsir al-Qurʾan al-ʿAẓim karya Ibnu Katsir dan Tafsir al-Misbaḥ karya Quraish Shihab, serta didukung oleh literatur sekunder berupa buku, jurnal, dan literatur terkait. Temuan penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan pandangan. Persamaannya, mereka mengakui adanya nasikh dan mansukh, menegaskan bahwa konsep ini hanya terjadi pada ahkam, serta sama-sama menekankan pentingnya kronologi turunnya wahyu dalam menentukan nasikh dan mansukh. Perbedaannya, Ibnu Katsir memahami ayat ini secara tekstual, dengan menekankan nasikh sebagai penghapusan hukum lama diganti dengan hukum baru, serta merujuk pada riwayat sahabat dan tabi’in. Sedangkan Quraish Shihab menafsirkan dengan coraf tahlili yang sifatnya kontekstual dan rekonsiliatif, menekankan bahwa nasikh tidak selalu berarti penghapusan total, melainkan bentuk penyesuaian hukum sesuai perkembangan masyarakat. Selain itu, keluasan penetapan pada ayat mansukh; Ibnu Katsir mengikuti tradisi klasik yang cenderung banyak, Quraish Shihab lebih selektif dan hati-hati. Relevansi perbandingan ini merupakan tanda hadirnya dialog antara tafsir klasik dan kontemporer, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan hukum Islam yang dinamis, tetap berpijak pada otoritas teks namun responsif terhadap tantangan masyarakat modern.
Tafsir Ekologi: Metodologi dan Aplikasinya dalam Kelestarian Lingkungan dan Pemanasan Global Tohir, Abdul Illah; Ariyadi, Syamsul; Safe'I, Abdullah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5608

Abstract

Tafsir ekologi adalah metode penafsiran Al-Qur'an yang memfokuskan pada pelestarian lingkungan dan isu pemanasan global. Pendekatan ini menanggapi krisis ekologi kontemporer dengan menghubungkan ajaran Islam dan prinsip keberlanjutan lingkungan. Tujuan penelitian adalah mengembangkan metodologi tafsir ekologi untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an terkait etika lingkungan serta menerapkannya pada masalah pemanasan global. Metode yang digunakan berupa penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitik berbasis studi kepustakaan, meliputi pengumpulan dan analisis data dari ayat-ayat Al-Qur’an, tafsir klasik dan modern, serta literatur akademik terkait. Teknik analisis meliputi analisis isi dan semiotik untuk mengidentifikasi prinsip ekologis dan nilai etis dalam teks, serta mengaitkan hasil temuan dengan tantangan lingkungan saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir ekologi memberikan pemahaman holistik tentang peran manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam, menghindari kerusakan, dan menerapkan moderasi dalam pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya tradisi intelektual Islam, tetapi juga memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan dan pendidikan lingkungan berkelanjutan. Dengan demikian, tafsir ekologi dinilai relevan untuk menyikapi persoalan lingkungan global dari perspektif keislaman.
Studi Kajian Al-Qur’an dan Hadis dalam Analisis Maqasid Al-Syari‘Ah Terhadap Implimentasi Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) Mahmody, Hafiz
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5780

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) melalui lensa maqasid al-syari‘ah, dengan menekankan rujukan pada dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis. Analisis difokuskan pada sejauh mana kebijakan Tapera konsisten dengan prinsip-prinsip maqasid al-syari‘ah, baik dalam hal manfaat nyata yang dapat diperoleh masyarakat maupun risiko-risiko yang mungkin muncul dari pelaksanaannya. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, yang memungkinkan pemaparan secara rinci mengenai kebijakan Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sekaligus melakukan analisis berdasarkan al-Qur’an dan Hadits dalam kerangka maqasid al-syari‘ah. Pendekatan ini dipilih agar penelitian mampu menilai kesesuaian implementasi Tapera dengan tujuan perlindungan harta masyarakat sebagaimana digariskan dalam syariat Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) memiliki tujuan yang mulia, yakni membantu masyarakat dalam memperoleh hunian yang layak. Namun, dalam praktik pelaksanaannya, masih ditemukan beberapa aspek yang belum sepenuhnya konsisten dengan prinsip-prinsip syariah. Ketidaksesuaian ini berpotensi menyalahi pedoman al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar kaidah maqasid al-syari‘ah, sehingga dapat menimbulkan risiko terhadap perlindungan harta peserta serta mengurangi tingkat kemaslahatan yang semestinya diwujudkan melalui kebijakan tersebut.
Konsep ‘Arsy dalam Q.S. Thaha [20]: 5: Telaah Riffaterre Atas Teks Al-Qur’an dan Tafsir Al-Misbah Romadoni, Wahyu; Jainah, Jainah; El-bilad, Cecep Zakarias; Imansyah, Imansyah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5736

Abstract

Semiotika merupakan cabang ilmu yang mengkaji tanda dan makna, serta bagaimana realitas dikonstruksi melalui sistem tanda Bagaimana relevansi makna tersebut jika dikaitkan dengan penafsiran dalam Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, penelitian ini bertujuan mengkaji makna simbolik kata ‘Arsy dalam Q.S. Thaha [20]: 5 dengan pendekatan semiotika Michael Riffaterre serta menelaah relevansinya melalui penafsiran dalam Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Semiotika sebagai ilmu tentang tanda digunakan untuk mengungkap proses pemaknaan yang tidak hanya bersifat literal, tetapi juga simbolik dan kontekstual. Teori Riffaterre, yang terdiri dari pembacaan heuristik, hermeneutik, matriks, dan hipogram, diaplikasikan untuk menginterpretasi kedalaman makna ‘Arsy sebagai simbol kekuasaan mutlak Allah SWT. Penelitian ini merupakan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna ‘Arsy tidak terbatas pada aspek linguistik sebagai "singgasana", melainkan mencerminkan kekuasaan dan pengaturan Allah terhadap alam semesta. Interpretasi simbolik ini semakin kuat ketika dikaji secara intertekstual dengan ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an dan ditopang oleh pandangan mufasir kontemporer. Pendekatan semiotik Riffaterre terbukti mampu memperkaya pemahaman tafsir dengan membuka ruang pemaknaan yang dalam, kontekstual, dan tidak kaku terhadap teks suci.
Kritik Literatur Hadis Masa Kodifikasi: Studi Komparasi Pandangan Sarjana Barat dan Ulama Falaahi, Azka El; Ma’arif, Muhammad Nailul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5767

Abstract

Hadis adalah salah satu pedoman bagi umat islam. maka dalam penelitian ini ditujukan untuk melihat bagaimana kodifikasi hadis dilakukan oleh ulama kala itu atau masa awal kodifikasi hadis, dan disertai dengan keritik yang mengitarinya. Seperti yang sering di ketahui, bahwa hadis  juga sering dijadikan cela oleh beberapa sarjana barat untuk menjatuhkan islam. Mereka beranggapan bahwa hadis muncul sekian abad sepeninggal Nabi Muhammad SAW, dan merupakan buatan dari ulama abad kedua dan ketiga yang bersekongkol dengan pemimpin kala itu. Pendapat tersebut mendapat sanggahan dari salah seorang ulama. Metodologi yang di gunakan adalah library research, serta di tulis dengan metode kualitatif. Dari tulisan ini didapati bahwa untuk membuktikan otentisitas hadis, sarjana barat juga menggunakan pendekatan sosial dan politik. Hasil penelitian ini adalah pendapat-pendapat sarjana barat tersebut juga mampu di sanggah oleh ilmuan muslim berdasarkan data yang terkumpul Seperti yang dilakukan oleh Mustafa al-’Azami. Meskipun secara metode yang digunakan untuk menjawab berbeda, sarjana muslim menjawab dengan metode logika sedangkan pertanyaan sarjana barat dilontarkan dengan metode empiris dan mengharapkan jawaban yang empiris pula.
Konsep Ta’aruf Quraish Shihab dan Relevansinya bagi Hubungan Antar Umat Beragama di Indonesia Armayanto, Harda; Sahidin, Amir; Mukti, Pujangga Aji
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5752

Abstract

Hubungan  antar umat beragama di Indonesia tidak jarang diwarnai ketegangan, baik dalam bentuk diskriminasi, intoleransi, maupun konflik sosial. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya pemahaman terhadap konsep ta’aruf dalam Al-Qur’an, yang sering disalahartikan hanya sebatas urusan pernikahan. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menekankan bahwa ta’aruf bukan sekadar perkenalan formal, melainkan proses membangun kedekatan, saling pengertian, serta kerja sama yang berlandaskan kesadaran akan kehendak Allah dalam menciptakan keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ta’aruf Quraish Shihab dan relevansinya terhadap praktik hubungan umat beragama di Indonesia. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data diperoleh dari Tafsir al-Mishbah dan karya-karya Quraish Shihab lainnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, permasalahan utama hubungan antar umat beragama berakar pada kurangnya pemahaman akan konsep ta’aruf dalam Al-Qur’an. Kedua, Quraish Shihab mengartikan ta’aruf sebagai prinsip etika dan spiritual yang dapat diterapkan di berbagai agama, etnis, budaya, dan peradaban. Ketiga, relevansinya terhadap praktik hubungan umat beragama meliputi: dialog antaragama, pendidikan, dan interaksi sosial.
Rekonstruksi Ethico Legal dalam Penafsiran Ayat-Ayat Hijab: Analisis Wacana Kritis Terhadap Seksualitas Tubuh Perempuan Kaina, Lili; Rahmadita, Mawar; Hadi, Muhammad Luthfi; Prasetyo, Dimas Angger
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5707

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas rekonstruksi ethico-legal dalam penafsiran ayat-ayat hijab dengan menganalisis wacana seksualitas tubuh perempuan. Hal ini dilatari oleh fakta sejarah bahwa ayat-ayat hijab sering kali dikaitkan dengan perintah bagi perempuan untuk mengenakan jilbab, sekaligus berfungsi untuk membedakan antara perempuan merdeka dan perempuan budak. Selain itu, literatur yang ada menunjukkan adanya aspek moralitas yang terkandung dalam ayat-ayat hijab yang diarahkan kepada keharusan kaum perempuan untuk memelihara etika dan moralitas saat berinteraksi di ruang publik. Melalui metode kualitatif secara deskriptif-analitis dan pendekatan kontekstualisasi Abdullah Saeed, artikel ini memberi kesimpulan bahwa pemahaman QS. al-Ahzab [33]: 59 dan QS. al-Nur [24]: 31, yang merepresentasikan ayat-ayat hijab, mengajarkan kesopanan dalam berpakaian dan berperilaku, serta melarang perempuan menunjukkan perhiasan secara berlebihan. Hijab mencerminkan tanda ketaatan sekaligus menjadi alat perlindungan dari pelecehan dan stigma. Dalam perspektif tafsir kontekstualisasi Abdullah Saeed, kedua ayat hijab tersebut menghubungkan nilai Islam dengan hak asasi manusia, mendukung perlindungan perempuan secara adil, dan mendorong hijab sebagai simbol martabat. Pendekatan ini menentang budaya patriarki yang merugikan perempuan dan membuka ruang pemahaman yang lebih adil. Hal ini sejalan dengan poin dari Pasal 28G Ayat (1) UUD 1945, di mana warga negara berhak mendapatkan perlindungan serta negara wajib menjamin penikmatan hak tanpa adanya diskriminasi dan perbedaan gender.